Crush (Part 7)

crush cover

Judul: Crush – part 7

Author: emotionalangel4

Rating: PG-15

Genre: Romance, Angst, AU

Lenght: Chaptered

Main Cast:

Lee Jonghyun CN Blue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:

Jung Yonghwa CN Blue sebagai Im Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Lee Seohyun

Tiffany Hwang SNSD sebagai Tiffany

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Jessica Jung SNSD sebagai Jessica

Disclaimer: The story is pure from my imagination. FF ini sebelumnya sudah pernah dipost di blog pribadiku. Namun versi ini sudah diedit dan diberi sedikit perbaikan.

Prolog –  Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6

21.00 KST @Trax Lounge and Bar

 

“Ya!! Tambah satu lagi!” Yonghwa menyodorkan gelas kosong kepada bartender di depannya.

“Tapi tuan, ini sudah gelas ke tujuh anda” ucap bartender yang sedari tadi melayani Yonghwa cemas, sadar bahwa kesadaran lelaki di depannya itu sudah tidak sampai separuh.

“Tsk!! Ku bilang tambah!!!” bentak Yonghwa sambil menghentakkan gelas kosongnya ke meja berkali-kali diikuti racauan tidak jelas yang keluar dari mulutnya.

“Ne, Tuan” akhirnya bartender itu mengalah dan menambahkan lagi vodka ke dalam gelas Yonghwa.

Yonghwa segera meminumnya beberapa teguk tanpa ragu. Kesadarannya sudah hampir mencapai ambang batas, namun ia tidak peduli. Masalah yang menderanya hari ini begitu membebani pikirannya. Masalah mengenai kesehatan ibunya yang makin memburuk ditambah kenyataan yang ia temukan mengenai kondisi adiknya selama ini. Semua membuatnya tertekan dan frustasi karena tidak bisa menyelesaikan semua masalah itu.

Yonghwa meneguk kembali minumannya. Kepalanya memang terasa sudah makin berat saat ini karena pengaruh kuatnya alkohol, namun ia tidak bisa berhenti. Setiap teguk alkohol yang masuk bereaksi cepat ke dalam tubuhnya. Membuatnya merasa tenang dan bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang sedang menimpanya saat ini.

I remember tears streaming down your face
When I said, I’ll never let you go
When all those shadows almost killed your light
I remember you said, Don’t leave me here alone
But all that’s dead and gone and passed tonight

Yonghwa menoleh ke arah panggung kecil di depan bar begitu mendengar petikan gitar dan suara lembut penyanyi yang baru saja memulai pertunjukkannya malam ini. Yonghwa menatap lurus ke depan tak berkedip. Telinganya mendengar lagu lembut yang dinyanyikan penyanyi di panggung itu namun pikirannya melayang entah ke mana.

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound

Don’t you dare look out your window darling
Everything’s on fire
The war outside our door keeps raging on
Hold onto this lullaby
Even when the music’s gone

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound

Just close your eyes
You’ll be alright
Come morning light,
You and I’ll be safe and sound…

(Safe and sound – Taylor Swift)

Suara riuh tepuk tangan memenuhi seluruh sudut bar ketika sang penyanyi mengakhiri pertunjukkan luar biasanya malam ini. Yonghwa sendiri masih terpaku di tempatnya, tak bergeming. Entah kenapa suara penyanyi itu tiba-tiba menghangatkan hatinya dan membungkusnya lembut. Rasanya emosi yang tadi meluap-luap dan tidak terkendali, tiba-tiba meredup bersamaan dengan berakhirnya lagu tersebut.

“Wah… Penyanyi baru itu hebat. Suaranya benar-benar bagus” seorang bartender berkomentar dengan antusias kepada teman di sebelahnya.

“Iya, dia juga cantik. Semenjak dia mulai bekerja 4 hari yang lalu, pengunjung bar ini jadi makin ramai” tanggap seorang bartender lainnya.

Yonghwa dapat mendengar pembicaraan kedua bartender tersebut dengan jelas dari tempat duduknya, nanum tidak tertarik untuk bergabung. Jujur, ia sendiri juga ikut menikmati pertunjukkan dari gadis penyanyi itu. Memang tidak bisa ia pungkiri bahwa suara penyanyi tersebut begitu jernih dan merdu walaupun kemampuannya bermain gitarnya masih jauh di bawahnya.

Yonghwa meneguk kembali minuman di depannya hingga habis tidak tersisa. Tiba-tiba kepalanya kembali terasa berat dan berdenyut. Ia mencoba bangkit dari tempat duduk namun kakinya seakan terasa seperti jelly yang bahkan tidak mampu menahan seluruh beban tubuhnya. Ia hampir jatuh tersungkur ke lantai jika saja bartender yang sedari tadi melayaninya tidak membantunya berdiri.

“Kau tidak apa-apa Tuan?” tanya bartender itu cemas sambil memegangi tangan kanan Yonghwa untuk membantunya berdiri tegak.

“Aniyo, gwenchana” Yonghwa menarik tangannya yang masih dipegangi bartender dan mencoba berdiri seimbang dengan kekuatannya yang masih tersisa.

“Anda yakin Tuan?” tanya bartender itu kembali, terlihat khawatir akan kondisi Yonghwa yang sudah hampir tidak sadarkan diri.

Yonghwa hanya menjawabnya dengan gumaman kecil sambil mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Setelah berhasil mengusai tubuhnya, ia kembali melangkahkan kaki dan berjalan terhuyung-huyung menuju toilet terdekat untuk membasuh wajah.

