ana(LOVE)sis [chapter 1]

1972317_244446362406931_73593250_n

 

Tittle                : ana(LOVE)sis [chapter 1]

Author                        : Ridygta Rika

Cast                 : Lee Jong Hyun ; Cho Neora (OC)

Genre              : School Life, AU

Length                        : Chapter

Disclaimer      : “Selain cerita dan OC, semua adalah milik dirinya masing-masing.”

Note                : Also posted in my personal blog ^_^

 

 

***

Seharusnya ia bisa menolak keinginan orang tuanya (terutama sang ibu), saat hendak memasukannya ke sekolah tersebut saat itu.  Sedikit menyesali mengapa baru sekarang ia menemukan hal yang sesunggunya ia senangi.

 

***

 

Rasanya seperti berada di film-film barbie, mungkin itu yang dirasakan Neora ketika memasuki rumah bergaya Eropa tersebut. Empat tiang tinggi berwarna coklat muda menyambutnya dengan elegan. Sebuah pintu tinggi dan besar seakan menelannya bulat-bulat kedalam ruangan yang tak kalah menakjubkan. Terdapat pohon hidup di beberapa sudut ruangan, tampak pula sebuah meja yang terbuat dari batu kali yang diberi aksen warna merah tanah. Kesan hangat sangat terasa hingga membuat Neora menyimpulkan bahwa ruangan ini berfungsi juga sebagai ruang keluarga. Mengingat kehangatan yang kental terasa.

 

Neora segera tersadar dari kekagumannya ketika mengingat kejadian yang membuatnya berada di rumah megah tersebut. Tepatnya satu jam yang lalu, ia yang sedang dalam perjalanan pulang sekolah, tanpa sengaja menabrak seorang wanita berusia sekitar 45 tahun hingga membuat barang bawaan wanita itu jatuh. Tak jelas apa barang yang telah ia jatuhkan karena barang itu berada di dalam box yang cukup besar.

Neora sudah berusaha meminta maaf, tapi wanita itu justru mengabaikannya dan menanyakan apakah ia bersekolah di SMA Daehyun setelah mengamati badge yang terpasang di blazer miliknya. Neora tak berani menjawab, persaannya campur aduk dan otaknya mulai memikirkan hal-hal menyeramkan. Mengabaikan kebisuan Neora, wanita itu menarik paksa dirinya menuju mobil dan membawanya ke rumah ini.

 

Seribu pikiran buruk telah bersarang di kepala Neora. Apa yang akan terjadi padanya? Berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk ganti rugi? Dengan apa iaakan membayar ganti rugi? Hingga hal yang paling seram, yaitu ia akan dikurung dan dipaksa bekerja tanpa digaji disini!

 

“Sekali lagi aku bertanya, apa kau benar bersekolah di SMADaehyun?” Neora menoleh dan langsung berhadapan dengan wajah diktator wanita tadi yang dia yakini sebagai pemilik rumah. Susah payah ia berusaha mengeluarkan suaranya untuk menjawab, namun bagaikan menelan batu giok, tenggorokannya terasa tersumbat dan alhasil ia hanya mengangguk takut sebagai jawaban.

 

Wanita anggun itu melihat Neora dari ujung kaki hingga ujung rambut, menimang-nimang dari segi visual dan penampilan apakah anak ini bisa ia andalkan atau tidak. “Baiklah, langsung saja. Semua kerugian yang kau timbulkan karena sudah menjatuhkan barang-barangku tadi adalah sebesar 7juta Won.”

 

Kedua mata Neora membola mendengar berapa banyak jumlah uang yang bahkan belum pernah ia sentuh sejak setahun belakangan ini. Penghasilannya selama bekerja paruh waktu di sebuah kafe hanya cukup untuk membiayai hidupnya sehari-hari, jika ditambah dengan hal ini? Oh… tamatlah riwayatmu Cho Neora!

 

Joesonghamnida [1], aku tak punya uang sebanyak itu,” bela Neora tanpa berani mengangkat wajahnya.

