Morning Present

large (1)

 

 

Morning Present

Cnblue/F(x); Minhyuk/Soojung

Pg-13.  Romance, fluff. Oneshot.

 

 

Tidurnya benar-benar nyenyak, hingga tak menghiraukan apa pun yang berlangsung pagi ini. Koran diantar di depan pintu apartemen, susu juga. Bus di luar sudah meluncur mengantar anak-anak sekolah dan tetangga sebelah mongoceh panjang lebar tentang sampahnya yang belum diambil petugas kebersihan pagi ini.

Minhyuk menggeliat pelan, napasnya masih menghasilkan dengkuran halus. Rasanya terlalu nyaman bergelung selimut di pagi musim semi seperti ini. Tapi kadang-kadang, kenyamanan tidak pernah bertahan lama. Dia bangun dengan paniknya, tangannya merampas jam digital di meja nakas, di samping tempat tidurnya. Dan menyumpah dengan sangat kasar kala dia menyadari sekarang sudah lewat dua puluh menit dari jam masuk kerja.

Rasanya begitu aneh, terbangun di pagi hari dan menjadi kalang kabut. Karena biasanya akan selalu ada seseorang yang membangunkannya. Menggelitik lembut pinggangnya, bisikan lembut di telinganya yang menggumamkan ucapan selamat pagi. Lalu dia akan menyelesaikan urusannya di kamar mandi sementara di dapur gadis itu menyiapkan sarapan buatnya. Mereka akan sarapan bersama, seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Gadis itu selalu memasangkan dasi buatnya, menepuk pelan dada Minhyuk, “Kerja yang baik ya!” lalu disusul kecupan singkat yang terasa begitu hangat dan manis. Kemudian mereka akan berjalan menuju kantor bersama, tidak bergandengan tangan, tapi semua terasa begitu cukup dengan bahu mereka yang saling bergesekan. Masuk ke kubikel masing-masing dan bekerja, tapi kemudian kembali bertemu di jam makan siang.

Tapi pagi ini tidak ada gadis itu. Rasanya begitu aneh.

Minhyuk buru-buru berkemas dan berangkat ke kantor. Karena dia tahu hanya itu satu-satunya cara agar mendapat jawaban mengapa pagi ini begitu melenceng dari biasanya.

 

“Kau tidak ke tempatku pagi ini.”

Di lift hanya ada Minhyuk dan Soojung. Berdua, mereka perlahan dibawa ke lantai atas. Gadis itu ingin mengeluh, tapi tidak melakukannya.

“Aku kesiangan.” Jawabnya cepat, tanpa memandang Minhyuk.

“Itu seperti bukan dirimu saja.” Minhyuk hampir terkikik. Begitu yang dia hapal, bahwa gadis ini begitu tepat waktu. Si gadis dengan aturan. Benar-benar disiplin.

“Memang. Tapi itulah yang terjadi pagi ini.”

“Rasanya aneh tidak dibangunkan olehmu pagi ini.” Minhyuk mulai komplain, tapi Soojung cepat-cepat menginterupsi, “Kau harusnya mulai membiasakan diri menjadi mandiri.” Jadi Minhyuk membatalkan niatnya untuk mengoceh.

lift berdenting, terbuka. Ada banyak orang yang berdiri di depan mereka, kemudian melesak masuk. Soojung keluar dari lift, dan Minhyuk mengikuti. “Hei,” Minhyuk menarik tangan  Soojung. Gadis itu berhenti dan melotot. Melirik kiri-kanan hanya untuk memastikan tidak ada yang melihat.

“Ini di kantor, Minhyuk.”

“Aku tahu. Hanya ingin memastikan, kau akan makan siang denganku kan?” kening Minhyuk berkerut tipis, matanya menunggu respons Soojung.

“Kita melakukannya setiap hari, kenapa kau menanyakannya?” Jawab Soojung sebal, dan menarik tangannya kembali.

“Hanya saja… mungkin hari ini kau tidak berniat melakukannya.” Minhyuk mengangkat bahu tanpa disadarinya.

