[FF Competition] One Way

Judul    : One Way

Genre  : romance-family

*italic = flashback

Happy reading =)

 

 

Yonghwa dan Yona merupakan anak kembar dari keluarga Jung. Sang Kakak, Jung Yonghwalahir 25 tahun lalu, yang kelahirannya hanya terpaut beberapa menit dari sang adik. Selama ini kehidupan mereka begitu harmonis. Sangat malah. Keduanya selalu menentukan hal yang sama. Jika sang kakak memilih A, hal yang sama pun terjadi pada sang adik. Sang adik memilih kanan, yang lebih tua pun mengikutinya. Tak pernah satu diantara mereka memilih hitam sedangkan yang satunya putih. Sampai kapanpun mereka akan memilih jalan yang sama.

***

“Yong, mau kemana?” Seorang gadis kecil terlihat mengikuti langkah dari anak lakilaki di depannya.

“ Yona jangan ikut. Aku ada kerja kelompok.” Anak laki laki itu mencoba membujuk sang adik.

Mata Yona mulai terlihat berkacakaca. Yonghwa mulai terlihat panik.

Cup cup… Yona jangan menangis. Nanti aku pinjamkan robotku. Atau aku belikan es krim, bagaimana?”

Tidak. Tidak mau robot. Tidak mau es krim. Aku ikut kalau kau pergi.”

Tapi jauh, nanti Ibu marah kalau kau ikut.”

Biar saja. Biar dimarahi bersama. Kalau tidak mau dimarahi, ya tidak usah pergi!

Hhh… Baiklah aku tidak jadi pergi. Ayo, masuk kedalam!

***

“Yon, selamat ulang tahun!” Riang Yonghwa memeluk adiknya.

Selamat 16 tahun juga, Yong!” Sang adik melepaskan pelukannya. “Aku punya sesuatu untukmu.”

Aku juga.”

Keduanya berlari ke kamar masingmasing. Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.

Hihi, warnanya sama.” Ucap Yona begitu mereka menunjukkan apa yang mereka bawa. Untukmu.” Lanjutnya menyodorkan kado di tangannya ke arah sang kakak.

“ untukmu juga.”

“ ayo buka bersama.”

Mereka sibuk membuka kado di tangannya masing masing.

Setelah terbuka..

“ Hahahahaha..” tawa keduanya menggema diruangan tersebut

Kau meniruku.” Ucap sang kakak

Kau yang meniruku.”

Kau beli dimana?”

Paman di depan sekolah.”

Sama. Hahaha.. Aku pakai ya?” Yang lebih tua memakai kaos yang merupakan kado dari sang adik. Bertuliskan ‘love my sister’

Aku juga.” Kini giliran yang lebih muda memakai kaos pemberian sang kakak bertuliskan ‘love my brother’

***

Saat ini, Yona dan Yonghwa sedang berdiam diri dikamar yang lebih tua. Memang sudah jadwalnya. Mereka selalu berbagi kamar bersama. 3 hari di kamar sang adik, 3 hari di kamar sang kakak. Hal ini bermulai semenjak mereka memasuki tahun ajaran pertama skolah dasar.

Mereka merebahkan tubuh masing masing di tempat tidur setelahnya menyelesaikan tugas tugas kuliah. Sudah kurang lebih setengah jam mereka larut dalam pemikirannya sendiri. Keduanya menatap langit langit kamar.

“Yong..” Yang lebih muda memulai percakapan

“Hmm..”

“Beri aku pendapat.”

“Tentang?”

“Kau tau Jimin?”

“Si anak dance pendek dan menyebalkan?”

“Bukan, bukan yang itu. Yang satunya, si junior club basket.”

“Ya..”

“Tadi pagi, dia menyatakan perasaannya kepadaku.”

“…”

“Aku harus jawab apa?”

“…”

“Yong?”

“…”

“Kau mendengarku?” Yona merubah posisinya menghadap sang kakak.

“uum.. maaf.”

“Jadi?”

“Terserah. Ikuti yang kiranya terbaik untukmu.”

“Kau yakin?”

“Ya.”

“Baiklah, akan ku coba.” Yona bangkit berusaha menyelimuti tubuh mereka berdua. Tangan Yona memeluk tubuh sang kakak yang masih setia pada posisinya menatap langit langit kamar.

