[FF Competition] Red

Judul    : Red

Genre  : Romance – Tragedy

 

 

Untuk yang ketiga kalinya, suara ledakan yang amat keras kembali terdengar dari bawah sana.

Tiba-tiba saja, Jeon Hyunmi tersadar. Pandangannya terasa buram dan berputar-putar, sementara kepala dan tengkuknya terasa sakit. Tubuhnya lemas sejak ia terbangun tadi. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ia menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Puing-puing sisa hasil ledakan tersebar di sana-sini. Tak ada lagi bukti yang menunjukkan bahwa tempat di mana ia berada kini adalah sebuah ruang rapat. Yang ada hanyalah perabotan kantor yang rusak, sisa-sisa abu serta bau api yang tak kunjung lepas dari indera penciumannya.

Sekali lagi, suara ledakan terdengar lagi dari bawah sana—membuat Hyunmi kembali bertanya-tanya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Suara ledakan kembang api disertai sorak-sorai orang-orang yang menontonnya terdengar semakin riuh. Langit malam hari yang hitam kelam seakan-akan tampil dalam berbagai corak dan warna meski hanya dalam satu hari saja. Semua orang menikmati pemandangan malam yang tercipta setiap satu tahun sekali itu—kecuali Jeon Hyunmi.

            Gadis berambut cokelat panjang itu berjalan cepat menuju rumahnya. Ia benar-benar tidak sabar untuk kembali beradu dengan tempat tidurnya yang hangat. Atau mungkin ia perlu meminum secangkir cokelat panas dahulu sebelum tidur? Tidak, mungkin sebaiknya ia harus berendam dalam air hangat sebelum melakukan hal-hal lainnya.

            Jeon Hyunmi mengaduk-aduk isi tasnya ketika tiba di depan gerbang rumahnya. Alhasil, kunci rumahnya justru malah terlempar saat ia berhasil menarik benda berwarna perak itu dari dalam tasnya yang lebih mirip tempat pembuangan sampah.

            “Haish!” Hyunmi mengumpat pelan. Ia bergerak membungkuk dan menarik kunci itu. Tepat saat ia berhasil mengambilnya, ia mendengar desah nafas yang memburu dari arah kanan.

            Hyunmi terdiam. Ia sama sekali tidak yakin ada seekor anjing atau kucing yang mampu bernafas seberisik itu. Ditambah lagi, lampu jalan yang terletak di depan rumahnya sudah mati sejak kemarin pagi. Tak hanya itu, suasana malam yang mencekam tiba-tiba saja tercipta karena ledakan kembang api tahun baru yang sedari tadi berbunyi itu justru berhenti terdengar.

            Jeon Hyunmi memberanikan dirinya untuk berbalik ke arah kanan. Ia mengepalkan tangannya untuk berjaga-jaga—kemudian bersuara pelan.

            “S-siapa… di sana?”

            Tak ada jawaban. Hanya desau suara nafas yang terengah-engah yang mampu ditangkap kedua telinganya.

            “Siapa—OMO!” Hyunmi nyaris saja menjerit jika ia tidak bisa mengontrol dirinya. “Kau… apa yang terjadi? Apa yang terjadi padamu?”

            Hyunmi menangkap sosok bertubuh atletis dengan rambut yang dicat merah tua itu terduduk lemah di bawah lampu jalan yang mati. Ia yakin sosok tersebut adalah seorang laki-laki karena rambutnya yang terpotong pendek dan rapi serta warna merah di kepalanya yang terpantul dari cahaya bulan—serta kembang api yang kembali menghias langit.

            “M-maaf,” Hyunmi mendekati sosok itu. “Apa… kau terluka?”

            Laki-laki itu masih terengah-engah. “Pergilah.”

            “T…tapi…” Hyunmi memerhatikan tubuh laki-laki itu dan menyadari lengan kanannya bersimbah darah. “L-lenganmu…”

            “Pergi saja!”

            “T-tapi!” gadis itu menggigit bibirnya. “Kau terluka. Kalau tidak segera diobati, bisa terjadi infeksi yang akan memperparah lukamu.”

            Laki-laki itu mengangkat wajahnya dan Hyunmi kini bisa melihat jelas siapa lawan bicaranya.

            “Dengar, kau pulang saja ke rumahmu dan tak usah pedulikan aku.”

            “Tidak,” ujar Hyunmi tegas. “Ayo, aku akan membalut lukamu.”

            Hyunmi menarik lengan kiri laki-laki itu. Tepat seperti dugaannya, laki-laki itu bahkan terlalu lemah untuk melepaskan tarikan Hyunmi pada lengannya. Sikapnya saja yang berlagak sok kuat.