 

“Lalu dengan apa kau akan mengganti kerugianku?” Wanita itu menatap Neora dengan penuh intimidasi, membuat oksigen di sekitar Neora seketika berubah menjadi karbon dioksida dalam konsentrasi yang tinggi hingga membuatnya kehabisan napas.

 

“Aku… aku…,” otak Neora berpikir dua kali lebih keras daripada saat ia mengerjakan soal matematika. Ia tak punya pilihan lagi selain, “aku akan bekerja kepada Anda tanpa digaji.”

 

“Berapa lama?”

 

“Sesuai yang Anda inginkan,”

 

“Bagus.” Neora yang sedari tadi mencengram kuat seragam sekolahnya secara spontan melepasnya diiringi dengan hembusan napas penuh kelegaan. Oksigen yang selama lima menit tak dia rasakan kini sudah memenuhi seluruh rongga paru-parunya. Walau masih belum tahu bencana apa yang akan menimpanya setelah ini, namun setidaknya ia bisa bernapas secara normal sekarang.

 

“Akan ku tunjukan tugas apa yang menantimu, kajja[2],” Wanita itu berbalik-dengan sangat anggun dan berkelas-memimpin Neora menuju lantai dua rumah tersebut. Dalam perjalanan itu, Nyonya Besar menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Sebuah kebetulan yang tepat sesuai dengan rencananya semalam.Dan gadis itu, walaupun terlihat ceroboh, tapi sangat sesuai dengan kriterianya. Tanpa wawancara lebih lanjut pun ia sudah tahu bahwa gadis itu memiliki otak yang cemerlang, karena hanya ada dua golongan siswa di SMA Daehyun; jika bukan dari kalangan keluarga terpandang maka ia memiliki otak yang brilian. Opsi kedua inilah yang ia yakini hanya dengan sekali pengamatan.

 

SMA Daehyun adalah sekolah di bawah naungan Daehyun Academy, diperuntukkan khusus bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikannya di Universitas Daehyun. Daehyun Academy sendiri adalah sebuah lembaga pendidikan paling terkemuka di Korea Selatan dalam hal mencetak para ahli hukum. Banyak dari praktisi-praktisihukum terkenal adalah jebolan Daehyun Academy. Tak heran jika yang bisa memasukinya hanya orang-orang dengan kemampuan otak di atas rata-rata dan mereka yang berasal dari kalangan besar tentu saja.

 

Meskipun begitu, tidak semua lulusan SMA Daehyun akan mudah memasuki Universitas Daehyun. Saat mengikuti ujian kemampuan dan bakat mereka harus lolos dan benar-benar miliki bakat di bidang hukum, jika sudah, mereka masih harus mengikuti tes masuk Universitas tersebut. Disini hanya otak dan keberuntungan saja yang berperan menentukan apakah bisa diterima atau tidak. Uang, jabatan, dan kekuasaan sama sekali tak dipandang. Jika lolos, maka masa depan cemerlang sebagai hakim atau jaksa terkemuka siap direntas, namun jika tidak… yah kalian bisa bayangkan apa yang akan terjadi.

 

“Kau akan bekerja hingga ujian masuk di Universitas Daehyun. Tugasmu hanya satu, membuat anakku lolos dalam ujian tersebut. Terserah dengan cara apapun kau melakukannya, yang jelas aku hanya ingin di lolos,” Nyonya Besar mulai menjelaskan pekerjaan apa yang akan dijalani Neora selama satu tahun ke depan. Sementara Neora yang mengekor tanpa suara mengerem langkahnya saat itu juga. Ini benar-benar jauh dari yang ia banyangkan yaitu menjadi pelayan di sini.

