I Found You [Chapter 6 – End]

i found you 2

Author: ree

Genre: AU, thriller, action, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Casts: Im Yoona SNSD, Lee Jonghyun CNBLUE, Lee Donghae Super Junior

Previous: Prologue | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Disclaimer: Just my imagination

 

***

Yoona meringis pelan ketika melihat sebuah lubang yang menganga di permukaan knalpot motor yang sebenarnya milik Minhyuk itu. Lubang itu adalah bekas tembakan salah satu penjahat yang mengejar mereka tadi.

Yoona menggigit bibir bawahnya, “Minhyuk-ssi, mianhae…” ia merasa bersalah.

“Sudahlah, itu bisa kita urusi nanti. Ayo cepat!” Jonghyun segera menarik tangan Yoona memasuki gedung stasiun yang berada tepat didepan mereka begitu melihat dua buah cahaya yang berasal dari lampu mobil. Itu pasti mobil milik anak buah Jung Woo.

Jonghyun dan Yoona berlari cepat menyusuri lorong stasiun. Yoona dapat mendengar dengan jelas suara langkah kaki beberapa orang yang ikut berlari mengejar mereka. Ia tidak berani menolehkan kepalanya ke belakang. Yang harus ia lakukan sekarang hanyalah terus berlari. Berlari sejauh mungkin. Namun ia bisa sedikit tenang karena setidaknya orang-orang jahat itu tidak akan mengeluarkan senjata mereka di tempat umum seperti ini.

“Itu ada kereta!” tunjuk Yoona ketika ia dan Jonghyun hampir tiba di peron. Mereka semakin mempercepat langkah kaki mereka dan memasuki kereta tersebut nyaris sebelum pintu kereta ditutup.

Hosh…! Hosh…!” Yoona masih mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia dan Jonghyun merapatkan tubuh mereka ke dinding agar tidak terlihat dari kaca di pintu kereta itu. Yoona lalu mengintip ke balik kaca dengan gelisah.

“Apa mereka ikut masuk juga?” tanyanya ketika kereta mulai berjalan. Awalnya lambat, namun semakin lama semakin cepat.

“Entahlah.” jawab Jonghyun. Ia juga masih sibuk mengatur napasnya. Ketika melirikkan matanya ke arah pintu yang membatasi gerbong, ia sedikit terkejut karena rupanya dua dari empat orang penjahat tadi berhasil masuk ke kereta. Mereka sedang berjalan menyusuri gerbong sambil sesekali memeriksa satu per satu tempat duduk penumpang, berusaha mencari Jonghyun dan Yoona.

Jonghyun mendecak. Ia segera menarik tangan Yoona dan mengajaknya masuk ke gerbong di belakang mereka sebelum kedua orang itu mencapai ujung gerbong.

“Mereka berhasil masuk juga?!” tanya Yoona panik.

“Sepertinya begitu.” jawab Jonghyun. Ia lalu menoleh ke belakang. Tampak para penjahat itu hampir mencapai ujung gerbong dan hendak masuk ke gerbong tempat mereka berada. Jonghyun memutar otak, mencari cara agar para penjahat itu tidak bisa menemukan mereka berdua.

Saat melintasi toilet, akhirnya Jonghyun memutuskan untuk bersembunyi disana sampai para penjahat tersebut pergi ke gerbong selanjutnya.

“Kau serius?” tanya Yoona ketika mereka berdua memasuki toilet tersebut. Maklum saja, toilet itu sangat kecil dan mereka berdua masuk kedalamnya sekaligus. Mungkin tidak masalah jika mereka sama-sama perempuan. Tapi kalau yang ini, lain lagi ceritanya. Bagaimana kalau nanti ada seseorang yang ingin memasuki toilet dan melihat mereka berdua keluar dari toilet yang sama? Orang-orang bisa mengira mereka berbuat macam-macam.

Jonghyun menghela napas berat, “Tidak ada cara lain.”

“Aku… pindah ke toilet di depan saja ya?” Yoona masih merasa tidak enak.

“Jangan. Penjahat-penjahat itu pasti sudah ada di gerbong ini. Kalau kau keluar sama saja bunuh diri.” tahan Jonghyun.

Yoona kembali menyandarkan punggungnya di dinding, kemudian mengibas-ibaskan tangannya di udara. Jujur, toilet ini sempit sekali dan terasa sangat pengap karena dua orang masuk sekaligus.

“Sial! Kemana bocah-bocah itu!” samar-sama terdengar suara seorang pria. Itu pasti suara penjahat itu. Jonghyun menempelkan telinganya di pintu toilet, mencoba mendengar percakapan mereka.

“Tidak kusangka kita harus serepot ini menangkap dua tikus kecil.” sahut pria yang satunya.

Saat suara langkah kaki mereka semakin mendekat, tiba-tiba saja suara itu berhenti. Mata Yoona membulat. Jangan-jangan para penjahat itu sudah mencurigai tempat persembunyian mereka dan berhenti tepat didepan toilet.

“Mereka disini.” bisik Yoona panik.

“Sssstt…!” Jonghyun menempelkan telunjuk kirinya di bibir, sementara tangan kanannya menutupi bibir Yoona. Mengisyaratkan agar gadis iu tidak mengeluarkan suara sekecil apapun jika tidak ingin ketahuan.

“Kenapa orang didalam toilet ini tidak juga keluar?” tanya salah satu penjahat setelah beberapa saat.

“Mungkin dia sedang sembelit.” jawab temannya.

Penjahat itu mengernyit. Apa benar begitu? Ia lalu memperhatikan pintu toilet yang masih tertutup rapat itu. Entah kenapa ia merasa ganjil. Firasatnya mengatakan bahwa kedua anak itu berada didalam toilet ini.

Yoona mencengkeram lengan jaket Jonghyun. Tangannya gemetar. Ia merasa sangat ketakutan sampai-sampai sengaja menahan napasnya. Bagaimana kalau nanti para penjahat itu mengetuk pintu toilet?

“Sudahlah, ayo kita cari ke gerbong selanjutnya. Nanti mereka keburu menjauh.” ujar penjahat yang satunya sambil menepuk bahu temannya ketika temannya itu baru saja hendak mengetuk pintu toilet.

“Eh, oh, iya… baiklah.” penjahat itu pun mengurungkan niatnya dan mengikuti temannya memasuki gerbong sebelah.

Jonghyun dan Yoona akhirnya bisa bernapas lega. Rupanya anggota geng kelas rendahan itu tidak begitu pintar sehingga tidak bisa menemukan mereka yang hanya dipisahkan oleh pintu toilet. Yoona mengepalkan kedua tangannya didepan dada dan berkali-kali mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan.

Tok! Tok! Tok!” tiba-tiba pintu toilet itu diketuk. Kelegaan di wajah Yoona yang baru beberapa saat seketika berubah menjadi ketakutan lagi.

“Hei, kau sudah selesai belum?! Lama sekali!” teriak orang yang mengetuk pintu itu. Didengar dari suaranya, sepertinya itu adalah suara seorang gadis.

“Tenang saja, itu bukan mereka.” kata Jonghyun yang menyadari ketakutan di wajah Yoona. Setelah memastikan dengan pendengarannya kalau tidak ada orang lain selain gadis itu di sekeliling toilet, ia lalu membuka pintu itu dengan wajah tanpa dosa. Yoona pun bisa bernapas lega ketika melihat seorang remaja perempuan berusia sekitar tujuh belas tahun di depan pintu itu.

Gadis itu tampak terkejut ketika melihat seorang pria dan perempuan keluar dari toilet bersama-sama, “Ba…bagaimana kalian bisa masuk di satu toilet?! A…apa yang kalian lakukan?!”

Ditanya seperti itu, Yoona hanya bisa menyunggingkan seulas senyum yang dipaksakan, sedangkan Jonghyun memalingkan wajahnya ke arah lain. Mereka berdua sama-sama tidak menyadari bahwa wajah mereka mulai memerah.

“Ka…kami tidak melakukan apa-apa kok, jangan dipikirkan…” ujar Yoona terbata-bata.

Melihat ekspresi wajah kedua orang itu, gadis berambut pendek itu semakin yakin dengan spekulasinya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak.

Omonaa~! Kalian berani melakukan itu didalam kereta! Aigo…”

“Bu…bukan seperti itu. Kau salah paham!” kata Yoona panik. Aish, pasti gadis itu berpikiran macam-macam.

