[FF Competition] Selamat Tinggal. Lautan. Memanggil

Selamat Tinggal. Lautan. Memanggil

Romance-Friendship

 

 

“Hei, tidak bisakah kau berjalan lebih lambat?”

“Ini sudah kecepatan minimumku. Seharusnya kau yang mempercepat jalanmu.”

“Aku sudah berjalan dengan kecepatan maksimum. Kau saja yang terlalu cepat.”

“Kau yang terlalu lambat.”

“Kau!!! Hei!!! Tunggu aku.”

Gadis itu berusaha mengejar laki-laki yang kini sudah jauh berjalan didepannya. Dia merutuki dirinya mengapa setiap hari harus pergi bersama dengan laki-laki super cepat itu.

Beberapa detik kemudian tidak lagi terdengar suara berisik gadis itu. Laki-laki itu merasa lega karena telinganya tidak lagi mendengar ocehan dari gadis tersebut. Namun, dia juga merasa tidak nyaman ketika tidak mendengar suara gadis itu dalam jangka waktu beberapa menit kedepan.

Jonghyun-laki-laki itu-akhirnya berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya ke belakang.

Dia tidak melihat gadis itu.

Jonghyun mengarahkan pandangannya ke segala arah guna menemukan gadis itu. Namun hasilnya nihil. Pandangan Jonghyun akhirnya berhenti ketika kedua matanya menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk sambil memegang lututnya.

Aisshhhh

Jonghyun mengumpat-cukup keras sehingga membuat orang-orang mengalihkan pandangan ke arahnya-ketika mendapati apa yang kini dia lihat.

“Dasar ceroboh.”

Jonghyun mendesah pelan ketika akhirnya dia merendahkan tubuhnya dan memberikan punggungnya kepada orang itu. Seperti sudah tahu apa yang ingin dilakukan oleh laki-laki yang ada dihadapannya, orang itu mendekati punggung laki-laki itu dan laki-laki itu otomatis mengangkat tubuh orang itu diatas punggungnya.

“Kau bodoh.”

“Jangan berkata seperti itu. Kau seperti sedang mengejek dirimu sendiri.”

Orang yang tidak lain adalah gadis yang sedari tadi berjalan di belakang Jonghyun terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulut laki-laki itu.

“Aku tidak tahu mengapa aku berjalan selambat itu. Aku tidak memiliki kaki yang panjang seperti yang kau gunakan.” Gadis itu berbicara dengan nada lemah dan wajahnya dia benamkan dipunggung Jonghyun sehingga suara gadis itu terdengar seperti bisik-bisik oleh Jonghyun.

“Itu bukan masalah kau memiliki kaki yang panjang atau tidak. Itu semua tergantung kau ingin berjalan bersamaku atau tidak.”

Perkataan Jonghyun tadi sontak membuat Kizu-gadis itu-mengangkat wajahnya seolah dia baru saj mendengar berita yang mengagetkan.

“Apa maksud dari ucapanmu tadi?”

Jonghyun terdiam sejenak lalu langkahnya terhenti.

“Kita sudah sampai dan sudah saatnya kau turun dari tempatmu sekarang. Kau bukanlah sehelai bulu, Kizu.”

“Apa maksudmu dengan ‘kau bukanlah sehelai bulu’??? Kau bermaksud mengatakan bahwa aku ini―”

Perkataan Kizu terhenti ketika bel tanda masuk dibunyikan. Kizu menatap Jonghyun kesal sedangkan yang dilakukan Jonghyun hanya memandang Kizu dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja sehingga menambah kejengkelan Kizu.

Kizu lalu pergi meninggalkan Jonghyun dengan tatapan yang hanya Jonghyun sendiri tahu apa artinya.

Urusan kita belum selesai. Begitulah Jonghyun mengartikan tatapan itu sebelum akhirnya tubuh gadis itu menghilang dibalik kerumunan murid-murid lainnya. Dan itu artinya, dia harus menemui gadis itu saat bel istirahat berbunyi.

***

Kizu menatap sehelai kertas yang kini mendarat dengan baik diatas mejanya. Melihat siapa yang baru saja membuat kertas itu berada diatas mejanya, Kizu hanya mendengus kesal menatap kertas itu seolah itu bukanlah hal yang menarik.

“Tidak perlu memberikan tatapan seperti itu. Kertas itu tidak salah. Aku minta maaf soal tadi pagi dan buka kertas itu ketika kau sampai dirumah.”

