Illusion

illusion

 

Title : Illusion

Author : Minhyuk Anae

Rating : PG-15

Genre : Romance, AU, Friendship

Length : Oneshoot

Cast :

  • Kang Min Hyuk
  • Jung Soo Jung a.k.a Jung Krystal
  • Other Cast

Disclaimer : My own imagination

Note : I’m back! (ada yang masih ingat Minhyuk Anae? Masih kan? Hihihi >,<) Aku kembali membawa cerita baru, semoga kalian suka hihi. Selamat membaca dan jangan lupa memberi komentar,  kritik, maupun saran yang membangun. Terima kasih ^^

——————————————————–***——————————————————–

Tumpukan buku berdebu masih tersusun rapi di sebuah rak usang yang terletak di pojok kamar bernuansa merah muda yang ku kenali ini. Setelah lima belas tahun lamanya, aku kembali menjejakkan kakiku ke kamar lamaku—lebih tepatnya aku kembali ke rumah lama orang tuaku yang terletak di provinsi Daewon tepatnya di Donghae. Aku masih ingat buku-buku tersebut ku tinggalkan begitu saja lima belas tahun yang lalu ketika Ayah mendapat tugas di Busan dan aku harus ikut tinggal di sana. Hingga akhirnya hari ini kami kembali ke rumah itu dan aku mendapati tumpukan buku itu masih utuh dalam posisi terakhir saat ku tinggalkan.

Aku menggeret koperku dan ku taruh di sisi kanan lemari pakaian kayu yang berada tepat di hadapan ranjang. Aku menggeser sebuah kursi dan menyentuh beberapa buku berdebu itu. Sesekali aku membersihkannya dengan tanganku. Namun kegiatanku itu terhenti ketika suara Ibu memanggilku cukup keras dari luar kamar.

“ Soojung, apa yang sedang kau lakukan?”

Aku berjalan ke luar kamar dan mendapati Ibu dan Ayah sedang duduk di sofa ruang tengah.

“ Bibi Lee akan datang sebentar lagi dan kau tidak perlu repot-repot membereskan kamarmu. Ah, harusnya Ibu meneleponnya kemarin hingga rumah ini tak terlalu banyak debu ketika kita datang.” Ucap Ibu lalu menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku mengangguk pelan. Ah, aku ingat, Bibi Lee adalah tetanggaku dan dia sesekali membantu ibuku membereskan rumah dulu. Bahkan kalau aku tidak salah, beliau juga yang menjaga rumah ini.

Angin sore khas pantai menyambutku dengan lembut ketika aku duduk di kursi panjang yang terletak di pinggir rumahku. Aku masih ingat tempat ini adalah tempat kesukaanku dulu. Tiba-tiba ingatanku teringat pada sesosok laki-laki yang dahulu sering muncul di pikiranku. Ia biasanya datang pada waktu sore saat aku sedang duduk santai di tempat ini. Seolah mengajakku berbicara dan  memberiku harapan tentang persahabatan.

Sebuah senyum kecil kuukirkan. Aku sadar betul sosok itu hanya ilusi masa kecilku. Kau pernah dengar tentang teman khayalan? Nah, sosoknya itu bisa dikatakan dengan teman khayalanku. Entahlah, jangan tanya mengapa sosok itu bisa tiba-tiba muncul di hadapanku tapi yang pasti ia tiba-tiba saja datang dan mengusik separuh jiwaku.

Semakin lama aku duduk di tempat ini, mendadak seluruh ingatanku tentangnya kembali. Padahal saat aku pindah ke Busan, aku mencoba untuk bersikap normal dan dapat melupakan sosoknya. Tapi kini aku teringat kembali mengenai setiap detail sosoknya. Aku masih ingat sosok khayalanku itu adalah lelaki kecil berambut cokelat kehitaman, bertubuh lebih tinggi dari laki-laki normal berusia lima tahun, memiliki mata yang lebih sipit dibandingkan mata normal penduduk Korea, berkulit putih halus, dan memiliki senyum yang begitu manis. Dan kukira khayalan gilaku itu muncul lagi ketika ku lihat sosoknya datang dan melewati pagar sederhana rumahku dan terhenti melihatku yang duduk sambil memandangnya. Ia sama persis seperti apa yang ku khayalkan dulu, bedanya kali ini versinya sudah berubah mengikuti zaman—ya, tentu saja usiaku sudah 20 tahun dan kali ini sosok itu datang dalam versi 20 tahun.

