Love Story – [1] Mini Accident

2014-03-04 21.33.31

 

Title: Love Story – [1] Mini Accident

 

Author: NyetNyet

 

Genre: Romance, School Life, etc

 

Length: Chaptered

 

Main Cast:       Kang Min Hyuk

Jung Soo Jung – Krystal

 

Other Cast:      Jung Yong Hwa

Jung Soo Yeon

Lee Jong Hyun

Lee Jung Shin

Lu Han

Kim Min Seok

Oh Se Hun

 

Disclaimer: Setiap manusia punya jalan cerita cinta mereka masing-masing. Mengapa kita tidak tertarik untuk melihat kisah cinta mereka yang menggetarkan hati?

 

Note: Semua yang author tulis ini bukan kenyataan ya. Don’t be silent reader. Comment kalian sangat author butuhkan. NO PLAGIATOR! Thank You.

PROLOG

***

“Gwenchana?”

“Aku baik-baik saja. Tapi ponselku tidak baik-baik saja. Very bad.”

***

Seoul, July 2013

Gadis itu terbangun dan menggeliat sejenak di kasur empuknya. Bunyi alarm lah yang membuatnya terbangun. “Uh, mengganggu sekali.” Tangannya menggapai jam weker yang sedang bernyanyi membangunkannya, kemudian menelusupkannya ke bawah bantal agar suaranya mengecil.

Namun, usahanya sia-sia. Bunyinya tak kunjung berhenti dan membuat gadis itu langsung terduduk di tempat tidurnya sambil mematikan jam weker tersebut dengan mata yang masih setengah terpejam. “Argh! Sialan! Tidak bisakah kau berhenti berbunyi? Sangat mengganggu!”

Setelah berhasil mematikan jam weker tersebut, gadis itu mengucek matanya perlahan untuk menghilangkan kotoran-kotoran di matanya. Tak lama kemudian, ia membuka matanya lebar-lebar untuk mencari sumber bunyi lainnya dan getaran di kasurnya. Tangannya membalik-balikan bantal dan selimut untuk mencari benda yang dimaksud.

Ia butuh beberapa waktu untuk menemukan benda tersebut sebelum mengotak-atiknya. “Uh, ternyata oppa.” Ia bergumam sebentar sebelum mengusap benda tersebut dan menempelkannya ke telinga. “Soo Jung! Kenapa lama sekali angkat telepon oppa? Angkat telepon saja seperti jalan kaki dari Busan ke Seoul.” Orang di sebrang sana langsung bersuara sambil marah-marah tanpa memberi kesempatan untuk orang yang dipanggil Soo Jung itu berbicara sepatah katapun.

“Aigoo, oppa. Oppa ini ga sabaran banget sih! Sabar sedikit dong. Aku baru bangun dan butuh waktu buat nyari nih hp supaya bisa angkat telepon oppa. Emang kenapa sih? Pagi-pagi udah ribut, ganggu ketenangan orang saja,” Soo Jung juga tak mau kalah dengan orang yang ia panggil oppa itu. Buktinya, ia berbicara lebih panjang dari yang orang di sebrang sana lontarkan pada Soo Jung beberapa detik yang lalu.

Soo Jung merasa mendengar helaan nafas berat di sebrang sana. “Soo Jungie-ku terinta, jam segini kau bilang pagi? Kau salah makan apa? Dan, oh! Kau mau terlambat berapa jam untuk bertemu oppa kalau jam segini saja baru bangun? Oppa sudah di ruang tamu sejak 1 jam yang lalu, dan kau sudah terlambat setengah jam dari waktu yang kau janjikan pada oppa.”

Ia merengut. Ruang tamu? Terlambat? Janji? Matanya bergerak melirik jam dinding sebelum ia memustuskan sambungan teleponnya dan turun tergesa dari kasur. Ia membuka pintu kamarnya sambil mengucapkan selamat pagi pada orang yang sedang duduk sambil melonjorkan kakinya di ruang tamu. “Good mor-” Soo Jung tersandung kakinya sendiri karena ia terlalu terburu-buru, sehingga dirinya terjungkal dan wajahnya yang mulus mencium lantai. “-ning oppa.”

