My Heart (still) Belongs to You – DESTINY

Title : My Heart (still) Belongs to You – DESTINY
Author : dianque
Rating : PG-13
Genre : romance, friendship, hurt, comfort
Length : Oneshot
Cast : Jung Yonghwa (CNBLUE)
Han Hyenoon (OC)
Kang Minhyuk (CNBLUE/hanya numpang nama/)
Hwang Joonmi
Decslaimer : Jung Yonghwa dan Kang Minhyuk adalah milik Tuhan, Han Hyenoon dan Hwang Joonmi adalah cast buatan milik author, dan cerita ini murni hasil pemikiran dan imajinasi author. Cuap-cuap author ada di note di bawah.😀. Selamat menikmati😄.

***
Ya Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi pada diriku dan Hyenoon? Tak bisakah Kau biarkan kami bahagia? Apa yang kita lakukan di kehidupan yang lalu hingga Kau menghukum kami seperti ini? Atau, kenapa takdir begitu kejam? Kenapa? Kenapa?

***

Author’s POV
Langit mendung di luar sana. Tak ada burung yang dengan riang berterbangan seperti hari biasa di sudut kota Seoul ini. Tak banyak kendaraan, bahkan pejalan kaki, yang berlalu lalang di depan tempat ini –kafe kecil – tempat seorang pria duduk termangu.
Laki-laki itu hanya berbalut kaos putih dan kemeja biru tua yang tak dikancingnya, dipadu dengan celana jeans yang biasa-biasa saja dan sepatu biru ala anak muda pada umumnya, tak ada yang spesial dari cara berpakainnya. Anehnya, orang muda itu tampak begitu menawan dengan garis wajah yang bisa dibilang sempurna. Ya, sempurna. Namun, di balik itu semua, ada suatu hal yang ia sembunyikan di balik wajah tampan itu. Banyak ekspresi yang tak bisa ditebak, semua begitu rancu. Tak ada yang mengerti apa yang sedang dipikirkannya.
Orang itu, Jung Yonghwa, masih memainkan gelas Iced Americano dan sesekali menyeruputnya. Saat itu juga, pintu kafe terbuka. Kontak ia memalingkan wajahnya ke pintu, menilik apakah orang yang ia tunggu sedang berdiri di sana.

