[FF Competition] 08.00 PM

Judul : 08.00 PM

Genre: Romance—Horror

 

 

 

 

Apa kau tahu kisah lama sekolah kita? Kau ingin mendengarnya?


Dahulu kala ada seorang gadis bernama Yejin, nama lengkapnya Hwang Yejin. Ia merupakan siswa terbaik Kyunghae. Ia mempunyai prestasi segudang, kau ingat ‘kan piala yang terpajang di lemari kepala sekolah? Seperempat piala di sana disumbangkan oleh gadis berambut panjang itu.

 

 

Demi Tuhan! Di antara ribuan cerita yang mampu ditangkap pendengaran Nayeon kenapa harus kisah klasik Yejin yang menemaninya dalam kesunyian malam. Alisnya bertemu tatkala tanpa sengaja manik almond-nya bertemu pandang dengan  jam besar yang terdapat di aula. Pukul 9 malam. Sedikit menyesal ia meninggalkan map tugas biologinya tanpa sengaja. Merasa takut, ia menggeser tubuhnya memosisikan diri jauh lebih dekat dengan Minhyuk —kekasihnya sekaligus ketua kelompok biologinya.

 

“Pegang senternya dengan  benar.” Minhyuk  menggerutu namun memilih diam dan memosisikan senternya hanya menjurus kedepan—yang tadinya ia kelokan kesana kemari takut-takut ada petugas yang memergoki ulah mereka berdua.

 

 

Ia mempunyai mata bulat dan iris sehitam arang, hidungnya mancung dan mempunyai tulang pipi yang tirus. Ia menjelma menjadi cassanova sekolah saat pertama kali menginjakkan kaki di Kyunghae. Semua orang menyukainya karena sifatnya yang selalu baik pada semua orang. Namun siapa sangka nasib malang menimpanya.

 

 

Oh sial! Kenapa lagi-lagi cerita itu bersarang lagi di otaknya. Ia kini sedang menyusuri koridor kelas 2 di mana tahun lalu terdapat salah satu kelas yang digunakan tiga orang siswa untuk melakukan bunuh diri bersama dengan  alasan klasik dan sedikit konyol bagi Nayeon—mereka jatuh cinta pada orang yang sama dan bersumpah akan membunuh lelaki yang sudah membagi cintanya di saat lelaki itu kembali bertandang ke sekolah pada malam hari. Dan tak lucu jika ia bertemu dengan ketiga siswi itu.

 

Oppa,” rengek Nayeon.

 

Minhyuk menempelkan jari telunjuk pada bibirnya memberi isyarat agar Nayeon diam. Sejujurnya jauh di lubuk hatinya ia benar-benar merasa takut untuk menyambangi sekolah Kyunghae yang terkenal sedikit err  angker—Tidak ia bohong.  Semua orang bilang Kyunghae adalah sekolah SMA paling menyeramkan di Seoul bahkan Korea. Damn! Seharusnya ia berpura-pura tak enak badan saat Nayeon mengajaknya ke sekolah tadi.

 

 

Suatu malam  ketika Yejin sedang berjalan menuju perpustakaan, di pertengahan jalan ia dihadang oleh beberapa teman sekelasnya. Ada dua perempuan yang ternyata menyimpan dendam padanya. Dengan  sadis Yejin diikat di kelas  dan dianiyaia secara bergantian oleh dua orang gadis itu. Gadis pertama memilih pisau untuk menyalurkan kemarahannya, ia menyayat bahkan menguliti wajah Yejin secara perlahan. Gadis kedua dan terakhir menaburkan garam di sekitar wajah Yejin, ia menyumpal mulut Yejin dengan kain sehingga tak ada seorang pun yang tahu. Keesokan harinya dua gadis itu mati gantung diri bersamaan ditemukannya mayat Yejin yang mengenaskan.

 

 

 

Nayeon tak tahu lagi bagaimana caranya mengusir bualan yang di ceritakan teman sekelasnya Jung Nami. Ia murid tercerdas di Kyunghae, tentu saja ia tak memihak kebenaran cerita itu tapi latar sekolah yang gelap gulita, sunyi, dan anehnya salah satu patung kucing yang berada di lorong kelas 3—yang sekarang sedang mereka lalui—terlihat sangat  menyeramkan. Padahal ia biasanya mengumpat akan kehadiran patung tak mutu itu.

