Skaterella

tumblr_mp078ilscw1r2kjfco1_500

Author: ree

Genre: romance, family

Rating: PG-15

Length: oneshot

Casts: CNBLUE’s Kang Minhyuk, f(x)’s Krystal (Jung Soojung)

Disclaimer: Inspired by Cinderella

 

 

 

 

“Tadinya, kupikir Cinderella adalah dongeng terbodoh yang pernah ada.”

 

 

 

***

 

 

 

Pria itu menatap geram. Jika saja pekerjaan paruh waktu tidak memaksanya untuk keluar kamar di pagi hari, ia tidak akan tahu keberadaan secarik kertas yang tertempel rapi di tengah-tengah pintu kamarnya. Entah sejak kapan. Kertas putih berukuran A4 yang ditulis besar-besar dengan spidol hitam tebal; “DISEWAKAN. MULAI BULAN DESEMBER.”

Dengan gerakan cepat pria itu merobek kertas tersebut dari pintu, mengoyak dan meremasnya hingga berbentuk bola, kemudian melemparnya ke sembarang arah. Ia tahu persis siapa yang melakukannya, namun bukan itu yang ia permasalahkan. Menyewakan kamar kepada orang lain di saat pemiliknya masih ada rasanya sangat tidak etis.

“Tidak masalah kalau kau membuang kertas itu, Kang Minhyuk. Toh aku masih punya kopiannya. Selusin.”

Pria yang dipanggil Minhyuk itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Orang itu ada disana. Orang yang dengan seenaknya menjual satu-satunya tempat tinggalnya tanpa membicarakan hal ini terlebih dahulu padanya. Pria botak gendut berusia empat puluh tahunan yang bertampang sangar dan senyum licik yang selalu menghiasi wajahnya, yang dengan bangganya menunjukkan setumpuk tipis kertas yang sama persis dengan yang ditempel di pintu kamar Minhyuk tadi.

Semenjak ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu, hidup Minhyuk tak lagi sama. Kehidupannya yang damai di sebuah rumah bertingkat dua di pinggiran kota sedikit demi sedikit terenggut, dan kesengsaraannya memuncak setelah ayahnya meninggal saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tak tahan dengan diskriminasi─yang bahkan ditambah dengan perbudakan─ibu dan saudara tirinya, ia pun nekat pergi dari rumah dan memutuskan untuk tinggal sendiri. Celakanya, hanya di tempat inilah ia menemukan apartemen kecil butut yang uang sewanya tidak lebih mahal dari uang saku yang dikirimkan ibu tirinya setiap bulan. Dan lebih celakanya lagi, uang saku kiriman ibu tirinya hanya cukup untuk makan sekali dalam satu hari.

Oh, jangan ingatkan aku dengan dongeng keparat itu.

“Mungkin Anda punya masalah pendengaran. Kubilang aku akan melunasinya minggu depan.” Akhirnya Minhyuk angkat bicara.

“Aku tak bisa menunggu lagi. Masih banyak orang yang mau menyewa kamarmu. Dan kuyakin mereka tidak akan pernah menunggak uang sewa.” Pria botak gendut itu tertawa mengejek. “Cepat kemasi barangmu! Kutunggu sampai besok.”

Minhyuk memutar badannya, berjalan meninggalkan pria itu sambil menghentakkan roda inline skates yang dipakainya kuat-kuat. Ia sudah terlalu kebal dengan semua gertakan dan ancaman. Baginya, apa yang dilakukan pria itu belum seberapa dibandingkan apa yang telah dilakukan ibu tirinya saat ia masih tinggal di rumah.

“Mau kemana kau?! Jangan kabur!” hardiknya ketika Minhyuk dengan sengaja menyenggol pria yang tingginya hanya sebatas bahunya itu. Membuatnya sedikit terdorong ke belakang.

“Diamlah.” Minhyuk menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pria itu dengan tatapan dingin. “Aku mau mengisi pundi-pundi uangmu, Bodoh.”

“Apa kau bilang?! Bodoh?! Dasar bocah kurang ajar!” pria yang semakin tersulut amarahnya itu meremas kertas yang dipegangnya dengan brutal dan melemparkannya ke arah Minhyuk, namun berujung sia-sia karena pria jangkung itu sudah lebih dulu berbelok di ujung lorong.

 

***

 

Minhyuk menggesekkan roda Rollerblade-nya kuat-kuat di atas trotoar sepanjang jalanan kota Seoul, berusaha mempercepat putarannya dan otomatis mempercepat langkahnya juga. Ramainya pejalan kaki yang berlalu-lalang pagi itu sedikit menghambat langkahnya, namun dengan lihai ia bermanuver bebas, menyalip disana-sini, mencari celah agar sebisa mungkin bergerak cepat tanpa menyenggol atau menabrak orang-orang di tengah keramaian.

Inline skates adalah salah satu benda yang paling penting dalam hidup seorang Kang Minhyuk, selain dirinya, Tuhan, dan uang. Benda itu adalah kendaraan, saksi, sekaligus teman hidup yang selalu dipakainya kemana-mana. Inline skates tidak membutuhkan perawatan semahal dan seintensif sepeda. Uang yang dihasilkannya dari kerja paruh waktu tidak pernah mencukupi untuk membeli sepeda motor dan bolak-balik ke kampus menggunakan kereta atau bus dirasanya terlalu boros. Benda itu secara tidak langsung juga menjadi sumber matapencahariannya karena percaya atau tidak, tidak sedikit pelanggan restoran fried chicken tempatnya bekerja yang lebih senang pesanannya diantarkan olehnya, hanya karena penampilannya dengan inline skates, pelindung siku dan lutut, serta helm lebih menarik perhatian dibandingkan tukang pesan-antar pada umumnya.

“Terlambat lagi, Kang Minhyuk?” Kim ahjussi, manajer di tempatnya bekerja, berujar ketika Minhyuk baru saja masuk dengan napas tersengal dan peluh bercucuran di dahi.

“Astaga! Aku hanya terlambat tiga menit dan kau sudah berulang kali melihat jam seolah aku terlambat tiga jam.”

“Bagi perusahaan yang melayani pesan-antar, setiap detik sangat berharga, anak muda.” pria berusia empat puluh tahunan yang raut wajahnya sangat berbeda jauh dengan pria botak gendut pemilik apartemennya itu─tenang, ramah, namun juga tegas dan berwibawa─berjalan mendekatinya. “Lagipula aku sudah menghapuskan peraturan berseragam khusus untukmu, yang berarti batas toleransiku untuk peraturan yang lain harus dinaikkan tidak kurang dari lima puluh persen.”

Minhyuk hanya bisa menghela napas berat. Biarlah, pikirnya. Dimana lagi ia bisa menemukan atasan yang lebih baik dan lebih pengertian dibanding Kim ahjussi?

“Kau bisa mengantarkan tiga pesanan itu, Pria Beroda.” Kim ahjussi menunjuk ke arah tiga kantong plastik yang telah berjejer rapi di samping meja kasir, “Salah satunya tidak jauh dari kampusmu. Jadi kau bisa langsung pergi kuliah.”

Lagi-lagi Minhyuk berdoa dalam hati, semoga Tuhan memberkati Kim ahjussi dan keluarganya, atas kebaikan dan kemurahan hati yang ia berikan.

“Baiklah, aku berangkat. Nanti sore aku kesini lagi.” Pamitnya, kemudian bergegas mengambil ketiga bungkusan tersebut.

 

***

 

Putaran roda Rollerblade Minhyuk terhenti pada sebuah rumah bergaya Eropa di sudut jalan yang cukup jauh dari keramaian. Destinasi terakhirnya pagi ini. Kim ahjussi benar, jarak rumah ini tidak begitu jauh dari kampus. Tapi tidak untuk dua rumah sebelumnya. Letaknya yang berlawanan arah dan sangat jauh satu sama lain cukup menguras sisa waktu sebelum kuliah pertamanya dimulai.

