[FF Competition] Love Pet

Judul    : Love Pet

Genre  : Romance-happy ending

 

 

“Ah, hari ini sungguh melelahkan!” Yona membuka pintu apartemennya, menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pekerjaannya hari ini cukup melelahkan untuknya.

Baru saja ia akan menutup pintu apartemennya ketika seseorang mengetuk pintunya dari luar.

Eonni, bisakah kau menjaga kucingku?” Tanya seorang gadis kecil yang tidak dikenalnya sama sekali. Usianya sekitar 10 tahun.

Ne?” Yona bingung dengan permintaan anak kecil itu. Ia tak pernah memiliki hewan peliharaan, terutama kucing. Lagipula, siapa yang  akan merawat kucing itu saat ia pergi bekerja?

Mianhae, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya.” Ucap Yona pelan, berharap agar anak manis itu segera pergi. Ia benar-benar butuh istirahat.

“Aku tidak menjualnya. Kumohon, tolong jaga kucingku ini. Aku tidak bisa membawanya bersamaku.” Anak itu bersikeras untuk memberikan kucingnya pada Yona.

“Tapi…”

Eonni, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu. Annyeong.” Anak itu berlari meninggalkan Yona dan kucingnya di depan pintu.

Ya! Tunggu, kau meninggalkan kucingmu.” Panggil Yona, tapi sia-sia saja karena gadis kecil itu sepertinya sudah pergi jauh. Kalau saja saat ini ia punya banyak tenaga, pasti ia akan mengejar gadis kecil itu.

“Ck, harus kuapakan kucing ini?” Ucap Yona bingung  seraya membawa kucing itu masuk ke apartemennya.

“Kau tunggu di sini, aku akan lihat apakah ada makanan yang bisa kau makan.” Yona melangkahkan kakinya menuju meja makan. Kosong. Ia belum memasak apapun.Tepatnya, Yona tidak pernah memasak.  Kenyataan bahwa ia adalah seorang yatim piatu membuatnya terbiasa hidup sendiri dan makan di luar untuk mengisi kekosongan.

“Sepertinya kau harus berpuasa hari ini.” Ujar Yona seolah-olah kucing itu mengerti apa yang ia ucapkan.

“Ah, sepertinya aku masih punya sisa-sisa tulang ayam makan siangku. Tunggu sebentar.” Yona membongkar tasnya. Mencari-cari sisa makan siangnya tadi. Sikap kepeduliannya akan lingkungan membuatnya selalu menyimpan sampah di dalam tasnya jika ia belum menemukan tempat sampah.

“Ini, makanlah. Sudah baik aku masih memberimu makan.  Besok akan kuantar kau ke tempat pemeliharaan hewan liar di kota. Jadi bersabarlah.” Yona menyodorkan tulang-tulang itu ke depan kucing berbulu putih polos dengan  kakinya berwarna coklat. Kucing yang lucu, tapi tetap saja ia tidak menyukai hewan jenis apapun, apalagi kucing, hewan yang cukup dibencinya.

Yona membuka buku pelajarannya. Walaupun ia seorang yatim-piatu dan harus bekerja keras untuk menghidupi kebutuhannya sendiri, ia termasuk mahasiswi terpintar di kampusnya. Tekadnya untuk menjadi orang kaya yang sukses agar hidupnya tidak terus-menerus menderita seperti ini membuatnya selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar.

Ya! Kau tidak akan benar-benar menempatkanku di tempat penangkaran hewan liar, kan.” Sebuah suara asing mengejutkan Yona. Tidak ada siapapun kecuali dirinya di apartemen itu.

“Aku di sini. Kucing yang dititipkan gadis kecil tadi. Bisakah kau mengeluarkanku dari kandang ini?”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” Yona berteriak cukup atau bisa dibilang sangat keras.

“Siapa dan apa maumu?! Kumohon jangan ganggu aku! Aku tidak punya apapun. Kumohon jangan hantui aku. Dihantui keluargaku saja aku tidak mau, apalagi hantu asing sepertimu. Kumohan pergilah, aku masih ingin hidup!” Yona benar-benar ketakutan. Tanpa sadar ia melempar tasnya ke arah kandang kucing tadi hingga terjatuh.

Ya! Aku bukan hantu. Cepat tolong aku, kakiku terjepit.” Lirih kucing itu.

Yona berusaha mati-matian mendekati kucing itu. Benar saja, kaki kucing itu terjepit kandangnya. Karena iba, ia segera membantu kucing itu. Lalu mengeluarkannya dari kandang.

“Kau bukan hantu, kan?” Tanya Yona ragu-ragu.