 

Membuat seoarang anak lolos ujian masuk Universitas Daehyun, cepat otak Neora menganalisis berbagai kemungkinan yang akan dihadapinya. Akan menjadi sangat mudah jika anak itu adalah seorang anak gadis penurut yang hanya memiliki masalah dalam memahami pelajaran, atau seorang anak gadis manja dengan segala keegoisannya. Semua itu masih bisa ia tangani. Tapi, melihat dari ekpresi dan nada bicara Nyonya Besar rasanya ini tak semudah yang ia pikirkan.

 

Jangan-jangan anak itu seorang anak idiot dengan IQ dibawah 90? batin Neora.

 

“Lakukan apa saja yang kau bisa. Tapi jika gagal maka ganti rugi dua kali lipat akan kau terima. Bersedia?”

 

Apa ini semacam kontrak tak tertulis?Neora membatin, ia sering melihat hal-hal semacam ini di drama-drama yang tayang setiap hari senin dan selasa. Neora masih menimang-nimang, akan ia terima atau tidak perjanjian tersebut. Jika ia terima, bisa saja akan mengurangi waktu belajarnya dan mungkin akan membuatnya gagal menjadi seorang hakim, tapi jika ia menolak, ia tak tahu dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Bayang-bayang uang sebayak 14 juta won seketika membuat perut Neora mual.

 

Ne[3].” Putus Neora menyetujui kontrak transparan tersebut dan berjalan-setengah berlari-menyusul Nyonya Besar.

 

“Di rumah ini ada perpustakaan pribadi, tak kalah lengkap dengan yang ada di sekolahmu, kau bisa menggunakan secara gratis dan bebas. Kau dan anakku akan belajar bersama di perpustakaan itu juga, jadi selama setahun kedepan perpustakaan itu sepenuhnya berada di bawah kekuasaanmu. Satu lagi, kau tahu siapa Lee Hwang Suk?” Tanpa terduga Nyonya Besar membalik tubuhnya cepat. Untung saja Neora sigap sehingga tidak menabrak sang Nyonya, jika itu terjadi bisa-bisa ia pulang tanpa kaki kanannya.

 

Ne, beliau adalah Hakim Kepala di Kantor Pengadilan Pusat Seoul,” dan idola keduaku setelah Abeoji[4], lanjut Neora dalam hati.

 

“Dia adalah suamiku.”

 

Neora memandang takjub wanita paruh baya di depannya itu, semua yang keluar dari mulut wanita itu benar-benar tak terduga. Dengan percaya diri ia mengubah kejadian hari ini dari bencana sebagai takdir baik. Bisa belajar di rumah hakim nomor satu di Korea dan juga tak menutup kemungkinan untuk belajar langsung darinya. Bisa saja hal ini dapat mebuka jalannya untuk menjadi seorang hakim nomor satu juga. Kapan lagi ia mendapatkan kesempatan emas seperti ini?

 

Tapi… semua yang kita harapkan tentu saja tak selalu berbanding lurus dengan kenyataannya dan Neora sama sekali tak menyadari itu.

 

“Kita sudah sampai, ini adalah kamar anakku. Aku akan mengenalkannya kepadamu supaya besok kalian bisa langsung belajar. Ah… panggil saja aku Ahjumoni[5],” ucap Nyonya Besar sambil menepuk pundak Neora pelan. Kesan diktator yang sedari tadi ia tampilkan luntur tak berbekas, berganti menjadi sosok ibu yang penyayang namun tetap anggun dan elegan. Neora membalas senyuman itu dan mengangguk pelan. Ketakjubannya semakin bertambah.

 

Tak perlu bersusah payah mengetuk pintu kerena Nyonya Besar langsung membuka pintu tersebut begitu saja sembari berteriak memangil anak tercintanya.

 

“Jong Hyun-ah[6], perkenalkan ini-”

 

“AAAAAA!” Neora berteriak dan membalik badan. Kedua tangannya menutup rapat wajahnya yang sudah semerah tomat. Bukan gadis manja seperti yang ia bayangkan, melainkan seorang pemuda yang sedang tidur dan hanya mengenakan celana dalam.Sebuah pemandangan menakutkan bagi mata perawan Neora.