Sang adik mulai memasuki alam mimpi. Yang lebih tua menatap tangan yang berada di dadanya. Mengelusnya pelan. Tangan kanannya berusaha mematikan lampu di nakas sebelahnya tanpa berniat merubah posisi sang adik. Lalu ikut menyusul ke alam mimpi setelah sebelumnya memberi kecupan singkat di kening sang adik dan balas memeluk tubuhnya.

***

“Yong, katakan pada ibu aku akan pulang larut hari ini.” Yona terlihat terburu buru membenahi penampilannya.

“Kemana? Perlu aku antar?”

“Tidak perlu. Jimin mengajakku pergi. Uum, kencan mungkin.” Jawabnya malu malu

“J-jadi?”

“Kan sudah kubilang akan ku coba.”

Cup

“Annyeong. Aku pergi dulu. Jangan lupa minum obat” Pamitnya berlari pergi setelah mencium pipi sang kakak.

“…. selamat-

-bersenang senang..” Ucapnya lirih seraya memegang dada kirinya menghantar kepergian sang adik.

***

TIN TIIN

Mendengar suara klakson mobil, Yonghwa mencoba mengintip lewat jendela kamar. Mendapati sang adik bersama seorang pria.

Lalu ia menutup gorden jendela secara tiba tiba.

‘ Kenapa sakit sekali Tuhan..’ Batinnya menyandarkan diri di tembok meraya meremas pelan dada kirinya.

Setelahnya, Yonghwa buru buru menyibukkan diri dengan bermain handphone dan memasang headset ditelinganya. Duduk di kursi depan komputer membelakangi pintu.

CKLEK

“Hah.. melelahkan sekali.” Yona merebahkan tubuhnya di kasur sang kakak

“Yong, kau sedang apa?” Tanyanya tanpa merubah posisi

“…”

“Yong?”

“o-oh, maaf aku tak dengar.” Melepas headsetnya dan berjalan mendekati sang adik. “ Kau sudah pulang?”

“Yeah. Kau tau, tadi sangat menyenangkan. Aku dan jimin me-“

“Yon, dengarkan aku.” Sela Yonghwa cepat.

“eoh? Um.. oke.”

***

“Kau terlihat kacau. Ada apa? Kau tidak suka aku bersama Jimin?” Tanya Yona begitu sang kakak keluar dari kamar mandi. Yonghwa duduk disamping sang adik yang berada di tempat tidurnya. Menyampirkan handuk basahnya di bahu.

“Bukan begitu..” Jawabnya lemas

“Kalau tidak suka bilang saja.”

“Aku.. tidak mau egois.”

“Biar saja. Bukankah selama ini aku selalu mengutamakanmu. Kita keluarga. Pilihanmu yang terbaik.”

“… “

“Katakan saja.”

“A-aku, tidak yakin.” Yang lebih tua menundukkan kepalanya. Sang adik menatapnya prihatin.

“a-aku.. aku ingin egois. Tapi aku yakin itu akan menyakitimu.” Lanjutnya

“Tak apa. Katakan saja.”

“Hhh.. sejujurnya aku tak suka kau bersama pria itu. Aku ingin egois. Aku hanya ingin kau denganku bukan dia. Karena..

…k-karena aku menyukaimu. Tidak. Mencintaimu.”

“…“ tak ada jawaban dari yang lebih muda. Keduanya larut dalam keheningan.

Yang lebih muda memberanikan diri menatap sang kakak.

“Yong..” ia menepuk pelan pundak sang kakak. “Aku tidak tau harus berkata apa lagi.” Lirihnya

Yang lebih tua menatap sang adik penuh tanya.

“Aku lupa dialognya”

Eh?

“Kau berniat membantu tidak sih?” Geram sang kakak

“Ya maaf, namanya juga lupa.” Sang adik tersenyum meringis

~flashback~

“Yon, dengarkan aku.”

“eoh? Um.. oke.”

“lupakan dulu jimin jiminmu itu. Sekarang bantu aku. Akhir pekan nanti aku harus mengikuti pentas drama. Bantu aku berlatih akting sekali ini saja. Berhubung temanya cocok, karenanya aku meminta bantuanmu.”