***

Pemuda itu duduk di balik kemudinya dan menyetir dengan tatapan fokus kedepan. Di malam yang gelap ini, ia memarkirkan mobilnya dan turun dari dalamnya untuk membeli sebuah minuman dingin di kedai pinggir jalan.

“Choco Frappe-nya satu.” Pelayan disana segera mencatat pesanannya, kemudian mengetikkannya di komputer. “Atas nama siapa pesanan ini dipesan?” tanya pelayan itu sopan dan ramah. Entah ramah karena memang kewajibannya, atau ramah karena ingin mencuri perhatian dari pemuda tampan itu. “Kang Min Hyuk,” ujar pemuda itu datar sambil menyunggingkan senyum tipisnya yang memesona.

Tak butuh waktu lama, pesanan Min Hyuk selesai dibuat dan siap untuk diminum olehnya. “Silahkan. Selamat menikmati dan jangan lupa kembali kesini!” ujar pelayan itu bersemangat. Sepertinya, ia memang terpesona akan ketampanan Min Hyuk.

Min Hyuk masuk ke dalam mobilnya dan kembali memacu mobil sport hitam kesayangannya. Dalam perjalanan, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. “Kau dimana? Kita sedang berkumpul disini sekalian ingin makan malam. Kalau kau ingin bergabung, cepat datang kesini. Aku yakin kau tahu maksudku.” Seusai membaca sederetan kalimat singkat di ponselnya, ia mengetikkan sesuatu sebagi balasan.

“Baiklah, tunggu sepuluh menit lagi. Kebetulan aku sedang lapar, Jong hyung. Kekeke.” Min Hyuk melempar ponselnya ke jok di sebelahnya kemudian kembali fokus pada jalanan yang masih dipadati penduduk.

***

            Soo Jung duduk di dalam mobil bersama Yong Hwa, kakak laki-lakinya, dan Soo Yeon, kembaran Yong Hwa. Setelah insiden jatuh terjungkal kaki sendiri, Yong Hwa dan Soo Yeon tak henti-hentinya tertawa. Mulai dari dalam apartemen, hingga masuk ke dalam mobil.

“Oppa, eonni. Sudahlah, jangan tertawakan aku terus. Sungguh-sungguh tidak lucu, tau?” Bukannya berhenti tertawa, Yong Hwa dan Soo Yeon malah semakin keras tertawa. “Aduh, perutku sakit. Ini lucu dan bukan tidak lucu. Kau salah makan apa, Soo Jung? Malam dibilang pagi, sampai menyebutkan good morning segala lagi. Ah, bahkan kau hingga terjatuh saking semangatnya bertemu kami. Benar bukan? Hahaha.” Soo Yeon berbicara sambil memegangi perutnya yang mungkin bisa dikatakan keram akibat terlalu banyak tertawa.

Soo Jung mengerucutkan bibirnya. “Aku lupa kalau aku janji dinner dengan kalian. Dan aku pikir, jam weker yang berbunyi tadi itu menandakan pagi hari seperti biasa. Aku benar-benar tidak ingat kalau aku memasang alarm di malam hari untuk janji dengan kalian, jadi itu tidak bisa dikategorikan sebagai salah makan. Aku saja belum makan sejak tadi siang.”

Yong Hwa yang sudah bisa mengendalikan dirinya, mulai ikut berbicara meledek Soo Jung. “Tapi kau tetap bersemangat kan untuk bertemu kami?” Soo Jung tertawa ringan. “Tentu saja, aku sudah sangat rindu dengan kalian. Tapi, aku tidak menyangka bahwa semangatku akan berujung pada jatuh terjungkal.” Soo Jung kembali mengerucutkan bibirnya dan melipatkan kedua tangannya di depan dada.

“Hahaha. Arra, arra. Kajja Yong, kita berangkat. Aku sudah lapar sekali karena menunggu adik jelekmu bangun. Belum lagi acara mandi dan dandannya.” Yong Hwa mengiyakan ucapan Soo Yeon dan mulai menstater mobilnya, kemudian langsung tancap gas menuju restoran jepang langganan mereka.

