[FF Competition] The Way to Come Back

The Way to Come Back

Genre: Romance—Happy ending

 

Pria jelekku… Oh, tidak! Sekarang dia bukan pria jelekku lagi. Oke, dia tetap jelek, tapi dia bukan milikku, lagi. Namanya Jung Yonghwa, dan demi Tuhan, aku membencinya. Kenapa? Biarkan aku bernapas dulu sebelum menjabarkannya.

Aku mengambil air putih dari atas meja kerjaku, meneguknya paling banyak hanya tiga teguk karena rasa pahit yang tidak tertahankan di lidah. Bagaimana mungkin airputih bahkan bisa membuat kepalaku semakin pening begini? Pandanganku masih terasa begitu nanar dan aku hanya bisa merasakan separuh kakiku. Tubuhku benar-benar lemas dan panas sekaligus. Kepalaku berputar, layar laptopku masih menyala memampangkan beberapa sticky notes yang selalu kutulis setiap harinya. Dan puisi-puisi gila itu menohokku. Membuat ingatan-ingatan berkelebat diotakku. Tentangnya. Dan untuk itu aku merasakan sakit kepala hebat. Tentang bagaimana aku mengenalnya. Tentang bagaimana aku jatuh dalam pesonanya. Tentang bagaimana aku jatuh dan terus jatuh karenanya. Dan terperangkap. Seperti sekarang.

Pertama melihatnya, dalam sebuah interview magang sebagai pengajar di sebuah bimbingan belajar tempat ia menjadi staff paruh waktu di sana, semua yang bisa kupikirkan adalah bahwa dia memiliki wajah yang lumayan. Dan bahwa pria ini terlalu ramah, terlalu baik, didukung dengan matanya yang teduh, kutebak dia adalah ‘pemain’. Dan yang jelas, dia bukan tipeku. Tapi yeah, dia memang tampan. Jadi kurasa menatapnya sedikit tidak akan apa-apa. Di sini aku kesalahan perhitungan, karena ketika aku mencoba menatapnya, aku menemukan dia sedang menatapku, dan selama beberapa detik, aku merasa seakan sebuah UFO telah mendarat di bumi. Waktu berhenti berputar, dan aku merasa… hampir sepeti berhenti bernapas. Aku tidak habis pikir bagaimana berikutnya aku bisa menjadi begitu gugup di depannya, begitu bodoh dan ceroboh di hadapannya. Aku tidak tahu bagaimana aku dengan mudah melupakan spidol untuk mengajarku, menjatuhkannya sebanyak dua kali di hadapannya, bahkan masih salah mengenalinya sebagai spidol permanen yang berakibat pada tampak mengerikannya aku di depan semua calon muridku. Benar-benar, aku sudah mempermalukan diriku sendiri dan aku benci itu.

Aku merasa ingin memukulkan kepalaku terus-terusan ke meja jika mengingat ini. Astaga.

Aku ingat persis senyumnya, karena itu adalah favoritku. Aku… sangat menyukai cara dia tersenyum. Dan sialan, dia hobi tersenyum! Dia tersenyum setiap saat. Dia tersenyum ketika menyapaku. Dia tersenyum manis ketika menawariku tumpangan di boncengan motornya, membiarkan jatungku kacau mengetahui dia dalam jarak begitu dekat sehingga aku tersedak oleh aroma parfumnya yang maskulin, aku bisa saja memeluknya jika saja aku sedikit lebih tidak waras daripada ini! Dia juga tersenyum begitu manis jika aku, atau siapapun membuat lelucon , atau ketika dia sendiri berusaha membuat lelucon meskipun itu tidak lucu sama sekali bagiku. Dia tersenyum sangat-sangat manis malam itu, ketika aku merindukannya setengah mati, aku menemukannya di belakangku saat mendengar suaranya dan mencoba menoleh, dan aku tidak tahu kali ke berapa aku jatuh cinta padanya.

Astaga! Kenapa aku justru mengingat yang baik-baik tentangnya? Aku sedang membencinya, marah padanya. Ingat?