“Sudahlah, ayo!” Jonghyun kembali menarik tangan Yoona menuju gerbong yang berlawanan dengan anak buah Jung Woo tadi sebelum gadis SMA itu semakin menyimpulkan yang tidak-tidak. Ia tidak mau menarik perhatian orang lain karena akan menarik perhatian para penjahat itu juga.

“Aish, apa yang dipikirkan gadis tadi?! Sudah kubilang kan, sebaiknya kita tidak masuk satu toilet!” gerutu Yoona sambil memegangi pipinya dengan sebelah tangannya. Terasa hangat. Wajahnya pasti memerah sekarang.

“Kita berada di satu toilet saja kau sudah ketakutan seperti itu. Bagaimana kalau terpisah?! Lagipula orang lain akan curiga jika kedua toilet yang letaknya berhadapan tidak juga terbuka.” jelas Jonghyun, “Biarkan saja dia mau berpikir apa.”

“Sekarang kita mau kemana?” tanya Yoona mengalihkan pembicaraan. Mengingat mereka sekarang berada didalam kereta dan tempat untuk melarikan diri juga terbatas.

“Gerbong makan saja.” jawab Jonghyun.

 

***

 

Jonghyun mengajak Yoona duduk di salah satu meja yang ada di gerbong makan kereta tersebut. Suasana di tempat itu cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang tampak sedang menikmati makanan ringan karena ini memang sudah larut malam.

Yoona menolehkan kepalanya ke belakang─ke arah pintu yang membatasi gerbong makan dan gerbong lainnya─dengan gelisah. Ia takut jika para penjahat itu masih bisa menemukan mereka nantinya.

“Apa kita hanya perlu duduk manis disini?” tanyanya tidak yakin.

“Ya. Bersikaplah seperti para penumpang lainnya.” jawab Jonghyun tenang.

Yoona membuang pandangannya ke luar jendela yang berada tepat di sebelah tempat duduk mereka sambil bertopang dagu. Matanya memang melihat ke arah pemandangan kota di malam hari, namun tatapannya tidak benar-benar kesana. Tiba-tiba saja bayangan semua kejadian yang terjadi hari ini kembali berputar di benaknya. Dalam semalam, kehidupannya tiba-tiba berubah dari biasa-biasa saja menjadi penuh dengan aksi kejar-kejaran dan penembakan. Seolah ia dan Jonghyun adalah buronan yang dikejar-kejar polisi.

Ngomong-ngomong soal buronan, Yoona sama sekali tidak menyangka ayahnya adalah seorang mantan anggota geng mafia dan sedang diburu oleh para anggota geng karena telah berkhianat. Selama ini ia hanya mengetahui ayahnya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses dan pria itu juga tidak pernah mengatakan apa-apa padanya.

“Apa Yoonji juga mengetahui hal ini?” tanyanya dalam hati. Jujur, ia masih merasa tidak rela jika adiknya meninggal dengan cara seperti itu. Terlebih jika benar dia tidak mengetahui apa-apa.

Yoona kemudian melirik ke arah Jonghyun yang juga sedang memandang keluar jendela. Dan sama sepertinya, pria itu juga terlihat tidak benar-benar menatap pemandangan kota di malam hari.

“Jonghyun-ah…” panggil Yoona hati-hati. Pria itu menoleh.

“Kenapa… kau memutuskan untuk masuk kedalam geng mafia itu?”

Jonghyun sedikit tersentak dengan pertanyaan Yoona, namun sesaat kemudian wajahnya kembali datar.

“Keluargaku berhutang pada ketua geng itu.” jawabnya singkat. Ia tampak tidak ingin mengungkit permasalahan ini.

“Berhutang?”

“Ketua geng itu, yang bahkan aku tidak tahu namanya, pernah menyelamatkan nyawa dan juga perusahaan ayahku. Ayahku berhutang harta dan nyawa padanya, dan berjanji akan membayar kembali semuanya.” jelas Jonghyun, “Suatu ketika ayahku meninggal tanpa sebab yang jelas sebelum dia membayar hutang-hutangnya. Ketua geng itu mengancam akan mengambil semua harta milik keluargaku. Ibuku mati-matian memohon agar dia tidak mengambil harta itu. Pria itu menyetujuinya, dan sebagai gantinya akulah yang harus bekerja padanya untuk menggantikan hutang nyawa ayahku yang belum terbayar.”

Yoona terkcekat, “Jadi, keluargamu menjualmu, begitu?”

“Sebenarnya dari awal orang itu bermaksud menghancurkan keluargaku. Tak lama setelah aku masuk geng itu, ibuku meninggal secara tiba-tiba dan semua kekayaan keluargaku jatuh ke tangannya. Yang tersisa hanyalah rumahku. Dia sengaja membiarkan rumah itu terus kutempati sebagai hadiah karena telah masuk geng.”

“Kalau kau tahu maksud dia yang sebenarnya, kenapa tidak menuntutnya?”

“Kau tahu, mereka akan melakukan apa saja untuk mempertahankan posisi mereka. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluargaku yang lain jika aku nekat melaporkan hal itu.”

Mendengar cerita Jonghyun, Yoona seolah menyadari sesuatu, “Jadi, apa itu yang terjadi pada ayahku?”

Jonghyun mengangguk, “Ya, karena ayahmu telah mengancam akan melaporkan kejahatan mereka kepada polisi, mereka terus mencari ayahmu dan keluargamu.”

“Kalau ayahku yang bersalah, kenapa aku dan adikku juga harus terlibat?”

Jonghyun terdiam sejenak, “Kurasa, dia ingin menyiksa mental ayahmu. Jika ayahmu melihat semua keluarganya mati dihadapannya, besar kemungkinan dia akan mengalami depresi berat dan akhirnya menjadi gila, kemudian bunuh diri. Bagi seorang penjahat, melihat korbannya menderita seperti itu jauh lebih menyenangkan daripada membunuhnya secara langsung.”

Tiba-tiba saja Yoona merasakan sesak di dadanya. Ia tidak kuat memikirkan apa yang akan terjadi pada ayahnya jika ia juga mati di tangan para penjahat itu. Sudah cukup ayahnya menderita karena kematian ibunya dan Yoonji.

“Apa… kau juga berpikir seperti itu? Merasa senang jika melihat hidup orang lain hancur perlahan-lahan?” tanya Yoona sambil menatap Jonghyun. Mengingat pria itu juga sampai sekarang masih dianggap sebagai anggota geng. Anggota yang berkhianat.

“Kalau aku juga berpikiran seperti itu, aku pasti sudah membunuhmu dari dulu.”

“Bukan ayahku, tapi aku! Kau sudah membuatku jatuh cinta padamu, lalu kau meninggalkanku begitu saja! Kau membuatku tersiksa, kau tahu?!”

“Karena itu aku kembali. Untukmu.”

Yoona tersentak, kemudian memalingkan wajahnya kembali ke jendela. Gawat, wajahnya pasti memerah lagi sekarang.

Tiba-tiba saja mata Jonghyun menangkap dua sosok pria berbaju hitam sedang berjalan menuju gerbong makan itu.

“Sial! Bagaimana mereka bisa sampai disini!?”

Terlintas ide di pikiran Jonghyun. Ia bangkit dari tempat duduknya dan pindah duduk di sebelah Yoona yang duduk membelakangi pintu gerbong, “Yoona-ya, biarkan aku duduk disini sebentar.”

“A…ada apa?” wajah Yoona berubah pucat. Firasatnya menjadi tidak enak. Para penjahat itu pasti ada didekat sini. Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu gerbong, namun Jonghyun buru-buru menahannya.

“Jangan menoleh. Diam saja di tempatmu.” ujar Jonghyun.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu gerbong dibuka. Jantung Yoona berdegup tidak karuan. Ia berusaha bersikap normal agar tidak dicurigai, namun tangannya tidak bisa berhenti bergetar.

“Apa kami benar-benar tidak akan ketahuan kalau hanya duduk diam seperti ini?!”

Jonghyun memperhatikan sekitar tempat duduknya. Mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menyamarkan keberadaan mereka. Ia lalu melihat sebuah buku menu di atas meja. Ia segera menyambar buku itu dan membukanya.

“Yoona-ya, mianhae.” Jonghyun menarik kepala Yoona agar mendekat ke arahnya dan menutupi wajah mereka berdua dengan buku menu di tangannya. Dari luar, pasti mereka berdua akan dianggap sebagai pasangan kekasih yang sedang asyik bercumbu mesra. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah dahi mereka hanya saling menempel.

“Jo… Jonghyun, apa─”

“Sssstt…! Hanya ini cara agar tidak ketahuan. Bersabarlah sebentar lagi.” bisik Jonghyun.

