Man In Love

JPG

 

Title : Man in Love

 

Rating : ??

 

Genre : Romance, sangat little bit kesomplakan(?)

 

Cast : Kang Minhyuk CNBLUE, Jung Krystal F(X), Bae Suzy Miss A, other.

 

Durasi : Rencananya 2shot

 

Yang ngarang : Red Pumpkins

 

Disclaim : Ini murni ff dari otak saya yang kangen berat sama projek Minhyuk-Krystal. Yah, biar judulnya mirip sama lagunya Infinite, nggak tau isinya sama apa enggak #lahpiyeiki. Wes, sak kareplah(?). Pokoknya ini ff muncul dari otak saya yang minjem nama bang Minhyuk dan mbak Krystal. Biarpun cerita pasaran dan bisa ditebak, tapi tetep happy reading, fill the comment, share your opinions and gimme critics fo this ep ep ya😉

 

 

 

 

-Normal Pov-

 

 

 

Minhyuk, satu nama yang banyak menyedot perhatian warga SMA Parang, atau tepatnya siswi di SMA itu. Namja yang kini memainkan pulpennya memang tak perlu diragukan ketampanannya.

 

Dan satu catatan kecil kenapa para siswi banyak yang mengaguminya. Kalian pernah mengikuti drama The Heirs? Tentu tak akan asing dengan Yoon Chanyoung, ketua Osis bertanggung jawab(?) yang sangat sayang dan menuruti apapun keingginan Lee Bona, yeojachingunya. Dan Minhyuk, dia memang tidak punya yeojachingu apalagi yang manja seperti Lee Bona, tetapi sifatnya yang -errrr- menarik bisa dikatakan lebih menarik dari Yoon Chanyoung. Dan karena jomblo(?) itulah faktor terbesar setelah ketampanan dan sifat menarik yang menarik kaum hawa.

 

 

“Minhyuk sunbae..”

 

Minhyuk menghentikan tangannya yang dari tadi bermain dengan pulpen, kepalanya mendongak dan mendapati seorang siswi yang -ehem- sangat cantik menyodorkan kotak berbentuk hati (kotak ya kotak, hati ya hati, beda bentuk thor) dengan wajah malu.

 

“Ne?” Minhyuk lama memperhatikan wajah siswi tersebut, bukan karena terpesona, tapi dia merasa tidak mengenalnya.

 

“Ahra imnida. Tolong terima coklat buatanku ini.”

 

Minhyuk melongo. Ahra siapa? Yoo Ara atau Go Ahra aktris terkenal itu? Tapi wajahnya berbeda dengan yang sering dia temui di media sosial. Minhyuk bergantian melihat siswi cantik yang kini menunduk malu dengan coklat yang dari tadi diulurkan.

 

“N.. Ne. Kamsahamnida.” Minhyuk menerima coklat itu dengan bingung. Gadis itu minta tolong padanya agar menerima coklat itu, dan dia selalu ingat nasehat neneknya untuk menolong orang selagi dia mampu.

 

Siswi bernama Ahra langsung membekap mulutnya setelah Minhyuk menerima coklat itu, membungkuk kira-kira 4 kali untuk salam, dan langsung lari keluar kelas. Minhyuk mengangkat satu alisnya dan membuka bungkusan manis coklat itu. Satu gigitan.

 

“Kenapa harus bohong kalau membelinya?” Minhyuk langsung menutup coklat itu. Dilihat bagian bawah kotak dan ada stempel toko coklat disana. Minhyuk hanya geleng-geleng dan tersenyum.

 

“Hadiah lagi?”

 

Minhyuk mendongak, sobatnya yang jangkung sudah duduk di atas mejanya sembari mengendikkan dagu ke arah pintu, bermaksud menunjuk Ahra.

 

“Bukan, dia minta tolong padaku untuk menerima ini. Tentu saja aku tolong.”

 

Jungshin memutar bola matanya lalu mengambil coklat itu dan memakannya, “Jangan dimakan. Kau kan hanya diminta untuk menerimanya, biar aku yang makan.”

 

Minhyuk tersenyum lalu mengambil tumpukan buku yang baru diletakkan Jungshin di mejanya, “Ini apa?”

 

“Bodoh, ini tugas yang harus kita kumpulkan pagi ini. Kau kan yang harus mengantarya ke Junsu sonsaeng?” cengir Jungshin, mengalihkan tugas.

 

Minhyuk mengangguk, seperti biasa. Segera saja sebelum bel masuk dia bergegas ke ruang guru, dia tidak mau diceramahi seperti dulu. Guru yang satu itu sangat disiplin.

