[FF Competition] We Belong Together

Judul FF          : We Belong Together

Genre              : Romance-friendship

 

Aku memperhatikanmu lebih dari yang kau lihat.

Aku menginginkanmu lebih dari yang kau kira.

Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu.

Mungkin kau tidak menyadarinya, tetapi suatu hari nanti kau pasti akan menyadarinya.

Tidak ada yang mencintaimu seperti aku mencintaimu.

Lee Jonghyun tidak pernah lelah untuk memperhatikan Kim Hanna. Kedua iris gelapnya senantiasa bergerak mengikuti perpindahan gadis itu. Entah sudah seberapa sering ia melakukan hal ini, menonton Hanna berlatih menari bersama teman-teman satu klub-nya.

Ia sangat menyukai bagaimana Hanna meliukkan tubuhnya dengan anggun. Ia juga menyukai sorot serius yang dipancarkan melalui kedua mata gadis itu. Bahkan ia juga menyukai Hanna yang akan tersipu malu ketika salah melakukan gerakan.

Saking seringnya menonton Hanna berlatih, Jonghyun tahu kebiasaan-kebiasaan gadis itu ketika sedang menari. Ia tahu Hanna lebih suka menari sambil memejamkan kedua matanya ketika lagu yang mengiringinya berirama pelan. Sebaliknya, ia akan sangat kaya dengan ekspresi ketika mendapatkan lagu yang bertempo cepat. Ia sangat mengenal setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh Hanna dalam gerak tariannya. Ia juga tahu Hanna akan menundukkan kepalanya ketika ia melakukan kesalahan.

Jonghyun juga tahu bahwa Hanna akan selalu menatap ke tempat dimana ia duduk menunggunya setiap kali ada kesempatan. Hanna akan tersenyum ketika kedua pasang mata mereka bertemu. Kemudian setiap kali latihan berakhir, Hanna akan langsung berlari ke arahnya.

“Hei,” sapa Hanna ketika akhirnya ia mencapai tempat Jonghyun.

“Sudah selesai?” tanya Jonghyun sambil tersenyum.

Hanna menganggukkan kepalanya. “Tunggu aku. Aku akan berganti pakaian dulu,” ucapnya.

“Aku sudah menunggumu sejak dua jam yang lalu, Hanna-ya. Tentu saja menunggumu beberapa menit lagi bukan masalah bagiku,” sahut Jonghyun.

Hanna tertawa mendengar ucapan Jonghyun. “Gomawo. Kau memang sahabat terbaikku, Jonghyun-ah,” katanya.

Usai berkata seperti itu, Hanna meninggalkan Jonghyun seraya melambaikan tangannya.

Jonghyun tersenyum miring dengan kedua mata yang masih melekat pada sosok Hanna yang menjauh. Ia sudah mengenal Hanna selama lebih dari separuh hidupnya. Waktu yang lebih dari cukup baginya untuk mengenal sepenuhnya seluk-beluk seorang Kim Hanna.

Saat mereka berdua masih kecil, ia tidak segan-segan untuk memukul anak-anak nakal yang membuat Hanna menangis. Ia juga tidak ragu untuk memarahi gadis-gadis kecil yang mengejek Hanna. Jonghyun sangat menyayangi Hanna seperti adiknya sendiri. Ani—ia terlalu menyayanginya. Sampai ia tidak menyadari sejak kapan perasaan itu berubah. Ia tidak lagi menyayanginya, tetapi ia mencintai Kim Hanna.

Hanna merintih pelan selagi Jonghyun memeriksa kaki kanan-nya. Warna biru lebam tampak jelas dibawah lampu jalanan yang menyinari mereka. Hanna merutuki dirinya sendiri yang tidak berhati-hati saat berjalan. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan sampai-sampai ia melewatkan satu anak tangga dan akhirnya terjatuh dengan suksesnya?

“Kakimu harus segera dikompres,” kata Jonghyun sambil mengurut lembut pergelangan kaki Hanna yang mulai membengkak.