            Mereka memasuki pekarangan depan rumah Hyunmi dan laki-laki itu segera duduk di sebuah kursi taman yang berada di sana.

            “Tunggu sebentar,” ujar Hyunmi sembari meletakkan tasnya. “Aku akan segera kembali.”

            Belum sampai semenit, Hyunmi sudah kembali dengan sebuah kotak P3K. Dibukanya kotak tersebut, lalu ia mulai menuangkan cairan antiseptik pada tisu di dalamnya.

            “Sakit!” laki-laki berambut merah itu menyeringai tajam ketika Hyunmi membersihkan luka di lengannya dengan tisu tersebut. “Biar aku saja!”

            Hyunmi menurut dan diam-diam ia melirik laki-laki itu.

            Rambutnya merah dan pendek, tingginya ideal, hidungnya mancung, matanya tajam, bibirnya melekuk sempurna… Bukankah laki-laki ini tampan?

            Hyunmi kembali memandangi wajah laki-laki itu lekat-lekat dan menyadari ada sesuatu yang aneh pada sepasang mata setajam elang tersebut.

            “Euh, hei,” panggil Hyunmi kaku. “Di matamu…”

            Laki-laki itu menatap Hyunmi aneh sebelum menyadari apa yang dimaksud gadis itu. “Oh.”

            Detik berikutnya, Hyunmi melihat laki-laki itu melepas sebuah lapisan—lensa kontak berwarna hitam dari kedua matanya—yang menyebabkan warna mata aslinya terlihat.

            Irisnya berwarna merah—aneh, unik, tetapi mempesona.

            Laki-laki itu berdeham dan memandang Hyunmi tajam. “Terima kasih.”   

***

Hyunmi tidak bisa bergerak sama sekali. Ia baru menyadari bahwa kedua tangan dan kakinya terikat dengan seutas tali. Meronta-ronta pun tak berguna, karena tak ada seorangpun terlihat di tempat ini kecuali dirinya sendiri.

Hyunmi menutup matanya, mencoba menyatukan potongan-potongan ingatan yang ada sebelum ledakan pertama terjadi.

Ia sedang berada di kantor ayahnya. Ia sedang menemui ayahnya untuk membicarakan soal acara ulang tahun perusahaan ayahnya yang akan dihelat minggu depan. Akan tetapi, sebelum ia berhasil mengucapkan satu kata pada ayahnya, segalanya berubah menjadi hitam dan buyar.

Ingatannya berhenti sampai di sana. Lagi-lagi, Hyunmi kembali bertanya pada dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi?

            Kedua indera pendengarannya menangkap suara sepatu yang mengarah ke tempat di mana ia berada. Seseorang sedang menuju kemari, dan Hyunmi memercayai kedua telinganya. Ia mengumpulkan keberaniannya, dan tanpa ragu-ragu ia segera membuka mulut.

“Siapa?”

***

“Apa? Buku tentang terapi lumut?”

            Jeon Hyunmi menghela nafas karena kebingungan. Entah sudah yang keberapa kalinya sang ayah memintanya untuk membeli buku-buku aneh.

            “Appa, aku tidak tahu apa maksudmu memintaku membeli buku-buku ini… Iya, aku tahu, tetapi… Appa, dengarkan aku—APPA!” Hyunmi berteriak pada ponselnya yang masih terhubung panggilan dengan ayahnya. “Ya, ya, pasti kucari! Appa tunggu saja di rumah. Ya, ya. Ya, aku juga. Annyeong,”

Hyunmi menatap jengkel ponselnya. Untung saja, ayahnya sudah memutuskan sambungan telepon karena Hyunmi kini sedang mengumpat-umpat kesal.

            “Buku macam apa? Terapi lumut? Ha!” Hyunmi mengomel kesal. “Untuk apa membeli buku-buku aneh begini tetapi jarang dibaca? Lebih baik kupakai untuk membeli sepatu!”

Hyunmi mengedarkan pandangannya dan menemukan bagian di mana buku yang diminta ayahnya berada. Tanpa membuang-buang waktu lagi, ia segera berlari menuju rak 13B dan mencari buku tentang terapi lumut-konyol itu.

            “Oh,” Mata Hyunmi bertumbuk pada sebuah buku bersampul warna hijau tua yang terletak di bagian teratas rak 13B. Ia berjinjit pelan dan mencoba meraih buku tersebut.

            “Sial sekali, sih!” umpatnya pelan. Ia berjinjit sekali lagi untuk mendapatkan buku tersebut—namun seseorang telah terlebih dahulu menarik buku itu dari tempatnya sebelum Hyunmi berhasil menyentuhnya.