Pletak! Pletak! Soo Jung memukul lengan Yong Hwa dan Soo Yeon bergantian. “Itu pembalasan karena kalian mengataiku jelek. Kalian tidak tahu apa, kalau aku ini cantik? Huh, kembaran aneh!” Yong Hwa dan Soo Yeon hanya saling memandang dan tertawa ringan melihat tingkah laku adiknya.

***

Min Hyuk mendudukkan dirinya ke kursi kosong di meja bundar tersebut. “Hello bro! Long time no see!” Lu Han dan Min seok bertos ria dengan Min Hyuk, seperti melepas rindu antar sahabat. “Bagaimana kuliah kalian disana? Menyenangkan?” tanya Min Hyuk basa-basi.

“Tentu saja! Amerika memberikan kami banyak hiburan. Banyak wanita cantik dan seksi, namun sayang, jarang sekali yang berbaik hati.” Min seok menjawab pertanyaan Min Hyuk dengan semangat. Plak! “Perempuan saja yang kau pikirkan. Pelajaranmu bagaimana? Kalau aku tidak membantumu mengerjakan skripsi hingga pagi buta, mungkin kau tidak akan lulus dan duduk di tempat ini sekarang,” ujar Jung Shin yang kesal dengan jawaban Min seok.

Jong Hyun, Min Hyuk, Lu Han, dan Se Hun tertawa melihat Min seok yang mengaduh kesakitan dan Jung Shin yang kesal atas jawaban Min seok. Min seok yang tidak terima pernyataannya mengenai Amerika dibalas dengan jitakan di kepalanya oleh Jung Shin, segera membalasnya.

“Hei tiang listrik! Itu kan hanya skripsi! Kau tidak tahu kan mengenai nilai-nilaiku di semester sebelumnya selama 3 tahun terakhir ini? Aku ini juara 3 terpandai di fakultas angkatanku. Huh, meremehkan sekali.” Jung Shin menganga lebar tak percaya. “Kau bercanda? Kau juara 3? Hah, kalau juara 3, seharusnya tidak minta bantuanku. Tinggal sehari untuk dikumpul baru minta bantuan. Kenapa tidak sekalian saja tinggal beberapa menit sebelum waktu yang dijanjikan untuk mengumpulnya baru minta bantuan? Tapi ucapaknku benar kan, Se Hun? Kalau saja kakak sepupumu ini tidak aku bantu skripsinya, pasti ia tidak akan duduk disini, kan? Benar kan?”

Se Hun tertawa melihat Jung Shin, yang notabene lebih tua 3 tahun darinya –tepatnya Jung Shin berusia 25 tahun-, malah menanyakan hal tak berguna itu pada dirinya. “Neo! Neo! Kau, Oh Se Hun! Kalau sampai berkata iya, maka aku tidak akan mengantarkanmu pulang ke rumah!” Min seok mengancam Se Hun.

Bukannya takut, Se Hun malah semakin keras tertawa, padahal sebelumnya ia hanya tertawa kecil sampai menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya! Lee Jung Shin! Kim Min Seok! Sudahlah, hyung sudah lapar. Jangan bertengkar lagi hanya karna masalah skripsi.” Lu Han membuka mulutnya karena perutnya sudah meronta-ronta minta makanan. “Kau juga.” Tangannya memukul lengan Min Seok. “Hanya berbeda beberapa bulan dari Jung Shin, dan kau lebih tua darinya, kau malah ikut-ikutan menjadi anak kecil sepertinya. Dasar. Apa amerika tidak cukup membuatmu dewasa? Aku saja sudah dewasa sekarang.” Lu Han menegur Min Seok sekaligus menyombongkan dirinya.

Min Seok baru saja akan membuka mulutnya lagi untuk membalas perkataan Lu Han barusan, namun suara Min Hyuk menghentikan aktifitasnya, sehingga ia menutup mulutnya kembali.

“Sudah, sudah. Ayo pesan makanannya. Aku sudah lapar sekali.”  Min Hyuk menyudahi adu mulut Min seok dan Jung Shin, serta Lu Han. Min Seok, Jung Shin, dan Lu Han pun langsung diam. Mereka tidak ada yang berani bersuara saat Min Hyuk atau Jong Hyun sudah memerintah untuk diam.

