Freeze

london

 

Title: Freeze

Author: ItsMia

Rating: G

Genre: Romance

Length: Drabble

Main Cast:

-All Member CNBLUE

-Molly Loski, Valencia Norman, Hills Spencer, Angel Carter (OC)

Disclaimer: I own the plot, I own all of OC, and I didn’t own CBLUE

Note: Published in my own note

 

London-Autumn

Jungshin’s Story

 

Lakukan saja.

 

Tidak akan sulit.

 

Kau hanya perlu menunggu dia sendirian, berjalan ke arahnya dan mengucapkan satu kata paling sederhana di muka bumi ini : Hei.

 

 

Ayolah, itu tidak sulit sama sekali.

 

Jungshin menghembuskan nafas pelan-pelan, menatap lurus pada gadis berambut sewarna stroberi itu dan berusaha meredakan debaran jantungnya yang mendadak berdentum gila-gilaan.

 

Sialan! Sejak kapan mereka bisa bekerja sekeras ini?

 

Dia melangkah pelan.

 

Satu langkah….

 

Molly Loski merapikan rambutnya dengan jari dan menyelipkannya di belakang telinga.

 

Dua langkah….

 

Dia memutar kunci kombinasi lokernya.

 

Tiga langkah….

 

Dia membuka pintu lokernya dan beberapa tangkai mawar merah jatuh dari sana.

 

Empat langkah….

 

Dia membungkuk untuk memungutnya, tersenyum saat mengangkat mawar itu ke hidungnya.

 

Lima langkah….

 

Seseorang menghalangi pandangan Jungshin pada gadis itu, tapi dia masih bisa melihat helaian rambut yang jatuh lembut di bahunya.

 

Enam langkah….

 

Tujuh langkah….

 

Delapan langkah….

 

Sembilan langkah….

 

Jungshin semakin dekat. Dia bisa mencium bau parfum mahal gadis itu yang terasa menggelitik hidungnya, berkorelasi dengan jantungnya yang semakin berdetak tak terkendali.

 

Dia bisa melihat sepatu merah Pradanya nyaris tak berdebu dan sepatu ketsnya sendiri yang sangat kumal.

 

Dia bisa melihat bulu mata lebat yang membuat bayangan samar di pipinya.

 

Dia bisa membayangkan musim semi datang lebih awal. Saat matahari bersinar hangat dan kuncup-kuncup baru mulai bermekaran.

 

Dia bisa mencium bau laut dan melihat kamarnya membayang di otaknya dari seberang Pasifik sana.

 

Dia bisa merasakan semangat liburan musim panas, konser musik, dan semua hal menyenangkan di dunia digabung jadi satu.

 

Hanya beberapa langkah lagi dan dia bisa merasakan hidupnya akan berubah.

 

Hanya dengan satu kata sederhana.

 

“Hei.”

 

Jungshin berhenti dan gadis itu menoleh. Sebuah lekukan muncul persis di bawah matanya. Aneh, tapi cantik.

Sepasang kelereng coklat itu tampak bersinar, membalas sapaan itu dengan hangat.

 

“Hei.”

 

Gadis itu tersenyum lebar, meletakkan tangannya dengan nyaman pada sebuah lengan kokoh yang terjulur, “Trims untuk bunganya, Shane.”

 

Lelaki itu balas tersenyum, tidak mengatakan apapun namun menggenggam erat tangan gadis itu, tanpa canggung, seolah dia sudah sangat terbiasa melakukannya.

 

Jungshin berdiri saja di sana, menatap dengan kecut dan berkata pelan yang dia yakin tidak akan bisa didengar oleh dua orang yang berdiri dengan saling tersenyum itu. Hanya beberapa langkah di depannya.

 

“Ya, tidak masalah….”

 

 

 

 

 

London-Spring

Yonghwa’s Story

 

Dia memeriksa peralatannya, mencoba beberapa nada pada Gibson J-200 yang talinya tersampir di bahunya sebelum memulai pertunjukan.

 

Tidak terlalu banyak orang, namun saat ini cukup. Yang terpenting baginya adalah, kesempatan agar didengarkan. Dan minibar trendi di Soho ini mau memberikan itu pada mereka.

