[FF Competition] Altair

 

Judul : Altair

Genre: romance – sad ending

 

***

 

Nama pria itu Kang Minhyuk. Tak ada sesuatu yang istimewa darinya. Jika dibilang tampan, pria yang tinggal di kamar nomor dua jauh lebih tampan dibandingkan dirinya. Jika dibilang tinggi, pria yang tinggal di kamar nomor empat jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya. Dan jika dibilang jago bermain alat musik, maka pria yang tinggal di kamar nomor satu jauh lebih jago bermain alat musik dibandingkan dirinya. Namun diantaramereka semua, Minhyuk-lah yang paling menarik perhatianku. Entah kenapa. Ia selalu berada di tengah-tengah. Bukan yang terbaik, bukan juga yang terburuk. Barangkali itulah yang membuatnya istimewa.

Semua penghuni rumah ini─yang sejak empat tahun lalu disulap menjadi boarding house─sudah hapal rutinitasku dan Minhyuk setiap Minggu malam; menonton film roman picisan di pekarangan belakang rumah dengan secangkir cokelat panas, beberapa tangkup roti panggang, dan nachos─yang menunya akan diganti dengan sebotol besar cola, semangkuk besar popcorn, dan sepiring besar kentang goreng tiap musim panas─kemudian dilanjutkan dengan obrolan ngalor-ngidul hingga kami tertidur di ayunan kayu hingga pagi hari. Sederhana, memang. Tapi percaya atau tidak, Minggu malam adalah waktu yang paling kutunggu-tunggu dari total tujuh hari dalam seminggu.

Tidak ada yang istimewa dari seorang Kang Minhyuk. Tidak selain ia adalah salah satu mahasiswa fakultas kedokteran di Universitas Seoul yang harus menghapal satu eksemplar buku histologi pada tahun pertama, dilanjutkan dengan fisiologi dan farmakologi pada tahun kedua. Aku masih ingat bagaimana ia bercerita panjang lebar mengenai penyakit herpes, lengkap mulai dari jenis-jenisnya, penyebaran virus, cara pencegahan, serta cara pengobatannya sebagai latihan untuk presentasi keesokan harinya. Aku tidak keberatan, tentu saja, karena sekecil apapun ilmu sangat berguna bagiku yang tidak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

“Menurutmu, Eun Kyung-ah…” Minhyuk akhirnya angkat suara. Otomatis membuyarkan lamunanku. Aku bahkan baru sadar jika sedari tadi melamun setelah melihat bayangan proyektor pada dinding dihadapan kami berubah menjadi berwarna biru─tanda film sudah lama usai.

“… dimana letak surga?”

Kutolehkan kepalaku ke arah Minhyuk, yang sedang asyik memandangi langit malam bertabur bintang. Memang tidak pernah ada topik tertentu yang kami siapkan tiap kali bersama seperti saat ini, namun sama sekali tidak pernah terpikir olehku ia akan membahas hal semacam itu.

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa dan harus menanggapi seperti apa. Mungkin ini efek dari film tentang seorang wanita yang harus bersusah payah mencari tiga tetes air mata untuk kembali diberikan kehidupan seperti yang kami tonton barusan.

Yang pasti surga itu jauh. Bukan tempat yang bisa kau tempuh dalam waktu empat puluh sembilan hari.

Kumiringkan sedikit kepalaku, mencoba menatapnya lebih dekat dengan ekspresi seolah berkata “Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?”

Minhyuk, yang seolah sudah menduga reaksiku, membetulkan posisi duduknya dan menghela napas berat, “Aku hanya ingin tahu apa orang yang akan segera pergi ke surga sudah merasakan tanda-tandanya terlebih dulu.”

Lagi-lagi aku membatu. Entah kenapa aku tidak suka Minhyuk membahas hal semacam ini. Lebih baik ia mengganti topik saja.

Bagiku, segala hal mengenai Tuhan, spiritual, dan misteri kehidupan… biarkanlah itu semua berjalan seperti apa adanya. Tidak perlu dipertanyakan, pun tidak pula dipermasalahkan.

Kuputuskan untuk merogoh buku catatan kecil dalam saku rok chiffon selutut yang kukenakan. Kutulis beberapa baris kalimat untuk menjawab pertanyaannya agar lebih mudah dipahami.

Ya. Aku bisu.