Dia masih berdiri di tempat itu dan memperhatikanku yang terpaku melihat sosoknya. Sangat tidak lucu menurutku, bagaimana bisa aku mengembalikan sosok teman khayalanku yang seharusnya telah lama hilang?

“ Kang Minhyuk?” Akhirnya ada sepatah kata yang dapat ku keluarkan dari mulutku.

“ Bagaimana kau bisa tahu namaku?” Ucap laki-laki itu semakin menatapku heran.

Eh, bukankah Kang Minhyuk—si teman khayalanku itu tidak pernah bicara? Biasanya dia hanya tersenyum kepadaku, mendengarkan segala ucapanku dengan baik tanpa pernah menyela, dan segala yang ia lakukan hanya tersenyum lalu membaca tulisan-tulisanku. Tapi kali ini berbeda, dia bicara padaku! Untuk pertama kalinya!

“ Kau lupa padaku? Aku Jung Soojung!” Ucapku spontan lalu mendekatinya.

“ Bukankah kau penduduk baru di sini? Bagaimana kau bisa mengira kita sudah saling mengenal?”

Aku mundur satu langkah. Ku perhatikan wajahnya dengan seksama. Ia benar-benar persis seperti teman khayalanku itu. Bagaimana bisa ia tidak mengingatku? Aku yang menciptakannya! Aku yang membuat khayalan tentangnya. Tapi mengapa ia…

“ Nona? Kau baik-baik saja?” Ucapnya memutus pemikiranku.

“ Aku hanya ingin melihat tetangga baruku. Mungkin aku bukan Kang Minhyuk yang kau kenal karena aku sama sekali tak mengenalimu. Tapi sebagai perkenalan, namaku Kang Minhyuk dan aku tinggal di rumah yang berwarna hijau itu.” Ucapnya menunjuk sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari rumahku. Aku membalas uluran tangannya, “ Aku Jung Soojung.”

“ Senang mengenalmu, Soojung-ssi.” Ucapnya tersenyum manis membuat kedua matanya menghilang dan membentuk sebuah eye-smile. Astaga, Tuhan, sungguh senyumannya persis dengan miliknya. Aku yakin dua ratus persen bahwa ia adalah lelaki yang sama seperti apa yang ada di khayalanku. Tapi pertanyaannya adalah apakah sebenarnya dia yang selama ini kupikir khayalan itu nyata? Serta apakah lima belas tahun membuat ingatan tentang sosokku menghilang?

-***-

Aku mengambil sebuah buku dari tumpukan buku yang tersusun di kamarku. Membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah kutuliskan dahulu. Buku ini adalah saksi hidup tentang kisah khayalanku itu, bagaimana aku berkomunikasi dengannya melalui tulisan.

-Flashback-

Ku tatap kedua orang tuaku yang masih saling berselisih paham, entah apa yang sedang mereka permasalahkan. Mungkin masalah ibuku yang tidak jadi mengandung adikku alias keguguran beberapa waktu lalu. Dan hingga sekarang mereka masih saling berteriak tepat di depan mataku.

Astaga, aku lelah sesungguhnya melihat pertengkaran mereka. Apa mereka tak sadar bahwa mereka bertengkar di depan gadis kecil berusia lima tahun? Bahkan aku merasa sedih dengan diriku sendiri melihat bagaimana kedua orang tuaku bertengkar dan menelantarkanku begitu saja.

