Mianhae, My Fiance (Part 1)

Mianhae. . . My Fiance

 

Mianhae… My Fiance [part 1]

 

Title: Mianhae… My Fiance [part 1].

Author                 : Afa Fhaa.

Rating                   : PG – 13.

Genre                    : AU, Romance, Friendship, Family.

Length                  : Chaptered.

Chasts                   :

–          Jung Soo Jung [Krystal]

–          Kang Minhyuk

–          Park Shinhye

–          Choi Jinri [Sulli]

–          Jung Yonghwa

–          Lee Jungshin

–          2 Girls (OCs)

–          Other.

Disclaimer         : inspired Tan – Rachel at Heirs. Please don’t be plagiat and silent readers. Be good readers 0k! J. Leave a comment.

Note                      : Disini nggak aku bikin Minhyuk pov, hanya Soojung pov dan normal pov karena aku ingin menuliskan seluruh perubahan perasaan Soojung, bagaimana ia menyadari perasaan Minhyuk.

 

***

Terimakasih sudah mengajarkanku akan arti cinta yang sesungguhnya.

Walaupun ini berasal dari paksaan orang tua kita, kau mau belajar mencintaiku apa adanya.

Maaf jika aku membuatmu bingung dan lelah selama ini.

Aku tahu sulit melupakannya.

Aku benar-benar menyesal tak pernah mencobanya.

Tak pernah peduli dengan rasa perih dihatimu karena sikapku yang tak pernah menghargaimu.

Jung Soojung.

 

Jung Soojungpov

 

“Soojung, jangan bawel. Cepat rias dirimu secantik mungkin!”. Teriak Ommaku dari kamar sebelah yang membuatku muak semuak-muaknya, akh.. benar-benar menyebalkan. Diusiaku yang ke -17 aku harus bertunangan? Yang benar saja. Aku bahkan tidak tahu dengan siapa diriku akan bertunangan. Seperti apa dia. Tampan atau buruk. Gelap akh.. Menyebalkan. Tapi apa daya, aku tak bisa menolak hal ini. Lihat saja nanti kalau orangnya jelek aku akan bersikap kasar dan buruk.

Sebal, aku membuat dandananku kacau. Memakai bedak tak rata, lipstic yang  berwarna merah mencolokpun belepotan dibibirku. Aku mengikat rambutku asal. Bah!! Tak peduli sejelek apa diriku, aku bahkan tak sudi mengecek penampilanku lagi dicermin. Mengerikan, kuharap aku seperti itu. Langkah-langkah Ommaku terdengar menuju kamar. Kemudian aku mendengar suara pintu yang berdenyit saat dibuka.

“Soojung, kau sudah siap?”. Aku menoleh mendengar suara khas Ommaku.

“Soojung, apa yang kau lakukan? Apa aku perlu memanggil penata rias? Heoh.. dasar gadis gila.”

“Omma, menurutku aku terlihat cantik kok dengan dandanan seperti ini”. Jawabku dengan senyum manis. Ommaku hanya bisa berdecak kesal. Tapi kemudian ia mengeluarkan hpnya, sepertinya sedang menelepon seseorang.

“Yobseo, bisa kau kesini sebentar. Tolong bawa alat make up yang paling bagus”.

“Omma!!”. Teriakku kaget kalau ternyata Ommaku menelepon penata rias.

“Kau diam saja, sudah kubilang berdandanlah yang cantik”.

“Omma.. Ok aku akan berdandan cantik tapi jangan memanggil penata rias, Jebal Omma”. Rajukku yang sudah jelas tak mungkin berhasil.

15 menit setelah Ommaku menelepon penata rias, akhirnya penata rias itu datang.

Penata rias itu mengamati wajahku yang mengerikan karena belum kubasuh –yang sebenarnya kusengaja-. Ia menghapus jejak make up diwajahku.