Sebenarnya aku tidak ingin mengingatnya. Aku kehilangan suara setelah menderita demam tinggi ketika masih kecil. Aku adalah salah satu dari sekian banyak golongan difabel di luar sana. Hanya dengan gerakan tangan dan tulisanlah aku bisa berkomunikasi.

“Surga adalah tempat dimana orang-orang baik berkumpul.” Simpulku, menunjukkan goresan tinta dalam catatanku ke hadapannya.

Minhyuk tersenyum tipis, kemudian mengambil catatanku beserta pulpennya, “Lalu apa menurutmu aku orang yang baik?” balasnya melalui tulisan.

“Katanya, semua orang baik akan menjadi bintang setelah meninggal.”

Minhyuk terkekeh membaca tulisanku, “Kalau aku jadi bintang, lalu siapa yang akan berada di surga?”

Setelah itu kami berdua sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing alih-alih mengamati indahnya langit malam ini. Beginilah cara kami berinteraksi. Minhyuk yang lebih banyak bertanya dan bercerita, sedangkan aku hanya sesekali menanggapi. Itu pun hanya dengan tulisan. Terkadang aku heran bagaimana ia bisa tahan menghadapinya. Walaupun tidak diacuhkan, namun rasanya pasti sama saja dengan berkomunikasi satu arah.

“Eun Kyung-ah, kau tahu legenda Tanabata?”

Aku mengangguk. Tentu aku tahu. Kisah Hikoboshi dan Orihime, bintang Vega dan Altair, yang dipisahkan oleh galaksi bimasakti dan hanya bertemu sekali dalam setahun. Salah satu dari sekian banyak legenda menyedihkan yang dirayakan.

“Aku lebih memilih menjadi Hikoboshi yang sudah menemukan Orihime sebelum mereka berpisah dibandingkan bersusah payah mengumpulkan air mata demi dikembalikan ke kehidupan.”

Dahiku mengernyit. Legenda Tanabata dan penawaran dewa kematian dalam empat puluh sembilan hari. Membandingkan keduanya untuk dijadikan pilihan rasanya bukan sesuatu yang relevan.

“Kau tahu, aku beruntung karena akhirnya menemukan Orihime.”

Kuteguk lagi cokelat panasku yang sudah mulai dingin, memastikan tidak ada alkohol atau racun yang terkandung didalamnya. Omongan Minhyuk tampaknya semakin tidak jelas saja. Entah ia sedang galau atau mabuk.

“Sebelum terlambat, Eun Kyung-ah, ada yang ingin kukatakan padamu…”

Minhyuk memutar sedikit badannya hingga ia sepenuhnya menghadap ke arahku, membuat ayunan kayu yang kami duduki sedikit terdorong ke belakang. Matanya menatap kedua manik mataku lekat. Dengan perlahan ia menggerakkan tangan kanannya ke dada, kemudian menurunkannya ke arahku, dan terakhir ia membuat gerakan memutar dengan tangan kanannya yang berada di atas kepalan tangan kiri. Bahasa isyarat yang sangat, sangat aku mengerti apa maksudnya.

“Aku mencintaimu.”

.

***

.

Barangkali aku masih akan menganggap semua percakapan kami malam itu hanya mimpi jika saja pagi ini aku tidak keluar kamar dan melihat kursi paling pojok sebelah kiri meja makan kosong tanpa ada yang menduduki. Kursi itu milik Minhyuk. Setiap sarapan dan makan malam ia selalu duduk disana. Melihat kursi itu menganggur setelah semangkuk nasi dan lauk-pauk tersedia di atas meja membuatku kehilangan selera makan. Bukan karena aku merasa kehilangan pemiliknya, tapi karena aku tahu apa penyebabnya.

Tidak ada yang kulakukan setelah pernyataan cinta Minhyuk kepadaku malam itu. Aku hanya diam. Tidak terkejut, tidak menolak, ataupun mengiyakan. Aku hanya diam. Diam seperti batu. Bukan salah Minhyuk, tapi salahku yang bersikap terlalu bodoh.

Aku menyadari perubahan sikapnya padaku setelah hari itu. Bagaimana ia mengikuti kemanapun langkahku pergi, pura-pura membantu memasak dan mencuci piring, memberi kode pada ketiga temannya untuk meninggalkan kami berdua di ruang televisi, hingga menemaniku pergi berbelanja. Aku tahu ia membutuhkan jawaban. Tapi aku hanya diam. Aku bahkan sama sekali tidak mengungkit soal itu, seolah aku tidak ingin menganggap kejadian malam itu nyata.

