5 Songs Challenge : Untitled

2db1c73e5d887804f6b36bf90d608c29

Author : Hanna Moran

Genre : Songfic – General

Cast : Jung Yonghwa – Lee Jonghyun- Kang Minhyuk – Lee Jungshin

Note: Thank you to all the singers for the song for this song challenge, it’s so inspiring😀

For readers, happy reading ;D

****

 

This is your travelling song,
And on the window of the train,
With your finger write my name.

I hope you find everything you need.

-Traveling Song, Passanger-

 

Minhyuk mengenggam tangah Hye ditengah keramaian stasiun utama kota Seoul, dengan alasan tak ingin kerepotan mencari Hye jika perempuan bertubuh mungil itu tersesat diantara ratusan orang disana. Tak ada yang berbicara satupun diantara mereka, mereka berkutat dengan pikiran masing-masing, Hye yang tak sabar memulai perjalanan impiannya, dan Minhyuk yang masih berberat hati membiarkan Hye pergi.

Hye, datang dari Daegu dan menginap di guest house milik keluarga Kang selama empat hari tiga malam, dan selama itu juga Hye berhasil mengambil alih sebagian besar hati Minhyuk. Hye akan meneruskan perjalanan impiannya berkeliling Korea seorang diri, lalu ia akan melakukan perjalanan kebeberapa negara di Asia dan benua Eropa. Hye, ingin melihat apa yang tak pernah ia lihat, membuktikan apa yang selama ini hanya bisa ia dengar dari cerita-cerita orang, menginjakan kakinya ditempat yang asing dan bertemu dengan jutaan manusia lainnya, dan yang terpenting baginya ia ingin merasakan kebebasan dan ia ingin mengenal dirinya lebih jauh dan menemukan tujuan hidupnya.

“Kapan kau akan kembali?” Tanya Minhyuk

“Mungkin nanti, saat aku sudah bosan dengan kebebasan, sudah mengenal siapa diriku, dan sudah tahu tujuan hidupku”

“Hubungi aku setiap kali kau sampai di tujuanmu” Kata Minhyuk menatap Hye

“Tidak, aku tidak ingin kau atau siapapun menghubungiku. Aku tidak ingin ada yang menungguku pulang” Minhyuk mendesah frustrasi mendengar jawaban keras kepala Hye, akhirnya ia mengabulkan permintaan Hye untuk tidak menghubunginya.

Langkah mereka sampai didepan pintu kereta, Minhyuk semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Hye.

Ia menatap lekat wajah Hye yang entah kapan bisa ia temui lagi. Lalu Minhyuk mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah ipod nano kesayangannya, ia memberikannya pada Hye, Minhyuk menyelipkan headsetnya pada kedua telinga Hye.

“Bila kau rindu ingin pulang, dengarkanlah lagu ini. Ingat, akan ada aku yang selalu menunggumu pulang” Ucap Minhyuk sebelum menekan tombol “play” dan lantunan lagu yang dibawakan oleh Passanger, penyanyi kesukaan Minhyuk dengan judul Let Her Go mengalun. Hye memeluk Minhyuk, Minhyuk memeluk Hye dengan erat, tak ingin melepaskannya pergi, Minhyuk mengecup kening Hye sebagai ucapan perpisahan.

“Jaga dirimu baik-baik” Ucap Minhyuk mengusap puncak kepala Hye. Lalu Hye masuk kedalam gerbong, ia duduk disebuah kursi tepat disamping jendela, Minhyuk berdiri disisinya, mereka terpisahkan oleh jendela kereta.

Hye meniup-niup jendela kereta hingga jendela beruap, lalu telunjuknya menuliskan sebuah nama di sana, Kang Minhyuk. Minhyuk tersenyum, ia terus memperhatikan Hye dan tak lama terdengar pengumuman bahwa kereta yang ditumpangi Hye akan segera berangkat.

Kereta mulai bergerak maju perlahan, Hye melambaikan tangannya pada Minhyuk, Minhyuk membalasnya, mereka saling memberikan senyum hingga laju kereta semakin cepat dan semakin jauh meninggalkan stasiun. Minhyuk berdiri mematung, memperhatikan rangkaian kereja yang nyaris menghilang dari pandangan.