 

“Oke, inilah dia….” Jonghyun, teman satu bandnya menggumam pelan, memberi tanda pada mereka dan dua temannya yang lain, Jungshin dan Minhyuk mengangguk bersamaan.

 

Yonghwa membenarkan letak mikrofon, posisi tali gitarnya, dan untuk alasan yang tidak dimengerti merasa perlu untuk berdehem sebelum bersuara dan memberikan pembukaan singkat pada penonton. Kebanyakan dari pengunjung bar adalah muda-mudi, kemungkinan besar mahasiswa sepertinya juga, dan perhatian mereka yang tengah menunggu dengan wajah sangsi sedikit membuatnya gugup.

 

“Well, kami CNBLUE dan kami kebetulan bisa bernyanyi dan memainkan alat musik.” Dia memulai, nyengir sedikit dan mencoba rileks. Penonton tertawa, yang sepertinya merupakan pertanda bagus.

 

“Kami akan membawakan lagu….”

 

Mendadak pintu bar terbuka dan beberapa orang masuk. Yonghwa terpaku sesaat,  mengamati sosok tinggi gadis berambut brunette dengan kulit sewarna zaitun cantik yang sangat dia kenal. Valencia Norman duduk santai di salah satu kursi tinggi di meja bar, memesan minuman, tertawa dan berbicara riang pada teman-temannya, sebelum kemudian berbalik untuk menatap ke arah Yonghwa. Dia masih saja terpaku seperti orang bodoh.

 

Yang tidak pernah dia mengerti adalah, kenapa gadis itu selalu bisa memberikan efek seperti ini padanya? Demi Tuhan, gadis cantik di dunia ini kan tidak hanya Valencia Norman seorang!

 

“Yong!” Jonghyun mendesis tajam dari samping kanannya, membuat Yonghwa tersadar dan mengalihkan pandangan -meski sulit sekali melakukannya- dari meja bar dan kembali pada penonton yang menunggu sambil menatapnya dengan kening berkerut.

 

“Kami akan membawakan You and Me dari Lifehouse.” Dia mengatakannya tanpa berpikir, membuat Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin menatapnya bingung.

 

Ajaib sekali dia mendadak tidak ingat lagu apa yang sebenarnya akan mereka bawakan. Yang dia tahu, lagu itu terasa pas. Dengan gadis itu di sini, duduk anggun sambil menyesap minumannya dan menatapnya -oke mungkin tidak spesifik menatap padanya, tapi pada mereka berempat, ke panggung lebih tepatnya- dia hanya ingin menyanyikan lagu itu.

 

Khusus untuknya.

 

What day is it? And in what month?
This clock never seemed so alive
I can’t keep up and I can’t back down
I’ve been losing so much time

 

Yonghwa bernyanyi dengan lancar, bahkan tersenyum. Matanya tak lepas memandangi gadis berambut brunette yang duduk di bar seperti mata biru gadis itu yang tidak lepas balas memandangnya. Dia juga tersenyum. Entah bagaimana, Yonghwa merasa kalau gadis itu mengerti.

 

‘Cause it’s you and me and all of the people with nothing to do, nothing to lose
And it’s you and me and all of the people
And I don’t know why I can’t keep my eyes off of you

 

Valencia Norman mengerucutkan bibir, seperti tengah menahan tawa sekaligus tersipu. Dia menatap pada Yonghwa -sekarang Yonghwa cukup yakin kalau memang gadis itu hanya melihat padanya, bukan mereka secara keseluruhan- dan tiba-tiba merasa musim semi kali ini begitu sempurna. Bahwa panggung kecil minimar ini terasa seperti panggung konser, dengan gadis itu berada di antara penonton dan lampu sorot mengarah padanya, memantulkan cahaya dari matanya yang begitu biru. Cemerlang.

