[FF Competition] The Right One

Title     : The Right One

Genre  : Romance – Happy Ending

 

“Jadi, apa maumu?”

Kang Minhyuk tak menjawab. Ia hanya mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja. Menurut spekulasinya, seharusnya gadis di hadapannya ini sudah tahu apa yang diinginkannya.

“Minhyuk-ah,” Gadis berambut panjang itu menghela nafas. “Kau mau hubungan kita berakhir?”

Duk! Minhyuk mengepalkan tangannya dan membenturkannya ke atas meja. Bingo! Gadisnya ini memang selalu bisa mengerti tanpa ia perlu membuka mulutnya.

Mianhae,” Minhyuk berpura-pura merasa sedih. Ditundukkannya kepala dalam-dalam. “Kuharap kau bisa menemukan namja lain yang lebih dariku, Hyerin-ah.”

Jung Hyerin hanya tersenyum kecut sebelum bangkit dari tempat duduknya. “Baiklah.”

Minhyuk memejamkan matanya—berharap tamparan dari Hyerin tak akan sekeras tamparan yang didapatkan dari mantan-mantannya terdahulu.

“Apa yang kau lakukan?” Hyerin hanya tertawa. “Sudahlah. Aku ada kelas setelah ini. Ngomong-ngomong, terima kasih atas beberapa bulan ini. Aku senang bisa mengenalmu,”

Itu saja? Minhyuk memandang Hyerin tanpa berkedip. Ia sama sekali tidak menyangka gadis ini bisa bersikap normal setelah menerima keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Sungguh, reaksi ini benar-benar berbeda dengan yang dilakukan mantan-mantannya sebelum ia mengenal Hyerin! Diam-diam, ada perasaan kagum terbersit di hatinya.

Ditatapnya punggung Jung Hyerin yang sudah menjauh darinya. Ah, peduli apa soal itu, batin Minhyuk. Yang jelas, saat ini statusnya sudah berubah. Ia sudah single! Waktunya untuk berburu yeoja!

***

Baik Yoon Jonghwa, Jung Yongshin dan Lee Junghyun sama-sama membelalakkan matanya begitu Minhyuk mengabarkan berita berakhirnya hubungan cintanya dengan Jung Hyerin.

“Kau gila?!” bentak Yongshin. “Gadis itu adalah gadis yang paling sabar sepanjang aku mengenal pacar-pacarmu. Kenapa kau menyia-nyiakannya?”

Minhyuk hanya tersenyum santai. “Sederhana saja. Aku bosan.”

“Haha,” Jonghwa tertawa keras. “Aku sudah yakin kau akan berakhir dengannya sejak kau pertama kali memperkenalkan dia pada kami.”

“Tidak apa-apa. Sifat playboy adalah sifat alami pada setiap namja, tahu!” Junghyun ikut tertawa sembari menepuk-nepuk punggung Yongshin untuk menenangkannya. Tentu saja Yongshin marah pada Minhyuk, sebab Jung Hyerin pernah menjadi gadis incarannya.

“Lagipula,” Minhyuk berdeham. “Berpacaran dengan gadis baik-baik itu membosankan. Lain kali aku akan berpikir ulang jika menyukai seseorang, hahaha!”

“Dasar playboy cap kadal,” Yongshin berdecak. “Kalau Hyerin menangis, kau…”

“Yongshinnie, Sookyung sedang memanggilmu!” Jonghwa menyebut nama pacar Yongshin yang terlalu overprotektif. “Apa katanya jika kami mengatakan bahwa kau sedang mencemaskan gadis lain, ya…”

“Apa? Hei, jangan katakan padanya!” raut wajah Yongshin sontak berubah panik. Dengan serta-merta, ia segera berlari keluar dari markas kelompok mereka dan menyambut kedatangan Sookyung.

“Coba lihat wajah paniknya tadi, haha!” Junghyun tertawa paling keras. “Lucu sekali. Dia justru takut pada pacarnya.”

“Terang saja,” potong Jonghwa. “Sookyung kan cinta pertamanya. Tentu saja dia tidak akan melepaskannya gadis itu darinya.”

Minhyuk hanya tersenyum datar mendengar kata-kata kedua sahabatnya. Cinta pertama? Orang-orang selalu mengatakan bahwa setiap laki-laki akan selalu berjuang keras untuk mendapatkan cinta pertamanya. Hal itu terbukti pada apa yang terjadi pada sahabatnya, Jung Yongshin. Kadal berkacamata itu terus-terusan mengejar Shin Sookyung sejak mereka SMP—meski beberapa bulan yang lalu ia sempat mengincar Hyerin. Pada akhirnya, cintanya terbalaskan walaupun penantian yang dilakukan nyaris mencapai lima tahun.

Cinta pertama? Minhyuk mendengus. Ia tak pernah punya cinta pertama. Lagipula, apa hebatnya memiliki cinta pertama kalau kau hanya terfokus pada satu orang yang bisa membuatmu bahagia sekaligus terpuruk pada saat yang sama?