Jong Hyun dihormati karena ia paling tua, dan Min Hyuk dihormati karena kejeniusannya dan kedewasaannya, meski kadang Min Hyuk bisa saja berubah sewaktu-waktu menjadi anak kecil yang menggelikan bagi teman-temannya.

Saat Min Hyuk dan yang lainnya sedang melihat-lihat menu, tiba-tiba saja terdengar bunyi dentingan bel pertanda pintu dibuka. Semua mata yang sedang duduk melingkar melihat menu, langsung tertuju pada sumber suara. Terlihatlah tiga orang yang masuk dan langsung disambut pelayan. Satu laki-laki, tepatnya adalah Yong Hwa, dan dua perempuan, yaitu Soo Yeon dan Soo Jung.

Min Hyuk meliriknya sekilas dan kemudian kembali memfokuskan matanya untuk melihat menu. Dirinya tidak melihat dengan jelas siapa yang datang tadi. Lagipula, menurut pemikirannya, dirinya tidak akan kenal dengan orang tersebut.

***

Pelayan datang menghampiri meja Min Hyuk. Di sisi lainnya, seorang pelayan juga datang menghampiri meja Soo Jung. Kedua pelayan tersebut sama-sama mencatat pesanan tamu mereka masing-masing.

“Aku ingin ke toilet. Ada yang mau ikut?” tanya Yong Hwa. Soo Yeon tak bergeming karena sibuk memainkan ponselnya, sedangkan Soo Jung mulai berdiri pertanda bahwa ia ikut dengan Yong Hwa ke toilet. Soo Jung mengekor di belakang Yong Hwa, kemudian berpisah untuk masuk ke tempat masing-masing.

Min Hyuk yang masih sibuk meminum Choco Frappe-nya, tiba-tiba saja harus pergi ke toilet membersihkan bajunya yang terkena tumpahan frappe-nya karena tak sengaja tersenggol Se Hun. “Duh, hyung, mianhae.” Min Hyuk hanya tersenyum, lalu menggumamkan kata ‘Gwenchana’ dengan pelan, bahkan hampir tak terdengar oleh Se Hun jika saja Se Hun tidak duduk di dekatnya.

Min Hyuk bangkit dan berjalan menuju toilet. Ia berjalan sambil menunduk untuk membersihkan noda minuman yang menempel pada bajunya, sehingga tidak melihat jika ada Soo Jung di depannya.

Soo Jung juga sedang mengutak-atik ponselnya setelah ia keluar dari toilet, sehingga ia tidak menyadari ada orang –tepatnya Min Hyuk- di depannya. Dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya…

Brak!

Min Hyuk dan Soo Jung bertabrakan. Min Hyuk dan Soo Jung sama-sama mengusap kepala mereka yang saling berbenturan. Min Hyuk bangkit berdiri terlebih dahulu, kemudian menjulurkan tangannya untuk membantu Soo Jung berdiri.

“Gwenchana?” tanya Min Hyuk pad Soo Jung. Soo Jung mendongak untuk melihat uluran tangan Min Hyuk, kemudian beralih pada wajahnya Min Hyuk. Tak seperti kebanyakan perempuan yang langsung memasang wajah kagum saat melihat Min Hyuk apapun kondisinya, Soo Jung malah memberikan tampang datar dan raut wajah tidak senang.

Soo Jung menerima uluran tangan Min Hyuk dan berdiri. Sambil mengusap-usap kepalanya pelan, Soo Jung menjawab pertanyaan Min Hyuk. “Aku baik-baik saja, tapi ponselku tidak baik-baik saja. Very bad.”

Mendengar itu, Min Hyuk langsung mengalihkan perhatiannya dari wajah Soo Jung yang menurutnya cantik dan manis, serta sikapnya yang unik –tak sama dengan perempuan di luar sana- ke arah lantai. Tepatnya ke arah ponsel Soo Jung yang sudah hancur berantakan.