 

 

Arwah Yejin tak tenang, ia selalu berkeliaran saat malam hari. Itulah yang membuat penjaga sekolah tak berani menyentuh koridor kelas 3.

 

 

Bodoh! Nayeon merutuk sekali lagi pada dirinya. Seharusnya ia tak kemari, seharusnya ia tak mengusik Yejin. Seharusnya—ia benci kata itu.

 

Oppa, ayo kita pulang saja.”

 

Tak mau berdebat, Minhyuk langsung menyetujuinya dengan  anggukan kepala. Ia benar-benar takut namun rasa gengsi menahannya. Berperilaku pengecut di depan kekasihnya benar-benar bukan style-nya. Keduanya berbalik, tak mau lagi berkutat dengan  sekolah terlalu lama. Tepat ketika mereka berbalik arah, jeruji besi koridor kelas 3 menutup. Deritan besi berkarat yang bergesekan dengan tembok membuat seluruh saraf mereka membeku.

 

Oppa!!”

 

Nayeon menggigit bibirnya takut, Minhyuk yang berada di sebelahnya mencengkeram kuat lengan kekasihnya.

Sekelebat bayangan terlihat oleh mereka. Mereka tak yakin makhluk apa yang baru saja lewat dan menembus tembok, hanya saja sosoknya tak terlalu tinggi—hampir sama dengan  Nayeon dengan  rambut terurai sampai punggung. Kalau tak salah ia memakai pakaian pendek.

“Berhenti.”

Keduanya hampir saja terjungkal begitu mendengar suara wanita—lebih mirip rintihan. Setelah itu lampu koridor yang tadinya mati secara cepat menyala, tak berselang lama mati kembali, lalu menyala lagi dan kembali mati.

Keringat mulai membasahi pelipis Nayeon dan Minhyuk, kedua tangan mereka saling bertautan dengan bibir terus bergetar takut.

“Minhyuk Oppa, suara itu—“

.

.

.

.

Menyala lagi

.

.

“KYAAAAAAAAA!!!!!”

.

.

 

Tepat di depan wajah Nayeon seorang wanita tanpa kulit dengan  mata melotot hampir keluar dari tempurungnya, hidungnya yang terbelah, bibirnya yang robek mencapai telinga tertawa menampakan deretan giginya yang tercampur warna merah pekat.

.

“K-kau..” Wajah Nayeon pucat pasi begitu melihat seragam yang dikenakan hantu menyeramkan itu sama dengannya, hanya saja kemeja putihnya berbaur dengan warna merah kental. Nayeon meneguk salivanya takut-takut—warna merah itu adalah darah. “….K-kau” Ia kembali memberanikan diri mengucap sepatah kata namun terhenti begitu wajah hantu itu semakin dekat dengan  wajahnya bahkan kini ia bisa mencium bau anyir bercampur garam dari wajahnya.

 

“Aku? Aku.. Hwang Yejin.”

 

“AHN   NAYEON!   TOLONG!”

 

Rahang Nayeon jatuh beberapa senti, maniknya melebar tatkala melihat kekasihnya tengah diseret dua orang gadis dengan wajah pucat, mata merah menyala, dan banyak goresan garis hitam yang memenuhi wajah keduanya. Ia tak yakin siapa kedua gadis yang sedang menyeret paksa kaki Minhyuk, yang jelas mereka sama-sama memakai seragam yang sama dengan seragam Kyunghae.

 

Oppa!”

 

Nayeon menggeleng ketakutan begitu melihat pergelangan kaki Minhyuk mulai mengeluarkan darah yang disinyalir akibat cengkeraman dari kedua gadis berambut hitam terurai itu.

 

“Tidak! Tolong Nayeon, tolong!”

 

Minhyuk terus berteriak, tangan kurusnya menggapai-gapai meminta pertolongan dari Nayeon, namun kekasihnya hanya mampu berteriak dengan air mata yang terus mengalir.

 

“Lepaskan dia, yaa!—Tidak! Minhyuk Oppa!”

 

Nayeon menggeleng takut begitu Minhyuk hampir hilang dari pandangannya.

Ia ingin beranjak tapi sial ada yang mengganjal kedua tungkai kakinya. Manik almond-nya melotot begitu melihat dua buah tangan yang terpotong sampai pergelangannya saja tengah menahan kedua kakinya dengan kuat. Dapat ia lihat tulang putih serta darah yang mengucur dari ujung tangannya.

