[FF Competition] Annyeong

Judul           : Annyeong

Genre          : Romance-Family

 

‘Pembunuh’, kata-kata itu masih memenuhi kepalaku. Selalu saja seperti itu. Apapun yang aku lakukan, baik ataupun buruk, appa akan mengatakan hal yang sama.

Dulu, aku akan memaklumi sikap appa yang dingin kepadaku. Sibuk atau lelah karena bekerja, mungkin itu alasannya.

Kini umurku sudah 17 tahun, dan appa masih melakukan hal yang sama terhadapku. Sekalinya ia berbicara, hanya kata-kata buruk dan cacian yang kuterima. Aku benar-benar tak mengerti. Bagaimana mungkin seorang appa bersikap seperti ini kepada anak kandungnya sendiri. Sakit? Mungkin itulah yang kurasakan saat ini.

Aku dilarang untuk meninggalkan rumah selain bersekolah ataupun mengikuti pelajaran tambahan. Padahal appa tidak pernah mengajakku untuk berbincang-bincang ataupun melakukan hal yang dilakukan antara ayah dan anak. Sepi? Ya, aku benar-benar merasa kesepian. Appa bilang aku harus tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang kesepian.

Jangan tanyakan dimana eommaku saat ini. Karena pada nyatanya eomma-lah yang menjadi alasan utama sikap appa kepadaku selama ini.

Pernah sekali aku memukul temanku, sahabatku tepatnya, yang mengatakan bahwa sikap appa selama ini padaku menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang psikopat. Tentu saja siang itu juga pihak sekolah memanggil appa untuk mempertanggung jawabkan ulahku. Hasilnya bisa ditebak, semalaman ia mencaci-makiku dengan kata-kata yang menyakitkan, seperti biasa.

Aku tidak tahu lagi, cara apa yang bisa membuatnya menyayangiku. Aku benar-benar frustasi.

Nenek bilang appa sangat menyayangiku dan menginginkanku ketika aku masih berada didalam kandungan. Tapi, keadaan berubah begitu eomma meninggal karena pendarahan yang luar biasa ketika melahirkanku kedunia ini. Sikapnya berubah 180°. Kesedihan yang mendalam tak dapat dihindari ketika harus menghadapi takdir bahwa wanita yang dicintainya harus pergi. Bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya.

Seringkali aku merasakan sakit dan kecewa akan sikap appa kepadaku. Sikapnya yang hanya dingin terhadapku. Bahkan, kepada saingan kerjanya sekalipun, appa masih memberikan senyumannya. Senyuman yang tidak akan pernah diberikannya padaku.

Tak jarang aku mengutuk Tuhan yang telah membiarkan hidupku seperti ini. Mencacinya atas wujud kekecewaanku. Tapi, begitu melihat wajah eomma yang terbingkai rapi dikamarku, saat itu pula aku merasakan kasih sayangnya yang dengan tulus menjagaku dan mengorbankan nyawanya hanya untuk membiarkanku merasakan keindahan dunia. Yang pada nyatanya, belum pernah kurasakan saat ini.

Beberapa hari yang lalu, nenek masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia. Lagi-lagi appa menyalahkanku dan menganggapku sebagai pembunuh atas kematian nenek. Menyedihkan, bukan?

Hidupku benar-benar gila. Ingin rasanya segera mengakhiri hidupku yang terasa benar-benar kosong ini. Nafsu makanku berkurang, yang mengakibatkan tubuhku menjadi kurus dan terpaksa dirawat dirumah sakit.

Satu minggu sudah aku dirawat dirumah sakit ini, dan selama itu pula appa tidak pernah menjengukku. Park Gyuri, hanya gadis itu. Seorang perawat yang selalu mengunjungi kamarku. Apalagi kalau bukan untuk mengecek kondisiku, mengganti selang infus dan terkadang menghiburku dengan candanya yang lebih dari cukup untuk mengisi kekosongan.

“aku menyukaimu.” Kata-kata itu dengan mudahnya keluar dari mulutku. Aku sendiri cukup terkejut dengan apa yang aku katakan. Pada awalnya ia hanya diam, tapi lambat laun kulihat sebuah senyuman yang tak dapat kuartikan terukir manis diwajahnya.