 

Pemuda itu terbangun karena teriakan Neora dan segera menarik selimut menutupi tubuhnya begitu menyadari ada sosok lain selain ibunya di ruangan itu.

 

“Neora-ya kau pulang sekarang dan kembali besok sepulang sekolah!” pekik Nyonya Besar tanpa mengalihkan tatapan membunuhnya dari gumpalan selimut di depannya.

 

Kau dalam masalah besar anak muda!

 

***

 

“Kenapa Eomma[7] tidak meminta persetujuanku telebih dahulu?” protes Jong Hyun di hadapan ibunya saat makan malam. Kim Seo Jin telah menjelaskan (setelah sebelumnya memberi hadiah dua puluh pukulan di sekujur tubuh) kepada anak semata wayangnya itu tentang semua yang ia rencanakan dan apa saja yang siap menanti anak itu besok.

 

“Tanpa perlu meminta, Eomma sudah tahu jawabannya,” jawab Seo Jin enteng, ia sudah sangat hapal dengan tabiat Jong Hyun.

 

“Paling tidak, kejadian memalukan itu tak pernah terjadi. Lagipula keinginanku untuk bersekolah sudah hilang.”

 

“Lalu apa yang bisa kau janjikan ketika kau dewasa? Apa gitarmu itu bisa menjamin masa depanmu?”

 

“Tapi aku tak berminat menjadi seorang hakim. Sama sekali.”

 

“Berminat atau tidak kau akan tetap menjadi seorang hakim. Ini bukan semata keinginan kami, tapi untuk kebaikanmu juga,” Jong Hyun baru akan membantah perkataan ibunya ketika terdengar dehaman keras dari ayahnya, menandakan perdebatan semacam itu harus segera dihentikan. Tak ada yang berani bicara lagi, keluarga itu melanjutkan acara makan malamnya dalam diam.

 

Sejak awal Jong Hyun memang sama sekali tak memiliki keinginan untuk menjadi hakim, juga tak meminta untuk menjadi anak tunggal seorang hakim. Dalam diam ia menghela napas. Seharusnya ia bisa menolak keinginan orang tuanya (terutama sang ibu), saat hendak memasukannya ke sekolah tersebut saat itu.  Sedikit menyesali mengapa baru sekarang ia menemukan hal yang sesunggunya ia senangi.

 

Jong Hyun baru menyadari bahwa ia lebih suka bergelut dengan gitar akustik miliknya ketimbang dengan buku setebal bantal bercover timbangan. Baginya hakim adalah sebuah pekerjaan serius yang bisa membuatnya cepat tua. Tapi, menyadari hal seperti itu saat sudah menjadi siswa sekolah menengah atas tahun ke tiga sepertinya tak akan memiliki banyak pengaruh. Terlebih dengan sifat orang tua seperti orang tua Jong Hyun.

 

Jong Hyun memutar ingatannya pada kejadian memalukan beberapa jam yang lalu. Seorang gadis yang melihatnya telanjang. Selama ini tak ada perempuan manapun yang berani memasuki kamarnya selain Seo Jin, ibunya. Dan gadis itu… Jong Hyun bersumpah akan memberikan balasan yang setimpal kepadanya.

 

“Gadis itu satu sekolah denganmu, kelihatannya dia anak yang pintar, jadi bisa membantumu untuk lulus dan masuk universitas Daehyun.” Seo Jin membuka kembali percakapan malam itu.

 

“Apa Eomma sudah merencanakan sampai sedetail itu?”

 

“Ya, dan kau tak memiliki izin untuk merusaknya. Rencana ini akan berjalan mulai besok, ingat itu!” rentetan kalimat yang keluar dari mulut Seo Jin lebih terdengar seperti acamanan daripada pemberitahuan.

 

Jong Hyun tak menyahuti lagi, ia sudah sangat kenyang dengan segala obrolan malam ini. Hakim, masa depan, gadis menyebalkan, semua sepakat membuat Jong Hyun tak berminat menyantap sup daging di depannya. Ia meletakkan peralatan makannya dan mengusap mulutnya dengan serbet.