“Ah! Ya! Sakit tahu!” Hanna menggeram ketika Jonghyun menyentuh bagian yang terasa sangat sakit baginya. “Kau ini sebenarnya mau menolongku atau menyakitiku sih?”

Jonghyun menghela napasnya. Lelaki itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangannya. Dengan giginya, ia merobek sapu tangan itu menjadi lembaran panjang. Hanna terperangah ketika melihat apa yang dilakukan oleh Jonghyun.

Ya! Lee Jonghyun! Apa yang kau lakukan? Itukan sapu tangan yang berharga untukmu!” Hanna berteriak ngeri sambil menatap sapu tangan yang sudah terbelah menjadi dua bagian itu.

Hanna tahu. Ia sangat tahu betapa berharganya sapu tangan itu bagi Jonghyun. Sapu tangan itu adalah pemberian dari ibu Jonghyun yang sudah tiada. Ia tahu Jonghyun begitu menjaga sapu tangan itu karena benda itu merupakan benda kenangan yang diberikan oleh ibunya. Tetapi apa yang laki-laki itu lakukan sekarang? Ia merobek benda penting itu demi Hanna.

“Ini lebih penting,” jawab Jonghyun singkat sambil mulai melilitkan sapu tangan itu pada bagian kaki Hanna yang memar. Sebagai seorang anggota dari klub Judo, Jonghyun tahu benar bagaimana cara memberikan pertolongan pertama ketika mengalami kesleo atau memar ringan seperti ini.

Hanna mengamati Jonghyun yang sedang sibuk mengurus kakinya seraya menggigit bibir bawahnya. Selama ini baginya, Jonghyun adalah sahabat terbaiknya sekaligus kakak yang tidak pernah dimilikinya. Ia sangat menyayangi Jonghyun dan ia bersyukur memiliki laki-laki berkulit putih itu sebagai sahabatnya.

“Cha!” Jonghyun selesai dengan pertolongan pertamanya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjongkok membelakangi Hanna yang terduduk di anak tangga tempat ia terjatuh.

“Naiklah. Aku akan menggendongmu pulang,” ujar Jonghyun.

Hanna mengerjapkan kedua matanya tanpa menggerakkan sedikitpun anggota tubuhnya. Ia hanya menatap punggung Jonghyun dengan gugup.

“Apa yang kau tunggu? Ayo cepat naik,” kata Jonghyun lagi.

“A—aku bisa jalan sendiri,” balas Hanna sambil berusaha bangkit berdiri, tetapi rasa nyeri yang menjalar dengan cepat membuatnya terduduk lagi.

Jonghyun melihatnya dan mendengus. “Huh, jangan membuatku tertawa. Berdiri saja kau tidak sanggup,” ejeknya.

Hanna menggembungkan pipinya kesal dan memukul punggung Jonghyun. “Ya!” serunya.

“Sudahlah, cepat naik,” ucap Jonghyun dengan nada yang lebih lembut.

Akhirnya Hanna melingkarkan lengannya di sekeliling leher Jonghyun, membiarkan lelaki itu menggendongnya. Keheningan menyelimuti mereka sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Hanna, membiarkan mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Hanna menundukkan kepalanya, mencium aroma khas Jonghyun yang selalu disukainya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya dan ia tidak tahu mengapa ia merasa begitu gugup seperti ini.

“Jonghyun-ah.” Hanna memanggil Jonghyun, berusaha mengabaikan kegugupannya.

“Hmm?”

Gomawo.”

“Ia sangat tampan dan baik hati! Ia membantuku memungut buku-buku-ku yang terjatuh. Ia juga meminta maaf padahal akulah yang menabraknya. Astaga, Jonghyun-ah, bukankah ini seperti yang ada dalam drama?”

Jonghyun menahan napasnya. Hatinya terasa tercabik-cabik menyakitkan ketika Hanna menceritakan pertemuannya dengan seorang lelaki baik hati di depan perpustakaan. Saat itu juga rasa takut muncul dalam dirinya. Ia takut akan kehilangan Hanna. Bukankah itu menggelikan? Mengapa ia merasa takut kehilangan, bahkan ketika Hanna bukanlah miliknya?