“Hei, hei,” Minhyuk berteriak. “Bagaimana kalau kita ke Stoner’s malam ini?”

Demi mendengar Minhyuk menyebut kafe favorit mereka, Jonghwa dan Junghyun segera mengangguk.

“Boleh saja! Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan nanti? Naik panggung dan mementaskan sesuatu, atau—”

“Tidak,” putus Minhyuk sambil tersenyum licik. “Ayo, kita mencari mangsa!”

***

“Hadirin sekalian, silakan menikmati penampilan dari pendatang baru kita… Jung Hyerin!”

Minhyuk nyaris saja menyemburkan cola di mulutnya jika ia tidak bisa menahan diri.

“Ada apa?” tanya gadis di hadapannya. “Kau tersedak?”

“Mm-hm,” Minhyuk berdeham. “Tidak, tidak. Sampai di mana kita tadi?”

Gadis itu tersenyum. “Oh, ya. Nah, malam itu aku dan teman-temanku sama sekali tidak menyangka kalau ada diskon besar-besaran di sana! Tentu saja kami langsung menghabiskan berjuta-juta won untuk membeli sepatu dan pakaian yang cantik-cantik!”

Minhyuk hanya tersenyum tipis. Ia baru mengenal gadis cantik di depannya. Namanya Song Jinhee. Rambutnya yang dicat cokelat tua terpotong dengan model rambut terbaru. Bulu matanya lentik dan gadis ini jago make-up. Lantas, apa yang kurang?

“…’Cause I know that you’re one of a kind… And I can’t get you out of my mind…

Sial, kenapa lagu yang dimainkan Hyerin harus lagu favorit mereka berdua dahulu?

Kang Minhyuk berbalik dan mendapati penampilan Hyerin dengan gitarnya telah menyita perhatian seluruh penonton di dalam kafe—terutama para namja. Tak hanya itu, ketiga sahabatnya justru berada di baris paling depan dan turut memuja permainan gadis itu.

“Dasar payah,” gumam Minhyuk sembari bergerak meninggalkan Song Jinhee. Ia sama sekali tidak peduli meskipun gadis itu menjerit-jeritkan namanya. Saat ini, hanya satu yang ada di pikirannya: Jung Hyerin.

Minhyuk segera naik ke atas panggung—diikuti pandangan bingung milik Hyerin dan para penonton. Ditariknya sepasang stik drum, dan ia mulai memainkannya untuk mengiringi permainan Hyerin. Suasana musik semakin meriah ketika Jonghwa, Yongshin dan Junghyun turut mengambil tempat di atas panggung dan mengiringi penampilan Hyerin dan gitarnya. Terang saja, begitu lagu berakhir, semua penonton bertepuk tangan gembira. Mereka bahkan bersorak untuk meminta Hyerin memainkan lagu lain.

Kang Minhyuk bangkit dari balik drum dan menarik Hyerin turun dari panggung. Tanpa mempedulikan berpuluh-puluh pasang mata yang melihat, Minhyuk terus menarik Hyerin keluar dari kafe.

“Apa yang kau lakukan?!” desis Minhyuk padanya begitu mereka berada di luar area kafe.

Hyerin menatap Minhyuk aneh. “Tentu saja tampil di atas panggung. Memangnya kenapa?”

“Dasar bodoh. Kau tampil untuk menyita perhatian para namja, kan?”

Hyerin melepaskan tangan Minhyuk yang masih menggenggam tangan kanannya dengan kasar. “Dengar, ya. Kupikir hubungan kita sudah berakhir. Lantas, kenapa kau menarikku kemari? Selain itu, aku tampil atas permohonan sahabatku yang merupakan pemilik kafe itu! Dan satu lagi—kau tahu? Aku benci sekali pada sikapmu yang merendahkanku seperti itu!”

Minhyuk memandang Hyerin dalam diam. Ia kehabisan kata-kata. Benar juga, bukankah hubungan mereka sudah berakhir? Lalu kenapa ia merasa tidak suka ketika melihat gadis itu dipuja para namja?

“Sebenarnya, apa maumu?” Hyerin bertanya sekali lagi.

Tidak ada jawaban. Minhyuk hanya menatapnya, sedikit-banyak ia berharap Hyerin mengetahuinya tanpa ia harus membuka mulut.

“Dasar payah,” gumam Hyerin sebelum melangkah masuk ke dalam kafe.

Sementara itu, Kang Minhyuk masih belum bisa mengontrol dirinya. Ia sama sekali tidak mengerti setan apa yang merasukinya hingga ia menarik Hyerin dari atas panggung seperti itu.

Apakah ia sudah gila?

Tidak. Ia tidak gila.

Lantas, apa yang terjadi padanya?

Apa ia kembali jatuh cinta padanya?