Namun tidak mungkin Minhyuk betah berlama-lama diperlakukan demikian. Siapa yang mau perasaannya digantung? Ia juga manusia. Dan mungkin saat ini kesabarannya sudah mencapai limit.

Tidak ada lagi Minhyuk yang mengikuti kemanapun langkahku pergi. Tidak ada lagi Minhyuk yang pura-pura membantu memasak dan mencuci piring, yang memberi kode pada ketiga temannya untuk meninggalkan kami berdua di ruang televisi, dan yang menemaniku pergi berbelanja. Pria itu seolah menghindariku. Mungkin sudah lelah diabaikan. Ia akan menyelesaikan sarapannya sebelum aku duduk di meja makan. Atau jika terlambat bangun, maka ia baru akan mulai sarapan setelah aku sibuk mengumpulkan pakaian kotor di lantai dua.

Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Kata-kata Minhyuk tentang surga dan Tanabata terus terngiang dalam kepalaku tiap kali melihatnya. Aku selalu merasa ia akan pergi jauh jika aku selangkah lebih dekat dengannya. Dan aku tidak tahu kenapa.

“Minhyuk masih ada di kamar.” Kang Sungjae, yang baru saja masuk ke ruang makan, menghampiriku dan menepuk bahuku seolah dapat membaca apa yang kupikirkan.

Entah apa yang mendorongku, setelah Sungjae duduk di kursinya aku langsung melangkahkan kakiku meniti anak tangga, sedikit tergesa-gesa menuju kamar nomor tiga di lantai dua seperti orang yang baru mendengar dapat paket kiriman.

Langkahku berangsur-angsur terhenti begitu sampai di depan pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Diam-diam aku membulatkan tekad. Mungkin sudah saatnya aku menanyakan dan mengutarakan. Menanyakan maksud kata-katanya malam itu, dan mengutarakan bahwa aku takut akan kehilangan dirinya.

Tanganku baru saja terayun ketika tiba-tiba pintu itu menjeblak terbuka. Pemandangan putih di depanku tergantikan dengan sosok seseorang yang rasanya sudah lama sekali tidak kulihat. Sosok yang kurindukan. Sosok yang terasa sangat jauh meskipun saat ini jarak kami tidak lebih dari lima jengkal.

Kami berdua mematung. Saling diam, saling menatap, sambil menentukan kira-kira siapa diantara kami yang lebih dulu kembali ke alam sadar.

“Oh, Eun Kyung-ah…” aku mengaku kalah setelah Minhyuk lebih dulu berujar, “Ada apa?”

Cukup lama aku menimbang-nimbang. “Jangan pergi.” Kugerak-gerakkan kedua tanganku sedemikian rupa di udara.

“Maaf… mungkin aku tidak sarapan dulu hari ini.” jawab Minhyuk. Entah ia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.

Minhyuk keluar dari kamarnya dan berjalan meninggalkanku. Tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangannya, berusaha menghentikan langkahnya tepat sebelum ia menuruni anak tangga.

Cepat-cepat kukeluarkan buku catatanku dan menuliskan sebaris kalimat, “Jangan pergi. Kumohon.”

Dahi Minhyuk mengernyit. Aku tahu ia pasti bingung dengan sikapku yang aneh. “Eun Kyung-ah, aku sudah hampir terlambat…”

Begitu Minhyuk membalikkan lagi badannya, langsung buru-buru kutahan lagi lengannya dan kugelengkan kepala kuat-kuat.

“Tidak, Minhyuk! Terserah kalau kau membenciku. Tapi tolong dengarkan aku sekali ini saja…”

“…Jangan pergi.”

Kudongakkan kepalaku ketika merasakan puncak kepalaku disentuh sesuatu yang hangat. Tangan Minhyuk. Ia mengelusnya sambil tersenyum lembut.

“Aku akan baik-baik saja, oke?”

Mungkin melepaskan tangannya adalah keputusan paling tolol yang pernah kubuat. Hatiku gamang. Ingin rasanya aku berteriak dan mati-matian menahannya untuk tidak pergi. Tapi bahkan mengeluarkan suara saja aku tidak bisa.

Ada sesuatu. Aku bisa merasakannya. Tapi tak tahu itu apa.

Seluruh sel tubuhku seolah berkata ini akan menjadi kali terakhirku bertemu dengannya.

Aku benar-benar tidak ingin ia pergi.

.

***

.