Dia selalu baik padaku. Selalu pehatian. Berbeda tegak lurus dengan tipe pria pujaanku yang seperti karakter badboy dalam manga remaja, pria yang berantakan dan menyebalkan namun mencintai gadisnya sepenuh hati. Yonghwa-ku ini terlalu baik malah. Negatifnya, dia baik kepada semua orang, kepada semua wanita, tepatnya. Dia baik pada setiap gadis yang ditemuinya. Dia pikir dia gentleman? Tidak tahukah dia aku sesak napas melihatnya memberi perhatian pada gadis lain? Tapi dia tidak menyadarinya. Dia tidak menyadari betapa aku takut setengah mati, tentang kehilangannya. Jika dia tahu betapa mengerikannya perasaanku, betapa posesifnya egoku, akankah dia akan meninggalkanku? Seperti halnya pria brengsek sebelum Yonghwa? Aku takut… kehilangannya.

Kenyataannya sekarang aku benar-benar kehilangan sosoknya.

Hari itu. Aku kehilangannya di hari itu. Itu baru terjadi kemarin tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan tanpanya dan mataku sekarang sudah terlalu bengkak untuk bisa meneruskan menangis. Hari itu, dia datang ke rumahku pagi-pagi sekali, memaksaku bangun dan mandi—yang merupakan pekerjaan paling kubenci di dunia kedua setelah olahraga—dan mengajakku ke satu tempat yang mendengarnya saja sudah membuatku nyaris hilang kesadaran. Rumahnya. Tidak. Ini lebih lebih mengerikan daripada diajak masuk ke neraka! Dia ingin memperkenalkanku pada orang tuanya, dia baru mengatakannya ketika sudah hampir sampai. Saat itulah, aku harus mati-matian menahan diri agar tidak melompat dari motornya detik itu juga.

Aku menatap pakaianku yang seadanya. Aku tidak tomboy, tapi juga tidak bisa disebut feminin mengingat kepayahanku untuk sekedar mengetahui cara memakai bedak yang benar. Yang jelas aku sangat tidak fashionable dengan kebutaanku untuk membedakan apakah warna bajuku akan sesuai dengan rok yang kupakai atau tidak. Entahlah, tapi orang-orang biasanya menyebutku jemuran berjalan. Rambutku yang dikepang asal. Tasku yang butut dan merupakan tempat sampah pribadiku. Keseluruhannya tidak ada yang beres. Tapi di atas itu semua, yang paling kacau adalah mentalku. Aku tidak pandai bicara. Aku selalu ingin berusaha bersopan santun pada orang lain, sayangnya, biasanya semua hanya berakhir dengan memalukan dan cenderung kasar. Aku bahkan tidak bisa memasak atau apapun yang diidamkan seluruh calon mertua di dunia ini. Oke, aku benci diriku.

Kucengkeram ujung jaket Yonghwa-ku erat-erat begitu memasuki rumahnya. Dan menunduk, berharap lantai dapat berubah menjadi semacam superhero dan menolongku. Tidak ada. Tidak ada keajaiban apapun sampai aku mengangkat kepalaku dan menemukan pemandangan yang membuatku sakit kepala.

“Yong-ah? Kau sudah pulang? Ini Kim Jin-Ah, yang ingin eomma jodohkan denganmu itu.”

Gadis itu, yang duduk di antara keluarga besar Yonghwa, aku mengenalnya. Dia cantik, tidak terlalu, tapi jika dibandingkan denganku pasti dia akan tampak begitu cantik. Dia tidak terlalu punya otak, menurutku. Hanya menurutku, karena semua orang pasti akan menganggapnya pintar dengan Jurusan Bahasa Inggris yang dia pilih, dan orang-orang tidak akan tahu bagaimana kemampuan akademisnya di sana. Dia mungil, lebih pendek dariku. Tapi bukankah sekarang tubuh mungil sedang tren? Para pria menyukainya, bukan? Dan yang terpenting… dia manis, dia sangat feminin, dia sopan, dia… tampak begitu berkilau sementara aku seolah berdiri di salah satu sudut gelap sebagai bayangannya. Dan apa katanya tadi? Dijodohkan? Aku pernah mendengar itu, Yonghwa sendiri pernah menceritakan soal gadis yang pernah ingin dijodohkan untuknya. Tapi untuk berada dalam situasi dimana kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, kekasihmu dijodohkan dengan gadis lain di rumahnya sendiri oleh keluarga besarnya, adalah semacam vonis mati untukku.