 

Abeoji, Eomma, aku pamit dulu,”

 

“Mau kemana kau malam-malam begini?”

 

“Ke rumah Kibum Hyeong[8].”

 

***

 

Teori lanjutan hukum pidana dan perdata menguap begitu saja dari kepala Jong Hyun, sama sekali tak ada yang menempel di otaknnya. Jangankan menempel di otak, masuk ke telinganya saja sepertinya tidak. Kedua telinga lebar itu sudah terpasangi earphone sejak bel pelajaran pertama dimulai. Ditambah cara penyampaian materi yang sangat membonsankan dari Pak Guru membuat Jong Hyun (dan sebagian siswa di kelas) berharap mendengar empat kali bunyi sirine yang menandakan mereka bisa kembali ke rumah masing-masing saat itu juga.

 

Masih sepuluh menit lagi untuk mendengar bunyi sirine saat Jong Hyun melirik jam tangandi tangan kirinya, ia sudah berniat melanjutkan tidurnya sebelum sebuah objek menarik perhatian Jong Hyun. Sosok gadis yang duduk di deretan depan berjarak lima meja darinya.

 

Selama beberapa detik Jong Hyun memerhatikan sosok itu. Sebuah kejadian yang langka memang untuk seorang Lee Jong Hyun yang tak pernah peduli dengan apapun, coba saja kalian tanyakan padanya; Apa dia tahu nama anak yang duduk di depannya? Sudah bisa dipastikan Jong Hyun hanya akan menatapmu dengan air muka aku-bahkan-tak-tahu-kau-siapa, kemudian melenggang pergi.

 

Ya, seperti itulah seorang Lee Jong Hyun. Serba tercukupi sejak ia lahir membuatnya tak peka terhadap apapun. Dia tidak termasuk kedalam golongan anak manja yang selalu mengandalan nama kedua orang tuanya. Tetapi, seratus persen berada dalam golongan anak yang tak berniat untuk bersosialisasi. Ia lebih sibuk dengan dirinya sendiri dan sangat tidak peduli dengan lingkungannya.

 

Lalu kenapa sekarang ia tiba-tiba memerhatikan sosok gadis itu? Apa karena Jong Hyun meresa tertarik dengannya? Hmm… jangan berharap terlalu banyak karena Jong Hyun hanya merasa takasing dengan sosok itu. Detik berikutnya, Jong Hyun sudah menenggelamkan kepalanya dan terlelap.

 

***

 

“Nyonya sudah menunggu Anda di perpustakaan,” ucap salah seorang pegawai di rumah Jong Hyun saat Jong Hyun baru saja memasuki ruang tamu menuju kamarnya. Setelah menganguk sekilas kepada pelayan itu, berbaliklah ia menuju perpustakaan yang berada di sisi kanan dekat ruang kerja ayahnya.

 

Jong Hyun sengaja memperlambat langkahnya karena ia sudah tahu untuk apa Ibunya meminta dirinya datang ke ruang perpustakaan, apalagi jika bukan belajar bersama gadis kurang ajar kemarin.

 

“Bahkan Eomma tak membiarkan aku makan terlebih dahulu,” gerutunya sambil berjalan.

 

Sebenarnya Jong Hyun cukup penasaran dengan gadis itu, terlebih kata ibunya mereka satu sekolah. Apa kira-kira aku pernah melihatnya? Apa jangan-jangan dia telah jauh mengenalku sebelumnya?

 

Jong Hyun akhirnya sampai di depan ruang perpustakaan dan masuk begitu saja kerena pintu ruangan itu memang sengaja dibuka. Sosok gadis berseragam sama dengan miliknya tampak berdiri membelakanginya. Dan entah mengapa melihat gadis itu mengingatkan Jong Hyun pada gadis di kelasnya tadi, mereka terlihat sama dari belakang.

