[FF Competition] As a friend…

Title     : As a friend…

Genre  : Romance – Sad Ending

 

Ahn Mi Young. Nama yang telah memenuhi hati dan pikiranku selama beberapa tahun belakangan ini. Senyum indah dan sikap ceria gadis itu mampu mencairkan hatiku yang beku. Secara perlahan, kehangatan yang ia tebar berhasil mencapai diriku. Ia mampu melunakkan kekerasan hatiku yang selalu percaya bahwa aku takkan pernah bisa mencintai seseorang, lagi. Tapi dia melakukannya. Dia membuatku kembali merasakan perasaan yang istimewa terhadap wanita. Aku telah jatuh cinta pada Ahn Mi Young, pada seorang vitamin A.

Tepatnya,  rasa yang tak biasa ini mulai kukenali sejak musim gugur tahun keduaku di SMA. Libur musim panas yang membuatku harus terpisah sementara dengannya, membuatku mulai menyadari keberadaan gadis itu di dalam hatiku. Aku mulai merindukannya. Mulai bertanya-tanya bagaimana kabarnya. Mulai mengkhawatirkan sesuatu yang sangat konyol seperti apakah ia berkenalan dengan lelaki lain selama liburan musim panas atau bahkan telah berpacaran. Sesuatu yang seperti itu. Sesuatu yang tak pernah menjadi alasan kekhawatiranku selama ini. Dan perasaan ingin segera bertemu membuatku menjadi sangat bersemangat ketika memulai awal semester baru.

Oleh karena grading system yang berlaku disekolah, maka pengelompokkan siswa kelas sebelas dan dua belas didasarkan pada nilai rapor yang membuat kami terbagi dari kelas A hingga kelas F. Dimana siswa kelas A,B,dan C terkelompok sebagai siswa kelas sains sedangkan kelas D,E, serta F merupakan kelas seni. Aku dan Mi Young berada pada kelas yang sama, kelas A Sains alias kelas unggulan. Itulah saat pertama aku mengenalnya di awal tahun ajaran baru di kelas sebelas.  Pada saat itu, ia berinisiatif untuk memperkenalkan diri pada sebagian anggota kelas yang belum dikenalnya, termasuk padaku.

Kesan pertama berkenalan dengannya, ia terlihat sangat kekanakkan. Ia selalu tersenyum pada semua orang, dan hal itu membuatku sedikit gerah. Aku tak mengerti apa yang membuatnya selalu terlihat ceria. Ia seperti orang yang hidup tanpa masalah, tanpa beban. Aku adalah orang yang jarang tersenyum. Orang-orang selalu menggelariku Ice Man. Bahkan ada yang menyebutku emotionless. Walau begitu, aku tidak membenci setiap orang yang tersenyum. Hanya saja ada yang berbeda dari senyuman Mi Young atas orang kebanyakan. Senyumannya ibarat penyakit menular yang mudah sekali menyebar pada orang lain. Kenyataan itulah yang mulanya membuatku merasa tidak nyaman berdekatan dengannya.

Namun, sepertinya takdir memang telah mengikat benang merah antara aku dan dia. Nomor absen yang saling berdekatan menjadi penyebab kami hampir selalu berada dalam kelompok yang sama setiap mendapat tugas diskusi ataupun tugas lainnya yang tidak bersifat individu. Kondisi ini yang akhirnya membuatku secara rela maupun terpaksa menjadi lebih sering bertemu, berbicara atau bahkan berdebat dengannya. Tidak hanya di sekolah. Karena terkadang kerja kelompok tersebut menuntut pertemuan di luar sekolah.

Namun, aku justru merasa sangat bersyukur atas berbagai kejadian dan kebetulan yang telah ditulis takdir untuk mendekatkan aku dengannya. Hingga ketika telah duduk di kelas dua belas dan lagi-lagi kami masih berada di kelas dan kelompok belajar yang sama. Semuanya terasa menyenangkan bagiku. Tawa dan senyumnya tak lagi terasa aneh bagiku melainkan mampu mendamaikan hari-hariku.

Seperti suatu ketika di tengah obrolan kami, ia mampu membuatku tertawa hanya dengan mendengarkan cerita tentang  bagaimana adiknya berhasil membuat kedua orangtua mereka menyerah dan akhirnya membeli seekor iguana berkat aksi minggat kabur ke rumah nenek mereka yang hanya berjarak beberapa blok saja dari apartemen tempat tinggal mereka. Dan sepanjang cerita itu ia tak henti-hentinya tertawa. Dan tawanya itu sangat mudah menular yang membuatku juga ikut menertawai polah tingkah sang adik.