“memang apa temanya?”

“incest.”

“APA? Kau gila??!!”

“Bukan aku. Mereka yang punya ide yang gila.”

“tidak. Aku tidak mau.”

“Ayolah, hanya sekali seumur hidup.”

“…“

“ya?”

“oke..”

“yess..”

“tapi-“

“apa?”

“setengah uang jajanmu untukku.”

“cih, kebiasaan.”

“mau bantuan tidak?” yona tersenyum menggoda

“ya, ya.. terserah.” Yonghwa memutar bola matanya malas. Dihadiahi cekikikan tawa dari sang adik.

“oke kita mulai.” Yona bersiap berdiri dari tempat tidur.

“tunggu. Aku mandi dulu..”

~end of flashback~

“ aku lelah. Sampai sini dulu ya. Oh ya, hari ini aku tidur dikamarku ya Yong.” Yona bangkit merapikan bajunya yang sedikit kusut. “ Bye..” ia mulai membalikkan tubuhnya.

Grepp

CUP

Yang lebih muda melebarkan matanya saat langkahnya ditahan sehingga ia duduk di pangkuan sang kakak. dan secara tiba tiba diberi kecupan dari yang lebih tua. Dari bibir ke bibir. Hanya menempelkan sebenarnya, namun mampu menimbulkan gejolak aneh dari keduanya.

Yang lebih muda mencoba melepaskan tautan keduanya dengan perlahan. Masih dalam posisi yang terlihat intim, keduanya menatap satu sama lain mencoba mencari kejujuran. Yona mencoba memulai percakapan dengan mata yang tidak lepas dari perangkap tatapan sang kakak.

“Kenapa?” tanyanya lirih

“Maafkan aku..” yang lebih tua mengelus pelan pipi sang adik di hadapannya.

“Tak apa.” Yona menarik turun tangan sang kakak yang berada di pipinya. “ aku tau kau belum puas dengan latihan hari ini. Tapi aku lelah. Besok aku janji akan menemanimu lagi.” Yona mencoba bangkit dari pangkuan sang kakak namun pergerakannya kembali ditahan sehingga ia kembali duduk di pangkuan sang kakak.

“Tidak, tidak. Bukan itu. Maafkan aku..”

Yona menundukkan wajahnya menghindari tatapan sang kakak. Air matanya perlahan turun. Entahlah, ia merasa lelah hari ini. Berjuta pertanyaan ada dibenakknya, ia merasa sangat lelah. Ia merasa sedang di permainkan.

Yonghwa yang melihat sang adik menangis sedikit tersentak lalu perlahan mengangkat dagu sang adik. Menghapus bulir bulir air mata di pipinya.

“Maafkan aku..”

“Kenapa kau selalu meminta maaf? Apa salahmu. Lebih baik kau jelaskan semuanya.”

“Maafkan aku sering membohongimu.”

“Apa?”

“Drama itu.”

“Maksu-“

“Maafkan aku atas kesalahan terbesar yang telah ku perbuat.” Yona menatap sang kakak dengan tatapan bertanya tanya. Yonghwa menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu menggenggam erat tangan sang adik.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya lirih. Sang adik berada didalam keterkejutannya sebentar lalu mengulas senyum membuat sang kakak turut memberikan seulas senyum tipis.

“Aku juga..

..kakak.” balasnya membuat lunturnya senyum cerah di bibir sang kakak.

“Tidak seperti itu.” Sang kakak menatap yang lebih muda dengan penuh harapan. “ i love you.. as a girl. Not a sister.”

“Hiks..” segera yonghwa merengkuh sang adik dalam pelukannya.

“Hiks, kau membuatku bingung.” Ucapnya samar karena teredam tangis.

“Maafkan aku yang bodoh ini. Tapi sungguh aku tidak bisa menghapus perasaanku ini. Semakin ingin aku menghapusnya, semakin kuat perasaanku tumbuh.” Yonghwa mengelus pelan punggung sang adik yang berada di dekapannya.

“Semua ini salah kau tau?” jawab Yona.

“Ya aku tau. Kau boleh memarahiku setelah ini. Tapi tolong jangan menghindariku.”