Yonghwa membasuh wajahnya di wastafel, berharap dengan begitu kesadarannya dapat kembali pulih atau setidaknya berangsur membaik. Namun sepertinya dinginnya air yang mengguyur seluruh wajahnya sama sekali tidak berguna. Ia terlalu mabuk. Terlalu sukar bahkan untuk membuka kedua matanya. Ia menghela napas panjang. Ditatapnya pantulan dirinya di balik cermin. Lihatlah! Ia bahkan tidak bisa melihat jelas bayangan wajahnya yang terpantul di sana. Pandangannya mulai samar dan tidak jelas. Yonghwa kembali membasuh wajahnya lagi, entah sudah yang keberapa kali. Ia harus segera mengembalikan kesadarannya mengingat malam ini ia harus mengemudikan mobil sendirian ke rumah.

Merasa usahanya sia-sia, Yonghwa akhirnya keluar dari toilet dengan langkah sempoyongan. Tangan kanannya meraba-raba, mencoba meraih dinding di sampingnya untuk membantu keseimbangan tubuhnya yang semakin berkurang. Namun tiba-tiba ia merasa pandangannya yang tadi kabur sekarang mulai menggelap, suara dentuman musik di bar pun mulai meredup di pendengarannya, tubuhnya terasa lemah dan bumi tempatnya berpijak seakan bergoyang tidak beraturan. Iapun kehilangan keseimbangan dan jatuh terhempas ke lantai.

“Tuan… Tuan…” sayup-sayup Yonghwa dapat mendengar suara seseorang. Dan seketika itu juga, kesadarannya hilang.

 

-ooo-

 

Yonghwa memutar tubuhnya untuk menemukan posisi yang lebih nyaman dalam posisi tidurnya. Setelah tiga atau empat kali memutar tubuh, ia tidak juga menemukan posisi yang nyaman. Ia juga dapat merasakan leher dan punggungnya terasa pegal dan kepalanya berdenyut hebat. Perlahan-lahan, ia mencoba membuka mata dan tepat saat itu sinar matahari pagi menerobos masuk menembus pupilnya yang sama sekali tidak siap. Yonghwa mencoba memalingkan wajah untuk menghindari sinar matahari yang menyengatnya langsung dari arah depan dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan sosok gadis yang sedang duduk di sisi kirinya menatapnya lekat.

Refleks, Yonghwa terlonjak dan segera duduk dengan posisi tegak. Ia menoleh ke berbagai sisi, memperhatikan kondisi sekitar dan makin terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa saat ini ia berada di dalam mobil. Tidur di dalam mobilnya sendiri.

“Siapa kau? Kenapa aku ada di sini?” suara serak Yonghwa dengan susah payah lolos dari mulutnya.

“Kau sudah bangun?” gadis itu malah balik bertanya.

Yonghwa menggerang ketika merasakan kepalanya kembali berdenyut hebat akibat gerakan tiba-tibanya tadi. Ia memegang kepalanya dan memijitnya pelan. Sambil menarik napas panjang, ia memejamkan mata dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam sehingga dirinya bisa berada di sini bersama gadis yang tidak dikenalnya. Seingatnya, tadi malam ia minum sampai tidak sadarkan diri di bar. Namun kenapa sekarang ia bisa berada di mobil dengan seorang gadis? Ia masih belum mampu mengingat semua potongan-potongan adegan yang dapat mengkolerasikan semua kejadian ini.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” Yonghwa kembali bertanya kepada gadis di sampingnya. Kali ini suaranya sudah terdengar lebih jelas.

“Kau pingsan jadi aku membawamu ke sini” jawab gadis itu polos, seakan ia hanya menjawab sebuah pertanyaan non sense seperti ‘Aku makan karena lapar’.

Yonghwa menatap gadis itu tajam. Ia tahu, jawaban gadis itu sama sekali tidak salah. Namun tidak bisakah ia menjawab lebih spesifik? Mengenai bagaimana ia bisa sampai tidur di dalam mobil dan kenapa gadis itu bisa ada di sini saat ini.

Seakan bisa membaca ekspresi Yonghwa, akhirnya gadis itu melanjutkan penjelasannya. “Maaf, aku tidak bisa membawamu ke hotel,  aku tidak punya cukup uang menyewakan hotel untukmu. Lagipula di dompetmu tidak ada uang cash, hanya ada kredit card. Aku mana bisa menggunakannya?”

Yonghwa mengangkat wajahnya dan menatap gadis itu kesal. Sebenarnya ia ingin marah ketika mendengar gadis itu membuka dompetnya sembarangan. Namun mengingat gadis itu telah menolongnya, maka ia mengurungkan amarahnya dan mencoba berpikir rasional. Gadis itu hanya ingin membantunya.

“Kau tidak mengingatku?” tanya gadis itu tiba-tiba.

Yonghwa mengernyitkan dahinya dan memandang wajah gadis itu. Ia mencoba menggali ingatannya lagi. Wajah gadis itu memang terasa tidak asing. Sepertinya ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. Namun bagaimanapun ia berusaha, ia masih tidak mampu mengingat. Kepalanya terasa hampir pecah ketika ia mencoba menggali ingatannya. Sepertinya pengaruh alkohol itu masih berefek sampai pagi ini.

“Maaf, aku tidak ingat” Yonghwa akhirnya menyerah.

“Tsk!” gadis itu berdecak kesal, terlihat kecewa dengan jawaban Yonghwa. “Satu juta won. Apa kau tidak ingat?” gadis itu kembali memberikan sebuah pertanyaan.