Jung Yonghwa’s POV
Gadis itu, gadis yang telah lama kurindu. Sudah sepuluh kali kalender berganti tahun sejak kami hilang kontak. Kau tahu, betapa aku merindukan sosok itu? Mataku tak bisa lepas dari sosoknya yang begitu memikat, dengan gaun selutut berwarna peach dan high heel senada, dipadu dengan tas berwarna coklat. Kau tahu siapa dia? Dia adalah teman, bukan, dia adalah sahabatku, atau mungkin mantan sahabat? Entah, aku sendiri juga tidak tahu kata yang tepat untuk mendeskripsikan hubungan kami berdua. Yang aku tahu, dia adalah temanku sewaktu sekolah menengah pertama, 8 bulan lebih muda dariku, cinta pertamaku kalau aku boleh jujur, yang kemudian kita harus berpisah sekolah semasa sekolah menengah atas dan memutuskan untuk bersahabat tanpa mengungkit masalah ‘cinta’ itu lagi. Tragisnya, kita hilang kontak sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun kedua kita di perguruan tinggi. Dan tiba-tiba saja gadis itu, Han Hyenoon, mengirimiku email 2 hari yang lalu.
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku bisa hilang kontaknya, sedangkan dia bisa mengirimiku email. Bukannya aku tidak berusaha, semua usahaku sia-sia.
“Hyenoon tidak ingin kau menghubunginya. Jadi, aku tidak bisa memberimu nomor HP barunya. Mianhaeyo Yonghwa-ssi, aku tak dapat menolak permintaan sahabatku.”
“Arasseoyo. Gomawoyo Joonmi-ssi. Setidaknya katakan padanya kalau aku tak akan ganti nomor ataupun email.”
Ya, begitulah hubungan kami berakhir, hanya dengan mengharapkan dia menghubungiku terlebih dahulu. Aneh memang. Dan anehnya lagi, aku masih menganggapnya cantik – dia memang cantik, siapapun mengakui itu, namun ini dalam arti lain – Dia cinta pertamaku, dia yang begitu kejam. Bagaimana aku tak bisa menyebutnya kejam? Dia hanya pergi dari pandangan mataku namun dia tak mau pergi dari hatiku, membuatku tak bisa berlama-lama menjalin hubungan dengan wanita lain. Sangat menyiksa.
“Annyeong Yonghwa Oppa,” sapanya. Kedua sudut bibirnya naik, membuat lengkungan indah simetris. Aku semakin terpana. Oh Yonghwa! Bisakah kau sedikit kesal padanya?
“A…annyeong Hyenoon ah,” jawabku terbata. Dia lalu menarik kursi yang ada di hadapanku.
“Mianhae Oppa, aku terlambat.”
“Ah, tidak. Aku juga baru saja datang.”
“Jangan bohong deh, Oppa. Tuh kopinya udah mau habis,” katanya disertai senyuman melelehkan itu lagi. Ya, lagi dan lagi.
“Ah..e.. Hee” Aku hanya bisa merenges saja.
Setelah Hyenoon memesan secangkir hot chocolate, aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan lagi.
“Lama tak bertemu, Hyenoon ah. Bogoshipeo.” Duh. Bodohnya diriku. Kenapa harus kata itu yang keluah eoh?
“Ah, nne Oppa. Nado bogoshipeo. Mianhae…”
“Noonie-ya, kenapa…kenapa aku tak boleh menghubungi, eoh?”
Bah! Lagi-lagi aku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Kenapa aku harus bertanya hal itu di awal pertemuan kami? Yonghwa! Dasar bodoh! Tak bisakah kau menyembunyikannya untuk beberapa menit ke depan? Benar dugaanku, raut muka Hyenoon yang sedari tadi riang berubah mendung seketika. Lima detik. Sepuluh detik. Aku telah kehilangan hitunganku sejak ia terdiam. Yang aku tahu, saat hot chocolatenya datang, ia baru mulai membuka mulutnya.
“Mianhae Oppa. Jeongmal mianhae. Aku pergi ke Jepang untuk melanjutkan kuliah.”
“Arra. Joonmi sudah memberitahuku. Tapi kenapa kamu melarangku menghubungimu?”
“Aku hanya ingin fokus saja, Oppa.”
“Tapi…” kugantungkan berpuluh kalimat tanya yang sudah kupersiapkan sejak aku mendapat email darinya. Untungnya, aku segera menyadari kalau ini sudah di luar batas. Tak seharusnya aku, yang bukan siapa-siapanya lagi, menanyakan hal-hal seperti itu di hari seperti ini.
“Eo, keureu. Mianhae Hyenoon ah, tak seharusnya aku bersikap seperti ini.” Kuseruput lagi Iced Americanoku. Dan lagi-lagi, kami terdiam. Satu-satunya hal yang dapat kudengar hanyalah degup jantungku yang sangat keras ini. Akupun tak berani menatap matanya, bahkan aku tak kuasa mendongakkan kepalaku. Yang bisa ditangkap bola mataku hanyalah jari-jari tangannya yang manis. Oh tidak! Bahkan aku jatuh cinta dengan jari tangannya.
“Yonghwa Oppa…”
Akhirnya Hyenoon memecah keheningan. Kudongakkan kepalaku, kutangkap manik mata coklatnya yang indah. Jlep! Mataku terkunci. Jatuh ke dalam dunia lain, entah dimana. Sorot matanya begitu hidup, mencerminkan senyuman yang jauh lebih indah dari senyum bibirnya yang sempurna. Namun aku – orang yang pernah dekat dengannya – dapat melihat sesuatu lain, sesuatu yang mengganjal, jauh di dalam sana. Entah.
“…bagaimana keadaanmu?” Tanya Hyenoon yang akhirnya memaksaku tersadar dari jeratan matanya.
“Well…” Kami pun terlarut dalam obrolan ringan standar untuk orang yang telah lama berpisah. Setidaknya kami bisa tertawa bersama, saling mencoba memahami, mendengarkan cerita masing-masing. Sekolah, pekerjaan, keluarga, teman, semuanya. Tidak, tidak semuanya. Kami tak berani menyentuh satu topik – kehidupan percintaan –. Mungkin bukan ‘kami’, ‘aku’ lebih tepatnya. Aku tak berani memulainya terlebih dahulu, karena kalian pasti tahu, aku masih memiliki perasaan padanya. Bukan hanya masih memiliki perasaan, seluruh hatiku masih untuknya.
Jarum jam terus melanjutkan perjalanannya, melewati satu per satu angka yang terlukis disana. Sudah dua jam lebih kami mengobrol, dan ini kedua kalinya aku memesan kopi lagi. Ya, ini gelas ketigaku, sedangkan Hyenoon masih bertahan di gelas keduanya. Kali ini, kutangkap perubahan signifikan di matanya. Tajam. Serius. Aku menebak-nebak apa yang ingin ia ceritakan kali ini. Jujur saja, aku sangat khawatir.
“Oppa…” Deg! Bahkan hanya sebutan seperti itu saja hampir membuatku lupa bernapas. Ya Tuhan… Apa yang ingin dikatakannya? Tolong jangan biarkan satu dari sekian pikiran negatifku menjadi kenyataan. Jangan.
“Oppa, apakah kau tidak penasaran kenapa aku tiba-tiba menghubungimu?”
Tidak! Pertanyaan yang kuhindari datang sudah. Aku harus jujur bahwa aku memang menginginkan jawabannya. Tapi aku tak sanggup mendengarnya, aku takut, aku terlalu takut. Kulihat Hyenoon masih menatapku dengan mata itu, dengan tatapan itu, tatapan yang kehilangan sinarnya. Jari tangan manisnya semakin cepat dihentakkan di atas meja, walau tanpa suara. Sungguh, ini yang membuatku semakin takut. Kalian tahu? Aku pernah mengenalnya begitu dekat, hingga gerak gerik seperti ini aku sangat paham maksudnya.
“Eo… tidak terlalu sebenarnya.Aku sangat senang dengan fakta yang ada di hadapanku, bahwa kau sudah menghubungiku. Itu sudah cukup bagiku, Noonie-ya”. Aku berbohong. Ku alihkan perhatianku ke gelas yang baru saja kuseruput habis isinya. Dan gerak gerik Hyenoon masih belum berubah.
“Tapi, aku ingin memberitahumu, Oppa.”
“Eo… “
“Bogoshipeo, neomu neomu bogoshipeo.”
Duar! Rasanya seperti disambar petir. Bukannya senang, aku justru semakin khawatir. Bukannya aku tak percaya kata-kata rindunya, aku sangat percaya itu. Tapi justru aku semakin yakin, bukan ini hal utama yang ingin diucapkannya.
“Nado. Nado bogoshipeo Han Hyenoon. Neomu neomu bogshipeo. Jeongmal, bogoshipeo. Keundae, ada hal lain yang yang jauh lebih penting, kan? Hal yang sebenarnya ingin kau sampaikan? Aku benar kan? Noon ah…”
“Kau salah Oppa. Itulah yang terpenting yang ingin kuucapkan. Jinjja.”
Bagai hujan di padang pasir panas. Dingin, nyaman. Ternyata hanya itu lah yang ingin ia ungkapkan. Dia benar-benar merindukanku. Hanya itu. Aku tersenyum, menunjukkan gigi gingsul ku yang kata orang membuatku semakin tampan. Ya, setidaknya kebahagiaan ini dapat kurasakan, walau hanya sementara.
“Oppa, tapi ada hal lain yang juga ingin ku katakan. Tidak terlalu penting memang. Setidaknya menurutku ini tidak lebih penting dari alasanku sebelumnya tadi.”
Hyenoon meraih sling bag coklatnya, mengeluarkan sesuatu – sesuatu berbentuk persegi panjang berwarna ungu muda, dengan sedikit warna emas meghias – . Kartu cantik, atau kertas, atau apapun itu kini telah berada di atas meja. Kulirik Hyenoon yang menunduk. Pelan, kuraih benda itu. Belum sempat aku membacanya, bukan isinya, bahkan tulisan yang tertera di depan benda itu pun belum sempat kubaca.
“Oppa, aku akan menikah. Bulan depan.”