Kizu masih tidak mengalihkan pandangannya untuk melihat lawan bicaranya saat ini.

“Apa maksudmu?”

Jonghyun menatap datar gadis didepannya. Dia sudah hafal bagaimana sikap gadis itu ketika gadis itu sedang kesal, terutama kesal karena dirinya.

“Kau memang orang yang ceroboh. Tapi kau juga orang yang cerdas dan kekuatan Sherlock Holmes akan membantumu ketika kau membuka kertas itu.”

Jonghyun berjalan meninggalkan Kizu yang sepertinya masih butuh penjelasan lebih mengenai selembar kertas yang masih rapi terlipat dua. Sambil berjalan, Kizu masih dapat mendengar Jonghyun memperingatkannya.

“Ingat, jangan buka disini. Kau tidak akan menemukan jawabanmu disini.”

Lalu Jonghyun benar-benar menghilang dibalik pintu itu. Bukan Kizu kalau dia tidak penasaran setengah mati tentang apa yang tersembunyi dibalik kertas itu. Mungkin sedikit banyak pengaruh kegemarannya membaca komik serta buku bertemakan detektif membuat Kizu menganggap kertas itu sebagai petunjuk dan Jonghyun adalah tersangkanya.

Tangan Kizu dengan tangkas meraih kertas itu dan membaca apa yang tertulis didalamnya. Dahinya berkerut selama lima detik pertama dia mulai membaca isi dari kertas itu. Lima detik berikutnya, kedua sudut bibir Kizu terangkat membentuk senyuman kemenangan seakan dia sudah tahu bagaimana cara untuk membuat pelaku kejahatan mengakui semua perbuatannya.

Tanpa sadar, Kizu berbicara sendiri dengan senyum penuh kemenangan.

“Kau benar, Jonghyun-ssi. Jawabannya ada disuatu tempat tapi bukan di tempat ini.”

***

Kizu menyesal ketika semalam dia memutuskan untuk tetap menjaga matanya terbuka sampai jam dua pagi demi menonton Sherlock Holmes-idolanya-beraksi memecahkan kasus sehingga dia harus membuka matanya disaat yang tidak tepat. Akibatnya, kini kamarnya seperti kapal karam dan dia seperti orang yang kebingungan berjalan mondar-mandir dikamarnya sendiri.

Keadaan semakin kacau ketika Kizu menerima sebuah pesan yang mengharuskannya untuk cepat keluar dari rumah dan tentu saja dalam keadaan rapi dan siap ke sekolah.

Bunyi hentakan sepatunya terdengar jelas ketika Kizu mulai menuruni tangga rumahnya dan membuat dia menyesal karena harus melewati sarapan pagi itu. Roti panggang coklat keju kesukaannya.

Ibu Kizu hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah anak perempuannya pagi itu.

Eomma aku berangkat dulu.” Kizu pamit kepada ibunya.

“Hati-hati.” Ibunya lagi-lagi menggeleng kepala ketika melihat Kizu memakai sepatunya.

Kizu tidak langsung keluar rumah. Dia berjalan menuju garasi dan mengeluarkan sesuatu dari sana dan membawa benda itu keluar bersama dengannya. Kizu melihat Jonghyun juga membawa benda yang sama ketika dia berada diluar pagar rumahnya.

“Seseorang berhasil membuat seorang gadis melewatkan sarapan berharganya pagi ini.” Kizu memberi tatapan datarnya kepada Jonghyun bukan salam selamat pagi.

“Ya, gadis itu sepertinya harus bisa menahan dirinya untuk tidak terjaga sampai dini hari dan dia juga harus berterima kasih kepada seseorang karena sudah dengan sangat sabar menunggu didepan rumah gadis itu selama hampir 15 menit berdiri sendirian dan hanya ditemani oleh benda yang tidak dapat diajak berbicara.”

Kizu memutar kedua bola matanya malas ketika pagi ini harus diawali dengan perdebatan tanpa ujung dengan laki-laki itu.

Okay. Fine. That’s all my fault this morning.”

Jonghyun tersenyum tipis melihat wajah kesal Kizu pagi itu.

“Hei, tersenyumlah. Tidak baik jika pagi-pagi kau memasang wajah jelekmu itu. Dan rupanya kau berhasil menebak apa yang aku berikan kemarin.”