“Nikmati perjalananmu, aku menunggumu pulang ” Ucap Minhyuk dalam hati.

***

 

We are meeting for the first time
We might never meet again, you and me
We are meeting for the first time can’t you see

-Moving to Mars, Coldplay-

Jungshin merasa bosan berada di dalam ruang perawatan kakeknya disalah satu rumah sakit di Seoul, setelah memastikan kakeknya sudah terlelap Jungshin beranjak berjalan santai di taman rumah sakit. Sore ini cukup cerah, banyak pasien yang juga berkeliling taman rumah sakit diantar oleh perawat atau keluarga mereka. Tapi mata Jungshin menangkap pemandangan lain, tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang gadis tengah asik membaca sebuah buku diatas kursi rodanya, tak ada perawat ataupun orang lain yang menemaninya.

Merasa penasaran, Jungshin mendekat.

“Permisi, boleh aku duduk disini?” Tanya Jungshin smabil menunjuk kursi taman yang kosong tepat disamping kursi roda gadis itu, gadis itu mendongak dan tersenyum.

“Tentu, silahkan duduk” Gadis itu mempersilahkan.

“Kau sendirian?” Tanya Jungshin

“Ya, kau sendiri apa sedang menjenguk keluargamu disini?” Gadis itu begitu ramah bahkan pada Jungshin yang asing baginya.

“Kakekku dirawat disini” Kata Jungshin.

“Aku Rim” Gadis itu mengulurkan tangannya.

“Jungshin” , Jungshin menyambut uluran tangan Rim. Jungshin memperhatikan wajah pucat Rim yang tetap diwarnai dengan senyum manisnya,tubuhnya terlihat kurus tapi entah kenapa Jungshin merasa gadis itu manis dan cantik. Tampaknya usia gadis itu tak berbeda jauh dengan Jungshin.

“Kau membaca apa?” Tanya Jungshin menatap buku dipangkuan Rim.

“ Ensiklopedi tentang Mars” Kata Rim, Jungshin tampak mengerutkan keningnya.

“Itukan bacaan anak sekolah dasar” ucap Jungshin ditanggapi tawa renyah Rim.

“Kau tahu, Mars itu sangat menarik dan penuh misteri. Aku sungguh-sungguh ingin pindah ke Mars” Rim tampak bersemangat.

“Kau harus menunggu ratusan tahun lagi sampai ada teknologi super canggih yang bisa membawa manusia pindah ke Mars”

“Terlalu lama menunggu seratus tahun lagi, aku ingin secepatnya saja supaya aku bisa menjadi satu-satunya penguasa Mars” Rim tertawa, dan tawa itu membuat Jungshin tampak kagum, ditambah semilir angin sore yang menerbangkan rambut panjang Rim, membuat suasana tampak begitu dramatis.

Tapi suasana dramatis itu tak bertahan lama karena tiba-tiba Rim terbatuk-batuk.

“Ini minumlah” Jungshin mengambil sebotol air mineral yang ia lihat ditaruh dibagian belakang kursi roda Rim. Rim meneguknya banyak-banyak tapi batuknya tak kunjung berheti, bahkan semakin parah.

“Apa kau membawa obatmu?” Tanya Jungshin, Rim menggeleng. Jungshin mulai panik ketika dilihatnya wajah Rim semakin pucat dan tubuhnya menjadi lemas, Rim tampak sesak nafas , tanpa pikir panjang Jungshin segera mendorong kursi roda Rim, membawanya ke unit gawat darurat untuk segera ditangani.

 

***

Rim sudah tertidur diruang perawatannya, tubuhnya diselimuti dengan selimut tebal, infuse segera dipasang bahkan selang yang mengalirkan oksigen telah terpasang dihidungnya. Nafas Rim tampak lebih cepat dari tempo nafas orang normal. Tampak Ibu Rim menemani disisinya setelah ia berterima kasih pada Jungshin karena telah menolong Rim. Akhirnya Jungshin pamit untuk kembali merawat kakeknya.

