[FF Competition] Whatever

Whatever

Romance – Friendship

 

“Whatever you do, Whatever you say, Yeah I know it’s alright”

(Noel Gallagher)

 

Angin berhembus menggelitik badanku dan membuat dedaunan pada ranting-ranting pohon seakan-akan melambai kearahku, aku hanya bisa menunduk malu melihat daun-daun itu. Mereka seperti menertawakanku ketika angin menggeseknya.Di malam yang dingin ini aku hanya bisa menangis dan menangis, meratapi nasib yang kuterima.Hari ini adalah hari terburuk yang pernahku alami, disaata ku selalu bisa mendapat apa yang ku mau dan kali ini aku gagal. Rasanya dunia ini seperti hancur, apa yang kulihat dan kulakukan tak memiliki arti lagi. Lalu apa gunanya pencapaian ku selama ini? Sekolah yang tinggi, lulus dengan predikat yang memuaskan, tetapi hanya karena masalah kecil aku kehilangan semuanya. Bagaimana bisa mereka memecatku hanya karena masalah kecil dan membuatku luntang-lantung sekarang. Dan malam ini aku pulang membawa gaji terakhirku, berjalan sambil terisak-isak, menyirami sepanjang Jalanan Hogdae dengan air mataku yang terus bercucuran sampai akhirnya aku mencoba untuk duduk sebentar disebuah bangku taman yang sepi.

Malam semakin larut dan aku masih saja menangis, menampikkan segala hal yang telah terjadi padaku hari ini.Aku tidak percaya dengan semua ini.Ini hanya mimpi buruk, ya ini hanya mimpi buruk. Tetapi hal ini terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi. Lalu tanpa sadar, ternyata ada seorang pria duduk disampingku. Sepertinya ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Aku tidak peduli apa yang akan ia lakukan dan hanya focus dengan tangisanku. Tiba-tiba saja aku seperti mendengar suara marakas yang datang dari arah, kanan ku. Ya pria itu memainkan sebuah marakas yang terbuat dari botol yakult. Temponya sangat stabil, pikirku. Aku masih terisak-isak ketika medengarnya bernyanyi.

“Hold on.. Don’t be scared.. You’ll never change what’s been and gone”

Aku mulai berhenti menangis. Nyanyiannya sepertinya menarik perhatianku. Dia bernyanyi dengan tenang sambil memainkan marakas-nya. Memejamkan matanya dan membiarkan bibirnya melafalkan kata-kata indah dari lagu itu. Aku juga memejamkan mataku menikmati alunan musik yang indah dari suaranya yang lembut..

“Cause all of the stars are fading away

Just try not to worry, you’ll see them someday

Take what you need and be on your way

And Stop Crying Your Heart Out..”

Seketika aku tersentak mendengar kalimat terakhir dari lagu itu dan ia terus mengulangi bagian lagu itu. Hatiku tersentuh mendengarnya. Apakah dia bernyanyi untukku? Aku benar-benar berhenti menangis sekarang seiring ia menyelesaikan nyanyiannya.

“Berhentilah menangisi ihatimu..”, dia berkata kepadaku sambi lmenyodorkan sebuah sapu tangan kearahku.

“Terima kasih”, aku menerima sapu tangan itu dan mengahapus sisa-sisa air mata diwajahku. Dia hanya tersenyum ketika ku menerima sapu tangan nya.

Dia kembali memain kan marakasnya, kali ini dengan lagu yang berbeda. Aku benar-benar menikmati ketika ia bernyanyi. Dia seakan-akan ingin menyampaikan pesan melalui lagu yang ia nyanyikan. Kalimat-kalimat seperti ‘You free to be whatever you’, ‘you always see what people want you to see’ pada lagu itu membuatku berpikir tentang diriku. Dia menyanyikannya dengan setiap detail makna dari lagu itu. Membuatku merasakan apa makna dibalik lagu itu. Dia menyelesaikan lagu yang kedua dan berkata kepadaku,

“Kadang kala manusia selalu berambisi untuk mendapatkan semua yang ia inginkan, sampai-sampai ia merasa sangat gagal ketika ia tidak bisa mendapatkannya”, dia mengatakannya sambil menatapku. Aku menatapnya. Dia berkata dengan mata yang sendu.