 

“Lepaskan aku,” ujar Nayeon parau.

 

Nayeon berusaha bangkit dari duduknya, namun dapat dirasakannya kedua tangan yang berisikan sepuluh jemari dingin tengah memerangkapnya. Jemari itu panjang berwarna abu-abu dengan sayatan di mana-mana dan darah yang terus mengalir.

Maniknya tertutup mencoba menahan rasa takut yang terus menggertaknya.

Tuhan tolong! Kali ini saja bebaskan ia dari setan terkutuk itu! Buatlah semuanya menjadi mimpi.. buatlah—

 

Arrghh.” Nayeon meringis kecil saat kuku sepanjang lima senti itu mampu menembus kulit kakinya, merobeknya perlahan dan menariknya lurus ke bawah.

 

Sekuat apapun Nayeon berusaha menyingkirkan dua tangan yang kini mulai menyayat permukaan kulitnya ia tak pernah bisa. Meski ia telah mengerahkan semua tenaganya, ia  tak mampu membuat kedua tangan itu raib, justru semakin menancapkan kuku-kukunya.

Kesepuluh jemari itu merangkak ke atas setelah berhasil memutus saraf kaki Nayeon. Terus merangkak menembus benteng pertahanan yang dibuat Nayeon.

 

“Tidak kumohon!” teriaknya sambil menangis

 

Klek.

 

Sebuah suara aneh terdengar begitu menyakitkan di telinga Nayeon namun anehnya suara itu mampu membuat kedua tangan itu hilang tanpa berbekas.

 

“Aaaaaaaa!! Siapa kalian?”

 

Itu Min Hyuk. Apa yang terjadi dengan Minhyuk? Dan di mana dia sekarang?

 

“Kumohon jangan sakiti kami. Kami hanya ingin pulang!! Lepaskan kami tolong.”

 

Nayeon lagi-lagi menggigit bibir bawahnya, ia mengerjap-ngerjap—mencari sumber suara itu. Tak ada ruang kelas yang terbuka kecuali ruangan kelasnya sendiri 3-4. Ia mencoba bangkit tapi sial beribu sial! Ia tak dapat lagi merasakan keberadaan kakinya, sekali lagi Nayeon mencoba namun tak ada yang bisa dilakukannya.

 

“TIDAK!! TANGANKU!! –ARRRGH

 

Tubuh Nayoen membeku. Terpaksa ia berjalan dengan menggeser secara terus menerus pantatnya kendati setiap ia berusaha, rasa sakit menyebar hingga ke saraf otaknya. Menyebarkan rasa perih, sakit, ngilu secara bersamaan ke setiap jengkal tubuhnya.

 

“Minhyuk Oppa?!!”

 

Ia tak tahu lagi mana yang lebih sakit. Kakinya yang terluka atau melihat sosok Minhyuk—orang yang paling dicintainya tengah duduk dengan tubuh terikat dan darah terus menetes dari ke sepuluh jemari Minhyuk yang sudah terpotong.

Manik almond-nya menjelajah mencari seseorang yang patut dipersalahkan. Dan mereka di sana berdiri membelakangi Minhyuk.

 

“Kalian? Ap-Apa yang kalian lakukan?”

 

Ketiga sosok itu berbalik, menghujami Nayeon dengan tatapan penuh hasrat membunuh. Salah satu diantara mereka yang ia tahu bernama Yejin tengah membelai lembut makhluk asing dalam dekapannya. Ia menatap Nayeon dan tersenyum sinis. Bola hitam di matanya telah lenyap dan kini hanya menyisakan bagian putih yang sudah tertutup warna merah.

 

“Tolong lepaskan kami,” ucap Nayeon memohon.

 

“Apa kau masih ingat ceritanya?”

 

.

.

 

Konon, karena Yejin terbunuh secara misterius. Rohnya bergentayangan di koridor kelas 3. Dan apa kau tahu? Ruangan yang sedang kita duduki ini adalah ruangan terbunuhnya Hwang Yejin…

Menurut mitos yang beredar, jika ada siswa yang berkeliaran di sekolah khususnya koridor kelas tiga saat lewat pukul delapan malam maka—EohSeonsanegnim!