 

“Ah, sudah pulang ternyata!” seru Seo Jin ketika melihat Jong Hyun berdiri mematung tak jauh dari ambang pintu diikuti Neora yang membalik badan.

 

Wajah Neora memerah ketika melihat Jong Hyun, pertemuannya dengan anak itu benar-benar memalukan. Sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan Jong Hyun, ia memang menghadap ke arah pemuda itu tapi matanya menjelajah ke seluruh ruangan. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Jong Hyun untuk memastikan dia memakai pakaian lengkap atau tidak.Konyol.

 

Seribu kali Neora memaki dalam hati. Meruntuki kenapa ia harus bersikap memalukan dan picisan seperti ini.

 

Mata coklat Jong Hyun mengunci matanya saat tanpa sengaja bertemu. Tak jauh berbeda dengan ibunya, Jong Hyun juga sangat ahli dalam memainkan tatapan matanya. Pandangan yang sebelumnya biasa-biasa saja kini mulai mengintimidasi Neora.Mau tak mau ia harus membalas tatapan Jong Hyun untuk tetap menjaga harga dirinya, meski kedua telapak tangannya telah basah kerena keringat.

 

“Apa kalian hanya akan berdiri saja di sana?”

 

Neora baru saja akan menjawab seruan Nyonya Besar ketika secara tak terduga Jong Hyun melangkah mendekat kepadanya. Wajah tampan Jong Hyun semakin terekpos sempurna di mata Neora, ia semakin tak bisa bernapas karena wajah tampan tanpa ekspresi itu hanya melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seakan-akan sedang memastikan apakah Neora ini sejenis alien atau bukan.

 

Jong Hyun tidak sedang memperhatikan Neora tanpa alasan, dia sedang menganalisis gadis pertama yang berhasil memasuki ruangan pribadinya itu. Seorang gadis dengan tinggi tak lebih dari 160 centi, rambut panjang berwarna hitam kemerahan, kulit putih, mata kecil namun tak terlalu sipit, bibir tipis, dagu lancip. Tak cukup cantik dan sangat tak meyakinkankan jika dia gadis yang pintar, pikirnya.

 

Mereka berpandangan lama, tanpa mengucap sepatah katapun. Beberapa saat kemudian, Jong Hyun berjalan melewati Neora begitu saja. Tanpa senyuman, tanpa kata, tanpa ekspresi.

 

Neora menghirup oksigen dengan rakus, ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa ibu dan anak memiliki tatapan mata yang begitu menyeramkan seperti itu? Mereka tak jauh berbeda dengan Jaksa penuntut umum yang sedang membacakan pertanyaan dan dakwaan kepada tersangka kasus pembunuhan.

 

“Hey… kalian bahkan belum berke-”

 

“Sudahlah Eomma, kita mulai saja sekarang, aku tak punya banyak waktu.” Jong Hyun memotong ucapan ibunya yang bermaksud untuk memintanya berkenalan dengan Neora. Terlalu formal hanya untuk hal kecil seperti ini, batin Jong Hyun.

 

Seo Jin memutar bola matanya malas lalu menepuk pelan pundak Neora seolah memberi tahu bahwa pekerjaannya tidak semudah yang ia bayangkan. Neora tersenyum kecil sebagai balasan. Sesaat setelah Seo Jin meninggalkan mereka, Neora mengalihkan tatapannya kepada Jong Hyun yang saat ini sudah tenggelam bersama ipad-nya.

 

Neora merasa seluruh darahnya berhenti mengalir, ruangan luas itu serasa sesak hanya dengan kehadiran mereka berdua. Cho Neora melangkahkan kakinya menuju kursi, menyusul Jong Hyun sambil sesekali melihat (secara terang-terangan) Jong Hyun yang nampak tak begitu peduli dengan apa yang akan Neora lakukan. Ia berulang kali mengumpat tanpa suara sebelum akhirnya duduk di hadapan Jong Hyun dan mengeluarkan beberapa bukunya. Tak ada gunanya menyesali kecelakaan yang membuatnya berada dalam keadaan seperti ini, sekarang berharap saja semoga tak menjadi semakin buruk.