“Tanpa make up saja kau sudah cantik Soojung, tapi mengapa Ommamu menyuruhku?”. Kata penata rias –Well, aku belum tahu namanya, dan tak berniat untuk tahu- itu sambil mengamati wajahku yang sudah bersih dari make up.

“Karena itu jangan memakaikan satu jenis alat make up padaku sedikitpun, bahkan bedak dilarang”. Jawabku cuek.

“Baiklah, tapi aku harus tetap terlihat bekerja. Pakailah Dress ini”. Katanya sambil menyodorkan Dress selutut tanpa lengan.

“aku akan mengatur gaya rambutmu agar terlihat lebih cantik”. Jawabnya lagi.

***

Aku hanya bisa mendesah sebal melihat pantulan wajahku dicermin. Penata rias itu tetap saja keras kepala memakaikanku bedak. Ia juga menata rambutku sehingga terlihat rapi. Katanya agar ia terlihat bekerja. Entah mengapa aku membenci diriku yang terlihat cantik hari ini. Karena aku terlihat cantik maka aku akan merusak pertemuan ini dengan wajah yang ditekuk dan bersikap sekenaknya. Aku tak peduli dengan konsekuensi yang bisa timbul akibat ulahku ini.

“Soojung, kau sudah siap”. Teriak Ommaku dari luar kamar.

“Sudah Omma”. Jawabku sambil berjalan keluar kamar.

“Wah.. kau cantik sekali hari ini”. Jawab Ommaku begitu melihatku.

“Kupikir aku terlihat cantik setiap hari”

“Sudah jangan bawel, cepat Appamu sudah menunggu dari tadi”.

“Appa, tak bisakah kita membatalkannya?”. Tanyaku begitu masuk kedalam mobil.

“Jungie, santailah sedikit. Ini tidak akan membunuhmu, ini akan menjadi aset yang banyak untuk perusahaan kita. Saham kita akan melonjak tinggi. Lagipula Appa ingin mempererat hubungan persahabatan dengan Tuan Kang”.

“Jadi maksud Appa aku dijadikan tumbal, Tskk.. Memangnya aku apa eoh?”. Jawabku sebal.

Dalam perjalanan aku mengirim pesan pada Shinhye Unnie yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Ia adalah pacar Yonghwa Oppa yang notabene sepupuku yang paling dekat denganku.

 

To : Shinhye Unnie

 

“Unnie.. besok kau ada waktu, aku ingin curhat”

 

5 menit setelah aku mengiriminya pesan ia baru membalas.

 

From : Shinhye Unnie

               

“Entahlah besok aku ada kencan dengan Yonghwa Oppa, kau mau ikut? Kau bisa menceritakan masalahmu pada kami”.

 

                To : Shinhye Unnie

“Tskk.. Jadi obat nyabuk nanti aku”.

                From : Shinhye Unnie

 

“Tak apa Jungie, bukankah kau sering melakukannya?”

 

                To : Shinhye Unnie

 

“Kau menyindirku eoh? Ayolah unnie, batalkan saja kencanmu. Ini penting!”

                From : Shinhye Unnie

“Tak apa, jika bukan karena kau kami mana mungkin bisa berpacaran Soojung”

                To : Shinhye Unnie

 

“Besok kau akan pergi kemana?”.

                From : Shinhye Unnie

 

“Lestoran biasanya tempat kita curhat dulu”.

 

To : Shinhye Unnie

 

“Gumawo.. Unnie”. Aku lega akhirnya aku bisa curhat juga.

***

Normal pov

Makan malam dua keluarga ini tetap berlangsung. Baik Soojung maupun lelaki yang akan dijodohkan dengannya –Minhyuk- hanya berdiam diri. Masih tak terima dijadikan tumbal pesugihan untuk memperbesar saham perusahaan orang tua mereka. Bahkan keduanya tak melihat satu sama lain. Tak ada yang berniat mengetahui wajah orang yang akan dijodohkan dengannya. Mereka hanya diam saja mendengar perkataan orang tua mereka yang begitu bersemangat dengan perjodohan –yang menurut mereka- gila ini.

