Don’t Say Goodbye (Chapter 4)

alt2_zpsf1da3706

 

Title:               DON’T  SAY GOODBYE (PART 4)

Author:          Dean_Pure

Rating:          PG-15

Genre:           Romance

Length:         Chaptered

Main Cast:

– Krystal  f(x)

– Kang Minhyuk CNBLUE

 

Other Cast:

Kai EXO

– Jung Yonghwa CNBLUE

– Luna F(x)

 

Disclaimer:  Real Mine!

Note:             Ff ini juga aku posting di aff dengan nama author yang sama. Hope you like it guys.. Tolong tinggalin komentar, saran dan kritik ya..

 

“Sebelum kau pulang, hubungi aku dulu, aku akan menjemputmu lagi. Berhati-hatilah, jangan terlalu capek.”

“Arasseo hyung, aku masuk dulu.”  Sang adik berjalan memasuki gerbang kampus.

“Eoh..” Minhyuk melihat punggung adiknya, satu-satunya saudara yang ia miliki. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, ia mengingat masa kecil mereka yang membahagiakan, bagaimana ia melindungi adiknya dari teman-teman yang hanya memanfaatkannya. Kini dialah adik yang ia banggakan, adik yang ia sayangi. Dan alasan Minhyuk bekerja keras saat ini.

“Kau mengantar adikmu?” Soojung berjalan mendekati Minhyuk. Ia hanya bisa melihat punggung pria memakai hoodie berjalan menjauhi Minhyuk. Itu pasti adiknya.

Senyum Minhyuk merekah melihat Soojung siang ini. “Kuliahmu baru akan dimulai atau sudah selesai?”

“Aku sudah selesai, ini mau pulang.”

“Sesampainya dirumah, apa yang akan kau lakukan?”

“Ehmmm….” Soojung berpikir sejenak. “Tidur.” Jawabnya singkat.

“Yah, apa hidupmu hanya untuk tidur? Aiiissh..gadis jaman sekarang..” Minhyuk menggelengkan kepalanya.

“Mwo? Lantas kenapa kau peduli dengan cara hidupku?” Soojung berteriak.

“Aiigooo.. Lihatlah wajahmu sendiri ketika cemberut begitu. Kalau kau tidak memiliki acara kencan siang ini, bagaimana kalau kau pergi denganku?” Dasar playboy.

“Kupikir kau akan mengajakku kemana, ternyata makan siang.” Soojung mengunyah spagetinya perlahan.

“We? Apa kau tidak senang? Apa kau ingin kita pergi ke suatu tempat?” Minhyuk tersenyum geli.

“Yah, ani, hanya saja kupikir, kau, tidak tahu daerah sini, sehingga kau memintaku menemanimu..” Ow.. Ow.. Jung Soojung, semua orang tahu ucapanmu absurd. Pipi Soojung yang memerah tak luput dari perhatian Minhyuk. Entah kenapa ia sangat menyukai pemandangan itu.

“Ini, kau sedang menemaniku makan.” Minhyuk melahap spageti miliknya untuk menahan senyum.

“Yeah, that’s right..”

Minhyuk memandangnya, ragu, apa Soojung kecewa karena ia hanya mengajaknya makan, atau..

Jepreet.. Jepreet.. Jepreet.. Beberapa wanita mengambil foto mereka melalui jendela restoran.

“Hey, apa yang kalian lakukan?!” Soojung meneriaki para gadis yang berlarian karena kepergok memotret mereka diam-diam.

“Sudahlah, mereka sudah pergi.” Minhyuk menahan pergelangan tangan Soojung. “Maaf karena membuatmu tidak nyaman jalan bersamaku.” Minhyuk menatap Soojung.

“Apa itu juga penggemarmu oppa? Begitu terkenalnya kah kau?” Wajah polos Soojung membuat Minhyuk kesal.

“Yah, apa sekarang kau meremehkanku? Kau saja yang ketinggalan informasi. Sering-seringlah membuka internet, carilah berita yang tidak kau ketahui.” Soojung menyipitkan matanya.

