The Sundown

page

Judul: The Sundown
Penulis: Rainaya (Naya)
Cast: Jung Yong Hwa, Synne Choi (OC), Dimitri Vasylyevkh (OC)
Genre: Fantasy, Romance
Rating: PG-13
Lenght: Chaptered
Blog: http://specialnay.wordpress.com
Disclaimer: Ide, plot, setting, OC semuanya murni dari pemikiran aku sendiri. Please do not copy paste. Cerita ini juga kuposting di wattpad http://www.wattpad.com/story/21204276-the-sundown
***

Chita, Russia.
Aku pulang, akhirnya. Aku sudah singgah pada setiap benua, nyaris ke seluruh negara, tapi aku tahu, aku akan selalu pulang. Aku akan kembali ke tanah ini. Tidak peduli betapa menyenangkannya di luar sana, seberapa manis-manisnya jantung-jantung anak-anak dan orang Asia, aku pasti akan menemukan diriku dalam selang beberapa tahun—atau beberapa puluh—kembali lagi ke sini, dalam pribadi yang sama.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Aku mengantongi banyak identitas di saku jasku, menjadi pria mana saja, bahkan kadang wanita jika aku sedang iseng Melakoni berbagai peran dan profesi hingga mencapai titik didih kebosananku. Tapi wajah ini, mata biru ini, rambut pirang ini, tampang yang sama dengan deret potret para bangsawan abad ke-13 ini, selalu akan kembali padaku. Bahkan nama yang sama. Thomas Kane, Elliot Smith, Zhao Qi Yuan, Abraham, Lee Jong Hyun, Victoria, semuanya adalah aku. Tapi aku adalah aku yang ini. Namaku Dimitri, Dimitri Ivanov Vasilyevykh. Dan… aku bukan manusia.
Pernah dengar tentang vampire? Mereka tinggal di daerah Eropa Timur dan tidak pernah kemana-mana, bersembunyi dari manusia, hanya sesekali memburu yang tersesat di hutan atau berdamai dengan darah binatang. Tapi kami berbeda. Terutama aku, kami mencari makanan di tengah manusia, karena rasa binatang sungguh tidak enak jika kau sudah mencicipi bagaimana sedapnya jantung mentah, yang masih berdegup lemah saat kau menggigitnya. Benar, jantung. Serdtser, di Rusia orang menyebutnya begitu. Hanya orang-orang tertentu, pastinya. Karena rahasia kami begitu rapat di antara jumlah kami yang keterlaluan sedikit. Salah satu alasan kenapa aku selalu berburu sendirian. Alasan lainnya, adalah karena aku, tidak seperti manusia, aku tidak menyukai koloni. Teman hanyalah sesuatu yang merepotkan.
Tidak seperti vampire yang memilih bersembunyi, aku sudah berkeliling dunia hingga bosan. Tapi seperti kukatakan, aku selalu kembali ke sini, ke tempat ini. Karena di sini, tujuh ratus tahun sebelumnya, aku pernah jatuh cinta, sekali dalam seumur hidupku.

