Love is no big truth [Chapter 2]

LINBT cover

Author: kim sung rin

Rating: PG16 ,

Genre: romace, AU

Length: chaptered

Main Cast:

– Lee Jonghyun

– Lee Jungshin

– Cho Soo Yeon [OCs]

– Ga In [OCs]

Other Cast:

– Jung Yonghwa

– Kang Minhyuk

– Cho Kyuhyun

– Choi Jonghun

Disclaimer: Terinspirasi dari salah satu lirik lagu yang berjudul Love is no big truth , selebihnya ceritanya milik saya.

[Teaser] [1]

~~~

Lee Junghshin adalah salah satu teman Soo Yeon yang merupakan anggota band Lee Jonghyun. Mereka  bertemu dalam kegiatan musik dua tahun yang lalu. Sepengetahuan  Soo Yeon, Jungshin memang tidak banyak bicara dengan wanita. Dia akan menjadi pribadi yang berbeda sekali saat ada wanita disekelilingnya. Karena itulah dia tidak terlalu dekat dengan Jungshin walaupun sudah beberapa kali bertemu dan berkumpul bersama.

Tapi, kali ini Soo Yeon melihat pribadi Jungshin yang tak seperti biasanya. Pasalnya Jungshin rela datang kerumah Soo Yeon – wanita yang tidak terlalu dekat dengannya- untuk mengajaknya pergi menemui seseorang di rumah sakit. Karena sudah tengah malam, dan rasanya tidak bagus jika Soo Yeon keluar di jam ekstrim seperti itu, Lee Jungshin rela meladeni Kyuhyun –kakak laki-laki Soo Yeon- yang cerewetnya minta ampun sampai-sampai Jungshin harus mendengar ceramah Kyuhyun yang sangat memekakkan kedua telinganya.

Setelah memohon mati-matian dan mendengarkan ceramah yang hampir tidak dimengerti oleh Jungshin, akhirnya SooYeon diperbolehkan untuk pergi bersama Lee Jungshin  kerumah sakit. Ughh! setelah ini mungkin Jungshin akan memeriksakan telinganya kedokter THT.

Dan disinilah Soo Yeon, sedang duduk menahan kantuk di Maybach Landaulet putih milik Jungshin. Dia sungguh tak mengerti, kenapa dia harus ke rumah sakit tengah malam begini padahal masih ada hari esok.

Jungshin sesekali mencuri pandang ke Soo Yeon, dia memang –sedikit- merasa bersalah pada gadis itu karena mengganggu jam tidurnya. Tapi, ini semua demi kebaikan seseorang yang akan mereka temui nanti di rumah sakit karena belum tentu hari esok menyambut orang tersebut.

“Maaf aku sudah mengganggu waktu istirahatmu,” kata Jungshin saat dia berhenti di lampu merah. Soo Yeon menatap Jungshin dan tersenyum dipaksakan, “Tidak usah minta maaf denganku Jungshin, aku tau ini penting. Kalau tidak mana mau kau datang kerumahku malam-malam dan membujuk oppaku yang super cerewet itu agar aku bisa ke rumah sakit.”

Lampu hijau menyala, Jungshin kembali mengendarai Maybach Landaulet putihnya. Jungshin diam-diam tersenyum mendengar jawaban positif dari Soo Yeon. Dia pikir gadis yang sedang duduk terkantuk disampingnya ini akan ngomel dan membentaknya dengan murka.

“Ngomong-ngomong, siapa sih yang mau kita temui?” Soo Yeon tidak bisa tidak menanyakan hal itu. Gadis itu tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Kau lihat saja nanti.” Jawab Jungshin.

~~~

Soo Yeon Pov

Aku menganga sekaligus terbelalak dalam waktu yang bersamaan. Rasanya semua rasa kantuk yang menggelayutiku sejak Jungshin datang  sampai sekarang buyar tiba-tiba begitu melihat seseorang yang dimaksud oleh Jungshin.

Dia Ga In.