“Ck, sudah kubilang aku bukan hantu. Menjauhlah sedikit dariku.” Yona menggerakkan badannya sedikit menjauh dari kucing itu tanpa bertanya. 10 detik kemudian, berbagai cahaya  datang entah darimana memenuhi tubuh kucing itu. Sangat berkilau. Yona merasakan matanya sakit ketika mencoba untuk melihat ke arah cahaya itu.

Sepasang kaki terlihat ketika cahayanya mulai memudar, diikuti anggota tubuh lainnya. Seorang pria tampan muncul di balik cahaya itu. Pakaian berwarna putih lengkap dengan jas dan sepatu coklat melekat di tubuhnya.

“Siapa kau?”

“Jung Yonghwa imnida.”

~~∞ő∞~~

Yona’s pov

Satu minggu sudah aku dan Yonghwa, si kucing ajaib itu tinggal bersama. Meskipun ia berwujud manusia, tingkah lakunya masih sama seperti kucing. Banyak hal yang harus kulakukan selain kuliah dan bekerja. Memasak salah satunya. Walaupun Yonghwa adalah seekor kucing, tapi tetap saja dengan wujud manusianya aku tidak bisa membiarkannya memakan ikan yang masih mentah.

Hampir setiap makan malam kuhabiskan bersamanya. Dan itu berarti setiap hari menu makanku adalah ikan. Dia benar-benar menyukainya. Dan itu cukup menyulitkanku. Uangku tidaklah banyak untuk membeli jenis makanan lain, ditambah uang sekolah yang harus kubayar sendiri.

Yonghwa hanya berubah menjadi manusia di malam hari, setelah matahari menyembunyikan dirinya. Hal itu cukup menguntungkanku, setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkannya melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri ikan dari rumah orang lain ketika aku pergi bekerja, karena nyatanya itu adalah pekerjaan kucing kebanyakan.

Satu-satunya hal yang membuatku khawatir ketika ia menjadi seekor kucing adalah cakarnya. Ia selalu mengancamku dengan cakarnya kalau aku tidak membelikannya ikan untuk dimakan. Merepotkan, tapi apalagi yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak sabar menunggu anak itu mengambil kucing ini, maksudku makhluk aneh bernama Jung Yonghwa.

“Kapan gadis kecil itu akan membawamu kembali?” Tanyaku malam itu di meja makan.

“Wae? Apa kau tidak suka dengan kehadiranku?” Balas Yonghwa, tetap sibuk dengan ikan di piringnya.

“Ck, apa aku bisa mengatakan kalau aku tidak suka tanpa mendapat cakaran darimu, huh?”

“Tentu saja tidak, aku akan mencakarmu besok pagi kalau kau mengusirku.” Jawab Yonghwa dengan mulut yang penuh dengan ikan, “Aku akan pergi begitu kau benar-benar menginginkannya.” Sambungnya lagi.

“Kalau begitu, bisakah kau pergi sekarang? Pengeluaranku bertambah sejak kau tinggal di sini.”

Ya! Berterimakasihlah atas kehadiranku! Kalau tidak ada aku, mungkin kau akan merasakan kesepian seumur hidupmu.”

“Aish, menyebalkan. Sudah, habiskan saja makanan yang ada di sini! Aku mau belajar dan jangan berani-berani mendekati kamarku, arra?”  Aku menuju ke kamarku, meninggalkan Yonghwa yang masih sibuk menyantap makan malamnya itu.

Benar apa kata Yonghwa, setidaknya aku  tidak pernah merasa kesepian lagi semenjak kehadirannya. Kalau saja Yonghwa benar-benar manusia dan sifatnya tidak menyebalkan, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya, apalagi Yonghwa itu cukup tampan dengan tubuh yang proporsional.

~~∞ő∞~~

Suara bising alarm membuatku terbangun. Jam menunjukkan pukul 7 malam.

“Oh, aku tertidur lagi.”

“Kau bangun? Kukira kau akan tidur sepanjang hari.” Tanya Yonghwa dengan tangan yang masih sibuk menata piring di atas meja. Kulihat wajahnya penuh dengan luka.

“Aneh.” Komentarku.

Mwo?”

“Wajahmu, darimana kau dapatkan luka-luka itu?”  Tanyaku.

“Sudah, cepat makan sebelum makanan ini dingin!” Jawabnya mengalihkan pertanyaan.

“Darimana kau dapatkan makanan-makanan ini? Apa kau mencurinya?”

Ya! Kau pikir aku serendah itu? Sudah, cepat makan.” Perintahnya padaku.

Hening, tidak ada percakapan sama sekali di meja makan malam itu. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa bahwa aku menyukainya. Sikapnya yang terlihat dingin ternyata menyimpan sosoknya yang baik hati dan perhatian. Pernah sekali ia menyelamatkanku dari sebuah mobil yang hampir menabrakku. Aku hanya merawatnya di rumah dengan obat-obatan tradisional yang aku racik sendiri. Sang pengemudi pergi begitu saja melihat Yonghwa yang cukup sekarat saat itu. Anehnya, semenjak kejadian itu, ia jadi sering melukai dirinya sendiri dan selalu mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas tentang luka-luka yang didapatnya.