***

London, Inggris.
“Menurutmu bagaimana hasilnya?”
“Kau mau bertaruh?”
Gadis itu menggigit bibir. Ia menyelipkan rambut cokelat terang bergelombangnya ke belakang telinga dan menatap pria di sampingnya lurus-lurus. Alisnya berkerut. “Entahlah. Aku… jujur saja, aku tidak yakin, Ray.”
Ray—seorang pria tinggi kurus dengan rambut keriting pirang dan pipi serta hidung yang hampir selalu merah sampai ke telinga—meluncur dari atas kap mobil yang mereka duduki. Ia berdiri tegak dan mengangkat bahu ketika menatap gadis itu kembali.
“Aku tidak suka mengatakan ini. Tapi aku juga.”
“Tapi aku berharap ini tidak benar. Aku ingin mendengar kabar baik.”
“Yeah, sama.”
Kedua orang itu saling bertukar tatap prihatin dan serba salah, yang jelas bukan ditujukan untuk satupun di antara mereka.
“Hei, itu dia sudah keluar!”
Gadis itu, Serra, mengikuti arah pandang Ray. Mereka melihat seorang gadis berukuran mini (mereka lebih senang menyebutnya begitu demi menggambarkan ukuran gadis itu yang cenderung kurus dan keterlaluan pendek) dengan rambut cokelat gelap yang dikuncir asal-asalan. Gadis itu memakai kaus lengan pendek berwarna cokelat—yang menegaskan bahwa ia kurus dan hampir rata—serta celana jins biru tua yang robek di bagian lutut. Oh, ini tahun berapa memangnya? Ia masih senang memakai jins jenis itu, mungkin jins yang sama dengan yang dibelinya lima tahun lalu. Ia mengepit setumpuk kertas di lengannya seraya ia berbicara pada seorang wanita setengah baya di teras kantor penerbitan itu.
“Jangan menyerah, ya. Kami akan senang menerima karyamu lagi.”
Wanita itu tersenyum, dan gadis itu tersenyum lebih lebar. Tapi Serra dan Ray sudah sepakat dengan kesimpulan mereka tadi. Senyum itu sama sekali tidak meyakinkan. Terbukti, ketika wanita gemuk itu kembali ke dalam, gadis itu secara drastis merubah ekspresinya menjadi semacam… depresi? Atau marah. Ia menendang kerikil dan berjalan tergesa-gesa menghampiri kedua rekannya.
“Bagaimana?” Serra yang sudah turun dari mobil menegarkan hatinya untuk mencoba bertanya. Gadis itu tidak menjawab, dan Serra maupun Ray sudah menduganya. Lampu hijau bagi penyakit frustasinya akan kambuh sebentar lagi.
Mereka menemukan gadis itu membuka pintu mobil dan membantingnya di belakangnya. Benar, kan? Ini alamat tidak bagus bagi Serra maupun Ray. Meski mereka terbiasa dengan mood gadis itu yang seperti gunung dan lembah setiap harinya, tetap saja ia mengerikan jika dalam kondisi begini. Ray mengikuti untuk duduk di samping gadis itu, perlu keberanian untuk melakukannya, sedangkan Serra mengambil tempat di belakang kemudi, seperti biasa—ia dan mobilnya yang baik hati rela mengangkut dua orang tidak bermodal itu kemana-mana.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Ray lagi dengan santai, berusaha menciptakan situasi yang lebih rileks. Serra menggigit bibirnya lagi, dalam hati ia ingin sekali membenturkan kepala Ray ke aspal. Ia justru hanya akan membuat gadis itu tambah kesal, tahu!
“Synne?”
Terbukti, Synne—gadis itu—segera melempar naskah di tangannya ke pangkuan Ray. Ia mendengus kuat-kuat dan memandang jendela dengan gusar, seolah jendela mobil tak berdosa itulah yang telah membawa kesialan untuknya. Demi Neptunus! Mungkin ia memang sudah ditakdirkan selalu sial sejak dilahirkan. Mungkin… Mark, kakak laki-lakinya telah menguras habis semua jatah keberuntungan di perut ibu mereka dan membawanya bersamanya sewaktu dilahirkan, sehingga ia akhirnya menjadi idola papan atas di Korea sana dan diminati banyak wanita, berkebalikan dengan adik kandungnya, yang hanya ia sisakan jatah kesialan itu.
“Ditolak. Untuk ke—“ gadis itu menghitung dengan jari, “dua belas kalinya.”
“Uhm… Synne, aku turut kecewa,” lirih Ray dengan tampang menyesal yang sungguh-sungguh, tampak polos.
“Mereka hanya belum melihat bakatmu,” Serra menimpali.