            Hyunmi berbalik dan dengan serta-merta kedua matanya langsung berbinar-binar. “Oh.”

            Laki-laki itu—laki-laki merah yang ditemuinya tempo hari—tengah menatapnya dengan tatapan yang sama pula. Sedetik kemudian, wajah tampan itu mengulas senyuman yang amat manis dengan lesung pipi yang terpatri sempurna di pipi kanan dan kirinya.

            “Kau, Red Man,” Hyunmi tertawa kecil. “Halo, kita bertemu lagi. Apa kau mengingatku?”

            “Tentu saja,” laki-laki berambut merah itu tersenyum. “Terima kasih atas pertolonganmu waktu itu.”

            “Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba menghilang begitu saja. Kondisimu saat itu benar-benar lemah, kenapa kau tidak bermalam saja di rumahku?” tanya Hyunmi sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka.

            “Hmm,” Laki-laki itu berdeham. “Ada alasannya.”

            Hyunmi mengangguk—meski ia masih belum paham. “Begitukah? Baiklah.”

            “Hei,”

            “Ya?”

            Laki-laki itu menatapnya tajam—dengan iris mata merah yang tersembunyi di balik lensa kontak berwarna hitam legamnya. “Apa kau… sibuk setelah ini?”

            Hyunmi balik menatap lawan bicaranya dengan jantung yang entah kenapa berdebar-debar kencang. “Tidak. Ada apa?”

            “Apa kau bersedia menemaniku minum kopi?” Laki-laki itu kembali tersenyum manis. “Dan berbincang-bincang tentang beberapa hal.”

            “Hmm,” Hyunmi ikut tersenyum mendengar ajakannya. “Tentu saja.”

            Laki-laki itu tertawa kecil—membuat detak-detak di dalam dada Hyunmi kembali bergemuruh kencang.

            “Tapi—tunggu dulu!” protes Hyunmi. “Kita bahkan belum saling mengenal—”

            “Aku tahu namamu,” Laki-laki itu memandangnya lagi, dan tersenyum. “Namamu Jeon Hyunmi, bukan?”

            “Dari mana kau tahu?” Hyunmi menaikkan sebelah alisnya. Seingatnya, ia tak pernah menyebutkan namanya pada laki-laki itu.

            “Kau menuliskan namamu pada kotak P3K. Bagaimana mungkin aku tidak melihatnya? Hahaha,” laki-laki itu kembali tertawa. “Kalau begitu, biar aku memperkenalkan diriku.”

            Hyunmi melihat laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya—dan lagi-lagi tersenyum dengan pesona yang membuat dirinya ikut tersenyum.

            “Namaku Lee Jonghyun.”

***

Sekalipun sejak tadi Hyunmi mempercayai indera pendengarannya—kini ia berharap kedua penglihatannya salah besar.

Ia memalingkan wajahnya—tidak memercayai keberadaan sosok di depannya. Ia yakin, ia seratus persen yakin bahwa ia sudah salah melihat.

“Haha,” Hyunmi mendengus. “Hahahahaha!”

Bukan kesalahan matanya jika ia melihat sosok di depannya adalah sosok yang selama beberapa bulan terakhir ini ada bersamanya. Bukan kesalahan matanya jika ia melihat sosok di depannya adalah sosok yang entah sejak kapan memiliki tempat paling istimewa di hatinya. Bukan kesalahan matanya…

Hyunmi tertegun. Hatinya sakit sekali melihat keberadaan laki-laki berambut merah itu di hadapannya. Ia bahkan terlalu sakit untuk mampu memandang balik sorot mata elang milik laki-laki itu.

Dan tiba-tiba saja, air mata gadis itu berderai. Bukan ini kenyataan yang ia inginkan… bukan sama sekali!

Laki-laki berambut merah itu menatapnya dengan ekspresi sama; terluka. Ia bergerak membuka mulut, akan tetapi lidahnya terlalu kelu untuk itu. Ia bahkan nyaris mengembangkan kedua lengannya—seperti yang biasa ia lakukan pada gadis itu. Setiap isakannya terasa amat menusuk, membuat hatinya sakit.

“Jangan… menangis…”

Demi mendengar suara serak dari mulut laki-laki itu, Hyunmi kembali pada kesadarannya. Ditatapnya benci laki-laki itu dari balik kedua matanya yang masih belum berhenti mengeluarkan air mata.

“KAU PIKIR KAU SIAPA UNTUK MEMINTAKU TIDAK MENANGIS?!”

***

“Bunuh dia.”

            Lee Jonghyun berdecak tidak percaya ketika pamannya menyodorkan foto laki-laki paruh baya bersama seorang gadis yang duduk di sebelahnya.

