Let You Go

Kang Minhyuk – Jung Soojung

Angst. Oneshot

(another story from Before You Go)

 sun

Musim panas selalu mengingatkan dia akan gadis itu.

Ada bunyi truk besar di depan rumah, menghancurkan mimpi musim panas yang begitu indah. Menggesekkan kaki ke lantai marmer yang dapat mematikan saraf karena begitu dingin. Jinjitannya di tepi jendela membuatnya dapat melihat pagi hari pertama di musim panas yang masih enggan ditinggalkan musim semi. Matahari menggantung cerah di langit biru, tapi aroma musim semi belum layu.

“Tetangga baru, dia datang dari negara yang sangat jauh.” Ibunya masih muda dan cantik, memberitahunya pagi itu. “Dia akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu.”

Dua jam berikutnya ketika matahari musim panas begitu gembira menurunkan sinarnya ke bumi, anak lelaki itu menemui tetangga baru yang muncul bersama truk pindahan paling besar yang pernah dilihatnya.

“Hai, namaku Kang Minhyuk. Kudengar kau datang dari negara yang jauh sekali.” Tangannya terulur, disambut malu-malu oleh gadis kecil berambut sepinggang. Kulitnya terbakar matahari, tapi giginya seputih mutiara di dasar lautan. “Aku Jung Soojung, kami datang dari California, di Amerika sana. Tempatnya jauhhh sekaliii.” Tangannya melambai-lambai di udara, mencontohkan bagaimana pesawat terbang yang ditumpangi keluarganya melewati lautan panjang hingga sampai di samping rumah Kang Minhyuk. “Senang berkenalan denganmu, Kang Minhyuk,” matanya berkedip jujur. Teman pertama di lingkungan baru, di pagi pertama musim panas. Tidak ada yang tahu bahwa musim panas kali itu membawa keajaiban.

Keajaiban tidak dapat kau lihat. Tidak dapat kau baui. Tapi kau selalu dapat merasakannya.

Musim panas memang tidak abadi, tapi mungkin saja gadis itu abadi. Dia seperti matahari di pagi hari, tampak ketika pertama kali membuka mata, dilihat pertama kali saat berkunjung ke dunia mimpi, menjadi penggelitik hati pertama ketika rindu itu datang.

Seragam mereka berganti begitu saja, tahun-tahun terlewati dengan indah dan tanpa penyesalan. Pasir bersih di pantai mereka cium dengan telapak kaki, menebar tawa di tengah riuhnya ombak lautan. Berkelahi dengan matahari hingga kulit mereka terpanggang. Tapi semua itu begitu membahagiakan, hingga tahun-tahun berikutnya mereka masih mengenangnya.

Cacing-cacing di kebun samping mengenal mereka, ketika tubuh mereka begitu mungil berlindung di bawah teduhnya bunga matahari yang megah. Kini saat tubuh mereka bertambah tinggi dan bunga matahari hanya mampu menyusul hingga pinggang, mereka tetap di sana. Menghabiskan hari-hari sepulang sekolah, menonton matahari bercerita dengan awan dan angin yang cemburu.

“Aku tidak akan menghadiri malam prom,” Soojung berkata di antara himpitan bunga matahari, menggesek kulitnya yang tidak dilumuri krim. “Karena tidak ada yang mengajak aku untuk jadi pasangannya.” Dulu tubuhnya begitu kecil, kulitnya kecokelatan. Tapi gigi bagai kilau mutiara dan mata sebening biji leci itu tetap menimbulkan ketertarikan yang sama dari tahun ke tahun.

“Ke marilah,” Minhyuk memintanya maju dua langkah mendekat, gadis itu menurut. Minhyuk mengeluarkan rantai kalung dengan kerang yang menggantung manis di sana. Jemari kasar akibat berkebun selama bertahun-tahunnya menyentuh kulit leher halus Soojung, memakaikan kalung itu di sana.

“Ini… apa?” matanya berkaca-kaca, biji leci itu bersinar begitu indah.

“Hadiah kecil untukmu jika…”

“Jika apa?”

“Jika kau mau jadi pasangan prom-ku.”