Aku tidak cukup mengenal dia, pada awalnya. Tentu saja, wajah cantiknya hampir tak terlihat akibat perban yang 80 persen melilit di kepalanya. Tapi setelah Jungshin memberitahuku bahwa gadis itu adalah Ga In, aku baru ingat wajahnya dan  merasa sangat kasihan dengannya.

Aku lalu menatap Jungshin yang sama heningnya denganku saat masuk di ruang perawatan Ga In. Matanya masih menatap lurus gadis itu dengan muram kemudian berganti menatapku.

“Dia kecelakaan sebulan yang lalu,” Kata Jungshin seolah menjawab pertanyaan yang tersirat di mataku, “Cukup parah, sampai-sampai darah di beberapa aliran otaknya membeku. Itu jugalah yang membuatnya terbaring lemah seperti ini.” Lanjutnya lagi. Jungshin berusaha terlihat baik-baik saja, padahal suaranya bergetar sejak dia mulai bicara di ruangan ini.

Lalu kenapa Jungshin mengajakku kesini?
Jungshin lalu duduk di sisi kiri Ga In dan menyambar tangan lunglai gadis itu. Dia membelainya dengan perlahan dan terus saja memandang Ga In yang tak sadarkan diri.

Setelahnya dia menatapku, mengisyaratkan lewat matanya agar aku duduk di sisi kanan Ga In. Aku menurutinya dan melakukan hal yang sama dengan Junghsin –menyambar dan membelai perlahan tangan Ga In.

Aku menap wajah Ga In dalam. Memoriku tentangnya tiba-tiba mencuat begitu saja. Berkat dialah aku mempunyai hubungan yang canggung dengan Lee Jonghyun. Berkat dia jugalah Jonghyun bilang bahwa dia membenciku. Dan berkat dia jugalah aku menjadi wanita yang sangat egois sekaligus pengecut dimata Jonghyun.

“Aku tau kau masih kesal dengan perlakuan Ga In kepadamu,” Jungshin memecahkan keheningan, masih menatap wajah Ga In, “Tapi Ga In sunguh-sungguh ingin bertemu denganmu. Dia menyesal telah berbuat hal tidak baik itu di masa lalu.”

Aku menatap Jungshin. Aku tau Jungshin punya niat baik untuk mempermudah Ga In bertemu denganku, dan juga masa sih aku harus kesal dengan orang yang sakit parah selama sebulan? Walaupun aku sudah berusaha berfikir logis, rasanya aku masih belum bisa begitu saja menerima gadis itu.

“Aku tau ini gila,” kataku pelan, “Tapi aku tidak bisa begitu saja menerimanya, Jungshin. Aku punya masa lalu yang tak ingin kuingat karena dia. Dan…” tenggorokanku rasanya tercekat sekali, apalagi melihat wajah Jungshin yang begitu memohon kepadaku.

“Kau pasti bisa menerimanya, Soo Yeon. Dia memang pernah berlaku jahat kepadamu, tapi dia menyadarinya dan ingin meminta maaf kepadamu, apakah itu tidak cukup baik dimatamu?” kata Jungshin, jelas sekali emosinya tersulut.

“Jangan membuatku terlihat buruk, Lee Jungshin,” balasku pelan dan datar, “Aku pasti bisa menerimanya, sungguh. Aku bukanlah orang yang tidak tahu diri. Aku juga manusia, sama sepertinya. Tentu saja aku mau memaafkan dia, Tuhan saja pasti akan memaafkanku kalau aku berbuat yang jauh lebih buruk darinya masa aku tidak bisa seperti itu juga? Hanya saja aku butuh waktu untuk menerimanya kembali. Dan aku butuh proses okay?” potongku sebelum Jungshin berhasil mengeluarkan kalimat bantahan dari mulutnya.

Jungshin benar-benar bungkam sekarang, dan aku berterima kasih atas itu. Aku kembali menatap Ga In dan membelai tangannya.