            “Apa?”

            “Laki-laki ini,” Pamannya berdeham. “Dia yang membunuh ayah dan ibumu. Dia yang merenggut kehidupanmu.”

            “Apa…?”

            “Bunuh dia beserta anak perempuannya,” Pamannya memicingkan kedua matanya. “Operasi akan dimulai tiga hari lagi. Aku tahu selama ini kau setuju menjadi agen organisasi hitam kita untuk mencari pembunuh ayah dan ibumu. Oleh karena itu, aku berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan identitas pembunuh orangtuamu. Lihat, laki-laki ini bahkan bisa hidup sejahtera dengan perusahaan orangtuamu yang direbutnya. Ini semua seharusnya menjadi milikmu, bukan miliknya dan putrinya,” Pamannya menunjuk wajah gadis di dalam foto dengan jari telunjuknya.

            “Tunggu,” sergah Jonghyun. “Aku mengenalnya. Tidak mungkin aku membunuh—”

            “Pikirkan baik-baik, Lee Jonghyun,” sang Paman memotong kata-katanya. “Jika dua puluh tahun yang lalu laki-laki ini tidak merebut perusahaan orang tuamu, apakah hidupmu akan tetap seperti sekarang ini?”

***

“Kau mau membunuhku, kan? Ayo, bunuh saja!” Hyunmi tertawa keras di sela-sela tangisnya. “Cepat bunuh aku! Ini yang kau rencanakan sejak awal, bukan?! CEPAT, BUNUH SAJA AKU!”

Ia marah—sungguh, ia benar-benar marah. Inikah tujuan Jonghyun mengenalnya? Jadi, semua itu bukan karena garis takdir? Hanya rekayasa belaka? Bagaimana dengan pertemuan-pertemuan tak disengaja itu? Hanya alasan yang dibuat-buat sedangkan kenyataannya adalah Jonghyun memang mengintainya?

Lee Jonghyun hanya berdiri tegak di hadapannya. Laki-laki itu kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata. Sudah jelas, kata maaf sebanyak apapun darinya tak akan pernah diterima oleh Hyunmi.

“Dengar,” Jonghyun bersuara pelan. “Kau harus segera pergi dari sini. Enam puluh detik lagi, tempat ini akan meledak.”

“Untuk apa? Bunuh saja aku sekarang!” Hyunmi mengumpat penuh amarah.

Lee Jonghyun bergerak mendekati gadis itu dan menariknya dalam pelukannya. “Dengarkan aku. Di bawah sana, ada tim evakuasi. Kau tidak akan terluka sekalipun terjatuh dari lantai empat puluh lima.”

Hyunmi meronta-ronta meskipun air matanya masih belum berhenti mengalir. “BUNUH SAJA AKU! CEPAT BUNUH!”

Jonghyun berhasil menarik gadis itu hingga sampai ke tepi sebuah jendela. Ditatapnya gadis yang selama ini telah mengisi kekosongan di hatinya itu dari balik kedua bola mata merah miliknya.

“Semuanya memang kebohongan, aku minta maaf. Hanya saja, jatuh cinta padamu benar-benar bukanlah sebuah kebohongan…”

Kemudian detik-detik itu berlalu dengan begitu cepat—Jonghyun mendorongnya untuk terjatuh bebas dari lantai empat puluh lima, sementara ledakan besar dari sebuah bom di lantai yang sama terdengar bersamaan.

Hyunmi melihatnya!—Hyunmi melihat laki-laki berambut merah itu tersenyum padanya! Tepat sebelum laki-laki merah itu melebur dengan warna merah yang tercipta akibat ledakan itu, Hyunmi masih mampu membaca gerak bibirnya.

Perlahan, satu titik air mata kembali mengalir dari kedua matanya saat melihat laki-laki merah yang dicintainya lenyap ditelan pemandangan merah mengerikan yang tercipta.

“Maaf. Aku mencintaimu.”

***

“Lee Jonghyun! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak membunuh gadis itu dan tidak pergi dari sana?! Sepuluh detik lagi, bom ini akan meledak!”

            Jonghyun mendengar suara penuh kecemasan milik pamannya, tetapi ia tetap pada pendiriannya.

            “Maaf, Paman. Aku mencintainya.”

            BLAAAAAAR!

3 thoughts on “[FF Competition] Red

  1. tragis jong ngorbanin diri buat hyun mi yeojja dri ayah yg udh ngebunuh K2 ortu jing n kbahagiaan jong…tp di ni ff gak di jlasin kenapa jongberambut merah? knp jong punya mata wrna merah,apa hbungan nya sm terapi lumut jg msh teka teki

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s