“Saat ini aku tidak ingin main tebak-tebakan, agashi!” ledak Yonghwa akhirnya. Ia merasa kesal karena gadis ini terus saja menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang sulit dijawab dan bahkan membuat kepalanya makin bertambah sakit.

Gadis itu mendengus kesal mendengar jawaban ketus Yonghwa. “Aku gadis di rumah sakit itu. Aku meminjam uangmu satu juta won. Kau tidak ingat Jung Yonghwa-sii?” gadis itu menjelaskan dengan nada tidak kalah ketus. Jika laki-laki ini bukan orang yang pernah menolongnya, mungkin ia akan meninggalkan lelaki ini tergeletak di bar sampai pagi.

Selama beberapa detik, Yonghwa terdiam sambil memperhatikan gadis itu. Lalu tiba-tiba ia bertepuk tangan dan berseru “Ah!” dengan wajah secerah matahari pagi, bertolak belakang dengan ekspresinya beberapa detik yang lalu. Yonghwa ingat sekarang, gadis ini adalah gadis yang ia tolong di Rumah Sakit tempo hari. Gadis yang mencoba kabur dari Rumah Sakit karena merasa dirinya telah sembuh, gadis yang menabraknya hingga terjatuh dan menggigit tangannya, dan gadis yang dengan mudahnya meminjam uang kepadanya padahal ia belum pernah mengenal Yonghwa sebelumnya.

“Lee Seohyun-sii?” tanya Yonghwa ragu. Masih mengingat-ingat nama gadis itu.

“De” jawab Seohyun ketus tanpa melihat ke arah Yonghwa. Ia mengembungkan pipinya dengan kedua tangan bersidekap di atas dada.

Wajar Yonghwa tidak mengenalinya, gadis di hadapannya ini terlihat begitu berbeda dengan gadis yang bertemu dengannya di Rumah Sakit beberapa bulan lalu. Gadis di hadapannya saat ini terlihat begitu rapih dan cantik dengan make-up minimalis dan dress hitam yang ia kenakan. Begitu berbeda dengan tampilannya ketika mengenakan baju pasien dan rambut acak-acakkannya di Rumah Sakit tempo hari.

“Kau kenapa bisa ada di sini?” tanya Yonghwa kepada Seohyun yang masih duduk di kursi kemudi.

“Aku bekerja di sini” jawab Seohyun singkat. Terlihat masih kesal dengan jawaban Yonghwa tadi

“Bekerja?” ulang Yonghwa penasaran.

“Sebagai penyanyi” jawab Seohyun cepat. Tidak ingin lelaki itu salah sangka dengan pekerjaannya.

“Ah…” Yonghwa menanggapi sambil mengganggukkan kepalanya mengerti. Ia ingat, pasti penyanyi di bar tadi malam itu Seohyun. “Terimakasih karena telah menolongku” Yonghwa merasa tidak enak pada Seohyun karena belum berterimakasih atas bantuannya hari ini.

“Tapi kenapa kau menungguiku?” tanya Yonghwa penasaran. “Kau bisa saja meninggalkanku di dalam mobil sendirian lalu pulang”. Ya, sebenarnya gadis itu tidak harus menungguinya sampai pagi seperti ini.

“Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di dalam mobil seorang diri? Itu terlalu berbahaya” jawab Seohyun tanpa pikir panjang.

Tanpa sadar, Yonghwa tersenyum mendengar jawaban Seohyun. Entah kenapa, jawaban gadis itu terdengar begitu jujur dan polos. Membuatnya merasa senang tanpa alasan yang jelas.

“Kenapa tersenyum?” Seohyun menatap Yonghwa yang tiba-tiba mengulum senyum seorang diri dengan alis terangkat.

“Ani. Aku hanya merasa ini lucu. Ternyata dunia tidak sebesar yang kukira. Buktinya aku bisa bertemu denganmu lagi” jawab Yonghwa bohong.

Seohyun mengangguk kecil, menyetujui perkataan Yonghwa. Ia juga tidak mengira bisa bertemu dengan lelaki ini lagi padahal ia belum sempat menghubunginya. Dunia memang begitu kecil.

“Ah iya. Aku belum bisa mengembalikan uangmu, Yonghwa-sii. Aku masih berusaha mengumpulkan uangmu. Begitu semuanya telah terkumpul, aku janji akan mengembalikannya. Namun aku tidak bisa menjanjikan waktunya. Tapi pasti aku kembalikan! Aku mohon pengertianmu” jelas Seohyun begitu mengingat utangnya kepada Yonghwa. Ia takut jika Yonghwa tiba-tiba meminta uangnya saat ini.

Yonghwa terkekeh. “Aniyo, Gwenchana.  Aku tidak akan memintanya sekarang” jawabnya santai. Ia memang belum terlalu membutuhkan uang itu saat ini.

“Di mana rumahmu, Seohyun-sii?”

“Sangdodong. Kenapa?”

“Biar kuantar kau pulang” Yonghwa segera membuka pintu mobil di sampingnya untuk bertukar tempat dengan Seohyun.

 

-ooo-

 

“Terimakasih, Yonghwa-sii” Seohyun membungkuk ketika Yonghwa membukakan pintu mobil untuknya setibanya mereka di depan apartement Seohyun. Seohyun merasa senang sekaligus tersanjung atas perlakuan Yonghwa terhadap dirinya, padahal mereka belum lama mengenal.

“Maaf kau jadi telat pulang karena aku” Yonghwa masih merasa bersalah karena mengakibatkan seorang gadis pulang pagi.

“Gwenchanna”

Yonghwa tersenyum mendengar perkataan Seohyun. Entah kenapa, ia merasa moodnya membaik setelah obrolan singkatnya dengan Seohyun tadi. Menurutnya, Seohyun merupakan gadis yang pintar, pemalu, dan sedikit unik.