Ia tahu, bagi Hanna, ia hanyalah seorang sahabat dan kakak. Mungkin selamanya, hanya itulah arti dirinya bagi Hanna. Tetapi Jonghyun juga tidak bisa memungkiri bahwa hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar kalimat berikutnya yang diucapkan oleh Hanna.

“Jonghyun-ah, menurutmu apakah—apakah aku sedang jatuh cinta?”

Rasanya menyakitkan ketika kau memiliki seseorang yang selalu berada di sampingmu, tetapi kau bahkan tidak bisa menggenggam tangannya.

“Jonghyun-ah, ia menembakku! Kami sudah resmi berpacaran!”

Jonghyun menatap wajah Hanna yang berseri-seri. Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang  bahagia. Jonghyun berusaha keras untuk menarik sudut bibirnya agar menjadi sebuah senyuman. Ia membuka mulutnya untuk mengucapkan selamat, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Chukhahae.” Sepotong kata singkat itu akhirnya berhasil lolos dari mulut Jonghyun.

Hanna tersenyum manis. Senyum yang biasanya selalu menentramkan bagi Jonghyun, tetapi kali ini justru mengiris hatinya menjadi potongan-potongan kecil.

Gomawo, Jonghyun-ah. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku menyayangimu!”

Mereka bilang kau tidak pernah tahu apa yang kau miliki sampai kau kehilangan itu. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kau tahu dengan jelas apa yang kau miliki. Hanya saja kau mengira kalau kau tidak akan pernah kehilangan itu.

Dan Lee Jonghyun tidak pernah mengira ataupun berpikir bahwa ia akan kehilangan Kim Hanna.

Jika kau mencintai seseorang, kau harus berani untuk mengungkapkannya. Jika tidak, maka kau harus siap kehilangan dirinya.

Jonghyun tidak pernah berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada Hanna. Ia terlalu takut untuk kehilangan Hanna jika gadis itu tidak merasakan hal yang sama dengannya. Ia tidak ingin merusak persahabatan mereka yang sudah terjalin begitu lama.

Ia tahu suatu saat nanti mungkin akan ada laki-laki lain yang tertarik pada Hanna dan mendekatinya. Hanna adalah gadis yang cantik dan periang. Ia memiliki semua yang mungkin diinginkan oleh laki-laki. Ia juga tahu suatu hari nanti Hanna mungkin akan bertemu seorang laki-laki yang dianggapnya sebagai pangerannya. Tetapi Jonghyun hanya tidak pernah memikirkan bahwa semua ini akan terjadi begitu cepat.

Ia belum siap. Hatinya tidak cukup kuat untuk menerima kenyataan yang ada di hadapannya sekarang. Bahwa ia bukan lagi satu-satunya lelaki yang berada di sisi Hanna. Ia bukan lagi satu-satunya lelaki yang akan melindungi dan menjaga Hanna. Dan ia bukan lagi satu-satunya lelaki yang ada dalam hati gadis itu.

Jonghyun bersumpah ia ingin sekali membunuh laki-laki itu. Jika bertemu dengannya nanti, ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghajar laki-laki itu. Laki-laki yang sudah membuat Hanna-nya menangis. Laki-laki yang membuat Hanna memancarkan sorot mata terluka.

“Ia berselingkuh di belakangku, Jonghyun-ah! Tega sekali ia melakukan itu padaku!”

Suara isak tangis Hanna terdengar begitu memilukan di kedua telinga Jonghyun. Lelaki itu merasa hatinya jauh lebih hancur ketika mendengar suara tangisan Hanna dibandingkan ketika gadis itu dulu mengumumkan hubungannya.