Aku lapar dan bosan. Kupilih ke luar rumah dan duduk di bangku kecil tepat di halaman samping rumahku. Angin sore sedang kencang-kencangnya tapi aku suka, karena membuatku terasa nyaman dan sejuk di hati.

Tiba-tiba pikiranku membayangkan suatu hal. Aku ingin punya teman. Entahlah, semenjak beberapa waktu ini aku merasa begitu kesepian. Berawal dari ibuku yang mengandung dan seluruh perhatian keluarga tertuju padanya, ditambah ketika ibuku keguguran semua makin tertuju padanya. Aku belum terlalu mengerti semua, hanya saja aku merasa kesepian. Dan semenjak itu semua terjadi, Ibu tak pernah lagi mendengarkanku berkeluh kesah.

Aku hampir terlonjak kaget ketika mendapati seseorang tengah duduk di hadapanku.

“ Kau siapa?” Tanyaku kaget. Namun lelaki itu hanya tersenyum sambil berpangku tangan pada meja di hadapannya. Aku memperhatikannya lekat-lekat dan mengulangi pertanyaanku, “ Kau siapa?”

Kini dia melambaikan tangan kanannya kepadaku kemudian mengulurkan tangannya mengajakku berjabatan tangan. Aku membalas uluran tangannya.

“ Namaku Jung Soo Jung. Namamu siapa?” Tanyaku.

Lagi-lagi dia hanya tersenyum dan sedikit membuatku kesal karena tidak menjawab pertanyaanku. Apakah dia tak bisa bicara?

“ Apa kau mau berteman denganku?” Ajakku dan kini ia merespon dengan sebuah anggukan.

“ Kalau mau berteman, kau harus memberi tahu namamu.” Ujarku dan kini dia merebut buku harianku lalu menuliskan namanya.

Kang Min Hyuk.

“ Aaah, namamu Kang Minhyuk? Minhyuk? Mengapa tidak bicara dari tadi saja? Aneh.” Ucapku sambil memandang tulisannya di buku harianku. Namun saat aku memalingkan wajahku ke arahnya lagi ia sudah menghilang. Ia pergi ke mana? Bukankah ia menyetujui untuk berteman denganku tapi mengapa ia pergi? Mengapa dia aneh sekali?

-Flashback off-

Ku pandangi lekat-lekat tulisannya itu.

Kang Min Hyuk.

Benar juga, tulisan itu menjadi sebuah bukti bahwa ia tak sekedar khayalan, tapi mengapa selama ini aku selalu menganggapnya sebuah khayalan? Dan jika semuanya nyata, mengapa ia tidak mengenaliku saat kami bertemu tadi? Sungguh, kukira semuanya khayalan karena yang terjadi ialah lelaki itu selalu muncul tiba-tiba dan ia selalu muncul di saat aku membutuhkannya kemudian pergi mendadak juga. Namun bukti tulisan ini merancukan seluruh pemikiranku selama ini.

“ Soojung-ssi, kau tidak masuk ke dalam?” Tanya seseorang mengagetkan lamunanku. Lelaki itu dengan santai memasuki pekarangan rumahku dan duduk di hadapanku.

“ Mau tteokbokki? Aku baru saja membelinya di depan sana.” Tawarnya sambil menunjuk ke arah jalan. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

“ Ayolah, ini salah satu tteokbokki terbaik di Donghae.” Ucapnya.

Sungguh, meski baru mengenalnya tadi sore aku merasa bahwa kami sudah mengenal satu sama lain cukup lama. Tapi aku sendiri merasa tidak enak dengan Minhyuk, tak mungkin juga memaksanya mengingat bahwa kami pernah mengenal satu sama lain dahulu. Lagipula, kukira Minhyuk-teman-khayalanku itu memang benar-benar khayalan. Mungkin juga dulu aku yang menulis namanya jadi semuanya hanya khayalan. Mungkin. Terlalu banyak mungkin, kurasa.