“Akh.. Kau yang bernama Soojung”. Tanya ibu Minhyuk pada Soojung.

“Ne. . ”. Jawab Soojung singkat dan jelas menunjukkan ketidaknyamanan.

“Kenapa kau tak melihat wajah tunanganmu Jungie -ya”. Jungie –ya? Itu membuat Soojung mual, sok akrab sekali orang tua ini, pikirnya.

Soojung mencoba melihat seperti apa wajah -calon- tunangannya itu. Minhyuk sendiri juga sedang melihatnya karena desakan ibunya. Sesaat kedua mata itu bertemu. Tapi keduanya langsung mengalihkan pandangan.

“Hmm.. kau suka makan malam ini, Soojung -ssi”. Minhyuk mencoba membuka percakapan dengan Soojung.

“Kau terlihat cantik!”. Kata Minhyuk kemudian.

“Ara. .”. Jawab Soojung cuek, tanpa menatap Minhyuk.

“Jungie, jangan begitu dong, bagaimanapun ia adalah calon pendampingmu, bukankah ia tampan?”. Kata ayah Soojung.

“Jadi kapan peresmian pertunangan ini berlangsung?”.

“Bagaimana kalau minggu ini, makin cepat makin baik”.

Soojung hanya bisa menahan mual dan bosannya mendengar perkataan orang tuanya, jujur dalam hati ia ingin sekali menangis, melarikan diri dari kenyataan. Ia ingin segera pulang dan menangis sepuas-puasnya.

“Soojung, kau mau kemana?”. Tanya Ommanya begitu menyadari ia meninggalkan meja mereka.

“Kamar mandi, aku ingin menangis sekarang”. Soojung mulai berjalan meninggalkan meja yang rasanya seperti neraka baginya. Ia tak peduli dengan teriakan Omma, dan Appanya. Yang ia peduli hanyalah membuat dirinya kembali tenang. Air matanya mulai mengalir dipipinya.

Didepan kaca dalam kamar mandi ia memandangi bayangannya. Ia hanya bisa tersenyum sedih, betapa kacaunya ia hari ini.

 

Jung Soojung pov

 

Aku benar-benar merasa kacau hari ini, aku benci paksaan, aku benci perjodohan. Memangnya ini jaman apa. Aku merasa semuanya tak adil. Aku benci kenyataan bahwa aku ada untuk dijual. Yah.. aku dijual untuk memperbesar saham keluargaku. Aku membencinya, benar-benar benci pada kenyataan yang buruk ini.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas kecilku. Aku ingin segera lari dari kenyataan ini. Kuketik sebuah pesan untuk Shinhye Unnie.

 

To : Shinhye Unnie

 

Unnie, kau sedang sibuk? Bisa kau jemput aku? Aku ada dilestoran di jalan Cheongdam –dong.

 

From : Shinhye Unnie

 

Mian.. Soojung, aku sedang ada dikampus. Tugasku banyak untuk persiapan besok.

 

***

Sepertinya hari ini aku benar-benar sial. kutelepon Jinri – sahabatku satu-satunya -. Air mataku bahkan tak bisa berhenti.

“Yobseo.. Ada apa Jungie”.

“Jinri –ya, kau ada dimana, apa kau sibuk?”

“Sebentar Jungie, aku tidak bisa mendengar dengan jelas, disini ramai, aku ke toilet dulu”. Aku menunggu Jinri berbicara lagi.Beberapa detik kemudian aku baru mendengar suaranya.

“Jungie tadi kau bilang apa?”.

“Kau dimana, apa kau sibuk”.

“Jungie, kau kenapa? Apa kau menangis”. Katanya menyadari ada keanehan dalam suaraku. Tapi suara Jinri terdengar keras, seperti bukan ditelepon, kemudian kurasakan tangan seseorang menepuk pundakku.