Tadi ketika di perjalanan pulang menuju apartement Seohyun, tidak ada dari mereka yang membuka suara dan suasana menjadi begitu canggung. Maka Yonghwa mencoba untuk mencairkan suasana dengan membuka percakapan ringan. Dan Yonghwa begitu dikejutkan dengan jawaban-jawaban Seohyun dari percakapan mereka. Gadis itu bilang bahwa ia begitu menyukai Ban Ki Moon yang merupakan seorang diplomat Korea Selatan dan SekJen PBB, ia suka membaca buku tentang self improvement, suka makan ubi dan minum jujube latte. Gadis itu jelas berbeda sekali dengan gadis-gadis seumurannya yang lebih menyukai Idol seperti Super Junior dan membaca komik atau novel percintaan remaja. Dan menurut Yonghwa, mungkin itulah pesona seorang Seohyun.

“Masuklah”

“De. Terimakasih sekali lagi, Yonghwa-sii” Seohyun kembali membungkukkan tubuhnya kepada Yonghwa dan kemudian berjalan masuk ke dalam apartement.

Yonghwa melirik jam tangannya. Ia sudah terlambat 10 menit masuk kantor. Iapun segera masuk mobil dan langsung meluncur ke kantornya tanpa berniat mampir pulang terlebih dahulu hanya untuk sekedar berganti pakaian.

 

-ooo-

 

12.20 KST @Coffe Lab – Coffe Shop

 

Jonghyun kembali melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Ini sudah lebih dari dua puluh menit dari waktu janjiannya dengan seseorang dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda orang tersebut akan datang. Ternyata kebiasaan buruk orang itu belum juga berubah sampai sekarang. Kebiasaannya datang terlambat ketika ada janji tidak juga berubah.

Jonghyun berdecak kesal sambil terus melirik jam tangannya. Ia hanya punya waktu kosong hingga 40 menit ke depan sampai jam makan siangnya berakhir dan ia harus secepatnya kembali ke tempat kerjanya lagi. Jonghyunpun menyeruput hot latte di depannya untuk sekedar mencoba menenangkan diri. Ia mencoba mengontrol emosinya yang mulai memuncak akibat seseorang yang ditunggunya itu. Ia tetap harus tenang, bagaimanapun juga ia membutuhkan orang itu untuk membantunya. Karena hanya orang itu harapan satu-satunya saat ini.

Beberapa menit kemudian, pintu coffee shop itu terbuka dan masuklah seorang lelaki dengan langkah cepat. Lelaki itupun mengedarkan pandangan ke segala sudut ruangan untuk menemukan seseorang yang telah membuat janji dengannya dua puluh lima menit yang lalu. Setelah menghabiskan beberapa detik mengobservasi tempat itu, akhirnya ia dapat menemukan orang yang telah membuat janji dengannya, sahabat lamanya.

“Jonghyun-ah” panggilnya sembari berjalan santai ke arah Jonghyun.

“Ya!! Cho Kyuhyun! Kau benar-benar!” rutuk Jonghyun ketika melihat sahabatnya -Cho Kyuhyun- berjalan sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“Apa kabar brother?” sapa Kyuhyun santai ketika ia tiba di meja yang telah dipesan Jonghyun kemudian duduk di hadapan sahabatnya itu.

“Tidak bisakah kau merubah kebiasaan burukmu itu??” tanya Jonghyun kesal .

“Mian. Tadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Aku jadi lupa waktu ketika kasus yang sedang kutangani saat ini menemukan kemajuan” jawab Kyuhyun sambil menyunggingkan senyum mautnya kepada Jonghyun. Senyum andalannya yang bisa menaklukkan wanita hanya dalam waktu 5 detik. Namun senyum itu seratus persen tidak berpengaruh terhadap Jonghyun.

Lelaki di hadapannya ini adalah Cho Kyuhyun, sahabatnya sedari Junior High School. Cho Kyuhyun merupakan sunbaenim-nya di sekolah dulu, ia satu tahun lebih tua dari Jonghyun dan mereka sudah bersahabat semenjak Jonghyun memasuki tahun pertamanya di sekolah.

Jonghyun mengenal dekat Kyuhyun ketika Kyuhyun membentuk grup yang bernama “Kyu Line” di sekolahnya. Ia merekrut siswa-siswa di sekolah yang tampan dan berprestasi untuk masuk ke dalam genk-nya tersebut. Konyol memang, namun toh Jonghyun setuju untuk bergabung dengan genk bentukkan Kyuhyun itu. Dengan begitu ia dapat bersahabat baik dengan Changmin sang ketua OSIS tampan yang berusia dua tahun di atasnya, Minho yang merupakan bintang basket berbakat berusia satu tahun di bawahnya, dan juga Kyuhyun sendiri, siswa terpandai yang meraih juara umum 3 tahun berturut-turut di sekolahnya. Jonghyun sendiri direkrut karena –menurut Kyuhyun- ia merupakan Leader sekaligus gitaris berbakat di band sekolahnya dulu.

“Bagaimana kasusku? Apa sudah ada perkembangan sejauh ini?” tanya Jonghyun ketika Kyuhyun telah selesai memesan ice frappuchinno-nya kepada pelayan.

“Bisa dibilang ada, namun hanya sedikit. Susah sekali menemukan petunjuk mengingat saksi mata yang diketahui hanya orang itu” jawab Kyuhyun serius.