Aku mengambil tteokbokki yang Minhyuk tawarkan. “ Terima kasih.” Ucapku.

“ Kau pindahan dari mana?” Tanyanya setelah menelan satu sumpit tteokbokki.

“ Busan.” Jawabku singkat lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan segelas air mineral untuk Minhyuk.

“ Kau tinggal sendiri di sini?” Tanyaku penasaran setelah kembali dari dapur.

Dia menggeleng, “ Tidak. Aku tinggal dengan kedua orang tuaku dan satu kakak. Tapi baru satu bulan kakak perempuanku menikah dan ikut dengan suaminya. Sedangkan kedua orang tuaku bolak-balik Donghae-Seoul untuk mengurus bisnis mereka. Jadi aku sering tinggal sendiri.”

“ Seoul? Mengapa tidak ikut untuk tinggal di sana?”

“ Aku terlalu cinta dengan Donghae.” Ucapnya kemudian disusul dengan tawa ringan kami berdua.

“ Mengapa kau pindah ke Donghae, Soojung?”

“ Mengikuti bisnis ayahku.” Jawabku dan dia hanya mengangguk-angguk mengerti.

Setelah berbincang kesana kemari tentang daerah sekitar Donghae, mulai dari sunrise-nya yang indah, tempat-tempat nongkrong, serta sore yang indah di Donghae, Minhyuk berpamitan pulang.

“ Harusnya aku memperkenalkan diri dulu kepada Tuan dan Nyonya Jung.” Ucapnya begitu sampai di depan gerbang.

“ Ayah masih sibuk mengurusi urusan kantornya dan belum pulang dari kemarin siang. Katanya masih banyak yang harus diurus semenjak kepindahannya ke sini. Ibu di dalam sedang istirahat setelah membereskan rumah tadi sore.”

“ Kau tidak membantu ibumu?”

“ Aku sempat membantunya sebentar. Hanya saja alergi debuku mengganggu dan Ibu menyuruhku untuk keluar saja.” Jawabku.

“ Ah, yasudah kalau begitu, mungkin lain kali aku bisa bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku pamit dulu, ya, Soojung. Kau masuk ke dalam sana. Anginnya tidak bagus untuk tubuhmu.” Ucapnya.

“ Iya, aku akan masuk. Terima kasih tteokbokkinya, Minhyuk.” Ucapku sambil melambaikan tanganku membalas lambaian tangannya. Minhyuk mengacungkan jempolnya lalu kembali menyuruhku untuk masuk rumah.

Lagi-lagi perasaan aneh itu kembali menjalar di tubuhku. Aku merasa dia benar-benar Minhyuk yang ku kenal dulu.

-***-

Flashback

Aku melirik jam dinding di kamar dan masih mengumpulkan nyawaku setelah bangun dari tidur siangku.

“ Bu…Bu…” Aku ke luar kamar dan mencari ibuku. Sepertinya beliau belum pulang dari pertemuan di kantor Ayah dan artinya aku harus sendiri lagi. Sebenarnya tadi siang Ibu mengajakku untuk ikut tapi aku terlalu malas dengan pertemuan kantor orang tuaku. Alasannya adalah tentu saja aku akan dianggurkan atau dicubit dengan teman-teman kedua orang tuaku. Lebih baik aku di rumah, menonton tv, membaca komik, dan tidur siang.

Angin sore yang menyejukkan itu menggodaku untuk segera ke luar. Ku ambil buku harianku dan duduk di tempat kesukaanku, halaman pinggir rumah.

“ Minhyuk?” Ucapku kaget ketika melihatnya ada di sana.

“ Ah, kau tahu aku sedang bosan ya? Harusnya kau datang dari tadi agar aku tak kebosanan seperti ini.” Ucapku dan seperti biasanya, ia hanya merespon ucapanku dengan senyuman.