Yoona menunduk, kemudian mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap mata Jonghyun. Jarak mereka sekarang benar-benar sangat dekat, sampai-sampai Yoona bisa merasakan napas segar yang keluar dari hidung pria itu. Ia dapat mendengar suara jantung Jonghyun yang berdetak cepat sama sepertinya.

Yoona menelan ludah. Jika posisi mereka seperti ini, tiba-tiba saja ia teringat ciumannya dengan Jonghyun beberapa jam yang lalu di apartemennya.

Yoona mengerjapkan matanya, “Aish, apa yang kupikirkan?!”

“Apa… mereka sudah pergi?” bisik Yoona kemudian.

Jonghyun sedikit menurunkan buku menu yang menutupi wajah mereka dan melirik ke arah para penjahat itu, “Masih belum.”

Yoona menghela napas berat. Bibirnya mengerucut. Sampai kapan mereka harus mempertahankan posisi seperti ini sedangkan jantungnya tidak berhenti berdegup kencang? Berdegup kencang karena takut ketahuan oleh para penjahat itu dan juga karena wajah Jonghyun yang berada tepat didepan wajahnya.

Ketika mendongakkan kepalanya, tanpa sengaja bibir Yoona bersentuhan dengan bibir Jonghyun. Buru-buru Yoona menjauhkan kepalanya, “Mi…mianhae. Aku tidak sengaja…”

Jonghyun tidak menjawab. Ia menatap Yoona lekat-lekat, kemudian dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Ketika bibir mereka nyaris bersentuhan…

Joisonghamnida.” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, “Apa kalian sudah memutuskan untuk memesan sesuatu?”

Dengan perlahan Jonghyun menurunkan buku menu di tangannya sehingga wajah mereka berdua kembali terlihat. Rupanya itu adalah suara salah seorang waitress yang bertugas di gerbong makan kereta itu.

“Ah, ma…maaf kalau saya mengganggu.” wanita itu merasa bersalah karena mengira mereka sedang bermesraan.

Jonghyun melirik ke balik punggung wanita itu. Kedua penjahat itu sudah hampir mencapai ujung gerbong, namun bukan berarti mereka tidak bisa membalikkan badannya lagi.

“Tidak apa-apa. Kami tidak jadi memesan. Joisonghamnida.” jawab Jonghyun kemudian. Ia segera menarik tangan Yoona untuk bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari gerbong makan itu sebelum para anak buah Jung Woo menyadari keberadaan mereka.

“Hei, itu mereka!” tiba-tiba salah satu dari dua penjahat itu berteriak.

“Cih! Sial!” gerutu Jonghyun. Ia melirik sekilas ke arah Yoona, “Yoona, larilah!”

Yoona mengangguk dan segera berlari secepat mungkin menyusuri gerbong diikuti Jonghyun. Sedikit sulit karena terkadang langkah mereka terhambat oleh para penumpang dan beberapa petugas kereta yang berlalu-lalang.

“Cepat hentikan langkah kalian sebelum aku yang menghentikannya!” hardik salah satu penjahat itu.

Yoona yang berlari paling depan langsung merasa takut. Ia menoleh sekilas ke arah Jonghyun yang berada dibelakangnya, “Jonghyun, bagaimana ini?!”

“Jangan berhenti! Terus saja berlari!” ujar Jonghyun. Ia tahu, perkataan pria tadi hanyalah gertakan untuk mengecoh mereka. Berhenti berlari atau tidak, hasilnya akan sama saja.

“Kira-kira kapan kita sampai di stasiun selanjutnya?” tanya Jonghyun.

“Sekitar lima menit lagi.” jawab Yoona setelah melirik jam tangannya.

“Oke, kita turun disana.”

Jonghyun dan Yoona terus berlari menyusuri gerbong demi gerbong kereta itu. Tidak peduli dengan tatapan bingung hampir semua orang yang berada disana karena kelakuan mereka. Jonghyun dan Yoona sedikit beruntung karena sesekali langkah kedua pria itu terhambat oleh para petugas kereta yang mencurigai sikap dan penampilan mereka.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dari speaker yang menandakan bahwa kereta sudah tiba di Stasiun Daegu, “Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi anda akan memasuki Stasiun Daegu. Terima kasih telah menggunakan kereta kami. Harap periksa jangan sampai ada barang jatuh atau tertinggal…”

“Yoona, belok kiri!” seru Jonghyun ketika pintu kereta mulai terbuka. Yoona pun mengikuti aba-aba Jonghyun untuk berbelok ke pintu di ujung lorong dan turun dari kereta.

“Jonghyun-ah, tunggu sebentar…” panggil Yoona saat mereka baru saja memasuki stasiun Daegu. Suaranya terdengar lirih.

Jonghyun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Tampak gadis itu sedang berdiri sambil menopangkan kedua tangannya di lutut. Napasnya terengah-engah.

Jonghyun berjalan menghampiri Yoona dan berlutut dihadapan gadis itu, “Gwaenchanha?”

“Kita istirahat sebentar.” jawab Yoona dengan napas terputus-putus.

Joa.” jawab Jonghyun. Ia lalu menggiring Yoona menuju tempat duduk yang berada tidak jauh dari situ, “Duduklah dulu disini.”

Eodie gayo?” tanya Yoona begitu Jonghyun membalikkan badannya.

“Aku mau membeli minuman dulu. Kelihatannya kau sangat haus.”

“Oh, baiklah.”

Jonghyun menatap Yoona lekat-lekat, “Ingat Yoona, jangan kemana-mana sampai aku kembali. Arajji?

Yoona mengangguk, “Arasseo.”

Jonghyun tersenyum samar dan menepuk pelan kepala Yoona, kemudian membalikkan badannya dan berjalan mencari mesin penjual minuman.

 

***

 

BRUK!! BRUK!!” terdengar suara benda berjatuhan. Jonghyun yang baru saja mengambil botol air mineral dari dalam mesin penjual minuman lalu menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri terlihat seorang nenek yang sedang sibuk memunguti buah-buahan yang berserakan di lantai. Sepertinya buah-buahan itu terjatuh dari dalam keranjang besar yang dibawa nenek itu.

Jonghyun lalu menghampiri nenek itu dan berjongkok didepannya, “Biar kubantu.” katanya sopan.

“Ah, kamsahamnida.” sahut nenek itu sambil tersenyum.

Jonghyun membalas senyuman nenek itu sekilas, kemudian kembali fokus memunguti buah-buahan yang jumlahnya tidak sedikit itu. Kasihan sekali, nenek itu pasti tidak kuat membawa keranjang besarnya sendirian sehingga semua isinya terjatuh.

“Aku akan memungut yang disebelah sana.” ujar si nenek sambil menunjuk ke arah depan. Rupanya banyak dari buah-buahan itu yang menggelinding ke tempat yang agak jauh.

Ne.” Jonghyun mengangguk. Setelah selesai memunguti semua buah itu dan memasukkannya kedalam keranjang, ia pun membungkus keranjang itu dengan kain dan mengikatkannya seperti semula. Kali ini ia mengikatnya lebih kencang agar buah-buahan itu tidak jatuh berceceran lagi.

Ketika berdiri dan hendak memberikan keranjang itu, tiba-tiba saja nenek tadi sudah tidak berada di tempatnya. Jonghyun menoleh ke sekeliling, namun sang nenek tidak berada dimanapun.

“Aish, bagaimana ini?! Kenapa dia bisa melupakan keranjang buahnya begitu saja?!” gerutu Jonghyun. Padahal ia harus cepat kembali ke tempat Yoona sebelum para penjahat itu menemukan mereka.

Jonghyun mulai mencari ke setiap sudut peron, berusaha mencari sosok nenek yang ditolongnya tadi sebelum kereta selanjutnya tiba. Ia khawatir jika sang nenek akan naik kereta itu tanpa membawa keranjang buahnya.

Di tengah kumpulan orang-orang yang berlalu-lalang di stasiun, Jonghyun akhirnya menemukan nenek yang ia cari. Namun nenek itu berada cukup jauh darinya. Jonghyun berlari menyusul nenek itu. Cukup sulit karena para calon penumpang kereta yang lain sedikit menghambat langkahnya.

Halmeoni!” panggil Jonghyun setelah jaraknya dengan jarak nenek itu cukup dekat. Namun tapaknya nenek itu tidak mendengar panggilan Jonghyun.

“Halmeoni, tunggu!!” panggilnya sekali lagi. Nenek itu tetap tidak menoleh.