“Jungie.. Waeyo? Uljima”. Begitu melihat Jinri yang menepuk pundakku aku langsung memeluknya erat.

“Jinri –ya.. Ottoke?”.

“Ada apa Jungie, hentikan dulu tangisanmu. Cerita padaku. Apa kau ada masalah?”. Tanyanya sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku tak peduli lagi dengan orang-orang yang memandangi kami heran. Aku mencoba menghentikan tangisanku. Jinri mengeluarkan tisu dari tasnya kemudian mengusapkannya diwajahku.

“Basuh dulu mukamu, kau sangat jelek”. Ujarnya bercanda. Aku menuruti perkataan Jinri.

“Ayo kita keluar dulu. Baru kemudian curahkan semua masalahku padamu”.

“Jinri -ya”. Aku menghentikan langkahku sehingga mau tak mau ia harus ikut berhenti –tangannya memegang tanganku-.

“Jangan sampai kita ketahuan Omma dan Appaku”. Kataku memelas.

“Kau ingin tidak ketahuan? Tak apa kubantu”. Kata seseorang pria – aku belum melihat wajahnya, tetapi jelas itu suara pria –.

 

Normal pov

 

“Pakai jaket ini,pakaianmu terlalu terbuka. Lain kali jangan memakai pakaian yang terlalu menampakkan kulitmu, aku tak menyukainya”. Soojung menoleh mendengar suara itu yang ternyata Minhyuk. Minhyuk tanpa basa-basi langsung memakaikan jaket ditangannya pada tubuh Soojung.

“Kau terlihat lebih cantik dengan pakaian tertutup. Aku tak suka melihat laki-laki lain memperhatikan tunanganku”. Kata Minhyuk sambil memperhatikan Soojung. Jinri hanya bisa melongo melihat pemandangan didepannya.

“Nugu.. ?”. Tanya Jinri heran dengan jari menunjuk pada Minhyuk. Tapi ia merasa familiar dengan wajah didepannya.

“Akhh.. aku tunangannya. Apa kau teman dekat Soojung?”.

“Oh.. tapi kapan kalian bertunangan? Bagaimana mungkin aku tak tahu?”.

“Pertunangan kami belum diresmikan, ini masih dalam rencana. Mungkin minggu depan”. Soojung hanya diam saja mendengar percakapan Minhyuk dengan Jinri. Ia heran bagaimana bisa Minhyuk langsung menerimanya begitu saja. Bahkan mereka baru bertemu 45 menit yang lalu.

“Aku tahu kau pasti merasa tertekan dengan pertunangan ini”.

“Ayo kubantu pergi dari sini, kau ingin kemana”. Soojung hanya menuruti Minhyuk. Ia masih belum mengerti situasi jadi ia hanya menurut saja. Tangan Minhyuk memeluk bahunya, ia merasa canggung dengan perlakuan Minhyuk.

“Apa kau mau ikut?”. Tanya Minhyuk pada Jinri. Minhyuk menolehkan kepalanya sedikit untuk memandang Jinri yang ada dibelakangnya.

“Ok.. tunggu sebentar aku akan tanya kakakku bisa kau tunggu aku didepan”.

“Tak masalah”. Jawab Minhyuk. Minhyuk dan Soojung berpisah dengan Jinri. Jinri berjalan kemeja nomor 13. Sedangkan Minhyuk dan Soojung meja 1.

“Bisa kau lepas pelukanmu, aku tak menyukai ini”. Kata Soojung yang merasa risih dengan nada kethus.

“Jika kau mau keluar dari sini menurut saja”.

“Omma, Appa bisa aku pergi dengan Soojung. Aku ingin mengenalnya secara personal”. Kata Minhyuk begitu jarak mereka sudah dekat dengan meja yang dipesan keluarganya dengan keluarga Soojung. Keluarga mereka heboh melihat Minhyuk memeluk Soojung.

“Tak apa, kami akan senang jika kalian bisa langsung akrab”

“Waw.. kalian baru pertama bertemu tapi langsung akrab ya?”