“Apa kau juga menyukaiku?” kuperjelas kembali ucapanku yang sebelumnya. Masih dengan senyuman, ia menggelengkan kepalanya. Sakit kembali menerpaku, kecewa lebih tepatnya. Umurku terlalu muda, itu alasan yang diberikannya. Alasan yang tak bisa kuterima begitu saja. Umur kami hanya berbeda 2 tahun, omong kosong bila aku terlalu muda untuknya.

Semenjak hari itu, ia tidak pernah menghindariku. Membuatku menyimpulkan bahwa ia memiliki perasaan yang sama padaku. Sampai pada hari perpisahan, hari dimana kuketahui bahwa selama ini ia mengidap penyakit kelainan jantung dan memaksanya untuk pergi jauh meninggalkanku. Hari dimana ia mengatakan dengan jelas bahwa ia menyukaiku,  dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat dipelukanku. Membuatku merasakan perasaan sedih dan bahagia dalam satu waktu.

***

Satu hari setelah hari pemakamannya, aku memutuskan untuk kembali kerumah. Lagipula, selama ini yang membuatku betah untuk berlama-lama dirawat dirumah sakit hanyalah kehadiran Park Gyuri. Tanpa gadis itu, hidupku dirumah sakit tak ada bedanya dengan dirumah.

Dokter memberikanku beberapa obat-obatan yang harus dikonsumsi mengingat kondisi tubuhku yang belum membaik dengan sempurna. Aku hanya menurutinya tanpa bertanya. Hal-hal mengenai Park Gyuri masih memenuhi kepalaku.

“Kau kembali? Kupikir kau tidak akan kembali kalau gadis itu tidak mati.” Sinis appa melihat kedatanganku yang cukup tiba-tiba. Aku tidak berkata apapun, hanya menundukkan kepalaku sebagai tanda hormat dan melangkahkan kakiku begitu saja menuju ke kamarku di lantai dua.

“Tidak ada salahnya gadis itu mati. Dengan begitu kau akan kembali sekolah dan uang sekolahmu tidak akan terbuang sia-sia.” Sambungnya.

Hatiku benar-benar sakit mendengar ucapan appa barusan. Apa tujuan sebenarnya appa mengatakan hal seperti itu padaku. Tanpa berkomentar panjang, kupercepat langkahku menuju kamar. Samar-samar masih kudengar suara appa yang tidak begitu keras tapi cukup jelas.

“Setidaknya kau harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan gadis yang dicintai.”

***

Ku ambil beberapa pil obat yang diberikan dokter dirumah sakit tadi. Meminumnya asal tanpa melihat dosis yang tertulis jelas diresep. Kepalaku benar-benar pusing. Hatiku hancur berkeping-keping. Sampai kapan appa akan bersikap seperti ini padaku?

Apa yang harus kulakukan untuk merubah sikapnya? Segala cara telah kucoba. Mulai dari meraih prestasi terbaik, bahkan sampai mencari masalah disekolah. Tapi, semuanya sia-sia. Apa appa benar-benar tidak menginginkanku?

Kepalaku benar-benar terasa sakit memikirnya. Tidak, kini kepalaku benar-benar terasa sakit. Perlahan tapi pasti kurasakan tubuhku menjadi kaku dan sulit digerakkan, pandanganku pun menjadi buram. Samar-samar kudengar seseorang memanggilku.

“Jungshin, Lee Jungshin.” Panggil suara itu.

Dengan susah payah kubuka mataku.

Eomma!” panggilku, memastikan bahwa wanita dihadapanku saat ini benar-benar ibuku.

“Ne. Ini eomma, Lee Jungshin.” Wanita itu mengulurkan tangannya kearahku.

Tiba-tiba tubuhku terasa berat lalu ringan seketika.

Ya Tuhan, apa ini? Aku merasa tubuhku melayang begitu saja. Tidak, sepertinya ini bukan tubuhku, melainkan rohku.

“Maafkan, eomma. Eomma pikir kau akan bahagia didunia.” Kini eomma memelukku. Tangisku pecah begitu saja. Apa ini benar-benar eomma? Apa ini juga berarti aku sudah mati?