 

***

 

Sementara itu di tempat lain, Yoona yang masih menunggu di tempat duduknya terlihat sedikit gelisah. Pasalnya, ini sudah lebih dari lima belas menit tapi Jonghyun belum juga kembali.

“Bagaimana ini, aku harus ke toilet!” batin Yoona. Ia menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah. Matanya terus melihat ke sekeliling, mencari sosok Jonghyun yang belum juga terlihat batang hidungnya.

“Ah, sudahlah! Hanya ke toilet sebentar tidak apa-apa kan? Nanti juga aku kembali lagi kesini.” Yoona yang sudah merasa tidak tahan itu pun akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju toilet.

Setelah keluar dari toilet, Yoona mencuci tangannya di wastafel dan melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat sedikit lusuh akibat pengejaran yang tiada henti semenjak dari apartemennya. Yoona membasuh mukanya dengan air dan merapikan setiap helai rambutnya, berharap dengan begitu wajahnya bisa terlihat sedikit cerah.

Ketika baru melangkahkan kakinya keluar toilet, tiba-tiba saja dua pria yang berpakaian serba hitam menyergap Yoona. Dengan refleks gadis itu memberontak, namun salah satu penjahat itu terlalu kuat mencengkeram kedua tangannya. Dengan sekuat tenaga Yoona mendorong salah satu penjahat itu ke dinding dan membenturkan kepalanya, namun karena ukuran fisik mereka yang berbeda jauh, pria itu tidak begitu terpengaruh oleh perlawanan yang diberikan Yoona.

“Tolong!! Tolong aku!!!” teriak Yoona meminta bantuan. Ia berharap orang-orang di stasiun itu dapat mendengar suaranya dan menolongnya.

“Dasar bocah keras kepala!” kedua penjahat yang panik karena teriakan Yoona tadi akhirnya memutuskan untuk membungkam gadis itu. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah saputangan yang sebelumnya sudah dilumuri obat bius dan membekap mulut gadis itu.

Yoona terus meronta dan berteriak meminta pertolongan sampai pada akhirnya salah satu penjahat itu mendekatkan saputangan ke hidungnya, memaksanya untuk menghirup obat bius yang sudah dilumuri di permukaan saputangan itu.

Sedikit demi sedikit Yoona merasakan matanya menjadi berat, dan tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap.

 

***

 

Seoul, South Korea

“BRAK!!”

Donghae menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia sudah merasa sangat jengah dengan sikap ayahnya. Dan kali ini adalah puncak dari rasa kesal yang dipendamnya selama ini. Pasalnya, beberapa saat yang lalu baru saja Jessica meneleponnya dan mengatakan bahwa ayahnya dan ayah gadis itu berencana menyelenggarakan pertunangan mereka berdua secara mendadak besok.

Donghae mendecak kesal. Rencana konyol apalagi itu?! Bagaimana bisa mereka menyelenggarakan pertunangan begitu saja tanpa meminta persetujuan mereka?! Donghae benar-benar tidak habis pikir. Tapi bagaimanapun juga ia merasa berterimakasih kepada Jessica yang sudah sengaja memberitahukan hal ini padanya sebelum semuanya terlambat. Gadis itu pasti merasa tidak enak karena menyangka Donghae masih berpacaran dengan Yoona.

Donghae melangkah memasuki rumahnya dan segera menuju ke kamar orangtuanya yang terletak di lantai dua. Yang harus dilakukannya sekarang adalah meminta penjelasan atas rencana pertunangan konyol itu dan menolaknya mentah-mentah.

“Abeoji, bisa keluar sebentar? Aku ingin bicara denganmu.” kata Donghae tegas sambil mengetuk pintu kamar orangtuanya itu. Namun setelah berkali-kali mengetuk, tidak juga terdengar jawaban. Donghae memberanikan diri memutar kenop pintu kamar itu, tapi ternyata pintunya terkunci.

“Aish, dia pasti tidak ada didalam!” batin Donghae kesal. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut lantai dua itu. Pandangannya terhenti di ruang kerja ayahnya yang letaknya berhadapan dengan kamar orangtuanya.

Kali ini Donghae tidak ingin repot-repot melakukan formalitas mengetuk pintu sebelum masuk. Ia langsung membuka pintu ruangan itu dengan kasar dan bersiap melayangkan segala protes kepada ayahnya. Namun lagi-lagi ia harus mengurungkan niatnya ketika melihat ruangan berukuran sedang itu kosong melompong. Tidak ada siapapun didalamnya. Yang ada hanyalah tumpukan kertas yang berserakan di atas meja kerja dan komputer yang masih menyala.

“Komputernya masih menyala?” entah kenapa Donghae merasa ganjil dengan hal itu. Jika ayahnya berniat pergi keluar, seharusnya komputer itu dimatikan saja.

Rasa keingintahuan Donghae yang besar mendorongnya untuk menghampiri meja kerja ayahnya dan melihat komputer serta tumpukan kertas yang berserakan. Matanya terbelalak begitu melihat tulisan yang tertera didalamnya.

“Ma…mafia?!”

Donghae membolak-balik halaman kertas tersebut dengan tidak sabar. Sejak kapan ayahnya adalah salah satu anggota geng mafia?! Ia juga memeriksa satu per satu kertas-kertas itu dan membaca isinya. Perhatiannya lalu beralih ke komputer yang menganggur. Jantungnya serasa membeku begitu membaca siapa target utama geng itu sekarang.

Donghae memukul meja kerja ayahnya dengan kasar dan melemparkan semua kertas-kertas itu. Kenapa selama ini ia begitu bodoh sehingga tidak menyadari gerak-gerik ayahnya yang sangat membenci Yoona, dan pembicaraan dengan beberapa temannya yang seringkali dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Tanpa pikir panjang Donghae segera mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon ayahnya.

“Ada apa Donghae? Aku sedang sibuk.” ujar ayahnya di seberang telepon tak lama setelah telepon diangkat.

“Ada dimana kau sekarang?” tanyanya dingin.

“Ayah sedang ada pertemuan dengan rekan bisnis. Ada urusan apa?”

“Jangan bohong! Kutanya ada dimana kau sekarang?!” sergah Donghae. Amarahnya mulai memuncak.

“Maaf Donghae-ya, ayah sedang sibuk.” jawab ayahnya singkat. Sambungan pun terputus.

“Sial!” geram Donghae. Ayahnya pasti berusaha menutup-nutupi keberadaannya yang sebenarnya.

Donghae segera menghambur keluar ruangan dan turun ke lantai bawah. Ia harus segera mencari seseorang yang dapat mengetahui keberadaan ayahnya. Siapapun itu.

Ketika sampai di ruang tengah rumahnya yang besar, tiba-tiba saja ia melihat seorang pria tidak dikenal berjalan tertatih-tatih memasuki rumahnya. Sesekali pria itu memegangi perutnya yang berdarah. Sepertinya habis terkena tembakan. Wajahnya mengalami luka dan memar disana-sini. Pria itu meletakkan sebuah surat di atas meja kayu yang dikelilingi beberapa sofa.

“Tunggu.” tahan Donghae cepat sebelum pria itu melangkah pergi.

Pria itu menoleh. Ia tampak tercekat begitu melihat anak dari Jung Woo, bosnya itu, sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam.

“Ah, tuan muda Donghae…”

Dahi Donghae mengernyit, “Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Pria itu tidak menjawab. Ia segera melesat keluar menghindari Donghae, namun dengan cepat pria itu menahannya kemudian mendorong tubuhnya dengan kasar ke tembok dan menahan bahunya dengan kedua tangannya.

“Katakan padaku, dimana ayahku sekarang?!” tanyanya tegas.

Pria itu menatap Donghae. Pasti sekarang pria itu sudah mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya. Sebenarnya ia datang ke rumah itu bermaksud untuk memberikan surat pengunduran diri karena telah gagal menangkap Jonghyun, sesuai perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Namun tanpa diduga-duga ia malah tertahan oleh Donghae.

“Aku tidak tahu.” jawab pria itu datar.

Donghae menggertakkan gigi-giginya. Ia tahu kalau pria itu berbohong, “Jawab aku, dimana ayahku?!”

“Aku tidak bisa mengatakannya.”

BUGH!!” Donghae mendaratkan bogem mentah ke wajah orang itu.

“Asal kau tahu, aku bisa saja menghancurkan wajahmu! Sekarang katakan dimana ayahku atau aku akan mematahkan lehermu!!”

Napas pria itu memburu. Ia tidak menyangka kalau Donghae bisa bersikap kasar seperti ini. Mirip sekali dengan ayahnya.