Minhyuk mengetuk-ngetukkan rodanya ke aspal, ragu untuk menekan bel lagi karena sudah lima kali ia melakukannya dan ia tidak ingin dianggap tidak sopan oleh pemilik rumah nantinya. Apa yang dilakukannya dapat memengaruhi reputasi tempatnya bekerja, jadi ia ingin menjaga sikapnya sebaik mungkin.

Minhyuk melirik arlojinya. Kurang dari sepuluh menit lagi kuliahnya dimulai dan jarak kampus dari tempat tersebut masih dua kilometer lagi. Diam-diam ia menyesal karena meladeni pemilik apartemennya tadi. Pembicaraan yang tidak lebih dari lima menit itu bisa merusak semua jadwalnya dalam satu hari.

Kejenuhannya sudah hampir mencapai puncak ketika tiba-tiba pintu rumah itu perlahan terbuka. Minhyuk menghela napas lega. Mungkin saja pelanggannya yang satu ini nenek tua yang hidup sendiri yang untuk berjalan saja sulit sehingga membutuhkan waktu ekstra untuk sampai ke pagar rumahnya.

“Maafkan aku.”

Rupanya perkiraan Minhyuk salah. Yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang gadis berambut panjang kecoklatan dengan tinggi semampai dan kulit secerah langit di musim panas. Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena membuat Minhyuk berdiri di depan rumahnya terlalu lama.

Tapi bukan saatnya bagi Minhyuk untuk terpesona dengan penampilan gadis itu. Masih ada dosen semantik yang menunggu dengan setia di mejanya, siap menyerang semua mahasiswa yang terlambat masuk ke kelasnya dengan hukuman yang seringkali irasional.

Gadis itu mengambil bungkusan yang diserahkan Minhyuk, kemudian merogoh dompet yang digenggamnya dan mengeluarkan sejumlah uang. Namun ketika ia hendak menyodorkan uangnya, pria dengan inline skates yang sampai tadi masih ada di hadapannya tiba-tiba menghilang begitu saja.

Gadis itu langsung keluar dari pagar rumahnya, mencoba mencari pria itu sebelum pergi jauh. “Hei, tunggu!” ia mencoba berlari mengejar, namun tentu tidak berhasil karena Minhyuk yang menggunakan inline skates melesat jauh di depan.

“Astaga, dia cepat sekali!” napas gadis itu mulai terputus-putus. Ia memutuskan untuk berhenti berlari, “Tunggu! Uangnya belum─” kalimatnya menggantung begitu sadar pria itu sudah berada sangat jauh darinya, lebih dari jangkauan seruannya yang sudah ia coba keluarkan sekuat tenaga.

Merasa usahanya tidak akan berhasil, gadis itu pun memutar badannya, berjalan pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk membayar pesanannya langsung ke restoran setelah pulang kuliah nanti. Dirinya sama sekali tidak habis pikir bagaimana seorang tukang pesan-antar bisa lupa pada bayaran yang seharusnya ia terima.

 

***

 

Gadis itu berjalan mengendap begitu masuk ke dalam. Ditengoknya kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang lain di ruang tengah dan dapur sebelum menghempaskan dirinya di atas sofa. Diam-diam ia membuka pesanannya, memandangnya dengan mata berbinar seolah yang ada di pangkuannya sekarang adalah harta karun terbesar yang pernah ada. Entah kapan terakhir kali ia menikmati makanan semacam ini, ia sudah tidak ingat. Bisa menyentuh dan menikmati junk food itu lagi rasanya seperti reuni dengan sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu; rindu sekaligus haru.

Cahaya berkilauan yang seolah muncul dari dalam kotak pesanannya itu hilang ketika tiba-tiba saja kotak itu tertutup dengan keras. Gadis itu langsung meneguk ludah begitu melihat tangan yang menutupnya.

“Aku tidak percaya kau mengkhianatiku, Jung Soojung.” Ujar pemilik tangan itu tajam. Gadis bernama Soojung itu mendongak takut-takut, kemudian memaksakan seulas senyum pada kakaknya─Jung Sooyeon─yang tidak ia sangka sudah berada dalam jarak sedekat ini dengannya.

“Aku tidak mengkhianatimu, aku─”

“Kau sudah lupa peraturan kita? Aku membuat peraturan itu untuk kebaikanmu, Soojung-ah. Masa kau tidak mengerti?”

“Sekali ini saja, Eonni. Lagipula sudah lama aku tidak makan itu…”

“Kandungan lemak ayam goreng kurang lebih dua belas gram, kandungan lemak jenuhnya bisa mencapai lebih dari dua setengah gram. Belum lagi tambahan kadar lemak jenuh yang terakumulasi dari pemakaian minyak goreng yang berulang-ulang. Kadar kolesterolmu bisa naik.” Jelas Sooyeon panjang lebar. Ia menjauhkan kotak itu dari Soojung, kemudian menurunkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan adik semata wayangnya itu. “Kompetisi figure skating tinggal tiga hari lagi, sayang. Aku tidak mau kesehatanmu terganggu sebelum hari pelaksanaan.”

Soojung hanya bisa mengerucutkan bibir. Apa yang dikatakan Sooyeon benar. Kakak perempuannya itu memang sangat perhatian. Ia selalu mendampingi Soojung dalam setiap kegiatannya, memberikan nasihat, dan mendukungnya baik secara fisik, psikis, maupun materi. Dan Soojung tahu benar, tanpa keberadaan Sooyeon ia tidak akan bisa melewati semuanya dengan baik.

Wajah Soojung semakin tertekuk begitu melihat Sooyeon berjalan meninggalkannya, membawa kotak berisi fried chicken itu semakin jauh dari jangkauan mata dan tangannya. “Eonni, satu saja…” pintanya penuh harap.

Sooyeon menggeleng. Ia masuk ke dapur, dan Soojung tahu persis kemana ‘harta karun’nya itu akan berakhir─tempat sampah. Dalam sekejap harapannya pupus sudah.

 

***

 

“Jadi, Jung Soojung dan Bae Suji juga ikut di kompetisi itu?”

“Tentu saja. Mereka berdua kan ratunya.”

“Ah, kalau begitu aku mundur saja. Mana bisa menang kalau lawannya mereka?”

Soojung mendecak. Selalu seperti ini. Ia sudah bosan mendengar orang-orang saling berbisik membicarakan dirinya, entah itu baik atau buruk. Baginya sama saja. Sama-sama mengganggu.

Gadis itu terpaku memandangi papan pengumuman di hadapannya; diam-diam merutuki orang yang menempelkan poster kompetisi figure skating antar-universitas yang rutin diadakan setiap tahun itu. Sudah menjadi rahasia umum jika dirinya dan Suji yang disebut-sebut tadi menjadi unggulan dalam hal semacam ini, bersaing tiap tahunnya untuk mendapatkan juara pertama. Maka dari itulah, tiap kali mahasiswa di kampusnya mendengar figure skating, tiap kali itu juga namanya dan Suji yang selalu diperbincangkan.

“Merasa ragu, nona Jung Soojung?” suara yang sudah sangat familiar di telinganya tiba-tiba tertangkap indera pendengarannya. Ia sudah terlalu hapal sehingga tidak perlu lagi menolehkan kepala untuk memastikan siapa pemiliknya.

“Wajahmu tampak tidak senang.” Lanjut suara itu.

Soojung tersenyum samar, “Kuharap kau bisa membedakan wajah orang yang merasa ragu dan wajah orang yang merasa ketenangan hidupnya terganggu.”

Suji mendengus. Tahu kalau gadis itu sedang menyindir dirinya.

Gadis itu memaksakan seulas senyum, “Kalau begitu kutunggu penampilanmu di atas es. Kita buktikan pada orang-orang siapa ratunya. Karena tidak pernah ada dalam sejarah dua ratu dalam satu kerajaan.” Ia melangkah mendekati Soojung dan dengan senyum liciknya berkata tepat di dekat telinga gadis itu, “Kupastikan kau tetap mempertahankan gelarmu, Ice Princess.”