 

***

 

“Dari mana kita mulai?” Kalimat yang sama yang telah Neora ucapkan lebih dari sembilan kali dan sama sekali tak mendapat respon dari Jong Hyun.

 

“Hey, aku sedang berbicara denganmu,” masih tak ada respon.

 

“Apa kau masih hidup?” Neora memiringkan kepalanya, berusaha untuk melihat wajah Jong Hyun yang hampir tertutup oleh ipad-nya. Sedangkan yang sedang diperhatikan justru mendekatkan benda kotak tipis tersebut dan membuat wajahnya semakin tak terlihat oleh Neora.

 

BRAKK!

 

Kesal, gadis bergolongan darah B itu membanting buku tebalnya dan memasukannya kembali ke dalam tas. Tanpa sadar ia menggerutu.

 

“Sial! Mimpi apa aku semalam hingga harus bertemu dengan anak menyebalkan seperti dia. Aku bahkan tak bisa percaya bahwa dia salah satu siswa Daehyun. Benar-benar tak meyakinkan.”

 

Cukup keras untuk disebut sebagai gerutuan kerena Jong Hyun pun dapat dengan jelas mendengarkan setiap rentetan kata yang keluar dari mulut Neora. Meskipun begitu, ia sama sekali tak memiliki niat untuk membalas atau menanggapi ocehan Neora yang membuat gadis itu bersungut-sungut kesal lalu meninggalkan perpustakaan pribadi milik keluarganya. Ia hanya melihat gadis itu berjalan keluar.

 

“Hanya seperti ini ternyata? Tak terlalu menarik.”

 

Dengan cekatan ia mematikan ipad sambil meraih tas punggung dan blazernya yang tergeletak di sofa. Sesekali ia mendendangkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh band idolanya, Trax[9].

 

Baru saja Jong Hyun akan menutup pintu perpustakaan, ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Neora yang tiba-tiba. Jong Hyun bahkan hampir menjerit saking terkejutnya, namun ia bisa mengontrolnya dengan baik. Akan sangat aneh jika laki-laki sedingin dia menjerit karena terkejut.

 

Jebal[10], jangan mepersulitku kali ini,” ujar Neora memohon. Tapi bagi Jong Hyun lebih terdengar seperti ‘aku akan melalukan apa saja asal tetap disini’ dan membuatnya merasa di atas angin.

 

Pemuda berkulit putih pucat tersebut melipat kedua tangannya di dada, persis seperti seorang bos yang sedang menyeleksi calon pegawai. Otaknya berpikir cepat tentang bagaimana memberi pelajaran pada gadis ini sekaligus tetap membuat ibunya merasa tenang. Kedua sudut bibirnya terangkat saat membayangkan rencana yang baru saja melintas di kepalanya. Neora melihat semua itu, senyum tampan namun penuh dengan sinyal membahayakan.

 

Jika saja tak terikat perjanjian dengan Nyonya Besar, Neora tak akan segan-segan untuk memelintir kepala Jong Hyun.

 

“Bagaimana jika kita membuat perjanjian terlebih dahulu?” tawar Jong Hyun.

 

Gila, perjanjian macam apa lagi yang harus aku lakuan untuk keluarga ini?! geram Neora dalam hati seraya melancarkan tatapan seram kepada Jong Hyun dan dibalas dengan tatapan yang tak kalah seram.

 

Neora menghembuskan napas kasar, tak ada gunanya membantah apalagi menawar. Sejak memasuki rumah ini seharusnya ia sudah bisa membaca situasi bahwa ia memang sedang berada di negeri dongeng dengan peran sebagai budak tentu saja. Budak seorang Ratu dikatator dan Pangeran tampan menyebalkan.

 

“Apa?” responnya singkat.

 

“Sejak awal aku sama sekali tak tertarik dengan ide Eomma yang menginginkan kita belajar bersama,” Jong Hyun mulai angkat bicara.