“Oh terserahlah!” dan Soojung melenggang pergi.

Hanya saja Minhyuk tahu Soojung berbohong padanya. Seorang Jung Soojung tidak akan mungkin bangun kesiangan.

Hanya saja Soojung menjadi dingin dan tidak banyak bicara hari ini. Jadi mungkin saja dia akan menghindari Minhyuk dengan tidak mendatanginya di meja makan siang nanti.

Tapi bagaimanapun, Minhyuk berharap apa yang dipikirkannya salah besar.

 

 

Soojung tidak menemuinya saat makan siang. Jadi Minhyuk makan dengan teman kantornya yang lain. Bahkan, gadis itu tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Minhyuk terheran-heran bagaimana gadis itu bisa tahan dengan perut tak terisi. Jadi dia membeli sandwich untuk Soojung.

Di kubikelnya, Soojung terlihat begitu sibuk. Mereka memang sibuk setiap hari, tapi hari ini menjadi ekstra sibuk buat Soojung. Dan dia tidak ingin diajak bicara oleh siapa pun. Biasanya Soojung akan mengetuk kubikel Minhyuk dan mengajaknya kabur barang lima menit saja untuk sama-sama bernapas dengan normal. Kali ini tidak sama sekali. Biasanya Soojung akan mengajaknya ke ruang fotokopi bersama, dan di sana, selagi mesin bekerja, tangan mereka akan menemukan satu sama lain. Saling menggenggam tangan, dan sudut bibir masing-masing tersenyum malu-malu. Dalam kesibukan suara mesin, kadang Minhyuk atau juga Soojung akan membisikkan “aku mencintaimu.” Saat mesin berhenti keduanya keluar dari mesin fotokopi dan kembali bekerja. Sesederhana itu.

Soojung pergi ke ruang mesin fotokopi sendirian, Minhyuk tahu di sana ada Bos mereka. Yang genitnya minta ampun. Melarang karyawan-karyawannya menjalin hubungan asmara antar sesama, tapi dia sendiri suka menggaet karyawan wanitanya, kadang-kadang.

Dada Minhyuk panas membayangkan Bosnya itu menggoda Soojung di sana. Ketika Bosnya keluar dari sana, Minhyuk menyusul masuk ke dalam, dengan paper bag yang isinya sandwichyang dia beli tadi siang.

“Hei.” Minhyuk memastikan tidak ada orang di sini. Soojung terkejut untuk sesaat, tapi kemudian mulai tidak mengacuhkan keberadaan Minhyuk. Dia sibuk dengan mesinnya. “Kau tidak turun untuk makan siang tadi.”

“Aku tidak lapar, lagi pula aku begitu sibuk hari ini.”

“Aku tahu, aku juga sibuk. Semua orang sibuk, tapi semuanya menyempatkan untuk makan siang.” Karena bukankah Soojung yang selalu mengingatkan Minhyuk akan pentingnya makan siang?

“Tidak ada yang salah ketika aku tidak melakukannya.”

“Ya… ya… kau luar biasa galak hari ini.” Sindir Minhyuk dan Soojung menatapnya. “Apa yang terjadi?” Minhyuk menunggu, tapi Soojung tidak kunjung memberi jawaban. “Hei, aku bertanya.”

“Aku tidak apa-apa, Minhyuk. Sudah kubilang hari ini hanya terlalu sibuk.” Soojung mengembuskan napas lelahnya. Biasanya dia begitu cantik, tapi hari ini tampak begitu banyak beban di wajahnya.

Minhyuk mendekat, hanya dibatasi lutut mereka. “Aku hampir tidak mengenalimu hari ini. Kau bicara seperti bukan Jung Soojung yang kukenal. Kau bersikap seperti bukan dia. kau—kau benar-benar terasa seperti bukan… kekasihku.” Minhyuk menyelipkan anak rambut Soojung ke balik telinga gadis itu. “Aku tahu ada yang salah. Tidak perlu beritahu aku, aku tahu.”

“Minhyuk.”