Sepeninggal Suji, Soojung langsung berjalan menuju toilet. Bukan karena kesal atau marah. Ia yang sudah terbiasa dengan segala omong kosong dan sikap yang ditunjukkan Suji hanya menganggapnya angin lalu, atau sekedar hiburan menyengarkan di tengah-tengah jadwalnya yang membuat penat. Ia masih kecewa hasratnya untuk menikmati sepotong ayam goreng pagi tadi masih belum terpenuhi. Andai kakaknya mengerti, ia berjanji akan latihan satu hari penuh demi membakar semua kalori yang diserap dari satu potong ayam tersebut jika saja ia diperbolehkan untuk memakannya.

Soojung memandangi pantulan wajahnya di cermin. Entah sejak kapan wajahnya jadi terlihat sebegitu lelah dan lingkaran hitam di matanya semakin bertambah. Bahkan wajah itu sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Ia sampai terpaksa menyamarkannya dengan menggunakan kacamata dan topi.

Soojung memijat ringan pipi dan keningnya. Ia butuh hiburan. Ia butuh bersenang-senang. Segala kegiatan di luar kuliah yang dijejalkan padanya mulai dari figure skating, ikut tim orkestra kampus, kursus vokal, merangkai bunga, hingga seni keramik dirasanya tidak semenyenangkan yang diceritakan orang-orang.

Saat sedang larut dalam pikirannya, kening Soojung tiba-tiba berkerut. Ia menyipitkan matanya, memastikan apa yang dilihatnya melalui cermin bukan sekedar ilusi belaka. Gadis itu lalu memutar tubuhnya. Ternyata ia tidak salah lihat. Di bagian sudut atas toilet paling ujung─tepatnya di dekat exhaust fan, tergantung sepasang Rollerblade hitam. Benda yang tidak biasa di tempat yang tidak biasa. Tidak banyak mahasiswa yang datang ke kampus menggunakan atau membawa inline skates. Jumlahnya masih bisa dihitung jari. Tapi menggantungkannya di toilet? Soojung yakin pasti pemilik Rollerblade tersebut sedang dikerjai teman-temannya.

Soojung akhirnya memutuskan untuk mengambil Rollerblade itu, entah nantinya ia akan memberikannya pada dosen, penjaga sekolah, atau penyiar radio di kampus agar diumumkan secara luas. Siapapun pemiliknya pasti masih membutuhkan Rollerblade ini, pikirnya. Dan sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai penemu pertama untuk mengembalikan barang yang hilang.

Setelah berhasil mengambil Rollerblade tersebut, Soojung pun keluar dari toilet. Ia berjalan menyusuri lorong sambil memperhatikan sepasang benda itu dengan seksama, belum tahu akan menyerahkannya pada siapa. Entah kenapa rasanya ia teringat pada sesuatu.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Sontak gadis itu pun menoleh.

“Maaf, boleh kulihat Rollerblade itu?”

“Kau pemiliknya?” Soojung balik bertanya. “Barusan aku menemukannya di toilet.”

Pria itu mendesis pelan. Pasti Choi Minho dan teman-temannya yang sengaja meletakkannya disana. Pantas saja sedari tadi ia tidak berhasil menemukan Rollerblade itu dimana pun. Komplotan usil itu sengaja menyembunyikannya di tempat yang tidak mungkin dimasuki pria itu selama jam kuliah belum berakhir atau selama masih ada orang di dalam toilet tersebut. Kalau tidak pasti dirinya dianggap mesum nanti.

Pria itu pun mengambil Rollerblade yang disodorkan Soojung. Ia mengangguk, “Ini punyaku. Terima kasih.”

“Kalau boleh tahu siapa namamu?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Merasa ragu sekaligus heran kenapa gadis itu tertarik untuk mengetahui namanya.

“Kang Minhyuk.”

“Oh, aku Jung Soojung.”

Minhyuk tersenyum sekilas, “Aku tahu. Semua orang membicarakanmu.”

Soojung terdiam. Ia tahu kalau beberapa mahasiswi sering membicarakannya, entah apa yang sudah ia lakukan. Tapi benarkah semua orang membicarakannya? Mungkin lain kali ia harus lebih menjaga sikap jika tidak ingin semakin menarik perhatian.

Ketika pria itu berbalik badan, Soojung baru teringat sesuatu.

“Kau… yang tadi pagi mengantarkan pesanan ke rumahku kan?”

Minhyuk menoleh. Kaku. Baru ia sadari gadis itu adalah gadis yang ditemuinya tadi pagi. Gadis yang membuatnya menunggu sekian menit lamanya. Gadis yang kulitnya secerah langit di musim panas. Dan sialnya, kesan pertamanya bagi gadis itu adalah dirinya sebagai tukang pesan-antar.

“Ah, itu benar kau!” Soojung mengambil kesimpulan. Buru-buru ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sejumlah uang. “Untung saja aku bertemu lagi denganmu. Kau lupa mengambil uangnya tadi.”

Minhyuk menerima uang tersebut. Satu lagi kebodohan yang baru ia sadari. Entah apa yang terjadi pada dirinya hari ini.

“Terima kasih.” Pria itu hendak melanjutkan langkahnya kalau saja gadis itu tidak kembali memanggil namanya.

“Kang Minhyuk,” kali ini giliran wajah gadis itu yang tampak ragu, “Boleh aku minta tolong sesuatu?

 

***

 

Minhyuk melirik arlojinya, sekadar untuk menghindari tatapan aneh beberapa mahasiswi yang baru saja keluar dari ruang kelas di depan tempatnya berdiri sekarang. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin mereka bertanya-tanya siapa dan apa yang sedang ia lakukan di fakultas orang, atau mungkin heran melihat penampilannya dengan inline skates. Jika saja bukan menyangkut pekerjaan, ia mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di gedung yang letaknya cukup jauh dari gedung fakultas sastra tempatnya kuliah itu.

Hal ini terasa déjà vu bagi Minhyuk. Lagi-lagi ia harus menunggu cukup lama dengan alasan yang sama; mengantar pesanan. Hanya berbeda tempat. Permintaan pelanggannya kali ini cukup lucu menurutnya, karena ia meminta pesanannya diantar di kampus setelah jam kuliah berakhir. Dan orang itu siapa lagi kalau bukan Soojung.

Setelah merasa tidak ada lagi orang yang keluar dari dalam kelas, Minhyuk pun memberanikan diri melongokkan kepalanya.

“Ah, Minhyuk! Masuklah.” Panggil Soojung, yang tampak sedang membereskan beberapa sheet music di atas meja.

Minhyuk menuruti kata-kata Soojung. Ia melangkahkan kakinya masuk ke ruang kelas tersebut dan meletakkan dua kotak pesanan gadis itu ke atas meja.

“Ada apa?” tanya Soojung begitu melihat Minhyuk menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, tampak sedang mencari sesuatu.

“Mana temanmu?”

“Teman yang mana?”

Minhyuk memandang gadis itu dengan kening berkerut, “Bukannya kau memesan untuk temanmu juga? Makanya ada dua kotak kan?”

Soojung terkekeh. Ternyata pria di hadapannya ini ada sisi lugunya juga.

Gadis itu lalu memutar kursi di seberang mejanya, mengeluarkan kedua kotak fried chicken pesanannya dan menyiapkannya dengan rapi di depan masing-masing kursi. “Duduklah.” Ia mengedikkan dagunya ke arah kursi yang diputarnya tadi.

“Hah?”

Soojung menarik lengan pria itu, memaksanya untuk duduk. “Aku memang memesan dua kotak. Untuk temanku.” Ia mengarahkan telunjuk kanannya ke arah Minhyuk, “Kau.”

“Tapi─”

“Kutraktir.”