“ Ibu dan Ayah belum pulang. Mungkin setengah jam lagi mereka akan datang. Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan di pertemuan itu hingga lama sekali? Uh, untung saja aku tidak ikut mereka. Bayangkan betapa bosannya aku di sana, kecuali di sana ada setumpuk lolipop atau cupcake.” Ucapku mengoceh sendirian.

“ Kau suka lolipop?” Tanyaku dan Minhyuk merespon dengan anggukan.

“ Wah, sama denganku! Biasanya aku punya persediaan lolipop yang banyak tapi semuanya disita Ayah karena minggu kemarin aku sakit gigi dan dokter menyarankanku untuk berhenti memakan lolipop sebelum gigiku berlubang.” Ucapku.

“ Jungie? Apa yang kau lakukan di sana?” Sebuah sahutan suara mengagetkanku. Itu suara Ibu! Ibu sudah pulang.

“ Minhyuk, aku ke dalam dulu, Ibu sudah datang. Kau pergi dulu, ya? Dah!” Ucapku kemudian berlari ke dalam rumah.

Begitu sampai pintu depan, aku melongok ke arah tempatku tadi dan Minhyuk sudah menghilang. Anak pintar.

-Flashback off-

“ Siang, Bibi Lee.” Sapaku pada wanita paruh baya yang lewat di depan rumahku. Siang ini aku akan pergi dengan Minhyuk untuk mengunjungi beberapa wisata kuliner yang ada di Donghae.

“ Wah, kau cantik sekali, Jungie.” Pujinya dan aku cukup membalasnya dengan ucapan terima kasih.

“ Mau pergi ke mana?”

“ Entahlah, Kang Minhyuk mengajakku pergi, Bi.” Jawabku.

“ Kang Minhyuk? Ah, Kang Minhyuk yang tinggal di rumah itu?” Tanya Bibi Lee sambil menunjuk ke arah rumah Minhyuk. Aku mengangguk.

“ Yaampun, kalian itu lucu sekali.” Ucap Bibi Lee sambil tertawa.

“ Maksudnya, Bi?”

“ Pertemanan kalian awet sekali. Bibi kira dia sudah lupa denganmu, berhubung kau berubah cukup drastis dari lima belas tahun yang lalu.”

“ Pertemanan?”

Pertanyaanku terputus seketika Minhyuk datang dan memanggilku, “ Soojung!”

Annyeonghaseo, Bi.” Sapa Minhyuk saat menyadari ada Bibi Lee di sampingku. Bibi Lee membalasnya dengan ramah.

“ Kami pergi dulu ya, Bi.” Ucapku berpamitan.

“ Ah, ya, ya, hati-hati. Minhyuk, jaga Soojung baik-baik, ya.” Ujar Bibi Lee.

“ Tentu, Bi.” Jawab Minhyuk mantap.

-Flashback-

Aku sedang membantu Ibu mengemasi barang-barang yang harus aku bawa ke Busan. Besok kami akan pindah karena Ayah mendapat tugas kerja di sana. Tapi anehnya, Ibu bilang aku tidak perlu membawa semua barangku, katanya sih aku akan kembali lagi ke sini suatu hari nanti.

Aku memandang buku harianku lalu teringat Minhyuk. Sudah seminggu ini kami tidak berkomunikasi.

Ibu memarahiku karena katanya aku sering bicara sendiri seperti orang tidak waras. Ayah hampir membawaku ke psikiater walau tentu saja akhirnya tak jadi karena Ibu menolak. Ibu bilang ada yang tidak beres dengan diriku. Tapi aku sudah meyakinkan bahwa aku masih waras dan tidak bicara sendiri, aku bicara dengan Minhyuk! Justru Ayah yang tak masuk akal karena menganggap aku berkomunikasi dengan hantu. Minhyuk itu bukan hantu! Buktinya kakinya menapak di tanah. Aku sudah meyakinkan itu tapi Ayah tak percaya. Kemudian aku mendengar Ibu bicara tentang teman khayalan. Katanya Minhyuk itu hanya khayalanku, ilusiku, perasaanku saja, tidak nyata. Meski sedikit menolak pemikiran itu, kupikir Ibu ada benarnya juga.