Minhyuk tersenyum. Alasan yang satu ini terdengar masuk akal. Ia kembali jatuh cinta pada Hyerin, sehingga ia benar-benar cemburu ketika melihat gadis itu dikelilingi namja lain. Mungkin sebenarnya, ia tidak benar-benar menginginkan hubungan mereka berdua berakhir begitu saja. Atau mungkin sebenarnya, ia bukan jatuh cinta lagi padanya, melainkan masih mencintai Jung Hyerin.

Lagi-lagi, Minhyuk tersenyum. Jika ia kembali ditanya tentang apa keinginannya oleh Hyerin, ia sudah tahu jawaban yang harus ia berikan padanya.

***

Ini sudah yang keempat kalinya Minhyuk tak sengaja bertemu Hyerin sejak malam itu. Mula-mula, Hyerin akan memandangnya, kemudian melewatinya seakan-akan mereka tidak saling mengenal. Hal yang sama terjadi berulang-ulang sehingga Minhyuk semakin kesal. Baru saja mereka berpapasan di tangga kampus, dan Hyerin kembali memalingkan wajahnya.

Ya, Jung Hyerin!” Minhyuk berbalik untuk menunggu gadis itu melihatnya. “Hyerin-ah!”

Sadar sudah menjadi pusat perhatian akibat teriakan Minhyuk tadi, Hyerin sontak menatap Minhyuk jengkel. Untuk yang kesekian kalinya, Hyerin kembali mengajukan pertanyaan yang sama pada Minhyuk.

“Apa maumu, Kang Minhyuk?”

Kang Minhyuk tersenyum kecil sembari bergegas menghampirinya.

“Lihat aku.”

“Apa?”

“Lihat aku.”

“Apa maumu?” Hyerin bertanya jengkel. “Dengar ya, aku tidak punya waktu kalau kau mau bermain-main seperti ini.”

“Jung Hyerin,” Minhyuk mengulurkan kedua tangannya dan meletakkan telapak tangannya di wajah Hyerin. “Kau tahu—sepertinya… Tidak, tidak, bukan. Sepertinya, aku—”

Mau tidak mau, jantung Hyerin jelas berdegup kencang sampai-sampai ia takut Minhyuk bisa mendengarnya. Menatap laki-laki bermata ramah itu saja sudah bisa membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

“Dengar!” Kang Minhyuk tiba-tiba berteriak. Wajahnya kini sudah sangat merah—meski Hyerin berani bertaruh bahwa wajahnya pasti terlihat jauh lebih merah daripada wajah Minhyuk.

“Jung Hyerin, aku—” Minhyuk memandangnya tepat di manik mata. “Aku ini… Aku! Aku… Astaga!”

Melihat Minhyuk yang kesulitan menata kata-katanya, Hyerin tertawa kecil. Entah kenapa, sejak pertama kali jatuh cinta pada laki-laki ini, ia selalu bisa membaca pikirannya. Tunggu, atau mungkin wajah laki-laki ini saja yang mudah dibaca oleh siapapun?

Hyerin bergerak memeluknya. Sejak Minhyuk memintanya untuk mengakhiri hubungan mereka, ia tahu mereka berdua masih belum bisa melepaskan satu sama lain.

“Ya,” Hyerin berbisik pelan. “Aku tahu apa yang ingin kaukatakan.”

“Benarkah?” Minhyuk tertawa sembari balas memeluk gadis itu. “Kau memang hebat.”

“Tapi tetap saja—aku tidak akan mengerti kalau kau tidak mengatakannya. Bukankah waktu pertama kali kau menyatakan padaku, kau bisa mengatakannya dengan lancar?”

“Apa?” suara Minhyuk terdengar terkejut dan konyol. Hyerin hanya tertawa mendengarnya.

“Katanya kau ini playboy, lalu kenapa kau tidak bisa mengucapkan tiga kata penting itu padaku?”

“Hyerin-ah…” kali ini, suara laki-laki itu terdengar memelas. Kontan saja, Hyerin kembali tertawa geli.

“Iya, aku tahu. Aku selalu tahu,” Hyerin mengeratkan pelukannya. “Aku juga masih menyukaimu, Kang Minhyuk.”

Kang Minhyuk tersenyum. Direngkuhnya gadis itu lebih erat lagi. Ia sudah memilih, dan ia yakin pilihannya benar. Jung Hyerin memang bukan gadis biasa. Gadis itu spesial, bahkan lebih dari spesial.

Ia memang seorang playboy yang biasa mengumbar kata cinta pada setiap gadis. Akan tetapi, ia justru tidak bisa mengutarakan hal sepenting itu pada Jung Hyerin.

Mungkin karena Jung Hyerin adalah cinta pertamanya.

Mungkin karena Jung Hyerin adalah takdirnya.

Atau mungkin, karena gadis itu adalah Jung Hyerin.

Apapun alasannya, yang jelas ia tak akan pernah melepaskan gadis itu lagi.

3 thoughts on “[FF Competition] The Right One

  1. nice ff~ a repentant playboy(?) kkk cuma alurnya menurut aku sedikit kecepetan atau karna faktor oneshot? hehe but overall, nice ff~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s