Jonghyun menggeram dalam hatinya. Ia selalu berusaha membuat Hanna bahagia, supaya gadis itu tidak perlu meneteskan satupun airmata kesedihan. Tetapi kini hanya karena seorang laki-laki yang tidak tahu diri, kristal-kristal bening mengalir tanpa henti dari kedua mata cantik milik Hanna.

Jonghyun merengkuh Hanna ke dalam pelukannya. Ia mengusap pundak gadis itu seolah sedang menenangkan anak kecil yang menangis, berharap sentuhan kecilnya bisa membuat Hanna merasa lebih baik. Ia berharap Hanna tahu bahwa ia akan selalu ada di sisinya. Jonghyun tidak akan pernah meninggalkannya dan ia tidak akan pernah menyakitinya.

5 years later

Jonghyun memperhatikan dengan seksama sebuah benda berbentuk persegi empat dengan pita perak tersemat di bagian depannya. Ia mengusap untaian huruf J dan H yang tercetak dalam tinta emas di sampul benda itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Sepasang lengan melingkari leher Jonghyun, memeluk lelaki yang sedang duduk itu dari belakang. Jonghyun tersenyum dan menyentuh lengan itu lalu mengusapnya lembut.

“Bukan apa-apa. Hanya sedang memikirkan masa lalu,” jawab Jonghyun.

Hanna mengerutkan keningnya dan melonggarkan pelukannya, membuat Jonghyun berbalik menatapnya. Ia tersenyum ketika ia membaca kebingungan dalam raut wajah Hanna.

“Aku hanya berpikir, seandainya saat itu aku tidak jujur padamu mengenai perasaanku, apakah sekarang kita akan bersama seperti ini?” jelas Jonghyun.

Lima tahun yang lalu, beberapa hari setelah Hanna putus dengan kekasihnya, Jonghyun memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Ia sudah tidak ingin lagi memendam perasaannya sendirian dan melihat Hanna kembali dimiliki oleh orang lain

Ia sudah mempersiapkan dirinya dengan segala resiko terburuk yang mungkin diterimanya, termasuk kehilangan Hanna. Ia menahan napasnya, menunggu penolakan atau mungkin cacian yang akan dikeluarkan oleh gadis itu, tetapi yang didapatinya justru adalah Hanna yang menghambur ke dalam pelukannya. Gadis itu berulang kali memukuli dada bidang Jonghyun sambil terisak pelan, mengatai Jonghyun adalah laki-laki paling bodoh yang pernah ia temui, laki-laki paling tidak peka dan pengecut karena membutuhkan waktu sekian lama untuk jujur akan perasaannya. Bagian yang akhirnya membuat Jonghyun tersenyum lega adalah ketika Hanna mengatakan bahwa gadis itu juga mencintainya.

“Jika kau tidak melakukannya, maka besok aku pasti akan menikah dengan orang lain, bukan dengan dirimu,” sahut Hanna.

Ya!” Jonghyun melompat berdiri dan memandang calon istrinya dengan tatapan jangan-bercanda.

Hanna meledak tertawa melihat ekspresi Jonghyun. Ia terus terkekeh tanpa mempedulikan Jonghyun yang menyipitkan kedua matanya.

Ya! Kim Hanna, berhenti tertawa,” gerutu Jonghyun, “atau aku yang akan membuatmu berhenti tertawa.”

Tanpa menunggu reaksi dari Hanna, Jonghyun segera membungkam gadis itu dengan bibirnya. Hanna jelas saja terkejut dengan serangan mendadak dari Jonghyun, tetapi kemudian ia melingkarkan kembali kedua lengannya ke leher Jonghyun dan memperdalam ciuman mereka.

“Aku mencintaimu,” bisik Jonghyun sambil tersenyum di sela-sela kegiatan mereka.

“Aku juga,” balas Hanna sebelum kembali mempertemukan bibirnya dengan milik Jonghyun.

Orang-orang yang ditakdirkan untuk bersama, pada akhirnya akan selalu menemukan satu sama lain.

END

2 thoughts on “[FF Competition] We Belong Together

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s