“Dae…Daegu… Dia ada di Daegu…” jawab pria itu terbata-bata karena Donghae sudah membengkokkan kepalanya dengan paksa dan bersiap mematahkan tulang lehernya.

Mata Donghae membulat, “Daegu?!?!”

 

***

 

Daegu, South Korea

Yoona membuka matanya perlahan. Sinar yang berasal dari beragam lampu neon warna-warni cukup menyilaukan matanya. Tunggu dulu! Lampu neon warna-warni? Bukankah lampu di stasiun warnanya putih?

Sambil mengumpulkan nyawa, Yoona melihat ke sekelilingnya. Hampir semuanya berwarna hitam, mulai dari kursi yang didudukinya, lantai yang dipijaknya, sampai pintu disampingnya.

“Ini… di mobil?” tanya Yoona dalam hati. Ia hendak mengangkat tangannya menyentuh pintumobil yang berada tepat disampingnya, namun entah kenapa tangannya terasa kaku. Keduanya terikat ke belakang dengan kuat dan tidak bisa digerakkan. Yoona juga merasakan ada yang mengganjal mulutnya sehingga sulit dibuka apalagi berbicara. Cepat-cepat ia menggeser badannya ke tengah jok belakang mobil─tempatnya duduk sekarang─dan melihat pantulan dirinya di kaca spion. Matanya terbelalak. Entah sejak kapan mulutnya sudah disumpal kain berwarna putih sehingga menyulitkannya untuk mengeluarkan suara.

Yoona langsung kalang kabut. Apa ini artinya dia sudah tertangkap? Lagipula, dimana ini? Dibalik kaca mobil ia bisa melihat toko-toko yang berjejer rapi disamping trotoar. Seingatnya, ia tadi berada di stasiun.

Yoona baru teringat. Setelah keluar toilet tadi, ia diserang oleh para penjahat itu dan tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap. Pasti di saputangan yang dipegang salah satu penjahat tadi diolesi obat bius sehingga ia tidak sadarkan diri. Yoona melihat ke sekeliling dengan gelisah. Tidak ada satu orangpun didalam mobil itu ataupun yang berjaga di sekelilingnya. Entah ia harus merasa senang atau khawatir dengan keadaan ini.

Yoona tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia membentur-benturkan badannya ke pintu mobil di sebelahnya, berharap agar pintu itu terbuka dan ia bisa kabur keluar, namun pintu itu tidak bergeming. Ia mencoba menendang kaca di pintu itu dengan sebelah kakinya, namun sia-sia saja. Yoona mencoba berteriak sambil menggerak-gerakkan badannya di jok, berusaha mencari perhatian orang-orang yang lewat di sekitar jalanan itu, namun kaca rayban yang ada di mobil itu membuat ia bisa melihat jelas ke luar, namun orang-orang di luar tidak bisa melihat dirinya didalam.

Yoona semakin panik. Matanya mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya ia berteriak meminta bantuan, tapi kain yang membekap mulutnya membuat bibirnya sulit digerakkan, apalagi mengeluarkan suara.

Di tengah-tengah kepanikannya, tiba-tiba saja layar monitor yang berada di belakang jok dihadapannya menyala. Awalnya layar itu hanya menampilkan warna hitam, namun lama kelamaan berubah menjadi kecoklatan. Perlahan-lahan dalam monitor kecil itu terlihat sebuah ruangan bawah tanah yang gelap dan hanya diterangi cahaya remang dari satu buah bohlam. Yoona membetulkan posisi duduknya dan menyipitkan matanya, mencoba memfokuskan pandangan ke arah monitor itu. Dilihatnya seorang pria yang terduduk di kursi yang berada di tengah-tengah ruangan. Kepalanya terkulai lemas, kedua tangan dan tubuhnya terikat kuat ke belakang kursi tersebut.

Yoona terbelalak begitu pria yang disekap itu mengangkat kepalanya perlahan dan menolehkan pandangannya ke kamera─atau lebih tepatnya ke arah Yoona.

“APPA!!” pekiknya dalam hati. Belum pernah ia melihat ayahnya tampak kacau seperti itu. Rambutnya berantakan dan pakaiannya lusuh, juga tampak bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. Ayahnya pasti telah mengalami penyiksaan yang cukup berat sebelum akhirnya disekap seperti itu.

Tampaknya ayah Yoona dapat melihat wajah anak gadisnya itu dari tempatnya sekarang seperti halnya Yoona melihat wajah ayahnya karena ia langsung terbelalak begitu matanya menatap layar monitor.

“Yoona-ya, gwaenchanha?!” tanyanya panik. Bisa Yoona lihat pria itu menggerak-gerakkan badannya dengan gelisah, namun tidak ada yang bisa dilakukannya dengan tangan dan tubuh terikat seperti itu.

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Ia ingin menunjukkan kepada ayahnya itu bahwa ia tidak baik-baik saja. Sama sekali tidak.

“Larilah, Yoona! Kau harus tetap hidup! Jangan begitu saja menyerah kepada mereka! Mereka adalah penjahat yang telah membunuh Yoonji!!”

“Sudah cukup reuni ayah dan anak yang dramatis ini.” Tiba-tiba terdengar suara berat seorang pria. Pria itu berjalan perlahan mendekati kursi yang diduduki ayah Yoona. Yoona tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena gelap.

Pria itu mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya ke pelipis ayah Yoona, “Nah, sekarang sudah saatnya bagimu, Mr. Im Donghyuk. Apa kau ingin menyampaikan pesan terakhir?” ujarnya tenang.

Napas Donghyuk semakin memburu. Namun ia akhirnya pasrah. Ia sudah menyangka sebelumnya bahwa kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Mungkin memang inilah resiko yang harus ditanggungnya karena telah berani mengkhianati geng.

“Yoona-ya, selama ini mungkin appa tidak bisa menjadi ayah yang baik bagimu dan Yoonji. Appa benar-benar minta maaf. Karena kesalahan appa, kalian semua harus ikut terlibat.” Kata Donghyuk lirih.

“Tidak, Appa! Jangan bicara seperti itu! Kau tidak boleh mati!!” pekik Yoona dalam hati. Ia ingin sekali mengatakan hal itu pada ayahnya, namun tidak berdaya melakukannya sehingga yang terdengar adalah erangan-erangan yang tenggelam dibalik kain yang membekap kuat mulutnya.

“Oke, sudah cukup.” Potong pria misterius disamping Donghyuk. Ia menekan pistolnya di pelipis pria malang itu dan menekan pelatuknya.

“DOORRR!!!”

“APPAAAAA…!!!” jerit Yoona histeris. Air matanya semakin deras keluar. Ia menangis sekencang-kencangnya. Setelah ibunya dan Yoonji, sekarang ayahnya harus mati tertembak tepat didepan matanya. Yoona menutup matanya rapat-rapat. Ia tidak kuat melihat jasad ayahnya yang terkulai lemas di kursi itu. Rasanya separuh jiwanya menghilang.

Tiba-tiba saja Yoona mencium bau aneh yang menguar di sekeliling mobil yang tertutup rapat itu. Ia melihat ke sekeliling dan mendapati gas tipis yang mengepul dari bagian bawah dashboard. Semakin lama gas itu semakin pekat dan bau aneh yang tercium semakin kuat, membuat Yoona menjadi sulit bernapas. Dapat ia rasakan oksigen di sekitarnya semakin menipis.

“Ini… gas beracun?!” tangis Yoona berangsur-angsur berhenti begitu menyadari bau aneh yang sedari tadi dihirupnya. Ia baru sadar, rupanya inilah maksud sebenarnya para penjahat itu menyekapnya di mobil ini. Mereka membiarkan dirinya melihat secara langsung kematian ayahnya dengan mata kepalanya sendiri, baru kemudian membunuhnya secara perlahan dengan menggunakan gas beracun yang disebarkan kedalam mobil.

Yoona kembali membentur-benturkan badannya ke pintu mobil dengan kuat. Jika tidak bisa memecahkan kaca, minimal ia bisa membuat mobil itu tampak sedikit bergoyang sehingga dapat menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar daerah pertokoan itu. Tapi anehnya, tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.

“Jonghyun-ah, tolong aku!!!”

 

***

 

Sementara itu di tempat terpisah, Jonghyun semakin mempercepat langkah kakinya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bagaimana tidak? Ketika baru kembali dari membeli minuman di stasiun tadi, tiba-tiba saja Yoona menghilang. Pasti para anak buah Jung Woo sudah menemukannya dan membawanya ke suatu tempat. Ia tidak melihat kronologi kejadiannya sehingga sama sekali tidak mengetahui kemana arah perginya para penjahat itu.

