[FF Competition] Manekin

Judul : Manekin

Genre: Romance—Sad Ending

 

 

Semburat jingga masih berkelakar di ufuk sana tatkala Butik Rose masih saja dijejali beberapa manusia yang sibuk memilah baju. Jam hampir menunjukan pukul enam sore—masih kurang sepuluh menit lagi—namun tak satupun dari wanita bermimik sombong itu mengakhiri acara belanjanya. Diantara mereka bahkan sibuk bergosip tentang bisnis suami mereka dibanding memilah dress lalu segera angkat kaki dari butik ini.

“Wah dress ini bagus sekali.”

Aku hanya dapat mendengus kesal begitu mendapati seorang wanita paruh baya mulai menampakkan ketertarikannya pada dress pesta selutut berwarna merah maron dengan bagian lengan yang terbuka.

Ia semakin mendekat ke arahku, tangannya yang lentik itu menyentuh ujung dress miniku. Sesekali ia terseyum manis dengan manik masih melekat pada diriku. Tak ada yang kulakukan kecuali menghadiahinya tatapan tak setuju dibalik kekosongan mataku.

Dress ini hanya sepanjang lima senti diatas lutut untuk ukuranku, sedangkan wanita paruh baya ini mempunyai tinggi lima senti diatasku. Apa ia ingin mengekspos bagian kakinya diumur yang kuperkirakan menginjak tiga puluh tahun? Jika aku menjadi suaminya aku akan menceraikannya saat itu juga.

“Aku mau yang ini.”

Seharusnya ia berpikir bagaimana terlihat anggun untuk usianya bukannya terlihat seksi.

Selang tiga puluh menit setelah wanita tadi benar-benar membeli mini dress. Keadaan butik berubah seratus delapan puluh derajat, tak ada lagi suara bising kini hanya sunyi yang mengepungku. Delapan pegawai yang terdiri dari empat perempuan dan empat lelaki telah benar-benar meninggalkan butik bergaya Eropa-Korea yang terletak diantara deretan butik mewah di Gangnam. Sekarang hanya tersisa jejeran manekin, pakaian, aksesoris, dan aku tentu saja—mengingat aku sudah berada di butik ini selama lima tahun.

“Ya Tuhan!! Telurku!!”

Aku lupa jika ada seorang lagi yang satu ruangan denganku.

Lelaki bernama lengkap Lee Jungshin—sekaligus pemilik Butik Rose— itu adalah lelaki berumur dua puluh lima tahun. Ia merupakan anak tunggal dari pemilik perusahaan elektronik terbesar di Korea. Ia mempunyai kepribadian sedikit eum..  .. boleh kukatakan unik, contohnya ia rela menghabiskan setengah hari untuk memasak yang pada akhirnya akan ia buang juga—karena selalu gagal. Ia juga merenovasi ulang Butik Rose dengan menambahkan miniatur rumahnya di balik pintu cokelat. Ia berpikir tidur bersebelahan dengan Butik Rose itu keren.

“Ibu.. Sudah kubilang ‘kan rumahku sekarang di butik ini. Aku tak mau pulang. Untuk apa aku pulang jika hanya ada aku di sana.”

Kulihat ia baru saja keluar dari pintu cokelat dengan tangan kanan yang sibuk membawa piring berisi dua buah telur tak layak makan sedangkan tangan kirinya menopang ponsel miliknya.

“Iya aku tahu, ibu ada. Tapi ibu sibuk dengan kehidupan ibu sebagai isteri perusahaan ayah, sudah ya.. aku tutup.”

 

Klik

 

Ia menghela nafas panjang sebelum melihatku dengan senyumannya yang menawan. Aku hanya mampu tersenyum malu-malu sebagai jawaban dari senyumnya.

“Apa kau tahu? Kau terlalu cantik.”

Jantungku kembali berdetak abnormal, seolah terdapat pemacu bom yang bersarang di dadaku. Kupikir hatiku telah jatuh dalam pesonanya, yeah kuakui ia adalah lelaki tertampan dan memiliki hati yang menawan. Tidak hanya itu, ia juga mempunyai senyuman tulus yang selalu sukses membuat kakiku lemas seperti agar-agar.

“Kau cocok dengan rok itu.”

