[FF Competition] Yeobo Seo

Judul: Yeobo Seo || Genre: Romance-happy ending

 

 

Seo Ji-Hyun

“Sampai kapan kau akan marah padaku?!”seruku pada Yong-Hwa setelah dia keluar dari kamar mandi.

Dia memandangiku dengan tatapan aneh sementara kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

“Sudah kubilang aku tidak marah,”katanya lalu melengos pergi menuju dapur.

Tidak marah? Dia itu kelainan mental ya?

Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tahu sejak awal hubungan kami memang tidak baik, tapi aku tidak mau dia menjadikanku tersangka seumur hidup.

“Aku minta maaf karena pergi berdua dengan Young-Ho,”kataku pada Yong-Hwa lagi.

Yong-Hwa mengambil sebotol teh dingin dari kulkas lalu menatapku.

“Oh, jadi namanya Young-Ho?”tanyanya sebelum meneguk teh dinginnya.

“Dia teman kuliahku. Dari departemen desain pemrograman game.”

Satu alis Yong-Hwa terangkat, dia tidak terlihat terlalu marah hari ini. Dia malah tertawa singkat.

“Cih, apa hebatnya pria itu? Game? Yang benar saja…”hinanya.

“Young-Ho pria hebat, tahu! Imajinasinya luar biasa. Dia juga orang yang baik, perhatian sekali padaku, murah senyum—“aku mengambil jeda sebentar karena melihat ekspresi Yong-Hwa berubah datar. Dia segera meneguk teh dinginnya lagi dengan kecepatan melebihi sebelumnya.

“—dia sering membuatku tertawa, dia teman yang baik. Di kampus dia populer. Banyak sekali wanita yang mengejarnya. Apalagi ketika Young-Ho bermain basket, wuuuuuih, baru kali ini aku melihat ada pria sehebat Young-Ho dalam bermain basket. Dia—“

Aku berhenti bicara. Sepertinya aku sudah membuat Yong-Hwa lebih marah. Teh dinginnya sudah benar-benar habis. Yong-Hwa meremas botol itu penuh emosi lalu melempar botolnya ke arahku—bukan, botolnya melayang ke atas kepalaku dan mendarat tepat di tempat sampah yang ada di sebelah easel—penyangga kanvas—ku berada.

Woaaa, itu lemparan yang bagus sekali…

“Semua orang bisa basket, tahu,”kata Yong-Hwa, menegaskan usahanya melempar botol barusan.

“Kenapa kau membuang botolnya sejauh itu?! Dasar berlebihan! Di sini kan juga ada tempat sampah!”protesku sambil menunjuk tempat sampah yang ada di sampingnya dengan kakiku.

Yong-Hwa tidak meresponku lagi. Dia justru berjalan ke ruang tengah lalu menonton TV. Aku segera mematikan TV-nya lagi, karena kalau tidak kulakukan, dia pasti tidak akan mendengarkanku dan berlagak fokus menonton TV.

“Dengar, pokoknya aku minta maaf karena pergi dengan pria lain, tapi Young-Ho bukan siapa-siapa. Kami hanya teman biasa. Jadi, kau tidak perlu marah—“

“Ck, sudah kubilang berapa kali kalau aku tidak marah, Ji-Hyun? Lagipula bukannya kita berdua tidak saling mencintai? Jadi, kau tidak perlu khawatir. Terserah kau pergi dengan Young-Ho atau siapapun itu, aku tidak peduli,”katanya dingin.

Tiba-tiba saja aku merasa seperti tersambar petir tepat di jantungku. ‘Aku tidak peduli’? Kalau dia benci padaku, dia tidak harus sejahat ini padaku! Apa dia tidak tahu aku takut bukan main ketika melihat Yong-Hwa memergokiku ada di restoran bersama Young-Ho? Apa dia tidak tahu aku takut setengah mati dia marah padaku karena mengira aku selingkuh? Apa dia tidak tahu itu?!

Aku menikah dengan Yong-Hwa memang karena perjodohan, bukan atas dasar cinta. Kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Dan lagi, kami berdua jarang bertemu. Aku sibuk kuliah dan dia sibuk bekerja di rumah sakit. Usiaku masih 22 tahun dan usia Yong-Hwa 24 tahun. Memang secara teknis dia lebih tua dariku, tapi jangan harap aku akan memanggilnya Oppa atau semacamnya! Aku sudah bilang aku tidak suka penikahan ini, tapi dia tetap menikahiku dan menyetujui perjodohan meski aku tahu dia juga tidak suka padaku.