“Heol, aku tidak sepengangguran itu!” Minhyuk mengulum senyum untuk menyamarkan tawanya. Ia menyukai saat-saat ia mampu membuat Soojung marah atau merasa malu. Dan kini ia sadar telah menemukan kebahagiaan baru dalam hidupnya.

—- 0 —-

 

“Hyung, kau tidak harus mengantarku segala, aku bukan anak kecil lagi! Aaiiissh… Lagi pula kau kan ada schedule hari ini.”

“Yah, acaraku masih nanti malam. Daripada di antar oemma? Bukankah terlihat lebih keren jika aku yang mengantarmu?” Kini bukan hanya Soojung yang harus menghadapi syndrome narsis Kang Minhyuk.

“Mr. Kang? Silakan masuk.” Seorang suster mengarahkan adiknya masuk ke ruang MCU (Medical Check Up).

“Aku tunggu di luar.” Minhyuk menepuk punggung adiknya.

Minhyuk tahu, ia harus menghabiskan banyak waktu lebih untuk sang adik. Ia paham betapa sulitnya melihat adiknya bahagia dengan keadaaannya sekarang. Untuk inilah ia bekerja keras. Apapun itu, selagi ia bisa memberikan apa yang sang adik inginkan, pasti akan ia berikan. Pandangan Minhyuk menerawang ke jendela depan ruang tunggu rumah sakit.

Seseorang dibalut jas putih lewat dihadapannya membawa beberapa kertas dan map merah.

“Mr. Jung?” Sapa Minhyuk.

“Oh, hay, kau….?” Grandpa mencoba mengingat nama pemuda dihadapannya ini.

“Kang Minhyuk, sir.”

“Ah, benar, Kang Minhyukssi, sedang apa kau disini?” Tanya grandpa.

“Saya mengantar adik, hari ini jadwalnya untuk check up, sir.” Jawab Minhyuk.

“Oh, begitukah? Kuharap adikmu cepat sembuh. Aku sudah mendengarnya dari Sam. Banyaklah berdoa nak. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita.” Grandpa menepuk pundak Minhyuk untuk memberinya semangat. Minhyuk membalasnya dengan senyuman tulus.

 

—- 0 —-

 

Minhyuk menatap gadis yang ada disampingnya. Cantik. Tak heran ia selalu menjadi perhatiannya beberapa waktu belakangan. Mini dress putih tulang yang membalut tubuh langsingnya begitu menawan. Ditambah rambut panjang bergelombang yang dibiarkan terurai menjadikan sosok disampingnya terlihat sempurna.

“Oppa, sudahlah, jangan melihatku seperti itu!” Wajah Soojung kini memerah. Minhyuk hanya tersenyum menanggapi kemudian melanjutkan mengemudi.

“Bagaimana kau bisa meminta ijin grandpa?” Tanya Soojung.

“Tadi siang aku bertemu dengannya di rumah sakit dan meminta ijin untuk mengajakmu ke acaraku.”

“Rumah sakit? Kenapa kau ke rumah sakit? Apa kau sakit?” Soojung melihat wajah Minhyuk yang mungkin terlihat pucat.

“Bukan aku, adikku, sudah waktunya check up.” Jawab Minhyuk santai.

“Oh, dia sakit? Sakit apa?”

“Ehmm.. hanya sakit biasa. Kau tenang saja.” Maaf Soojung, belum saatnya aku bercerita. Aku tidak ingin melihat sikapmu berubah padaku setelah kau tahu tentang keluargaku. Batin Minhyuk.

“Begitukah?”

“Sudah sampai, ayok.” Minhyuk membukaan pintu untuk Soojung kemudian menggandeng tangannya.

Soojung terkejut melihat banyak camera mengambil gambar mereka saat memasuki gedung. Ia tidak tau acara amal bisa penuh dengan wartawan seperti ini. Oh, ia melupakan satu hal, Minhyuk seorang pesepak bola terkenal. Soojung menarik nafas panjang, mengantisipasi apa yang akan terjadi berikutnya.