Minhyuk menempelkan telunjuknya pada bibir Soojung, membuat dia terdiam. “Maafkan aku. Apa pun yang kulakukan padamu, yang membuatmu seperti ini. Tolong maafkan aku, oke?” ibu jari Minhyuk mengelus pipi berminyak Soojung. “Dan makanlah, aku tidak mau kau sakit.” Minhyuk menyerahkan paper bag berisi sandwich pada Soojung. Gadis itu hanya bergeming di hadapannya. Minhyuk merapikan kertas-kertas berserakan yang harusnya adalah tugas Soojung. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia membawanya keluar dan menyelesaikannya. Membiarkan gadis itu sendirian di sana, menyantap sandwich-nya dan menjernihkan pikiran.

 

 

Yang Minhyuk ingat, sabtu malam kemarin mereka makan malam di rumah orangtua Soojung. Kakaknya Soojung—Sooyeon—terus mengoceh tentang sudah sepantasnya Soojung menikah. “Apa lagi yang kautunggu, Soojung. Sudah saatnya menikah, jangan sampai kau jadi perawan tua.” Ucapnya begitu saja. Minhyuk hampir menyemburkan daging sapinya saat itu juga. Soojung hanya menimpali dengan kedikan bahu dan, “Akan ada saatnya untuk itu, Sooyeon.”

Dan di perjalanan pulang, di dalam taksi yang meluncur mengantarkan mereka ke apartemen Minhyuk, gadis itu hanya diam saja. Pandangannya dia curahkan ke balik jendela mobil.

“Kau memikirkan perkataan Sooyeon?” Minhyuk bertanya hati-hati.

Soojung menggeleng. “Tidak. Aku hanya memikirkan, bagaimana jika Bos tahu tentang hubungan ini. Kurasa kita akan mampus dua-duanya.” Soojung tertawa hambar sekali, Minhyuk meraih tangannya yang dingin, menggenggamnya. “Tidak usah dipikirkan.” Bisiknya.

 

 

Minhyuk lembur semalam penuh. Pekerjaannya menumpuk, ditambah pekerjaan Soojung yang dia sanggupi untuk selesaikan. Hujan mengguyur kota Seoul tepat saat dia keluar dari kantornya. Alhasil dia basah kuyup sepanjang perjalanan. Dan langsung meringkuk di tempat tidur begitu tiba.

Paginya dia menelepon salah satu teman baiknya di kantor, memberitahukan bahwa dia begitu sakit hingga tidak mampu turun dari tempat tidurnya. Dan seharian itu dia habiskan untuk tidur dan bermimpi dan tidur lagi dan kelaparan dan menyadari bahwa Soojung sama sekali tidak menelepon atau mengirim pesan. Gadis itu tidak mengkhawatirkan dirinya.

 

 

Pagi berikutnya datang dengan cepat, dan Minhyuk masih meringkuk di tempat tidurnya. Perutnya keroncongan tapi dia sungguh tidak bisa bangun. Lagi pula kulkasnya kosong. Soojung belum mengisinya lagi.

Ngomong-ngomong tentang gadis itu, Minhyuk tengah membayangkan dia ada di kamarnya dan menyuruhnya bangun. Bahkan tubuhnya diguncang-guncang oleh gadis itu. Ajaibnya tangan gadis itu rasanya hangat. Luar biasa hangat hingga rasanya mustahil jika ini hanyalah ilusi.

“Dasar pemalas, saatnya bangun. Ini sudah pukul sembilan.” Gadis itu menarik-narik bajunya. Hingga rasanya hampir menangis menyadari bahwa gadis itu begitu nyata.

“Hei,” Minhyuk menyunggingkan senyum. “Kau datang?”

“Tentu! Setelah tahu kau tidak masuk kerja. Dan—astaga! Kau demam ya?” Soojung berubah menjadi panik.

“Aku demam, tapi sudah baikan.”

“Baikan apanya! Badanmu panas sekali. Apa yang terjadi, apa kau kehujanan? Dan lihat matamu menjadi begitu cekung. Apa kau sudah minum obat? Sudahkah kau menyeduh minuman hangat?” Soojung meracau dan Minhyuk tertawa. Soojung yang lama telah kembali. Di sini, inilah Jung Soojung yang dikenalnya. Begitu panik soal demam.