 

 

Idiot! Ucapannya terputus saat Kim Seonsaengnim memasuki kelas. ‘Jika ada siswa yang berkeliaran di sekolah khususnya koridor kelas tiga saat lewat pukul delapan malammaka.’ Maka apa? Apa yang akan terjadi dengan  siswa itu?!!

 

“ Tak bisa mengingatnya?”

 

“Myunghyo.”

 

Salah satu gadis berambut paling panjang mendekati tubuh Minhyuk. Ia tertawa sinis sebelum menghujani dada Minhyuk dengan gunting.

 

Aaaarggh, sakit! Sialan—Arrrghh,” rengek Minhyuk.

 

“Tidak! Stop! Jangan lakukan lagi, kumohon.” Nayeon berteriak histeris, begitu darah segar mulai membanjiri ruang kelas. Wajah Minhyuk sudah pucat pasi ketika ia menilik kembali kedua kelopak matanya yang sayu.

 

“Cha Hansoo.”

 

Gadis bertubuh paling tambun mendekati Minhyuk. Ia meletakan tangannya pada kepala Minhyuk, dan …

 

Krek

 

Ia berhasil memutar kepala Minhyuk.

 

Tubuh mungil Nayeon lemas seketika, tenaga yang terisa dalam tubuhnya menguap bersamaan dengan hilangnya denyut nadi Minhyuk.

 

“Ternyata orang yang membunuhku dapat menjadi temanku.”

 

Manik Yejin bergerak angkuh kearah kedua temannya yang kini sedang tertawa sinis.

 

“Namamu Ahn Nayeon, bukan?”

 

“Michan. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

 

“Aaaaaaaaaaa!!!”

 

Seekor kucing berhasil lolos dari genggaman Yejin. Ia tertawa riuh ketika kucing itu mulai menancapkan taring-taringnya, seolah sedang menonton pertunjukan komedi. Jemari kurusnya saling bersentuhan menimbulkan suara khas tepuk tangan.

 

“Hey .. Michan bagaimana rasanya menggigit kaki orang yang membencimu? Kau patung kucing yang bersemangat, ya?”

 

Nayeon terus mengerang begitu merasakan gigi taring kucing sialan itu menancap di kedua kakinya. Ia mengeong sebelum menerjang wajahnya—mencakarinya dengan sadis.

Yejin menggerutu, kesal karena sang kucing bertindak terlalu agresif padahal saat mengabisi Tae In ia berlaku sangat  hati-hati. Kesal tak didengarkan, Yejin menyingkirkan Michan—begitulah nama patung kucing yang berada di koridor kelas 3 di sekolah Kyunghae. Sudut bibirnya terangkat lebih panjang ke kiri menampakan seringaian buas begitu melihat wajah cantik Nayeon dipenuhi goresan-goresan garis lurus dan darah yang menggenangi wajahnya.

 

“Untunglah kau belum mati.”

 

Yejin menusukkan kelima kukunya pada leher Nayeon.

.

.

.

Slubb

.

.

.

.

 

.

 

Sekolah Kyunghae kembali digemparkan dengan ditemukannya dua orang mayat di ruang kelas 3-4—ruangan yang sama tempat ditemukannya korban sebelumnya Im Tae In. Diketahui identitas korban bernama Kang Minhyuk (18) dan Ahn Nayeon (18).

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

 

 

Menurut mitos yang beredar, jika ada siswa yang berkeliaran di sekolah khususnya koridor kelas tiga saat lewat pukul delapan malam maka— ia akan  ditemukan tewas mengenaskan keesokan harinya di ruang kelas 3-4. Tempat ditemukannya mayat Yejin.

 

 

 

 

***

 

 

“Min Jung.. . Aku takut. Ayo pulang saja.”

 

“Tidak bisa. Ponselku tertinggal di kelas.”

 

“Besok ‘kan masih bisa. Lagipula apa kau tak tahu mitos yang beredar di Kyunghae? Ayo pulang… Ini sudah pukul delapan dan kita sedang berada di koridor kelas tiga.”

 

Klek

 

“Kau mendengar sesuatu Min Jung?”

 

.

END

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “[FF Competition] 08.00 PM

  1. beruntung bgt aku ini baca ini ff jam 11 malm hadeuh da*n!!! ngeuriiii!!! minhyuk mati mengenaskan agak gk tega ahhhh smua salah nayeon!! itu penggambaran tokoh setan yejin serem parah sumpah

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s