Mereka bukan murid penting seangkatan, tidak ada yang menyoroti mereka ketika keduanya turun ke lantai dansa. Tapi hati mereka bersinar begitu terang malam itu, mungkin bintang di langit meminjamkan cahayanya selama lima jam. Gerakan lembut Soojung mengingatkannya akan angin yang selalu setia menggelitik awan dan bunga matahari di halaman samping. Membuatnya ingin selalu dekat-dekat gadis itu karena angin begitu lembut dan sejuk.

Ketika cahaya ruangan dansa redup, menyisakan lampu kerlap-kerlip ber-watt kecil yang menerpa wajah Soojung. Wajah tirus dengan sedikit noda bekas jerawat di dagunya, bibir dibalut lipstik sewarna mawar merah, matanya berkedip pelan dan teratur membuat biji leci di dalam sana bersinar terang. Jari jemari mereka bersatu, memerangkap satu sama lain, apa yang dapat memisahkan kecuali hati yang mulai bosan? Gerakan itu begitu lembut, menyejukkan hati dan menjernihkan pikiran. Pada saat itulah kenangan bertahun-tahun bersama sejak hari kepindahan Soojung sewaktu mereka masih bocah mengetuk lembut kepala Minhyuk. Menyinggung hatinya dan meninggalkan getaran di sana.

“Aku jatuh cinta padamu. Mungkin sudah sejak dulu, tapi malam ini aku baru menyadarinya dan aku yakin kaulah satu-satunya yang kuinginkan di dunia ini, Jung Soojung,” napasnya menyentuh wajah Soojung, meninggalkan harum kayu manis di sana, membuat Soojung tergila-gila lagi dan lagi. Senyum merekah di wajah cantiknya.

“Bertahun-tahun aku menunggu kau agar mengatakan ini,” wajahnya tersenyum tapi bercampur muram, ada gumpalan air mata menggumpal di sekitar biji lecinya.

“Kenapa?” Minhyuk bertanya, kembali meninggalkan harum kayu manis di wajah Soojung.

“Aku akan melanjutkan kuliah di Amerika,” tangisnya pecah ketika wajah penuh seri Minhyuk retak. “Aku akan jauh darimu untuk waktu yang lama.” Minhyuk mendekap Soojung erat-erat, menciumi rambut gadis itu, tidak tercium wangi serbuk bunga di sana, hanya ada kesedihan dan penyesalan yang menyusup ke hidungnya.

Kepergian gadis itu tinggal menghitung hari, Minhyuk sudah membuat rencana sebelum kepergiannya. Mereka akan berkencan seharian.

Keringat turun perlahan menggelitik kulit Minhyuk. Mula-mula itu hanyalah keringat karena gugup akan kencan pertama, dia sibuk berpikir apakah harus mencium gadis itu saat matahari tenggelam? Lama-lama keringat itu berubah menjadi rasa gerah karena Soojung tak kunjung datang. Lelah Minhyuk menunggu, hingga matahari tenggelam dan burung-burung pulang ke sarangnya. Soojung tidak datang. Dia tidak datang di kencan pertama mereka.

“Ke mana saja kau seharian ini?” suara Minhyuk terdengar begitu lelah malam itu, mengisi saluran telepon, matanya mengintip lewat jendela kamar, mengawasi kamar Soojung di seberang sana.

“Aku belanja keperluan sebelum berangkat ke Amerika.”

“Kau melupakannya?”

“Apa?”

“Kencan kita,” suara Minhyuk terdengar begitu putus asa, juga marah. Tapi ayahnya selalu mengingatkan bahwa bukan haknya untuk memarahi wanita yang bukan istrinya.

“Astaga! Aku melupakan itu. Maafkan aku!!” Soojung panik.

“Tidak apa-apa,” rasa lelah karena menunggu seharian mendominasi Minhyuk. “Padahal kau sudah belanja keperluanmu seminggu yang lalu, Soojung,” tambahnya sebelum memutuskan sambungan telepon.