 

 

Sedikit kerepotan memang membawa setumpuk buku catatan tebal milik temannya yang jumlahnya berekor-ekor(?) itu. Apalagi saat ada yang menabraknya di belokan menuju tangga dan semua buku itu jatuh. Ingat, gurunya tak mau terlambat bahkan 1 detik pun.

 

“Jo.. Joisonghamnida..”

 

Minhyuk mengamati, ternyata bukan hanya bukunya saja yang berantakan di lantai, lembaran siswi yang menabrak -atau ditabrak- nya juga ikut beterbangan ke lantai. Dia ingin membantu siswi itu, tapi jam di tangannya menunjukkan 1 menit lagi bel masuk kelas berbunyi.

 

“Gwaenchana, aku juga minta maaf.”

 

Minhyuk mempercepat langkahnya menuju ruang guru, tapi sesuatu menahan lengannya.

 

“Joisonghaeyo, aku siswi baru. Ruang guru dimana? Aku sudah bolak balik dari lantai 3 sampai lantai 6 tiga kali tapi..” siswi itu menoleh ke kumpulan siswi yang terkikik di dekat mading.

Minhyuk mengikuti pandangan siswi baru itu. Dia menghela napas, keusilan di sekolah ini belum hilang, batinnya.

 

“Oh, itu Minhyuk sunbae! Dia menoleh ke arahku!” seru salah satu siswi yang terkikik tadi dengan heboh.

 

“Bukan! Dia melihatku!” serobot temannya.

 

“Dasar kecentilan! Minhyuk sunbae melihat aku, bukan kalian!” tambah siswi yang lain, kali ini dia melambaikan tangan dengan gemulai ke Minhyuk.

 

 

“Ttarawa.” Minhyuk mengendikkan kepala dan siswi baru itu mengikutinya.

 

 

Dan beruntung bagi Minhyuk, sampai di meja Junsu bel masuk tepat berbunyi. Junsu tersenyum ke Minhyuk sambil meneguk kopi panas.

 

“Bagus.” ucap Junsu.

 

Minhyuk membungkuk, pamit kembali ke kelas. Dan saat dia berbalik, nyaris saja dia menabrak seseorang. Siswi baru tadi masih berdiri di belakangnya atau dengan kata lain masih mengikutinya menemui Junsu.

 

“Kenapa kau ada di belakangku?” Minhyuk setengah berbisik. Ini ruang guru dan dia perlu mengontrol kekagetannya.

 

“Kau bilang tadi untuk mengikutimu.” jawab siswi itu.

 

Minhyuk diam. Diamati wajah siswi baru itu. Suaranya. Nada bicaranya. Sikapnya. Sepertinya dia mengenal gadis itu.

 

“Dan kita sudah di ruang guru kenapa kau masih mengikutiku?”

 

Gadis itu menoleh kanan kiri seperti anak ayam kehilangan induk, “Ini ruang guru?”

 

Minhyuk menyatukan giginya, tak heran kalau gadis ini bisa bolak-balik dari lantai 3 sampai lantai 6.

 

 

 

Krystal Jung.

Krystal Jung,

Krystal Jung…

Krystal Jung?

 

Otak Minhyuk, yang kini berjalan bersama siswi baru di belakang wali kelasnya, dipenuhi oleh nama itu. Nama siswi di sampingnya.

 

Krystal Jung.

Krystal?

 

Minhyuk melirik Krystal yang sebentar lagi resmi(?) menjadi teman sekelasnya, gadis itu tersenyum senang melihat langkah yang dia lewati. Lagi-lagi Minhyuk diam mengamati senyum Krystal. Baginya gadis itu seperti tidak asing.

 

 

“Minhyuk-ah.”

 

“Ne,” Minhyuk baru tersadar kalau pintu kelas sudah di hadapannya, “Sonsaengnim?”

 

Wali kelas cantik itu mengendikkan dagunya ke arah pintu, dan Minhyuk tersenyum mengerti. Yah, dia dan semua teman sekelasnya menyukai wali kelas mereka. Masih muda, energik, modis, dan tentu saja santai serta mengerti keinginan remaja seperti murid-muridnya. Seperti teman.

 

Minhyuk masuk belakangan setelah menggerakkan tangannya dan membungkuk layaknya pelayan kerajaan kepada sang guru yang berjalan layaknya seorang putri kerajaan.

 

 

 

“Ini ruang musik. Kau bisa masuk kesana saat ada praktek, di luar itu hanya digunakan untuk ekskul.”

 

Krystal manggut-manggut mendengarkan penjelasan Minhyuk yang baru tadi pagi didaulat wali kelas mereka menjadi pemandu tournya. Dia mengintip ke dalam lewat kaca pintu. Yah, seperti namanya tentu saja ruangan luas itu penuh dengan alat musik, mulai jenis tradisional hingga modern.

