Help me, SAVE ME!

HELPMESAVEME1

Tittle: Help me, SAVE ME!
Author: @cnboicegirl
Rating: PG-17
Genre: AU, Mystery, Thriller, Horror, Friendship, Romance.
Length: Chaptered
Main Cast:
-Park Jiyeon [T-ara]
-Kang Min Hyuk [CNBlue]
-Krystal Jung [f(x)]
Other Cast:
-Lee Jung Shin [CNBlue]
-Jung Yong Hwa [CNBlue]
-Lee Jong Hyun [CNBlue]
-Park Shin Hye [Actress]
-Im Yoona [SNSD]
Disclaimer: terinspirasi dari film-film horror yang ditonton author._.v selebihnya cerita asli karanganku sendiri^^
Note: Cerita ini benar-benar full imagination jadi jangan mikir pake logika ya’-‘)/ Mohon jangan menjadi silent readers ya.. Tolong di comment ya Gomawo^^ No bashing please…

Chapter II
Author POV
5 years ago
BRAK!!! Suara benturan tong sampah dengan aspal terdengar begitu bising. Di ujung sebuah gang yang gelap, tiga orang laki-laki berseragam SMA sedang saling memukul dengan penuh emosi. Yonghwa yang tak sengaja melewati jalan itu, langsung mencoba menghentikan begitu melihat Jungshin, sahabatnya, terlibat dalam pertengkaran konyol itu. “Yak! Apa-apaan ini?!” Yonghwa berteriak sambil mengayunkan kayu digenggamannya kepada dua orang yang menyerang Jungshin. “Hyung! Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Jungshin setengah berteriak. Badan Jungshin bersender lemas pada tembok-tembok penuh lumut dengan muka babak belur. “Apa kau gila? Tentu saja aku mau menyelamatkanmu, bodoh!”
Jungshin menghela napas pasrah lalu memperhatikan Yonghwa menyerang musuh-musuh¬nya. Dengan beberapa pukulan saja, Yonghwa berhasil membuat kedua bocah tengil―begitu Yonghwa menyebutnya―lari terbirit-birit. Yonghwa melempar asal kayu yang ia gunakan sebagai senjata lalu duduk di sebelah Jungshin. Tawa keduanya pecah. Mereka mentertawakan kekonyolan keduanya. Tak peduli di dahi mereka ada darah yang bercampur keringat.
*HMSM*
“Hyung, Gomawo.” ucap Jungshin tulus pada Yonghwa. Yonghwa yang semula sedang memakan ramyunnya dengan lahap langsung tersedak dan menoleh pada Jungshin. Yonghwa menegak air mineral lalu menatap Jungshin dengan heran. “Karena kau selalu membantuku ketika sulit. Karena kau selalu membiayai makanku. Karena kau mau menampung orang sepertiku di rumahmu.” ujar Jungshin seolah mengerti arti tatapan Yonghwa. “Yak, kau ini ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini. Hahaha.” Yonghwa melanjutkan memakan ramyunnya. Jungshin menatap Yonghwa yang masih melahap ramyunnya. “Kau menganggapku temankan, Hyung?” tanya Jungshin dengan serius. Yonghwa menghentikan kegiatannya dan meletakkan sumpitnya di atas tissue. Dengan wajah datar, Yonghwa menjawab. “Tidak.”
*HMSM*

Shinhye POV
Aku berjalan menyusuri sebuah taman tempat di mana aku menghabiskan seluruh masa-masa SMAku di sana. Aku duduk di kursi batu di pinggir taman sambil menatap awan mendung. Aku tersenyum. Menatap awan mendung adalah salah satu hal favoriteku.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku merogoh tasku dan mengambilnya. “Yeoboseyo?” Aku menyapa seseorang di sebrang sana. “Ah, Shinhye-ah! Kau dimana?” eoh, rupanya namjachinguku yang menelpon. “Aku sedang berada di taman. Ada apa, oppa?” tanyaku sambil memainkan daun yang barusan jatuh di pahaku. “Hm aniya. Aku ke sana, ok?” tanyanya, membuatku mengangkat sebelah alis.
