[FF Competition] Save You

Judul FF          : Save You

Genre              : Romance – Family

 

 

Angin musim gugur berhembus pelan sore itu. Beberapa dedaunan kering jatuh dari pohon-pohon yang berbaris rapi di tepi jalan. Di jalanan sepi itu, sebuah bus tiba-tiba berhenti. Tampak beberapa orang berpakaian rapi turun dari bus tersebut. Maklum, memang sudah saatnya para pekerja kantoran pulang ke rumahnya masing-masing.

Seorang pria berjas hitam adalah salah satunya. Sebuah tas kerja yang juga berwarna hitam digenggamnya erat di tangan. Langkahnya perlahan namun tegas, mencerminkan kepribadiannya yang keras.

Tiba-tiba sekali langkahan kakinya terhenti. Ada sesuatu yang selalu bisa membuatnya mematung tertegun. Pandangannya tertuju pada seorang gadis di seberang jalan. Dilihat dari wajah dan perawakannya, gadis itu berusia sekitar 23 tahun-an.

Gadis itu. Setiap melihat sosoknya, selalu berhasil membangkitkan ingatan pria itu di masa lalu. Sebuah kenangan yang ia pikir harus dilupakan, tapi gagal karena setiap pulang dari kantornya, ia harus melewati tanah yang sedang dipijaknya ini. Tanah dimana apartemen gadis itu berada, dimana gadis itu tinggal.

Pria itu, Jung Yonghwa, segera menamatkan nostalgianya. Ia tidak ingin rasa bersalah itu tiba-tiba menguasai dirinya, yang bisa saja menghilangkan akal sehatnya. Lagipula, kinerjanya di kantor sedang bagus-bagusnya. Perasaan bersalah itu tidak boleh menghancurkan kinerjanya. Sama sekali tidak.

Suara sepatu boots yang beradu dengan trotoar jalan pun kembali terdengar. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya. Tidak peduli lagi pada apa yang dilakukan oleh gadis berusia 23 tahun-an itu.

Di sebuah tikungan jalan yang tidak jauh dari halte bus tadi, pria itu berbelok. Apartemennya tidak jauh lagi, ia hampir sampai. Langkahan kakinya dipercepat, ia ingin segera merelakskan tubuhnya, begitu juga pikirannya yang mulai kalut karena masa lalu.

***

Suasana di luar gedung tidak begitu ramai, malah terbilang sepi. Tentu saja semua orang lebih tertarik untuk masuk ke dalam gedung, menonton penampilan setiap murid di pentas kelulusan itu.

Terkecuali seseorang itu. Seorang wanita di awal usia 40-nya.

Anak laki-laki itu segera berjalan mendekati wanita itu, masih dengan jas dan rambutnya yang ditata rapi.

Yang didekati sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang disampingnya. Matanya yang sayu menatap lurus ke depan. Ponsel di tangannya tidak ia genggam dengan erat. Ponsel itu bisa saja jatuh jika ada orang yang menyenggolnya.

“Eomma..” panggil anak laki-laki itu.

Wanita itu tersentak mengetahui ada seseorang di sampingnya. Ponselnya jatuh begitu saja.

“Eomma—”

“Yonghwa-ya? Kenapa kau ada disini, nak? Bukankah seharusnya kau segera bersiap untuk tampil di panggung?” tanya wanita itu, dengan segala ekspresi cemasnya.

Anak laki-laki itu, Jung Yonghwa, menorehkan seulas senyuman lembut pada ibunya,“Seharusnya aku yang bertanya, Eomma. Kenapa Eomma tidak melihat penampilanku tadi?”

Wanita itu menghembuskan nafas berlebihan, wajahnya bertambah cemas.

“Aigoo. Maafkan Eomma, Yong. Eomma tidak tahu kau akan tampil lebih awal,”

Yonghwa tersenyum, memaafkan ibunya. Melihat ponsel ibunya yang terjatuh, anak laki-laki itu segera menunduk dan mengambil ponsel itu. Ketika ia mengaktifkan layar kunci ponsel tersebut, muncullah sebuah riwayat panggilan disana. Ibunya baru saja ditelepon oleh ayahnya.

Rahang Yonghwa mengeras. Untuk apa pria itu menelpon ibunya lagi?

“Eomma, apa yang Appa katakan di telepon?” tanya Yonghwa gusar.

