[FF Competition] In The End

In The End

Romance-Tragedy

 

Jong Hyun masih merasakan panas aspal yang menampar pipi halusnya. Dia yakin wajahnya kini tidak dipenuhi luka akibat aspal kasar itu. Dia masih belum bergerak. Tepatnya tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya seperti telah tertanam bersama dengan kerasnya aspal hitam panas yang menjadi bantalan dia berbaring saat ini. Dengan posisi yang tidak menguntungkan, Jong Hyun berusaha untuk menggerakkan apapun bagian anggota tubuhnya yang masih bisa bergerak walau hanya satu senti saja.

Usahanya tidak sia-sia. Kaki jenjangnya berhasil berpindah posisi bersamaan dengan sakit yang secara tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya. Dia menggigit kuat bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit itu. Tubuhnya seperti porselen yang tidak sengaja terjatuh dari atas meja tinggi dan hancur berkeping-keping.

Jong Hyun berusaha bangkit-lagi-dengan menahan rasa sakit yang luar biasa sampai akhirnya dia berhasil berdiri. Perlahan kedua kakinya berjalan atau lebih tepatnya menyeret beban tubuhnya. Matanya melihat ke seluruh bagian jalan berharap dirinya dapat menemukan tempat untuk beristirahat.

Dengan langkah yang berat, Jong Hyun melihat ada sebuah bangku kecil di depannya. Dia bersyukur bahwa Tuhan masih membawa dirinya ke tempat ini-walau dia tidak tahu tempat apa itu. Langsung saja dia menuju bangku itu.

Beberapa langkah sebelum Jong Hyun mencapai bangku tersebut, dirasakannya tubuhnya ambruk tapi tidak menyentuh permukaan tanah. Jong Hyun merasa seperti ada yang menahan tubuhnya.

Jong Hyun berusaha untuk melihat apa yang telah menahannya. Namun, tubuhnya sudah tidak kuat lagi, mengingat tidak ada sedikitpun bagian tubuhnya yang tidak terluka-walau hanya luka gores.

Perlahan kedua mata Jong Hyun kehilangan kemampuannya untuk menangkap seberkas cahaya agar bisa melihat apa yang telah menahan tubuhnya. Kesadaran Jong Hyun semakin lama semakin lemah hingga akhirnya dirinya benar-benar tidak sadar lagi dan tidak tahu bagaimana nasib dirinya setelah kedua matanya menutup dengan sempurna.

***

Pertama kali yang dilihat Jong Hyun ketika kedua matanya memiliki kembali kemampuan untuk membuka adalah seorang wanita yang sedang mengatur cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya dengan memutar piringan plastik kecil-Jong Hyun tidak tahu apa nama alat itu-lalu wanita itu mengalihkan tatapannya kearah Jong Hyun.

“Kau sudah sadar rupanya. Bagaimana kondisimu saat ini? Lebih baik?” Wanita itu-lalu-duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur Jong Hyun saat ini.

“Dimana aku? Sudah berapa lama aku berada disini?” Jong Hyun berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Refleks, wanita itu membantu Jong Hyun dengan meletakkan bantal tidur di belakang tubuhnya sehingga laki-laki itu bisa bersandar dengan nyaman.

“Ini sudah memasuki minggu kedua sejak kau ditemukan. Kau sekarang berada dalam perlindungan.”

Pantas saja Jong Hyun sudah bisa menggerakkan tubuhnya. Luka-luka yang ada ditubuhnya juga perlahan sudah mulai mengering dan berangsur-angsur sembuh.

Tunggu dulu…. Perlindungan?

“Perlindungan apa maksudmu?” Tanya Jong Hyun dengan tatapan bingungnya.

Wanita yang sedari tadi terus menatap Jong Hyun hanya bisa menghela nafasnya pelan. Laki-laki yang berada dihadapannya ini memang tidak tahu apa-apa. Dia seperti orang yang terkena amnesia.

“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Jong Hyun. Apa yang kau lakukan sampai kau bisa berada di jalan dengan luka yang tidak terhitung banyaknya? Apa yang bisa membuat aku menemukanmu dan membawamu ke tempat ini? Seharusnya aku yang bertanya.”

