Don’t Say Goodbye (Part 6)

alt2_zpsf1da3706

 

Title:               DON’T  SAY GOODBYE (PART 7)

Author:          Dean_Pure

Rating:          PG-15

Genre:           Romance

Length:         Chaptered

Main Cast:

– Krystal  f(x)

– Kang Minhyuk CNBLUE

 

Other Cast:

Kai EXO

– Jung Yonghwa CNBLUE

– Luna F(x)

 

Disclaimer:  Real Mine!

Note:             Ff ini juga aku posting di aff dengan nama author yang sama. Hope you like it guys.. Tolong tinggalin komentar, saran dan kritik ya..

“Kau yakin tidak ada yang tertinggal?” Pertanyaan ini sudah puluhan kali Minhyuk tanyakan pada Soojung.

“Tidak ada oppa, aku yakin sudah membawa semua barang-barangku, lagi pula kita sudah berada di pesawat sekarang, kalaupun ada yang tertinggal, tidak mungkin aku harus turun dari sini. Sudahlah, kau jangan mengkhawatirkan itu. Sekarang yang harus kau khawatirkan adalah bagaimana bisa aku hidup sendirian di Lousiana mulai sekarang? Aku tidak tau sampai kapan grandpa akan tetap tinggal di Korea. Aku yakin dengan adanya Mino, grandma akan sulit di ajak kembali ke Lousiana. Aaiiissh.. aku tidak mau hidup sendirian.” Soojung merengut.

“Ada aku.” Minhyuk memberikan senyum termanisnya yang selalu mampu meluluh lantakkan hati Soojung kapanpun dimanapun.

“Kau selalu begitu.” Soojung berbicara dengan dirinya sendiri, walaupun sepelan apapun, Minhyuk mendengarnya. Seketika pipi Soojung merona dan itu pemandangan yang paling di sukai Minhyuk.

“Kau akan kembali ke Korea lagi untuk melakukan sesi latihanmu.” Soojung mengingatkannya, namun Minhyuk menangkap ada nada kesedihan disana.

“Sesi latihanku hanya satu minggu, waktuku masih lama sebelum musim pertandingan baru. Setelah melewati satu minggu itu, aku akan terbang kemanapun gadisku berada.” Minhyuk mencubit pipi Soojung. “Sekarang tidurlah” Minhyuk menyelimuti tubuh Soojung dan menggenggam tangannya, seolah memberitahu gadis itu bahwa ia selalu ada untuknya.

 

—- 0 —-

 

“Aku sudah membereskan orang-orang yang menghakimimu di forum online itu. Bagaimana bisa mereka melakukan itu. Kau tenang saja, mereka tidak akan berani melakukannya lagi.” Luna menepuk punggung Soojung usai mata kuliah Teori Organisasi dan Administrasi. Mereka duduk di gazebo untuk istirahat sejenak dari penatnya tugas kuliah.

“Seharusnya kau tidak perlu melakukannya. Mereka hanya merasa ada yang merebut sang idola darinya, dan itu wajar sebagai fans. Lagipula masalah itu sudah satu bulan berlalu.” Soojung tersenyum ringan.

“Tapi tetap saja, itu adalah salah satu tindakan hukum Soojung! Dan karena itu juga, kau melarikan diri sampai ke Korea!” Tak heran Luna mampu berbuat apapun karena keluarganya adalah orang yang berpengaruh di kampus. Apapun bisa ia lakukan dengan mudah.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Karena Minhyuk oppa selalu ada untukku.” Soojung memamerkan kekasihnya sekarang.

“Oh, lihatlah princess ini!! Kurasa syndrome narsis bisa menular.” Luna memutar bola matanya.

“Hai girls, sudah lama menunggu?” Kai datang dengan membawa beberapa makanan kecil.

“Hai, bagaimana kabarmu? Yaah, lihatlah, kau tampak bugar sekarang?” Luna mengambil wafer yang dibawa Kai. Luna dan Kai saling mengenal sejak Soojung sering menceritakan tentang satu sama lain.

“Baik, kau sendiri tampak ceria Luna, apa ada berita yang tidak kuketahui?” Kai tersenyum kepada dua gadis di hadapannya ini.