 

Krystal mundur lalu mengamati sekitar. Tangannya kemudian menulis sesuatu di nota kecil yang dari tadi dia bawa.

 

“Kau sedang apa?” intip Minhyuk. Alisnya naik membaca tulisan Krystal yang menurutnya mirip sebuah peta.

 

“Ani,” Krystal tercengir(?), “Aku sulit mengingat tempat baru, jadi..”

 

Minhyuk paham, “Kau mau masuk?”

 

Krystal menggeleng lalu menarik Minhyuk, dia tak sabar menjelajahi sekolah ini sebelum bel masuk mengakhiri jam kebebasan mereka.

 

“Kata umma suaraku bagus, tapi aku tak bisa bermain musik.”

 

“Benarkah? Suaraku jelek tapi aku bisa bermain drum.” Minhyuk tersenyum melirik Krystal yang juga tertawa melihatnya.

 

“Matamu hilang.” Krysyal mengakhiri tawanya, “Kantin dimana?”

 

“Lantai 3, kau lapar?”

 

“Aniya, aku hanya ingin beli makanan. Kaja.”

 

Minhyuk mengelus dahinya, heran dengan anak yang kini menarik tangannya ke lantai 3. Apa Krystal sepolos itu? Polos, lugu, atau..

Tidak, dia hanya gadis yang sedikit unik.

 

 

 

“Umma..”

 

Minhyuk melemparkan tas sekolahnya ke lantai dan memeluk wanita yang duduk membelakanginya. Tangan wanita itu mengelus lengannya, membalas dengan rasa sayang.

 

“Wae?”

 

“Ani, obseo.” Minhyuk mengecup pipi kanan ibunya yang masih konsen dengan tv.

 

Wanita yang masih terlihat cantik tak terkikis umur itu menepuk sofa di sampingnya, dia selalu bisa menebak Minhyuk saat ada yang diinginkan. Naluri seorang ibu.

 

“Wae?” tanyanya lagi setelah Minhyuk duduk tenang di sampingnya.

 

“Umma, apa umma mengenal Krystal? Maksudku namanya. Dan orangnya juga kalau bisa. Mmm.. Apa aku pernah mengenalnya? Saat aku kecil mungkin? Teman sekolahku dulu? Tetangga kita? Umma masih ingat?”

 

Ibunya melongo dengan pertanyaan beruntun Minhyuk, dipegangnya tangan anaknya yang mendadak berkeringat.

 

“Jangan terburu begitu.”

 

Minhyuk tertawa hambar menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, “Aku baru mengenal seseorang tadi pagi, tapi aku merasa sudah mengenalnya lama.”

 

“Krystal yang kau katakan?”

 

Minhyuk mengangguk, “Anak pindahan. Krystal Jung. Dia sangat cantik dan lugu. Aku merasa pernah mengenalnya, umma.”

 

Ibu Minhyuk mengalihkan pandangannya sekilas, berpikir atau tepatnya mengingat sesuatu, “Krystal. Kau memang mengenalnya, apa kau lupa?” tanya ibu Minhyuk lalu mengelus rambut anaknya.

 

“Ne?”

 

 

“Umma, apa aku terlihat cantik?” gadis kecil berbando telinga kelinci itu tersenyum malu setelah berputar memamerkan gaun merah mudanya. Ibunya tersenyum lalu merapikan rambut gadis itu.

 

“Soojung selalu cantik dan bersinar.” jawabnya. Gadis kecil tersenyum senang lalu memeluk ibunya.

 

“Aku anak paling cantik di Seoul.”

 

“Ne, bahkan kau lebih cantik dari umma.” balas sang ibu lalu mencubit hidung Soojung kecil.

 

“Aku kan seorang putri. Umma, aku akan keluar menunjukkan gaun ini ke teman-teman. Mereka pasti akan iri melihatku.”

 

“Jangan pulang larut, sayang.”

 

Soojung mengecup ibunya sebelum berlari ceria ke halaman rumahnya. Bayangan wajah teman-temannya yang terkagum dan memujinya terukir di atas kepalanya. Dia berputar sekali lagi di halaman rumahnya, dia sangat suka melihat gaunnya mekar seperti bunga yang dia tanam.

 

“Putri Soojung memang cantik.” ucapnya terkikik sendiri. Dia membenarkan bandonya yang nyaris melorot lalu berjinjit meraih gagang pagar rumahnya yang terselot. Namun..

 

“Dasar pendek! Hahaha, membuka pagar saja tidak bisa.”

 

Soojung menoleh keluar, seorang bocah laki-laki yang seumuran dengannya -dengan mengendarai sepeda beroda empat lengkap bersama lolipop menggembung di pipi- menjulurkan lidah mengejeknya.

 

“Aku tidak pendek! Dasar Minhyuk ompong!”