“Sial!” Jonghyun menghentikan langkahnya dan memukul tembok yang berada didekatnya dengan geram. Andai saja tadi ia tidak menolong nenekitu, pasti tidak akan begini jadinya. Sedikit saja perhatiannya teralihkan, gadis itu langsung menghilang.

Tidak ada pilihan lain. Jonghyun lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol.

“Yeoboseyo?” terdengar suara di seberang setelah telepon itu diangkat.

“Dimana kau sekap Yoona?!” tanya Jonghyun tanpa basa-basi.

“Apa maksudmu, Jonghyun-ssi?” tanya Jung Woo. Nada suaranya terdengar sangat tenang dan terkesan mengejek. Seolah ia sudah menduga Jonghyun akan menghubunginya seperti ini.

“Jangan pura-pura! Dimana kau sekap Yoona?!!” geram Jonghyun. Emosinya semakin tidak terkontrol.

“Apa menurutmu aku mengetahuinya? Aku bahkan tidak naik kereta yang sama dengan kalian.” ujar Jung Woo sarkastis.

“Sialan kau!!” Jonghyun memutuskan sambungan dengan kasar. Harusnya ia tahu, menanyakan keberadaan Yoona pada pria licik itu adalah keputusan yang bodoh. Berbicara dengannya hanya akan membuat emosinya semakin tersulut sehingga ia sulit berpikir jernih.

Sekarang Jonghyun benar-benar bingung. Ia tidak bisa menghubungi Yoona karena ia tidak mengetahui nomor ponsel gadis itu. Salahnya juga karena dari awal tidak memintanya. Yoona bahkan tidak mengetahui kalau ia sebenarnya memiliki ponsel. Tidak mungkin ia pergi ke kantor penerangan karena keadaannya sudah mendesak.

Apa boleh buat, Jonghyun kembali melanjutkan langkahnya mencari gadis itu, dan semakin frustasi karena ia tidak bisa menemukannya juga. Pikirannya kalut. Saat ini hanya ada dua kemungkinan; Yoona disiksa oleh para penjahat itu, atau ia langsung ditembak mati tanpa belas kasihan. Jonghyun merasa kemungkinan yang pertama masih lebih baik, namun tetap saja ia tidak menginginkan kedua hal itu terjadi. Bagaimanapun juga ia harus secepatnya menemukan gadis itu sebelum semuanya terlambat.

Jonghyun terus berjalan tak tentu arah sambil menoleh kesana-kemari seperti turis asing yang sedang tersesat. Sampai pada akhirnya ia sampai di daerah pertokoan dan melihat sekerumun orang yang sedang memperhatikan sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di trotoar.

“Ada apa itu?” tanya seorang wanita disamping Jonghyun yang kebetulan melihat kerumunan itu.

“Katanya ada gadis yang terjebak didalam mobil.” Jelas teman wanita itu.

“Terjebak didalam mobil? Bagaimana bisa?”

Teman wanita itu mengangkat bahu, “Aku juga tidak tahu. Sekarang orang-orang sedang berusaha menolongnya. Sepertinya gadis itu hampir pingsan.”

Mendengar percakapan kedua wanita itu, tanpa pikir panjang ia segera menghampiri kerumunan orang di seberang jalan dan menyeruak untuk mengetahui apa yang sebenarnya dilihat orang-orang itu. Jauh di lubuk hatinya ia berharap bahwa orang yang ada didalam mobil itu adalah Yoona, walau entah bagaimana caranya ia bisa ada di tempat itu.

“Yoona-ya, apa itu kau?!” tanya Jonghyun panik sambil mengetuk-ngetukkan kaca belakang mobil dengan tidak sabar. Samar-samar ia mencium bau aneh di sekitar mobil itu.

Mata Jonghyun terbelalak, “I…ini… karbon monoksida!” ia tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Bagaimana tidak? Sering terjadi kasus orang yang meninggal akibat keracunan gas karbon monoksida yang tersebar didalam mobil yang tertutup.

Jonghyun mencoba mengintip kedalam, namun sedikit sulit karena mobil itu dilengkapi kaca rayban. Ia lalu menempelkan telinganya ke kaca, mencoba mendengarkan suara dari dalam. Jika itu benar Yoona dan gadis itu masih sadar, seharusnya dia bisa merespon panggilannya.

Samar-samar terdengar suara erangan. Jonghyun menajamkan pendengarannya. Dari suaranya, memang benar itu suara Yoona dan gadis itu masih sadar.

Jonghyun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia harus mencari cara untuk mengeluarkan gadis itu dari dalam mobil. Tanpa memedulikan pandangan heran orang-orang yang berkerumun di sekitar situ, Jonghyun segera bergegas menuju deretan toko-toko di pinggir jalan, berusaha mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk memecahkan kaca mobil.

Tiba-tiba Jonghyun melihat sebuah toko olahraga tidak jauh dari sana. Ia segera masuk kedalam toko itu dan mencari sebuah bet baseball.

“Ahjussi, aku pinjam ini sebentar!” ujar Jonghyun terburu-buru. Ia mengambil sebuah bet baseball yang terbuat dari logam dan langsung melesat kembali menuju mobil tempat Yoona disekap.

“Hei, kau mau kemana?!” ahjussi pemilik toko yang terkejut dengan spontan mengejar langkah Jonghyun.

Setelah sampai, Jonghyun segera memukulkan bet itu berkali-kali ke kaca depan mobil sampai kaca tersebut pecah berkeping-keping. Setelah itu ia membuka kuncinya dan berhasil membuka pintu belakang. Benar saja, gadis yang berada didalam mobil itu adalah Yoona. Wajahnya tampak pucat dan lemas. Sesekali ia terbatuk-batuk.

“Yoona-ya, gwaenchanha?” tanya Jonghyun cemas. Ia langsung membuka kain yang mengikat tangan dan mulut Yoona.

“Jong…hyun…” Yoona terlihat sulit bernapas. Gadis itu lalu menunjuk ke arah bagian bawah dashboard mobil. Tampak percikan api kecil mencuat dari sana.

Mata Jonghyun terbelalak. Ia segera menarik tubuh Yoona keluar dari mobil. Mobil itu pasti sudah dirancang sedemikian rupa sehingga akan meledak begitu gas beracun disebar.

“Semuanya, awas!!!” teriak Jonghyun pada orang-orang yang berkerumun di sekitar situ untuk segera menjauh.

DUAARRR!!!

Tak lama kemudian mobil itupun benar-benar meledak. Daerah pertokoan di Daegu itupun seketika dilanda kepanikan. Orang-orang berlarian kesana-kemari berusaha menyelamatkan diri, terutama yang berdiri dekat dengan mobil.

Jonghyun mendudukkan Yoona di tempat yang dirasa aman, memberikan gadis itu ruang untuk bernapas. Namun setelah sekian lama, gadis itu masih terlihat sangat sulit bernapas. Dadanya naik turun dan sesekali terdengar suara berdecit dari hembusan napasnya.

“Kau… punya asma?” tanya Jonghyun sambil menahan tubuh gadis itu dengan tangannya dan menyeka peluh yang membasahi dahinya. Ia tahu, suara berdecit itu berasal dari saluran pernapasannya yang menyempit.

“Asma…ku… kam…buh…” jawab Yoona terbata-bata. Tangannya bergetar dan keringat dingin mengucur di dahinya.

Melihat kondisi Yoona yang mengkhawatirkan, Jonghyun langsung menggendong gadis itu di punggungnya dan membawanya pergi dari tempat itu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki beberapa orang. Jonghyun menoleh sekilas ke belakang. Tampak beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berlari ke arah mereka berdua. Jonghyun mendecak. Para anak buah Jung Woo itu pasti langsung bisa mengetahui keberadaan mereka dengan mudah setelah mendengar ledakan kecil mobil tadi dan kobaran api yang menyelimutinya.

Jonghyun berlari menyusuri pertokoan. Terbersit di pikirannya untuk mampir ke apotek dan membelikan obat untuk Yoona, tapi rasanya itu terlalu beresiko. Bagaimana kalau nanti para penjahat itu melepaskan tembakannya didalam toko? Ia tidak ingin membuat kepanikan di tempat umum.

“Yoona-ya, bertahanlah.” Ujar Jonghyun menenangkan. Dapat ia rasakan kepala dan tangan gadis itu terkulai lemas di bahunya. Sesekali ia terbatuk. Jonghyun mengeratkan tangannya yang melingkari lutut Yoona di punggungnya agar gadis itu tidak terjatuh. Jika asma seseorang kambuh, pasti rasanya sangat menyiksa.