***

Esoknya Jungshin kembali keruang perawatan Rim untuk melihat kondisi Rim. Tak ada yang Jungshin temui selain ranjang kosong yang telah dirapikan. Dini hari tadi Rim menyerah pada kanker paru-paru yang sudah menyerangnya setahun terakhir. Seorang perawat memberikan Jungshin sebuah ensiklopedi tentang Mars yang dititipkan Rim sebelum ia pergi.

“Sampai Jumpa Rim, kau pasti sudah menjadi penguasa Mars sekarang” Batin Jungshin. Ia duduk di bangku taman yang sama yang dia tempati kemarin sore, mulai menenggelamkan diri membaca halaman demi halaman ensiklopedi dari Rim, mungkin suatu sata nanti Jungshin juga ingin tinggal di Mars dan menjadi penguasa Mars bersama Rim.

 

***

Will you still love me
When I’m no longer young and beautiful?
Will you still love me
When I got nothing but my aching soul?
I know you will
Will you still love me when I’m no longer beautiful?

-Young and Beautiful, Lana Del Rey-

 

Masih terlalu pagi saat Mina terbangun dari tidurnya, tapi seperti kebiasaannya ia takan bisa lagi tertidur pulas jika ia terbangun di tengah tidurnya. Pelan-pelan Mina menyingkap selimutnya dan turun dari tempat tidurnya. Ia menyingkap tirai, mengintip dari sedikit celahnya, terlihat langit masih terlihat berwarna biru tua kehitaman, hanya ada sedikit sinar matahari yang terlihat masih sangat jauh.

Sepasang tangan memeluk pinggang Mina, membuatnya merasa nyaman.

“Kenapa kau terbangun sepagi ini?” Jonghyun bertanya dengan suara parau dan meletakan dagunya di bahu Mina.

“Karena mimpi”

“Mimpi apa?” Tanya Jonghyun, matanya kembali tertutup tapi telinganya tetap siap mendengarkan.

“Dalam mimpiku, aku melihat sebuah cermin besar dan indah, aku melihat pantulan diriku disana. Rambutku putih, kulitku keriput, aku menjadi tua”

“Kau pasti sangat cantik” Ucap Jonghyun lalu mengecup pipi Mina dengan lembut.

“Apa ada aku di mimpimu?” Tanya Jonghyun, Mina mengangguk.

“Apa yang aku lakukan didalam mimpimu?”

“Kau memelukku seperti saat ini kau memelukku. Rasanya sangat hangat dan nyaman”

“Tentu saja, kau akan selalu merasa hangat dan nyaman bersamaku”

“Bagaimana kalau nanti kita beranjak tua, rambut kita memutih dan kulit kita keriput?” Tanya Mina

“Kita akan menjadi kakek dan nenek paling bahagia” Ucap Jonghyun.

“Apa kau tetap menyukaiku?” Mina tampak penasaran.

“Tidak, aku tidak akan menyukaimu tapi aku akan sangat mencintaimu, sampai rambutmu memutih, sampai kulitmu menjadi keriput, sampai kita tak bisa lagi berjalan” Jonghyun membalikan tubuh Mina menghadapnya, memeluk tubuhnya lebih erat dan mencium bibirnya.

Mereka melepaskan ciuman mereka tapi tak melepaskan pelukan masing-masing. Mata mereka saling memperhatikan satu sama lain.

“Kalau tua nanti, salah satu diantara kita menderita pikun, bagaimana?” Tanya Mina, Jonghyun tertawa ringan mendengar pertanyaan polos Mina.

“Aku pastikan kau satu-satunya ingatan yang ada dalam otakku”

“Janji?” Tanya Mina sambil mengacungkan jari kelingkingnya, tapi Jonghyun tak menghiraukannya, Jonghyun malah mengecup bibir Mina lagi, lalu mengecup keningnya lalu kembali mengecup bibir Mina, kali ini lebih lama dan dalam.

Jonghyun memeluk tubuh Mina dengan erat.

“Kau harus selalu ingat, apapun keadaanmu, bagaimanapun kita nanti, aku akan selalu mencintaimu. Selalu” Bisik Jonghyun, yang kemudian tampak menguap. Mina mengacak-acak rambut Jonghyun yang sudah berantakan.

“Tidurlah lagi, masih terlalu pagi”

“Aku tak bisa tidur” keluh Jonghyun.

“Kenapa?”