Pria itu menunjuk langit.

“Malam ini mungkin tidak ada bintang, tapi bukan berarti kau tidak dapat melihat bintang bukan? Kau akan melihatnya suatu saat nanti. Begitu juga dengan hidup. Mungkin saat ini kau gagal, tapi percayalah kau akan berhasil suatu saat nanti”,  dia mengatakannya dengan bijak dan tetap memandangi langit malam.

Aku melihat wajahnya yang tenang. Rambut coklatnya menutupi dahi. Dia tampak terlihat masih muda dengan pemikiran yang bijak seperti itu. Gayanya pun seperti anak muda yang tengah keluyuran malam hari, hanya memakai hoodie dengan t-shirt dan celana jeans. Tetapi dia seharusnya terlihat dewasa dengan pemikiran seperti itu.

“Darimana kau tahu?”,aku mencoba menantangnya untuk membuktikan perkataannya itu.

“Hey aku ini lebih tua darimu”, dia berkata sambil tertawa.

Ketika tertawa ia tampak seperti sedang memejamkan mata. Sangat lucu memang. Saat tersenyum pun matanya akan ikut tersenyum pula. Dia sepertinya pria yang lucu, pikirku.

Lalu dia melanjutkan perkataanya,

“Aku juga mengalami hal yang sama denganmu. Hanya tinggal selangkah lagi aku mendapatkan mimpi itu, tetapi sayang Tuhan berkehendak lain. Aku baru menyadari bahwa Tuhan ternyata memberikan sesuatu yang lebih baik untukku.Dan sekarang aku bahagia menerimanya”.

Dia mengatakannya dengan sekali-kali membunyikan marakasnya.

“Darimana kau mengetahui masalahku?”,aku lagi-lagi menantangnya. Aku merasa dia sok tau dengan masalahku

“Dari matamu.. Mata seorang wanita tak akan mungkin berbohong”, dia berkata sambil menatapku.Wajahku seketika memerah.Dia hanya tertawa melihat wajahku memerah. Lagi-lagi matanya tampak terpejam ketika tertawa. Aku tersenyum melihat ekspresinya ketika tertawa.

Dia mengambil sebuah spidol dan menuliskan sebuah frasa pada telapak tangan ku. Sebuah frasa yang ia ambil dari lagu yang barusan ia nyanyikan. Aku tersenyum melihat frasa itu. Dia kembali tersenyum kepadaku sambil mengusap rambutku. Ah senyum itu memang menenangkan. Aku menyandarkan kepalaku pada lengannya. Dia kembali bernyanyi dan meninabobokanku. Dimalam yang dingin ini aku tak merasa kedinginan bersandar dilengannya. Terasa hangat sekali sampai-sampaiku terlelap dibuatnya.

Matahari sudah muncul dan aku baru sadar tertidur diatas bangku taman. Pria itu tidak tampak lagi disampingku, sepertinya dia sudah pergi terlebih dahulu. Aku segera beranjak dari bangku dan bergegas balik ke rumahku. Senyuman dan matanya yang tersenyum itu masih terekam jelas dipikiran. Aku senyum-senyum sendiri membayangkannya di sepanjang jalan pulang ke rumahku.