Minhyuk menggeleng tidak habis pikir. “Kau percaya padaku?”

“Kenapa aku tidak percaya?” balas Soojung retoris. Gadis itu mengambil sepotong ayam dari dalam kotak, tidak sabar untuk memakannya setelah kemarin usahanya gagal total. “Lagipula kau tidak membicarakanku. Kau tidak jahat.”

“Bagaimana kalau ternyata aku membicarakanmu?”

“Memangnya iya?”

Minhyuk menggeleng. Ia kalah. Keyakinan gadis itu pada dirinya membuatnya tidak mampu berkata apa-apa. Keyakinan pada orang yang baru dikenalnya kemarin yang kalau dihitung-hitung satu jam saja tidak sampai. Tidak pernah terlintas di benak Minhyuk pertemuannya dengan Soojung akan berkembang sejauh ini.

Pria itu akhirnya ikut menikmati beberapa potong ayam yang sudah tersedia di depannya, hanya untuk mengurangi rasa tidak enak hati karena bagaimanapun juga gadis itu sudah membayar. Kunyahannya terhenti begitu dilihatnya Soojung tiba-tiba tertawa. Makin lama makin keras hingga ia mulai merasa takut dan pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan di otaknya.

“Kau… kenapa?” Minhyuk memberanikan diri bertanya. Ia memandangi Soojung dengan seksama, memastikan apakah gadis itu masih berada dalam batas kewarasannya.

“Aku membayangkan bagaimana wajah kakakku jika ia tahu apa yang sedang kumakan.” Gadis itu terkekeh lagi.

Minhyuk merasa ganjil dengan kalimat Soojung.

“Sejak dulu entah kenapa orangtuaku terobsesi membuatku mahir dalam berbagai bidang; olahraga, musik, kesenian, dan sains… Yah, walaupun aku menyerah dengan sains setelah kelas tiga SMA. Gila! rasanya mau mati.” Tawa gadis itu berangsur-angsur memudar, “Dan kakakku yang selalu mendampingiku, melarangku ini-itu, mengharuskan ini-itu… Baru kali ini aku melanggar larangannya. Jadi begini rasanya melawan perintah? Menarik sekali.”

“Aku tidak mengerti bagaimana orang yang serba berkecukupan justru merasa bosan dalam hidupnya.” Gumam Minhyuk.

“Bukan bosan, tapi jenuh.” Koreksi Soojung, “Ibarat minyak goreng yang sudah berulang kali dipakai sehingga terbentuk lemak jenuh dan jika dikonsumsi bisa menyebabkan kadar kolesterol meningkat.”

“Dan kau mempercepat prosesnya dengan mengonsumsi ayam itu. Bagus sekali.” tambah Minhyuk.

“Jika kegiatanku sehari-sehari adalah lemak jenuh, maka ayam ini adalah Lactobacillus acidophilus; bakteri probiotik penurun kadar kolesterol.” Soojung buru-buru menambahkan sebelum Minhyuk protes lebih jauh, “Jangan membayangkan yang sebenarnya, Kang Minhyuk. Dalam kasus ini kedua hal itu paralel.”

Entah sadar atau tidak, Minhyuk menyunggingkan senyumnya. Baru kali ini ia melihat orang yang sebegitu bahagianya memakan ayam goreng bagai menemukan oase di padang pasir. Dan baru kali ini pula ada orang yang mengumpamakan ayam goreng sebagai bakteri probiotik.

“Kau sudah lama bekerja disana?” tanya Soojung setelah menghabiskan satu potong ayam gorengnya. Masih ada sepotong lagi.

“Kira-kira dua setengah tahun. Saat baru masuk kuliah.” Jelas Minhyuk, “Sebelumnya aku bekerja di restoran ayam goreng saingan usaha ayam goreng yang kau makan itu.”

Lagi-lagi Soojung tertawa lepas. “Kau suka sekali ayam goreng rupanya.”

“Kebetulan saja pemiliknya mengizinkanku bekerja tanpa perlu mengenakan seragam dan mengantar pesanan dengan inline skates.”

Soojung menundukkan kepalanya ke arah bawah meja. Benar saja, pria itu masih menggunakan Rollerblade hitamnya.

“Wah, keren juga. Jarang ada pengantar pesanan sepertimu.” Soojung terlihat antusias, “Hei, kapan-kapan aku boleh coba tidak? Ah, tidak, sekarang saja bagaimana?”

“Sekarang?”

Soojung mengangguk mantap, “Masih ada dua jam sebelum latihan skating dimulai. Aku boleh coba, ya? Ya?”

 

***

 

“Karena ukurannya lebih besar dari kakimu, jadi talinya harus lebih dikencangkan.”

Dengan sabar Minhyuk ikut berlutut membantu Soojung memasang inline skates miliknya. Sepenglihatannya gadis itu tidak terlalu buta dengan benda yang satu itu, mungkin karena pada dasarnya mereka sama-sama skater, hanya berbeda medan lintasan. Ia di jalan raya dan Soojung di es. Buktinya gadis itu hanya perlu sedikit bantuan untuk berdiri dan sedikit tidak stabil pada langkah pertama, namun seterusnya ia sudah bisa berjalan mulus bahkan berlari dan berputar-putar  mengelilingi lapangan parkir kampus yang sudah mulai sepi itu.

“Ini benar-benar menyenangkan!” akunya jujur. “Pantas saja kau tidak bisa lepas dari Rollerblade-mu.”

Minhyuk hanya bisa tersenyum. Gadis itu tidak tahu betapa berharganya benda itu untuk menyambung hidup.

“Boleh kupakai sampai rumah, ya? Rumahku tidak begitu jauh dari sini. Lagipula searah dengan jalan pulangmu.”

Minhyuk menatap Soojung lama. Gadis itu kembali menunjukkan wajah antusias dan penuh harap. Siapa yang berani menolak kalau begitu?

Pria itu pun mengangguk, disusul dengan sorakan riang Soojung yang masih asyik berputar-putar di sekelilingnya.

“Tunggu dulu.” Minhyuk menginterupsi. Ia berjalan mendekati Soojung, mengeluarkan sebuah helm hitam dari dalam tasnya, dan memasangkannya di kepala gadis itu. “Perlindungan itu perlu.”

Soojung tersenyum lebar. Pasti sekarang ia sudah terlihat seperti inline skater sungguhan. Terus-terusan meluncur di atas es lama-lama membuatnya bosan juga. Aspal menjadi medan baru yang cukup menantang untuknya.

“Kejar aku, Kang Minhyuk!” Soojung cepat-cepat meluncurkan inline skates di kakinya, tampak sama sekali tidak terganggu dengan ukurannya yang kebesaran. Ia menggoda Minhyuk, tentu saja, karena mana mungkin pria itu berhasil berlari mendahuluinya yang sudah melesat jauh di depan. Lagi-lagi Minhyuk tersenyum. Baru kali ini ia melihat orang yang begitu senang menggunakan inline skates. Gadis itu benar-benar butuh hiburan.

Soojung terus menggerakkan kedua kakinya, berusaha agar bisa lebih cepat dan lebih cepat lagi. Kalau saja gesekan roda inline skates di aspal sestabil gesekan blade ice skates pada es, mungkin ia sudah melakukan edge jumps dan upright spin sedari tadi. Tinggal dua belokan lagi menuju rumahnya, dan Minhyuk masih tertinggal jauh di belakang. Pria itu tampak berjalan santai sembari mengamatinya dari kejauhan.

Ketika sedang asyik bermanuver, tiba-tiba saja sinar lampu sorot menyilaukan pandangan Soojung. Gadis itu menyipitkan matanya, dan terkejut karena entah sejak kapan sebuah mobil sedan bergerak menuju ke arahnya. Jaraknya begitu dekat sehingga Soojung hanya punya waktu sepersekian detik untuk menghindar. Untung saja refleksnya masih baik sehingga ia berhasil menyingkir tepat sebelum bagian depan mobil itu menyentuh tubuhnya. Namun karena ia hanya bergerak cepat tanpa melihat apa yang ada dihadapannya, gadis itu pun menabrak sepeda yang kebetulan melintas dan jatuh tersungkur bersama-sama dengan sepeda dan pemilik sepeda tersebut.