Perlahan senyum diwajah Kizu kembali dan senyum itu terbentuk diwajahnya ketika mendengar perkataan Jonghyun tadi.

“Ya. Aku harus mengakui bahwa caramu ini cukup jenius supaya kau tidak akan lagi merasakan betapa beratnya membawa seseorang diatas punggungmu.”

Jonghyun tertawa ketika mendengar bahwa baru saja gadis itu mengakui bahwa dirinya tidaklah ringan.

“Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan ini. Sebaiknya kita bergegas sebelum bel tanda masuk berbunyi.” Kizu mulai mendorong benda itu kedepan dan saat itu juga Kizu menghentikan aktivitasnya ketika melihat Jonghyun masih diam ditempatnya.

“Oh, Kizu. Ini masih pagi. Untuk apa kau terburu-buru. Apakah kau tidak mempunyai jam di rumah atau semacam alat pengukur waktu?”

Pernyataan Jonghyun tadi membuat Kizu menaikkan alisnya dan sontak mengeluarkan ponsel dari kantong roknya. Mata Kizu membulat sempurna ketika melihat apa yang tertera dilayar ponselnya itu.

Are you kidding me, Jonghyun?? It’s still six, you text me earlier, make me like crazy girl in this morning, and I must skip my favorite breakfast too??? Oh, you must be kidding me right now!”

”Stay calm girl. Setidaknya kau bisa melihat sisi positifnya. Kau hanya bisa menghirup udara bersih seperti ini hanya di pagi hari.”

Kizu merutuki kebodohan dirinya yang tidak melihat jam berapa ketika dirinya menerima pesan dari Jonghyun. Rasanya dia ingin kembali ke rumahnya dan menikmati sarapannya dengan tenang. Kizu menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Kata-kata Jonghyun ada benarnya juga.

“Baiklah. Sepertinya usahamu untuk membangunkanku lebih pagi hari ini berhasil dan aku harus berterima kasih karena itu.”

Jonghyun mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Sebaiknya kita mulai menaiki benda ini dan menikmati udara segar dan pemandangan pagi ini.” Jonghyun sudah naik diatas sepedanya begitu juga dengan Kizu.

Sekarang keduanya bersepeda dengan posisi berjajar. Kizu disebelah kiri dan Jonghyun disebelah kanan.

“Dengan ini kau tidak perlu susah payah mengejarku. Tidak ada yang lebih cepat dan tidak ada yang lebih lambat. Kita berada dalam keadaan yang sama. Kau ada disampingku dan aku ada disampingmu.”

Kizu menatap Jonghyun tidak percaya dengan apa yag baru saja keluar dari mulut laki-laki itu.

“Kau terdengar seperti sedang bersepeda dengan kekasihmu daripada dengan sahabatmu.”

Keduanya terdiam sejenak setelah akhirnya tawa keduanya pecah ketika menyadari bahwa perkataan mereka hari ini terdengar seperti dua orang yang sedang jatuh cinta.

Tapi, kenyataannya tidak. Kizu menganggap Jonghyun tidak lebih dari sahabatnya yang sejak mereka duduk di bangku SD mereka sudah mengenal satu sama lain dengan baik. Begitu juga dengan Jonghyun.

Mereka sudah tahu bagaimana karakter diri satu sama lain. Mereka tertawa bersama. Menghibur satu sama lain ketika mereka menangis. Adu mulut tidak pernah tidak terjadi antara mereka. Sikap acuh tak acuh, ketus, tidak peduli, saling mempertahankan ego mereka masing-masing tidak membuat mereka menjadi benci satu sama lain.

Namun, hal itulah yang semakin mengeratkan tali persahabatan antara mereka berdua sehingga mereka terlihat sangat dekat bahkan beberapa teman mereka menganggap mereka adalah sepasang kekasih.

Tawa keduanya terhenti ketika Kizu yang pertama kalinya berhenti tertawa sehingga membuat Jonghyun tidak melanjutkan tawanya. Lalu Kizu memandang Jonghyun.

“Aku berterima kasih kepada Sang Pencipta karena telah mengirimkan seorang sahabat yang baik dan mengerti bagaimana harus menghadapi semua sikap-sikapku. Walau terkadang ada kalanya orang itu membuat aku marah, kesal, dan ada saatnya dimana aku ingin sekali wajah itu hilang dari pandanganku. Namun, untuk yang kalimat terakhir yang aku katakan tadi, aku rasa akan menjadi orang yang akan kehilangan arah ketika hal itu benar-benar terjadi. Aku ingin persahabatan ini selalu Kau jaga dan juga kau berkati orang yang sudah menemaniku disaat suka dan duka walaupun aku sering membuat kesalahan kepadanya.”