“Aku merasa kedinginan”

“Pakai selimutmu dengan benar, akan aku ambilkan selimut lain”

“Bukan, aku tidak butuh selimut. Aku butuh kau disampingku” Jonghyun menarik Mina kembali ke atas tempat tidur dan memeluknya hingga ia kembali terlelap.

***

I reach for you like I’d reach for a star
Worshiping you from afar, living with my silent love                                                                               Loving somebody somewhere, leaving me my silent love

-My Silent Love, Frank Sinatra-

Kyungji mengendap-endap di koridor sekolah yang sepi,sebuah kotak makan siang ia dekap erat. Pintu klub music sedikit terbuka dan Kyungji menyelipkan sedikit kepalanya, mengnitip keadaan didalamnya.

Yonghwa tengah duduk sendirian membelakanginya, tengah memetik gitarnya dan bersenandung kecil. Kyungji sedikit berjongkok dengan gerakan pelan, tak ingin membuat sedikit suarapun, tangannya dengan pelan masuk melalui celah pintu dan meletakan kotak bekal itu didekat pintu, dan dengan perlahan Kyungji memundurkan tubuhnya masih dengan diam-diam, hingga Yonghwa tak sadar ada orang lain di ruangan itu. Setelah merasa misinya selesai, Kyungji segera bangkit dan meninggalkan koridor sekolah, juga meninggalkan sekotak bekal dengan sebuah catatan kecil diatasnya untuk Yonghwa.

***

Ini sudah ketiga kalinya Yonghwa menemukan kotak bekal di sudut pintu ruang klub musik.

–          Yonghwa sunbae, semoga kau menyukai makanan yang aku buatkan ini J –

Hanya itu pesan yang tertera diatasnya, tak ada nama pengirimnya, Yonghwa mengernyitkan dahinya dan mengintip isi kotak bekal itu, sekotak nasi dan lauknya yang ditata dengan rapi hingga menggugah selera. Yonghwa melihat kea rah jendela melihat kearah sekeliling sekolah, tak ada siapa-siapa disana, lapangan begitu sepi begitu juga koridor sekolah.

****

Sekali lagi Kyungji berusaha mengintip kedalam ruang musik, tapi Kyungji langsung menarik dirinya keluar dan bersembunyi di balik tembok kelas, hari ini tidak seperti biasanya Yonghwa tak lagi duduk menghadap jendela kelas, Yonghwa kini duudk menghadap kepintu kelas, membuat rencana menyelinap Kyungji nyaris ketahuan.

Dengan jantung berdebar Kyungji akhirnya memutuskan untuk meletakan kotak bekalnya diluar pintu kelas, lalu dengan terburu-buru Kyungji berlalri meninggalkan ruang music sebelum Yonghwa tahu keberadaan Kyungji.

Tapi tanpa Kyungji sadari, didalam ruang music telinga Yonghwa berusaha mendengar suara-suara disekitar, pendengaran Yonghwa semakin menajam saat ia mendengar langkah kaki mendekat kearah pintu ruang musik, bahkan Yonghwa mendengar saat pintu sedikit terbuka dan kembali tertutup, dan tak lama setelahnya ia mendengar kembali suara langkah kaki menjauh. Yonghwa membuka pintu ruang musik, mendapati koridor sekolah yang kosong, tak ada jejak siapapun, dan Yonghwa hanya menemukan kotak bekal yang diletakan di depan pintu.

Yonghwa berjalan mendekati jendela, memperhatikan lapangan yang sudah sepi hingga seorang gadis berjalan melintasi tengah lapangan dengan sedikit terburu-buru. Yonghwa memperhatikan, Yonghwa tak begitu yakin siapa gadis itu, tapi yang Yonghwa tahu gadis itu adalah adik kelasnya, an Yonghwa yakin gadis itulah yang selama ini memberinya makan siang yang selalu ia letakan didekat pintu ruang musik. Yonghwa memperhatikannya hingga gadis itu menghilang dibalik pagar sekolah.

***

Hari ini ruang musik tampak sepi, pintunya terkunci. Pagi tadi Kyungji melihat pengumuman di madings ekolah bahwa hari ini kelas musik ditiadakan, walaupun tahu ia tak akan menemui Yonghwa diruang musik, Kyunji tetap mampir sebentar didepan ruang musik.