Eoh, tumben sekali dia mau menghampiriku. Aku mengangguk walau dia tak melihat. “Baiklah.” jawabku lalu memutuskan sambungan telepon.
*HMSM*
Author POV
Jiyeon membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan matanya sesekali untuk mengetahui keberadaannya. Tangan dan kakinya masih terikat. Bedanya, tangan dan kaki yang tadinya diikat dengan rantai, sekarang dengan tali. Ia berpikir sejenak apa yang terjadi dengan dirinya. Ia mengerang ketika teringat kejadian semalam.
Jiyeon berteriak dengan keras. “TOLOOONG!!!” teriaknya sambil menendang-nendang udara. Hening, tak ada jawaban.
Saat lelah berteriak, ia memutuskan untuk mencari benda tajam yang bisa ia gunakan untuk melepaskannya dari ikatan.
Sebuah suara debaman pintu membuatnya menoleh ke arah pintu yang terbuka di depannya. Pupil mata Jiyeon membesar ketika mengenali siapa seseorang yang tengah terkulai lemah tak berdaya di lantai kayu. “Shinhye eonni!” teriaknya. Namun Shinhye tetap diam dengan lakban yang melapisi mulutnya. Shinhye tertunduk dengan tangan yang terikat. Napasnya terlihat tidak teratur.
Ketika Jiyeon ingin berteriak untuk kedua kalinya. Seseorang muncul di belakang Shinhye dengan masker di wajahnya. “Nu-nuguya?!” tanya Jiyeon dengan takut. Orang itu tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah Shinhye lalu menyeretnya hingga sampai di sebelah Jiyeon. Jiyeon menatap orang itu dengan tatapan tak percaya saat Ia dengan mudah menyeret Shinhye ke sebelah Jiyeon.
Lalu ia berjalan keluar dan membanting pintu. Terdengar suara benturan rantai dengan pintu yang menandakan bahwa pintu itu digembok.
Jiyeon memandang Shinhye dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Ia menggigit bibirnya sambil berpikir.
Shinhye sudah dianggap keluarganya sendiri. Saat di universitas dulu, Shinhye adalah senior terbaiknya. Mereka selalu bersama kemanapun. Bayangan-bayangan masa lalu kelam kembali terukir di benaknya.
.
.
.
“…Yak! Kau pelacur! Dengar tidak?!” tangan seseorang mendorong-dorong kepala Jiyeon hingga membentur tembok di belakangnya. Jiyeon menatap perempuan di depannyaㅡSeo Min Ahㅡdengan wajah datar. “Jangan coba-coba kau mendekati Myungsoo-ku!” ia mencengkram kerah baju Jiyeon sambil menggertakkan gigi-giginya.
Jiyeon tak bergeming. Ia hanya menatap kosong apa yang ada dihadapannya. Ia menutup mata akan apa yang terjadi pada dirinya sekarang. “Yak! Apa kau tuli, eoh?” Min Ah menjambak rambut Jiyeon sambil menyentil telinga Jiyeon. “Yak! Jawab aku, paboㅡ”
“Kau yang bodoh, bodoh.” Seorang perempuan berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Ia menghampiri Jiyeon dan menyingkirkan tangan Min Ah dari rambut Jiyeon. Jiyeon menatap polos perempuan penyelamatnya dengan mulut menganga. “Nuguya?! Jangan ikut campur urusanku dengan wanita jalang ini!” Min Ah mencoba mendorong perempuan itu tapi gagal karena perempuan itu menghindar dengan cepat. “Hah.” Perempuan itu tertawa kecil sambil berjalan mendekati Min Ah. “Wanita jalang kau bilang? Apa kau tak pernah tau apa arti jalang sebenarnya?” perempuan itu tersenyum sinis lalu berjalan mengitari Min Ah, menciptakan suasana yang mengintimidasi Min Ah. “Jelas aku tahu, bodoh! Dia menggoda Myungsoo-ku!”