Jonghyun mempercepat langkahnya dan terus berlari tak tentu arah. Yang dipikirkannya hanyalah bagaimana ia bisa meloloskan diri dari kejaran para penjahat itu. Ia terus menyusuri gang-gang sempit diantara toko hingga pada akhirnya sampailah di kumpulan bangunan tua yang sudah tidak terpakai. Daerah itu sangat gelap dan terasa mencekam, hanya diterangi sinar temaram sebuah lampu jalan. Tapi itu justru membuat Jonghyun merasa sedikit beruntung. Ia bergegas menuju salah satu bangunan tua tersebut dan memutuskan untuk bersembunyi disana sampai para penjahat itu pergi.

DOORRR!!!” tiba-tiba terdengar suara tembakan. Seketika itu juga Jonghyun merasakan perih dan panas di betis kanannya. Tubuhnya menjadi tidak seimbang dan ia pun terjatuh ke tanah. Rupanya ketika ia hendak berbelok tadi, para penjahat itu melepaskan tembakannya dan mengenai betis kanan Jonghyun.

“AAARRGGHHH…!!” erang Jonghyun sambil memegangi kaki kanannya. Dapat ia rasakan darah segar mengalir deras dari tempat peluru tersebut bersarang.

Yoona yang menyadari bahwa Jonghyun tertembak cepat-cepat menyingkir dari punggung pria itu dan melihat luka di betis kirinya.

“Larilah…” kata Jonghyun lirih. Sesekali ia meringis. Luka tembakan itu terasa sangat sakit, ditambah dengan bekas tembakan yang masih menganga di lengan kirinya. Membuatnya tidak lagi bisa bangkit berdiri. Perlahan-lahan pandangan matanya menjadi kabur karena banyaknya darah yang keluar.

Yoona mendekatkan badannya ke arah Jonghyun dan mencengkeram lengan baju pria itu dengan kuat. Ia merasa sangat takut, “Tapi─”

Belum sempat Yoona menyelesaikan kalimatnya, dua orang penjahat tadi sudah keburu menghampirinya dan mencengkeram kuat kedua lengannya, memaksanya untuk berdiri.

“Jonghyun-ah…” Yoona seolah memohon kepada pria itu untuk menyelamatkannya. Ia meronta agar kedua orang itu melepaskannya, namun tenaganya sudah tidak kuat lagi untuk melawan. Untuk benapas saja ia sangat sulit. Akhirnya Yoona pun pasrah ketika kedua orang itu menyeretnya menjauh.

“Jangan sentuh dia, brengsek!!” Jonghyun berusaha sekuat tenaga menghalangi para penjahat itu untuk membawa pergi Yoona, namun dengan kondisinya sekarang ini yang terjadi malah para penjahat itu menginjak tangannya serta menendang wajah dan perutnya sehingga ia tersungkur di tanah. Darah segar kembali keluar dari mulut dan hidung Jonghyun.

Kedua anak buah Jung Woo itu lalu membawa Yoona ke sebuah tiang yang berada tidak jauh dari sana dan mengikatkan kedua tangannya melingkari tiang itu. Yoona hanya bisa tertunduk lemas sambil sesekali terbatuk. Dadanya benar-benar terasa sesak. Saking sesaknya, ia sampai tidak mampu lagi berbicara.

“Wah, apa aku sudah melewatkan pertunjukan ini?” tiba-tiba terdengar sebuah suara. Semua orang yang ada di tempat itu menoleh, termasuk Yoona. Ia merasa tidak asing dengan suara itu, namun tidak bisa mengingat siapa pemiliknya.

Pria itu berjalan perlahan mendekati Yoona. Awalnya memang wajahnya tidak terlihat karena gelap, namun saat pria itu semakin mendekat ke arahnya dan menunjukkan sosoknya, Yoona pun tercekat.

“A…abeo…nim…?” tanyanya tidak percaya. Yang berdiri dihadapannya sekarang adalah Lee Jung Woo, ayah Lee Donghae yang sangat dikenalnya.

“Setelah melihat diriku yang seperti ini, kau masih memanggilku abeonim?” Jung Woo mendelik sinis ke arah Yoona, “Aku bahkan tidak pernah menerimamu sebagai menantuku.”

Jung Woo lalu melirik sekilas ke arah Jonghyun yang sudah tergeletak tidak berdaya di tanah, namun matanya masih tetap mengawasi gerak-geriknya, “Kau sudah mencampakkan anakku dan lebih memilih bocah pengkhianat itu. Kau pikir siapa dirimu, hah?! Dasar wanita jalang!!”

Jung Woo mendaratkan tamparan keras di pipi Yoona. Membuat gadis itu meringis, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kepalanya tertunduk. Perlahan air mata kembali membasahi pipinya.

Jung Woo tersenyum sinis. Sebenarnya ia cukup senang mendapatkan tugas untuk membunuh Yoona karena mereka terlibat konflik pribadi. Selama ini ia memang sengaja bersikap dingin dan ketus kepada Yoona agar gadis itu bisa segera mengakhiri hubungannya dengan Donghae. Ia tidak ingin Donghae merasa depresi setelah kematian Yoona nantinya. Karena ia sudah mengetahui siapa Yoona dan bagaimana keluarganya sejak pertama kali mereka bertemu. Ayah Yoona, Im Dong Hyuk adalah mantan rekannya dalam geng. Saat masih berada dalam geng beberapa tahun yang lalu, sikap yang ditunjukkannya sedikit aneh. Pria itu bahkan sempat menceritakan tentang rencana pengkhianatannya kepada bos bahkan mengajaknya ikut serta. Namun Jung Woo menolaknya mentah-mentah dan menjaga jarak dengan pria itu.

Jung Woo mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya tepat ke jantung Yoona. Membuat gadis itu gemetar ketakutan dibalik tarikan napasnya yang semakin lama semakin melemah.

“Nah, sekarang sudah saatnya bagimu, nona Im Yoona.”

“Tidak… semudah… itu…” suara Jonghyun kembali terdengar. Baik Jung Woo maupun Yoona menoleh. Tampak Jonghyun sudah bersiap mengarahkan pistolnya ke arah pria itu sambil terduduk di tanah. Ia tidak akan membiarkan pria licik itu menyentuh Yoona walau sekecil apapun.

Dengan secepat kilat Jung Woo mengalihkan pistolnya ke arah Jonghyun dan menembakkan dua peluru ke arah perut dan dada pria itu.

“AAARRRGGGHHH…!!!” Jonghyun kembali mengerang. Empat peluru yang bersarang di tubuhnya semakin membuatnya tidak bisa bergerak. Ia pun jatuh tersungkur. Beruntung peluru-peluru tersebut tidak mengenai jantungnya sehingga ia masih bisa mendapatkan kesadarannya. Napasnya terengah-engah. Dapat ia rasakan pandangannya semakin kabur.

“JONGHYUN!!” jerit Yoona sekuat tenaga. Ia tidak mampu melihat Jonghyun yang tergeletak tidak berdaya. Ia tidak rela jika Jonghyun harus mati hanya karena berusaha melindungi dirinya.

“Masih ada sisa tiga peluru lagi.” Gumam Jung Woo tenang. Ia melirik ke arah Yoona yang menangis terisak-isak. Setelah membuat Jonghyun tidak bisa lagi berkutik, rasanya ia tidak perlu terburu-buru. Hanya dengan satu tembakan, ia pasti langsung bisa mengirim gadis itu ke akhirat dengan mudah.

“Hentikan!” seru sebuah suara. Semua orang yang ada disana menoleh. Mereka semua, terutama Jung Woo sangat terkejut begitu mengetahui siapa yang datang.

“Donghae?” tanya Jung Woo tidak percaya.

Wae? Kau kaget kenapa aku bisa tahu keberadaanmu?” potong Donghae ketus, “Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya dan semua rencana busukmu itu!!” mata Donghae berkilat. Setelah mengetahui keberadaan ayahnya yang sebenarnya, ia segera melesatkan mobilnya menuju Daegu. Rasa kebenciannya pada ayahnya semakin bertambah ketika mengetahui jati diri pria itu yang sebenarnya. Selama bertahun-tahun dia telah membohongi keluarganya dan sekarang berusaha membunuh Yoona, Donghae benar-benar tidak bisa memaafkan perbuatannya sekalipun dia adalah ayahnya.

