[FF Competition] Sketsa

Judul: Sketsa

Genre: Romance – Tragedy

 

 

Kejadian masa lalu itu mengikatnya. Merubah seluruh impian dan tujuan hidupnya. Menjadikannya terpuruk dengan segala rasa benci dan bersalah yang tak kunjung hilang.

 

‘Hidup itu bagai sebuah sketsa’

‘Berwarna hitam dan putih’

‘Terkadang membuatmu bahagia, namun tidak jarang pula membuatmu menderita’

 

‘Awalnya kau adalah sumber kebahagiaanku, tujuan hidupku’

‘Namun entah sejak kapan, sosokmu berubah menjadi sebuah penyesalan terbesar dalam hidupku’

‘Membuatku terpuruk dan takut kembali bangkit untuk meneruskan hidup’

 

 

Juni 2014

Ia berdiri tegak di tengah ruangan gelap dan pengap dengan puluhan lembar kertas sketsa usang berserakan di mana-mana.

Wajahnya penuh peluh dengan urat-urat tegang yang menyembul keluar dari kulit pucatnya. Mata hitamnya berkilat tajam, menatap sebuah cermin kosong tanpa berusaha menyembunyikan emosi yang masih juga meluap-luap.

“Maafkan aku…” Suara itu menggema di dalam kepalanya.

Bukannya iba, ia justru mengulas seringai. Wajah rupawannya lebih nampak seperti malaikat pencabut nyawa.

Ia berjalan mendekat. Ketukan sol sepatunya bergema bagai alunan lonceng kematian.

Ia berhenti tepat dua meter. Wajah kotornya terangkat dan menatap jijik cermin retak di depannya.

“Kau telah mengambilnya dariku. Kau yang membuatnya pergi dari hidupku” gumamnya penuh kebencian.

.

.

Januari 2014

“Apa yang kau lakukan?” ia bertanya.

Gadis itu duduk di sampingnya. Hari ini rambut hitamnya yang panjang ia biarkan tergerai sampai atas punggung. Mata hazelnya yang cantik menatapnya penuh minat.

“Tidak. Bukan apa-apa” Minhyuk segera menyembunyikan buku sketsanya di balik punggung. Bibir tipisnya mengulas senyum simpul malu-malu.

“Kau menggambar lagi?” gadis itu menebak. Kedua alisnya menyatu membentuk kerutan halus pada dahinya.

Minhyuk menggeleng cepat. Tangan kanannya menggaruk tengkuk yang tidak terasa gatal.

Gadis itu tersenyum simpul. Seolah mengerti, ia tidak mengajukan pertanyaan lebih jauh.

Angin bertiup lembut di balik bukit belakang sekolah. Daun ilalang saling bergesek, menimbulkan alunan melodi alam yang merdu. Minhyuk melirik gadis itu dalam diam. Gadis itu menyelipkan helaian rambutnya yang tertiup angin di belakang telinga.

“Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan study di Fakultas Kedokteran” gadis itu berkata. Matanya menerawang jauh ke atas langit biru.

Minhyuk menatap gadis itu tak mengerti. “Bagaimana dengan balet-mu?”

Ia menggeleng pelan. “Tidak. Aku tidak akan meneruskannya”.

“Tapi ___”

“Itu keputusanku. Demi kebahagiaan kedua orang tuaku”.

Minhyuk terdiam sejenak. Tangannya memeluk kedua lututnya erat-erat. Kepalanya dipenuhi ribuan tanda tanya, namun mulutnya terkunci rapat tanpa alasan.

Gadis itu terkekeh merdu. Wajahnya dimiringkan sampai berhasil menatap mata hitam milik Minhyuk. “Apa yang kau pikirkan?”

“Aku tidak mengerti. Bukankah menjadi Balerina merupakan impianmu?”

“Benar” gadis itu menggangguk cepat, membuat kerutan di dahi Minhyuk bertambah. “Menjadi Balerina merupakan impianku. Namun aku lebih memilih mewujudkan mimpi kedua orang tuaku”

Minhyuk menatap gadis itu lekat-lekat dan menemukan sebuah tekat bulat di balik mata hazelnya. Dan entah kenapa, gadis itu menjadi berkali-kali lebih cantik dari biasa.

Gadis itu menoleh padanya. Dengan senyuman secerah sinar matahari pagi, ia berkata “Minhyuk-ah, hidup itu sebuah pilihan. Dan aku lebih memilih mewujudkan mimpi mendiang kedua orang tuaku sekarang”

.