“Bukankah itu sangat lucu? Rumah nenekku juga tidak jauh. Kau hanya perlu berjalan sekitar sepuluh menit dari rumah dan jjajan kau sudah sampai di rumah nenek” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak yang membuat kedua mata indah  gadis itu berair.

“Maksudku mereka bukannya tinggal di Busan, Daegu atau Gwangu yang jaraknya sangat jauh. Tapi ibuku sangat khawatir dan bahkan sampai menangis ketika tahu adikku kabur dari rumah. Dan yang lebih konyol lagi, tangis ibuku semakin pecah ketika kakekku menelepon yang mengabarkan adikku ada di rumah mereka” lanjutnya masih dengan tawa.

“Yah, sepertinya semua keluargamu memang sangat konyol. Tidak pernah ada yang seperti itu dalam keluargaku” balasku sambil menyunggingkan senyum.

“Maksudmu keluargaku aneh? Keluargaku tidak normal seperti keluargamu? Begitu?” ucapnya tiba-tiba dengan ekspresi tidak suka. Senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya tadi telah sempurna lenyap.

“Bukannya aneh. Menurutku keluargamu sangat unik. Yah, aku merasa kalian benar-benar seperti keluarga. Kau takkan menemukan hal-hal ekspresif seperti itu dikeluargaku. Hubungan keluarga kami itu agak kaku kalau boleh dibilang” kataku berusaha menjelaskan. Segera saja ekspresi tersinggung yang muncul di wajahnya tadi hilang begitu mendengar pembelaan dariku. Ahn Mi Young itu adalah gadis dengan seribu ekspresi. Dan ia memiliki kemampuan untuk mengubah berbagai ekspresi di wajahnya dalam hitungan detik. Bahkan dari ekspresi yang berlawanan sekalipun. Sesuatu yang tak aku miliki. Sesuatu yang justru membuatnya terlihat sangat menarik di mataku. Bisa dibilang antara aku dan Mi Young itu ibarat malam dan siang. Air dan api. Sangat berbeda. Tapi kami saling melengkapi perbedaan itu. Kami cocok, serasi. Begitulah yang selalu kawan-kawan kami katakan.

Dan Mi Young juga adalah seseorang yang mampu mempengaruhi keputusanku. Ketika aku akhirnya lebih memilih jurusan Arsitektur sewaktu kuliah di Seouldae dan bukannya Hukum seperti yang diinginkan kedua orangtuaku. Menurut Mi Young, kemampuanku dalam seni gambar sangat baik. Ditambah dengan nilai-nilai pelajaran sainsku yang selalu cemerlang sehingga menurutnya menjadi seorang arsitek adalah keinginan takdir untukku. Dan tanpa ba-bi-bu, akupun memilih arsitektur ketika mengisi lembar informasi rencana studi setelah lulus dan sewaktu konsultasi dengan wali kelasku. Sebenarnya, ada satu alasan yang paling mendasar ketika memilih jurusan tersebut. Walaupun jurusan ini terlihat sangat pas dengan jiwaku, tapi yang paling mempengaruhiku adalah ketika Mi Young memberitahu bahwa sejak kecil ia bercita-cita ingin memiliki suami seorang arsitek. Hal ini karena paman dari ibunya adalah seorang arsitek dan kini ia bekerja untuk salah satu biro arsitektur kenamaan di Amerika Serikat dan mungkin juga di dunia yaitu Gehry Partners, LLP milik seorang arsitek eksentrik, Frank O. Gehry. Dan menurut Mi Young, pamannya itu sangat keren.

Kedekatan yang terjalin sejak SMA ini masih terus berlanjut saat  kuliah bahkan ketika kami berada di kampus yang berbeda. Jika aku berada di kampus teknik, maka Mi Young berada jauh di Fakultas Kedokteran. Mi Young memang gadis yang sangat cerdas. Terbukti dari lulusnya ia dari seleksi Fakultas Kedokteran di Seouldae yang sangat sulit. Kecerdasannya juga sudah terekam oleh sejarah di SMA kami. Ia adalah murid yang selama tiga tahun berturut-turut menjadi juara umum sekolah yang mewakili angkatan kami. Sehingga tidak salahlah, jika ia dipilih menjadi perwakilan angkatan ketika menyampaikan pidato kelulusan.