Mungkin memang benar jika kami tidak saling mencintai, tapi dia tidak perlu mengingatkanku tentang hal itu! Hal bahwa dia sama sekali tidak mencintaiku, bahwa dia sama sekali tidak peduli padaku. Aku sudah tahu, karena itu dia tidak perlu mengatakannya lagi dan membuatku tersinggung.

“Berikan remote-nya,”pintanya, dingin.

IHHHH! Aku melempar remote TV padanya sekuat tenaga, tapi berhasil dia tangkap. Ish! Aku lupa kalau selain pandai melempar barang, dia juga pandai menangkap barang.

“NONTON TV SAJA SANA! AKU JUGA TIDAK PEDULI PADAMU!”teriakku lalu segera berderap keluar rumah. Tentu saja aku juga menutup pintu rumah sebrutal mungkin, agar pria bodoh itu tahu aku marah sekali padanya.

Aku menatap kunci mobil Yong-Hwa yang sempat kuambil di atas meja telepon dekat pintu. Aku segera masuk ke mobil dan menginjak gas. Hari sudah gelap, tapi aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dari rumah ini!

Aku hanya tidak mengerti… Jika dia benar-benar tidak peduli padaku, jika dia benar-benar tidak menyukaiku, kenapa dia terlihat cemburu ketika melihatku bersama Young-Ho? Kenapa tadi dia juga memamerkan kemampuan basketnya ketika kubilang Young-Ho pandai bermain basket? Atau… kenapa dia begitu jahat padaku? Kenapa dia berbohong padaku? Aku tahu setidaknya Yong-Hwa pasti peduli padaku, walaupun itu 0,1% sekalipun. Lalu kenapa dia berlagak mengabaikanku seperti tadi?



Jung Yong-Hwa

BLAAAMMM! Ji-Hyun membanting pintu dan keluar rumah. Seolah-olah suara pintu barusan benar-benar membuatku tersadar dari tindakan bodohku. Bagaimana bisa aku bilang aku tidak peduli padanya? Aku hanya cemburu. Aku hanya tidak suka dia pergi dengan laki-laki lain, tapi kenapa aku justru berkata kejam padanya?

Aku memang bilang kami tidak saling mencintai, karena pihak yang jatuh cinta di sini hanyalah aku. Aku mencintai Ji-Hyun, karena itu aku tidak suka melihatnya bersama Young-Ho. Tapi entah kenapa… aku justru berkata seperti itu. Padahal sebenarnya mudah saja, aku hanya perlu mengatakan ‘aku memaafkanmu’.

Kudengar suara mobil dari luar rumah dan kulihat Ji-Hyun melaju kencang dengan mobil itu. Hhh… mau ke mana dia malam-malam begini? Ini sudah pukul sepuluh malam, terlalu bahaya jika dia di luar sendirian.

Aku mendesah kesal dan segera mencari di mana ponselku berada. Aku kesal karena diriku yang terlalu bodoh ini. Aku bahkan terlalu sombong untuk memaafkan istriku sendiri.

Kemudian aku teringat tas kerjaku masih tertinggal di mobil. Ahhhh! Dan mobil itu sekarang dibawa pergi oleh Ji-Hyun. Ya Tuhan… Ini bencana. Ini benar-benar bencana. Jadi, aku segera masuk ke kamar Ji-Hyun dan menemukan ponselnya tergeletak di atas tempat tidur. Karena secara tidak langsung Ji-Hyun membawa ponselku, mungkin tidak apa-apa jika aku menggunakan ponselnya sementara.

Setelah itu aku menghubungi ponselku sendiri. Dan seperti dugaanku, tidak peduli berapa kali aku menelepon, Ji-Hyun tidak kunjung menerima teleponku. Aku tahu, aku memang tidak berharap dia segera mengangkat telepon mengingat dia sedang marah, karena itu aku harus pergi mencari gadis itu dengan caraku sendiri.

Ke mana kau, Ji-Hyun? Kumohon jangan pergi terlalu jauh…

 

Hyung, bolehkah kita pulang sekarang? Aku berjanji tidak akan keluar malam-malam untuk pergi ke bar dan minum alkohol,”pinta Cho, tetangga rumah yang masih SMU. Tadi kulihat dia baru saja akan keluar rumah, jadi kuhentikan dia dan kubawa mobilnya untuk mencari Ji-Hyun. Bukannya egois, tapi ini demi kebaikan Cho. Tidak baik untuk kesehatan jika anak muda seperti dia mulai rajin minum alkohol.