Sementara itu, Minhyuk yang sampai tadi masih melihat Soojung meluncur di depannya terlihat panik begitu sadar gadis itu menghilang setelah sebuah mobil sedan melintas. Merasa ada yang tidak beres, ia pun berlari sekuat tenaga menuju belokan tempat mobil sedan tadi melaju.

“Soojung-ssi!!” panggilnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan gadis itu sambil berdoa dalam hati semoga tidak terjadi hal yang ia takutkan.

Minhyuk cepat-cepat berlari ke arah trotoar tidak jauh dari sana begitu melihat dua orang yang berada dalam posisi tidak wajar di aspal. Salah satunya sedang mencoba berdiri sambil menggiring sepeda. Ia yakin benar yang seorang lagi adalah Soojung, jika dilihat dari rambut, pakaian, dan inline skates yang dipakai.

“Kau tidak apa-apa?! Apa yang terjadi denganmu??” Minhyuk tidak mampu menyembunyikan kecemasannya.

Soojung meringis. Semua tubuhnya terasa ngilu. Namun tidak seberapa jika dibanding rasa sakit pada betis kirinya.

“Aku… untung saja tidak  tertabrak mobil. Tapi jadinya malah tertabrak sepeda…” jelas Soojung terbata-bata. Berkali-kali ia meminta maaf pada pemilik sepeda yang hanya mengalami cedera ringan dan berjalan sedikit terseok meninggalkan mereka berdua.

“Astaga…” Minhyuk membantu gadis itu berdiri. Soojung berusaha sebisa mungkin, namun kaki kirinya terasa sangat sakit ketika digerakkan.

“Kurasa ada otot betis yang tertarik…” duga Soojung.

“Kita ke rumah sakit saja bagaimana?”

“Jangan!” gadis itu buru-buru mencegah, “Ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa hari yang lalu aku juga mengalaminya. Cedera waktu latihan. Jadi masih ada obat di rumah.”

Minhyuk menatap Soojung dengan seksama; sedikit ragu gadis itu berkata yang sejujurnya. “Kau yakin?”

Soojung mengangguk, “Tidak sesakit waktu itu. Masih bisa kutahan.”

Minhyuk melepaskan inline skates yang masih melekat di kaki Soojung. Untung saja gadis itu tidak mengalami kecelakaan separah yang dipikirkannya, dan untung saja helm yang sengaja dipinjamkannya sangat berguna.

Pria itu membalik badannya dan menarik kedua tangan Soojung melewati bahunya, “Kugendong.”

“Eh, tapi─”

“Dengan kondisi kaki seperti itu kau akan sulit berjalan.” Tegasnya, tidak menerima penolakan. Soojung akhirnya menurut saja, karena takut hamstrings─otot paha bagian bawah─nya akan semakin parah jika dipaksakan berjalan.

 

***

 

Minhyuk menggendong Soojung di punggungnya dan dengan perlahan tapi pasti menyusuri belokan demi belokan. Namun ketika tinggal satu langkah lagi menuju rumah bergaya Eropa yang tempo hari didatanginya tersebut, gadis itu meminta untuk diturunkan.

“Kenapa?”

“Kalau Sooyeon eonni melihatku digendong, dia pasti curiga dan bertanya macam-macam. Jadi cukup sampai disini saja.”

Minhyuk pun menuruti gadis itu untuk menurunkannya. Sebelum berjalan menuju pagar rumahnya, Soojung menyerahkan inline skates yang sedari tadi dipegangnya dan juga helm yang masih bertengger di kepalanya.

“Terima kasih karena kau sudah mau meminjamkan.”

“Maaf, Soojung. Gara-gara aku─”

Soojung terkekeh pelan, “Jangan minta maaf. Ini murni kesalahanku. Gara-gara terlalu overaktif…”

Minhyuk terdiam. Hatinya tersayat-sayat melihat gadis itu terluka dan tidak ada yang bisa ia lakukan. Mungkin setelah ini ia harus mendeklarasikan dirinya sebagai ‘Pria Paling Bodoh Sedunia’.

“Ah, hampir lupa!” Soojung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah tiket masuk kompetisi figure skating antar-universitas. Ia lalu menggenggamkan tiket tersebut ke tangan Minhyuk. “Kompetisinya hari Sabtu. Kuharap kau mau datang.”

Pria itu memandang Soojung takjub. Entah sudah berapa kali gadis itu memberikannya kejutan hari ini. Dan entah apa yang dimimpikannya semalam.

Bye, Minhyuk. Hati-hati.”

Minhyuk masih berdiri terpaku di tempatnya. Dipandanginya punggung gadis itu hingga menghilang di balik pagar. Masih tidak habis pikir bagaimana sebenarnya gadis itu memandang dirinya hingga melakukan itu semua. Memandang seorang Kang Minhyuk. Ia hanyalah seorang tukang pesan-antar.

“Kau juga, Soojung-ah.”

 

***

 

Minhyuk merasakan ada aura berbeda semenjak ia masuk ke restoran tempatnya bekerja. Suasana suram berhiaskan awan hitam pekat yang mampu menyelimuti hati orang-orang yang berada di dalamnya─selain para pelanggan, tentunya─ditambah dengan tatapan berkilat orang-orang tersebut bagai serigala kelaparan, yang mampu membuktikan firasat buruk yang sedari tadi ia rasakan.

Minhyuk tahu persis apa kesalahannya, dan tahu kira-kira apa yang akan dihadapinya. Ia hanya menundukkan kepala begitu Kim ahjussi melangkah mendekatinya. Aura pria itu bahkan tidak pernah sekelam ini sebelumnya.

“Kurasa aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal kesalahanmu, Kang Minhyuk.” ujarnya. Tenang, tapi terasa menusuk.

Minhyuk menggangguk pelan. Manajer mana yang tidak emosi mengetahui karyawannya membolos kerja hampir seharian penuh dan datang tepat ketika restoran setengah jam lagi tutup?

“Dan, karena kesalahanmu─”

“Potong gaji,” Sela Minhyuk, “Sebulan, dua bulan. Tidak masalah.”

“Ini bukan hanya soal gaji, anak muda. Kau tahu benar tempatmu bekerja ini tidak memiliki kelebihan pegawai yang bisa menggantikan pegawai lainnya di sela-sela waktu.” Tutur Kim ahjussi, lebih mirip seperti ayah yang sedang memberi nasihat pada anaknya yang sering pulang larut malam, “Waktu dibayar waktu.”

“Maksud Anda?”

“Mulai besok bekerjalah full time selama tiga hari. Aku hanya akan memotong gajimu satu bulan.” Kim ahjussi menyelesaikan kalimatnya dengan nada final. Ia lalu menggeleng sebelum melangkah meninggalkan Minhyuk, kembali masuk ke ruangannya, “Kau benar-benar menguji kesabaranku.”

Minhyuk melongo. Kim ahjussi tidak memberinya jeda untuk berbicara, dan ia sendiri pun tidak yakin bisa melakukannya. Mau jadi apa nasibnya kalau sampai berani menolak hukuman yang pasti sudah dipertimbangkan pria itu ‘seringan-ringannya’? Harusnya ia bersyukur pria baik hati itu tidak memotong gaji lebih dari sebulan, atau lebih parahnya memecat.

“Hei, Bocah Beroda.” Merasa julukannya dipanggil, Minhyuk pun menoleh ke arah kasir. Tampak disana Yoon Bora, sang petugas kasir yang menatapnya dengan pandangan merendahkan. “Layani pelanggan untuk tiga puluh menit terakhir. Setelah itu beres-beres. Kami mau pulang.”