Seluruh keluarga menatapku dengan ganjil. Seakan… seharusnya aku tidak berada di sana.

“Aku… aku… Ah, Yonghwa ssi, temanku. Kau tidak perlu tumpangan lagi, kan? Jadi aku bisa pulang.”

Aku meraih kunci motorku seraya berpaling pergi. Kebetulan, tadi pagi Yonghwa lebih memilih memakai motor kakak laki-lakiku dan menitipkan miliknya di garasiku. Setidaknya, aku bisa menggunakan ini sebagai alasan. Meski aku tidak yakin. Aku takut mengendarai motor. Yonghwa tahu pasti betapa payahnya diriku dalam mengemudikan kendaraan apasaja selain sepeda. Benar saja, aku terjatuh dua blok dari rumahnya. Dan kemudian menangis seperti orang gila, meski tidak ada luka yang terlihat.

Dia tidak mengejarku sampai ke sana.

Sekali lagi, aku mengosongkan gelasku dan melangkah ke tempat tidur. Kepalaku masih berputar-putar, dan aku merasa seperti ingin tidur, mengistirahatkan otak juga hatiku.

 

***

Terdengar ketukan di pintu, dan harus kukatakan, itu mengganggu.

“Aku sedang tidur,  jangan ganggu aku atau kepalamu akan kucukur!” omelku sekenanya dalam suara parau mengerikan, menduga itu adalah kakak laki-laki setanku yang sedang iseng ingin menyalurkan keiblisannya lagi, aku selalu jadi korbannya.

Tapi yang kemudian kudengar bukanlah suaranya. Suara ini… terlalu familiar, sehingga hampir seperti mimpi. Aku… terlalu merindukan suara ini. Kapan terakhir aku mendengarnya? Semalam. Baru satu hari yang lalu, satu hari yang terasa seperti sejuta tahun di neraka. Sekarang, aku masih tidak yakin apakah aku mau mendengar suaranya, mau bicara dengannya. Aku bahkan sudah mengabaikan ratusan panggilan telpon darinya. Cerobohnya, aku tidak mengunci pintuku dan membiarkan dia masuk begitu saja. Aku merasakannya, melalui telingaku yang menempel ketat pada bantal, meskipun aku sedang memunggungi pintu, aku dapat mendengarkan setiap langkahnya. Lalu, aku hampir bisa merasakan napasnya, aku merasakan kehadirannya begitu dekat denganku.

“Yeonni-ya~” panggilnya, setengah berbisik di belakang telingaku, tidak cukup dekat, aku tahu dia meragukan apakah aku menerima kehadirannya di sini atau tidak.

“Hei, Cho Yeon Hee, gadisku yang bodoh. Apa yang sedang kau lakukan, huh?”

Dengan mata terpejam rapat, aku masih mencoba bergeming dan tidak menggubrisnya. Aku menggigit bibirku diam-diam, tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Satu hal yang aku lupa, pria jelek di belakangku ini tidak bodoh, dan dia tidak sebaik wajahnya yang bak malaikat itu. Dia menarik beberapa helai rambutku, dan sebelum aku berhasil bereaksi, dia melakukannya lagi. Trik murahan. Dia menarik rambutku hingga aku terkesiap dan melompat duduk, menghadapnya. Ia sedang berlutut di sisi tempat tidur.

“APA?!!” tanyaku galak, menahan diri agar tidak terlalu memperhatikannya. Wajahnya… entah bagaimana aku begitu merindukannya.