“Benar-benar serasi”

Minhyuk hanya tersenyum mendengar lontaran kata-kata yang diucapkan keluarganya. Sedangkan Soojung hanya memasang tampang datar. Serasi apanya eoh?, pikir Soojung.

Mereka berjalan keluar dari lestoran mewah itu.

“Jungie..”. teriak Jinri dari belakang, membuat Soojung dan Minhyuk menoleh.

“Tunggu aku”. Teriak Jinri lagi, ia buru-buru memasukkan handphonenya kedalam tas kecil miliknya.

“Unnie… aku duluan ya. Maaf aku tak bisa menemanimu lebih lama”. Kata Jinri pada dua gadis didepannya.

“Minhyuk –ssi. Bisa kau lepas pelukanmu, aku merasa tak nyaman”. Kata Soojung sambil berusaha melepas tangan Minhyuk dari bahunya.

“Tetaplah seperti itu sampai kita keluar lestoran, atau kau mau kembali duduk”. Mata Minhyuk memandang tajam kearah Jinri, bukan.. bukan.. Jinri tapi gadis lain yang ada didekat Jinri.

“Arraseo..”. Jawab Soojung.

“Kajja..”. kata Jinri.

“Kalian mau kemana, aku pergi dulu oke”. Kata Minhyuk begitu sampai diluar lestoran, ia melepaskan pelukannya pada Soojung.

“ok..”. Jawab Jinri karena Soojung sibuk sendiri dengan ponselnya. Sebelum pergi Minhyuk mengecek dulu apa yang dilihat Soojung dihandphonenya.

“Aish.. kau berkirim pesan dengan pacarmu, dasar tidak setia. Apa aku kurang tampan? Kuharap kau memutuskannya”. Kata Minhyuk setengah bercanda begitu mengetahui kalau Soojung sedang membuka line. Sebenarnya Minhyuk tak tahu tentang hal apa yang dibaca Soojung. Ia hanya tau kalau Soojung sedang membaca pesan. Soojung menoleh menatap Minhyuk.

“Kupikir ini adalah cara cepat untuk memutuskan pertunangan ini”. Jawab Soojung.

“Kuharap itu tidak akan berhasil”

“Yah.. Kang Minhyuk”. Teriak Soojung yang kemudian kembali fokus pada Hanphonenya.

“Good bye chagi, see you later”. Kata Minhyuk yang disusul dengan gerakan tangan kanannya menarik tangan kiri Soojung kemudian mengecupnya. Minhyuk langsung berlari cepat setelah itu, meninggalkan Soojung yang menatapnya tajam atas tindakan kurang ajarnya.

“Jungie… sepertinya Minhyuk menyukaimu”. Kata Jinri yang dari tadi mengamati sikap Minhyuk pada Soojung.

“Molla.. jinri –ya. Aku tidak ingin peduli. Bahkan kalau bisa aku ingin membatalkan hal ini”.

“Kau gila, Minhyuk tampan dasar bodoh. Kenapa kau bersikap jual mahal”.

“Aku.. aku.. hanya tidak bisa terima Jinri –ya. Bagaimana mungkin orangtuaku mengorbankanku hanya untuk sebuah saham? Aku merasa aku seperti sedang dijual”. Seketika tangis Soojung meledak.

“Sudahlah Soojung, taksi sudah datang. Kau bisa melanjutkan tangismu nanti”. Jinri segera melambai-lambaikan tangannya pada taksi yang mendekat kearah mereka. Didalam taksi Soojung melanjutkan kembali curhatannya

“Kau.. kau enak bisa memilih dengan siapa kau ingin menghabiskan waktumu dikehidupan ini. Kau enak bisa dengan bebas mendekati Jungshinmu itu. Kau bisa bebas mencintai orang lain. Aku iri padamu. Yong oppa juga beruntung, ia bisa berpacaran dengan Shinhye Unnie. Andai aku bisa bertukar posisi”. Soojung menghela napas panjang, tangisnya masih belum reda juga.