“Oh-oh. Apa kau tidak punya kaca? Bagaimana dengan Lee Jinhuk? Choi Kook? Kau ingin bilang kalau mereka yang menggodamu, huh?” wajah Min Ah langsung berubah pasi. Ia berpikir bagaimana perempuan di hadapannya ini bisa tahu tentang lelaki simpanannya?
Jiyeon memperhatikan pertarungan lisan di depannya dengan tubuh lemas. Ia melihat blazer yang dikenakan perempuan penyelamatnya itu, dan menemukan sebuah pin bertuliskan “Park Shin Hye”. Jiyeon tersenyum, “Shinhye seonbae…” ucapnya lirih.
Jiyeon merasakan pusing yang luar biasa dan tiba-tiba kegelapan merenggut semua penglihatannya.
.
“Hey, kau sudah bangun?” Jiyeon mengerjapkan matanya, masih belum terbiasa dengan cahaya yang seakan menusuk matanya. “Uhm, aku dimana?” tanya Jiyeon sambil mencoba untuk duduk. “Kau di UKS. Sudah merasa baikan?” tanya perempuan di hadapannya. Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya, berpikir siapa perempuan di depannya. “Bagaimana..?” Jiyeon bingung kenapa dia bisa berada di tempat itu, ia mengerutkan keningnya, berpikir. “Tadi kau pingsan saat aku menolongmu.”
Ah! Rupanya dia si perempuan penyelamat itu! Siapa namanya.. Shi.. Shi,ㅡ”Shinhye. Namaku Shinhye. Maaf baru memperkenalkan diri, hehe.” Shinhye tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ah.. Ye.. Shinhye seonbae. Jeongmal gamsahamnida, seonbae.” Jiyeon berterima kasih dengan tulus. “Ya, ya, santai saja kalau bersamaku. Dan jangan panggil aku seonbae, okay? Aku tidak terlalu suka dengan hubungan senior-junior. Jadi kau boleh memanggilku Shinhye saja atau… eonni mungkin? Hehe. Aku suka hubungan eonni-dongsaeng.” Shinhye terkekeh sendiri dengan perkataannya. Jiyeon tersenyum senang, “Call! Eonni-dongsaeng tidak terlalu buruk.” Shinhye mengacak-acak rambut Jiyeon. “Nah, begitu dong. Nae dongsaeng. Hehe.”
.
.
.
Sebuah pantulan sinar tertangkap oleh mata Jiyeon, menghisap kembali kesadarannya. Paku. Jiyeon melihat sebuah paku tergeletak tak jauh dari kakinya. Ia menggerakkan kedua kakinya ke arah paku itu dengan sekuat tenaga. Paku itu hanya bergeser 1 cm dari tempat semula lantaran kaki Jiyeon yang terikat membuatnya susah bergerak. Namun Jiyeon tidak menyerah sedetik pun. Ia tetap menggeser paku itu walau luka-luka di sekujur tubuhnya seakan berteriak memintanya berhenti.
Sedikit lagi… sedikit lagi…, batin Jiyeon ketika paku itu tinggal beberapa sentimeter dari tangan Jiyeon. Tapi ketika tangan Jiyeon ingin mengambil paku itu, paku itu malah menyenggol luka di tangannya, membuat Jiyeon tak sengaja melempar paku itu jauh ke pojok ruangan. “Aaw!” Jiyeon meringis, menahan sakit yang semakin lama semakin terasa nyata.
“Eomma… hiks hiks. Aku tak mau berada di sini.” isak Jiyeon sambil mengedarkan pandangannya. Jiyeon sudah putus asa dengan semuanya. Ia hanya duduk di lantai kayu yang dingin dengan luka di sekujur tubuhnya dan tangis yang tiada hentinya.
Tiba-tiba sepetak langit-langit besi di atasnya terbuka dan mengeluarkan sebuah speaker kecil berwarna hitam. “Yak.. Minhyuk-ah. Bangun! Bangun!” terdengar suara lelaki yang tak begitu asing di telinganya. Jiyeon menajamkan telinga, mendengar dengan seksama. “Uhm.. waeyo, hyung?” suara Minhyuk membuat Jiyeon otomatis melebarkan matanya karena terkejut. “Minhyuk.. Apa yang sedang dia lakukan?” tanya Jiyeon kepada dirinya sendiri. “Kita harus cepat-cepat kabur dari sini. Ayo bantu aku berpikir bagaimana cara keluar dari sini.” suara lain menjawab dengan suara berbisik. “Eoh, memangnya mereka ada dimana?”