.

Juni 2014

Minhyuk menatapnya tanpa ekspresi. Tidak ada belas kasihan dari sorot mata hitam miliknya.

“Kenapa kau melakukannya?”. Ia bertanya dengan suara parau. Dadanya kembang kempis menahan rasa sesak yang menumpuk.

“KENAPA KAU MERENGGUT IMPIANNYA???”. Ia berteriak. Memukul cermin itu hingga hancur berserakan. Bahu lebarnya berguncang kuat. Air mata jatuh bergiliran, menyapu kulit pipinya yang polos dan nampak pucat.

Tubuhnya merosot jatuh terduduk di lantai dingin. Suara isakan yang menyayat keluar dari balik bibirnya.

.

.

Februari 2014

“Minhyuk-ah!”. Gadis itu berlari menghampirinya. Menggenggam sebuah tabung berwarna hitam erat-erat dengan kedua tangannya.

Minhyuk berhenti berjalan, menunggu. Senyumnya mengembang begitu gadis itu berhasil berdiri tepat di hadapannya.

“Selamat! Kau akhirnya lulus” ucapnya senang.

“Kau juga. Selamat telah lulus” ucap Minhyuk tulus.

“Aku akan meneruskan study Kedokteran di Universitas Seoul. Aku sudah diterima di sana”. Gadis itu memberitahu bangga. Kedua pipinya merona merah.

Minhyuk mengangguk mengerti. Seharusnya ia merasa sedih pada upacara perpisahan ini. Namun untuk suatu alasan, ia tidak dapat merasakannya.

“Kau sendiri akan meneruskan study dimana? Di Fakultas seni bukan?” gadis itu bertanya dengan kedua alis menyatu. Minhyuk hanya menjawab dengan sebuah kekehan ringan.

“Entahlah” jawabnya sambil mengangkat kedua bahu. “Yang pasti aku telah membuat sebuah pilihan dalam hidupku”.

Gadis itu menatapnya tak mengerti. Kedua pipinya mengembung, membentuk gumpalan menggemaskan.

“Besok aku akan menjemputmu di rumah. Ada yang ingin aku berikan padamu”

.

.

Juni 2014

“Minhyuk, Kumohon berhentilah!” pinta Minyeol dari luar. Tak bisa apa-apa selain menangis di balik pintu.

“Minhyuk, semua itu bukan salahmu. Kumohon keluarlah” Minyeol kini menggedor pintu kayu itu kuat-kuat. Takut jikalau adik satu-satunya itu melakukan hal gila yang dapat membahayakan dirinya.

PERGI!!!”. Teriakan Minhyuk dari dalam kamar membuat tubuhnya menegang. Dengan tangan gemetar, ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Halo Dokter Park, kumohon datanglah ke sini”

.

.

April 2014

“Gangguan Stress Pasca Trauma”

Sebuah kalimat itu berhasil membuat bahu Minyeol jatuh lemah. Ia menelan ludah dalam diam. Bibirnya terasa kelu tak dapat digerakkan.

“Cukup akut. Mengingat ini telah sampai pada fase tertinggi” lanjut sang dokter. “Kecelakaan itu terjadi secara tiba-tiba di depan matanya dan menyebabkan orang yang disayanginya meninggal dunia. Itu merupakan trauma luar biasa bagi dirinya. Ia menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab terjadinya kecelakaan itu”

“Tapi kenapa___” ucapannya putus sampai di situ. Minyeol tidak dapat lagi menahan diri. Tangisnya pecah seiring jatuhnya air mata di kedua pipinya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mencoba menahan isakannya yang makin menguat.

Dokter Park melepas kaca mata bulatnya. Ia berdeham kaku sebelum memberikan kotak tissue kepada Minyeol.

“A-Apa bisa disembuhkan?” Minyeol bertanya sesenggukkan. Matanya bengkak dan memerah.

Dokter Park menghela napas panjang. Mata tuanya menatap Minyeol iba.

“Kemungkinan bisa. Tergantung bagaimana ia dapat menerima dirinya sendiri. Menerima kejadian itu sebagai salah satu kenyataan hidupnya”

.

.

Februari 2014

“Apa yang ingin kau berikan padaku?”. Gadis itu mengamati Minhyuk yang masih sibuk menyetir.

Minhyuk meliriknya sekilas, sebuah senyum mempesona terukir pada wajah tampannya. “Bisakah kau menebaknya?”