Minhyuk tidak akan dapat menyangka bahwa tahun-tahun berikutnya lupa-lupa Soojung terus bertambah. Lupa-lupa itu mendominasi otak dan tingkah lakunya. Lupa-lupa itu merusak hari-harinya. Lupa-lupa itu memporak-porandakan kisah ini. Lupa-lupa itu tidak pernah pergi hingga gadis itu pergi. Lupa-lupa itu begitu abadi.

Musim panas datang lagi dan lagi. Gadis itu datang hanya sesekali. Tapi panggilan telepon tetap terjalin, lebih sering Minhyuk yang menghubunginya karena untuk kesekian kalinya Soojung melupakannya.

Pengantar surat datang rutin ke tempat tinggal Soojung, menyampaikan surat, kartu pos dan foto-foto polaroid dari kota yang jauh, dari Minhyuk di Seoul sana. Kadang dia ingat untuk membacanya, menempelkan foto-foto di album, kadang dia ingat untuk membalasnya. Tapi lebih sering surat-surat itu menumpuk di kotak surat atau di keset pintu. Tergeletak di sana. Meninggalkan kerutan di kening Kakak Sulungnya, Sooyeon. Menimbulkan kegelisahan di hati Minhyuk.

“Apa yang bisa aku bantu untukmu, Minhyuk?” matahari bersinar terang di luar sana, Sooyeon berjinjit menyingkir dari Soojung yang tengah memasak sarapan, berlama-lama di depan kompor, lupa dengan apa yang akan dia masak pagi itu.

“Sesuatu yang aneh terjadi, ini sebenarnya sudah agak lama. Tapi bisakah kau membawa Soojung ke dokter? Aku berharap ini tidak benar, tapi dia mulai aneh akhir-akhir ini.” Sooyeon mendengar Minhyuk menjelaskan, bagaimana gadis itu selalu lupa menelepon atau membalas surat dan e-mailnya. Bagaimana gadis itu biasanya bertanya hal-hal yang sudah jelas diketahuinya. Sooyeon merinding, dia berharap itu tidak benar dan Minhyuk salah. Minhyuk juga berharap begitu. Tapi seminggu kemudian Dokter mengatakan bahwa Jung Soojung menderita alzheimer.

Musim panas kembali, seperti gadis itu yang kembali menempati kamar di seberang kamar Minhyuk. Ada sisa air mata di wajahnya, denyutan di kepalanya tidak kunjung berhenti. Dia ingin ingat, ingat semua kenangannya di sini, bersama tetangganya yang tampan, temannya yang baik, kekasihnya yang setia. Dia ingin mengingat tentang Minhyuk lebih banyak.

“Aku bukan gajah, aku tidak bisa mengingat banyak hal,” air matanya meleleh, rasanya sehangat air lautan di musim panas. Kali ini mereka tidak ke sana, mungkin besok jika kesedihan ini berakhir.

Minhyuk memeluknya erat-erat, tenggorokannya tercekat tapi dia menelan rasa sakit itu sendirian. “Kau bukan gajah, kau adalah Soojung. Aku tidak mencintai seekor gajah, aku hanya mencintai Jung Soojung,” dikecupnya puncak kepala Soojung berkali-kali, berharap ingatan itu tersalur pada gadis itu.

Soojung mendongak, menemukan mata sedih kekasihnya, “Maukah kau mengingatkan aku akan apa pun yang telah kulupakan?”

“Tentu saja,” senyum Minhyuk membuat Soojung ingat bahwa inilah senyum paling tulus yang pernah Soojung lihat seumur hidupnya.

Musim panas datang lalu pergi, kemudian kembali lagi. Lelaki itu tidak pernah pergi, gadis itu juga selalu minta ditemani. Bersama-sama mereka saling mengingatkan. Membuka kenangan indah maupun pahit.

“Kapan pertama kali aku mulai lupa?”

“Kau melupakan kencan pertama kita,” Minhyuk menarik pipi Soojung hingga memerah. “Tidakkah kau tahu betapa terlukanya aku?” dia mengatakan itu dengan nada lucu, membuat Soojung tertawa.

“Aku tidak akan melupakan apa pun lagi,” tangannya melingkar di leher Minhyuk. “Aku berjanji, asal kau tidak pergi meninggalkan aku.”