“Minhyuk…” suara seorang wanita yang sangat dikenal Jiyeon menggema di seluruh ruangan. “Krystal?” tebak Jiyeon sambil mengerutkan alisnya. “Sebenarnya apa yang terjadi??” gumam Jiyeon.
***
“Yak! Minhyuk-ah! Kau lihat itu?” Yonghwa menunjuk sudut ruangan yang terdapat beberapa jaring laba-laba. “Ya. Ada apa, hyung?” tanya Minhyuk bingung. Krystal ikut mengerutkan keningnya dan melihat ke arah yang ditunjuk Yonghwa. “Jaring laba-laba di situ sebenarnya adalah cctv.” ujar Yonghwa yang membuat Minhyuk dan Krystal tercengang. “Mworago? Kau tahu dari mana, hyung?” tanya Minhyuk. “Aku pernah berhasil keluar dari sini dan menemukan ruang utama tempat ini. Di sana aku menemukan rahasia bahwa setiap gerak-gerik kita terekam oleh benda di pojok ruangan itu.” Yonghwa mengendik pada jaring laba-laba lalu melanjutkan. “Sayangnya aku tertangkap oleh seorang berjas hitam dengan penutup kepala putih.” jelasnya.
“Penutup kepala?” Krystal bertanya, tidak mengerti maksud dari penutup kepala yang Yonghwa katakan. “Ya. Penutup kepalaㅡmaksudku benar-benar menutup seluruh kepalanya. Rambut, wajah plus leher sih.” ujar Yonghwa. “Eoh? Lalu apa? Dia semacam makhluk halus atau sesuatu? Hebat sekali tidak bernapas.”
“Tidak-tidak. Aku yakin dia manusia seperti kita dan dia bernapas. Entahlah, postur tubuhnya benar-benar menandakan dia seorang pria karismatik dan kaya raya, dilihat dari jas dan sepatunya yang menyilaukan mataku.” Yonghwa duduk bersila di lantai marmer dan menyuruh Minhyuk dan Krystal mengikutinya. “Maksudmu, jas dan bajunya terbuat dari besi, hyung?” tanya Minhyuk dengan wajah bingung. “Yak! Yang benar saja kau ini, kau sudah menjadi photographer terkenal tapi masih begini juga!?” Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Sementara Krystal hanya tertawa kecil menyaksikan pertengkaran kecil mereka.
“Intinya, kita harus keluar dari sini.” geram Yonghwa sambil mengepalkan tangannya. “Ya tapi bagaimana caranya, hyung?” Minhyuk bertanya dengan frustasi.
Seketika itu secarik kertas jatuh dari langit-langit dan tergeletak di tengah-tengah Yonghwa, Minhyuk dan Krystal yang sedang duduk melingkar. “Eoh? Apa ini?” tanya Minhyuk lalu tangannya bergerak untuk mengambil secarik kertas itu, tapi suara Yonghwa mengagetkannya. “JANGAN!” Yonghwa menarik tangan Minhyuk dan mendorong Minhyuk pelan agar menjauh. “Kau juga, Krystal. Menjauh.” perintah Yonghwa.
Krystal dan Minhyuk memandang Yonghwa dengan pandangan yang masih terkejut.
“Kalian dengar,” Yonghwa membalikkan badannya dan menatap Minhyuk dan Krystal. “Kalau suatu saat kita terpisah, dan ada kejadian persis seperti ini, jangan pernah langsung mengambil kertasnya.” ujar Yonghwa. Minhyuk dan Krystal mengangguk patuh dan memperhatikan Yonghwa.
“Kertas ini berisikan teka-teki yang harus kita pecahkan, dan jika kita bisa memecahkannya, kita dapat masalah.” Yonghwa memulai penjelasannya. “Kenapa malah mendapat masalah?” tanya Krystal heran.