Yonghwa menatapku, sorot matanya yang teduh menyiratkan keterlukaan. Ada sakit yang sepertinya sedang menderanya. “Jangan menghindariku lagi.”

Dan aku terdiam. Hanya itu yang dikatakannya, tapi semua terasa sudah begitu banyak. Terasa… cukup bagiku untuk luluh.

“Kalau kau marah denganku, kau boleh memukulku, memakiku, menjambakku… apapun. Tapi jangan menghindariku. Aku tersiksa… karena merindukanmu.” Ia mengangkat tangannya, menyapukan ibu jarinya pada pipiku yang terasa lengket, aku masih dapat merasakan bekas airmata yang hampir mengering di seluruh wajahku. “Dan lihatlah matamu. Jangan. Pernah. Lagi. Menangis. Di belakangku,” tambahnya, dengan penekanan di setiap kata.

Semua ini terasa tidak benar, kan?

“Kau,” aku menatapnya. “Kenapa datang ke sini? Kenapa tidak bersenang-senang dengan Kim Jin-Ah? Dia cantik. Dia… jauh lebih cantik dariku, lebih pintar, lebih manis, lebih sopan—“

“Tapi dia bukan pacarku.” Ucapannya memotong perkataanku. Pria itu sekarang tersenyum tipis dan menarik napas seperti lega, seolah satu buah batu telah diangkat dari dadanya. “Aku sudah menolaknya sejak awal. Dan kalau kau mau tahu, dimataku tetap sama. Pacarku adalah yang paling cantik, paling pintar, paling manis… yah, meski ia tidak begitu sopan—“

“YAK!”

“Dia agak sensitif,” dia melanjutkan, “pencemburu berat, sedikit galak, tukang merajuk, mudah menangis, dan dia sangat pemalas. Tapi… tetap saja, dia adalah favoritku, hal paling kusukai di dunia ini. Aku sudah hidup tanpanya selama dua puluh dua tahun awal hidupku, tapi untuk hidup tanpanya ke depan, aku tidak bisa membayangkan. Aku tidak bisa. Aku ingin bersamanya dan tidak pernah melepaskannya. Kau harus tahu itu.”

Saat itu, seluruh kata rasanya menguap dari otakku. Aku tidak bisa mengatakan apapun, melakukan apapun untuk meresponnya, kecuali pipiku yang memanas. Tidak! Aku khawatir aku akan bertindak bodoh lagi dalam keadaan seperti ini, saat ia membuatku tersipu dan mengacaukan detak jantungku.

“Jangan pernah lagi berpikir aku akan meninggalkanmu untuk gadis lain. Jika mereka tidak seajaib Yeon Hee-ku, maka mereka benar-benar tidak penting. Paham?”

Aku mengangguk nyaris tak kentara. Tiba-tiba merasa sesak dan lega sekaligus. Tersedak oleh tangisan yang tadi kutahan-tahan. Aku terisak pelan, dengan bibir mencebik yang kututup rapat-rapat, aku tidak mau menangis lagi. Meski kali ini dengan perasaan berbeda. Apa ya… terharu mungkin. Bahagia, tepatnya.

“Dan satu lagi,” kali ini, pria jelek itu tersenyum. Jenis senyum yang sama yang membuatku jatuh padanya berkali-kali. Jenis senym yang sama yang akan selalu menjatuhkanku, terpesona olehnya untuk kali ke sekian. Aku tidak lagi bisa menyebutnya jelek dengan senyum itu menghiasi penuh bibirnya. Yonghwa mengeluarkan satu tangannya yang dari tadi tersembunyi di belakang punggung, sesuatu berada di atasnya.

Tebaklah. Sesuatu itu cukup besar dan panjang dalam bungkus plastiknya, namun ringan, berwarna merah muda, beraroma manis, dan membuat pandanganku berbinar seketika!

“Permen kapas!” Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku mengambilnya, setengah memeluk permen kapas itu penuh terima kasih.