 

Dia senang mereka memilih tempat ini, bukannya bar keren di Park Old Lane. Pilihannya terasa begitu tepat, gadis itu ada di sini, menyaksikan penampilan perdananya di depan umum, menatapnya dan tersenyum saat dia menyanyikan lagu khusus untuknya. Dan rasanya, dia begitu ingin berterima kasih pada Lifehouse yang telah menciptakan lagu sangat keren dan romantis seperti ini.

 

Ataukah mungkin, mereka, Lifehouse, pernah bertemu gadis yang begitu menakjubkan seperti Valencia Norman dan terinspirasi? Dia tidak akan heran kalau itu memang benar.

 

Something about you now
I can’t quite figure out
Everything she does is beautiful
Everything she does is right

 

Dia merasa percaya diri dan keren dan layak mendapatkan perhatian penuh. Gadis itu tidak mengalihkan perhatian darinya sampai kemudian pintu bar terbuka lagi dan seorang laki-laki berambut pirang masuk.

 

Yonghwa tidak bisa lagi melihat Valencia Norman karena terhalang tubuh tinggi lelaki itu.

 

Mendadak aura hangat musim semi menguar, digantikan aura panas menyengat dan menjengkelkan. Tempat ini bukanlah panggung konser, tapi hanya panggung biasa, begitu kecil, dengan beberapa penonton yang memperhatikan. Gadis itu juga bukan berada di sini untuknya, tapi untuk menunggu lelaki yang sekarang duduk di kursi kosong di sebelahnya , sepenuhnya mengalihkan perhatian Valencia Norman dari Yonghwa.
Mereka saling mengobrol dan tertawa dengan akrab.

 

Sial!

 

Yang ingin dia lakukan sekarang hanyalah, segera menyudahi pertunjukan ini, melepaskan gitarnya, dan keluar  dari bar sambil membanting pintu.

 

 

 

 

 

 

 London-Summer

Jonghyun’s Story

 

 

Semua orang berbicara dalam satu bahasa universal : Liburan.

 

Begitu banyak rencana, menggeliat dalam semangat menggebu musim panas. Jonghyun punya beberapa pilihan ; dia bisa pulang ke Busan dan menghabiskan liburan di negerinya sendiri,  dia bisa ikut dengan Jungshin dalam rangkaian perjalanan backpacker keliling Eropa, dia juga bisa tampil di Covent Garden dengan Yonghwa, dan atau dia bisa saja mengambil kerja sampingan seperti Minhyuk.

 

Dia telah mencoret dua pilihan pertama. Tampil di Covent Garden dan mengambil kerja sampingan sepanjang liburan sepertinya lebih menguntungkan untuk kondisi keuangannya saat ini. Dan itulah yang akhirnya dia lakukan, membuatnya berada dalam sebuah perpustakaan kuno bergaya seperti katedral dengan sentuhan Gotik, mengamati orang-orang dengan bosan, dan membersihkan debu dari buku-buku tua yang berbau apak.

Tampaknya dia telah salah mengambil pekerjaan sampingan. Perpustakaan tidak pernah cocok untuknya, tidak seperti Minhyuk yang dengan senang hati melakukan pekerjaan ini dan dengan ramah melayani pengunjung yang rewel dan banyak tingkah.

 

Jonghyun bosan setengah mati.

 

Dia tidak pernah bisa mengerti kenapa ada orang yang mau menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, membaca buku, kadang tertawa sendiri dan kadang menangis, sementara dunia berada di luar sana. Semua hal tengah berlangsung di dunia nyata dan mereka menangisi tokoh mati di dalam buku.

 

Aneh!

 

Kecuali…..

 

Saat seorang gadis memasuki perpustakaan dan bunyi sepatu lars merahnya mengetuk lantai pualam di koridor panjang, memantul dalam sunyi. Dia mengenakan baju terusan berbahan ringan dengan motif bunga-bunga, dilapisi jaket kulit hitam di luar. Gadis itu membawa dua buah buku, memeluknya ke dada dengan sebelah tangan, melangkah pasti ke arah Jonghyun.

 

Dan dia hanya bisa terpaku.