Aku duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati sekantong keripik kentang yang baru saja Ayah beli di luar. Kami baru saja selesai mengemasi semua barang dan kini aku lebih memilih menonton tv sambil ngemil dibanding tidur siang. Ayah dan Ibu baru saja tidur.

Aku membenahi posisi dudukku menjadi lebih tegak ketika acara di televisi membahas tentang Teman Khayalan. Katanya, seorang anak kecil wajar memiliki teman khayalan. Kemudian aku teringat Minhyuk. Jadi aku wajar, bukan? Dan Ayah tak perlu membawaku ke psikiater karena anak-kecil-wajar-punya-teman-khayalan. Kakiku tiba-tiba menuntunku ke luar dan menemui Minhyuk yang tentu saja sudah datang di tempat biasa di saat aku membutuhkannya.

“ Besok aku pergi. Aku akan merindukanmu. Jangan ikuti aku ke Busan. Ayah dan Ibu pasti marah kalau kau ikut aku ke Busan. Aku akan kembali beberapa tahun lagi. Sampai saat itu, kumohon jangan lupakan aku.” Ucapku menahan tangis sedang Minhyuk hanya tersenyum manis seperti biasanya.

Ayah mungkin benar, dia mirip seperti hantu. Datang dan pergi tiba-tiba dan muncul di tempat yang sama. Tapi aku yakin, dia bukan hantu. Mungkin dia sebatas khayalan, tapi aku percaya suatu saat aku akan menemuinya lagi.

-Flashback off-

-***-

Minhyuk mengajakku ke sebuah kedai yang menjual berbagai jenis pasta. Kukira dia akan mengajakku ke makanan Korea, ternyata tidak. Dia masih sibuk menjelaskan betapa enaknya pasta ini—mungkin dia cocok menjadi presenter yang membawakan acara tentang kuliner karena ku rasa dia begitu tertarik dengan kuliner. Hanya saja pikiranku masih tertinggal pada ujung percakapanku dengan Bibi Lee.

Pertemanan?

Jadi selama ini pemikiranku itu benar, kan? Minhyuk yang ada di depanku ini adalah Minhyuk yang selama ini aku kenal. Serta pemikiran Ayah dan Ibu selama ini salah mengenainya. Dia manusia. Aku berteman dengan manusia. Dan dia ada di hadapanku kini.

“ Kau tinggal di sini sudah berapa lama?” Tanyaku saat kami dalam perjalanan pulang.

“ Sudah lama, mungkin sekitar enam atau lima belas tahun.” Jawabnya.

“ Oh ya? Aku dulu juga tinggal di sini semenjak aku lahir. Hanya lima belas tahun yang lalu aku pindah.” Ucapku. Dia menghentikan langkahnya  lalu memandangku dan mengangkat sebelah alisnya.

“ Harusnya kau mengenalku. Ah, maksudku harusnya kita saling kenal, bukan?” Ucapku mulai percaya diri untuk mengatakan bahwa dia memang Minhyuk yang kumaksud.

“ Sebentar. Apa kau tinggal di rumah yang kau tempati sekarang?” Tanya Minhyuk mulai mengerti arah pembicaraanku. Aku mengangguk mantap.

“ Kau bercanda?”

“ Aku serius!” Jawabku tegas.

Minhyuk terkekeh, “ Jadi kau itu Jungie?”

“ Eh? Jungie? Itu panggilan masa kecilku. Kenapa kau bisa tahu?” Ucapku mulai bingung sendiri lalu tersadar bahwa kami baru saja sampai di depan rumahku. Aku menyuruhnya masuk dan kami duduk di kursi panjang itu.

“ Aku Minhyuk. Minhyuk yang dulu sering ke sini kalau sore. Kau masih ingat aku, bukan? Kau sering bercerita apapun yang kau alami setiap harinya padaku. Aku masih ingat betul bagaimana kau bercerita tentang pertengkaran kedua orang tuamu, keinginanmu untuk memiliki seorang teman, ceritamu tentang kau yang terlalu cepat bosan hingga kau berpamitan dulu.”