Ga in, cepatlah bangun agar kau bisa bicara langsung denganku.

~~~

Author pov

Soo Yeon duduk disalah satu bangku panjang cafeteria rumah sakit sambil melamun. Melihat Ga In tadi membuat memori masa lalunya mencuat begitu saja, seperti sebuah film yang berputar tepat dihadapannya saat ini.

Dulu, Ga In adalah gadis yang sangat cantik. Tak sedikit yang terang-terangan jatuh cinta dan menyatakan cintanya dengan Ga In. Dan semuanya tidak ada yang dia terima. Ya, dia mempunyai cinta yang lain. Yonghwa. Dan berkat cintanya itulah dia berani mengambil keputusan untuk mempermainkan lelaki yang menyukainya demi mendapatkan Yonghwa.

Dan lelaki tak beruntung itu adalah Lee Jonghyun.

Soo Yeon sempat mendengar semua rencana jahat yang di utarakan Ga In di toilet wanita. Kebetulan sekali Soo Yeon sedang buang air kecil pada waktu itu. Dan akhirnya memutuskan untuk mencuri dengar rencana yang membuat hati Soo Yeon merasa sesak dan marah.

Soo Yeon tidak memberitahu hal ini kepada Jonghyun, pada awalnya. Dia takut, Jonghyun akan memandangnya buruk dan membencinya. Tapi, semakin lama Jonghyun semakin menggila dengan Ga In. Dia rela tidak masuk kuliah selama sebulan untuk meladeni keinginan Ga In yang macam-macam. Dan Soo Yeon benci itu. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan semua itu kepada Yonghwa.

Seperti yang Soo Yeon duga sebelumnya, Yonghwa jelas kaget mendengar semua itu. Dia merasa tidak enak sendiri kepada Jonghyun dan juga Soo Yeon karena Ga in. Tapi, Yonghwa tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa terlihat aneh sekali tiba-tiba dia menghentikan Jonghyun untuk menyukai Ga In. Lagipula Yonghwa sangat yakin, Jonghyun akan menyangka dia –juga- menyukai Ga In bila dia benar-benar melakukannya.

Soo Yeon berfikir lama, memikirkan cara yang baik agar Jonghyun bisa menghentikan semua ini. Lagipula dia tidak tega melihat seseorang yang dia cintai di khianati dan tidak berbuat apa-apa tentang hal itu. Sungguh, Soo Yeon akan memaki dirinya sendiri jika dia benar-benar diam dan tidak mengambil tindakan.

Akhirnya  di suatu malam saat Jonghyun memutuskan untuk makan malam mewah dengan Ga In, Soo Yeon bertandang ke apartmen Jonghyun. Gadis itu sudah menyiapkan dirinya sejak lama dan berharap sekali Jonghyun tidak salah paham dengannya.

Sialnya, Ga In tau semua apa yang Soo Yeon rencanakan. Dia mengamati Soo Yeon yang selama ini berusaha membujuk Jonghyun untuk menjauhinya –walaupun tidak secara langsung. Jadi, gadis itu sudah bicara macam-macam dan menjelek-jelekkan Soo Yeon didepan Jonghyun sebelumnya. Dan sayangnya Jonghyun mempercayai itu.

Soo yeon memberitahu apa yang seharusnya dia beritahu, tapi usahanya itu nihil. Jonghyun tak pernah mempercayainya. Dan itu membuat Soo Yeon sakit sekali karena Jonghyun lebih memilih gadis itu –Ga In-, dibanding dirinya yang berstatus sahabatnya waktu itu.

“Kau sedang memikirkan apa?” suara Jungshin membuat Soo Yeon kembali ke alam sadarnya. Dia lalu menyeruput mocca latte yang dipesan Jungshin.

“Tidak ada,” jawab Soo Yeon yang kemudian hening lagi. Jungshin pun akhirnya memutuskan untuk menyeruput Iced Americano nya.

“Kau yakin tidak mau menjadi backing vocal saat pentas seni nanti?” Tanya Jungshin. Soo Yeon menoleh dan terkekeh pelan, “kau pasti tau kalau aku menjawab tidak.”

Junghsin tersenyum dan memainkan jarinya di lingkaran cangkir kopinya, “Masih gara-gara Jonghyun?”

Soo Yeon menjawabnya dengan senyum yang dipaksakan, “Jangan bertanya jika kau sudah tahu jawabannya.”

Junghsin tersenyum lagi. Memang sih dia tidak mengalami semua salah paham yang terjadi antara Jonghyun dan soo yeon. Tapi, apakah berdiaman terlalu lama seperti ini sangatlah berlebihan? Pikir Jungshin.

“Jangan mementingkan egomu,” kata Jungshin namun Soo Yeon lebih memilih menyeruput mocca lattenya lagi agar dia tidak perlu menanggapi nasihatnya barusan.

“Kesampingkan masalah mu, aku tahu kau bisa melakukannya.” Ucap Junghsin sebelum dia beranjak dari duduknya.