“Appa hanya bilang, supaya Eomma menyampaikan permintaan maafnya padamu karena tidak bisa menonton penampilanmu.” jawab wanita itu, dengan senyuman samar.

Yonghwa mendecak. Tentu saja ia tahu ibunya sedang berbohong. Kata-kata manis itu tidak mungkin diucapkan oleh ayahnya, tidak mungkin sejak usianya menginjak 16 tahun. Sejak itu, ayahnya tidak pernah memberikan rasa kasih sayang maupun perhatian padanya, begitupun pada ibunya.

“Eomma.. katakan saja apa yang Appa katakan,” pinta Yonghwa, tak kuasa melihat raut wajah ibunya yang berubah sendu. Ia tahu ibunya sedang berusaha untuk tidak menangis di depannya.

***

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Seluruh isi ruangan itu melayangkan pandangan mereka ke arah pintu, segala aktivitas mereka menggantung begitu saja.

Seorang pria bertubuh besar muncul dari pintu yang terbuka itu.

“Kang Ho Seung, segera ke ruangan saya.” ujar pria bertubuh besar itu. Suaranya mengisi seluruh sudut ruangan besar yang hening itu.

Pintu itu kembali menutup. Ruangan itu pun kembali ramai, aktivitas kembali berjalan.

Yonghwa merapikan rambutnya. Lantas melanjutkan aktivitas yang sedang ia lakukan pada komputer di hadapannya. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti, ia menyadari sesuatu.

“Jaesuk-ah,” ujarnya pelan, bermaksud memanggil teman yang duduk di sampingnya.

Seorang pria bernama Jaesuk itu menoleh, “Wae?”

“Bukankah Ho Seung tidak masuk hari ini?” tanya Yonghwa, mencoba memastikan.

“Ah, iya! Kudengar, katanya dia sedang sakit,” jawab Jaesuk cepat.

Yonghwa mengerutkan keningnya. Bukan jawaban itu yang ia inginkan.

Pria yang dipanggil Jaesuk itu tiba-tiba membulatkan matanya, seperti menyadari sesuatu, “Ah, kau benar Yong! Bukankah tadi bos memanggil Ho Seung?” seru Jaesuk.

Yonghwa memutar malas bola matanya. Ternyata Jaesuk baru mengerti maksud pertanyaannya.

“Baiklah, aku akan bilang pada bos bahwa Kang Ho Seung sedang sakit,” ujar Jaesuk kemudian. Pria itu bangkit dari kursinya.

Yonghwa baru saja menghadapkan kembali wajahnya pada komputer di depannya, ketika tiba-tiba pria bernama Jaesuk itu berseru. Yonghwa menghembuskan napasnya pelan, lantas menoleh kesal pada Jaesuk, “Wae?”

Jaesuk kembali duduk di kursinya, menatap Yonghwa serius.

“Yong, aku penasaran bagaimana nasib gadis itu ya? Kasihan sekali. Kang Ho Seung-nya sedang sakit, lantas siapa yang akan membantunya lagi?” oceh Jaesuk.

Gadis itu. Nama gadis itu memang sama sekali tidak disebutkan oleh Jaesuk, namun Yonghwa tahu jelas siapa gadis yang dimaksud itu. Anehnya, walaupun namanya tidak disebutkan, sosoknya pun tidak sedang ia lihat, Jung Yonghwa tetap saja terdiam mematung. Pintu-pintu masa lalunya kembali terbuka.

Ia tahu teman-teman di kantornya memang sering membicarakan gadis itu, ia tahu. Bahkan salah satu temannya yang bernama Kang Ho Seung sering membantu gadis itu, Ho Seung memang sedang melakukan pendekatan dengan gadis itu. Gadis itu memang cantik, menurut Ho Saeng dan Jaesuk. Sebenarnya menurut dirinya juga.

Sebelum semuanya menjadi fatal, Yonghwa mencoba menyadarkan dirinya. Ia menggelengkan kepalanya cepat, berharap bayangan-bayangan itu terusir dari benaknya. Secangkir kopi di hadapannya segera ia teguk. Ia harus tenang sekarang, ia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Setelah merasa cukup lega, Yonghwa menoleh ke arah pintu ruangan atasannya yang terbuat dai kaca. Ia dapat melihat Jaesuk disana. Dalam hati Yonghwa berharap, semoga Jaesuk tidak melihat tingkah anehnya tadi.