Jawaban dari wanita itu membuat Jong Hyun semakin tidak mengerti. Dirasakannya kepalanya berputar hebat dan itu sangat sakit. Perlahan, potongan-potongan kejadian dimana dirinya masih berdiri dengan tegap, tubuhnya masih bersih tanpa luka, dan ada orang lain selain dirinya disitu.

Orang tersebut mengenakan jas hitam dengan menghisap cerutu yang asapnya hampir memenuhi ruangan sempit itu. Jong Hyun dan orang itu sedang terlibat pembicaraan yang serius. Ekspresi wajah keduanya sama-sama menunjukkan besarnya ketegangan antara mereka berdua. Ditambah lagi sumber penerangan ruangan itu hanyalah bohlam kecil dengan cahaya yang remang-remang.

“Kau harus melakukannya. Selidiki organisasi itu dan musnahkan semua orang yang terlibat didalamnya. Ingat, semuanya. Tanpa terkecuali.”

“Aku tidak bisa. Maaf, untuk kali ini aku tidak memenuhi keinginanmu.”

Bukan itu jawaban yang ingin didengar orang itu. Hal ini jelas membuat orang tersebut memandang Jong Hyun dengan tatapan yang membuat Jong Hyun bergidik ngeri namun dirinya masih berusaha terlihat tenang dihadapan orang itu.

“Kau tahu bahwa aku tidak menerima penolakan, Jong Hyun-ssi? Katakan. Katakan apa alasanmu sehingga kau menolak melakukannya?”

“Aku tidak bisa mengatakan apa alasanku.”

Kekehan keras dari orang itu seakan menampar Jong Hyun dari dalam.

“Katakanlah anak muda. Aku tidak akan menyakitimu jika alasanmu itu dapat diterima.”

Jong Hyun memberikan senyum mengejek kepada orang itu.

“Bos, aku katakan atau tidak alasanku, kau tetap akan menyakitiku. Bahkan kau tidak akan segan untuk mengeluarkan salah satu pistol yang tersimpan rapi di setiap kantong yang ada pada pakaian yang kau kenakan saat ini.”

Tepukan tangan orang itu terasa terdengar nyaring memenuhi ruangan tersebut. Orang itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Jong Hyun. Jong Hyun merasa akan terjadi hal yang buruk ketika orang itu bangkit dari tempat duduknya.

“Tidak salah memang aku memilihmu menjadi salah satu kaki tanganku yang paling hebat. Salahnya hanya aku terlalu mempercayaimu.”

Bersamaan dengan itu terdengar bunyi desingan peluru. Setelah itu yang Jong Hyun ingat adalah terjadi aksi tembak menembak antara dirinya dan anak buah yang dipanggil oleh si Bos-Jong Hyun kenal beberapa dari mereka.

Tidak ada satupun peluru yang menembus badan Jong Hyun dari sekian banyak peluru yang diarahkan ke dirinya. Jong Hyun mensyukuri karena dirinya memiliki kemampuan yang bisa dikatakan diatas rata-rata dari orang-orang yang mengejarnya, sehingga dengan lincah dan sigap dia bisa menghindari peluru yang disasarkan padanya.

Jong Hyun memang sigap menghindari hujan peluru dibelakangnya, namun Jong Hyun harus mempertaruhkan nyawanya ketika langkah kakinya terhenti. Bukan karena dia lelah atau menyerah. Hanya saja, jalannya sudah berakhir. Sekarang dia berada di ujung jurang yang curam.

Jong Hyun melihat kebawah.

Jurang yang seperti tidak mempunyai dasar dan curam.

Jong Hyun bisa membayangkan bahwa tubuhnya pasti akan hancur apabila dia nekat melompat ke jurang itu. Dia harus mencari alternatif lain untuk menyelamatkan dirinya.

Pikiran Jong Hyun berputar cepat. Derap langkah orang-orang yang mengejarnya semakin terdengar jelas. Jong Hyun tidak memiliki banyak waktu lagi.

Jong Hyun melihat kebawah sekali lagi. Peluh membasahi keningnya. Inilah alternatif lain itu. Jong Hyun melompat bagaikan burung yang baru belajar terbang namun gagal akibatnya sayapnya yang masih lemah.

Terasa sakit yang hebat menyergap kepala Jong Hyun. Ingatannya kembali memutar potongan-potongan kejadian dimana dirinya dengan tubuh penuh luka, hilang kesadaran, dan akhirnya terbangun di tempat yang baru.