“ Jadi kau benar-benar kembali. Aku dulu mengenalmu dengan nama Jungie, bukan Soojung, hingga saat kau datang aku tak mengenalimu.” Ucapnya berseri.

Aku terperangah dan tidak percaya bahwa Minhyuk—si teman khayalanku itu nyata.

“ Astaga, jadi kau itu benar-benar nyata, Minhyuk?”

“ Maksudmu?”

Aku mulai menceritakan bagaimana aku mengira Minhyuk itu teman khayalanku. Berawal dari pemikiran kedua orang tuaku yang ternyata salah total. Kedua, Minhyuk yang tak pernah bicara setiap aku mengajaknya bicara. Hingga, aku yang meyakinkan diriku berkali-kali bahwa Minhyuk bukan hantu. Dan kini dia sedang tertawa terbahak-bahak.

“ Jadi selama ini kau kira aku itu khayalan? Bahkan hantu? Hahahaha!”

“ Habis, kau tidak pernah bicara, sih!” Protesku.

“ Maaf hahaha. Aku baru saja pindah dari Jepang waktu itu. Dan aku hanya bisa berbahasa Jepang. Baiklah, mungkin kali ini aku yang akan mengambil alih ceritanya.”

Minhyuk mulai bercerita, “ Semenjak lahir, aku tinggal di Jepang meski kedua orang tuaku asli warga Korea Selatan. Hanya saja, ketika usiaku sekitar 4 tahun, kami pindah ke Korea dan lebih tepatnya pindah ke daerah ini. Saat sebulan tinggal di sini, aku keluar rumah sendiri lalu menemukanmu yang sedang melamun. Dengan cukup lancangnya, aku masuk rumahmu dan menemuimu.”

“ Aku masih belum fasih dengan bahasa Korea meski kalau mendengarkannya sih aku mengerti. Kedua orang tuaku sering bicara dengan bahasa Korea saat di Jepang, tapi tetap saja aku lebih mengerti bahasa Jepang saat itu. Saat kau ajak berkenalan, aku bingung harus menjawab seperti apa, jadi aku menuliskan namaku di bukumu. Setiap kau bicara, aku tidak merespon apa-apa karena aku bingung harus bicara bagaimana.” Lanjutnya.

“ Dan ternyata, tak lama setelah itu kau pindah. Saat itu kau berjanji akan kembali. Maka dari itu aku memilih tetap di Donghae meski hidup sendirian dibanding ikut dengan orang tuaku ke Seoul. Karena katanya kau akan kembali dan aku menunggu itu.” Ucapnya menutup ceritanya.

Jujur saja aku terharu dan ingin memeluknya. Sungguh, aku tak menyangka bahwa dia benar-benar nyata. Mungkin selama ini orang tuaku salah sangka karena dia tak pernah bersuara, dan mungkin hanya Bibi Lee yang pernah memergoki kami sedang berkomunikasi. Tapi kini aku berada tepat di hadapannya, di tempat pertama kami bertemu dan berpisah, dan tersadar bahwa selama ini orang yang aku cari ada di hadapan mataku.

Aku tidak bisa menahannya untuk tidak memeluknya. Dia membalas pelukanku dengan manis.

“ Maaf sudah menganggapmu hanya sebuah ilusi, Minhyuk.” Ujarku.

“ Justru aku yang harusnya meminta maaf karena sudah membuatmu salah sangka.” Jawabnya.

“ Tapi aku senang sekali kau menepati janjimu. Jangan tinggalkan aku lagi, Jungie.”

“ Aku menyayangimu, Minhyuk.”