Tubuhku tersentak ketika tiba-tiba telepon di ruang tengah berdering. Tidak biasanya aku kaget mendengar bunyi telepon. Namun kali ini lain. Suara deringan itu seolah berbunyi lebih keras dari biasanya, hingga memenuhi seluruh ruangan di rumah ini.

Jantungku berdetak cepat.

Firasat buruk. Dan aku berharap firasatku salah.

Tidak ada pilihan lain selain mengangkat telepon itu karena memang sedang tidak ada siapapun di rumah ini. Entah kenapa tanganku sedikit gemetar ketika mengangkatnya. Mataku melebar begitu mendengar suara yang familiar di seberang sana, dengan nada bicara yang panik dan napas terputus-putus seolah baru saja dikejar-kejar anjing.

“Eun Kyung-ah? Ini aku… Sungjae. Dengarkan aku, Minhyuk… dia…”

.

***

.

Dan disinilah aku. Berdiri di tengah-tengah ruangan kecil berbentuk persegi dengan karangan bunga di berbagai sisi, bau dupa yang menyengat sana-sini, dan sebuah pigura foto seseorang dengan senyum bodoh yang kontras dengan ekspresi orang-orang yang ada di ruangan ini.

Aku tidak ingat apa saja yang dikatakan Sungjae di telepon. Semua terjadi begitu cepat. Tahu-tahu aku sudah sampai di rumah sakit. Tahu-tahu semua orang sudah menangis. Tahu-tahu aku sudah mengenakan pakaian serba hitam. Dan tahu-tahu aku sudah berada disini.

Semua ini terasa tidak nyata. Suara sesenggukan, suara berbisik-bisik, suara tersedu-sedu. Semuanya hanya terdengar samar. Aku seperti berada dalam dimensi lain. Dimensi dimana waktu berhenti hanya dalam semestaku saja. Aku ingin kembali ke malam itu. Malam dimana Minhyuk masih bisa bicara, tersenyum, dan tertawa secara nyata. Bukan dalam pigura berpita seperti ini.

Mungkin akulah gadis terbodoh yang pernah ada, setidaknya yang pernah hadir dalam kehidupan Minhyuk. Ia ingin menjadi seperti Hikoboshi, dan aku tidak membantunya menjadi Orihime. Altair yang dengan kurang ajarnya diacuhkan oleh Vega. Tapi bukankah pada akhirnya mereka tetap akan berpisah?

Aku sudah tahu ia akan pergi.

Aku benci Tanabata sempat masuk ke dalam bahan obrolan kami. Aku benci Minhyuk yang ingin menjadi Altair. Aku benci diriku yang menyia-nyiakan kesempatan bersamanya dalam seminggu. Benci, dan segala sumpah serapah lainnya yang terus kudengungkan dalam hati demi menghapus suara-suara yang bisa menarikku kembali ke realita.

Aku hanya terlalu takut menerima kenyataan.

Namun aku gagal. Kesadaranku sepenuhnya kembali ketika melihat sepasang suami istri paruh baya di sudut ruangan yang berusaha terlihat tegar di depan orang-orang meskipun aku tahu hatinya lebih perih dari siapapun. Dimensiku hilang. Waktu seolah mengguncang-guncang bahuku dan berkata,

“Minhyuk sudah tiada.”

Barangkali aku akan menjadi pusat perhatian orang-orang karena terjatuh di tengah ruangan jika saja seseorang tidak segera menahan bahuku. Entah ia siapa dan datang dari mana. Orang itu menenggelamkan wajahku ke dada bidangnya, seolah sengaja menutupi pandanganku dari foto Minhyuk di seberang sana. Orang itu bahkan tidak berkata apa-apa. Namun pertahananku malah semakin runtuh karenanya.

Tangisku pecah begitu dua orang lainnya ikut melingkarkan tangannya di sekeliling tubuhku. Seolah mengurungku, sekaligus memberikanku ruang untuk menangis sejadi-jadinya, menjerit sekencang-kencangnya, dan meluapkan segala emosi lainnya tanpa harus khawatir membuat orang lain terganggu. Semua ini terlalu menyakitkan untuk dirasakan, dan lebih menyakitkan lagi jika disangkal.

Aku ingin Minhyuk ada disini. Menyaksikanku mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan. Jawaban pernyataannya waktu itu. Meskipun sudah sangat terlambat.

“Kau tahu, Minhyuk? Aku juga mencintaimu.”

***

 

4 thoughts on “[FF Competition] Altair

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s