~~~

Sudah lima menit Kyuhyun berdiri didepan pintu kamar Soo Yeon. Sesekali mukanya berkerut tak menentu. Penasaran, akhirnya dia menempelkan telinganya ke pintu.

Dan saat itu jugalah Soo Yeon membuka pintunya.

Bruk!

“Kyaaaaaaaaaa!” Soo Yeon kaget bukan kepalang, karena saat membuka pintunya Kyuhyun langsung ambruk tepat didepannya.

“Kau sedang ngapain sih?” Soo Yeon masih mengelus dadanya akibat terkejut, sedangkan Kyuhyun tengah mengaduh sambil mengurut pelan pinggangnya.

A…aniyo,” jawab Kyuhyun meringis, “Aku cuma mau manggil kau untuk sarapan pagi. Kajja!”

Kyuhyun berjalan sambil mengurut pinggangnya, dan itu membuat Soo Yeon terkekeh pelan karena Kyuhyun terlihat seperti orang tua.

“Aku tau kau sedang mencari tahu sesuatu tentangku.” ucap Soo Yeon santai sambil menyendokkan sereal yang sudah Kyuhyun siapkan.

Kyuhyun berhenti mengunyah dan menyeringai, “Mencari tau tentangmu? Tentang anak gadis cerewet yang hobby makan dan mengupil?”

Ya! Cho Kyuhyun,Kau …” Soo Yeon bertingkah seolah-olah dia akan melemparkan mangkuk serealnya, dan Kyuhyun sukses terpingkal-pingkal melihat kelakuan adiknya yang juga pemarah itu.

“Aku hanya penasaran. Kau pulang pagi tadi dan tidak bicara apa-apa denganku. Kau tidak tahu aku khawatir setengah mati? Si tiang listrik itu berjanji denganku hanya mengajakmu ke rumah sakit selama satu jam. Dan kau muncul tiga jam setelah itu, awas saja anak itu kalau ketemu!” Kyuhyun mengomel sambil tetap mengunyah serealnya sampai-sampai dia tidak sadar meja didepannya penuh dengan cipratan serealnya. Ughhh! kyuhyun memang jorok!

Soo Yeon hanya tersenyum melihat kelakuan kakak lelakinya yang jorok sekaligus ingin tahu itu. Seperti biasanya, Soo Yeon tidak ingin langsung cerita dengan kakaknya itu. Dia lebih suka melihat Kyuhyun penasaran dan terus merengek ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena Soo Yeon tidak memuasi keingin-tahu-an Kyuhyun, lelaki itu kembali mengoceh dan itu terjadi selama 45 menit.

“Baiklah baiklah, kau penasaran tentang apa huh?” Soo Yeon sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan Kyuhyun yang sudah melampaui batas. Kyuhyun akhirnya tersenyum, sepertinya memang itu yang ingin dia dengar dari mulut adiknya.

“Begini,” katanya sambil membenarkan posisi duduknya, “Ngomong-ngomong siapa si tiang listrik itu, ani, maksudku…apakah dia pacarmu?”

1 detik…2detik…3detik…

Slap! Wajah tampan Kyuhyun kini tertutupi oleh serbet yang baru saja melayang dari tangan Soo Yeon.

Ya! Kenapa melempar serbet ke wajah gantengku sih?” bibirnya mengerucut sambil menatap kesal adik satu-satunya itu.