Ponsel Ji-Hyun yang ada di dasbor berbunyi. Tidak perlu menunggu satu detik berakhir, aku segera mengambil ponsel itu dan mengangkat teleponnya.

“Ji-Hyun! Kau di mana sekarang?!”ucapku panik, kenapa baru sekarang dia menelepon?!

“Aku… Aku tidak tahu…”jawabnya lirih.

“Lihat sekelilingmu. Gunakan apapun sebagai petunjuk, aku akan menjemputmu!”

“Aku tidak tahu… Gelap. Kurasa aku sedang ada di… gas station? Kurasa… kita pernah ke mari sebelumnya, saat kita pulang dari Kumdori Land? Dekat Bongmyeong-dong? Entahlah…”

“Baik. Aku ingat tempatnya, sekarang aku sedang berada tidak jauh dari tempat itu.”

Untuk sesaat tidak ada suara lagi dan aku mulai meningkatkan kecepatan mobil.

“Akan… Aku akan menunggumu,”balas Ji-Hyun akhirnya.

Aku tersenyum,”Iya. Tunggulah sebentar lagi…”

“Hmm… Boleh aku tutup teleponnya sekarang?”tanya Ji-Hyun pelan.

“Jangan! Bicarakan apa saja. Tetaplah bicara, agar aku merasa lega karena kau baik-baik saja.”

Aku tersenyum, lega sekali akhirnya Ji-Hyun menelepon. Aku mendengar Cho terbangun lalu pura-pura muntah setelah mendengar ucapanku barusan, jadi kutendang kakinya agar dia berhenti mengejekku.



Seo Ji-Hyun

“Cho tidak marah kau pinjam mobilnya malam-malam?”tanyaku.

“Marah, tapi dia mudah dijinakkan. Jadi, bukan masalah. Apa kau mengantuk? Kau boleh—“

“Tut… Tut… Tut…”teleponnya terputus.

Ah, pasti baterai ponselku yang habis. Biasanya sebelum tidur aku selalu mengisi baterainya. Jadi, malam hari adalah waktunya ponsel tidur juga.

Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai sejauh ini. Aku hanya asal menyetir dan tahu-tahu mobil Yong-Hwa berjalan tersendat-sendat. Karena itu aku berbelok ke gas station dan begitu masuk ke sana sekitar beberapa meter saja, mobilnya benar-benar berhenti. Bensinnya tidak tersisa sedikitpun sehingga mendekat ke mesin bensin saja aku tidak bisa. Sebenarnya aku bersyukur karena aku berhenti di gas station, setidaknya aku tidak berhenti di tengah jalan yang gelap sekali tanpa lampu dan tanpa kehidupan. Masalahnya, aku lupa membawa dompet dan aku tidak punya uang sepeserpun untuk membeli bensin. Di mobil hanya ada tas kerja Yong-Hwa. Itupun isinya hanya medical textbook, stetoskop, iPod, tablet PC, dan ponsel yang sudah puluhan kali berbunyi. Sama sekali tidak ada uang! Jadi, tidak ada gunanya ada tas kerja Yong-Hwa di sini.

Hanya saja, untung masih ada alat komunikasi. Walaupun sejak tadi aku tidak mau mengangkat panggilan dari ponselku—yang itu berarti dari Yong-Hwa, pada akhirnya aku memang membutuhkan bantuan dari pria itu. Aku cukup tersentuh karena hingga malam begini ternyata dia berkeliling Seoul untuk mencariku.

Apa-apaan dia… Dia bilang dia tidak peduli padaku, lalu kenapa dia menamai nomorku ‘Yeobo Seo’ di ponselnya? Sebenarnya menurutku itu manis sekali… Maksudku, itu berarti dia mengakuiku sebagai istrinya. Walaupun kalau dilafalkan ‘Yeobo Seo’ berarti halo, Yeobo sendiri kan berarti panggilan sayang. Jadi, itu memang manis sekali. Berbeda sekali dengan perkataannya tadi ketika kami bertengkar di rumah. Dia bilang dia tidak peduli, tapi dia berusaha mencariku hingga selarut ini. Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan karena kabur begitu saja, tapi kalau tidak begini, aku tidak akan tahu Yong-Hwa bisa sepeduli ini padaku.

Tok. Tok. Aku tersentak ketika ada yang mengetuk kaca mobil.

“Ini aku,”aku membaca gerakan mulut Yong-Hwa yang bicara padaku. Ah, akhirnya Yong-Hwa datang!

Aku keluar dari mobil dan mengatakan pada Yong-Hwa bensinnya habis.

“Aku benar-benar minta maaf tadi,”ucap Yong-Hwa sambil memelukku ringan untuk sesaat.