 

Hills Spencer adalah orang terakhir yang dia bayangkan akan berada di perpustakaan. Lebih mudah baginya untuk membayangkan gadis itu berada di kafe trendi,  mengobrol santai dengan teman-teman kerennya yang membicarakan hal-hal tidak penting seperti misalnya cowok keren mana yang layak mendapatkan perhatian mereka. Atau mungkin di butik mewah yang berjejer di sepanjang Oxford Street, menenteng berbagai macam tas belanja dari merk-merk terkenal. Atau bahkan, tengah berlibur dengan kapal pesiar ke tempat-tempat menarik manapun yang dia inginkan. Apapun selain perpustakaan tua penuh buku tua dan orang-orang aneh yang menangisi tokoh mati di dalam buku.

 

Tapi gadis itu memang di sini, tersenyum pada Jonghyun, dan menatap langsung padanya dengan matanya yang hijau cemerlang. Ini untuk pertama kalinya mereka berada dalam jarak begitu dekat, saling menatap satu sama lain, dan bicara langsung.

 

“Hei, aku mau meminjam dua buku.” Dia meletakkan buku-buku yang tadi dipeluknya di meja Jonghyun, masih tersenyum, dan suaranya terdengar begitu renyah, merdu, menyenangkan di telinga Jonghyun.

 

Jonghyun melirik buku-buku itu. The Adventure of Huckleberry Finn dan The Adventure of Oliver Twist. Mark Twain dan Charles Dickens. Well, setidaknya dia tahu kedua buku ini.

 

“Kau mau pinjam untuk berapa hari?” tanyanya.

 

“Sehari saja.” Gadis itu menjawab pasti.

 

Jonghyun tergoda untuk bertanya lagi, menuntaskan rasa penasarannya, “Kau akan menamatkan keduanya dalam satu hari?”

 

Hills Spencer tertawa, menatap Jonghyun seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, “Kenapa tidak?” balasnya.

 

Jonghyun menggeleng, ikut tertawa sebelum menyuarakan pikirannya, tidak bisa menahan diri, “Maksudmu, kau akan tenggelam dengan itu seharian? Tertawa dan menangis karena sesuatu terjadi di dalam sana dan membuang-buang waktu?”

 

Hills Spencer menatapnya begitu tajam sambil mengerucutkan bibir, dan mendadak Jonghyun sadar mungkin dia  keterlaluan. Mereka tidak saling mengenal (well, oke, dia mengenal gadis ini, secara sepihak, memikirkannya nyaris setiap waktu) dia seharusnya bisa menahan komentar sinisnya sebentar saja. Setelah hari ini dia yakin, harapannya untuk gadis itu akan padam sama sekali (seolah sebelumnya dia punya harapan saja).

 

Namun, betapa tercengangnya dia begitu mendadak gadis itu tertawa. Seperti suaranya, bunyi tawanya rendah dan merdu dan menyenangkan. Matanya menyipit sehingga menimbulkan lekukan aneh menakjubkan tepat di bawah matanya, dan dia berkata pada Jonghyun dengan nada menantang, “Bagaimana kalau sebelum mengeluarkan komentar sinis dan memberikan penilaian secara sepihak, kau mencoba membaca buku ini dan setelah itu baru mengatakan pendapatmu padaku?” Dia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mengangkat alis  dan menyeringai.

 

Tantangan atau kesempatan?

 

Jonghyun menatap gadis itu dan buku di meja bergantian. Menimbang. Dia nyaris meneriakkan persetujuannya, bahkan meskipun sepanjang malam dia harus  terjaga dan membaca paragraf demi paragraf dan berusaha keras untuk tidak menyentuh-nyentuh gitarnya. Sepertinya ini layak dicoba. Amat sangat layak. Ini tantangan sekaligus kesempatan, dan dia tidak mau menyia-nyiakannya.

 

“Tidak berani?” Gadis itu bertanya lagi, sekarang nadanya terdengar mengejek.

 

“Oke, tidak masalah,” katanya akhirnya, berjanji akan langsung mencari buku-buku itu di rak dan mulai membaca.

 

Dia membaca buku.

 

Ha! Sungguh tidak bisa dipercaya!