“Kemari,” Minhyuk menepuk tempat tidurnya. “Berbaringlah di sini.” Soojung menurut, dia masuk ke selimut dan berbaring di samping Minhyuk. “Rasanya dingin sekali. Bisakah aku dapat pelukan untuk itu?”

Tanpa menjawab, Soojung memeluk tubuh Minhyuk erat-erat. Selama sepersekian menit mereka hanya diam saja. Lalu Soojung memulai, “Maafkan aku. Jangan tanya maaf untuk apa. Tentu saja maaf karena telah mengabaikanmu belakangan ini, maaf karena begitu galak padamu, maaf karena aku sempat tidak peduli padamu. Tolong maafkan aku.”

Minhyuk menenggelamkan wajahnya di rambut Soojung, menghirupnya berkali-kali. “Maafkan aku juga. Seharusnya, seperti yang kakakmu bilang, seharusnya aku sudah menikahimu.”

“Kupikir juga begitu. Oleh karena itulah, Minhyuk, aku datang menemuimu.”

“Ya?”

Soojung menarik napas perlahan. “Waktu kemarin kubilang aku begitu sibuk. Aku memang sibuk. Aku mengerjakan semua pekerjaanku, aku ingin memastikan semuanya beres terlebih dulu, lalu setelah semuanya selesai, aku meninggalkan surat pengunduran diri di meja Bos. Kau mengerti kan? Aku baru saja meninggalkan pekerjaanku. Jadi Minhyuk, kumohon cepat sembuh, dan kembalilah bekerja karena aku sungguh tidak mau menikah dengan seorang pemalas calon pengangguran.”

Minhyuk seperti lupa bagaimana caranya berkedip. Soojung melihat itu jadi dia menambahkan, “Kalau kaupikir aku bercanda, aku akan menjotos mukamu. Aku tidak akan bercanda dengan hal seserius ini.” Dan itu mengembalikan senyum Minhyuk, didekapnya tubuh Soojung semakin erat, dan kembali dihirupnya harum tubuh gadis itu. “Kau sudah berkorban begitu besar buatku.” Minhyuk mengecup cuping telinga Soojung.

“Bukan buatmu. Tapi buat kita.”

Minhyuk menyetujui. “Bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan yang sangat kausukai?”

“Rasanya… oh sudahlah, aku tidak bisa mengungkapkan rasa kehilangan ini pada siapa pun. Tapi Minhyuk, bukankah ini setimpal dengan apa yang akan kudapatkan denganmu kelak?” Soojung mendongak, menemukan mata Minhyuk mengawasinya, lalu dia mengedipkan matanya. Dan Minhyuk membalasnya dengan senyum penuh syukur.

 

#

 

Jadi, setelah begitu lama hiatus dan kembali menulis. Rasanya itu… kaku luar biasa! Kritik/saran selalu diharapkan. Thank youuu❤

 

 

 

23 thoughts on “Morning Present

  1. setelah menunggu sekian lama, akhirnya author datang juga.
    Aku selalu suka ff author. Tapi aku lebih suka yg bergenre angst.
    Walaupun begitu, aku suka ff ini, so sweet bgt. Yg aku suka tuh, pembawaan cerita dan pemilihan kata.
    Ditunggu ff selanjutnya.. ^^ ~

  2. aciiieeee
    kirain soojung mau minta putus gr2 gak blh kalau sama2 karyawan
    ternyata dia kerja keras sebelum ngundurin diri
    ciiieeee yg mau dilamar
    ciiieeee ciiieeee
    *apasih
    keren bgt ceritanya
    super manis dan super imut smp bikin aku senyum2 sendiri
    makasih udah bikin cerita keren ini
    semangat terus berkarya🙂

  3. Rasanya telat banget baru komen fanfic ini skrng padahal udah lama bacanya. Aku suka sama semua fanfic buatan kamu, dan ada beberapa fanfic yg aku masukin ke bookmarks juga. Keep writing^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s