Jonghyun memandang Kizu yang kini sudah selesai berbicara.

“Aku juga berterima kasih kepada Sang Pencipta karena telah membawa seorang anak perempuan pintar namun ceroboh di kehidupanku. Aku sadar bahwa aku tidak mungkin akan selalu berada disampingnya setiap detik, tapi aku akan berusaha menjaga apa yang telah kau datangkan dalam hidupku. Aku akan berjuang dengan apapun juga demi menjaga amak perempuan yang selama ini telah menjadi sahabat yang selalu mengerti dan menerima apapun keadaanku. Aku berharap Kau mau melindungi dan menjaga persahabatan kami sampai kami menggapai apa yang selama ini kami impikan.”

Jonghyun dan Kizu masih saling memandang satu sama lain sampai akhirnya keduanya tersenyum. Sebuah pemikiran muncul dipikiran mereka secara bersamaan.

“Kau tahu?”

“Apa?”

“Kau merasa kalau ini terdengar seperti…..”

“Jangan bilang kau ingin mengatakan…..”

“Kau juga memikirkan hal yang sama?”

“Kau ingin mengatakan bahwa ini seperti…..”

“Kita sedang berdiri di depan altar sambil mengucapkan janji setia sehidup semati.”

“…..”

“…..”

Dan untuk kesekian kalinya tawa keduanya meledak seakan mereka ingin seluruh dunia mendengar tawa mereka.

Masih membawa tawa mereka bersama angin, kaki-kaki kuat mereka mengayuh sepeda yang membuat mereka semakin merasakan apa artinya persahabatan itu.

Tidak ada perbedaan ketika mereka bersama-sama berada pada satu garis lurus. Perbedaan gender tidak membuat mereka saling merendahkan atau meninggikan satu sama lain. Mereka berada pada satu garis lurus yang sama yang membuat segala perbedaan itu terlihat seperti sebuah kesamaan yang dengan tulus mereka terima.

Dan itu terjadi pada setiap detik mereka mengambil oksigen untuk bernafas dan memutuskan untuk saling mempercayai dan menjaga persahabatan itu sampai akhir.

***

“Apa ini?” Kizu mengerutkan dahinya ketika membaca tiga kata yang ditulis tangan pada kertas itu.

Selamat tinggal. Laut. Memanggil.

Kizu pikir Jonghyun sudah tertular virus detektif kesukaannya. Kizu masih memutar otaknya untuk menemukan apa maksud yang ingin Jonghyun sampaikan melalui tiga kata itu. sambil terus berpikir, Kizu tidak sengaja mengesek kertas itu dan menemukan kertas lain.

Sama dengan kertas sebelumnya, hanya saja kertas itu berisi tulisan yang lebih banyak dan panjang.

“Jika kau sudah menemukan apa arti dari tiga kata itu, besok kau harus menggunakannya. Dengan itu, kau tidak perlu lagi merasakan sakitnya ketika lututmu bersentuhan dengan tanah yang kasar dan batu yang tajam. Aku juga tidak perlu lagi merasakan betapa menderitanya membawa beban seberat kau. Jangan tersinggung itu kenyataan.

Selamat berjuang! Ini jauh lebih mudah dari apa yang selama ini kau baca dan kau lihat.”

Kizu tersenyum tipis ketika membacanya.

“Bagaimana kalau diartikan dalam bahasa asing? Selamat tinggal berarti bye. Lautan berarti sea. Memanggil berarti call. Bye. Sea. Call.”

“…besok kau harus menggunakannya…kau tidak perlu lagi merasakan sakit…”

Bye. Sea. Call. Bicycle. I got it! Bicycle. Jonghyun, ternyata kau memang sudah tertular virus detektif dariku. Ini memang jauh lebih mudah. Kau tahu apa yang bisa membuat sahabatmu ini melupakan semua kekesalan yang terjadi.”

Kizu menatap dua lembar kertas itu dengan senyum bahagia. Tuhan tidak salah mengirimkan seseorang seperti Jonghyun untuk selalu berada disampingnya sebagai seorang sahabat.

END

 

2 thoughts on “[FF Competition] Selamat Tinggal. Lautan. Memanggil

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s