***

Yonghwa menghembuskan napasnya pelan. Bus yang ditumpanginya sudah berhenti, ia harus turun sekarang. Turun di tempat ini.

Seperti biasa, bukan hanya dirinya saja yang turun di halte ini. Ada beberapa rekan kantornya yang turun di halte ini juga. Biasanya, Kang Ho Seung turun bersamanya di sini. Tapi, sejak temannya itu sakit, ia memang sendirian. Yonghwa bukan tipikal orang yang easy going, ia hanya dekat dengan dua temannya saja di kantor.

Dan seperti biasa juga, gadis itu berdiri di seberang jalan.

Dengan rok lebar selutut dan mantel ringan berwarna cokelat, gadis itu tampak anggun. Rambut panjangnya selalu dibiarkan tergerai. Anak-anak rambutnya berterbangan ditiup angin musim gugur.

Gadis itu memang cantik. Yonghwa mematung melihat kombinasi semua itu. Ia tidak dapat mengelak lagi sekarang. Berbohong pada diri sendiri memang selalu menyakitkan.

Tiba-tiba masa lalu menyeruak kejam. Segala pikirannya tentang gadis itu tertimbun oleh kenangan masa lalunya. Kini ia tidak berani lagi menatap gadis itu, sekalipun gadis itu memang tidak dapat melihatnya. Rasa bersalah telah menguasainya sekarang. Ia tidak berani menatap sosok gadis itu. Dirinya memang seorang pengecut.

Dalam pikirannya yang tenggelam, tiba-tiba suara klakson mobil yang nyaring menyadarkannya. Kedua bola matanya secara refleks menoleh pada gadis itu. Wajahnya berubah panik melihat gadis itu yang sedang berjalan perlahan di tengah jalan. Sebuah mobil besar sudah berjarak satu meter dari posisi gadis itu.

Dengan segala kepanikannya, Yonghwa berlari super cepat menuju gadis itu. Satu kesalahannya tidak boleh terulang lagi. Gadis itu tidak boleh membuatnya semakin gila.

Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Sebelum semuanya gelap, Yonghwa tersenyum lega melihat gadis itu jatuh terduduk di tepi jalan.

***

Suara isak tangis tertangkap oleh saraf auditorinya. Begitu mengenali suara tangisan itu, anak laki-laki berusia 18 tahun itu segera menuruni tangga rumahnya, arah suara itu berasal.

Anak laki-laki itu tidak perlu mencari terlalu jauh lagi. Sosok yang sedang menangis itu sudah dapat dilihatnya sekarang. Emosinya mulai meningkat dengan perlahan. Ia yakin sekali bahwa ayahnya-lah yang sudah membuat ibunya menangis tersedu seperti itu.

Tanpa menghampiri ibunya terlebih dahulu, Yonghwa bergegas keluar dari rumahnya. Ia memaksa penjaga rumahnya agar memberitahu kemana ayahnya pergi. Setelah bersusah payah memaksa, akhirnya ia segera tahu dimana ayahnya berada sekarang.

Dengan terburu-buru, Yonghwa menaiki mobil pribadinya. Memutuskan untuk mengemudikannya sendiri, tidak peduli dengan teriakan ibunya di belakang sana. Ia sudah muak dengan tingkah ayahnya yang semena-mena, ia sudah tidak tahan melihat ibunya yang terus-menerus menangis.

Perjalannya memang cukup jauh, memakan waktu hampir setengah jam. Namun, Yonghwa tidak begitu memusingkannya. Selama perjalanan, pikirannya telah dipenuhi oleh emosi.

Setelah tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikemudikannya sampai pada sebuah komplek villa di pinggiran kota. Dengan kecepatan penuh, Yonghwa mengemudikan mobilnya ke sekeliling komplek tersebut. Matanya awas mencari sosok ayahnya yang sekarang sama sekali tidak ia sayangi.

Sosok itu terlihat sepuluh menit kemudian. Di sebuah villa yang terbilang cukup besar. Ayahnya tidak sendirian, ia bersama seorang wanita berusia pertengahan 30 dan seorang gadis berambut panjang. Mereka terlihat sedang memanggang barbeque bersama. Yonghwa tersenyum pahit, bahkan ia dan ibunya tidak pernah diajak oleh ayahnya ke villa ini. Oh, mungkin saja villa ini akan menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah. Yonghwa menghembuskan napas berlebihan, kejam sekali ayahnya mencampakkannya dan Ibunya begitu saja.