Min Hyuk langsung panik saat melihat ponsel Soo Jung yang sudah tak berbentuk lagi, sedangkan pemiliknya, Soo Jung, hanya memasang –lagi- tampang datar di wajahnya. “Sudah biarkan saja. Percuma juga kau memungutnya kemudian mengutak-atiknya. Sampai gravitasi hiang di bumi pun, kau tidak akan bisa memperbaikinya sekalipun dibawa ke toko handphone.” Min Hyuk menolehkan kepalanya dari ponsel ke pemilik suara dengan mulutnya yang ternganga tak percaya.

Semudah itukah berbicara saat melihat ponselnya rusak? Memangnya tak ada data-data penting? Atau memori penting?

Seolah bisa membaca pikiran Min Hyuk, Soo Jung berujar lagi dengan tenangnya. “Tenang saja. Tidak ada data penting di ponsel itu. Hanya ada lagu dan foto-foto saja, dan bisa diambil dari memori card-nya. Kau tidak perlu khawatir seperti itu.”

Dan lagi-lagi, Min Hyuk memasang tampang bodohnya. “Huh?” Melihat itu, Soo Jung mendengus pelan lalu mengambil puing-puing ponselnya. “Aku tidak membaca pikiranmu, hanya menebak saja. Sudahlah tak perlu pusing. Ini salahku juga. Tak perlu ganti rugi. Terima kasih atas uluran tangannya.” Dan setelah itu Soo Jung langsung berlalu dari hadapan Min Hyuk.

Kepala Min Hyuk mengikuti gerakan Soo Jung, mulai dari ia berlalu dari hadapannya hingga ia duduk di kursinya. Hanya satu yang ada di pikiranya. Bingung. Ucapan Soo Jung barusan seolah-olah seperti ia bisa membaca pikiran Min Hyuk dua kali. Pertama saat mengenai data, kedua saat mengenai ‘Apakah ia bisa membaca pikiranku?’.

Saat mengembalikan lagi kepalanya ke posisi semula, yaitu menghadap lurus ke depan –tepatnya ke arah toilet-, ada seorang lagi-laki yang berdiri memandanginya aneh. Min Hyuk terkejut dan balik menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

Saat Min Hyuk akan menanyakan kenapa orang itu memandanginya seperti itu, orang itu sudah mengeluarkan suaranya terlebih dahulu. “Kau Min Hyuk, kan? Kang Min Hyuk. Benar, kan? Alumni Korea University angkatan tahun 2012 jurusan Medicine Kedokteran bidang Bedah. Benar?”

Sekali lagi, dengan orang yang asing menurutnya, Min Hyuk tercengang. “Nuguseyo?” Dan laki-laki di hadapannya tertawa. “Aku Yong Hwa. Jung Yong Hwa. Seniormu yang masuk 2 tahun lebih dulu darimu, namun lulus 3 bulan setelahmu. Oh, ayolah. Dulu kita sering mengerjakan tugas bersama. Aku membantumu mengerjakan tugas-tugasmu, dan kau membantuku mengerjakan skripsi yang tidak selesai-selesai selama 5 bulan. Ingat?”

Seketika itu juga, saat Yong Hwa selesai berbicara, Min Hyuk memekik sambil menepukkan kedua tangannya sekali. “Oh? Yong Hwa hyung? Omona, apa kabar? Setelah aku lulus, kita jadi tidak pernah bertukar kabar lagi. Sekarang kau kerja dimana hyung?” Yong Hwa tertawa atas reaksi yang diberikan Min Hyuk.

“Hahaha. Ne, ne. Aku Yong Hwa. Aku baik. Kita tidak pernah bertukar kabar lagi karena aku meninggalkanku begitu saja setelah kau lulus. Kekeke. Hm, sekarang aku bekerja di Seoul National University Hospital, dan tentu saja di bidangku, dokter kandungan. Kau sendiri?”

“Ah, aku sudah bekerja di Samsung Medical Centre. Oh, hyung. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Ponselku rusak setelah aku lulus, jadi aku tidak bisa mengkontakmu lagi.”

“Oh, tentu saja. Nomornya xxx-xxx-xxx-988. Oh ya, kau duduk di sebelah mana? Dengan siapa? Ingin bergabung dengan kami?” tanya Yong Hwa. Min Hyuk mengerutkan dahi. “Kami? Kau sama siapa saja, hyung?” Yong Hwa mengendikkan dagunya ke arah Soo Yeon dan Soo Jung duduk.