Dari kejauhan Kyunji memang tak melihat tanda-tanda kehadiran siapapun, tapi ia terus berjalan hingga ia melihat sesuatu yang diletakan didepan pintu ruang musik. Sebuah kotak dengan pita merah muda tergeletak.

“Apa ada orang lain yang juga suka meletakan makanan didepan pintu ruang musik?” batin Kyunji penasaran.

“Apa makanan itu juga untuk Yonghwa sunbae?” batin Kyungji lagi, semakin mendekat dan ternyata yang tergeletak di depan pintu ruang musik adalah sekotak besar coklat.

Setelah yakin tak ada siapapun yang melihatnya, Kyunji mengambil kotak coklat itu dan mengamatinya, ada sebuah kartu ucapan terselip pada pitanya.

-Untuk gadis yang selalu meletakan kotak bekal untukku didepan pintu ruang musik,

Aku tidak tahu siapa kau dan apa maksudmu meletakan kotak bekal setiap untukku, apakah kau fansku? Hehehe..

Kenapa kau diam-diam melakukannya? Bukankah lebih baik kalau kau memberikannya langsung padaku agar kita bisa saling mengenal?

Sebagai tanda terima kasihku, aku berikan kau sekotak besar coklat, semoga kau senang.

Dan kau tahu? makanan yang kau berikan selalu enak! J Terima kasih.

-Yonghwa-

 

Hati Kyungji berdebar-debar membaca pesan dalam kartu ucapan itu, Yonghwa menyukai bekal yang selama ini ia berikan. Kyungki tak mengharapkan balasan apapun dari Yonghwa, tapi mengetahui Yonghwa menghargai pemberiannya membuat Kyungji bahagia.

****

 

Pack up and leave everything,
Don’t you see what I can bring
Can’t keep this beating heart at bay
Set my midnight sorrow free,
I will give you all of me
Just leave your lover, leave him for me

-Leave Your Lover, Sam Smith-

 

Tiga serangkai, begitulah orang-orang memanggil kami. Aku, Jonghyun dan Hanyoung.

Kalau tak ada satu saja dari kami, rasanya tidak lengkap. Pagi, siang, sore bahkan kadang hingga malam hari kami selalu bersama, selama empat tahun persahabatan kami.

“Minhyuk, ini” Hanyoung menyodorkan sebuah kopi dalam kaleng padaku saat kami sedang duduk di halte bis.

“Mana Jonghyun?” Tanyaku

“Disana” Tunjuk Hanyoung pada Jonghyun yang kini maish ada didalam sebuah took serba ada, berdiri didepan lemari pendingin tampak agak bingung memilih sesuatu.

“Dia selalu kebingungan antara latte atau mocca, padahal menurutku rasanya sama saja” Aku hanya tersenyum mendengar Hanyoung komplain.

“Besok aku tidak bisa pulang bersama denganmu dan Jonghyun”

“Kenapa? Ada acara?”

“Anio, hmm besok kan peringatan satu tahun kau dan Jonghyun berpacaran, kalian pasti ingin merayakannya hanya berdua saja kan, aku tak mau menganggu”

“Minhyuk!” Hanyoung menepuk pundakku sambil menahan tawanya, “Kau seperti tidak tahu Jonghyun, dia bukan tipe laki-laki yang suka merayakan hari jadian atau apapun itu, ia kadang melupakan ulang tahunnya sendiri jadi aku tidak akan mengharapkan Jonghyun mengajakku merayakan hari jadian kami”

“Justru karena itu, kau yang harusnya membuatkan peringatan itu, buatlah sesuatu yang sederhana tetapi berkesan misalnya buatkan makanan kesukaan Jonghyun dan makan sianglah berdua, walaupun ia tampak tidak peduli tapi aku jamin ia akan sangat senang”

“Menurutmu begitu?” Han Young tampak berpikir.

“Apa yang kalian bicarakan? Kalian bergosip tentang ku?” Jonghyun mengaggetkan kami dengan kedatangannya yang tiba-tiba.

“Kami tidak membicarakan kau hyung” kataku berkilah, Hany Young mengangguk setuju sambil menahan senyumnya.