Kuikuti langkah eomma yang bersiap-siap untuk pergi, dari belakang. Satu langkah lagi, aku akan menaiki sebuah cahaya yang cukup terang, cahaya yang akan membawaku kedunia yang berbeda dari dunia yang sekarang, sebelum sebuah teriakan menghentikanku dan memaksaku melihat kebelakangku.

“Jungshin-ah! Bangun, bangun, nak!” Apa yang kulihat barusan membuatku sedikit tak percaya. Tubuhku tergeletak lemas dilantai kamarku, tepatnya dipangkuan appa.

Mianhae, kumohon jangan pergi! Jungshin-ah!” Appa terlihat histeris. Apa sebegitu berartinya diriku setelah mati? Apa selama ini yang seharusnya kulakukan untuk membuatnya menyukaiku hanyalah dengan menghilangkan nyawaku?

mianhae Jungshin-ah, jeongmal mianhae. Selama ini, appa sangat menyayangmu. Tapi disisi lain appa juga membencimu bila mengingat kelahiranmu membuat eommamu meninggal. Kumohon Jungshin-ah jangan tinggalkan appa. Appa janji akan berusaha menyayangimu. Kumohon, bangunlah nak. Bangun, kau tidak boleh mati.” Appa memeluk tubuhku yang sudah lemas tak berdaya itu. Aku benar-benar tersentuh melihatnya. Jadi, selama ini appa juga menyayangiku. Lagi, untuk kesekian kalinya aku merasakan perasaan sedih dan bahagia sekaligus.

“Jungshin-ah, kau masih bisa kembali ketubuhmu sekarang, jika kau menginginkannya.” Kata-kata eomma barusan membuyarkan lamunanku.

Untuk beberapa saat aku hanya terdiam, hingga..

“Aku yakin, appa akan lebih bahagia tanpa kehadiranku. Annyeong, appa.” Kini kulanjutkan kembali langkah kakiku yang sempat tertunda.

Annyeong, appa.” Ucapku sekali lagi sebelum aku benar-benar pergi.

“Anyyeong, appa.”

***

 

“Berita cukup mengejutkan berasal dari keluarga Lee Jaejoon, pengacara nomor satu di Seoul. Setelah ditinggal mati oleh istrinya ketika melahirkan, lalu oleh ibunya beberapa bulan yang lalu, kini harus menghadapi cobaan kembali. Anaknya, Lee Jungshin tewas karena mengkonsumsi obatnya yang didapat dari rumah sakit secara berlebihan. “

.

.

.

The End

 

15 thoughts on “[FF Competition] Annyeong

  1. coment apa yah?bingung…………………..hmmmmmmmmmmmmmmm…………ceritanya bagus,tapi bagi aku #bagiakuyah alurnya kecepetan,sad ending?happy ending?aku bingung….hmmm sad ending deh kayaknya #wkwkwk_akugila -_- ceritanya bagus (y) [[baekhunexo]] [[kangminhyukcnblue]] kasihan bapanya alone forever…….anaknya kenapa gk muter balik langsung ke badannya lagi -_- heme anak durhaka #akuditerorsama_eommaandappanyaleejungshin bagus kok..siapa sih yang bikin tuh ff bagus yah!!!!!!judulnya tadi apaan sih aku gak baca judulnya tadi.. #wkwkmianheudahkebiasaangakbacajudulnyaterlebihdahulu

  2. laaaaah kenapa appanya baru sadar habis shinie bunuh diri, waktu dia masuk rumah sakit? – tapi thor, kok nama jungshin baru muncul hampir diahir, makanya aku kira diambil dari sudut pandang perempuan

    • makasih udah sempet baca dan komen. Appa’a baru kebuka mata hatinya, kan ada yang bilang “sesuatu akan terasa berharga bagi kita, ketika kita kehilangan sesuatu itu”. Sengaja, biar readernya penasaran siapa member CNBlue yang dipake, hehe. Tapi, menurut aku diFF’a udah aku kasih petunjuk deh kalo diambil dari sudut pandang cowo. Contoh: pas dia nyatain perasaannya ke Gyuri, hehe

    • Makasih komen’a. sebenernya appanya itu juga syang sama Jungshin, cuma setiap liat Jungshin selalu kebayang istri’a

    • aduh, makasih udah baca + komen + pujian’a. Hehehe, berharap gak ada appa yg kaya gitu didunia ini. makasih, makasih.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s