-End-

38 thoughts on “Illusion

  1. authooorr….
    ga ngertii😦
    ko tiba2 soojungnya ngomong “Aku menyayangimu, Minhyuk”
    feel ceritanya agak gak mendukung buat ngomong gitu.
    mungkin bisajadi ngomongnya aku merindukanmu aja.

    maap😛

    • kenapa aku menyayangimu ituuuu menyayangi konteks kangen+sayang ke sahabat+sayang sebagai cowo cewe, karena menyayangi kan konteksnya lebih luas hihi. thanks buat kritiknya ya dewww ^^

  2. Tapi kalo menurut aku ceritanya udah bagus kok, cars penulisannya juga gampang dimengerti.tapi alurnya kayaknya kecepetan ya? Hm mungkin kalo dibikin series jadi lebih bagus… Maaf ya buat kritikannya ^^

  3. haloo authornim, welcome back~!!

    sejujurnya sih udah ga keitung berapa ff bertema teman khayalan kayak gini yang pernah aku baca. tapi!—tetep aja aku suka ehehehe. dan aku agak menjerit/? pas baca line “aku terlalu cinta dengan Donghae.” iya aku tahu Donghae disini menjurus ke laut bagian timur korea, kan, tapi berhubung minhyuk beneran deket sama donghae sj, jadi yaa, pikiranku kemana mana. huahahahah. pokoknya itu kalimat fav di ff ini ._.V

    haduh komenku panjang banget miaaan x( tetep semangat ya nulis-nulsnya. annyeong~! :^)

  4. Cekcek tu wa.. Ehem,,
    Aaah authornim ini kembali juga😛
    huuuuhh memang menyebalkan sesuatu yg nyata dianggap ilusi,tapi soojung tetap percaya dia itu nyata ^^
    aaaa bedanya dimana hyukie? Ital kecil sampe sekarang cantik kok,heran ya dia tambah cantik😀
    oh panggilannyaaa😛
    Keren Anin,mau saran ini,alurnya agak dipanjangin dikit gitu,biar banyak moment nya juga terus lebih ngeh/?😉 hihi just saran😉
    Ditunggu story chaptered nya ya Anin🙂 Good Job^^

  5. Should I give you a comment? Hahahaha
    Bagus ih kayak biasanya, kecepetan tapi sebel mentang2 mau hiatus:p
    Keep writing ya,thor(?) Harus terus HyukStal couplenya gamau tau hahahaha:)

  6. Waa manis banget ceritanya >0<
    kangen banget hyukstal. setelah the heirs selesai. mereka gada bareng2 lagi. huhuhu jadi sedih saya sbg shippernya ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

    Ditunggu loh ff berikutnya ^_~

  7. selamat datang kembali authornim~ yuhuu~~ aku masih ingt kok sama author.. ^^ wah… comebacknya author bawa ffnya keren.. bahasanya juga bagus thor… aaa~ teman khayalan yang ternyata benar benar nyata? huaaa~ aku suka deh sama ceritanya.. apalagi minhyuk setia bgt nungguin soojubg sampe 15 tahun.. :3 wow… daebak!! tapi sayang thor, endingnya kurang greget sedikit lagi.. harusnya minhyuk jg bales pernyataannya soojung.. tp gpp kok thor, ffnya ttp daebak! ^^ ditunggu ff selanjutnya ya thor~

  8. Huee so sweet banget thor :’) bagus bangetttt! Thor buat yg school life dong yg minhyuk jdi gurunya soojung,pdhal soojung itu istrinya pngen bangettttt x3

  9. Sumpah thor… keren abisssss aku baru comment karen aku baru baca mian yh thor hehehe,min adain sequelnya dong kalau bisa sampai marriage lifenya wkwkwkw

  10. Keren ..keren .2 jmpol wat author
    Gomawo
    Hmpir smua ff hyukstal bikinan author daebak ini mmbuat aq trhibur sbg pmbaca .crtanya menarik ga ngebosenin .tp ada sbgian crta yg mo di ending nya alur nya kecepetan
    Ditunggu postingan hyukstal slnjutnya

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s