“Tidak apa-apa. Aku ingin sekali melakukannya sejak lama, dan saat ini adalah momen yang pas. Dia itu bukan pacarku, aku tidak terlalu dekat dengannya, dan aku tidak menyukainya. Kau mengerti itu Tuan Cho?” jelas Soo Yeon malas-malasan. Setelah dulu dia sempat cerita tentang Jonghyun, kakak lelakinya itu jadi lebih intens untuk mengetahui hal pribadi Soo Yeon. Setiap lelaki yang datang mencari Soo Yeon pastilah berubah status sesaat menjadi ‘pacar Soo Yeon’ walaupun itu hanya ada di dalam pikiran Kyuhyun.

“Benarkah? Tapi aku melihat sesuatu yang…”

“Bersihkan ini,” potong Soo Yeon, “Kau mengotorinya karena cipratanmu.” Lanjut Soo Yeon yang langsung pergi sebelum Kyuhyun menganalisis hal aneh lagi tentang dirinya.

~~~

Jonghyun memetik asal gitar merah miliknya. Akhir-akhir ini dia memang banyak melamun dan teman-teman bandnya sangat menyadari itu semua.

“Jonghyun hyung kenapasih?” Minhyuk mengamati Jonghyun sambil memutar-mutar stik drumnya. Jungshin yang sedang mengulik bass disampingnya tentu saja langsung menoleh kearah Jonghyun. Sunbaenya itu memang tampak gloomy beberapa hari belakangan dan tak banyak bicara seperti biasanya.

Jungshin mengedikkan pundaknya. Walaupun dia bisa menebak alasan apa yang membuat Jonghyun seperti itu tapi dia memilih untuk pura-pura tidak tahu.

“Maaf aku terlambat,” Jonghun terlihat ngos-ngosan masuk kedalam ruang latihan. Rambut coklatnya terlihat berantakan namun justru itulah yang membuat parasnya semakin terlihat tampan. Dia langsung duduk dan mengambil gitar hitamnya. Tapi bukan Jonghoon yang membuat seluruh mata terbelalak sekarang ini. Ada orang lain yang berdiri canggung didepan ruangan dan masih memegang erat ujung kemejanya selagi dia berdiri disitu.

“Jadi, kapan kira-kira kita mulai latihan?” suara gadis yang tak lain Soo Yeon memenuhi ruangan itu. Dan suara itulah yang membuat wajah gloomy Jonghyun  kembali bersinar.

Minhyuk dan Jonghun saling berpandangan. Mereka berdua tahu kalau gadis itu susah sekali diajak kompromi, walaupun dia pernah menjadi sahabat dekatnya Jonghyun sekalipun. Jungshin menyeringai, mendadak perasaan lega menjalar ke relung hatinya.

~~~

“Hey tunggu,” Soo Yeon menoleh dan dia mendapati Jonghyun sedang berjalan menghampirinya.

“Ada apa?” walaupun Soo Yeon sudah sepakat untuk tampil menjadi vocal utama (well, ini permintaan Minhyuk yang bersikeras selama latihan agar Soo Yeon menjadi vocal utama) bukan berarti permasalahannya dengan Jonghyun selesai begitu saja.

“Aku hanya mau bilang terima kasih,” Jonghyun mengusap belakang lehernya berkali-kali, “kau sudah mau datang dan sepakat menjadi vocal utama.”

Soo Yeon mengannguk, masih dengan wajah datarnya, “Sugohaesseoyo.”

Soo Yeon pergi begitu saja meninggalkan Jonghyun yang dia yakini masih berdiri disitu melihat kepergiannya. Sejenak dia ingin menghentikan langkah kakinya itu dan berbalik kemudian memeluk tubuh kekar milik Jonghyun. Tapi itu semua tidak mungkin dan tak akan pernah terjadi.

Seiring dengan langkah terburu Soo Yeon, rintik-rintik hujan mulai jatuh membasahi bumi. Dan karena itulah Soo Yeon kembali berlari ke lobby kampus untuk berteduh sejenak. Dia lupa membawa jas hujan merah jambunya pagi tadi.

“Sedang berteduh ya?” suara Jungshin membuat Soo Yeon terperangah dan menoleh kesal ke arah Jungshin.