Namun, jarak yang jauh tidak menjadi penghambat kami untuk berkomunikasi. Hampir setiap malam kami saling mengobrol lewat telepon. Satu sama lain akan menceritakan kegiatan apa saja yang telah dilakukan hari itu. Memang Mi Young menjadi pihak yang lebih banyak bercerita. Aku cukup mendengar dan memberikan respon jika dibutuhkan. Seperti ketika ia dengan menggebu bercerita mengenai sebuah boyband baru yang kemudian menjadi favoritnya, DBSK. Atau lain hari ia akan menceritakan mengenai keluarganya. Atau kabar mengenai paman arsiteknya. Atau ia akan bertanya mengenai perkuliahanku yang sangat diminatinya. Dan segala macam.

Tak hanya melalui telepon, tak jarang pada akhir pekan aku dan Mi Young akan membuat janji bertemu. Entah itu di toko buku, bioskop, taman hiburan, dan tempat lainnya. Kami menjalani hubungan layaknya pasangan kekasih walaupun sebenarnya di antara kami tidak ada komitmen apapun yang mengikat. Aku bukan lelakinya dan ia bukan wanitaku. Kami hanya berteman. Itulah yang selalu kami katakan pada orang-orang yang bertanya. Namun, aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar bersahabat biasa antara aku dan Mi Young. Setidaknya untukku. Aku yakin 100% bahwa aku mencintai si vitamin A ini. Dan hanya bisa berharap jika gadis itu memiliki perasaan juga pengharapan yang sama atas hubungan kami.

Jika pada awalnya aku merasa bahwa takdir sedang menjebakku bersama Mi Young, tapi ketika akhirnya melihat celah-celah kemungkinan harapanku menjadi kenyataan aku berterima kasih pada jalan takdir. Hubunganku dan Mi Young memang masih jalan di tempat. Tidak ada perkembangan. Tapi itu secara status. Tidak secara hubungan itu sendiri. Karena hubungan kami sudah lebih dinamis. Kami bahkan menjalani masa-masa saling cemburu, bertengkar, berbaikan seperti pasangan lainnya. Sesuatu yang tidak akan terjadi  dalam status friendzone.

Semakin lama kami semakin dekat. Keyakinanku terhadap perasaannya padaku juga semakin membesar. Salah satu bukti yang memberiku jaminan perasaan Mi Young adalah saat aku mengabarkan bahwa aku diterima melanjutkan pendidikan di DELF, Belanda. Sejak awal ketika mempersiapkan pendaftaran, Mi Young sudah ikut membantu dan bahkan sangat menyemangatiku yang agak berat hati meninggalkannya. Aku takut akan ada yang berubah antara aku dan dia jika kami berjauhan. Dan semangat yang Mi Young berikan cukup membuat keyakinanku mengendur tentang perasaannya. Aku merasa sepertinya hanya aku yang bersedih akan perpisahan ini. Tapi semua keraguan terjawab ketika kami melakukan perjalanan bersama ke Pulau Jeju sebagai perjalanan perpisahan. Aku masih ingat yang dikatakannya saat itu

“Jong Hyun-ah, aku sangat senang kau diterima di DELF. Aku tahu kau pantas mendapatkannya. Kau juga pasti akan jadi arsitek hebat nantinya setelah lulus dari DELF. Aku percaya padamu. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa ada rasa sakit yang mengiringi kepergianmu ini. Aku takut kau melupakanku. Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut ada orang lain yang akan menahanmu di sana dan tak kembali kesini. Aku merasa seperti … seperti orang dicampakkan sendiri. Aku takut” ucapnya terbata-bata sambil berurai air mata. Aku benar-benar sedih sekaligus senang melihat perasaannya terluka dengan keberangkatanku. Ini berarti aku penting baginya.

“Aku tahu aku egois jika memintamu untuk tinggal. Aku tahu ini tidak adil untukmu karena ini adalah masa depanmu. Aku hanya takut. Aku takut kau berubah. Atau aku justru lebih takut jika aku berubah. Dan yang paling aku takutkan adalah kita berdua memilih berubah. Aku ingin kita selalu seperti ini. Tidak ada yang berubah” lanjutnya masih dengan air mata yang semakin deras saja mengalir.