“Yona-ya!” Panggilnya membuyarkan lamunanku.

Wae?”

Aniyo, apa masakanku enak?”

“Tidak buruk.” Jawabku singkat.

“Ck,  kau benar-benar tidak bisa berkomentar yang baik.” Jawabnya tanpa balasan dariku.

“Yonghwa-ya, kapan kau akan pergi?”

“Aish, baiklah kalau kau menginginkannya. Aku akan pergi setelah aku menghabiskan makan malamku.” Balasnya terlihat kesal.

Aniyo, akan lebih baik kalau kau tidak pergi.”

Degg… Aku tidak mengerti mengapa aku mengatakan hal seperti itu.

Ne?”

“Aku… Aku menyukaimu, Yonghwa-ya.” Ucapku pelan, tapi cukup untuk membuatnya tersedak.

“Kau terlihat menggelikan.” Komentarnya.

“Apa aku terlihat bercanda?” Kini mataku menatap lurus ke dalam matanya.

Suasana kembali hening.

“Segera temui aku di depan setelah kau habiskan makananmu.”  Ucap Yonghwa seraya meninggalkan meja makan begitu saja.

Aku tidak mengerti situasi apa yang terjadi saat ini. Sikapnya membuatku takut bahwa dia akan meninggalkanku setelah apa yang aku lakukan tadi. Walaupun aku tahu bahwa dia tidak akan pergi sebelum aku yang memintanya untuk pergi.

~~∞ő∞~~

Sikapnya sepanjang perjalanan memaksaku mengikutinya dalam diam. Aku merasa benar-benar bodoh mengatakan isi hatiku padanya.

Eonni.” Tunjukku pada salah satu makam yang berada di depanku. Aku tidak mengerti mengapa Yonghwa membawaku ke pemakaman malam-malam seperti ini.

Dia masih diam dengan tubuhnya yang membelakangiku, membuatku menyimpulkan sendiri alasannya membawaku ke sini.

“Gadis kecil itu… Apa kau tidak ingat?”

Ne?” Pikiranku menerawang, mengingat-ingat wajah gadis kecil yang memberikan Yonghwa padaku.

Flashback

“Hyori eonni!”

Sebuah mobil truk menabrak tubuh mungil Hyori eonni, satu-satunya keluarga yang aku miliki.

Eonni!” Teriakku.

Percuma, eonni tewas saat itu juga. Ia mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkan seekor kucing putih dengan bulu kaki berwarna coklat yang selalu menemaninya mengantar susu setiap pagi ke rumah-rumah, dari tabrakan tersebut. Meninggalkan aku sendiri di dunia ini dan menyisakan dendam terdalam terhadap salah satu makhluk ciptaan Tuhan itu yang menyebabkannya pergi.

Flashback ends

Eonni…” Air mataku jatuh begitu saja.

“Yona-ya, mianhae, aku kucing itu.” Yonghwa memelukku.

Mianhae, jeongmal mianhae.” Bisiknya padaku.

Tubuhku kaku dan mati rasa seketika. Apa yang baru saja dikatakannya benar-benar membuat otakku sulit bekerja dengan baik.

Mianhae Yona-ya.” Yonghwa mempererat pelukannya.

“Pergi!” Aku melepaskan pelukannya.

“Yona-ya,..” Ucapnya pelan atas reaksi yang kuberikan.

“PERGIII!!!” Emosiku sampai pada puncaknya. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada sesuatu yang seharusnya kubenci.

Tangisku memecah kesunyian makam malam itu. Lagi, kejadian 10 tahun itu terulang lagi. Kehilangan sesuatu yang berharga untukku. Tapi kali ini aku yang memintanya untuk pergi, pergi dari hidupku.

~~∞ő∞~~

16 November, hari ini adalah hari kelulusanku sekaligus ulang tahunku. Tidak ada perayaan apapun. Beruntung karena tadi pagi, Park Eunri-sahabatku- membawakan kue ulang tahun untukku yang setidaknya membuatku merasa masih ada yang peduli terhadapku.

Kulangkahkan kakiku ke makam Hyori eonni begitu acara kelulusan berakhir. Sepi, makam ini benar-benar sepi, sesepi hatiku.

Eonni, apa kabarmu di sana? Apa kau ingat hari ini hari ulang tahunku?” Aku tersenyum lirih.

“Bolehkah aku meminta sesuatu?” Kini air mataku menetes.

“Kembalikan Yonghwa padaku… Aku membutuhkannya, kumohon eonni. Hiks, kumohon…” Isakku.