Dia melepaskanku dan aku benar-benar kaget. Aku masih syok dan kesadaranku belum pulih sepenuhnya. Ap-Apa yang dilakukan Yong-Hwa barusan? Yong-Hwa memelukku? Astaga, ini pertama kalinya Yong-Hwa memelukku… Rasanya mendebarkan sekali! Astaga, aku sampai merasa hampir tidak bernafas tadi, padahal Yong-Hwa memelukku tidak terlalu erat…

“T-T-Tadinya aku ingin menjual ponselmu dan uangnya kugunakan untuk beli bensin. Kau ini, kenapa di tas kerjamu sama sekali tidak ada uang?!”bentakku, berusaha menormalkan detak jantungku yang berdebar-debar dengan cara bersikap seperti biasa lagi pada Yong-Hwa.

Yong-Hwa tersenyum dan mendorong mobil mendekati mesin bensin.

“Yang salah itu yang keluar rumah tanpa membawa uang, tahu. Sudahlah, kau tunggu di dekat minimarket saja. Biar kuisi dulu bensinnya…”ujarnya, penuh tanggung jawab.

Jantungku berdebar. Yong-Hwa… Dia… Dia bersikap seperti… seperti seorang suami.



Jung Yong-Hwa

Setelah aku selesai mengurus mobil, kami tidak langsung pulang. Kami beristirahat sebentar di depan minimarket, tapi tahu-tahu hujan turun deras sekali, padahal aku memarkir mobil agak jauh dari minimarket. Jadi, kami memutuskan untuk berteduh sebentar.

“Maafkan aku,”kataku tiba-tiba,”Aku tidak memintamu untuk patuh padaku, Ji-Hyun. Aku hanya memintamu untuk menghargaiku. Jika istriku pergi dengan pria lain, kau pikir seberapa besar harga diriku lagi yang masih tersisa? Aku tahu mungkin aku terlalu sibuk bekerja, tapi tidak bisakah kau menungguku saja?”

Aku menatap Ji-Hyun. Dia tidak lagi semarah tadi.

“Aku sudah bilang padamu sejak awal. Aku tidak menyukai pernikahan ini,”ujar Ji-Hyun.

“Tapi kau bilang kau akan mencoba,”balasku,”Hyunnie, tidak peduli seberapa bencinya dirimu padaku, sejak awal seluruh hati ini sudah jadi milikmu. Ketika kau bilang akan mencoba, aku berjanji akan mempertahankan dirimu agar cintaku kau balas. Tapi sekarang? Seharusnya sejak awal kau tidak pernah bilang akan mencoba jika memang kau lebih menyukai Young-Ho.”

Lalu kami terdiam.

Masalahnya, meski aku bilang begitu, tentu saja aku tidak bisa melepaskan Ji-Hyun begitu saja. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan Ji-Hyun untuk mulai melihatku, semuanya akan kuterima konsekuensinya. Aku akan menunggu.

Ji-Hyun menatapku, kemudian tersenyum.

“Yeobo Seo. Tahu tidak? Baru saja aku sadar ternyata aku lebih menyukai pria yang menamai nomorku Yeobo Seo di ponselnya,” kata Ji-Hyun, dengan nada bangga.

Aku terkejut. D-Dia bilang apa barusan?

Ji-Hyun segera berdiri,”Ayo menerobos hujan saja! Ini sudah terlalu malam.”

Spontan aku juga berdiri dan melepas jaketku,”B-Bu-Bukannya meniru ini di film, tapi sepertinya kau memang membutuhkannya….”

Aku memayungi Ji-Hyun dan diriku sendiri dengan melebarkan jaketku. Ji-Hyun tertawa melihatku gugup bersikap sok romantis seperti ini. Jadi, aku segera berlari agar Ji-Hyun juga mengikutiku untuk menerobos hujan bersama.

“Yong-Hwa, aku pernah bilang kalau aku tidak akan pernah memanggilmu Oppa. Tapi kalau aku memanggilmu ‘Yeobo’? Apa itu tidak apa-apa?”seru Ji-Hyun, memecah suara hujan. þþþ

21 thoughts on “[FF Competition] Yeobo Seo

  1. apa cma perasaan Q aja apa emang bener kLo si author ternyta salah satu fans YongSoe couple jga.. hehehe..tapi aku suka.. like this Lah.

  2. apa cma perasaan Q aja apa emang bener kLo si author ternyta salah satu fans YongSoe couple jga.. hehehe..tapi aku suka.. like this Lah.
    keren deh…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s