“Apa?! Tapi aku kan─”

“Kau mau kuadukan pada Manajer?”

Minhyuk mendecak. Inilah yang tidak ia suka dari dunia kerja. Satu karyawan ditegur, sementara yang lain merasa menjadi karyawan paling baik sepanjang masa.

Dengan emosi yang sengaja diperlihatkan Minhyuk mengambil catatan kecil dan pulpen yang berada tidak jauh dari sana, terpaksa beralih menjadi ‘tukang catat dan antar pesanan’, kasir, dan ‘tukang bersih-bersih’ dalam waktu satu malam. Untung saja tidak banyak pelanggan yang datang berhubung restoran sebentar lagi tutup.

“Pesan apa?” tanyanya pada salah satu pelanggan yang duduk di pojok dekat jendela. Ia memposisikan catatan dan pulpennya, siap menuliskan menu yang akan disebutkan pelanggan tersebut.

Long time no see…” suara yang didengarnya justru membuat Minhyuk serasa membeku selama beberapa saat. Suara yang tak mungkin ia lupa. Suara yang paling dihindarinya sekaligus suara yang menurutnya paling membuat sakit telinga.

“…stepbrother?”

Jelas sekali basa-basi itu diucapkan dengan nada menyindir yang sangat ketara. Awalnya Minhyuk malas menurunkan catatan yang dipegangnya dan melihat pemilik suara itu secara langsung, namun ia tidak ingin dianggap pengecut yang hanya bisa menghindar dari masalah.

“Tadinya aku hanya bermaksud melihatmu saja dari jauh, tak kusangka malah kau yang menanyakan pesananku.” Lee Jungshin, saudara tiri yang terakhir dilihatnya ketika SMA itu tersenyum penuh kemenangan, bangga karena bisa mengolok-olok Minhyuk tepat di depan wajahnya.

“Aku tidak boleh berbicara dengan orang asing saat bekerja.”

“Jadi begini ya, caramu selama ini menyambung hidup?” Jungshin melihat ke sekeliling. Jelas sekali tatapannya ingin menunjukkan bahwa ia tidak cocok berada di tempat seperti itu jika dilihat dari status sosial.

“Setidaknya aku tidak selalu bergantung pada uang orangtua sepertimu.”

“Jangan sombong, Kang Minhyuk.” sorot mata Jungshin berubah serius. “Kau kira siapa yang telah berjasa melanjutkan bisnis Ayah? Ah, maksudku mantan Ayah.”

Dengan gerakan cepat Minhyuk mencengkeram kerah kemeja Jungshin dengan kedua tangannya. Mungkin ia tidak peduli dirinya direndahkan, tapi ia tidak akan membiarkan orang lain merendahkan atau berkata buruk tentang ayahnya. Apalagi oleh orang asing yang tega memporak-porandakan kehidupan keluarganya yang damai.

“Jaga kata-katamu.” Ucapnya dingin, “Harusnya kau dan ibumu bersyukur selama ini aku tidak melaporkan semua perbuatan busuk kalian ke polisi.”

Dengan angkuh Jungshin menyentakkan tangan Minhyuk lepas dari kerahnya, “Tidak usah mengancamku. Kau tidak punya bukti. Rakyat jelata sepertimu tidak bisa apa-apa.”

Minhyuk mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha meredam emosi karena sadar sikapnya barusan mulai menarik perhatian beberapa orang yang tersisa di ruangan itu. Jika saja ia bukan orang yang nasibnya tergantung pada perilakunya di tempat kerja, mungkin sudah dari tadi ia melayangkan tinjunya pada Jungshin.

“Aku pesan yang paling mahal.” Jungshin mengeluarkan sejumlah uang dari balik mantelnya dan meletakkannya di atas meja. Seolah semua cibirannya tadi belum cukup, ia berkata, “Kau makan saja. Hitung-hitung aku membantumum membelikan makanan yang tidak akan sanggup kau beli.”

Dengan emosi yang perlahan-lahan kembali naik, Minhyuk meremas uang tersebut dan melemparkannya tepat di dada Jungshin sebelum ia pergi meninggalkan saudara tirinya itu, “Aku tidak butuh uangmu, Bodoh.”

 

***

 

Keadaan Minhyuk dua hari setelahnya sudah bisa dipastikan. Sejak pagi pria itu hampir tiada henti mengantarkan pesanan demi pesanan ke rumah-rumah di sekitaran restoran. Anehnya, pesanan yang harus ia antarkan tidak sebanding dengan petugas pesan-antar yang lain, seolah sebagian besar pesanan itu dibebankan padanya. Tidak ada sepeda motor yang bisa ia pinjam karena sejak awal ia sudah berkomitmen untuk menggunakan inline skates. Hanya benda itulah satu-satunya yang ia andalkan.

Minhyuk sengaja menghentikan langkahnya di tengah jalan dan menumpukan kedua tangannya di lutut. Demi menyelesaikan pekerjaan secepatnya, ia sampai sengaja melewatkan makan siang dan mereduksi habis-habisan waktu istirahat selama dua hari berturut-turut. Namun mungkin ketahanan tubuhnya sudah mulai mencapai batas. Tangannya mulai gemetar karena kelelahan dan kakinya mulai mati rasa. Mungkin ada baiknya ia mendudukkan diri sejenak di halte sambil menunggu kondisi tubuhnya kembali stabil.

Pria itu menghabiskan teguk terakhir air mineral yang dibawanya. Tinggal satu pesanan lagi, dan tugasnya hari ini berakhir sudah. Namun alamat yang tertera dalam kertas catatannya membuatnya ingin mengabaikan kewajibannya sebagai tukang pesan-antar. Dari sekian banyak tukang pesan-antar yang lain, kenapa harus dirinya yang mendapatkan alamat tersebut?

Mau tidak mau Minhyuk pun pasrah. Bagaimanapun juga tugas harus dilaksanakan dan kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Maka disinilah ia sekarang. Di depan sebuah rumah bertingkat dua dengan halaman luas yang menyimpan banyak kenangan bagi dirinya.

Ya. Kenangan.

Seseorang berlari tergopoh-gopoh tak lama setelah Minhyuk menekan bel. Pria berseragam yang entah petugas keamanan atau supir. Minhyuk sama sekali tidak mengenal pria itu, yang berarti pria tersebut baru direkrut setelah ia pergi.

“Ah, akhirnya datang.” Belum sempat pria tadi membuka mulutnya, seorang pria lain bertubuh kurus tinggi muncul dari balik punggungnya. Pria itu siapa lagi kalau bukan Jungshin.

Minhyuk mendesah malas. Ia tahu hal ini akan terjadi. Sejak menerima daftar alamat pelanggan ia sudah mengira-ngira apa tujuan Jungshin. Dan sialnya, dialah yang harus bertugas mengantarkan pesanan.

Jungshin menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada pria yang membukakan pintu tadi untuk meninggalkan mereka berdua. Rasa jengkel Minhyuk semakin bertambah ketika seorang wanita berpenampilan glamor datang tak lama kemudian. Wanita yang tampaknya belum menyadari keberadaan Minhyuk itu berlagak bingung dengan gestur tubuh yang membuat mual siapa saja yang melihatnya.

“Jadi, ini yang mau kau perlihatkan pada Ibu?” tanyanya, memperhatikan penampilan Minhyuk dari atas ke bawah dengan angkuh.

Jungshin mengangguk, “Menarik, kan?”

“Apa uang yang Ibu berikan tidak cukup sehingga kau harus mencari penghasilan tambahan?”

“Cukup?” jika saja Minhyuk tidak pintar-pintar mengendalikan emosi, ia pasti sudah mengamuk tidak karuan, “Uang darimu bahkan tidak lebih dari setengah uang saku anak tukang laundry!”

“Sayang sekali, Minhyuk.” wanita itu menggosok-gosok cincin berlian di tangannya. Kentara sekali ingin menunjukkan statusnya sebagai borjuis, “Tidak ada yang pernah memintamu untuk meninggalkan rumah.”