 

Kau pikir aku mau?!

 

“Tapi, seperti yang kau lihat, semua kemauannya harus selalu terpenuhi dan itu sangat menggangguku, lagi pula aku sudah berniat untuk sekolah.”

 

“Bisa kau percepat ke intinya?” sahut Neora tak sabar, ia sudah muak dengan ocehan Jong Hyun.

 

Jong Hyun meradang, tak menyangka bahwa Neora akan memotong perkataannya. Gadis pendek itu sudah bosan hidup tentram rupanya.

 

“Yang harus kau lakukan hanya mengerjakan semua tugas rumahku dan kalau perlu mengerjakan pula soal-soal ujianku. Kata Eomma kau anak yang pintar, jadi aku rasa itu tak terlalu sulit.”

 

Mata Neora membulat sempurna. Perkataan Jong Hyun benar bahwa ia adalah anak yang pintar, tapi Neora (seumur hidupnya) tak pernah berbuat hal seperti itu. Sejak kecil Neora memang terbiasa untuk tidak menyontek ataupun memberikan contekan. Ayahnya selalu mengajarkan ia untuk jujur dan itu benar-benar ia terapkan sampai sekarang. Maka dari itu Neora tak memiliki banyak teman kerena dianggap pelit dan sombong, tapi ia sama sekali tak mempedulikannya.

 

“Tidak, aku menolak. Sesuai perjanjian dengan Nyonya Seo Jin, tugasku hanya membuatmu lulus ujian bakat dan masuk Universitas Daehyun. Tak tercantum di dalamnya soal mengerjakan tugas apa lagi ujian.”

 

“Terserah padamu, aku tak memaksa. Hanya saja jangan salahkan aku jika Eomma tahu bahwa nilaiku sama sekali tak ada peningkatan,” Jong Hyun membenarkan letak tas punggungnya lalu melenggang santai meninggalkan Neora, “Aku hanya sedang berusaha membuat penawaran yang menguntungkan kita berdua. Asal kau tahu, ibuku bisa berbuat apa saja kepadamu jika kau tak mengikuti kemauannya.”

 

Bagaikan dicambuk dengan duri beracun, Neora segera tersadar bahwa hidupnya memang bergantung pada ‘pengeran’ menyebalkan itu. Tak ada pilihan lain jika ia masih ingin melanjutkan hidupnya dengan tenang. Empat belas juta Won sialan.

 

“Baiklah, jangan banyak bicara dan mari kita mulai.” desis Neora frustasi, lalu berjalan memasuki perpustakaan lagi tanpa mempedulikan Jong Hyun yang kini sedang menahan senyum kemenangannya. []

 

-TBC-

 

Annyeong…, kali ini aku datang mencoba buat bikin cerita berchapter. Jujur aku agak ga pede sama cerita ini, rasanya agak basi gitu. Dan ngebosenin. >_<

 

Efek lama ga nulis juga jadi mulai-mulai lupa sama aturan dan sistematikanya #plakkk. Untuk itu diharapkan banget pembaca semua bisa menunjukan letak kesalahan di FF ini jadi bisa diperbaiki.

 

Terima kasih telah membaca…

 

Salam sayang,

Ridygta Rika

 

 

[1] Maaf (formal)

[2] Ayo

[3]Ya.

[4]Ayah

[5]Bibi (di luar keluarga)

[6]Suffiks. –ya/-ah untuk sapaan akrab atau dari tua ke muda. –ya digunakan jika nama berakhiyan huruf vokal, sedangkan –ah digunakan jika nama berakhiran huruf konsonan.

[7]Ibu

[8]Kakak. Panggilan yang ditujukan kepada laki-laki yang lebih tua oleh laki-laki yang lebih muda.

[9] Band rock asal Korea Selatan, debut tahun 2004 dibawah naungan SM Entertaiment.

[10] Kumohon

5 thoughts on “ana(LOVE)sis [chapter 1]

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s