“Yang menggunakan baju pink itu nenek sihir tersesat. Hahaha. Dan yang di depannya, yang menggunakan baju putih, adalah uri chagi. Kekeke.” Min Hyuk mengikuti arah gendikkan dagu Yong Hwa dan terpaku saat melihat Soo Jung, gadis yang ponselnya ia rusaki, duduk di tempat yang sama dengan Yong Hwa.

Dan, apa katanya tadi? Uri chagi? Omo, bisa mati aku. “Hyung, sebenarnya ak-” Belum selesai Min Hyuk berbicara, Yong Hwa sudah memotongnya. “Min Hyukie, kita lanjutkan via ponsel saja ya. Aku harus kembali ke mejaku. Si nenek sihir tak tahu diri itu sudah memanggil-manggilku. Annyeong!” Dan, Yong Hwa pun berlalu begitu saja.

Karena bingung dengan semua kebetulan ini, dan karena merasa bersalah namun agak tak peduli, Min Hyuk mengangkat kedua bahunya acuh, kemudian kembali ke niat awalnya, yaitu membersihkan noda minuman yang menempel di bajunya, yang mungkin sekarang akan sangat sulit untuk dihilangkan hanya sekesar dengan air saja.

 

TBC

 

Hello all! Ini dia lanjutan dari prolog yang ternyata setelah di post jadinya ancur begitu. Huhuhu. Jadi sebenarnya, di prolog tersebut, ada 3 percakapan. 1 percakapan ada 2 orang yang saling berdialog, dan 1 percakapan itu cuma ada sepasang kalimat dalam tanda kutip ya. Ngerti ga maksudnya? ._. Ngertiin aja ya *maksa.

Dan, buat yang komen di prolog kalo ini castnya adalah hyukstal lagi, sebenernya salah, karena author baru pertama kali bikin ff yang castnya hyukstal. FF author sebelumnya, castnya bukan hyukstal couple. Tapi ada juga kok yang komen kalo ff ini castnya hyukstal couple. Selamat yaaa buat yang jawabnya bener! Author kasih piring cantik yaaa! Nanti dikirim lewat burung hantunya harry potter abaikan

FF ini juga author post ya di blognya author, jadi jangan heran kalo nemu ff yang sama. Pastiin aja nama blognya Fiction Holic dan nama authornya tetep sama, yaitu NyetNyet, maka sudah pasti itu ff buatan author.

Buat admin yang mau bela-belain ngepost ff gaje ini, nyetnyet ucapin banyak banget berlimpah limpah makasih yaaa! Semoga admin yang ngepostin ini dikasih kesehatan sama umur panjang yang berkali-kali lipet dari panjangnya sungai nil (?).

Jangan lupa comment ya, karena setiap comment reader menjadi semangat dan inspirasi author buat ngelanjutin ff ini! Sering-sering juga ya kasih inspirasi! Hehehe.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya! See u reader!!! Laflaflaf <3<3

 

 

16 thoughts on “Love Story – [1] Mini Accident

  1. Huaaaah keren! Ditunggu lanjutannya ya, aku suka gaya bahasanya yang ringan, dan juga ada exooooooooo hueeeeew 😍

  2. annyeong, wah gawat nih, aku bisa addict sma ff ini nih, abis bagus sih, tp sayang, blm smpet knal soo jung, minhyuknya eh tbc (opps, mksdnya to be cont) hehe, dtunggu lho lsnjutannya, gomawo

  3. Bagus bangeet ceritany thor..
    Aah lagi asiknya baca malah tbc, next chapternya ditunggu ya thor, semangat terus buat authornya ^^

  4. FFnya daebak thor ceritanya juga keren. Hem masih penasaran dan berasa aneh sm pertemuan hyukstal disini . Pas menuju restoran aku pikir yonghwa mau ngajak ketemu minhyuk dan kawan kawan ternyata salah tp bener juga karna minhyuk dan yonghwa saling kenal .
    Tumben bgt disini sifatnya krystal ga jutek seperti biasanya .
    Keep Writing thor and Update Asap ya😉

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s