Dan Synne, tidak menggeser arah pandangnya untuk menatap Ray atau Serra, memastikan seberapa tulusnya mereka—ia sudah tahu. Ia masih terus memelototi jendela dan menopangkan dagunya pada telapak tangan, mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk.
“Mereka adalah orang-orang idiot yang tidak pernah mengerti seni! Mereka hanya mementingkan komersialitas! Lihat saja apa yang mereka terbitkan? Sampah. Cerita-cerita vampire itu… yang benar saja!”
Baik Ray maupun Serra bungkam dan saling bertatapan melalui sudut mata, tahu bahwa mereka tidak bisa menyangkal apa-apa atau Synne akan mengamuk. Jadi mereka memilih cara aman dengan mengangguk-angguk seperti Woody Wookpacker.
“Coba kalian bayangkan. Cerita tentang pria sok tampan yang hidup selamanya dan menggigit. Mereka menggigit dan menghisap darah! Ya Tuhan, bisa kau bayangkan seberapa menjijikkannya itu? Dan itu basi, sangat basi. Misalkan itu keju, pasti sudah tumbuh ribuan belatung menjijikkan di atasnya. Belum lagi karakter perempuannya, sok polos, sok lemah, padahal otak mereka dipenuhi hasrat untuk bercinta dengan vampire itu. Astaga! Membaca satu paragraf pertama saja aku sudah mual!”
Serra dan Ray masih setia mengangguk-angguk, sadar bahwa Synne berada dalam tahap korsleting tertingginya. Tinggi darah gadis itu mungkin sedang menyaingi tinggi menara jam Big Ben.
“Atau cerita tentang pria dingin dan kaku yang tampan tak manusiawi yang membunuh hanya dengan matanya. Pikir, apa itu masuk akal? Aku pasti tidak tahan berada dua menit saja bersamanya. Tapi kenapa semua gadis memujanya? Penulis-penulis kisah picisan macam itu pasti otaknya sudah bergeser.”
Atau otakmu yang sebenarnya sudah bergeser terlalu jauh, Synne, Ray membelot dalam hati. Serra mengangguk penuh persetujuan padanya, seolah ia adalah seorang pembaca pikiran.
Synne menghela napas panjang yang berat, seakan-akan sebongkah kerikil besar sudah disumpalkan di hidungnya yang lurus dan kecil. Ia sekarang menyingkirkan tangannya dan memutar leher agar menatap kedua makhluk khilaf yang bersedia menjadi temannya, meskipun hanya khilaf.
“Coba kalian katakan, dengan jujur, dimana kekurangan naskahku?”
“Kesalahan ketik.”
“Terlalu banyak istilah aneh.”
“Rumit.”
“Alurnya kacau.”
Serra dan Ray menjawab nyaris bersamaan, sehingga kalimat mereka menjadi tumpang tindih. Synne melayangkan tatap kematian terbaiknya.
“Ups, sorry, sobat,” Ray mengoreksi, “tapi begitulah… ceritamu terlalu… sulit dimengerti. Aku bertaruh, Prof. Jeff yang botak setengah itu pasti akan kehilangan seluruh rambutnya sampai tak bersisa hanya dengan membaca novelmu.”
Serra meringis, tepat setelah naskah tebal Synne mendarat manis ke kepala udang Ray. Ray itu… selalu keceplosan. Oh, ia merasa akan gila mempunyai dua orang teman aneh seperti dua orang di belakangnya ini. Synne yang bercita-cita besar menjadi penulis dan imajinatif, sayangnya, imajinasinya cenderung berlebihan dan menular hingga ke dunia nyata, dan Ray, pria ajaib yang kadang mulutnya lebih mengerikan dari seorang wanita, meskipun Ray tidak melambai dan Ray telah memiliki seorang wanita yang ia perjuangkan mati-matian. Ya, orang-orang sering salah menilai, mengira Ray adalah homoseksual hanya karena ia tidak pernah terlihat berkencan dengan gadis-gadis. Tidak seperti itu. Itu karena, pria aneh ini telah jatuh cinta untuk seseorang sehingga tidak bisa melihat gadis lainnya.
Synne adalah orang ajaib lainnya. Ia pemalas, itu adalah hal pertama yang bisa terpikirkan. Lalu ia pendiam dan cerewet sekaligus—pendiam dan jutek pada setiap orang asing dan mencereweti Ray dan Serra dengan hal monoton setiap harinya. Rendah hati dan sombong sekaligus—seperti tadi, tapi kadang ia juga begitu putus asa. Tapi menurut Serra pribadi, Synne itu adalah gadis yang manis.
Ia sendiri, pasti punya keajaiban sendiri sehingga memiliki dua sahabat aneh macam Ray dan Synne.
“Aku mau pulang,” cicit Synne, nadanya merajuk.