“Dan menjadi budak kalian?” Minhyuk menatap tajam kedua orang itu, “Aku tidak mau menjadi budak orang-orang busuk.”

“Jaga mulutmu!” wanita itu mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Minhyuk. Kedua alisnya bertaut dan matanya berkilat penuh kebencian, “Kau kira kau bisa apa tanpa uangku?!”

“Secara teknis itu uang ayahku, Nyonya Direktur yang Terhormat.” Koreksi Minhyuk, memberi penekanan penuh pada empat kata terakhir. “Kuharap kau masih ingat dari mana kau berasal, karena Tuhan akan menunjukkan siapa yang benar-benar ‘miskin’.”

“Kau─”

Minhyuk menjejalkan kantong plastik yang dibawanya ke arah Jungshin, memaksa pria itu untuk mengambil pesanannya sebelum ia pergi. Ia tidak ingin membuang-buang waktu melanjutkan perdebatan lebih jauh. Ia sudah cukup lelah secara fisik dan pikiran, dan meladeni orang-orang bebal seperti mereka tidak akan ada habisnya. Rasanya tidak perlu ia menerima uang mereka. Meskipun uang itu bukan untuknya, harga dirinya tetap saja terasa dijatuhkan. Biarlah nanti ia mencari cara untuk mengganti uang pesanan tersebut dengan uangnya.

Pria itu menyandarkan dirinya di dinding salah satu sudut jejeran toko yang dilewatinya dalam perjalanan pulang. Dilemparkannya helm hitam yang sedari pagi menutupi kepalanya ke tanah. Ia lelah. Kalau bisa, ia ingin memutus hubungan sama sekali dengan Jungshin dan ibunya, dan hidup mandiri seutuhnya. Namun semua biaya hidup terlalu berat untuk dipenuhinya seorang diri dalam keadaannya yang seperti ini. Selama masih belum memiliki pekerjaan tetap, pilihannya hanya dua; berhenti menerima uang kiriman ibu tirinya atau berhenti kuliah.

Di tengah pikirannya yang berkecamuk, pandangan Minhyuk tanpa sengaja terarah pada beberapa layar televisi yang dipajang di etalase toko elektronik tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hampir kesemua televisi itu menayangkan acara yang sama; kompetisi figure skating antar-universitas yang disiarkan langsung pada malam ini. Minhyuk menyipitkan mata, menajamkan penglihatannya. Di beberapa layar tersebut tampak seorang gadis dengan dress putih melambai-lambai ke arah kamera. Di tangannya tergenggam sebuah trofi dan beberapa karangan bunga. Gadis yang ia ketahui bernama Bae Suji.

“Astaga! Soojung!”

Minhyuk lupa ia punya janji untuk datang menonton kompetisi tersebut pada Soojung. Tidak sepenuhnya lupa, sebenarnya, hanya saja kejadian di tempat yang ‘dulunya’ rumahnya tadi mengalihkan pikirannya. Langsung saja ia melesatkan inline skates-nya agar segera sampai di tempat kompetisi. Tidak peduli pada kelelahan yang dirasakannya dan apakah waktunya sempat atau tidak. Yang penting ia datang. Dan semoga saja gadis itu belum pulang.

Pria itu melintasi belokan demi belokan dengan tidak sabar, tidak jarang ia menyenggol atau menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya, bahkan nyaris tertabrak bus. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana tiba di tempat itu secepat mungkin.

 

***

 

Setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, Minhyuk pun akhirnya sampai di tempat tersebut. Ia tidak mengindahkan petugas yang melarangnya menggunakan inline skates di dalam gedung. Dengan terburu ia masuk ke dalam arena kompetisi, dan sesuai dugaannya; kosong. Tidak ada orang yang tersisa kecuali dua orang petugas kebersihan yang sedang mengepel di salah satu sudut ruangan.

Minhyuk menghempaskan dirinya di salah satu bangku penonton. Ia mengerang frustasi, menyesali perbuatan bodohnya yang membuang waktu untuk melamun. Karena jika tidak mungkin saja ia masih sempat melihat pengumuman pemenang atau minimal melihat sosok Soojung di atas arena.

“Maafkan aku, Soojung…”

“Permintaan maaf diterima.”

Minhyuk buru-buru menoleh. Memang ia sedikit berharap gadis itu belum pulang dan masih menunggu kehadirannya di tempat itu, namun sama sekali tidak menyangka kalau harapannya akan menjadi kenyataan.

Soojung─yang sudah mengganti kostumnya dengan sweater dan mantel─mendudukkan dirinya di samping Minhyuk. “Kau terlambat.”

Minhyuk menghela napas berat, “Aku tahu.”

“Tapi baguslah. Kau tidak perlu melihat penampilanku yang memalukan.”

Kening Minhyuk berkerut.

“Nanti kau juga akan tahu. Siaran ulangnya akan ditayangkan besok.” Soojung tersenyum getir, “Aku gagal melakukan double flip.”

Minhyuk melirik ke arah kaki Soojung. Strapping bandage warna beige terlihat melingkari betis kirinya. Mungkin cedera itulah yang menyebabkan ia gagal mendapatkan juara pertama.

“Kau pasti kesal.”

“Tidak juga,” Soojung ikut memandangi kaki kirinya, “Setidaknya Suji mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku tidak seambisius itu.”

“Berada di posisi pertama menjadi beban, kau tahu? Lagipula kompetisi ini ada setiap tahun. Aku bisa kembali tahun depan.”

Minhyuk tersenyum. Untunglah gadis itu tidak merasa putus asa seperti dugaannya.

“Hei, kau sudah jauh-jauh datang kesini. Ayo main!”

“Main?”

Soojung menarik tangan pria itu, membawanya menuju arena skating. Baru Minhyuk sadari gadis itu masih memakai figure skates-nya, yang berarti hal ini memang sudah ia rencanakan.

Setelah Minhyuk mengganti inline skates-nya dengan figure skates yang dipinjamkan Soojung dari tempat rental, mereka pun mulai meluncur di atas es─meskipun Minhyuk lebih banyak diam dan Soojung yang semangat berputar-putar. Gadis itu terlihat ingin mengulangi semua gerakan yang dilakukannya pada kompetisi, termasuk double flip yang gagal dilakukannya. Namun tampaknya cedera di betis kirinya masih belum memungkinkan Soojung untuk melakukan gerakan tersebut, sehingga lagi-lagi ia harus terjatuh.

Minhyuk buru-buru menghampiri gadis itu, “Kau baik-baik saja?”

Bukannya menjawab, gadis itu malah tertawa. Lama-lama tawanya semakin keras, persis dengan yang ia lakukan di ruang kelas tempo hari.

“Jangan pasang wajah cemas begitu. Aku baik-baik saja.” Guraunya, kemudian menghela napas panjang, “Dengan begini penyesalanku sedikit berkurang. Aku tidak akan pernah berhasil melakukannya dengan kondisi betis seperti ini.”

Soojung menekuk kedua lututnya, masih enggan beranjak dari dinginnya lantai es yang didudukinya. Tidak ada pilihan lain bagi Minhyuk selain mengikuti jejak gadis itu duduk di atas es.

“Aku sudah memutuskan akan berhenti dari kursus merangkai bunga dan seni keramik,” terang Soojung, “Dan sebagai gantinya aku akan menemanimu mengantarkan pesanan ke rumah-rumah.”

Minhyuk kaget setengah mati. “Kau gila.”

“Ya. Aku gila. Aku gila karena semua lemak jenuh ini.” Soojung memulai perumpamaan yang pernah ia sebutkan sebelumnya, “Dan kurasa kau dan Rollerblade-mu bisa menjadi bakteri probiotiknya.”

“Oh, boleh kuanggap itu pujian?”