Han Hyenoon’s POV
“Oppa, aku akan menikah. Bulan depan.”
Kuberanikan diri mengutarakan hal yang sangat sulit ini. Aku akui aku hebat – mampu mengatakan hal yang dulu paling aku takutkan, di depan orang yang masih sangat aku cintai, yang sangat aku rindukan sepuluh tahun terakhir-. Aku masih tertunduk lemas, setidaknya sepuluh detik setelahnya. Aku masih berusaha menahan buliran bening di pelupuk mataku jatuh. Tidak. Aku bahkan tidak akan membiarkannya jatuh di depan Yonghwa Oppa.
Setelah setengah menit berlalu tanpa suara, kuberanikan diri mendongakkan kepalaku. Masih kubiarkan air mata itu menggenang, bertahan di tempatnya. Kulihat Yonghwa Oppa masih mematung, mata indahnya masih menatap ke undangan pernikahan ku. Tangan kanannya juga masih memegang pojok undangan itu. Sepertinya sedari tadi Oppa belum juga membacanya, bahkan mengangkatnya. Mungkin ia masih terlalu kaget.
Kutelusuri wajah Yonghwa Oppa, datar. Tak kusangka, bahkan ekspresi terkejut pun tak ada. Atau mungkin…ini bentuk kekagetannya? Entah. Tiba-tiba saja… Tes . Air mataku berhasil jatuh, menelusuri pipi chubby ku, turun dengan mulusnya, ketika aku berhasil menatap manik mata Yonghwa Oppa. Mata itu menatapku nanar. Sungguh di luar dugaanku, Yonghwa Oppa terlihat kacau. Setelah 18 tahun mengenalnya, 8 tahun lebih tepatnya – mengingat perpisahan 10 tahun itu – aku belum pernah melihatnya serapuh ini. Mata indah nya juga meneteskan beberapa bulir bening air mata. Tidak! Bukan ini yang aku inginkan. Tuhan, mengapa Yonghwa Oppa seperti ini?