“Tidak ada. Oh, kapan pertandingannya dimulai? Bukankah ini bulan kompetisi ya?” Soojung bertanya pada Kai.

“Minggu depan!” Kai membuka botol cola dan meminumnya.

“Minggu depan? Baiklah, kau butuh dukungan? Anggota cheerleaders? Atau perlu kubawakan penonton bayaran?” Luna menawarkan diri.

“Haha.. tidak terima kasih, kurasa itu agak sedikit menakutkan.” Jawab Kai yang disusul dengan tawa mereka bertiga.

Tiba-tiba ponsel Kai berdering.

“………..”

“Baiklah hyung, tunggu aku sebentar.” Kai menutup ponselnya dan berdiri. “Aku sudah harus pulang, kakakku sudah menunggu. Sampai jumpa besok, kalian harus nonton!” Teriak Kai sambil menjauh.

“Arasseo..!!” Kedua gadis itu kompak berteriak.

 

—- 0 —-

 

Di jam-jam segini, Soojung selalu merasa kesepian semenjak Grandma dan Grandpa memutuskan tetap tinggal di Korea karena ingin selalu berada dekat dengan Mino. Jika Minhyuk tidak ada, ia selalu menghabiskan malam dengan menonton film atau merancang bisnis masa depan. Ia ingin memiliki butiknya sendiri. Beberapa coretan design ia gambar. Imajinasinya sedang baik sekarang, sehingga dalam waktu satu jam iya mampu merancang 14 model pakaian. Lagu Crooked menginterupsi coretan terakhir Soojung. Ia melihat ponselnya dan senyumnya merekah.

“Minhyuk oppa!!” Soojung menjawabnya antusias. Ia sangat merindukan Kang Minhyuk, beberapa hari Minhyuk tidak menemaninya karena sibuk pemotretan untuk salah satu brand olahraga ternama.

“Yah, kau mengagetkanku! Uri Soojungie, apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

“Mmm…biasa hanya corat coret sana sini. Aku kesepian oppa, kapan kau kembali?” Yeah, ia benar-benar merindukan suara manja Soojung.

“Aku juga merindukanmu.” Jawab Minhyuk ringan.

“Yah, siapa yang merindukanmu? Aku tidak bilang merindukanmu tadi.” Soojung mengelak. Tapi dalam hatinya ia sangat gembira.

“Kau tidak merindukanku? Kalau begitu aku pulang saja.”

“Mwo? Pulang?” Soojung berpikir sejenak, ia melihat pintu depan dan berlari membukanya.

“Oppaaaaa…..!!” Soojung melihat tubuh atletis itu berdiri bak dewa Yunani, laki-laki ini terlihat tampan. Senyumnya mengembang kala melihat Soojung berlari memeluknya, ia merindukan pelukan manja gadis ini.

“Kapan kau datang? Semalam kau bilang masih ada schedule lagi.” Soojung merengut seperti anak umur 5 tahun.

“Tiga jam yang lalu. Aku ingin membuat kejutan, dan tampaknya berhasil.” Minhyuk tersenyum melihatnya, gadis ini, cute! Melihat Soojung hanya mengenakan piama di udara dingin seperti ini, Minhyuk mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Mereka tiba di dapur. Soojung segera membuatkannya kopi panas untuk menghangatkan tubuh Kang Minhyuk. Minhyuk menatap punggung sang kekasih. Betapa ia merindukan gadis cantik ini.

“Oppa, kapan musim pertandingan ligamu akan dimulai? Kau masih lama berada di sini kan? Kau tidak akan pergi kemana-mana lagi kan sebelum itu?” Tanya Soojung yang sibuk menyeduh kopi di meja dapur.

Minhyuk melangkah ke tempat Soojung berdiri. Ia memeluk gadis itu dari belakang dan berbisik.

“Walaupun sebentar lagi kita akan terpisah lama, aku akan selalu mengunjungimu saat aku punya waktu luang. Dan selama aku di sini, aku akan menghabiskan waktu denganmu. Jadi ku minta jangan menghawatirkan kapan aku akan pergi, nikmati saja waktu yang ada saat ini. Eoh?”