“Aku serius, Minhyuk.” Soojung menatap pria itu dalam. Begitu dekat, begitu intens hingga untuk menelan ludah saja rasanya tidak bisa. “Aku─”

“Hentikan.”

Soojung terpaku. Matanya mengikuti kemanapun bola mata Minhyuk bergerak, menangkap keraguan disana, “Jangan bilang kau mau mengatakan kalimat klise seperti ‘Aku tidak akan bisa membahagiakanmu’ atau ‘Aku hanya pria miskin yang tidak bisa memberikanmu apa-apa selain cinta’?”

Well, itu menjijikkan.” Minhyuk menggosok tengkuknya, “Tapi bagaimana kau bisa tahu?”

“Astaga, Kang Minhyuk,” Soojung menyentuhkan kedua tangannya di pipi pria itu, “Perjalananmu masih panjang. Kau kira selama ini apa gunanya kuliah? Masa depan seseorang tidak akan berubah jika orang itu tidak mau berusaha.”

Dengan perlahan Minhyuk melepaskan tangan Soojung dari pipinya dan memalingkan wajahnya ke arah lain, “Baiklah, kalau begitu bukan itu yang ingin kukatakan…”

Ragu-ragu, pria itu pun mengecupkan bibirnya ke bibir Soojung. Lama ia mendiamkannya disana, hingga kemudian ia mulai menggerakkannya perlahan, melumatnya dalam. Soojung menutup kedua matanya, tidak menyangka hadiah dari kekalahannya dalam kompetisi akan sebegini manis.

“Aku tidak mau membiarkan perempuan mengatakannya duluan.” Ucap Minhyuk setelah melepaskan ciumannya.

Soojung tertawa, “Say it.”

Minhyuk menghirup napas dalam-dalam. Belum pernah ia merasa gugup sampai seperti ini.

I love you.”

Suasana hening selama beberapa saat. Kedua orang itu sama-sama terdiam. Kalimat yang seharusnya direncanakan untuk diucapkan duluan oleh Minhyuk justru diucapkan persis bersamaan oleh mereka berdua. Mereka pun tertawa, sebelum akhirnya Soojung menempelkan telunjuk di bibir karena sadar suara yang mereka hasilkan terlampau keras untuk sebuah ruangan kosong di malam hari.

“Boleh kuulang?” gadis itu setengah berbisik, “Love you, too.”

 

***

 

Soojung berlari-lari kecil menyusuri trotoar. Langkahnya terasa ringan pagi ini. Cedera kakinya sudah sembuh total dan ia tidak sabar untuk memberikan kejutan pada Minhyuk tentang hal ini. Yah, meskipun artinya ia harus kembali menjalani kegiatannya yang padat. Namun ia tidak merasa begitu terbebani karena kejenuhannya sudah tereduksi.

Saat langkahnya hampir sampai di restoran tempat Minhyuk bekerja, gadis itu mengerutkan keningnya. Seharusnya ia senang karena secara kebetulan Minhyuk baru saja keluar dan tampak bersiap mengantarkan beberapa pesanan, namun inline skates yang biasanya dipakai pria itu tidak berada di kakinya seperti seharusnya.

“Minhyuk!” Soojung buru-buru menghampiri pria itu, “Itu… mau dibawa kemana?” ia menunjuk ke arah sepasang Rollerblade hitam yang ada dalam genggaman Minhyuk.

Minhyuk menghela napas panjang, “Mungkin sebaiknya kujual. Uangnya bisa untuk membayar uang sewa kamarku bulan depan.”

Soojung langsung menyambar Rollerblade Minhyuk, “Tidak! Tidak akan kubiarkan kau melakukannya.”

“Tapi, Soojung-ah─”

Gadis itu menarik lengan Minhyuk dan mendudukkannya di anak tangga di depan pintu masuk restoran. Ia membuka sneakers putih yang dikenakan pria itu, kemudian menggantinya dengan inline skates hitam miliknya.

“Kau sendiri yang bilang, inline skates adalah benda yang penting dalam hidupmu.” Soojung mengerucutkan bibirnya, merasa kecewa karena pria itu ingin melepaskan benda berharga tersebut begitu saja.

Minhyuk tersenyum. Ia lalu mencubit kedua pipi gadis itu, “Hei, jangan cemberut begitu.”

Soojung melepas ransel yang dipakainya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya; sebuah inline skates berwarna putih.

“Sekarang aku juga inline skater sepertimu.” Ia mengganti keds-nya dengan inline skates, memasang pelindung siku dan lutut, serta helm. Gadis itu kemudian menarik Minhyuk berdiri dan mengambil sebagian kantong plastik yang dipegang pria itu.

“Ayo! Masih banyak pesanan yang harus kita antar.”

Tawa Minhyuk pun pecah, “Kau serius?”

Soojung mengangguk mantap, “Akan kubuktikan aku tidak hanya jago meluncur di atas es.” Ia lalu menggerakkan kakinya cepat, melesat jauh meninggalkan Minhyuk.

Ya! Soojung-ah!” Minhyuk mengejar gadis yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya itu, “Cederamu sudah sembuh?”

 

-Fin-

 

 

 

_________________________________

Halo! Di tengah-tengah penyusunan plot Briar Rose malah kepikiran oneshot ini. Lagi-lagi terinspirasi dari fairytale (walaupun udah umum sih…). Ya, aku suka Disney princesses, kalo mau tahu… Tapi bikin cerita yang bergenre romance banget emang agak susah buat aku, hahaha… Takut terlalu bikin mual dan basi ._.

Makasih buat apresiasi reader di FF-ku yang lain. Aku tunggu comment-nya ya, sampai jumpa!😀

 

35 thoughts on “Skaterella

  1. waa great story! minhyuk cinderella ver cowok gtu yak lol. btw kenapa jungshin yang jadi sodara tiri minhyuk.. mereka kan akur aslinya /bughh/ oke abaikan.

    more hyukstal ff please hehehe
    fighting thor, buat ff briar rose nya^^

    • Haha iya nih, Awalnya aku ga bermaksud bikin Jungshin dan Suzy jadi antagonis. Tapi pas nulis kebayangnya muka mereka, maka jadilah seperti itu…

  2. Kyaaa ,.. Ini daebakk thor ! Sumpah ini ff nya ringan tapi juga bisa bikin senyum2 sendiri pas bacanya !
    Dan juga tetap semangat ya thor buat ff briar rose nya🙂 *HwaitingAuthor-nim*

  3. annyeong ree-ssi,
    good job, ini bagus, sangat menghibur, manisnya paaass bgt, sayangnya ini oneshoot ya, klo tidak merepotkan, buat sequelnya donk?! krn mnurutku masih banyak konflik yg bisa dikembngkan dr ff ini, dtunggu ya karya selanjutnya, gomawo. keep writing n hwaiting

    • Halo! makasih udah baca🙂
      Kalo soal sequel ga janji ya, karna dari awal emang dibikin cuma segini aja. Tapi kalo suatu saat nanti dapet ilham(?) mungkin bisa….

  4. Min kalo buat saran udah dabes banget sebebernya cuma ya rada ganjil gitu belum apa apa udah ada scene kiss kalo bisa kembangin dikit alurnya biar tambah greget

  5. Kereen bgt thor, aku suka bgt semua ff author=))
    ngomong2 pandora bakal dilanjutin ga thor? aku penasaran bgt, itu ff bagus bgt soalnyaa..

  6. Aaaa bagus bangett :G tapi alurnya kecepetan, mendadak jadian😀 sudahlah sudahlah, yg penting ini bagussss, gegara the heirs aku suka minhyuk krystal.-. Keep writing😀

  7. simple dan menarik. ide cerita yang umum tak masalah selama diolah dengan baik hasilnya berbeda dan menakjubkan. selamat author. karyamu bagus.

  8. Rasanya telat banget buat coment fanfic ini. Tapi aku suka dan udah baca fanfic ini sejak lama^^ dan baru coment sekarang._. Keep writing

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s