***

“Synne?”
Gadis itu berhenti di ayunan langkah kedua. Ia menoleh ke belakang dengan tampang datar. Dilihatnya wajah tirus Serra menyembul dari jendela di belakang kemudi.
“Kau yakin kau baik-baik saja?”
“Jangan bunuh diri, ya. Kumohon,” timpal Ray, rambut keritingnya memenuhi jendela di bagian belakang mobil.
Synne mendengus, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia memutar lehernya kembali ke arah semula dan mulai berjalan cepat meninggalkan kedua sahabatnya yang menyebalkan itu. Yah, kadang, di saat tertentu semua orang bisa menjadi begitu menyebalkan bagi Synne, dan kedua sahabatnya tahu itu, mereka tidak keberatan. Gadis itu menekan tombol kode apartemennya dan segera menghilang masuk tanpa permisi. Semua yang bisa ia pikirkan adalah tidur. Yah, jika orang berpendapat bir adalah cara terbaik melupakan masalahmu, bagi Synne jawabannya hanya ada dua; novel dan tidur. Masuk akal, bukan? Karena ketika kau tidur kau tidak perlu berpikir. Gadis itu masih ingat bagaimana bentuk dan keadaan kasurnya saat ditinggalkan—berantakan. Dan ia berniat sepenuh hati ia akan membuatnya lebih berantakan lagi, tunggu saja sampai ia menggulung diri di atasnya.
Gadis itu melangkah gontai dari lift menuju apartemennya yang berjarak hanya beberapa meter dan menekan kata sandi dengan ogah-ogahan, seolah energinya sudah terkuras habis hanya untuk merasa emosi sepanjang perjalanan tadi. Dan yang tersisa sekarang hanya lelah. Matanya mulai mengantuk, dan ia sempat merasa salah apartemen setelah membuka pintu. Apartemen itu bersih. Ia mengucek matanya, dan memang benar-benar bersih, rapi. Oh Tuhan, ia hampir tidak mengenali tempat itu, kecuali lukisan-lukisan timbul pemandangan alam di dinding dan letak furniture yang masih sama.
Synne menanggalkan sepatunya dan melangkah ragu-ragu ke dalam, ke arah dapur. Ia segera bisa menemukan pria itu di sana. Memakai apron berwarna merah melapisi kemeja putihnya, dengan lengan kemeja di gulung, pria itu tampak sedang memotong sayuran atau apa dan memasak sesuatu di atas kompor. Synne memperhatikannya, rambutnya hitam pekat, tidak panjang tapi tidak cukup cepak. Pria itu tinggi namun tidak terlalu, 180 senti, kira-kira. Dan punggungnya… ia memiliki punggung yang bagus.
Synne tidak menyadari entah berapa lama dirinya menatap setiap gerakan kecil pria itu dari belakang, sampai akhirnya pria itu berbalik menghadapnya, meghadapkan dengan garis lurus matanya dengan manik mata Synne, yang sama-sama berwarna cokelat, hanya saja punya Synne sedikit lebih terang. Pria itu tersenyum manis.
“Hai,”
Synne mengerjap, merasakan disorientasi pada otaknya setelah melihat pria itu, dan melihat senyumnya. Ia berdeham pelan hanya agar dapat menemukan kembali suaranya.
“Hai. Kapan… kau datang?”
“Tadi pagi.”
“Kenapa tidak mengabariku?”
“Aku takut kau sedang kuliah. Aku tidak mau mengganggu.”
Yang benar saja, Synne mendengus dalam hati. Ia bahkan hanya sibuk mengobrol dengan Ray, atau mencoret-coret bukunya, atau berselancar internet, atau melakukan sesuatu apa saja dengan ponselnya setiap mengikuti mata kuliah. Apanya yang sibuk? Pria ini jelas punya pandangan berbeda soal pendidikan dengan yang Synne punyai, gadis itu kuliah demi memenuhi keinginan orang tuanya, tidak lebih. Selain Bahasa Perancis, Bahasa Mandarin, dan Sastra Inggris, tidak ada mata kuliah yang menarik baginya.
“Tidak apa-apa.” Synne tersenyum kikuk, dengan canggung ia mendudukkan diri di atas bangku tinggi dan melipat kedua lengannya di atas meja dapur.
“Kau lapar? Aku sedang membuat lasagna, kesukaanmu, kan?”
“Entahlah. Aku tidak ingin makan.”
Sesaat pria itu berhenti memasukkan sayuran ke dalam panci. Ia segera mematikan kompor dan bergerak mendekati Synne. Tatapannya terkunci sepenuhnya pada gadis itu.
“Apa yang terjadi?”
Synne menggeleng. Dan tatapan pria itu tidak berubah, malah semakin intens. Gadis itu menghela napas, ia tahu ia memang tidak akan pernah bisa menghindar. Matanya mulai basah dan wajahnya berkedut-kedut ingin menangis.
Pada akhirnya hampir selalu berakhir begitu. Ia tidak bisa menjadi kuat bersama pria itu. Jung Yong Hwa, pria ini adalah satu-satunya yang membuatnya menunjukkan sisi-sisi rapuhnya, yang mengeksplore sisi femininnya, yang membuatnya merendah dan sanggup menangis. Karena bersama pria ini, ia merasa… aman. Pria itu merengkuhnya ke dalam dadanya dan mengusap-usap rambutnya.
Aroma pria ini… masih sama, dan Synne tidak pernah menolaknya. Ia terisak-isak, lagi, pada orang yang sama. Menangis seperti balita dan tahu, pria itu tidak pernah keberatan.