 

Hills Spencer tersenyum puas sebelum mengambil bukunya. “Kau akan tahu kalau buku sama menakjubkannya dengan musik, dan kalau aku salah kau bisa mencariku di New Piccadily dan membuktikan teorimu. Besok jam 2 siang, bagaimana?”

 

Dia nyaris tidak berani berharap. Ya! Seribu kali ya!

 

“Oke.” Dia berhasil menjawab dengan tenang, memamerkan senyum yang dia harap tidak tampak terlalu antusias dan balas melambaikan tangan saat gadis itu melangkah ke pintu keluar.

 

Jonghyun menghembuskan nafas, tidak repot-repot merasa harus meredakan debaran jantungnya yang berdentum seperti hentakan musik rock, dan nyengir pada Minhyuk yang menatapnya sambil mengacungkan kedua jempolnya. Tertawa.

 

Di musim panas kali ini, Jonghyun baru saja menemukan bahwa perpustakaan dan buku -mungkin, atau barangkali- tidak seburuk yang pernah dia pikirkan sebelumnya.

 

 

 

 

 

London-Winter

Minhyuk’s Story

 

Kembang api memenuhi langit malam, bunyi terompet bersahutan, sekelilingnya hiruk pikuk oleh berbagai macam bunyi suara manusia ; tawa, obrolan, teriakan, nyanyian, jeritan.

 

Tahun Baru.

 

Namun, kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pertama, dia sekarang berada di London, dan rumahnya berada jauh di seberang Samudera Pasifik. Kedua, teman-temannya Jonghyun, Yonghwa, dan Jungshin tidak menghabiskan waktu bersama dengannya seperti yang mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya -dan itu sebenarnya bisa berarti dua hal ; baik dan buruk- yang mengacu pada alasan ketiga, Angel Carter yang berada di tengah-tengah keriuhan Chinatown bersamanya.

 

Gadis itu masih semenarik yang Minhyuk lihat pertama kali. Ramping, memiliki senyuman secerah matahari, berambut coklat bergelombang dan bermata sewarna karamel. Dia tertawa riang setiap kali kembang api dilemparkan ke udara dan ribuan bunga api meledak membentuk pola indah menakjubkan. Tangannya memeluk lengan Minhyuk, kasual namun intim di saat yang sama.

 

Dan malam ini Minhyuk merasa sangat senang untuk banyak alasan ; London, musim dingin, tahun baru, kembang api, Chinatown, Angel Carter, lengan yang dipeluk, dan terutama kata-kata gadis itu padanya sebelum mereka berada di sini.

 

“Hei, kau punya acara untuk Tahun Baru?” Suaranya riang seperti biasanya.

 

“Tidak.” Minhyuk menjawab tanpa ragu -acara apapun yang pernah dia pikirkan, dia bisa membatalkannya dengan mudah.

 

“Mau pergi denganku ke Chinatown?”

 

Bagaimana mungkin dia bisa menolak?

 

“Kau tidak punya kencan? Bagaimana dengan pacarmu?” Minhyuk bertanya, lebih untuk berbasa-basi. Dia tidak peduli dengan siapapun yang dikabarkan menjadi pacar Angel Carter selama gadis itu mengajaknya menghabiskan malam tahun baru di Chinatown.

 

Yonghwa bilang dia sudah gila, tapi tidak. Dia hanya jatuh cinta. Well, mungkin jatuh cinta memang bisa membuatmu sedikit, kau tahu? Menjadi Gila. Tapi dia tidak keberatan. Sungguh!

 

“Oh, Maksudmu Rhys? Tidak, kami sudah putus.” Gadis itu menjawab riang, bahkan terdengar bahagia.

 

Dan Minhyuk juga tidak bisa menahan nada bahagia dalam suaranya sendiri saat membalas perkataannya, “Sayang sekali…”

 

“Sayang sekali….” Angel Carter tertawa sebelum kemudian memanggilnya lagi, dengan nada lebih pelan. “Uhm…Minhyuk?”

 

“Ya?”

 

“Kau boleh menyebut ini kencan.”

 

Musim dingin kali ini, sempurna.

 

fin

 

14 thoughts on “Freeze

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s