Selama acara berlangsung, Minhyuk memperkenalkannya dengan teman-teman sesama pesepak bola lainnya. Mulai dari club yang ada di Jepang, Spanyol, Italy, juga Inggris. Soojung mencoba mengingat siapa saja nama para pria tadi. Cesc Fabregas, Samir Nasri, Aaron Ramsey, Robin Van Persie, Rooney, Zlatan Ibrahimovic, bahkan ia melihat beberapa artis Hollywood.

“Jung Soojung?”

“Oh, Sam?” Soojung tersenyum melihat sahabat sang kakek juga ada disini.

“Dengan siapa kau kemari?” Tanya Sam memandang sekelilingnya.

“Baru ku tinggal mengambil coke, sudah ada yang menghampirimu Jung Soojung.” Minhyuk memberikan senyumnya kepada Sam.

Sam memandang Minhyuk, kemudian Soojung, kemudian Minhyuk lagi “Okay, sekarang aku tau guys. Cepat juga cara kerjamu Nak.” Sam menepuk lengan Minhyuk. “Berhati-hatilah, dia cucu sahabatku!” Sam tertawa riang.

“Bukan begitu Sam, kami hanya berteman.” Ucap Soojung sambil menatap wajah Minhyuk yang tiba-tiba cemberut.

Sam hanya tersenyum. “Oh, baiklah semoga kalian langgeng.” Kemudian ia pergi.

“Teman?” Minhyuk menatapnya dan manaikkan sebelah alisnya. “Baiklah..”

Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Soojung masih bertanya-tanya. Apa maksud Kang Minhyuk tadi? Bukankah mereka memang berteman? Ia ragu, ragu dengan apa yang ia rasakan. Mungkinkah…..? Tidak, itu tidak mungkin. Jangan berharap lebih Jung Soojung. Hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Ia tidak akan kembali jatuh ke dalam lubang yang sama. Ia bertekat, tidak akan berharap banyak kepada seorang lelaki.

“Soojungaa, sudah sampai.” Soojung melihat Minhyuk membukakan pintu mobil. Ia menatap mata Minhyuk berbeda. Lebih gelap, lebih sendu. Apa yang Minhyuk pikirkan?

Soojung memberikan senyumnya. Senyum yang akan membuat mata Minhyuk kembali ceria. Tapi tidak bagi Kang Minhyuk.. Senyum itu, mampu menyentuh hatinya yang selama ini tak seorangpun mampu menggetarkannya.

“Aku masuk.” Soojung memecah suasana.

“Soojungaa…” Minhyuk menarik tangan Soojung. Ia menatapnya. “Gomawo.”

—- 0 —-

 

Soojung duduk di depan laptop yang selalu menemaninya mengerjakan paper. Ia mengingat apa yang barusan terjadi.

“Soojungaa.. Gomawo..” Soojung terperanjat, sebuah pelukan kecil yang mampu menebarkan kupu-kupu dalam perutnya.

“Terima kasih kau sudah menemaniku malam ini.” Minhyuk memperdalam pelukannya sebelum melepasnya.

“Selamat malam.” Minhyuk memberikan senyum yang paling ia benci sekaligus ia sukai. Hanya dengan mengingatnya, tanpa sadar ia tersenyum dan segera menyalakan tombol power pada laptopnya. Dalam kotak pencarian, ia mengetikkan satu kata ‘Kang Minhyuk’.

Dan beberapa detik kemudian, senyumnya pudar..

tbc

 

Boring ya? Diterusin gak nih?
Tinggalkan jejak berupa komentar, saran ataupun kritik ya..

Maaf kalo masih nemu banyak typo.

 

3 thoughts on “Don’t Say Goodbye (Chapter 4)

  1. wkwkwk….komen dimari ahhh….my best author ever…di lanjut aja…ga semua udah baca di uri page sama di aff..walau saya sudah simpan dengan manis di lepi saya full series….kekekeke^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s