***

“Makan yang banyak,” Yong Hwa menyenggol piring Synne yang saat itu belum berkurang setengahnya dengan garpunya. Tersenyum begitu dihadapkan pada tampang cemberut Synne. Ah, Synne tanpa wajah kesal ibarat Sungai Thames tanpa jembatan dan terowongan, mereka sudah satu paket, tidak dapat dipisahkan.
Synne melirik kalender, mengernyit sekali lagi pada sosok Yong Hwa yang penuh senyum dan tampak hangat. “Ini baru minggu ke tiga, kenapa kau sudah datang? Kebanyakan uang, ya?”
Oh, ya. Yonghwa menetap di Seoul sementara Synne mengejar studinya di London. Mereka bertemu ketika gadis itu liburan ke kota kelahirannya—Seoul—mengunjungi keluarganya sekaligus menjemput takdirnya. Entah bagaimana sampai masing-masing bisa saling menyukai—mungkin mereka kelilipan waktu pertama kali bertatapan atau apa—tapi beginilah mereka akhirnya. Yonghwa datang sebulan sekali ke London, hanya sehari-dua hari atau bahkan hanya beberapa jam. Hanya demi melihat gadis itu.
“Kau mengusirku?”
Gadis itu mendengus, tapi tidak berhasil mengatakan apa-apa, mulutnya sedang terlalu penuh.
“Aku merindukanmu,” kata pria itu lagi, membuat Synne tersedak. Ia hanya tertawa kecil, puas akan hasil perbuatannya. Memperhatikan bagaimana pipi gadis itu merona, membingkainya, berusaha mneyimpan itu semua dengan rapi di kepalanya.
Synne menelan air putih banyak-banyak sampai merasa mual, ia tidak pernah suka air putih, tapi ditatap terus-terusan oleh orang yang kau suka dan membuat dirimu tampak konyol bukanlah pilihan yang lebih menyenangkan. Ia tahu ia merindukan pria di hadapannya ini teramat banyak. Ia ingin menahan pria ini di sisinya dan sanggup menghabiskan satu hari penuh hanya untuk menatapnya, hanya untuk meyakinkan diri bahwa pria ini memang nyata. Tapi ia juga tahu, ia tidak akan pernah mengatakan apa-apa. Tentang perasaannya, tentang menyuruhnya tinggal sedikit lebih lama, atau… tentang bagaimana ia merasa memiliki pria ini seperti bermimpi.
“Baiklah,” jawab gadis itu pelan, alih-alih mengatakan ‘aku juga merindukanmu’.
“Dan mulai saat ini kupastikan aku tidak akan terlalu merindukanmu lagi.”
“Apa?”
Synne mendongak otomatis dan menatap lurus pada manik cokelat gelap pria itu. Matanya yang cokelat terang hampir terlihat seperti kecewa sebelum akhirnya Yong Hwa menyorongkan alasan masuk akal dari pernyataannya.
“Aku akan tinggal di sini,”
Synne berharap ia sedang mengunyah sesuatu sehingga ia bisa tersedak, karena rasanya hampir sama seperti itu.
“Di… sini? Di London? Bagaimana dengan pekerjaanmu di Seoul?”
“Aku meninggalkannya.”
“Apa? Tapi… tapi menjadi koki kan sudah impianmu? Dan kau menjadi kepala koki di restoran besar itu!”
Yonghwa tersenyum, lembut, seperti biasanya. “Tidak apa-apa. Aku sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah restoran, aku bisa mulai dari awal.”
“Dimana?
“Chez Bruce ”
“Oh, aku tahu tempat itu. Tapi… kau serius meninggalkan pekerjaanmu?”
Yonghwa hanya mengangguk, sambil mengunyah makanannya pelan-pelan, dan—lagi-lagi—tersenyum. Ia makan dengan anggun. Tersenyum dengan anggun. Berjalan dengan anggun. Selalu tampak tenang apapun keadaannya. Bahkan mungkin jika badai katrina terjadi di dekatnya, wajahnya akan tetap sekalem itu. Dia pikir dirinya itu malaikat?
“Kenapa? Kenapa kau mau pindah? Pekerjaanmu sudah sangat mapan dan kau jelas menyukainya.”
“Pekerjaanku memang bagus, tapi tidak ada kau di sana. Aku ingin… berada di tempat yang ada Synne-ku, yang ada Yeonnie-ku. Lihat, kau itu bahkan terlalu lemah untuk ukuran wanita. Aku harus menjagamu.”
Synne mengutuk diri. Dia tidak perlu cermin untuk mengingat betapa berantakannya ia. Terutama saat ini. Kaus cokelat kusam, jins robek, rambut tanpa tersentuh sisir dan entah sudah berapa hari tidak pernah dibilas, wajah tanpa polesan make up apapun yang diperparah dengan bekas air mata lengket di pipinya. Seberantakan itu. Itu pun hanya tampilan luar. Apa kabar dengan sifat cengeng, tukang mengeluh, moody, galak, pencemburu dan sederet sifat buruk miliknya? Lebih-lebih, ia tidak pandai memasak apalagi membereskan rumah—Yonghwa yang membereskan rumahnya tadi. Sekedar untuk bangun pagi-pagi dan menyeret dirinya ke kamar mandi saja adalah hal yang nyaris mustahil gadis itu bisa lakukan. Jadi sangat mengherankan ketika ia mendapati Yonghwa tidak kemana-mana, masih di sana dan masih menatapnya dengan cara yang sama.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya?”