“Aku berjanji,” Minhyuk mengecup dahi Soojung. Sore itu di halaman samping yang dipenuhi bunga matahari, ditonton langit dan seisinya, mereka mengucapkan janji. Tapi angin menerbangkan semua perkataan Soojung, menculiknya begitu saja. Dan waktu melumpuhkan otak gadis itu.

Musim panas dahulu gadis itu begitu cantik, dengan pipi agak tembamnya dan bibir yang seperti dilumuri sirup merah. Alzheimer merenggut itu semua. Hanya tulang-tulang yang dengan angkuh ingin keluar dari kulitnya, Minhyuk menyeka air mata pertamanya di pagi itu.

“Dulu ada teman yang bernama Kang Minhyuk, dia senang datang berkunjung, dia bahkan berjanji tidak akan pernah berhenti berkunjung. Tapi dia membohongi aku, dia berhenti menemui aku sejak bertahun-tahun yang lalu, meninggalkan aku di sini sendirian.” Soojung tidak ingat umurnya, tidak ingat namanya, tidak ingat di mana rumahnya, Soojung tidak ingat apa-apa lagi. Dia bahkan tidak mengenali wajah di hadapannya ini.

“Kau harus memaafkan Kang Minhyuk, dia tidak berniat melakukannya.” Minhyuk berusaha bicara senormal mungkin, tersenyum di ujung kalimatnya.

“Aku selalu memaafkannya, kuharap dengan memaafkannya dia akan kembali suatu hari nanti.”

“Dia akan kembali.”

“Kenapa kau begitu yakin?”

“Karena kau adalah rumah baginya.”

Minhyuk datang sebagai Kang Minhyuk Sang Tetangga, Minhyuk datang sebagai seorang Teman Lama, Minhyuk datang sebagai Kekasih, Minhyuk datang sebagai Orang Asing. Setengah hidupnya dia habiskan untuk menjadi Minhyuk yang dapat tinggal di ingatan seorang Jung Soojung, tapi tidak ada satu pun yang mampu bertahan.

Suatu malam di pertengahan musim panas, gadis itu terbangun dan menemukan lelaki itu menangis di samping tempat tidurnya. “Kenapa kau menangis?” tangan kurusnya menyentuh wajah sedih Minhyuk. “Apa kau sebegitu sedihnya?” Minhyuk mengangguk pelan.

“Kau bisa bercerita padaku, ceritakan kesedihanmu padaku, tapi jika kau tidak ingin menceritakan hal yang membuat kau sedih kau bisa menceritakan hal lain padaku, atau kalau kau juga tidak mau aku bisa bercerita padamu agar rasa sedihmu berkurang,” suara Soojung terdengar begitu riang malam itu, membuat Minhyuk bertanya-tanya cerita apa yang akan gadis itu ceritakan padanya.

“Berceritalah padaku,” Minhyuk meminta dengan penuh harap. Gadis itu bercerita tentang mimpi-mimpinya setiap malam. Bunga matahari besar, kalung kerang cantik, lautan luas, musim panas yang menyenangkan. Cerita panjang itu terus dia tuturkan pada Minhyuk, tanpa pernah sedikit pun terselip nama lelaki itu dari bibirnya. Minhyuk menyimpan rasa pahit itu lagi dan lagi.

“Ada seorang teman yang begitu kusayangi,” Minhyuk dapat giliran bercerita. “dia bilang dia juga menyayangiku. Aku tahu itu. Tapi sesuatu terjadi dan dia melupakan aku. Dia lupa namaku dan wajahku, dia lupa semua kenangan yang kami punya. Dulu sekali dia pernah bilang bahwa dia ingin terlahir kembali sebagai seekor gajah, karena gajah dapat mengingat lebih baik dibanding manusia. Tapi tahukah kau, bahwa tidak peduli dia terlahir sebagai gajah atau apa, aku hanya dapat mencintai satu orang saja. Aku hanya dapat mencintai gadis yang kini melupakanku.”