Kedua mata Jong Hyun kembali terbuka setelah pemutar film di kepalanya berhenti. Lagi-lagi yang dilihatnya adalah wanita itu.

“Mengapa kau melakukan ini semua, Jong Hyun-ssi? Kau tahu, ini sama saja menyerahkan nyawamu di tiang gantungan.”

Wanita itu menatap Jong Hyun dengan cemas. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya waktu itu tidak segera menemukan Jong Hyun. Wanita itu juga tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Jong Hyun sehingga laki-laki itu nekat membahayakan dirinya sendiri.

“Kau tidak tahu apa yang dia mau.”

“Apa yang dia mau sampai kau terluka begitu parah dan nyaris mati? Apa? Jawab aku!”

“DIA INGIN AKU MEMBUNUH SEMUA YANG BERADA DI TEMPAT INI DAN ITU TERMASUK KAU! APAKAH KAU BERPIKIR AKU BISA MELAKUKANNYA?”

Eun Jo-wanita itu-masih menatap Jong Hyun dengan tenang walau Jong Hyun kini menatapnya dengan garang.

“Lalu mengapa kau tidak mendiskusikannya dengan kami? Dengan aku? Kita bisa menyelesaikan semua ini. Kau tahu, setelah kejadian ini kita berdua-lah yang menjadi target utama yang akan orang itu musnahkan. Apalagi setelah kejadian kau melarikan diri darinya.”

“Yang ada dipikiranku saat itu hanyalah keselamatan kita semua. Terutama kau.” Tatapan Jong Hyun yang semula garang, menjadi redup seketika. Dia tidak bisa menatap wanita itu dengan tatapan kejam seperti itu.

“Inilah resiko yang harus kita terima ketika kita berdua memutuskan untuk menjadi mata-mata dan menyusup di dalam organisasi itu. Sekarang kita harus menemukan jalan keluar masalah ini.”

“Caranya?”

“Selama kau menjalani perawatan disini, aku dan Tae Hyun sudah menyusun rencana agar kita semua, terutama kau, selamat dari orang itu. Satu-satunya cara adalah menghapus semua ingatan yang kau miliki. Dan hal itu harus dilakukan sekarang sebelum semuanya terlambat.”

Mata Jong Hyun membulat sempurna setelah mendengar apa yang Eun Jo katakan.

“Tidak. Bagaimana bisa menghapus semua ingatan yang aku miliki dapat menyelamatkan kita semua?”

“Ini satu-satunya jalan keluar terbaik untuk kita semua. Dengan itu, orang itu tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Kau tidak perlu khawatir. Kau hanya akan melupakan tentang penemuan itu dan semua yang berhubungan dengan tempat ini. kau tidak perlu khawatir, ingatan yang kau miliki berangsur-angsur akan pulih kembali seiring dengan berjalannya waktu. Kami sudah memperhitungkan itu semua. ”

“Berapa lama? Apakah itu berarti aku tidak akan ingat pada tempat ini? Aku tidak akan ingat dengan kau?” Pertanyaan Jong Hyun tadi membuat Eun Jo terdiam sejenak. Raut wajahnya terlihat sedih.

“Ya.”

Mereka berdua lalu diam sampai akhirnya Tae Hyun masuk dan memecah keheningan dalam ruangan itu.

“Kau sudah siap, Jong Hyun-ssi?” Tae Hyun berjalan menuju mereka berdua.

“Eun Jo-ah, kau benar-benar sudah yakin dengan apa yang akan terjadi padaku nantinya? Aku tidak akan bisa dan tidak akan pernah melupakanmu.”

Jangan katakan itu, Jong Hyun. Tolong, jangan.

Jong Hyun meraih tangan Eun Jo dan menggenggamnya erat. Mungkin inilah terakhir kalinya dia dapat menggenggam tangan yang selalu bisa membuat dirinya tenang.

“Bagaimana kalau ingatanku sudah hilang tapi orang itu masih bisa mengenali wajahku? Bagaimana dengan dirimu?”

Eun Jo hanya tersenyum lemah, sementara Tae Hyun sudah menyuntikkan obat bius ke tubuh Jong Hyun.

“Aku akan mengatasi semuanya. Orang itu tidak akan menyakiti anak perempuannya sendiri.”