Soojung sedikit terkejut dengan pelukan Minhyuk. Tapi dibalik perasaan terkejutnya, ia tersenyum. Ia membalikkan badan sehingga berhadapan langsung dengan Kang Minhyuk dan jarak yang memisahkan mereka hanya 15 cm hingga Soojung bisa merasakan hangatnya nafas Kang Minhyuk. Detik berikutnya, jantungnya berdegup kencang.

“Kalau begitu, besok luangkan waktu untukku.” Kata Soojung canggung, ia takut jika Minhyuk mendengar suara jantungnya yang berdegup sangat keras.

“Sure.” Minhyuk masih dalam posisi memeluk Soojung, ia tak kuasa melihat bibir pink Soojung yang terlihat imut. Satu detik kemudian Soojung merasa linglung dan detik berikutnya jantungnya berhenti berdetak, bagaimana bisa kau melakukannya Kang Minhyuk, dasar playboy. Kecupan ini singkat tapi mampu membuatnya melayang. “Kemana kau ingin pergi?” Minhyuk menyukai ekspresi linglung gadis ini, cute.

Setelah kembali ke dunia nyata, senyum manis Soojung merekah. “Pantai.”

 

—- 0 —-

 

“Jung Soojung…” Soojung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia disambut senyum manis milik Kai.

“Hai, kau tidak ada jadwal kuliah sekarang?” Mereka jalan berdampingan menuju gazebo tempat mereka biasa nongkrong.

“Baru saja selesai, kau tidak ada kuliah lagi?” Tanya Kai.

“Tidak, ini tadi terakhir.” Soojung memberikan senyumnya.

“Kemana Luna? Biasanya kalian satu paket.” Kai memberikan cola pada Soojung.

“Dia tidak masuk hari ini, ada keperluan keluarga. Padahal hari ini adalah hari terakhir pengumpulan tugas dan dia tidak masuk.” Soojung menghembuskan nafas, betapa temannya ini sangat menyepelekan kuliah.

“Ha! Aku berani bertaruh dia bisa meng-handel semua mata kuliah yang ia tinggalkan. Kau sendiri yang pernah bilang, ‘jangan meragukan keluarganya’. Yaaah.. Enak juga jadi anak dari orang berpengaruh di kampus.” Ujar Kai.

“Eoh, kau benar..”

“Oh ya, kau bilang Mr. Jung tidak kembali lagi ke Lousiana? Lantas bagaimana dengan pekerjaannya di sini?”

“Grandpa sudah menyelesaikan berkas-berkas pensiunnya. Sekarang aku tinggal sendiri di sini. Huwaaa…” Soojung menghentakkan kaki seperti anak umur 5 tahun, cute.

“Kau tidak melihatku? Kan ada aku.” Kai memberikan senyum terbaiknya.

“Apa kau pikir aku akan menyediakan kamar untukmu? Ha! Pervert!” Ujarnya cemberut, membuat Kai tertawa melihatnya. Walaupun ia bertingkah seperti anak umur 5 tahun, ia tetap cantik. Bagaimana bisa semua ekspresi yang ditunjukkan gadis ini begitu menarik baginya.

“Jika kau membutuhkan sesuatu, segera hubungi aku, aku akan segera menemuimu.” Jawab Kai serius.

“Yah, lihatlah, apa kau punya pekerjaan lain sekarang? Jadi superhero? Mencoba menolong orang yang membutuhkan bantuan? haha…” Tawa Soojung renyah.

“Aaiiisshhh….” Kai berpura-pura kesal.

“Beep..” Terdengar pesan masuk di ponsel Soojung yang membuat gadis itu tiba-tiba tersenyum.

“Kai, aku pergi dulu ya.” Soojung membereskan buku-bukunya.

“Kau mau pulang?” Tanya Kai setengah hati.

“Eoh, aku ada urusan. Bye, sampai jumpa besok.” Soojung melambaikan tangannya pada Kai.