“Kenapa takdir menuliskan ini untuk kita? Kenapa kita hidup dari kehidupan yang sama? Kenapa jalan yang kita pilih selalu sama? Kenapa segala hal yang bersangkutan denganku dan kau selalu sama? Bahkan…

…perasaan pun?”

Yonghwa berhenti sejenak dari acara mengelus punggung sang adik. Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, ia tersenyum tipis.

“Jimin?”

Sang adik menjawab dengan mengangkat bahunya pelan.

“Jadi.. maukah kau mencobanya bersamaku? Kita meniti jalan yang sama?” yonghwa memeluk erat sang adik dan berbisik di telinganya. Yang lebih tua tersenyum tipis dan menghela nafassaat mendapatkan pergerakan kecil di pelukannya lalu mengecup puncak kepala sang adik.

***

“Kalian tumben diam. Ada masalah?” tanya ibu yang sedang menyuapkan sesendok nasi.

Yona dan Yonghwa menatap satu sama lain dan melempar senyum.

“Tidak bu. Kita kan harus akur, sebagai saudara.” Yonghwa menjawab dengan yakin

“Nah, begitu kan bagus. Ibu juga jadi senang mendengarnya.”

Di bawah meja makan, tangan Yonghwa mencoba meraih tangan sang adik yang duduk di sebelahnya dan menggenggamnya erat. Yona menoleh, mendapati sang kakak sedang tersenyum simpul di acara makannya. Yang lebih muda ikut tersenyum dan balas menggenggam tangan sang kakak tak kalah erat. Mereka melanjutkan acara makan di awal kehidupan mereka yang berbeda.

‘maafkan aku tuhan. Biarkan kesalahan ini terus berlanjut, biarkan aku membahagiakannya’ -Yonghwa

Epilog

“Kau yakin noona? tidak mau kuantar sampai ke dalam?”

“Tak usah Jimin. Maaf merepotkanmu ya, kau jadi pulang malam seperti ini.” Jawab Yona tak enak hati.

“Tak apa. Aku senang menemanimu.”

“Oke. Kau segeralah pulang.”

“Tidak, tidak. Kau masuk dulu baru aku pulang.”

“Haha.. yasudah. Bye..” Yona membalikkan tubuhnya berniat masuk ke rumahnya.

“Noona!” teriak Jimin ketika Yona hendak menyentuh knop pintu.

“Ya?”

“Ini milikmu?” tanyanya menggoyang goyangkan kalung berliontin di tangannya.”

“Ah, ya.” Yona segera mengambil kembali kalung itu dari tangan Jimin.

“Noona?”

“Hmm?” yona terlihat memainkan liontin kalung itu di tangannya.

“Jadi.. bagaimana jawabanmu?” tanya Jimin harap harap cemas.

Yona terdiam. Lalu membuka liontin yang berbentuk hati itu. Terlihat dua buah foto dengan ukiran nama di dalamnya.

“Maafkan aku Jimin. Tapi dia belum tergantikan.” Jawabnya tersenyum melihat foto di liontinnya. Lalu beralih menatap pemuda yang lebih muda beberapa tahun di depannya. “ kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku. Aku yakin itu.” Melihat senyum dari gadis di depannya, Jimin ikut mengulas senyum walau kentara raut kecewa tercetak jelas di wajahnya. Oh, ia akan mulai merelakan apapun demi kebahagiaan gadis di hadapannya ini.

“Noona. Bolehkah aku memelukmu?”

“Tentu saja.”

Yona memeluk erat pria dihadapannya yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Kalung di tangannya bergoyang indah memperlihatkan ukiran indah dua buah nama di liontinnya.

 

Jung Yona

Jung Yonghwa

10 thoughts on “[FF Competition] One Way

  1. Duh, makanya nih kalo anak kembar cewek-cowok biasanya suka dipisah, takut kejadian yang kayak begini. Nice story~

  2. wow bagus banget cingu……ceritanya bagus aku terguncang gara2 ceritanya bagus.. (y) 1000000% aku yakin kalo cerita cingu itu bagus………kagum deh sama cingu…oh iya yona itu siapa?nama cingu kah?atau cuma orang lain? #wkwk_akukepo

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s