 

“Kalau tidak pendek apa? Tinggi tak sampai?”

 

Wajah Soojung memerah, giginya gemeletuk marah melihat bocah laki-laki itu tertawa. Soojung melihat sekitarnya, berpikir ada sesuatu yang bisa membantunya membuka pagar. Dan tongkat kakeknya yang tersandar di pintu rumahnya membuat senyumnya tersungging.

 

“Kau mengejek putri Soojung yang cantik, pengembala domba ompong jelek!”

 

Soojung berhasil keluar dari pagar dan mengacungkan tongkat kakeknya ke Minhyuk yang kelabakan melihatnya.

 

“Aku akan merontokkan semua gigimu!”

 

Minhyuk kecil langsung mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga, dan Soojung masih mengejarnya meskipun kuwalahan dengan gaun mekar(?)nya.

 

“Soojung jelek! Mana ada putri yang pendek! Ayo kejar kalau bisa, weee..”

 

“Kang Minhyuk ompong! Jelek!” Soojung melemparkan tongkat kakeknya, tidak sampai tentu saja dan Minhyuk makin keras menertawakannya.

 

Meski begitu Soojung masih tetap mengejarnya. Minhyuk heran juga Soojung masih bisa mengejarnya padahal dia sudah mengayuh sekuat tenaga. Dia tidak mau dipukul oleh Soojung karena dulu dia pernah berkelahi dengan gadis cilik itu dan faktanya rambut bagian belakangnya hilang terjambak, Soojung sendiri memar-memar karena cubitan Minhyuk.

 

Minhyuk kembali menoleh ke belakang, dan makin terkejut saat Soojung nyaris meraih sayap(?) sepedanya. Naasnya, karena terlalu fokus menoleh ke belakang, Minhyuk tak melihat belokan di depannya dan saat dia sadar langsung mengerem sepedanya.

 

“Aaaaa…”

 

Soojung yang kaget Minhyuk berhenti dadakan tak bisa mengerem larinya, dan mereka jatuh bersama. Gaun Soojung tersangkut jeruji sepeda Minhyuk hingga sobek.

 

Minhyuk berdiri menyingkirkan sepedanya dan membantu Soojung berdiri. Namun Soojung malah memukul tangannya dan memandangnya dengan ganas. Perlahan, bibir Soojung merosot dan..

 

“Ummaaaaa.. Huuuaaaa…”

 

“Ya! Ya! Soojung, kenapa menangis?” Minhyuk panik, “Aku saja tidak menangis, diamlah!”

 

Soojung menatap Minhyuk lalu mengumpatinya, “Babo! Jelek! Ompong! Gara-gara kau gaunku jadi rusak! Kotor! Huuuaaa..”

 

“Kau beli lagi kan bisa, dasar cengeng!”

 

“Minhyuk jahat! Aku kan seorang putri, kalau gaunku jelek begini mana ada pangeran yang menyukaiku, hah?! Dasar ompong! Huuaaa.. Ummaaa…”

 

Cup!

 

Soojung terdiam dari tangisnya. Matanya menoleh ke Minhyuk yang menatapnya dengan cengiran aneh menunjukkan giginya yang tak lengkap.

 

“Bagaimana kalau aku saja yang jadi pangeran? Aku suka putri yang pen–“

 

“Ummaaaa…” Soojung langsung lari ke rumahnya sambil memegang pipi kananya yang merah, “Minhyuk ompong menciumku, huaaaaa…”

 

Dan Minhyuk hanya melongo melihat Soojung berlari lebih kencang daripada sebelumnya, padahal kaki Minhyuk sendiri masih gemetaran setelah jatuh tadi.

 

“Dia bukan putri, tapi algojo berbadan besar!” gumam Minhyuk.

 

 

 

Krystal berjalan dengan kagum di sisi jendela yang dia lewati. Lantai 6 bangunan sekolah barunya dindingnya sengaja hanya di bangun dari kaca, gadis itu bisa melihat area luar sekolah dari sana. Jam sekolah memang telah usai 2 jam lalu tapi dia belum puas dengan panduan Minhyuk. Berbekal catatan kecilnya Krystal berjalan menuju lantai 7.

 

“Ya! Murid baru!”

 

Krystal menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. 4 siswi dengan seragam yang sudah tak teratur tengah menghampirinya. Krystal tersenyum lalu menghampiri mereka, dia pikir mereka ingin berkenalan dengannya.

 

“Ne, aku murid baru disini. Krystal imni–”

 

“Diam.” putus salah satu siswi yang berdiri di tengah.

 

Krystal tersenyum lalu membungkuk, “Bangapseumnida.”

 

Siswi itu tersenyum iblis(?) ke arah Krystal dan memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah.