“Bisa kan kalau kau menegurku dulu baru mengajak bicara? Sifatmu ini buruk sekali. Mengagetkanku, kau tahu?” Soo Yeon mengomel dan mengusap dadanya karena rasa kaget yang berlebihan. Hal itulah yang membuat Jungshin terbahak. Dia tidak menyangka bahwa gadis pemarah didepannya ini lumayan lucu juga.

Mianhae, aku hanya ingin terkesan dramatis. By the way, dugaanku tepat sekali.” Junghsin kembali mengnulang perkataannya. Dari nadanya dia terlihat seperti peramal pinggir jalan atau orang misterius yang tiba-tiba muncul dalam sebuah drama.

“Ah~kau pasti menyangka aku gadis yang baik dan tidak pendendam? Tch! Seharusnya kau menyadari itu dari kemarin, aku memang hebat kan?” Soo Yeon menaikkan kerah kemejanya agar terlihat keren tapi Jungshin malah menyentil kening Soo yeon.

Ouch! Ya!” Soo Yeon kembali mengomel, dan entah mengapa Jungshin merasa senang melihat gadis berhidung mancung itu marah-marah dan mengoceh tidak jelas seperti sekarang ini. Dan akibat omelan yang serupa dengan Kyuhyun, Junghsin tidak sempat memuji Soo Yeon yang sudah mau bergabung untuk tampil di acara pentas seni nanti.

“Kau dengar apa yang sedang kubicarakan tidak sih?” omelan dari Soo Yeon membuat Jungshin kembali ke alam sadarnya kemudian mendapati wajah mengkerut-kerut kesal sedang menatapnya.

“O..ooh, i..iya.” Jungshin asal bicara saja, tapi jawaban itu membuat Soo Yeon terpekik senang dan membuat beberapa pasang mata menatap mereka. Ah, dia bicara apa sih tadi? Batin Jungshin.

“Kalau begitu sekarang juga kita pergi membeli 20 es krim buatku dan kita nonton film kartun bersama. Bagaimana? Ah, aku tidak seharusnya bertanya lagi. Kan kau sudah menyetujuinya tadi.” Pekiknya senang. Oh, beruntunglah hanya eskrim. Tapi… 20 es krim? Lagi-lagi batin Jungshin.

“Baiklah, tapi dengan satu syarat ya?” Jungshin kali ini menyeringai. Tanpa ragu, Soo Yeon mengangguk tak sabar.

“Apa syaratnya?” Tanya Soo Yeon.

“Kau harus menjadi pacarku.”

~~~

TBC

Hallo pemirsah (?) ^^/

sudah lama aku tidak post ya. hoho. dan aku buat ini disela-sela pengerjaan laporan magang + skripsi. haaah~ menyenangkan bukan? *guling-guling*

sepertinya series ini tidak banyak-banyak, karena aku jadi bingung ini cerita mau dibawa kemana saking udah lamanya haha. kita lihat saja sampai kapan ya ohoho.

buat readers yang selalu baca dan komen FF ini, aku berterima kasih sekali. kalian mungkin gatau, tapi jujur aku seneng banget begitu kalian komen FF aku. uhuu~  love love for kalian! *lempar duit bias masing-masing*

dan untuk silent reader, ayolah komen. gak sampe 10 menit kok ngepost komennya heheh *dilempar sendal*

yaudah ah itu aja. bhay! tunggu cerita selanjutnya yaaaaaaa ^^/

 

8 thoughts on “Love is no big truth [Chapter 2]

  1. jungshin suka soo yeon lahh gmna nasib jonghyun spertinya jonghyun kn dh suka soo yeon okk cinta segitiga gi nihh hihhihi
    *next thor^^

  2. Hwaaaaaa~~~~ mianhae author-nim. Baru bisa komen di part 2 ini, soalnya saking seriusnya baca Teaser & part 1 hd lupa komen.
    Ah ya, ntar perasaan Ajong gimana tuh klo tau Sooyeon sm Ajung. Kasian Ajong… yaudah sama saya aja ya baaaang~~~ hahahahaaa *digeplak Boice*

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s