“Aku bahkan belum pernah berpacaran, Jinri kurasa aku lebih baik pulang saja. Aku ingin menenangkan diri dulu”. Kataku sambil mencoba menghentikan tangisan.

“Ok… don’t cry again baby Jung”

“Gumawo, Jinri –ya. Sudah mau mendengar keluhanku”.

Soojung menyuruh sopir taksi itu untuk menuju rumahnya. Sesampai dirumah Soojung langsung keluar dari taksi, kemudian berjalan kedalam rumah. Saat kedua irisnya menangkap bayangan tong sampah, ada sebuah pikiran melintas diotaknya. Ia melepas jaket yang tadi diberikan Minhyuk kepadanya, dan langsung memasukkannya ketong sampah.

Beberapa detik kemudian handphonenya bergetar tanda ada pesan. Soojung lebih memilih berjalan kedalam kamarnya dari pada mengecek isi pesan. Gadis itu langsung menghempaskan tubuh kekasur begitu sampai dikamar. Kemudian ia mengecek ponselnya, 2 pesan masuk.

 

From : Shinhye Unnie

 

“Jungie… sepertinya aku tak bisa menemanimu besok. Mian, tugasku terlalu banyak”

 

Dan satunya lagi dari nomor asing.

 

“Hai.. Fiancee, What are you doing? Kuharap kau tidak sedang menangis. Oh.. juga kuharap kau tidak membuang jaketku, itu jaket mahal. Aku lupa didalamnya ada sebuah cincin. Kumohon jaga baik-baik”.

 

Soojung hanya bisa berdecak kesal membaca dua pesan yang masuk kehandphonenya. Ia juga sudah bisa menebak nomor asing itu milik siapa. Ia merasa sepertinya tak perlu membalas pesan itu. Gadis itu lebih memilih membuka game angry bird dihandphonenya untuk menghilangkan rasa mangkelnya. Sialnya lagi, handphonenya bergetar lagi.

 

Dari nomor asing tadi.

 

“Hmm.. janji jangan buang jaketku, itu sangat penting”.

 

Ada yang bisa menebak sesuatu?

Hmm.. oke ini ff pertamaku –sebelumnya aku hanya menulis cerpen-. Maaf kalau jelek. Kalau responnya bagus aku akan lanjutin, kalau nggak aku bakal berhenti. Tolong tinggalkan komentar, agar aku bisa memperbaiki kesalahan.

Btw, ini terlalu pendek ya? Mian aku lagi kehabisan ide. Bahasanya nggak rapi juga? Namanya juga baru belajar.Sorry for typo ;p. thanks for read.   

 

17 thoughts on “Mianhae, My Fiance (Part 1)

  1. Sumpah … Penasaran bgt saya thor sama kelanjutannya ?
    Pliss thor d’lanjutin secepatnya ya thor dan saya akan selalu menunggu kelanjutannya thor *TampangMelas(?)*
    Aku selalu suport author jadi fighting Author-nim🙂

  2. Lanjutin thor, FF mu seru dan bikin penasaran..
    Aku selalu suka FF hyukstal krna jarang bgt nemuin FF mereka😀
    Next part nya aku tunggu loh thor, fighting😉

  3. perjodohan? sebenarnya aku masih penasarang sama orang yang di tatap tajam sama minhyuk? mantannya kah? pacarnya kah? atau siapanya?
    dilanjut ya thor aku suka karakter keduanya :0

  4. Lanjut thor~ ceritanya bener2 bikin penasaran.. tp kenapa ga di bikin Minhyuk POV nya thor? kan biar bisa tau apa yg dipikirin sama Minhyuk..😉 bahasanya udah bagus kok thor, cuma terlalu pendek aja ceritanya.. kalo bisa next chapter di panjangin ya thor ceritanya~ Hwaiting!! ‘0’9

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s