 

“Senang mengenalmu,” Krystal memajukan kepalanya ke seragam siswi itu, “Bae Suji-ssi.”

 

“Kau! Bukankah kubilang diam?”

 

“Aku hanya memperkenalkan diri dengan baik, kepadamu.” ucap Krystal. Siswi di belakang Suzy tertawa mengejek wajah Krystal yang tersenyum polos.

 

“Dengar, kami tak mau banyak bicara denganmu. Hanya satu yang perlu kau ingat. Jangan mendekati Kang Minhyuk.” Suzy menekankan nama Minhyuk di nada bicaranya.

 

“Minhyuk sunbae hanya milik kami!” seloroh seorang siswi di belakang Suzy yang langsung mendapat pelototan tajam dari gadis bermata elang itu.

 

“Ma.. Maksudku hanya milik Suzy sunbae!” ulang siswi itu.

 

Suzy ganti menatap Krystal, “Kami adalah ‘pemilik Minhyuk’ dan aku adalah ultimatenya.”

 

Krystal mengedipkan matanya berkali-kali, bingung. Suzy maju perlahan lalu mengusap jas Krystal, “Jauhi Minhyuk, anak manis.”

 

Krystal mundur dua langkah dan menyingkirkan tangan Suzy, “Tidak mau. Dia satu-satunya yang mau menolongku. Bahkan teman-temanmu itu yang membuatku kelelahan di hari pertamaku disini.” Krystal menunjuk siswi yang ada di belakang Suzy, dia masih mengingat wajah yang mengerjainya(?) tadi pagi.

 

“Tidak mau?” Suzy mengikuti langkah mundur Krystal. Krystal memang agak sedikit takut dengan wajah jutek Suzy, tapi dia tidak mau berhenti.

 

Suzy langsung mengambil tangan kanan Krystal dan salah satu temannya ikut memegang erat tangan kiri Krystal.

 

“Ya! Mwohae?!”

 

Suzy mengendikkan dagunya lalu bersamaan mereka menyeret Krystal ke sebuah ruangan kecil. Krystal mencoba meronta, tapi 1 lawan 4?

Suzy mendorong Krystal masuk ke ruangan sempit itu, ruang penyimpanan alat kebersihan yang berdebu, dan langsung mengunci pintunya selama Krystal kesulitan berdiri terhimpit peralatan yang menimpanya.

 

“Ya! Bae Suzy-ssi! Buka pintu-hatchi! Aku aler-hatchi! Bae Suzy!”

 

Krystal menggedor pintu itu dari dalam, namun tak mungkin Suzy mau membukanya.

 

“Nikmati hari pertamamu disini, Krystal-ssi..”

 

Suzy tertawa bersama teman-temannya lalu meninggalkan Krystal bersama teriakan dan gedoran yang tak mungkin terdengar siapapun.

 

Krystal merogoh saku jasnya, mencari ponselnya yang.. Tertinggal di kelas. Gadis itu mulai lemas dan sesak, namun dia tetap menggedor-gedor pintu itu. Dia tak sanggup membuka mulut untuk berteriak, takut akan semakin sesak.

 

“Umma..”

 

Krystal terduduk lemas, kepalanya tersandar di dinding dan napasnya makin sulit mencapai paru-paru. Kakinya masih menendang pintu dengan tenaga yang makin lemah. Gadis itu memejamkan matanya, kakinya berhenti menendang.

 

Bukan, dia masih bertahan walau dengan kesadaran yang tidak penuh. Dia tak mau membuang tenaganya, hanya akan bereaksi saat ada keajaiban yang lewat.

 

Krystal melihat jam tangannya, pukul 7 lewat 38 malam. 3 jam sudah dia disini. Dan harapannya ada yang datang menolongnya nyaris hilang, kalau saja telinganya tidak peka dengan ketukan sepatu yang menghampiri.

 

Krystal membuka matanya dan kembali menendang pintu dengan kakinya. Berharap seseorang itu akan menolongnya, setidaknya orang itu bukan Suzy.

 

“Dowajuseyo..” tenggorokannya tercekat untuk berteriak, “Dowajuseyo..”

 

Krystal memperkuat tendangannya hingga ketukan sepatu itu mendekati ruangan kotor itu.

 

“Aku..”

 

Tidak dapat menahan, semuanya gelap.

 

 

“Sudah bangun?”

 

Krystal mengangguk, dia tau dimana dia berada saat melihat perawat di sampingnya. Dia masih merasa sesak tetapi jauh lebih baik daripada beberapa jam lalu. Krystal menoleh ke arah jam dinding di ruangan itu, pukul 9 malam. Krystal menurunkan pandangannya. Dan siapa yang duduk tertidur di sofa itu?

 

“Minhyuk?”

 

“Ne, temanmu yang membawamu kemari.” terang perawat itu lalu membangunkan Minhyuk.