Air mata Soojung meleleh tanpa henti, “Itu cerita yang begitu sedih. Aku harap aku tidak akan pernah dilupakan atau melupakan orang-orang yang kusayangi,” dia meremas jemari Minhyuk, menyalurkan rasa ikut sedihnya kepada lelaki itu lalu dia jatuh tertidur.

Dua jam berikutnya gadis itu kembali terbangun ketika Minhyuk sudah terlelap di sampingnya. Air matanya kembali meleleh, membanjiri seluruh wajahnya. “Kenapa?” Minhyuk terbangun, menyeka air mata gadis itu.

“Maafkan aku,” katanya sambil cegukan, “Aku jahat, aku melupakanmu.”

Malam itu setelah mendengar cerita Minhyuk, Soojung terbangun dan dengan ajaib mengingat sedikit hal tentang Minhyuk. “Maafkan aku,” dia kembali cegukan, menangis keras di pelukan Minhyuk. Lelaki itu menangis, sedih bercampur bahagia karena kekasihnya kembali mengingatnya.

Dua jam berikutnya mereka habiskan untuk membicarakan masa lalu yang indah, ingatan itu menyusup pelan ke kepala Soojung. Membuat hati Minhyuk melambungkan asa begitu tinggi.

“Aku tidak ingin terlahir kembali sebagai seekor gajah,” Soojung menyandarkan kepalanya di dada Minhyuk. Detak jantung lelaki itu membuatnya ingat bahwa dia dulu sering tertidur berbantalkan dada ini.

“Kenapa?”Minhyuk tertawa pelan.

“Aku hanya ingin terlahir sebagai Jung Soojung, gadis yang kau cintai.”

“Aku akan selalu mencintaimu, Soojung.”

Jemari mereka menyatu, napas mereka saling beradu mengisi keheningan malam. Angin malam itu begitu sejuk membuat keduanya merasa tenang dan berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Minhyuk mengecup kening Soojung berkali-kali, gadis itu tidak berhenti mengatakan “aku mencintaimu” padanya, hingga keduanya jatuh tertidur dengan damai.

Pagi datang, musim panas berakhir dan cerita baru siap dimulai. Gadis itu tertidur di sampingnya, Minhyuk masih menggenggam tangannya, mengecup dahinya berkali-kali hingga hampir tengah hari gadis itu tidak kunjung membuka mata.

Daun-daun di luar terdengar membentur tanah. Aroma musim gugur menyelinap masuk ke ruangan, menukar Jung Soojung yang sudah pergi bersama malam terakhir musim panas, untuk selamanya.

Di musim panas yang telah lalu, di pagi cerah di tepi pantai ketika lupa-lupa itu sudah ada dan sudah merusak banyak hal tentang mereka berdua, keduanya tetap berkunjung ke sana. Pasirnya tidak seputih waktu mereka masih bersekolah dulu tapi mereka tetap membiarkan telapak kakinya menciumi pasir halus itu.

“Penyesalan terdalamku adalah tidak punya keberanian mengungkapkan perasaanku lebih dulu kepadamu,” Soojung menonton awan bergerak pelan di atas jernihnya lautan. “Jika saja cinta lebih awal diungkapkan kita pasti sudah mengalami banyak hal sebagai sepasang kekasih sebelum masalah ini datang.”

Minhyuk meraih jemari kurusnya, “Salahku karena tidak menyadari perasaan ini sejak dulu.” Penyesalan itu selalu ada. Jika saja mereka lebih peka, jika saja salah satu di antara mereka lebih berani mengungkap cinta maka tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.

“Tidak. Ini bukan salahmu, tentu saja ini salahku. Aku ingin menebus kesalahan itu dengan berjanji bahwa aku tidak akan pernah melupakan apa pun tentangmu. Tidak masalah aku harus melupakan banyak hal lain di dunia ini, aku akan baik-baik saja. Tapi aku tidak boleh melupakanmu, karena hanya dengan mengingatmu rasanya aku memiliki seluruh dunia dan seisinya.”