Saat ini Kyuhyun bekerja sebagai seorang detektif di kepolisian pusat Seoul. Jonghyun meminta bantuan Kyuhyun untuk menyelidiki kasus yang terjadi padanya empat tahun yang lalu. Namun sepertinya kasus ini memang menemui jalan buntu, bahkan Kyuhyun yang dinobatkan sebagai detektif muda berbakat tahun ini dari kepolisian pusat pun kesulitan untuk menyelesaikan kasus Jonghyun. Sampai saat ini belum ada bukti maupun saksi yang ditemukan. Jonghyun sendiri hampir putus asa untuk mengusut kembali kasus ini. Namun hati kecilnya berontak, ia yakin pasti akan ada jalan keluarnya suatu saat nanti.

“Beberapa hari yang lalu aku dan rekan ku kembali menyusuri TKP dan bertanya kepada beberapa warga di daerah itu. Ternyata salah satu di antaranya ada yang mengenal saksi kunci yang kau ceritakan. Namun sepertinya orang itu telah pindah dari wilayah itu sekitar 2 tahun yang lalu. Dan sampai saat ini, aku belum menemukan petunjuk kembali” jelas Kyuhyun sambil menyeruput ice frappuchinno-nya yang telah tiba.

Jonghyun berdecak. Ia harus kembali menelan kekecewaan. Saat ini, Jonghyun sedang mencari saksi kunci pada kasusnya yang terjadi empat tahun yang lalu. Hanya saksi itu yang dapat membantunya menemukan pelaku dari kasusnya tersebut. Pelaku yang telah membuat cacat tangan kirinya dan merubah kehidupannya.

“Hyung, tolong kabari aku jika kau menemukan kembali perkembangan kasus ini sekecil apapun” pinta Jonghyun.

“Arasho, aku pasti akan mengabarimu” Kyuhyun menyanggupi permintaan Jonghyun. Ia sendiri begitu gemas dengan kasus Jonghyun yang tak kunjung menemui titik terang. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan kasus sahabatnya itu.

“Jonghyun-ah, kudengar Tiffany kembali ke Korea. Apa kau sudah bertemu dengannya?” Kyuhyun tiba-tiba mengubah topik pembicaraannya.

Jonghyun tidak langsung menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia justru menyeruput hot latte yang mulai mendingin di hadapannya.

“Hmmmm” Jonghyun hanya menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan gumaman kecil dan sedikit anggukan di kepala.

“Apa kau sudah berbicara padanya?” tanya Kyuhyun terlihat penasaran.

“Ani” jawab Jonghyun singkat.

“Tsk! Jonghyun-ah sampai kapan kau mau seperti ini? Sifat keras kepalamu tidak juga membaik ya?” sindir Kyuhyun.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi hyung”

“Tapi setidaknya dengarkan penjelasan Fanny terlebih dahulu. Lagipula ia tidak bermaksud meninggalkanmu saat itu”

Jonghyun hanya diam mendengar perkataan Kyuhyun. Sebenarnya ia tidak mau membahas masalah itu saat ini.

“Perbaikilah hubungan kalian. Kurasa itu semua hanya salah paham” lanjut Kyuhyun.

“Hubungan kami telah berakhir saat itu hyung. Sudah empat tahun berlalu”

Kyuhyun berdecak. Sifat keras kepala dan harga diri Jonghyun yang terlalu tinggi membuat lelaki itu sulit menerima masukkan dari orang lain.

“Baiklah jika itu keputusanmu” Kyuhyun akhirnya menyerah dengan sifat keras kepala sahabatnya itu. “Tapi setidaknya akhiri semua ini dengan baik. Kalian memulai hubungan ini dengan baik, maka akhiri dengan baik pula” lanjut Kyuhyun terdengar bijak.

“Aku merasa aneh jika kau yang mengucapkan kalimat itu, hyung” sindir Jonghyun. Ia tahu betul sifat Kyuhyun yang flamboyan. Lelaki ini terkenal playboy dan tidak pernah bertahan lebih dari satu bulan dengan seorang wanita.

“Ya!! Aku sudah berubah sekarang. Setidaknya aku mengkhawatirkan mu, bodoh!” protes Kyuhyun sambil menjitak kepala Jonghyun.

“Tsk! Arasho, nanti aku seselaikan semuanya” Jonghyun berdecak kesal sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat jitakan Kyuhyun tadi.

 

-ooo-

 

Esokan hari di sebuah apartement di sudut kota Seoul.

 

“Selesai” ucap Yoona riang sembari menyeka keringat yang mengalir di dahinya.

“Aigoo… Ternyata barang-barangmu banyak juga Yoon-ah” keluh Yonghwa yang baru saja tiba dengan sebuah kardus besar di tangannya.

“Oppa, letakkan itu di sana” perintah Yoona sambil menunjuk salah satu sudut ruangan yang masih kosong dari tumpukan barang-barang.

Yonghwapun meletakkan kardus besar yang berisi baju-baju Yoona di sudut ruangan itu kemudian kembali menghampiri Yoona di depan pintu.

“Apa kau yakin dengan semua ini, Yoon-ah?” tanya Yonghwa ketika dirinya telah berdiri tepat di samping adiknya itu.

“Ne, oppa. Kurasa ini yang terbaik saat ini” jawab Yoona yakin.