***

Satu hari setelah pertemuanku dengan pria itu, aku memutuskan untuk kembali ke taman itu untuk menemuinya. Aku harus menemuinya untuk berterima kasih kepadanya. Tak ku sangka apa yang ia katakan kepada ku itu benar adanya. Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya, dan aku baru menyadarinya sekarang. Kemarin setelah pulang dari taman itu, aku menemukan sebuah surat bertengger di kotak pos depan rumahku. Surat itu dari Kedutaan Besar ditujukan untukku. Tanganku gemetar ketika membukanya, namun kali ini apapun yang terjadi aku tidak boleh menangis. Aku ingat akan nyanyian pria itu, kata-kata bijak yang diucapkannya. Aku harus kuat menghadapi semuanya. Aku membaca surat itu dan ternyata aku kembali menangis. Tetapi kali ini aku menangis bahagia, aku akan melanjutkan studi ku ke Inggris dengan bantuan biaya dari Kedutaan Besar. Dan aku ingin menemuinya hari ini karena hal itu. Aku ingin berterima kasih kepadanya dan membuatkan kue untuknya dengan harapan aku bisa menemuinya lagi kali ini. Menceritakan semua kepadanya dan aku yakin dia pasti akan senang mendengarnya. Aku juga ingin berkenalan dengannya. Pria jangkung yang lucu itu, yang matanya selalu tersenyum ketika ia tersenyum.

Aku menunggunya dari pagi tadi hingga senja tiba, tetapi dia belum juga terlihat. Kepada siapa aku harus bertanya tentang dia? Namanya saja aku tidak tahu, apa lagi identitasnya yang lain. Yang ku tahu hanya wajahnya saja, senyumnya dan matanya itu. Aku hanya bisa mendeskripsikan penampilannya, itu saja. Sampai akhirnya malam menjelang dan ia tidak menampakkan dirinya sama sekali.

Dan sekarang sudah menunjukkan pukul 00.00, dan dia tidak muncul lagi dihadapanku. Aku pasrah karena tidak bisa melihatnya lagi karena sehari setelah hari ini aku akan berangkat ke Inggris. Ya mungkin aku tidak menemuinya lagi hari ini, tetapi suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya kembali dan berterima kasih kepadanya. Aku meletakkan kue yang ku buat di atas bangku taman itu dan menuliskan pesan diatasnya dengan harapan dia akan membacanya dan membalasnya. Lalu aku meninggalkan taman itu dengan sedikit kecewa dan kembali ke rumah.

***

Nyanyiannya itu masih terekam jelas dibenakku bahkan ketika aku berjalan mengelilingi Hongdae saat ini. Wajahnya, senyumnya, suaranya yang lembut itu, aku masih mengingatnya. Sepertinya hari ini aku ingin mengenang saat-saat ku bersamanya malam itu sebelum aku berangkat ke Inggris esok hari. Aku mengitari Hongdae saat ini, mempergunakan hari terakhirku di Korea sebaik-baiknya. Mengunjungi tempat-tempat yang ingin ku kunjungi. Salah satunya Toko Musik tua yang berada di sisi kanan jalan. Toko musik itu terlihat tua, bahkan poster-poster musik yang tertempel di depannya pun sudah terlihat usang. Tetapi ketika kau memasukinya, ada banyak vinyl (piringan hitam) dan kaset-kaset serta beragam CD musik legendaris yang akan kau temui. Toko ini terlihat tua, tetapi kau akan takjub melihat koleksi-koleksi berbau musik yang ada di dalamnya. Aku memasuki toko musik itu dan aku melihat ada seorang pria tua yang sedang merapikan koleksi-koleksi vinyl toko tersebut. Dia melihatku ketika aku memasuki Toko dan menyapaku dengan senyuman. Dia bertanya apa yang ingin ku cari. Aku bingung untuk menjawabnya dan memilih untuk melihat-lihat terlebih dahulu.