 

Krystal tersenyum saat Minhyuk membantunya duduk, “Kasahamnida.”

 

“Berterima kasihlah pada ini, Soojung.” Minhyuk menunjukkan kertas partitur yang dia genggam. Ya, Krystal lupa kalau ruangan kotor itu bersebelahan dengan ruang musik. Beruntung baginya.

 

Tapi, tunggu..

 

“Soojung?” Krystal melihat Minhyuk dengan bingung, “Kau tau namaku?”

 

Minhyuk mengangguk.

 

“Tapi aku tidak pernah..”

 

“Kau mau tinggal disini lebih lama hanya untuk mengingat?”

 

Krystal menggeleng lalu menerima uluran tangan Minhyuk yang membantunya turun. Dia sudah tidak pusing memang, tapi Minhyuk yang memaksa menuntunya.

 

“Aku bawa sepeda, tapi tertinggal di sekolah. Kau bisa kan pulang sendiri?”

 

Krystal mengangguk. Minhyuk menunggunya hingga mendapat taksi.

 

“Kamsahamnida, Kang Minhyuk.”

 

 

Krystal berjalan riang keluar gerbang rumahnya. Rambutnya dia biarkan tergerai dengan jepitan kecil di sisi kanan. Sebenarnya ibunya tidak mengijinkan masuk hari ini, tapi Krystal memaksa. Dia bilang ingin mengenal semua temannya hari ini.

 

“Johun achim, Soojung-ah.”

 

Krystal menghentikan ketukan langkahnya. Kepalanya mendongak, mendapati Minhyuk tengah duduk manis dengan sebuah sepeda.

 

“Kau.. Kenapa.. Kenapa bisa disini?” Krystal menghampiri Minhyuk. Entahlah, tiba-tiba dia merasa senang dan senyumnya makin mengembang.

 

“Mau berangkat bersamaku?”

 

“Ne?” Krystal terbengong, dia tidak salah dengar.

 

Minhyuk yang baru kemarin dia kenal menawarinya berangkat bersama. Dengan… dia melihat sepeda Minhyuk. Tak ada boncengan disana dan anak sipit itu menawarinya berangkat bersama? Naik di atas kepalanya?

 

“Kau kemarinkan belum sehat, kalau pingsan di jalan kan repot.” Minhyuk menepuk frame sepedanya, seperti menebak apa yang dipikirkan Krystal.

 

“Naik.. Disitu?” gadis itu ragu. Bagaimana kalau besi itu patah?

 

Minhyuk menarik tangan Krystal, “Aman asal kau pegangan.” lagi-lagi Minhyuk bisa menjawab pertanyaan di otak Krystal, “Sepeda ini kualitas terbaik, tidak akan bengkok kalau dinaiki sehelai bulu.”

 

Krystal memukul lengan Minhyuk diikuti cengiran lelaki itu. Yah, dengan sedikit takut-takut tapi ingin mencoba, Krystal ikut juga. Tidak terlalu buruk memang, Minhyuk terlihat sudah mahir mengendarai walau ada Krystal di depannya. Meski sepanjang jalan gadis itu sama sekali tak berani bergerak.

 

“Kenapa kau bisa ada di sekitar rumahku? Darimana kau tau rumahku?” tanya Krystal begitu Minhyuk mengunci jeruji sepedanya.

 

“Nanti sampai rumah, keluarlah ke balkon kamarmu.” jawab Minhyuk.

 

“Kenapa dengan balkon kamar?” gadis itu masih saja penasaran.

Minhyuk hanya menaikkan bahunya lalu berjalan ke kelas. Krystal berhenti sejenak, menggigit bibir bawahnya lalu menaikkan bahunya seperti yang Minhyuk lakukan. Ya, dia suka kejutan.

 

 

“Ya, kenapa cemberut?”

 

Jungshin menyodorkan segelas jus dingin ke depan Krystal yang tengah bengong sendirian di kantin. Krystal hanya menggeleng lalu mengaduk jusnya dengan tidak bersemangat.

 

Jungshin menusuk pipi Krystal dengan telunjuknya, “Tidak panas. Kau tidak demam.” katanya.

 

Krystal memanyunkan bibirnya. Tentu saja tidak, begitu batinnya. Dia langsung meminum jusnya ketika Jungshin bertanya ada apa dengan wajahnya yang kusut begitu. Krystal hanya menggeleng.

 

“Eii, ku kira kau anak yang ceria setelah kemarin kau tebar senyum di kelas.” cibir Jungshin yang langsung mendapat pelototan dari Krystal.

 

“Aku hanya sedang.. Tidak enak hati.”

 

“Wae? Aku salah membeli jus?” tanya Jungshin. Krystal menggeleng. “Lalu?”