Tubuhku semakin membeku begitu mendengar pujian tulusnya., memang pakaianku telah berganti rupa dengan t-shirt ‘Rose’ berwarna cream ditambah dengan rok kuning bergelombang karena pakaianku sebelumnya telah dibeli oleh wanita paruh baya tadi.

“Seandainya kau nyata, pasti kau menjadi gadis yang sangat cantik.”

Senyumku memudar saat kalimat ‘yang paling kubenci’ menyentuh gendang telingaku. Rasa sesak langsung menyergap, mendominasi hatiku dengan rasa perih. Aku ingin menangis saat ini juga, menangis di hadapan Jungshin namun apa yang bisa kulakukan? Hanya menatap kosong ke arahnya.

 

…………………

 

Retinaku semakin menyipit tatkala sinar rembulan menusukku dengan cara yang sadis. Dentang jam bergema untuk kedua belas kalinya dan tanpa kusadari seulas senyum telah mengawali hariku di tengah malam ini. Perlahan dapat kurasakan sistem kerja tubuhku mulai bergerak-gerak ringan hingga menjalar ke setiap jengkal tubuhku.

“Aku merindukanmu,” gumamku begitu aku telah terbebas dari tubuh kaku yang membelitku.

Karena aku telah menjadi manusia. Aku telah menjadi seorang gadis sungguhan, bukan lagi pinokio yang menyedihkan. Kendati harus menjadi antonim Cinderella—yang sihirnya bekerja saat tengah malam datang hingga pagi menjelang namun itu lebih dari cukup untukku.

Aku berjalan mengendap-ngendap menuju pintu cokelat, lalu memutar kenopnya secara perlahan—takut mengganggu tidur Jungshin mengingat ia selalu insomnia akhir-akhir ini. Ugh, sial bau alkohol langsung menusuk hidungku. Apa yang dilakukan Jungshin? Apa dia baru saja menghabuskan berliter-liter wine?

Keadaan ruang tamunya benar-benar berantakan bahkan aku sanksi jika ini adalah ruang tamu bukan gudang penyimpanan barang bekas.

“Ya Tuhan Jungshin!! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Apa kau baru berpesta? Sendirian? Ugh, itu tak lucu.” Aku benar-benar tak tahu kenapa ada banyak sekali kaleng bir yang menumpuk di pojok ruangan, bungkus makanan yang berserakan, hingga remahan snack yang berhasil menyelimuti lantai marmer.

Sedikit kesal aku segera membereskan belasan atau malah mungkin puluhan bungkus makanan dan kaleng bir lalu membuangnya ke tempat sampah. Berkali-kali aku meringis kesakitan tatkala kakiku tak sengaja menginjak barang yang terjejer di lantai dan hey! Itu cukup sakit karena aku tak memakai alas kaki—salahkan pada pegawai butik yang tak memberiku alas kaki!

Setelah mengumpulkan semua sampahnya—errr aku terpaksa memakai dua keranjang baju kotor dan satu tempat sampah— dengan cepat aku menyambar vacum cleaner mengingat waktu sudah menunjukan hampir pukul dua.

Ya Tuhan!! Jika aku ibunya sudah kutendang bokong Jungshin. Aku serius. Bagaimana  mungkin ia mempunyai rumah sekotor ini.

Aku semakin menggerutu begitu melihat kamar Jungshin yang—Demi celana ketat milik SNSD! Sangat–sangat–sangat berantakan.

Untuk membersihkan kamar Jungshin aku memerlukan waktu lima puluh menit jika dikalkulasikan dengan ruang tamu, dapur dan lainnya maka aku sudah menghabiskan waktu dua setengah  jam. Huh, keren! Waktuku terbuang hanya untuk membersihkan rumah Jungshin.

Jika saja aku tak memakai celemek pastilah pagi ini butik ribut dengan topik ‘pakaian musim panas unggulan butik Rose kotor’ dan itu benar-benar berita tidak keren. Karena selama sehari penuh aku akan mendengar delapan orang ditambah Jungshin mengomel tak jelas dan saling menuduh, oke itu cukup membuatku pusing.

Sedikit terpaksa aku melangkah lebih jauh menyambangi dapur kecil milik Jungshin. Ekor mataku meilirik ke arah jam dinding yang terpasang di atas pintu dapur.

“Sudah jam setengah lima. Aku harus cepat.”