Jong Hyun baru saja ingin menanyakan apa maksud Eun Jo sesaat sebelum obat bius itu bereaksi dan membuat kedua matanya tertutup.

Airmata Eun Jo tertahan. Dia harus menerima semua ini. Termasuk bahwa nanti Jong Hyun tidak akan mengingatnya sama sekali.

***

Eun Jo merasa hidupnya sudah berjalan dengan normal. Setahun sejak kejadian itu berakhir, Eun Jo berhasil mengatasi masalah dengan ayahnya.

Ya, dia adalah anak dari seseorang yang ingin menyingkirkan seluruh orang-orang yang berhasil menemukan obat yang memiliki daya jual tinggi dan dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang paling parah sekalipun.

Eun Jo tidak ingin obat itu jatuh ke tangan ayahnya yang hanya ingin memperkaya dirinya dengan obat itu. Karena jika obat itu jatuh ke tangan yang salah dan disalahgunakan, maka kerja kerasnya bersama teman-temannya akan sia-sia.

Eun Jo berhasil menghentikan rencana ayahnya dengan berakhirnya pria itu di penjara. Eun Jo tidak pernah menyangka dan bukan keinginannya untuk menjebloskan ayahnya ke dalam tahanan dengan tangannya sendiri.

Ini semua dia lakukan untuk kebaikan ayahnya dan semua orang.

Eun Jo memang berhasil menyelamatkan penemuannya yang dapat membantu orang lain, namun tetap saja Eun Jo harus menelan pil pahit bahwa kini dia tidak hanya kehilangan ayahnya. Dia juga harus kehilangan Jong Hyun.

Entah ada dimana pria itu sekarang, Eun Jo tidak tahu.

Eun Jo mengambil cangkir yang berisi Latte-favoritnya-dan memindahkan isi cangkir tersebut ke mulutnya. Eun Jo tidak menyadari bahwa selama dirinya sibuk memasukkan cairan berbau harum tersebut dirinya melamun hingga membuat dirinya tersedak.

“Satu tahun ternyata tidak banyak merubah dirimu.”

Eun Jo yang masih sibuk menutup mulutnya dengan tissue sambil terbatuk-batuk terkejut melihat seseorang yang saat ini berada dihadapannya.

Matanya tidak mungkin salah lihat-walaupun sekarang matanya mulai memerah dan mengeluarkan air akibat tersedak-bahwa orang yang berada dihadapannya kini adalah Lee Jong Hyun yang dirinya kenal.

“Kau??? Kau ingat aku???”

Jong Hyun hanya tersenyum tipis sambil menarik kursi yang berada didepannya agar dirinya dapat duduk tepat dihadapan wanita itu.

“Han Eun Jo. Usia 25 tahun. Lulusan dengan nilai terbaik di Universitas Manhattan bagian bioteknologi yang berhasil menciptakan sesuatu yang memiliki nilai guna yang besar. Mantan mata-mata yang memasukkan ayahnya sendiri ke dalam penjara. Sekarang bekerja di sebuah institut penelitian terkenal di Seoul dan saat ini sedang menunggu seseorang yang dia pikir ingatannya telah hilang namun nyatanya orang itu masih dapat mengingat semua yang berhubungan dengan wanita tersebut dan kini duduk dihadapan wanita itu.”

Eun Jo hanya menatap Jong Hyun datar dan tidak terkejut sama sekali.

“Aku tahu Tae Hyun tidak melakukan memory cleaning itu padamu. Rupanya dia mengujiku karena dia tahu bahwa yang melakukan itu semua adalah ayahku.” Eun Jo tersenyum tipis dibalik tissue yang masih menutupi mulutnya dan Jong Hyun dapat melihat senyumnya itu.

“Karena itu aku berterima kasih kepada Tae Hyun. Kalaupun itu dilakukan, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu, Han Eun Jo.”

Eun Jo kini menatap Jong Hyun begitu juga sebaliknya. Mereka kemudian tersenyum penuh arti. Eun Jo memang telah kehilangan sosok ayah yang selama ini dia banggakan tapi dia tidak ingin lagi untuk kedua kalinya kehilangan laki-laki yang juga dia banggakan dan tentu saja dia cintai.

END

One thought on “[FF Competition] In The End

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s