 

Gadis itu mengambil napas berat setelah beberapa lama diam, “Memangnya aku jelek ya?”

 

Jungshin mencibir lagi, “Lalu kau merasa cantik?”

 

“Maksudku–”

 

“Tentu saja.”

 

Jungshin dan Krystal menoleh bersamaan ke sumber suara yang menyahut barusan. Minhyuk.

 

“Dia kan seorang putri, jadi pasti cantik.”

 

“Hah??” Jungshin melongo. Krystal sama saja, tapi dengan pipi memerah.

 

Minhyuk tersenyum, lalu ikut duduk bersama dua makhluk yang kompak memberinya mulut mengangga heran.

 

“Aku hanya bercanda, tutup mulut baumu itu.” tunjuk Minhyuk ke Jungshin. “Wae? Kau masih sakit?” pandangannya beralih ke Krystal. Krystal menggeleng.

 

“Sepertinya banyak yang tak menyukaiku disini.” Krystal akhirnya bercerita, dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Jungshin sampai harus mendekatkan telinganya.

 

“Wae? Nugu? Aku menyukaimu.” serobot Jungshin, 2 pasang mata langsung menatapnya intens, “Ma.. Maksudku aku bukan yang termasuk tidak menyukaimu. Hehehe..” cengirnya.

 

“Aku mendapat ini tadi pagi di lokerku.” Krystal mengeluarkan kertas putih yang dari tadi terselip di saku jasnya. Jungshin langsung menyautnya tanpa permisi.

 

“Jauhi pangeran kami, gadis jelek!” Jungshin menaikkan alisnya saat membaca tulisan merah yang ditulis memakai lipstick itu. Krystal menunduk.

 

“Tidak perlu dipikirkan,” Minhyuk menepuk tangan Krystal, “Anak-anak disini memang suka menyambut murid baru dengan cara yang agak aneh.”

 

Jungshin langsung mengangguk semangat, “Benar, Hyuna dulu juga pernah disuruh mencatat nama seluruh siswa disini lengkap dengan nomer sepatu dan nama kakek nenek mereka. Ckckck..”

 

Krystal tersenyum, “Untung aku tidak dikerjai separah itu.”

 

Minhyuk mengacak rambut Krystal, “Aigoo, kau cantik begini kenapa mereka mengataimu jelek, ya?”

 

Pipi Krystal makin merah.

Jungshin mengeplak(?) jidat Minhyuk, “Dasar tukang rayu!”

 

 

Minhyuk menunggu Krystal di depan gerbang sekolah. Dia memaksa Krystal untuk pulang bersama, walau sedikit tak enak akhirnya gadis itu mau juga. Namun hingga 30 menit Krystal belum muncul juga. Pamitnya akan ke toilet dulu. Minhyuk mengamati lalu lalang yang makin renggang, namun Krystal tak kunjung keluar.

 

“Sunbaee~~”

 

Demi Neptunus penguasa lautan, bulu kuduk Minhyuk langsung berjingkat begitu mendengar suara centil itu. Dia menoleh ke belakang, 3 siswi berpenampilan seperti model yang overdosis makeup tengah memelintir rambut sambil memandangnya.

 

“Ne?” Minhyuk mencoba menahan rasa takutnya. Bukan apa-apa, dia sejak kecil takut dengan badut dan 3 gadis di hadapannya malah berdandan layaknya badut.

 

“Sunbae sedang apa disini? Menungguku ya?” celoteh siswi dengan nama ‘Lee Ahreum’ di seragamnya.

 

“Minggir! Dia menungguku! Bukan kau!” serobot temannya. Jimin.

 

“Ya!” siswi yang bercokcek itu menoleh ke suara datar bercampur dingin yang datang dari samping mereka. Minhyuk mengikuti pandangan mereka. Suzy.

 

“Suzy sunbae, Suzy sunbae!” bisik Ahreum, mereka langsung menyingkir melihat Suzy melipat tangannya di dada.

 

Minhyuk menghela napas, lalu kembali fokus menunggu Krystal. Suzy tersenyum lalu menghampirinya.

 

“Minhyuk-ah–”

 

“Mwol?” potong Minhyuk cepat. Suzy tau kalau Minhyuk masih belum bisa memaafkan kesalahannya.

 

Ya. Kesalahannya. 2 minggu lalu Suzy meminta Minhyuk mengantarnya mencari buku referensi pelajaran, tapi yang Suzy lakukan malah berbelanja ria di toko-toko yang dia sukai. Bahkan tak satupun toko buku yang dia masuki. Minhyuk merasa tertipu, dia tidak marah. Hanya sedikit jengkel. Sampai di rumah dia harus tidur sampai terlambat bangun karena kelelahan berputar-putar menemani Suzy.