Aku benar-benar tak percaya waktuku terbuang percuma malam ini tapi bukankah masih ada lain waktu? Lain waktu itu harus kuhabiskan untuk memandangi Jungsin. Harus!

Aku menatap bahan-bahan yang baru kukeluarkan dari kulkas, karena waktu semakin sempit  aku akan membuat omelet, fried rice, dan sayur kubis saja. Tak sulit untuk membuat ketiga menu ini, aku bahkan pernah membuat berbagai pasta saat tahun pertamaku di sini.

Tak membutuhkan waktu yang lama semua makanan sudah terhidang dibalik penutup makanan yang berada di meja makan. Sedikit terburu-buru aku segera melepaskan celemek dan meletakannya asal kemudian berlari ke ruang tamu di mana Jungshin tengah tertidur pulas di balik selimut kelabu.

Eh? Tunggu apa itu?

Manikku menangkap sesuatu yang aneh berdiri di pojok ruangan. Sedikit penasaran aku membuka kain penutup benda aneh yang mempunyai tinggi hampir sama denganku.

Wedding dress?” pekikku.

Rahangku jatuh beberapa senti begitu melihat sebuah  wedding dress yang—Demi Tuhan! Sangat cantik. Bagiamana jika aku mencobanya? Hanya setengah jam saja. Aku berjanji.

“Jungshin, aku boleh mencobanya ‘kan?”

Aku menatap lurus ke arah Jungshin yang masih bergelung di balik selimut.

“Aku anggap oke.”

Aku segera memakai wedding dress tanpa lengan yang kuperkirakan dibuat selama berhari-hari oleh Jungshin.

“Wah ini keren,” ucapku sambil bercermin.

Disana aku menemukan bayangan diriku sendiri terbalut wedding dress yang menjuntai hingga lantai. Siapakah gadis cantik itu? Gadis yang memiliki rambut panjang terurai dengan poni depan yang menutupi dahinya. Siapakah calon pengantin cantik itu? Yang terbalut gaun mengembang dan terdapat hiasan bunga sakura di ujung dress-nya.

Itu aku.

Tak mau berlama-lama lantas segera aku menghampiri tubuh Jungshin, mengecup pelan bibirnya. Sial! Kenapa jantungku seperti tersengat begini? Dan ada perasaan aneh yang terus meletup-letup dalam diriku layaknya kembang api yang biasa kutonton saat pesta tahun baru.

Eung?”

Tubuhku seakan membeku begitu melihat kedua kelopak mata Jungshin bergerak-gerak ringan. Apa dia bangun? Apa yang harus kulakukan?

Eoh? Kau sudah mencobanya? Kau terlihat sangat cantik memakai itu,” ucapnya rancu.

Aku semakin mendekat ke arahnya memastikan bahwa ia masih berada pengaruh alkohol. Ia tersenyum dengan manik setengah terbuka.

Eoh!

Dalam sekali hentakan ia berhasil mengunci tubuhku, membuatku jatuh dalam pelukannya dan otomatis membuat tubuhku berada diatasnya. Pelukannya semakin erat membuatku benar-benar tak bisa bernafas. Jantungku? Bagaimana jika dia mendengar bunyi jantungku?

“Apa kau sedang gugup, eum?”

Bodoh! Tentu saja iya.

“Kau semakin manis jika sedang gugup. Apalagi saat merajuk, benar-benar menggemaskan.”

Merajuk?

“Ya Tuhan!” Manikku membulat, rahangku jatuh beberapa senti begitu melihat jam dinding akan menunjukan setengah enam pagi.

Aku segera melepaskan pelukan Jungshin dengan kasar—Demi Tuhan sejujurnya aku tak rela— lalu mengganti bajuku dengan cepat dan memasangkan wedding dress-nya lagi pada manekin.

Setengah berlari aku menuju butik. Memasukan diriku pada etalase kaca dan bergaya seperti biasa sebelum sinar mentari menghujam tubuhku membuatku kembali beku.

 

…………………………

 

Aku tak tahu kenapa hari ini mentari bersinar lebih terik daripada biasanya dan aku juga tak tahu kemana perginya para pegawai yang biasanya pada pukul sembilan pagi tengah sibuk menahan kantuk mereka. Butik hari ini benar-benar sepi, ini aneh. Setahuku ini bukan libur nasional jadi mengapa tak ada siapapun disini termasuk Jungshin?