“Baiklah kalau kalian tidak mau mengaku, lebih baik kita pulang sekarang, sudah hamper larut. Minhyuk, kau pulanglah duluan, aku akan mengantar Han Young dulu”

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa” Kataku sambil melangkah meninggalkan Jonghyun dan Han Young, setelah berjalan kira-kita lima meter aku membalikan tubuhku memperhatikan Han Young dan Jonghyun yang kini juga sedang berjalan bersebelahan ke arah yang berlawanan denganku, tangan mereka bertaut, terlihat mereka sedang berbincang, senyum keduanya maish tampak dari kejauhan, mereka bahagia , aku tau benar itu tapi ada yang lain aku rasakan, aku cemburu karena Jonghyunlah yang mengenggam tangan Han Young, bukan aku.

****

“Bunga itu dari Jonghyun?” Tanyaku saat Han Young berjalan mendekatiku dengan sebuah rangkaian bunga mawar merah di tangannya.

“Ne, ia memberikannya padaku tadi pagi. Kau tahu Minhyuk, aku sangat terkejut, aku tidak menyangka Jonghyun akan memberikanku hadiah secantik ini dihari jadi kami” Han Young tampak tersenyum malu-malu.

“Sudah ku bilang bukan, Jonghyun Hyung memang terlihat acuh tak acuh dan sedikit dingin tapi ia juga bisa bersikap manis apalagi pada kekasihnya”. Minhyuk memperhatikan Hanyoung yang kini tengah memainkan bunga-bunga cantik ditangannya, lalu semilir angina berhembus meniup rambut panjang Hanyoung dan Minhyuk terkesiapn, Hanyoung tak pernah gagal membuat Minhyuk terpesona, bahkan saat Hanyoung sudah menjadi kekasih sahabatnya, rasa suka Minhyuk pada Hanyoung tak sedikitpun berubah.

“Kalian disini rupanya?” Lamunan Minhyuk dibuyarkan oleh kedatangan Jonghyun.

“Aku lapar” Keluh Jonghyun begitu ia mendekati Hanyoung.

“Ini, aku memasakan makanan kesukaanmu, ayo dimakan” Hanyoung menyodorkan sebuah kotak bekal.

“Wah tumben sekali”

“Itu ideku, aku bilang masakan sesuatu untukmu, ini hari yang special untuk kalian berdua”

“Hmm, aku bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan semuanya, kau harus menghabiskannya”

“Kau memasak?” Terlihat Jonghyun tampak terkejut tapi lalu ia mengembil juga dua buah sumpit dan memasukan sepotong daging kedalam mulutnya.

“Ini enak!” Jonghyun memuji masakan Hanyoung dan menghadiahi gadis itu kecupan dipipinya.

“Aku pergi dulu” Kataku sambil melambaikan tangan dan meninggalkan mereka berduaan.

“Kemana kau?” Tanya Jonghyun

“Aku tidak ingin menjadi obat nyamuk saat kalian berpacaran, nikmati waktu kalian” Kataku, tentu saja aku tak mau menganggu mereka, dam kau juga tak mau memaksa hatiku untuk melihat Hanyoung gadis yang sudah aku sukai selama tiga tahun terakhir ini akhirnya menjadi kekaish sahabatku sendiri. Melihat mereka begitu bahagia , jujur rasanya sedikit tidak adil untukku, tapi bukankah harusnya aku bahagia juga untuk mereka.

Hanyoung-a, seandainya kau mengetahui aku menyukaimu lebih dulu, apa kau akan tetap memilih Jonghyun? Atau kau akan meninggalkannya dan berada di sisiku? Tanyaku getir dalam hati.

-END-

5 thoughts on “5 Songs Challenge : Untitled

  1. akhirnyaaaa dilanjutin juga. aku sampe download lagu2 yg di atas, biar kebawa. hehe. bagus unn, aku suka yg bagian YH. dan yg terakhir nyesek banget, kasian MH😦

  2. eh buset ya, udah nulis komen berkali-kali gagal terus…… jadi intinya, i loved these stories. especially the first and the fourth… btw kenapa gak bikin songfic Let Her Go juga? kan lagu itu paling nyesss :”””” hehehe

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s