Hari ini Yoona pindah ke sebuah apartement sederhana di sudut kota Seoul. Inilah ide yang Yoona sarankan kepada kakaknya tempo hari. Ia meminta persetujuan Yonghwa untuk keluar dari rumahnya dan tinggal sendiri di sebuah apartement untuk menghindari pertengkarannya dengan ayah dan ibu tirinya. Yoona rasa, inilah jalan terbaik untuk saat ini. Dengan keluarnya ia dari rumah, maka ia tidak perlu lagi mendapatkan perlakuan tidak adil dari ayahnya terlebih ketika kakaknya sedang tidak berada di rumah. Lagipula ayahnya tidak dapat melarang Yoona saat ini. Bukankah ayahnya sudah berjanji untuk tidak mencampuri kehidupan Yoona selama satu tahun ini?

“Tapi oppa bisa menyewakan apartement yang lebih baik dari ini” protes Yonghwa sambil memperhatikan tiap sudut apartement Yoona. Apartement ini terlihat begitu kumuh dan tua. Yonghwa sebenarnya keberatan jika Yoona harus tinggal di tempat seperti ini.

“Aniyo. Gwenchanna, oppa. Aku merasa nyaman di sini. Aku mengenal pemilik apartement ini. Lagipula gajiku saat ini hanya cukup untuk menyewa apartement ini” Yoona tersenyum, merasa senang membayangkan kehidupannya yang akan jauh dari tekanan mulai sekarang.

“Oppa bisa menyewakan apartement lain untukmu. Biar oppa yang bayar semuanya”

“Aniyo, oppa. Aku ingin melakukan semuanya sendiri. Mulai hari ini aku ingin hidup dengan penghasilanku sendiri” tolak Yoona sambil memasang senyum bangga di wajahnya.

“Arasho” akhirnya Yonghwapun mengalah dan menyetujui keputusan Yoona. “Tapi oppa akan selalu mengawasimu. Oppa akan mengunjungimu jika oppa memiliki waktu, namun jika oppa sedang sibuk, oppa akan meminta Jungshin untuk menggantikan oppa melihat keadaanmu”

“Iya, aku mengerti oppa”

“Kau tinggal sendiri bukan berarti kau bebas melakukan apapun, Yoon-ah. Tidak boleh keluar lebih dari jam 11 malam, kunci pintu ketika akan tidur, tidak boleh membawa tamu asing, dan bersihkan kamarmu minimal seminggu sekali” pesan Yonghwa panjang lebar.

“Oppa cerewet sekali” protes Yoona sambil mengerucutkan bibirnya.

“Oppa hanya mengkhawatirkanmu, sweety” ujar Yonghwa sambil menjitak pelan kepala adik kesayangannya itu. Sebenarnya Yonghwa masih tidak tenang untuk mengizinkan Yoona tinggal seorang diri, terlebih lagi Yoona sudah biasa dilayani sejak ia kecil. Yonghwa tahu betul kemampuan Yoona. Adiknya ini tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri. Ia tidak bisa memasak, mencuci, mengepel, menyetrika, bahkan menjemur pakaianpun Yoona tidak pernah melakukannya. Dan semua itu menambah kekhawatirannya terhadap kehidupan Yoona ke depan nanti.

“Oppa tenang saja. Aku akan menunjukkan pada oppa bahwa aku bisa mandiri” ucap Yoona dengan keyakinan penuh.

Yonghwa hanya menggangguk sambil mengelus puncak kepala Yoona. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri atas perkataan yang diucapkan Yoona tadi. Ya, Yoona pasti bisa melakukannya. Ia tidak perlu khawatir.

 

-ooo-

 

21.00 KST @ Kediaman Jonghyun

 

Tok – tok – tok

Jonghyun berjalan gontai ke arah pintu rumahnya. Siapa yang bertamu ke rumahnya malam-malam seperti ini? Ia tidak pernah kedatangan tamu semalam ini sebelumnya. Kecuali saat kejadian Yoona yang tiba-tiba muncul di gazebo depan rumahnya beberapa hari yang lalu. Namun ia rasa yang satu itu tidak masuk hitungan.

“Nuguseyo?” tanya Jonghyun persis setelah ia berhasil membuka kunci rumahnya.

“Anyeong Haseyo” sapa Yoona sambil membungkukkan tubuhnya setelah melihat Jonghyun membuka pintu.

“Kau… Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” tanya Jonghyun sambil memandang Yoona heran.

“Aku ingin mengembalikan ini” Yoona menyerahkan sebuah kantong kepada Jonghyun.

Tanpa menunggu perintah, Jonghyun segera melihat isi kantong tersebut. Ternyata isinya adalah baju kemeja, celana jeans, dan sepatu yang ia pinjami untuk Yoona beberapa hari yang lalu.

“Kau bisa mengembalikannya besok di cafe” ucap Jonghyun heran. Ia tidak habis pikir dengan tindakan Yoona yang nekat mengunjungi rumahnya malam-malam hanya untuk mengembalikan barang ini.

“Aniyo. Sebenarnya bukan hanya itu tujuanku datang ke sini”

Jonghyun mengeryitkan dahinya setelah mendengar perkataan Yoona. Sedikit bingung dan penasaran dengan ucapan menggantung yang Yoona berikan. Namun ia tidak berusaha menanyakan maksud perkataan Yoona melainkan hanya diam menunggu penjelasan lebih lanjut dari gadis itu.

“Memang sebenarnya sudah agak larut malam” lanjut Yoona ragu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit bersalah karena telah mengganggu jam istirahat Jonghyun. “Tapi aku hanya ingin menyapa tetangga baruku. Aku baru saja pindah ke apartement ini siang tadi. Rumahku di lantai 5 nomor 502. Jadi, mohon bantuannya untuk ke depan” jelas Yoona sambil kembali membungkuk hormat kepada Jonghyun.