Apa butik hari ini tutup?

 

Klek

 

Bunyi kunci terdengar oleh telingaku yang disusul decitan pintu kaca yang terbuka. Lewat ekor mataku dapat kulihat sosok Jungshin muncul di balik pintu. Kemana saja anak itu? Pergi pagi-pagi sekali dan sekarang baru muncul.

“Ayo masuk.”

Alisku mengerut mendapati seorang gadis di belakang Jungshin. Ia tersenyum manis—kelewat manis malah. Gadis itu mempunyai tinggi yang hampir sama denganku, wajahnya tirus dengan manik berwarna cokelat terang yang kian membuat wajah polosnya semakin cantik. Kala itu ia memakai dress selutut berwarna pink dengan motif bunga sakura dan flat shoes berwarna senada.

Oppa, kau curang. Kenapa baru kali ini kau membawaku ke butikmu.”

Junghsin tertawa kemudian mengacak rambut panjang si gadis. Entah kenapa rasanya ada yang salah denganku, seperti ada yang menghimpit jantungku tatkala manikku bersibaku dengan adegan itu.

Oppa cepat, acara pemberkatan satu jam lagi.”

Acara pemberkatan?

Ekor mataku bergerilya mencari keberadaan Jungshin, namun tak ada yang kutemukan kecuali gadis tadi—yang kini sedang melihat-lihat isi butik.

“Wuaah, Oppa! Itu sangat cantik.”

Apa? Apanya yang cantik? Sial! Mereka berada di belakangku bagaimana bisa aku melihat ‘hal’ apa yang sedang mereka perbincangkan.

“Ini benar-benar cantik.”

“Tentu saja. Akan semakin cantik jika kau yang memakainya, bahkan tadi malam aku memimpikanmu memakai dress ini lalu aku memelukmu. Rasanya benar-benar nyata.”

Mimpi?Dress? Lee Jungshin idiot! Itu nyata dan gadis itu bukan gadis yang sedang berada di sampingmu melainkan aku. Aku, Lee Junghsin!!

“Bohong.”

“Aku Lee Jungshin akan menerima Im Nami sebagai suamiku. Haruskah aku mengatakan hal itu untuk membuatmu percaya? Nanti saja di depan pendeta dan tamu undangan.”

Suara tawa langsung menyergap telingaku,  membuat nafasku semakin tercekat. Apa kau akan menikah? Dengan gadis bernama Im Nami? Jungshin kumohon jangan lakukan hal ini padaku. Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Kumohon katakan ‘kau mencintaiku’ maka aku akan terbebas dari kutukan keji ini. Kumohon Jungshin..

Oppa ayo kita pergi.”

Kajja.”

Keduanya melangkah pergi menuju pintu kaca, menutupnya dan menguncinya dalam sekali tarikan.

Oppa kenapa manekin itu  menangis?” tanya gadis bernama Nami itu.

Gadis itu menunjuk pada permukaan pipiku di balik etalase butik. Apa benar aku menangis? Benarkah?

“Tidak mungkin. Itu mungkin air, ayo cepat pergi.”

Keduanya—Jungshin dan Nami—pergi meninggalkanku, bergandengan tangan dengan tawa yang saling menjawab.

Seandainya saja dulu aku tak berani menginjak kaki ke tanah suci di Jepang. Tak berani memaki para biksu di sana, dan tak memecahkan guci ‘ajaib’ mungkin sekarang aku masih menikmati pergerakan bebas di sendi-sendiku kala siang masih berkuasa.

Dan mungkin, akulah yang akan menjadi Nami.

Mungkin juga, akulah gadis yang akan menemaninya di depan altar.

Hatiku semakin teriris membayangkan keduanya melangsungkan acara pemberkatan. Pandanganku mengabur ketika kusadari ada lapisan asin yang membungkus kedua bola mataku.

Dan aku…

Menangis….

Menangis sebagai patung mati yang terpajang di etalase toko.

Menangis sebagai gadis yang cintanya bertepuk sebelah tangan.

 

.

.

.

Kupikir tak ada lain waktu setelah ini.

.

.

.

.

Bisakah kau mencintaiku Lee Jungshin?

.

Mencintai sebuah manekin?

 

 

END

 

3 thoughts on “[FF Competition] Manekin

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s