“Kenapa aku?”
“Hm?” Yonghwa memperlambat kunyahannya. Ia menaruh garpu dan sendoknya dan duduk lebih tegak, hanya agar bisa lebih fokus menatap gadis itu.
“Kenapa memilihku?” Synne mengulang. “Aku tidak cantik, tidak pintar, tidak kaya, tidak bisa memasak, tidak bisa bicara di depan banyak orang, bahkan… berdandan saja tidak bisa!”
Alis pria itu berkerut, Synne memperhatikan. Pria itu tidak langsung menjawab, ia menghabiskan makanan di mulutnya dan minum, untuk kemudian kembali menatap Synne.
“Kenapa kau juga memilihku? Pasti banyak sekali pria-pria menarik di London,” Yeah, banyak pria tampan di sini, mereka yang tidak akan tertarik padaku,sela Synne dalam hati. “Dan… kau tidak perlu bisa apa-apa. Aku akan melakukannya untukmu. Kau cukup tinggal di rumah, dan ada. Membuatku berpikir aku ingin pulang dan makan di rumah, aku tidak akan makan di luar, dan aku akan pulang tepat waktu. Asal ada kau.”
Tidak terhitung entah berapa kali sejak setengah jam terakhir Synne merasa ingin tersedak. Ia merasa ingin muntah, sakit perut, dan segalanya. Kedatangan pria ini, dan bersamanya, selalu berhasil mengacaukan tidak hanya sistem peredarah darah dan detak jantung Synne, tapi sistem pencernaannya juga.
“Dan aku bersyukur kau tidak berdandan saat keluar tadi,” lanjutnya, tangannya tergerak menjangkau beberapa helai rambut Synne yang melekat di pipi, membebaskannya. Saat itu Synne kembali menyadari bahwa pria ini memiliki lengan yang kokoh, sebuah lengan yang berjanji akan selalu melindunginya, seperti yang ia lakukan selama ini. “Kau akan melakukannya nanti, dan itu hanya untukku, kan? Saat kita sudah menikah.”
“Yakin sekali,” Synne mencibir, hanya itu yang bisa ia lakukan, guna mencegah wajahnya merona lebih-lebih.
Menikah, ya? Ia tidak yakin. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Mark pasti akan menertawakannya sampai mulutnya robek jika mendengar Synne, adiknya membahas topik sensitif ini. Synne yang lebih seperti anak SMP ini, menikah? Yang benar saja. Pasti saat itu terjadi, London sudah pindah ke Afrika dan Korea Selatan sudah memenangkan piala dunia tujuh kali berturut-turut. Synne bahkan masih suka menangis seperti bayi.
Tapi pria ini… menatapnya membuat Synne menyadari bahwa kata menikah terdengar gampang, terdengar memikat. Ia ingin hidup bersama pria ini dan hanya pria ini. Dan menikah.
“Sudah selesai? Makanlah yang banyak.”
Perkataaan pria itu menginterupsi lamunan memalukan Synne. Gadis itu meringis, Yonghwa selalu menyuruhnya menghabiskan makanan yang jelas-jelas tidak bisa ia lakukan karena pria itu berada di sekitarnya. Sudah dikatakan, pria ini membuat eror sistem pencernaannya. Synne kemudian hanya mendorong agar menjauh piringnya, dan Yonghwa hanya tertawa atas tatap putus asa gadis itu.
Pria itu mengambil piring Synne bersama piringnya ke wastafel, menggulung lengan kemejanya lebih tinggi, dan mulai mencuci. Sekali lagi Synne dihadapkan pada punggungnya. Bagaimana bisa sebidang punggung saja bisa membuatnya terpesona? Tapi itulah yang terjadi. Ia selalu menyukai punggung pria itu.
Dia terlalu sempurna, kan? Karena dia sempurna… jadi apakah ini nyata? Apakah ia tidak sedang bermimpi? Synne mendapati dirinya terus bertanya hal yang sama. Ia tidak tahu kapan ia bisa percaya bahwa pria itu benar ada, bukannya hanya karakter fiksi yang ia ciptakan dan mulai menjelma karena ilusi semata. Ia bisa menyentuh pria itu, membaui aromanya yang selalu wangi, mendengar suaranya yang renyah. Semua itu terlalu nyata. Dan karena terlalu nyata, kadang terasa menyesakkan. Bagaimana jika… suatu saat ia kehilangan sosok ini? Akan sehancur apa?