“Hah?” Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulut Jonghyun setelah mendengar penjelasan Yoona. Masih belum mampu mencerna semua perkataan Yoona dengan baik.

“Kau pindah ke sini? Ke apartement ini?” ulang Jonghyun. Mencoba mengklarifikasi perkataan Yoona barusan.

Yoona menggangguk cepat membenarkan pertanyaan Jonghyun. Terlihat senyuman mulai menghiasi wajah mungilnya.

“Mohon bantuanmu, Lee Jonghyun-sii” ucap Yoona kemudian masih dengan senyum manis yang terus terkembang di bibirnya.

Di sisi lain, Jonghyun hanya dapat menatap Yoona tanpa berkedip. Masih bingung, harus memberikan reaksi seperti apa. Ini sebuah berkah atau sebuah musibah?

 

-ooo-

 

Esok hari, 13.00 KST @Amore Cafe

 

“Yoonie~~, ada yang mencarimu” panggil Jessica dari arah luar ruang istirahat.

“Siapa eonni?” tanya Yoona sambil berjalan ke arah Jessica

“Tiffany-sii” jawab Jessica setengah berbisik

“Heh?” Yoona mengeryitkan dahinya bingung. Kenapa Tiffany mencarinya?

Yoonapun berjalan menghampiri meja tempat di mana Tiffany duduk di sudut cafe. Ia dapat melihat Tiffany yang tengah sibuk dengan Smart Phonenya sambil sesekali menyeruput Hot Chocolatte kesukaannya. Dari jauhpun Yoona dapat melihat kecantikkan dan postur tubuh sempurna Tiffany. Sedikit iri dengan gadis itu. Kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk sesempurna itu di dunia? Sungguh tidak adil.

“Kau mencariku, Tiffany-sii?” tanya Yoona ketika ia telah tiba di meja Tiffany.

Tiffany yang sedari tadi masih sibuk dengan Smart Phonenya menoleh ke arah Yoona. Iapun tersenyum ramah begitu melihat Yoona telah berdiri di sampingnya. “Anyeong Haseyo, Yoona-sii” sapa Tiffany yang terlihat senang dengan kehadiran Yoona.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau ada waktu?” lanjutnya.

 

-ooo-

 

Samwon House Resto, Gangnam-gu

 

Yoona kembali melahap Bibimbap di hadapannya dan mengunyahnya pelan. Diliriknya Tiffany -yang duduk di hadapannya-  masih sibuk mengaduk bibimbap-nya dari lima menit yang lalu. Saat ini mereka berada di salah satu restoran yang cukup terkenal di daerah Gangnam. Tiffany yang mengajak Yoona ke sini untuk membicarakan sesuatu, namun sampai saat ini Tiffany sendiri belum membuka suara dan malah sibuk dengan bibimbap di hadapannya.

“Apa yang mau kau bicarakan, Tiffany-sii?” tanya Yoona yang sudah hampir hilang kesabaran melihat Tiffany yang masih diam sedari tadi

Tiffany tersentak, seolah sadar dari lamunannya sedari tadi. Ia akhirnya menghentikan kegiatannya mengaduk bibimbap dan menatap Yoona. Ia terdiam beberapa saat seperti tengah berpikir untuk memulai pembicaraan dengan Yoona. Yoonapun kembali menyuap bibimbapnya sambil terus memandang Tiffany.

“Apa kau anak dari Im Seolong?” akhirnya sebuah pertanyaan lolos dari bibir Tiffany. Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat Yoona tersedak. Yoonapun terbatuk dan mencoba melancarkan kembali pernapasannya dengan memukul-mukul dadanya. Tiffany refleks mengambil gelas berisi air di sisi kirinya dan menyodorkannya kepada Yoona.

“Mian” ucap Tiffany cepat ketika Yoona sudah mulai dapat mengatur napasnya.

Setelah menghabiskan satu gelas penuh air, Yoona menatap tajam Tiffany. Mencoba mencari tahu apa maksud dari pertanyaan gadis itu.

“Apa maksudmu?” Yoona bertanya balik. Masih menatap lekat Tiffany yang duduk di hadapannya. Ia tidak mau langsung menjawab pertanyaan Tiffany tersebut. Setidaknya ia ingin tahu apa alasan Tiffany sampai bisa menanyakan pertanyaan seperti itu kepadanya.

“Maaf, sebenarnya itu hanya pemikiranku saja. Aku mengajakmu bertemu untuk menanyakan hal itu” Tiffany terlihat mulai gelisah dengan tatapan menuntut Yoona. Merasa tidak enak jika pemikirannya itu ternyata salah.

“Kemarin, aku menjalani pemotretan untuk iklan Lotte Mall. Lalu tiba-tiba ada seorang staf yang bilang padaku bahwa Siwon-sii telah memiliki tunangan yakni putri dari pemilik Heaven Coorp, Im Seolong. Dan staf itu bilang bahwa Siwon-sii mengajak tunangannya itu pada malam pembukaan Lotte Mall” jelas Tiffany.

Yoona masih diam tidak berkomentar. Masih menunggu penjelasan Tiffany lebih lanjut mengenai dirinya.

“Dan setahuku, aku hanya melihat Siwon-sii bersama denganmu pada malam pembukaan Lotte Mall itu. Jadi aku mengira, kaulah anak Tuan Im Seolong. Apa__ itu benar?” tanya Tiffany ragu-ragu. “Kalau aku salah, aku benar-benar minta maaf Yoona-sii. Aku tahu ini bukan kapasitasku untuk menanyakan hal ini. Namun kabar yang beredar mengenai tunangan Siwon-sii semakin hari makin meluas di kalangan karyawan Lotte Coorp” lanjut Tiffany cepat.