Ketika aku sedang melihat-lihat koleksi vinyl itu, pria tua itu menghidupkan sebuah lagu melalui turntable tua yang berada di sampingnya. Aku mendengar lagu itu. Lagu yang ia putar cukup menghibur dan aku menyukainya sejak aku mendengar alunan gitar pada intronya. Dan aku baru sadar, aku mengenal lagu ini. Kalimat-kalimat yang dinyanyikannya, aku kembali melihat tulisan yang ada ditelapak tanganku. Jujur saja, aku belum menghapusnya sampai saat ini. Aku langsung menghampiri Pria tua itu yang duduk di meja kasir disamping turntable yang memutar lagu itu. Pria tua itu sedang duduk termenung mendengarkan alunan lagu itu. Aku berada di depan pria tua itu. Pandanganku tertuju pada Sebingkai Foto yang terpajang di dinding Toko Musik itu. Lelaki pada foto itu dengan senyum yang tenang, rambut yang menutupi keningnya, dengan tatapan yang sendu, dan pada Foto itu diselipkan sebuah Tiket Konser bertuliskan ‘OASIS: Wembley stadium Friday 21st July 2000’. Ah tanggal konsernya sama dengan tanggal keberangkatanku ke Inggris besok, pikirku. Tidak bisa dipungkiri, aku mengenal sosok pria yang ada di Foto itu. Tidak salah lagi, itu foto pria lucu yang ku temui pada malam itu yang menyanyikan lagu yang sama dengan lagu diputar oleh Pria tua ini sekarang.

“Maaf Tuan, jika saya boleh tahu, apakah lelaki yang ada di foto itu adalah anakmu?”, aku bertanya kepada Pria itu sambil menunjuk Foto yang ku lihat.

Pria tua itu memandangi Foto itu.

“Ya itu anakku. Namanya Kang Minhyuk..”, dia mengatakannya dengan raut yang agak berbeda dari sebelumnya.

Ternyata namanya Kang Minhyuk, nama yang bagus menurutku.

“Oh, kemanakah dia sekarang? Tidakkah dia membantumu menjaga Toko ini?”, aku bertanya kepada pria itu dengan harapan dapat menemuinya hari ini sebelum aku berangkat ke Inggris.

Pria itu hanya terdiam mendengar pertanyaan ku, lalu mencoba menjawab,

“Jika dia ada, dia pasti akan membantuku saat ini”

“Maksud anda?”

Dia kembali memandangi Foto itu dengan raut kesedihan. Pria tua itu meneteskan air mata namun buru-buru untuk menghapusnya.

“Dia sudah meninggal karena kecelakaan 14 tahun yang lalu, tiga hari sebelum ia dapat menonton konser band favoritnya di Inggris…”

Aku terkejut mendengarnya dan hampir menjatuhkan vinyl yang ku pegang. Jantungku berdegup dengan kencang dan darahku mengalir cepat sekali dari ujung kaki ke ujung kepalaku. Badanku merinding mendengar perkataan pria tua itu barusan.

“Be..be..benarkah?”

Pria tua berusaha menjawab pertanyaanku,

“Ya, tiket yang diselipkan itu adalah tiket konsernya. Itu satu-satunya kenangan yang tersisa darinya. Menonton konser Oasis adalah impiannya selama ini, namun ternyata Tuhan berkata lain..”

Aku langsung teringat perkataannya malam itu. Jadi mimpinya itu adalah ini? Bahkan dia sudah mendapatkannya dan hanya tinggal berangkat, namun nasib ternyata berkata lain. Aku sadar, beginilah cara Tuhan menetapkan jalan hidup seseorang. Menetapkan jalan hidup Kang Minhyuk dan menetapkan jalan hidupku. Aku teringat akan lagu yang dinyanyikan Minhyuk saat itu.

“Lalu lagu ini?”

“Lagu ini adalah lagu favoritnya, Whatever dari Oasis. Minhyuk sangat menyukai lagu ini, bahkan beberapa jam sebelum waktunya tiba ia masih sempat mendengarnya melalui turntable tua ini. (Menghela napas) Aku berharap semoga ia bahagia di alam sana”

Aku teringat akan perkataan Minhyuk waktu itu, dia berkata bahwa ia bahagia sekarang.

“Aku yakin dia bahagia dia sana. Aku juga menyukai lagu itu. Banyak kata-kata indah didalamnya yang membuatku bersemangat untuk mendengarnya”, aku berkata kepada Pria tua itu.