“Aku tidak akan berubah. Aku janji. Kau juga harus berjanji tidak berubah. Kau harus menungguku. Ya?” ucapku meyakinkannya sambil berusaha tersenyum menenangkan. Karena saat ini perasaanku pun juga campur aduk.

“Janji” balas Mi Young sambil menatap mataku dalam.

Dan begitulah perpisahan itu terjadi. Dua tahun menanti dalam kerinduan. Kekhawatiran. Dan kepasrahan jiwa. Memilih menunggu hingga takdir yang menentukan. Memilih takdir untuk menunjukkan jalan menuju pengakhiran penantian. Dan sepertinya suratan takdir lebih memilih untuk menguji cintaku terhadap Mi Young. Setelah lulus dari DELF aku mendapatkan kesempatan untuk magang selama satu tahun di biro arsitek impianku, OMA. Mendengar keputusanku untuk menambah masa tinggal selama setahun di Belanda, reaksi Mi Young cukup mengagetkan. Ia mendukungku. Ia percaya padaku, katanya. Kepercayaan inilah yang mengikat perasaanku padanya. Hingga akhirnya aku kembali lagi ke Korea dan mulai untuk membuka firma arsitekturku sendiri. Hal yang telah menjadi impianku sejak berkuliah di Seouldae.

Hubungan kamipun kembali seperti semula. Walau sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan atas hubungan ini ketika kami berjauhan. Kami masih saling sapa. Masih saling mengabarkan. Hanya pertemuan tatap muka saja yang hilang dari hubungan ini. Dan hal itu kemudian aku dapatkan kembali ketika menapaki kaki di tanah air. Kami menjadi sering bertemu untuk membayar tahun-tahun kesepian karena perpisahan.

Hingga tahun-tahun mulai menambah usianya. Kami masih sama seperti sebelumnya. Bertingkah layaknya kekasih walau tanpa ikatan pasti. Aku merasa tak perlu untuk memperjelas status kami. Aku menyukai cara kami memaknai hubungan ini. Aku tahu Mi Young memiliki perasaan padaku dan akupun yakin ia paham perasaanku. Secara tersirat, kami berdua telah mengikrarkan kepastian hubungan ini. Namun, hingga saat itu. Ketika ulang tahun Mi Young yang ke 27. Semua penantian panjangkupun mendapatkan jawabannya. Ia memilih menghabiskan hari pergantian usianya tersebut dengan Kim Jin Hyuk. Senior kami semasa SMA yang kemudian berlanjut ketika Mi Young bertemu dengannya kembali di Fakultas Kedokteran Seouldae. Aku telah berpacaran dengan Jin Hyuk seonbae, begitu akunya saat itu. Kejujurannya menghancurkan aku. Perasaan selama sebelas tahun ini berakhir di jurang kesia-siaan. Dan kenyataan semakin menenggelamkanku dalam kesedihan ketika akhirnya Mi Young memutuskan untuk bertunangan dengan Jin Hyuk seonbae satu setengah satu kemudian. Dan disinilah aku kini. Berada di tengah-tengah hiruk pikuk tamu-tamu yang menghadiri acara resepsi pernikahan Mi Young dan Kim Jin Hyuk seonbaenim tepat di momen ulang tahun Mi Young yang ke 29 tahun. Berada di tengah-tengah lautan manusia yang turut berbahagia atas pernikahan mereka. Sedangkan aku hanyut dalam ketak berdayaan. Mencoba memaksakan untuk tersenyum atas kebahagiaan sang teman, seperti akuku pada semua orang. Hanya sekedar berteman. Dan akhirnya ucapanku menjadi keputusan takdir atas kami berdua. Hubungan kami diawali oleh pertemanan dan akhirnya terikat selamanya dalam batas pertemanan pula. Teringat olehku, suatu saat Mi Young pernah berkata

“Aku menyukaimu Jong Hyun-ah. Sangat menyukaimu. Rasa cinta membuatku rela menunggumu selama sebelas tahun ini. Aku menunggumu. Aku menunggumu menyatakan perasaanmu padaku. Aku menunggumu untuk saling mengikat janji setia atas perasaan ini. Tapi kau tak juga mengatakannya. Aku ini wanita Jong hyun. Aku membutuhkan kepastian. Aku membutuhkan kejelasan. Dan sepertinya meninggalkan perasaanku padamu adalah penjelasan untuk kita berdua. Selamat tinggal Lee Jong Hyun. Terima kasih atas keindahan persahabatan sebelas tahun ini”.

One thought on “[FF Competition] As a friend…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s