7 Days (Chapter 1)

Title                       :  7 days

Author                  :  Anhiye

Rating                   :  PG16

Genre                   :  Angst/ Tragedy

Length                  :  Chapter 1

Main Cast            :

–          Jung Yonghwa

–          Lee Ji Eun (IU)

Other Cast          :

–          Kang Minhyuk

–          Han Seung Ho

7 TAHUN YANG LALU

“Ini tugas yang harus kau selesaikan”, atasanku meletakkan beberapa berkas di atas mejaku.  Akhirnya aku mendapat misi baru, sebuah tugas baru.

“Jung Yonghwa”, aku melafalkan sebuah nama yang ada di kertas.

“Kau harus menculiknya dan membawanya ke tempat persembunyian sampai ada perintah untuk membunuhnya”, atasan ku memberikan penjelasan.

“Jadi, aku tidak langsung membunuhnya di tempat?”, “Jangan, tunggu sampai ada perintah selanjutnya”, aku menarik napas panjang. Apa sepertinya tugasku akan lebih sulit? Aku mencoba mencari tahu tentang korbanku selanjutnya dari kertas yang ada di tanganku.

“Oh, dia hanya seorang yang bekerja di sebuah klub malam?”, aku menatap atasanku tak percaya. Apa ada yang istimewa darinya hingga ada yang ingin membunuhnya? Lagi-lagi aku mencoba berpikir. Karena prestasiku yang tidak pernah gagal menjalankan tugas, atasanku selalu memberikan tugas penting untukku seperti membunuh pejabat penting atau pengusaha sukses.

“Ya, dia hanya seorang pekerja di klub malam. Dia hanya bekerja untuk menemani tante-tante kesepian”, “Ingat, kita hanya mendapat order”, atasanku seperti bisa membaca pikiranku.

“Dia punya banyak pengawal? Atau dia jago bela diri?”, aku mencoba mendapat penjelasan lebih dalam.

“Tidak, dia hanya pekerja biasa, dia juga hidup sendiri. Mudah kan tugasmu kali ini”, atasan menatapku sambil tersenyum.

“Lalu kenapa kau memberikannya kepadaku? Aku bisa menyelesaikan tugas ini seperti aku menangkap nyamuk”, tiba-tiba aku merasa seperti atasanku mulai meragukan kemampuanku.

“Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu. Aku memberikan tugas ini karena aku percaya kau bisa menyelesaikannya”, atasanku mencoba meyakinkanku.

“Apa sulitnya tugas ini?”, aku masih tidak mengerti jalan pikiran atasanku.

“Kau harus menjaganya paling lama 1 minggu sampai ada perintah untuk membunuhnya. Yang membuat tugas ini sulit adalah.. Dia tampan, dan dia dikenal sebagai penakluk wanita. Hati-hati jangan sampai kau jatuh cinta”, atasanku tersenyum.

Akh, hanya itu? Itu yang disebut tugas penting untukku? Aku tidak pernah perduli dengan makhluk bernama laki-laki apalagi dengan kata-kata cinta. Aku bahkan bisa membunuh anak berumur 5 tahun dengan tanpa mengedipkan mata. Ya, selama ini teman-teman dan atasanku menyebutku sebagai wanita berhati batu. Sejak menjadi pembunuh bayaran, aku seperti tidak lagi tahu arti dari kata cinta dan kasih sayang. Aku bahkan tidak perduli pada keselamatan diriku sendiri. Aku seperti merasa didikan sebagai seorang pembunuh yang aku jalani selama ini menjadikanku seperti seorang robot, atau manusia tanpa hati. Mungkin juga itu karena adanya faktor kebencian yang ada dalam diriku.

 

Aku mengamatinya 2 hari belakangan ini. Ya, Jung Yonghwa pria target baruku itu. Aku seperti hampir frustasi ketika membuntutinya. Bukan karena sulit tapi… Oh, ayolah, aku malah merasa lebih sulit menculik seorang anak TK daripada dia. Setidaknya anak TK itu mempunyai pengasuh untuk menjaganya. Tapi Jung Yonghwa ini, dia hidup sendiri, tidak punya keluarga, teman atau tetangga yang perduli padanya. Aku yakin saat dia menghilang pun tidak akan ada yang menyadarinya kecuali bos nya di klub malam itu yang akan merasa kehilangan banyak customer karena sepertinya laki-laki yang bernama Jung Yonghwa ini sangat populer di kalangan tante-tante para pencari kepuasan semata. Kenapa harus bersusah payah untuk menculiknya dulu sebelum membunuhnya? Lagipula perkumpulan kami dikenal sebagai tempat para pembunuh bayaran unggulan bukan penculik biasa. Akhhh, aku sampai kehabisan kata-kata dalam menjalankan tugas ini. Rasanya ini tugas paling mudah yang pernah aku jalankan bahkan tugas pertamaku pun tidak semudah ini.