Ia tersenyum kepadaku. Pria itu lalu memberikanku keping vinyl lagu itu dengan cuma-cuma. Awalnya aku menolaknya, namun dia tetap memaksa. Dia berkata bahwa dia punya dua keping vinyl itu dan berniat memberikannya satu kepada orang lain yang menyukai lagu itu. Aku sangat berterima kasih kepada Pria tua itu dan pergi meninggalkan Toko musik tua yang telah mengungkapkan semuanya kepadaku.

Disepanjang jalan pulang aku tak henti-hentinya mengingat kenyataan yang di katakan oleh Pria tua itu. Aku masih tidak habis pikir, bahwa Minhyuk, Pria lucu yang ku temui malam itu ternyata telah meninggal 14 tahun yang lalu. Dan aku bertemu dengannya dua hari yang lewat, tetapi itu memang nyata. Bahkan aku masih bisa merasakan hangat tubuhnya ketika bersandar di lengannya. Aku masih tak percaya bahwa aku telah bertemu seorang hantu yang tengah gentayangan dan aku menyukainya sejak pertama bertemu. Namun jika itu arwahnya kenapa aku bisa bersandar di lengannya? Dia juga sempat menuliskan untaian kalimat ditelapak tanganku.

Aku kembali duduk di bangku yang sama ketika aku bertemu dengan Minhyuk malam itu. Membayangkan kembali perkataan-perkataan Minhyuk yang ia ucapkan kepadaku. Aku mendengar lagu Whatever melalui ipod sembari mengenang malam itu. Dia bukanlah Hantu yang arwahnya gentayangan menakuti ku, dia adalah malaikat yang memberiku semangat untuk menjalani hidupku. Aku tersenyum memandangi piringan hitam yang ku peroleh dari ayah Minhyuk. Aku berjanji akan membawa piringan hitam ini bersama ku ke Inggris. Dia akan menjadi temanku yang akan memberikan semangat ketika ku putar melalui turntable. Aku ingat akan frasa yang ditulis Minhyuk ditelapak tanganku dan sampai sekarang aku belum menghapusnya sama sekali. Aku mencoba memotretnya dengan kamera ponsel, namun hasilnya hanya telapak tangan kosong yang tertangkap. Aku melihat tulisan itu kembali. Tulisan itu perlahan-lahan memudar dari tanganku dengan seketika hilang. Aku kaget melihatnya. Namun aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Tentu saja tulisan itu akan hilang, seperti orangnya menuliskannya. Tetapi arti dari tulisan itu akan tetap membekas didalam kalbu ku dan juga pada lagu ini. Ah iya, aku lupa, bukankah aku pernah menuliskan suatu pesan untuk Minhyuk pada bangku ini? Aku mencari pesan yang ku tulis itu. Aku menuliskan ‘Thank you whatever-boy. I will see you again someday’ karena ku belum mengetahui namanya saat itu. Dan ternyata aku menemukan tulisan itu dengan untaian Frasa dibawahnya yang ia pernah tuliskan ditelapak tanganku. Aku tersenyum sumringah membacanya dan memandangnya dengan takjub.

 

Yeah, we’ll see each other again someday, just remember,

‘Whatever you do, whatever you say, yeah I know it’s alright’

 

Kang Minhyuk

 

Aku mendengarkan lagu ini, merasakan Minhyuk berada disampingku dan menyanyikan lagu ini kembali untukku. Merasakan kembali semua hal yang ku rasakan pada malam itu. Ah aku tak akan melupakannya sampai kapan pun.

Terima kasih Minhyuk!

 

2 thoughts on “[FF Competition] Whatever

  1. Bagus !
    Nih yang galau jadi semangat juga gegara lirik2 lagu di atas yang memotivasi bgt … apalagi kalo di dunia nyata di nyanyiin beneran sama Minhyuk sambil bersandar di bahu doi….huaaaaaa ngebayanginnya aja udh bikin senyum2 sendiri LOL .
    Anyway bagusss … selamatttt ….. :))

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s