“Karena kita tidak tahu, yang terjadi selanjutnya adalah hal yang menyenangkan atau tidak.” jelas Yonghwa. “Sepertinya jika kita berada di sini, tidak ada yang menyenangkan.” gumam Minhyuk lalu mendekati Yonghwa. “Jadi, apa yang akan kita lakukan, hyung?”
Yonghwa terdiam sejenak. “Jika seseorang menyentuh kertas ini, otomatis permainan teka-teki tersebut dimulai dan akan keluar jam digital yang menunjukkan waktu permainan. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika kita dapat memecahkannya atau tidak. Tapi, ini salah satu cara yang bisa kita manfaatkan, bukan?”
Minhyuk mengangguk, “Kau benar.”
“Baiklah.” Yonghwa mengambil secarik kertas itu. Seketika, ruangan itu berubah menjadi ruangan terbuka yang dipenuhi bunga-bunga indah. Yonghwa, Minhyuk dan Krystal terkesiap melihat keindahan sekitarnya, hingga secarik kertas tadi mengalihkan perhatian mereka. Kertas itu berubah menjadi kertas yang lebih besar dan kata demi kata muncul membentuk tulisan.
Terima kasih telah berpartisipasi dalam permainan teka-teki ini. Sekarang teka-tekinya adalah:
Dimana 25O2-IA11…?
Kalian memiliki 3 hint.
Selamat bermain. Xoxo.
Sebuah jam yang terlihat antik muncul dari tengah-tengah padang bunga, tertoreh angka 02:00:00.
“Hanya 2 jam.” Yonghwa bergumam. “Harus ada yang menjaga jam itu, tidak boleh ada yang merusaknya atau permainan ini gagal.” Yonghwa menjelaskan lalu menoleh pada Krystal dan Minhyuk.
“Ayo kita pecahkan teka-teki ini di sekitar jam lalu kau, Minhyuk,” Yonghwa memukul bahu Minhyuk pelan. “Ikut denganku mencari 25O2-IA11 ini.” Minhyuk mengangguk dan mereka semua berjalan menuju jam tersebut.
Namun tak disangka-sangka, tiba-tiba 3 ekor anjing yang terlihat ganas menggonggong dan berlari menuju jam itu lalu menubruknya.
“ANDWAE!!” teriak Yonghwa dan Minhyuk bersamaan. Di saat Yonghwa dan Minhyuk sibuk mengusir anjing-anjing ganas tersebut, seseorang mengendap-endap di belakang Krystal dan sedetik kemudian, Krystal lenyap saat seseorang itu menyentuhnya.
TBC=)
AKHIRNYAAAHH!! SELESAI JUGA CHAPTER 2 NYA:’’) aku mesti nyuci ngucek jemur setrika dulu nih otak biar idenya keliatan~.~ Maaf ya lama bangetT.T dan mohon maaf juga kalo ada yang kecewa dengan chapter ini… semoga kalian gak bosen nunggu chapter selanjutnya ya:’) yang sepertinya bakalan lama… ehehe pokoknya maaf dulu yah kalo ternyata baru bisa update 2-5 bulan lagi… btw aku ganti nama author loh/? Sama ganti covernya jugaa~~ ihihi eottae eottae?? Covernya makin bagus apa makin jelek apa biasa aja? Aku bikin sendiri loh:’) /baru ngerti cara buatnya/ ehehe gapenting sekali yah, pokoknya MAKASIH SEMUA SARANGHAE LOVE YOU<3

3 thoughts on “Help me, SAVE ME!

  1. apa orang itu jungshin? kenapa tiba2 shinhye bisa ada disitu? trs nasib mereka ber5 gimana?
    2bulan? yaah thor udah keburu penasaran sama kelanjutannya hehe

  2. wah gw suka thor ceritanya.. tegang~
    baru liay chapter 2nya sekarang, trus langsung nyari chapter satunya..
    itu siapa sih? gw tebak si jungshin~ eh tp ga tau deng..

    what 2-5 bulan? kok lama bgt thor? yaudah deh gpp… semangat ya thor nulisnya.. ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s