“Kau masih saja membela gadis ini?” Rahang Jung Woo mengeras. Ia tidak menyangka Donghae berani bersikap seperti ini padanya.

“Jangan sentuh Yoona atau aku akan menghabisimu!!”

“Kau berani melawanku?!” emosi Jung Woo mulai memuncak. Kedua alisnya menyatu. Ia mengangkat tangannya ke udara dan memberi isyarat kepada kedua anak buahnya untuk segera menghalangi Donghae.

Donghae yang melihat kedua orang itu berlari ke arahnya dan hendak menyerangnya segera mengambil ancang-ancang. Ia menghajar kedua orang yang ukuran badannya lebih besar darinya itu dengan segala kemampuan dimilikinya. Donghae datang kesana bukan tanpa persiapan. Ia sudah mengira bagaimana kondisi di tempat ini dan memikirkan segala resikonya. Ia tidak menyangka kemampuan bela diri yang dipelajarinya ketika SMA itu dapat berguna juga. Yang dipikirkannya sekarang adalah mengalahkan kedua orang itu secepat mungkin sebelum ayahnya kembali fokus kepada Yoona.

Dalam hitungan detik Donghae berhasil mengalahkan kedua orang itu dan membuat mereka jatuh tersungkur di tanah. Ia lalu berjalan menuju tampat Yoona disekap. Setelah memperhatikan kondisi gadis itu, Donghae dapat mengetahui bahwa asma Yoona sedang kambuh. Ia menggertakkan giginya geram. Ayahnya pasti sudah melakukan hal yang dapat menyiksa gadis itu sebelum ia datang.

“Jangan bergerak!” tahan Jung Woo tanpa sedikitpun mengalihkan pistolnya dari Yoona, “Jika kau melangkahkan kaki sekali lagi, maka gadis ini akan langsung kutembak!”

Donghae tidak punya pilihan. Lebih baik ia menuruti perintah ayahnya daripada harus melihat Yoona mati tertembak didepan matanya. Ia pun terpaksa menghentikan langkahnya.

Jung Woo kembali menolehkan kepalanya ke arah Yoona, “Baiklah, kurasa kita harus cepat mengakhirinya.” Ia menyeringai, ada rasa kesenangan dalam hatinya karena akan segera mengakhiri tugas ini.

Yoona menutup matanya begitu Jung Woo menekan pelatuk pistolnya perlahan. Ia sudah pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya, termasuk jika ia harus mati malam ini. Ia tidak ingin membuat orang-orang yang disayanginya terlibat lebih jauh dalam masalah keluarganya. Dengan kematian dirinya, Yoona merasa semua dendam yang dirasakan oleh ketua geng dan anggotanya yang lain akan segera tuntas.

Melihat hal itu, Jonghyun tidak bisa diam begitu saja. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, diam-diam ia kembali mengarahkan pistolnya ke arah Jung Woo dengan posisi tengkurap. Bersiap menembak pria itu walaupun ia tidak bisa lagi melihat wajahnya dengan jelas.

“Ya. Mungkin inilah jalan terbaik.” Kata Yoona dalam hati, “Eomma, Appa, Yoonji… semoga kita bisa bertemu di surga…”

Annyeonghi kaseyo, Im Yoona.”

DOORRR!!!

Terdengar suara tembakan. Jonghyun terbelalak. Bukan Yoona maupun dirinya yang tertembak. Tiba-tiba saja ia melihat Jung Woo jatuh tersungkur di tanah. Rupanya pria itulah yang sudah tertembak. Jika bukan ia yang menembak, maka satu-satunya orang yang melakukan itu adalah…

“O…Oppa…?” ujar Yoona lirih begitu membuka mata. Ia langsung curiga begitu mendengar suara tembakan namun tidak terjadi apapun pada dirinya. Dan ketika membuka matanya, ia melihat Donghae yang berada tepat dibelakang ayahnya sambil mengacungkan pistol. Samar-samar terlihat asap mesiu yang muncul dari ujung pistol itu, menandakan bahwa Donghae-lah orang yang baru saja menembak ayahnya.

Yoona mengarahkan pandangannya ke bawah. Tampak Jung Woo sudah tergeletak tidak berdaya di tanah dengan sebuah peluru menembus jantungnya.

“Hanya ini… satu-satunya cara penyelesaiannya kan?” ujar Donghae tercekat. Matanya memandang nanar jasad ayahnya yang tergeletak dihadapannya. Pistol yang dipegangnya terjatuh begitu saja ke tanah.

Donghae masih berdiri mematung di tempatnya. Tampak tidak percaya pada apa yang baru saja dilakukannya. Ia telah menembak mati ayahnya sendiri. Dapat ia rasakan jantungnya berdegup sangat kencang.

“Tindakanku tidak sepenuhnya salah. Bukankah kita harus menghukum penjahat yang mengancam nyawa seseorang?” Donghae berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tidak, ini bukan hal yang salah. Ayahnya adalah orang yang jahat. Tapi bagaimanapun juga pria itu tetap ayah kandungnya. Separuh jiwanya terasa hilang begitu ia menekan pelatuk pistol itu. Dan ia tidak dapat memungkirinya.

Donghae membalikkan badannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan berjalan meninggalkan tempat itu. Yoona tidak berniat mencegahnya karena ia tahu, sekarang Donghae pasti sedang mengalami perang batin. Karena sejahat apapun Jung Woo, dia tetaplah ayah kandungnya.

Yoona terus memandangi punggung Donghae di tengah kesadarannya yang semakin menipis, sampai pria itu menghilang di tikungan, seiring dengan suara mobil polisi dan ambulans yang mulai berdatangan ke tempat itu.

 

-The End-

 

_______________________________

Halo! Akhirnya aku punya kesempatan lagi buat ngepost chapter ini😀

Soal waktu ngepost yang lama, kayaknya udah ga heran lah ya… Aku emang kalo ngepost lama, dan punya alasan tersendiri untuk hal itu. Jadi makasih buat yang masih setia nungguin, dan makasih juga buat yang udah comment bukan Cuma di FF ini aja, tapi juga FF aku yang lainnya.

Gimana? Masih gantung? Hehehe… emang sengaja, karena abis ini masih ada epilog-nya *dikeroyok* Jadi tungguin aja ya🙂

11 thoughts on “I Found You [Chapter 6 – End]

  1. Wah disengaja bikin penasaran nih
    Tapi emank penasaran bgt sih sama menudingnya
    Semoga jonghyun baik2 saja,begitu juga dg yoon
    Happy ending for deerburning couple

  2. Ya ampun hampir aku teriak2 protes ending ny.gantung.,ehehe…ga jadi untung di kasih tau bakal ada epilog…
    Huuuft..keren sumpah,,bayangan ku aku berasa nonton film action,hoho…
    Aduh penasaran abis nih sama epilog ny,Yoona ama Jonghyun kan?? Jonghyun selamat kan?? Trus gimana nasib Donghae..??
    Ah mesti lagi2 sabar nunggu nih buat baca epilog ny..
    Semangat Chingu,Keep Writing and Semangat Chingu,Keep Writing and Semangat Chingu,Keep Writing and Semangat Chingu,Keep Writing and Fighting!

  3. hufh..baca cerita ini..bikin jantung berdetak cepat..

    ini cerita benar2 keren….

    Mau Marah2 pas baca endingnya…huph…

    nggak jadi karena author janji epilog…

    #sudah mempersiapkan diri untuk jonghyun mati (sad) ataupun deerburning bahagia (happy)

  4. DAEBAAAKKK!!! Sumpe kereeenn ini story! Bacanya nonton pilem action! Daebak! Daebak!!😀

    Bias gw itu Lee Jonghyun. Tapi kenapa baca ini gw jd cinta ama Lee Donghae yaaaa??????😀

  5. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAa kereeeeeeeeeeen :)))))
    aku baca dari tadi pagi (part 2), sampe sekarang baru selesai dan hasilnya GAK NYESEL! kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen :))))))))))))
    baik Lee Donghae ataupun Lee Jonghyun, disini perannya bener2 cowo idaman, hhehehehhe :)))

  6. YAMPUN ANNYEONG AUTHOR^^.
    akhirnya ff yg ditunggu comeback juga:’)
    ah sumpah ff ini keren! suka bgt actionnnya!
    tapi moment merekanya kurang:(
    endingnya masa cuma kaya gini:(
    ho ini mah pasti butuh squel banget-_-
    buatin dong thor supaya mereka bener2 happy ending
    yayayaya, oke, lanjutkan ff lainnya, hwaiting!^^~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s