***

Apartemen dan daerah sekitar Synne tinggal diguyur hujan sore itu, cukup lebat, membuat orang-orang malas bepergian, kalaupun harus pergi, mereka akan mengumpat sepanjang jalan. Synne yang tinggal di lantai dua mengangkut meja dan kursinya ke depan pintu kaca ganda yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon dan menyibak tirai lebar-lebar. Ia selalu suka hujan, meskipun itu terdengar klasik. Ia tidak bisa duduk di balkon karena hujan disertai angin mungkin tempias sampai ke balkon. Ia duduk di sana, ditemani laptop dan segelas susu cokelat hangat dan lagu-lagu ballad koleksinya. Waktu yang sempurna untuk menulis, pikirnya sejak hujan mulai turun tadi, sampai sekarang.
“Tidak terasa hari sudah sore. Matahari mulai turun dan—Astaga! Kenapa ini terdengar seperti Teletubbies?!” gadis itu mendengus. Sudah satu jam ia berkutat dengan laptopnya, dalam waktu yang ia sebut sempurna untuk menulis tadi, yang hasilnya bahkan tidak sampai seperempat halaman. Ia sedang kesulitan mengkonsentrasikan diri.
Gadis itu melepaskan matanya dari laptop yang menjengkelkan untuk menatap ke horison timur, arah apartemennya menghadap. Matahari memang sedang turun, menyisakan hanya semburat jingga di antara deret bangunan pencakar langit, yang berwarna lemah karena tertutup mendung dan bias hujan. Pemandangan yang cantik, sebenarnya. Pergantian siang dan malam, cahaya yang remang, Synne merasa bahwa saat matahari terbit dan saat matahari terbenam adalah sebuah keajaiban. Ia merasa mendapat inspirasi dan bersiap mengetik ketika suara aneh terdengar dari jalan di bawahnya. Sontak Synne melongokkan kepala, berharap melihat sesuatu di sekitar situ, namun tidak berhasil menemukan apa-apa. Aneh, ia yakin telinganya tidak sedang bermasalah ketika mendengar teriakan tadi. Ah, bukan. Itu bukan teriakan, lebih kepada… geraman, lolongan tapi menyerupai suara manusia yang begitu nyaring. Mau tak mau, itu membuatnya bergidik. Synne berdiri dan cepat-cepat menutup kembali tirainya saat seseorang mendekapnya dari belakang. Ia nyaris melompat kaget, sebelum akhirnya bernapas lega. Aroma ini… ia mengenalinya.
Jung Yong Hwa, meletakkan mug di tangannya ke atas meja, asap mengepul dan aroma susu cokelat panas menguar sedap dari sana. Masih dengan satu tangan menempel ketat di perut Synne, ia melayangkan tangan satunya yang bebas untuk menyentuh rambut gadis itu, merapikannya, dan merelakan sepersekian detik untuk membebaskan kedua tangannya guna menguncir rambut berantakan gadis itu. Kemudian kedua tangan itu memeluk Synne lagi, lebih erat. Yonghwa mengistirahatkan dagunya di puncak kepala gadis itu, bertanya-tanya kenapa gadis ini pendek sekali? Kurus sekali? Kecil sekali.
“Yeonnie?” panggilnya. Ia lebih senang memanggil gadis itu dengan nama kecil yang diambil dari nama Koreanya, Choi Yeon Hee. Dan Synne membiarkan pria itu sebagai satu-satunya yang memanggilnya begitu, ia akan selalu memperkenalkan diri sebagai Synne Annabelle Choi kepada semua orang.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur. Ia hampir tidak sempat beristirahat, sebelum sampai di sini.
“Menulis, seperti biasanya,” balas Synne, suaranya lebih tidak terkontrol.
“Aku membuatkanmu susu.”
“Aku sudah—“
“Kau membuatnya lebih dari satu jam yang lalu—aku belum terlalu tidur waktu itu—sekarang pasti sudah dingin. Jadi aku membuatkan yang baru.”
“Hm. Terimakasih.”
Hanya itu yang bisa Synne katakan. Dalam hati ia sibuk mensugesti diri agar tetap bernapas, karena jantungnya dan otaknya benar-benar lumpuh dengan perlakuan intens pria itu. Dia tidak sadar apa?! Dia bisa membunuh kekasih kecilnya ini kapan saja dengan semua hal manis itu.
Synne menggeliat kecil, ia ingin kembali duduk dan menulis, meski ia tahu seluruh fokusnya sudah buyar sekarang dan mustahil ia bisa melakukan sesuatu yang normal hingga beberapa jam mendatang. Tapi pria ini menahannya untuk tetap berada di pelukannya, dengan kekuatannya yang jelas jauh lebih besar itu. Synne tidak akan bisa kemana-mana.
“Kekasihmu datang jauh-jauh dan kau malah sibuk dengan laptopmu. Tega sekali,” gumam pria itu dalam suara merajuk dibuat-buat. Hanya satu yang bisa Synne sempat pikirkan; tidak cocok.
“Kau mau bagaimana?”
“Temani aku.”
“Aku di sini dan tidak kemana-mana dari tadi.”
“Haish, kau tahu bukan itu maksudku.”
Synne terkikik dan menahan diri mati-matian agar tidak tertawa lebar atau mengamuk, Yonghwa menggelitik pelan pinggangnya. Pelan saja, tapi pria itu tahu benar bahwa tubuhnya keterlaluan sensitif, satu sentuhan saja sudah berhasil membuat semua bulu di kulitnya berdiri, apalagi gelitikan. Pria itu meraih kembali mug susu cokelat, dan tidak melepaskan pinggang gadis itu saat menyeretnya menuju sofa.
“Di luar hujan dan dingin. Saat terbaik untuk menonton film.”
“Film?” Synne mengernyit. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil beberapa keping DVD dari rak di bawah televisi. “Aku hanya punya ini. Naruto, Inuyasha, Samurai X, Detective Conan, Resident Evil, dan Harry Potter. Kau mau yang mana?” tanyanya sambil menyengir. Yonghwa mendengus dan tertawa. Ia tidak pernah mengerti dengan selera gadis itu, heran sendiri bagaimana bersemangatnya Synne setiap membahas anime, novel, atau film-film tidak lazim kesayangannya. Yah, tidak lazim bagi Yonghwa, dan yang wajar bagi pria itu selalu yang membosankan bagi Synne. Bayangkan saja, 2014 dengan ringtone Gangnam style, ia buta media atau apa? Ketinggalan jaman sekali.
Yang membuat Synne takjub kemudian adalah, bahwa pria itu tidak protes, meski ia tidak mengerti sama sekali tentang Naruto. Atau memang ia tidak berusaha mengerti. Pria itu membiarkan Synne berteriak-teriak histeris melihat Uchiha Sazuke dan pertarungan-pertarungannya. Sementara ia menyandarkan kepala gadis itu di dadanya, memeluknya, dan berusaha menghafali aromanya.
“Yeonni-ya?”
“Hm?” Synne menggunakan remote yang tidak pernah lepas dari tangannya untuk memperkecil volume. Gadis itu mendongak, mempertemukan tatapannya dengan tatap teduh Yonghwa.
“Menurutmu… sampai kapan kita akan seperti ini?”
“Seperti… apa?”
“Seperti sekarang. Aku… bahagia. Dan aku sangat takut kehilangan kau.”
Aku takut kehilanganmu melebihi apapun. Lagi-lagi, Synne tidak bisa mengatakannya. Hanya memdekatkan posisi mereka dan menyamankan tubuhnya.
“Yeon?”
“Hm?”
“Aku menyayangimu.”