Bersamaan dengan itu, emosi Yonghwa kian memuncak. Tanpa aba-aba, Yonghwa melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju villa besar tersebut. Semuanya harus berakhir sekarang, penderitaan Ibunya harus berakhir sekarang juga.

Ketiga orang itu berteriak panik melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka. Yonghwa tidak peduli dengan mereka, ia juga tidak peduli lagi apa yang akan terjadi setelah ini. Ia hanya ingin penderitaan Ibunya berakhir.

***

Benar-benar buruk, mimpi itu lagi yang datang menghampirinya. Mimpi yang entah ia sebut sebagai apa. Dikatakan penyesalan, tapi ia sama sekali tidak menyesal ‘mengusir’ ayahnya pergi. Dikatakan bukan penyesalan, tapi ia merasa sangat bersalah telah menghancurkan gadis itu. Menghancurkan hidupnya, menghancurkan haknya untuk hidup bahagia bersama ibunya, menghancurkan mimpi-mimpinya, menghancurkan penglihatannya.

Setelah peristiwa itu, ayahnya dan calon istri barunya—yang tak lain adalah ibu dari gadis itu—meninggal. Dan beberapa bulan kemudian ibunya meninggal karena penyakit.

Gadis itu memang selamat, namun saraf penglihatannya rusak. Dan itu semua karena dirinya. Miris sekali, pada usia 18 tahun, ia sudah menjadi seorang penjahat sekaligus pembunuh.

Tiba-tiba Yonghwa teringat akan sesuatu. Gadis itu. Hampir saja Yonghwa menjadi seorang pembunuh lagi, kalau saja ia tidak menyelamatkannya.

Sebuah sentuhan di tangannya menyadarkannya. Kedua mata Yonghwa terbuka perlahan. Aroma obat-obatan menguar di setiap sudut ruangan itu. Ia ada di rumah sakit rupanya.

Gadis itu. Ia ada di sampingnya sekarang. Mata gadis itu tertuju padanya, walaupun ia yakin gadis itu tidak benar-benar sedang melihatnya. Tidak dapat, lebih tepatnya.

“Yonghwa-oppa, apa kau sudah sadar?” gadis itu tersenyum lemah.

Yonghwa tertegun melihat senyuman gadis itu. bagaimana bisa gadis itu tersenyum di depan seorang penjahat? Pembunuh ibunya, penghancur hidupnya?

Kalau saja bukan dirinya yang menjadi penjahat dalam hidup gadis itu, ia ingin sekali memeluk gadis itu, menjaganya, mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia ingin sekali. Namun hal itu terasa sulit pada nyatanya. Ia merasa seperti ada sebuah pembatas yang menghalanginya.

“Kau tahu, oppa? Ada seorang pria bernama Kang Ho Seung yang selalu membantuku menyebrang jalan setiap hari. Dia baik sekali,”

Kalau saja tangan kanannya tidak sedang digenggam oleh gadis itu, Yonghwa ingin segera menutup telinganya. Tidak ingin mendengar pengakuan gadis itu atas rasa sukanya pada Ho-Seung.

“Aku kira pria itu adalah Oppa. Tapi ternyata bukan, aku kecewa sekali,”

Kedua mata Yonghwa membulat. Prediksinya salah total. Gadis itu membutuhkannya. Gadis itu tidak membencinya. Selama ini dirinya terlalu sibuk menanggapi rasa bersalahnya yang besar, sampai menghiraukan keinginan-keinginan kecilnya untuk melindungi gadis itu.

Sambil menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya, Yonghwa mencoba untuk duduk.

Gadis itu terlihat terkejut merasakan genggaman tangannya yang menguat.

“Kwon Rin-ssi, oppa disini.” ujar Yonghwa lembut. Seulas senyuman lega terlukis di bibirnya.

Gadis itu—Kwon Rin—tersenyum lemah dalam pandangannya yang gelap.

Yonghwa tidak pernah merasa setenang ini selama hidupnya, pun setelah berhasil membunuh ayahnya. Ia sudah menemukan titik cerahnya sekarang. Rasa bersalah yang selama ini menghantuinya tidak akan ia tanggapi lagi, ia akan menebus rasa bersalah itu sedikit demi sedikit. Dengan mencintai gadis ini, misalnya.

***

 

End.

One thought on “[FF Competition] Save You

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s