“Baiklah, hati-hati..” Ia melihat punggung Soojung yang meninggalkannya dalam keadaan kacau. Apakah benar ia memiliki harapan? Harapan memiliki gadis itu? Walaupun ia mencoba untuk menarik perhatiannya dan berusaha menghabiskan waktu lebih untuk Soojung, tetap saja gadis itu hanya menganggapnya teman. Hanya teman.. dan saat itulah, ia menyadari harapannya musnah

—- 0 —-

Senyum itu, cantik dan akan selalu cantik. Minhyuk memeluknya sebentar kemudian membukakan pintu mobil untuk Soojung dan segera menuju ke tempat yang mereka rencanakan.

Sepanjang perjalanan mereka tidak kehabisan bahan untuk di perbincangkan, hal ini sangat di syukuri Minhyuk karena moment ini akan jarang terjadi. Ia akan kembali ke Korea untuk memulai kompetisi liga yang berjalan selama 6 bulan. Dan selama itu, ia berjanji untuk selalu mengunjungi Soojung jika ia memiliki waktu luang. Ia akan merindukan gadis ini.

Soojung terbangun di sebuah kamar sederhana dengan ornamen kayu yang terlihat simple tapi elegan. Ranjang berukuran queen hampir memenuhi kamar kecil ini. Di sudut ruangan terdapat meja rias dengan ukiran yang rumit namun terlihat indah. Ia melihat ke jendela yang tertutup korden hijau, di singkapnya sedikit sehingga cahaya terang masuk ke dalam kamar dan pemandangan indah membentang dihadapannya.

Pantai yang luas dengan airnya yang jernih berwarna hijau toska terlihat begitu indah. Angin yang menyibakkan rambutnya terasa begitu sejuk. Burung-burung betebaran di atas laut menjadi penghias indahnya langit senja itu. Kang Minhyuk, ia melihat pria itu berdiri memandang jauh ke laut yang tak ada batasnya. Ia tersenyum, betapa pemandangan itu terlihat sempurna ketika pria itu berada disana. Tanpa menunda waktu ia berlari ke tempat pria itu berdiri.

“Oppa!” Soojung memanggilnya yang disambut oleh senyum mempesona milik Minhyuk. Walaupun sudah berkali-kali melihatnya, Soojung masih tetap kehabisan nafas bila senyum itu diberikan untuknya.

“Sudah bangun? Tidurmu nyenyak?” Tanya Minhyuk.

“Eoh, rumah siapa ini oppa? Bagaimana bisa aku tiba-tiba terbangun dari kamar itu?” Soojung menunjuk jendela dimana ia tadi melihat Minhyuk.

“Ini pondok milik ayahku. Kami sering kesini saat aku libur sekolah dulu.” Tatapannya menerawang jauh ada sinar kesedihan disana. Kemudian ia memandang Soojung. “Kau tadi tertidur di mobil, berhentilah makan makanan yang mengandung lemak jenuh, apa kau tidak tahu badanmu itu sangat berat?” Minhyuk menggodanya.

“Aiiisssh… oppa!!” Soojung memukul lengan Minhyuk ringan, ia tertawa melihat Soojung yang marah. Cute… dan itu adalah salah satu momen yang akan dirindukannya. Menyadari hal itu, ia meraih telapak tangan Soojung dan menggenggamnya.

“Soojung-ah, berjanjilah padaku satu hal.” Raut wajah Minhyuk berubah serius sekarang, membuat Soojung sedikit terkejut.

“Apa?” Soojung menatapnya lekat, sekali lagi ia melihat sinar kesedihan disana. Semakin ia melihat Minhyuk seperti ini, semakin ia takut.

“Berjanjilah untuk tetap selalu bahagia walau aku tidak berada di dekatmu.” Kata-kata Minhyuk, entah mengapa menjadikan ketakutannya semakin bertambah. Rasanya ia tidak ingin mendengarnya, rasanya ia tdak ingin menjanjikan apa-apa. Ia sadar saat ini yang ia rasakan adalah, ia takut kehilangan Kang Minyuk. Seketika, senjanya langit menularkan senja dalam hatinya.

 

tbc

2 thoughts on “Don’t Say Goodbye (Part 6)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s