Benar-benar hal yang percuma, bukan? Tapi itulah satu-satunya cara yang kupikirkan untuk mendapatkan Yonghwaku kembali.

Kulangkahkan kaki keluar makam setelah mendoakan eonni. Perasaanku masih tak menentu ketika sepasang kaki jenjang menghadangku.

Aku melihatnya lagi.

Orang yang kutunggu-tunggu, Jung Yonghwa.

“Yonghwa-ya!” Aku langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Wae? Kau mencariku, Yona-ssi?”

Degg… Dia memanggilku dengan panggilan formal. Kata-kata itu cukup untuk menusuk hatiku.

“Yonghwa-ya, kau boleh marah padaku. Tapi kumohon, jangan anggap aku sebagai orang asing.” Aku mempererat pelukanku meskipun tidak ada balasan darinya.

“Yonghwa-ya, saranghae.” Ucapku di tengah-tengah isakanku. Aku tidak tahu lagi hal apa yang bisa kulakukan padanya.

Yonghwa melepaskan pelukanku dari tubuhnya. Kukira ia akan mendorongku dan meninggalkanku begitu saja, namun…

Nado saranghae.” Sedetik kemudian, Yonghwa mendaratkan bibirnya di bibirku. Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Aku benar-benar tidak menduga ia akan melakukan hal ini padaku.

Nado saranghae, Yona-ya.” Bisiknya pelan.

“Kumohon, jangan pernah pergi walaupun aku yang memintanya.” Aku mempererat pelukanku.

Ne, aku tidak akan pernah pergi darimu. Tidak akan pernah, selamanya.”

Aku tersenyum mendengarnya. Tapi ada sesuatu yang mengganjalku. Bagaimana mungkin Yonghwa bisa berubah menjadi manusia di siang hari seperti ini.

“Yonghwa-ya, bukankah saat ini seharusnya kau masih menjadi seekor kucing?” Tanyaku.

Wae? Apa kau tidak suka melihat wujudku seperti ini?”

Aniyo. Tapi…”

“Apa kau pernah dengar kalau kucing punya sembilan nyawa?”

Ne?”

“Kau tahu, aku rela mengalami sakitnya kematian sebanyak 8 kali hanya untuk menjadi manusia.” Jelasnya.

“Tuhan memberiku tantangan. Jika aku berani menghadapi kematianku dan menyisakan satu nyawaku, maka aku akan menjadi manusia sungguhan. Awalnya aku tidak tertarik karena belum memiliki tujuan yang jelas untuk menjadi manusia. Tapi sejak menyelamatkanmu dari tabrakan mobil truk itulah, akhirnya aku tahu. Jika aku menjadi manusia, maka aku bisa menjadi pelindungmu dan hidup bersamamu.” Sambungnya lagi.

“Jadi selama ini kau melukai dirimu hanya untuk menjadi manusia?”

Ani, tapi untuk menjadi pendampingmu.” Balasnya.

“Ck, kau benar-benar bodoh. Bagaimana kalau bekas lukamu tidak hilang? Kau tahu? Kau tidak akan terlihat tampan.” Ejekku bercanda.

“Aku tidak peduli, karena kau akan selalu mencintaiku.” Yonghwa mengangkatku tiba-tiba.

Ya! Lepaskan!”

“Tidak, tunggu sampai kita tiba di rumah.” Balasnya masih dengan kedua tangannya yang menggendongku.

“YA!!!”

Eonni, terimakasih.” Ucapku dalam hati.

Yona’s pov ends

Sepasang bola mata gadis kecil memperhatikan tingkah Yona dan Yonghwa yang terlihat bahagia dari kejauhan. Senyum manis mengembang di wajahnya, wajah yang masih sama dengan wajah sepuluh tahun lalu.

“Kini kucingku telah menjadi milikmu. Semoga kau bahagia, adikku, Yona-ya.”

Cahaya putih menyelimuti tubuh gadis itu yang lambat laun menghilang dengan pudarnya cahaya itu. Akhirnya, gadis kecil itu bisa pergi dengan tenang ke alamnya tanpa perlu mengkhawatirkan adik perempuan kecilnya yang telah tumbuh dewasa. Karena kini, adiknya telah bahagia dengan seseorang yang benar-benar mencintainya, Jung Yonghwa.

 

The End

22 thoughts on “[FF Competition] Love Pet

  1. Aduuhhh aku kira gimana gittu yah cerita.a, eh ternyata baru baca yg seperti kaya gini, cerita.a unik dari yg lain, tapi kalo kata aku sih rada kecepetan juga alur.a
    Oke tetep semangat yah ^^

    • Aaaaaa, maafin kalo gak ngerti ceritanya :(((
      hehe, makasih komennya🙂
      soalnya dibatesin 2000 kata, jadi mau gak mau, yah gitu :))))))

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s