 

“Kau masih marah?”

 

“Aniya.”

 

“Benarkah?” Suzy menyahutnya dengan suara ceria. Minhyuk hanya mengangguk.

 

“Tapi.. Kau masih berwajah datar begitu.” Suzy mencubit pipi Minhyuk sampai terkewer-kewer(?).

 

“Ya!” Minhyuk menurunkan tangan Suzy, “Aku tidak marah lagi, hanya kepanasan menunggu seseorang.” balas Minhyuk lalu mengecek arlojinya. 45 menit sudah.

 

“Nugu? Ah, daripada kau menunggu yang tak pasti lebih baik antar aku pulang? Hm?” Suzy meraih lengan Minhyuk.

 

“Aku sudah buat janji dengannya. Lagipula mobilmu sudah bertengger daritadi.” tunjuk Minhyuk ke hyundai hitam yang terparkir tak jauh darinya.

 

“Tapi Minhyuk-ah..”

 

“Oh! Krystal!” Minhyuk melambaikan tangannya ke Krystal yang akhirnya muncul dengan… Penampilan acak kadut.

 

Minhyuk langsung menyandarkan sepedanya dan menghampiri Krystal, meninggalkan Suzy dengan giginya yang bergemeletuk.

 

“Kau kenapa? Apa yang terjadi?”

 

Krystal hanya menggeleng. Badannya basah, mulai dari rambut hingga sepatu. Seragam putihnya terlumuri air berwarna biru dan jas hitamya lengket. Minhyuk melepas jas Krystal lalu memberikan jasnya sendiri.

 

“Kita pulang.”

 

Minhyuk mengambil sepedanya. Dia tak sadar kalau dari tadi Krystal menatap Suzy dengan pandangan jengkel yang dibalas Suzy dengan kilatan marah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-TBC-

 

 

 

 

 

Note : Sebenernya Chanyoung itu ketua kelas atau ketua osis sih? Anggep aja ketua osis ya #maksa. Ada typo? Maklumi saja. Bahasa aneh? Plis tahan saja. Kata-kata amburadul? Jangan protes. Saya tak bisa jauh dari kesomplakan(?). Alur cepet? Maafin deh. Kependekan? Emang diniat begitu *digebukin*

26 thoughts on “Man In Love

  1. Sumpah Thor saya bener2 ngakak pas adegan minhyuk dan soojung kecil ! Apalagi pas soojung bilang minhyuk ompong… Jadi saya bayangin aja minhyuk kecil dengan gigi ompong dan akhirnya saya nggak bisa berhenti ketawa thor..
    Tapi pas adegan minhyuk & soojung kecil kejar2an itu .. Saya juga pernah ngalamin nya thor sampe saya sama temen cowok saya nyungsep(?) ke got*Curhat*
    Yang terpenting ceritanya daebakk thor ! Ditunggu kelanjutannya ya thor🙂

  2. soojung jd korban pembully’an di sekolah :O :O andwaee…. suzy cs kejem bangett sm eonnie gw -_- next thorr,, jangan lama” tp klo lama jga gppa asal ampe tamat aja ff’ny ^^ semangattt thorr

  3. daebak.. bagus thor ceritanya..
    cuma aku penasaran kenapa krystal bisa lupa sama minhyuk?
    lanjut ya thor…
    jgn lama lama.. ^^

  4. annyeong author-nim, Red Pumpkins-ssi
    ceritanya bsgus bikin penasaran, ya walau alurnya sedikit…(seperti ktamu sndiri ya, mianh). tpi ceritanya bagus, klo boleh saran nih, to lain kali to cast antagonisnya klo bisa OC aja ya, jngn pkek nama idol, cz idol kan mmpunyai fans, jd ga enak ja klo mpe baca idolnya kebagian peran antagonis, (hehe peace!). Gomawo krn sudah mengkaryakan sebuah ff yg bagus ini, keep writing about hyukstal story ya, ditunggu terus, gomawo..

  5. Krystal ilang ingatan ya
    Dan minhyuk harus bs buat krystal inget lg
    Unyuuuuuuk sih bagian minhyuk yg perhatian ma krystalnya
    Cerita ringan yg cukup menghiburlah
    Aku jg kangen couple ini parah
    Ditinggi lanjutannua ya

  6. Whaha ngakak lah,ane lg galon baca ini jadi semangat😀 good job thor,suka ko alur nya,bahasanya juga enak(?),lucunya pas flashback masa kecil,minhyuk ompong masa😄 terus ital gede nya polos oon gitu😄 KEREN thor lanjut yak (y)

  7. woo seru nih ff nya hahaha
    ilfeel bgt deh sm bae suzy dan teman2nya itu -__- ditunggu update selanjutnya thor!^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s