Yoona meneguk kembali air putih di hadapannya. Mencoba menenangkan diri dan berpikir sebelum menjawab pertanyaan Tiffany barusan.

“Lalu apa yang kau dapat jika kau tahu siapa anak dari Im Seolong?” tanya Yoona hati-hati.

“Aku hanya ingin memberitahukan hal itu. Kau tahu kan, gosip di antara kalangan chaebol1 bisa mengubah banyak hal. Termasuk perekonomian dan perubahan harga saham” terang Tiffany.

Ya, Yoona sendiri juga mengerti. Gosip mengenai dirinya dan Siwon bisa berdampak pada perusahaan ayahnya dan perusahaan Siwon sendiri. Para pengusaha pasti berpikir jika berita yang beredar itu benar, maka tidak menutup kemungkinan kedua perusahaan besar di Korea Selatan –Heaven Coorp dan Lotte Coorp- itu menyatukan perusahaan mereka. Dan itu berarti, akan ada respon negatif dan respon positif mengenai bergabungnya dua perusahaan besar itu. Sebagian perusahaan yang bekerja sama dengan Heaven Coorp ataupun Lotte Coorp mungkin akan senang karena merasa rekan bisnis mereka memiliki saham yang semakin kuat dan menguntungkan mereka, sedangkan lawan bisnis mereka mungkin akan mengganggap penggabungan kedua perusahaan besar itu sebagai sebuah ancaman. Maka dari itu, gosip seperti ini tidak bisa dibiarkan berkembang dan harus segera dikonfirmasi.

“Arasho. Terimakasih atas informasinya” jawab Yoona. “Sebagai informasi untukmu, aku memang anak dari Im Seolong. Tapi perlu kupertegas, kalau aku bukan tunangan dari Choi Siwon” jelas Yoona mantap pada akhirnya.

“Jadi itu benar?” Tiffany membulatkan matanya kaget.

Yoona menjawabnya dengan anggukan. “Tapi tolong kau rahasiakan ini. Aku mohon” pintanya. Ia merasa Tiffany dapat dipercaya dan dapat menyimpan rahasianya. Ini pertama kalinya Yoona mengaku sebagai anak dari Im Seolong, sebelumnya ia tidak pernah mengaku secara terang-terangan seperti ini.

Tiffany mengangguk cepat menanggapi permintaan Yoona. “Tenang saja, kau bisa mempercayaiku” ucapnya yakin sambil tersenyum senang ke arah Yoona. Senang karena Yoona akhirnya mau berkata jujur kepadanya.

“Terimakasih, Tiffany-sii”

“Aniyo. Ah! Aku boleh memanggilmu Yoonie? Kelihatannya lebih akrab. Kau boleh memanggilku dengan sebutan lain” pinta Tiffany

“Oke. Fanny eonni? Bagaimana jika kau ku panggil seperti itu? Bukankah kau satu tahun lebih tua dariku?”

“Oke, tidak masalah, Yoonie” ucap Tiffany sembari terkekeh pelan.

Yoonapun ikut tertawa. Entah kenapa Yoona begitu nyaman berbicara dengan Tiffany.  Ia seperti mendapatkan seorang kakak perempuan hari ini. Sudah lama Yoona ingin memiliki kakak perempuan. Seseorang yang dapat berbagi pendapat mengenai fashion dengannya, bercerita tentang kegiatannya setiap hari, menangis bersama ketika menonton drama, pergi ke salon bersama, dan bergosip tentang seorang lelaki tampan bersamanya. Yoona berharap setidaknya ia dan Tiffany bisa saling berbagi cerita, baik mengenai kegiatan mereka ataupun tentang seorang lelaki mungkin.

Yoona tiba-tiba teringat dengan lelaki yang membuatnya mengenal Tiffany. Lee Jonghyun. Dan dengan seketika, berbagai pertanyaan yang dahulu hanya dipendamnya mengenai hubungan Tiffany dan Jonghyun mendadak menguap ingin keluar dari mulutnya.

“Fanny eonni, boleh aku tanya sesuatu?” Yoona terlihat ragu-ragu

“Tentu” jawab Tiffany riang sambil menatap Yoona dengan eye-smile nya yang menawan.

“Apa hubunganmu dengan Lee Jonghyun?” akhirnya pertanyaan yang terus bergumul di dalam otak Yoona selama berhari-hari itu meluncur juga dari mulutnya.

Yoona dapat melihat perubahan wajah Tiffany sekilas. Namun gadis itu kembali tersenyum kepadanya. Sedangkan Yoona masih diam menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Tiffany.

“Aku adalah orang yang selalu mencintainya”

Jawaban singkat Tiffany itu sukses membuat Yoona menahan napas. Dadanya terasa sesak dan tersayat-sayat. Yoona sendiri tidak mengerti, kenapa dadanya terasa begitu ngilu setelah mendengar pengakuan Tiffany barusan. Rasanya sesak sekali. Ia seakan limbung dan kehilangan pegangan. Perasaan apa sebenarnya ini?

 

-ooo-

 

1: pengusaha besar / konglomerat di Korea Selatan

 

Selamat membaca… Maaf kalau ada beberapa bagian yang tidak sesuai fakta di lapangan seperti soal saham dan perusahaan. Karena jujur aku ga ngerti banyak soal area itu. hehehe…

8 thoughts on “Crush (Part 7)

  1. Hhhmmm jadi nanti fanny sama yoona jd hub teman dan rival bebarengan ni? Seru! Waiting for the next chap… suka bgt jg sm yongseo story nya

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s