Jemari bergetar Minhyuk menghapus jejak rintik hujan yang membasahi wajahnya. Pemakaman itu tidak ramai, karena Soojung tidak punya cukup kesempatan untuk berkenalan dengan orang baru. Tapi seramai atau sesepi apa pun pemakaman itu tidak mengubah duka yang menggantung di udara.

Seseorang meremas bahunya pelan, terasa bergetar. “Aku sudah memperingatkan kau.”

Minhyuk mendongak dan menemukan wajah gadis yang begitu mirip dengan Jung Soojung. “Sooyeon,” ucapnya parau.

“Kau seharusnya pergi begitu dia mulai jatuh sakit, untuk menghindarkan hatimu ikut jatuh sakit. Tapi kau tetap di sana dan memperburuk keadaan. Lihat sekarang, dia sudah pergi tapi kau tinggal di sini. Setelah kepergiannya bagaimana caramu menata hatimu yang telah hancur ini? Bagaimana caramu untuk melanjutkan hidup kembali?”

Sooyeon tidak jahat, dia hanya terlalu memikirkan perasaan setiap orang. Minhyuk adalah lelaki baik, hidupnya akan cemerlang jika saja tidak harus terikat dengan gadis penyakitan seperti adiknya.

“Terima kasih karena begitu peduli padaku,” Minhyuk menyunggingkan senyum. “Soojung dulu pernah bilang bahwa dia tidak akan melupakan apa pun lagi dengan syarat aku tidak boleh meninggalkannya. Tapi dia bukanlah gajah (Minhyuk tertawa pelan) jadi dia melupakan banyak hal, termasuk aku. Aku tetap di sana selama bertahun-tahun, berusaha menjadi gajah yang mengajarinya untuk ingat. Tapi Soojung, dengan keterbatasannya tetap melupakan aku. Tapi tahukah kau kekuatan janji, Sooyeon? Janji begitu kuat dan magis. Pada malam terakhir Soojung terbangun dan menangis. Kau tahu apa yang terjadi? Dia, Jung Soojung, gadis yang sejak kecil menjadi sahabatku itu kembali mengingat aku. Pada malam itu kusadari dia telah melunasi janjinya. Dia mengingat aku dan aku merasa begitu lega juga bahagia. Dengan rasa lega dan bahagia itulah aku menghadapi duka ini, menata kembali semua hal yang rusak dalam hidupku, termasuk hati yang hancur ini. Percayalah Sooyeon, aku akan kembali melanjutkan hidup seiring berjalannya waktu.”

Sooyeon menangis terisak di hadapan Minhyuk, “Kuharap Soojung mendengarmu.”

“Dia akan selalu mendengar.”

Karena Soojung adalah matahari bagi Minhyuk. Meski dia bersembunyi di pagi musim gugur ini, dia pasti akan kembali bersinar di musim panas paling indah suatu hari nanti.

xxx

17 thoughts on “Let You Go

  1. Kereeeeeen aaaa
    Yang disayangkan genre ceritanya aja angst huhu

    Over all suka, bahasanya bagus bgt dan menyentuh. 4 jempol buat author-nim🙂

  2. huaaa~ akhirnya sequelnya muncul.. bener aih soojungnya inget, tp endingnya meninggal.. T.T
    Minhyuk yg sabar ya.. sini gw hibur..

  3. Huaaaaaaa… ini terlalu sediihhhh.. dapat bgt feelnyaaaa.. keren thor.. tp plisss.. nnti bikin story hyukstal yg happy end yaaa.. hahaahaa
    makasii thor

  4. waah dek yen muncul lagi. As always, bahasanya paling aku suka. As always, kenapa sad ending lagi deeek? huhuhu. Aku suka bgt couple ini. Kenapa Soojungnya… ah, sudahlah. Caramu milih diksi udah bkin aku puas🙂

  5. 대박!!!Wow…. ceritanya TOP BGT, sampe buat air mata keluar, aku baca ceritanya ngehayatin banget…-_-
    Endingnya___sedihhhh___kesian minhyuk nyaaaa….
    Ditinggal,untuk,selama”nya,,,,
    Bikin yang happy end buat hyukstal ya thor!!!!

    Lanjutkan karyamu author!…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s