Yonghwa menghela napas, pura-pura lelah. Namun senyum belum meninggalkan bibirnya. “Seharusnya dari awal aku tahu, membujukmu hanya perlu benda semurah ini.”

Oh ya, dia berani mengejekku lagi.  Dan aku tidak berminat memedulikannya. Aku membuka permen kapasku, mengambil sebuah robekan besar dan memasukkan salah satu ujungnya ke mulutku, membiarkan sisanya keluar dari bibirku, aku akan memakannya pelan-pelan. Pria itu menghancurkan rencanaku. Dengan cepat ia bergerak, menggigit permen kapasku dari sudut yang lain, membuatku mengalami syok mental karena jarak yang terlalu dekat dengannya. Bibirnya… hanya terpaut hitungan tidak sampai dua senti dari milikku. Dia menyeringai.

“Yeonni-ya~”

Aku tidak menjawab, jiwaku sepertinya bertebaran akibat kejutan tadi dan belum bisa dikumpulkan dalam waktu dekat.

Ia melanjutkan. “Aku mencintaimu. Tolong jangan lupakan itu.”

 

END

32 thoughts on “[FF Competition] The Way to Come Back

  1. Hey.. Am i first ? *who care* haha

    Dear Me, YongHee selalu manis dimata gua. Semanis cotton candynya YongHwa.
    Sayang bgt lo cuma dikasih 2k words.
    Kalo ga dibates, banyak bgt space2 kosong yg bisa diisi tuh.

    • Iya mate, sebenarnya masih banyak yg pengen gua tulis, mungkin ntar kpn2 gua remake lagi. Menang atau kalah, gua udah bahagia bisa nulis ini, wkwk

  2. Eon bru bca!!
    Oke,ini Cho Yeon Hee sekali dan eon smpt jd envy pny cowok yg romantis!hahaha #bow
    Utk kesekian kalinya semoga kau tidak merona dgn Yong dsni yg bkin melting! #plakk
    Katakanlah eon miss typo tp emg eon msh nemu bbrp typo,dan over all ini manis sekali.
    Good Luck buat kompetisinya!!!

    • Sebenarnya eon, berhubung aku yg nulis, mengalami dan membayangkan, aku merona setiap saat. Ini lebih ke curhat dg bumbu2 fiksi sih… Haha

  3. intinya sih kurang panjang😀

    Yonghwa emang pria kalem yang menawan, yang suka bkin blushing abis2an. . .

    Dan Yeonhee, ah~ dia emang ajaib

  4. Reblogged this on Naya's Tales and commented:
    Here it is. FF abal yang saya buat sambil mesem2 sendiri. DIpersembahkan untuk hubby, dan you guys, those love Yong-Hee couple. Take a happy reading!😀

  5. waaaa si yong co cweeet bgt ah snyum2 kaya org gila bayangin ni ff kereeennn gak bosenin bahasanya gk di peralus haha

  6. jadi ini semacam ficlet tentang usaha yong hwa ngebujuk yeon hee ya? manis dan bikin melting. tapi si yeon hee agak lebay ya, belom denger penjelasan langsung ambil kesimpulan dan uring2an sendiri. makanya itu yong hwa pagi2 ngajak yeon ke rmh pasti buat nunjukin kalo dy dah punya cewe makanya gk bisa terima perjodohan itu, eh si yeon hee langsung kabur aja. ck ck. salut sama yong hwa yg tetep sabar punya cewe macem yeon hee-_-“

  7. Haiiiii salam kenal…………(^_^)/

    Iiihhhh mau juga dong makan permen kapas berdua’an……Kkkkkkkkkkk~ itu marga’nya Cho??? Apa adik’nya Cho Kyuhyun?? (◦’⌣’◦ )

  8. Alurnya sederhana ,tapi bisa menggambarkan bagaimana cinta tanpa memandang apa yang ada pada diri kita ,cinta yang begitu tulus dan menerima. Because no bodies perfect.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s