***

Dasar pemula bodoh. Pria berambut pirang licin yang tersisir rapi ke belakang itu menyeringai sinis. Di bawah kakinya, tertelungkup seorang pemuda dengan jins dan jaket denim serta kaos yang koyak-koyak. Rambut hitamnya bercampur lumpur dan genangan air hujan. Ia masih memberontak sesekali, meraung keras, lalu diam dan menggeram halus karena lelah. Bagaimana pun ia berusaha meronta dengan sepenuh kekuatannya, pria tinggi dan langsing ini selalu berhasil menjatuhkannya kembali dan menindihnya hanya dengan kaki, kekuatannya benar-benar melebihi apa yang terlihat.
“Diamlah, Bodoh!” desis Dimitri.
“LEPASKAN!!! PANAS! INI PANAS! AKU HARUS MENDAPATKAN JANTUNG ITU! AKU LAPAR!!!”
Dimitri menurunkan pantofel hitam mengilapnya dari tengkuk pemuda itu.ia berjongkok di sisinya dan menjambak rambutnya. Pemuda itu menatapnya dengan mata merah membara. Ia muda, aromanya masih sangat hijau, Dimitri paling tahu tentang itu. Ini soal tampak luarnya yang memang muda, dua puluh hingga dua puluh lima tahunan, dan bagaimana ia, seorang manusia normal bisa menjadi seperti ini. Kejadiannya hanya kemarin, beberapa minggu atau bulan yang lalu, entahlah, Dimitri tidak pernah mau repot-repot memusingkan penanggalan versi manusia. Semuanya terekam jelas di benak Dimitri, karena ia, dialah makhluk terkutuk yang melakukan kekejian itu, menjadikan pemuda ini sama menjijikkannya dengan dirinya.

TBC

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s