Gadis itu memutar bola matanya, jengah. Minhyuk selalu menjadi sosok yang tidak bisa ia mengerti. Berbelit-belit dan sulit ditebak. Untuk beberapa saat, ia menganggap wajah ramah Minhyuk menjadi satu dari puluhan hal menyebalkan di muka bumi.

“Tidak. Aku tidak bisa” rajuknya.

“Baiklah aku akan memberitahumu” ucapnya sambil terkekeh ringan. “Pertama, aku akan melanjutkan study di Fakultas Kedokteran Universitas Seoul”

Gadis itu menoleh dengan mata membulat. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. “Bukan Fakultas seni?”

Minhyuk menggeleng.

“Kenapa?”

“Tentu karena ada kau di sana”

Untuk beberapa saat gadis itu terpaku karena perkataan Minhyuk. Alisnya menyatu dan bibir bawahnya ia gigit, tak paham.

“Lalu sketsa itu?” tanyanya kemudian. “Bukankah kau melukis karena itu impianmu?”

Minhyuk mengulum senyum penuh arti. Ia lalu mengambil gulungan sketsanya di dalam dashboard yang telah sejak lama ia persiapkan untuk hari ini.

Dan tepat saat itu, kecelakaan terjadi. Mobil Minhyuk keluar jalur dan menghantam sebuah mobil berlawanan arah dengan kecepatan tinggi.

Minhyuk terluka parah.

Sedangkan gadis itu, Hana, meninggal di tempat.

.

.

Juni 2014

Minhyuk menatap puluhan sketsa yang berserakan di lantai. Puluhan sketsa dengan sebuah objek yang sama. Yang sampai kapanpun tidak akan bisa ia tunjukkan padanya.

Ia memeluk lututnya erat. Kembali menangisi apa yang sudah terjadi, dan tidak akan pernah kembali.

Suara tetesan darah yang jatuh dari jari-jarinya mengisi hampa ruang. Untuk kesekian kalinya, rasa bersalah kembali menyelimutinya.

“Maafkan aku” Minhyuk berbisik.

Wajahnya diangkat. Air mata yang mengalir di pipi hilang diusap tangannya.

Tanpa ragu, ia meraih sebuah pecahan cermin paling dekat. Ditatapnya pantulan bayangan seseorang di dalam cermin.

Orang yang paling dibencinya.

Orang yang merenggut impian orang yang paling dicintainya.

Orang yang membunuh Hana.

Dirinya, Kang Minhyuk.

Pergelangan tangannya ia angkat. Siap untuk menggoreskan pecahan cermin ini pada pembuluh nadinya, tanpa ragu.

Namun tepat saat itu, pintu didobrak. Dokter Park dan Minyeol menerobos masuk ke dalam kamar. Pecahan cermin itupun ditendang menjauhi tubuhnya.

“Minhyuk!!!” kakaknya segera memeluknya erat. Menangis dibalik pundaknya yang kurus dan ringkih.

“Jangan salahkan dirimu. Ku mohon” ucapnya terisak.

Bersamaan dengan itu, fajar menyingsing. Membiaskan sinar ke dalam kamar melalui celah kecil pada dinding yang mulai terkelupas.

Gadis itu di sana, berdiri di hadapannya. Dengan senyum yang masih sama seperti sinar matahari pagi.

“Teruskan hidupmu, Minhyuk-ah. Jangan terus menyalahkan diri dan gapai mimpimu. Jadikan aku sebagai masa lalumu dan berbahagialah”

Dan sejalan dengan tetesan terakhir air matanya, gadis itu pergi. Menghilang dan berbaur dengan sinar matahari pagi.

.

.

‘Jika hidup itu sebuah pilihan, maka pilihanku adalah agar bisa terus bersamamu’

‘Namun kau pergi meninggalkanku’

‘Dan menyalahkan diriku adalah satu-satunya cara bagiku agar bisa bertemu dengamu’

 

‘Namun kini aku sadar’

‘Kau telah menjadi sketsa hitam yang tidak akan pernah bisa terhapus dari hidupku’

‘Menjadi masa lalu kelam yang selamanya akan menempel di balik punggungku’

 

‘Kini aku hanya akan menatap ke depan’

‘Mencari impian baru dan tujuan hidup yang baru’

‘Tanpa ada dirimu di dalam sketsa hidupku’

 

-FIN-

4 thoughts on “[FF Competition] Sketsa

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s