Dia tinggal di sebuah apartemen mewah di daerah gangnam yang aku yakini kalau itu adalah pemberian dari salah satu “tante” nya itu. Dan dia punya jadwal yang tetap, keluar rumah jam 8 malam dan baru kembali jam 5 pagi.

Di hari ketiga, aku sudah memutuskan untuk langsung memulai menjalankan misiku. Aku menunggunya di sebuah jalan sepi menuju rumahnya jam 4.30 pagi. Begitu mobilnya terlihat, aku langsung menjalankan rencanaku. Dan ya, seperti yang ku duga, aku melaksanakan tugasku tanpa ada sedikitpun kesulitan, laki-laki itu bahkan tidak pandai berkelahi.

Setelah melumpuhkannya, aku membawanya ke sebuah gedung tidak terpakai di pinggiran kota. Aku mengikat tangan dan kakinya dan membaringkannya di lantai. Keesokan paginya aku menunggunya untuk siuman. Saat dia sadar, dia menatapku dengan pandangan aneh. Dengan raut dingin, aku memberikannya sepotong roti untuk mengganjal perutnya, toh aku tetap harus menjaganya tetap hidup sampai seminggu ke depan.

“Di mana aku? Siapa kau?”, ya seperti biasa kata-kata itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulut korban penculikan. Tanpa menghiraukan pertanyaannya, aku membuka ikatan di tangannya dan menyuruhnya makan.

“Aku tidak biasa sarapan roti, berikan aku nasi dan secangkir kopi”, dia mengatakannya sambil melemparkan senyumnya kepadaku.

Woah, dia pikir aku pelayannya apa?

“Yah, kau sedang ku culik bukan sedang ku ajak liburan”, aku menatapnya jengkel.

“Culik?”, dan laki-laki itupun tertawa terbahak-bahak.

Ya, kalau aku jadi dia pun pasti aku juga akan tertawa. Apa yang dia punya sampai ada yang mau menculiknya. Seberharga itukah dirinya untuk para tante yang sudah ditemaninya sampai para tante itu mau membayar uang tebusannya.

“Aku menculikmu untuk kubunuh tapi aku masih menunggu perintah setidaknya sampai seminggu ke depan, jadi nikmati hidupmu selagi bisa”, aku mencoba tetap dingin.

Dia memonyongkan bibirnya membentuk huruf “O”, sungguh di luar dugaanku. Apa dia tidak takut akan apa yang terjadi padanya nanti? Apa dia tidak ingin tahu siapa yang ingin membunuhnya?

“Tapi tetap aku tidak bisa makan roti. Setidaknya berikan aku kopi. Ah iya, dan juga sebungkus rokok. Kau bilang aku harus menikmati hidupku kan? Aku tidak bisa hidup tanpa rokok”, lagi-lagi dia berkata sambil memberikan senyum termanisnya untukku.

Woah, apa dia pikir aku seperti para tante yang mudah dia rayu itu? Aku benar-benar ingin memberinya pelajaran.

“Terserah kau, aku bukan pelayanmu. Kalau kau lapar silahkan makan tapi kalau tetap tidak mau, akan kubuang roti ini”, aku menggertaknya. Tapi dia hanya mengangkat bahunya.

Kesal karena sikap keras kepalanya, aku melempar roti itu ke tempat sampah yang ada di dekat situ. Dan mulai berjalan keluar untuk mendinginkan kepalaku.

“Terserah kau. Aku keluar sebentar. Kalau sampai kau berani melarikan diri, hidupmu tidak akan sampai seminggu lagi”, ujarku sambil mengikatkan lagi ikatan di tangannya.

Begitu aku melangkahkan kakiku, dia masih sempat berteriak, “Jangan lupa kopi dan nasiku”.

Akhh, sepertinya tugasku kali ini memang tidak mudah. Bagaimana caraku bertahan seminggu ini dengannya? Akhhhhh….

 

 

—–0000—–

One thought on “7 Days (Chapter 1)

  1. wah bagus nih thor ceritanya.. tdnya aku kira yonghwa yg jd pembunuh bayaran, tp ternyata di IU ya? hahaha… Next chapter thor~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s