Jung Yonghwa’s POV
Ketika aku mulai sadar – entah sudah berapa lama aku terjebak dalam kekagetanku – , kutemukan mata Hyenoon yang sedang menatapku. Pertahananku untuk membendung air mata ini runtuh sudah. Jujur saja, seluruh badanku sudah terkulai lemas, bahkan untuk mengangkat kertas yang kuyakini sebegai undangan pernikahan itu pun aku tak kuasa. Namun, tetap kukumpulkan puing puing tenagaku untuk tersenyum padanya.
“Noonie-ya, chukhae. Selamat atas pernikahanmu.” Sekali lagi, air mataku menetes. Aku ingin sekali merutuki diriku, memukul kepalaku yang dengan bodohnya tak bisa mengontrol emosi. Tiba-tiba tangan lembut Hyenoon menempel di atas tangan kananku.
“Oppa, wae? kenapa menangis?”
“Noonie-ya, chukhae.” Masih dengan kalimat yang sama, bukan jawaban yang tepat sebenarnya. Refleks aku pun menyeka air mataku dengan tangan kiriku yang bebas.
“Chukhae, chukhae Noonie-ya.” Aduh, kenapa aku seperti ini? Kenapa aku malah menangis? Mianhae Hye Noon ah, aku akan bahagia untukmu. Ya, aku akan mencoba bahagia untukmu.
“Oppa, kenapa Oppa menangis?”
“Aku bahagia Noonie-ya, akhirnya kamu bisa mendapatkan pendamping hidupmu.”
“Jangan bohong, Oppa. Oppa tahu, Oppa tak pandai berbohong.”
“Arasseo, arasseo. Aku memang menangis.” Akhirnya pertahananku runtuh. Salahkan saja aku, aku memang tak pandai berbohong, apalagi di hadapan gadis ini.
“Tapi, kenapa kamu juga menangis Noon ah?”
“Ah, ani. Gwenchanha, Oppa.”
“Noonie-ya…” Aku sedikit memaksa.
“Oppa…Aish, jinjja. Arasseo. Aku akan menjelaskan. Tapi Oppa juga harus menjelaskannya, eoh?”
“Call. Tapi, jangan di sini, ya. Bagaimana kalau kita ke taman di ujung jalan itu?”
“Tempat kita dulu bermain waktu masih sekolah?”
“Eoh. Otte?”
“Keureu, kajja.”
Setelah aku membayar beberapa gelas minuman yang kami minum, kami berdua keluar dari kafe itu, dan segera menyusuri jalanan sepi ini, tanpa suara. Aku benar-benar mengunci mulutku, sembari berusaha merangkai kata yang akan kuungkapkan pada Hyenoon nanti. Mungkin Hyenoon juga sedang melakukan hal yang sama. Mungkin. Satu-satunya hal yang kutahu adalah fakta bahwa dia sedang berjalan di sampingku, itu saja.
Aku benar-benar bimbang sekarang. Aku berniat mengungkapkan perasaanku padanya, namun pertanyaan-pertanyaan terus muncul di benakku. Haruskah aku pergi sejauh ini? Akankah aku menyesal bila tidak menyatakannya? Bagaimana nanti reaksi Hyenoon?Akankah ini jadi akhir hubungan kita?Ah molla.
Sesampainya di taman, aku langsung duduk di ayunan kayu tua yang masih terlihat kokoh. Hyenoon pun mengikuti apa yang aku lakukan. Dan lagi-lagi, diam. Bahkan taman ini pun sangat amat sepi sekali. Pemborosan kata memang, namun aku tak tahu harus mendeskripsikannya dengan kata apa. Di sini benar-benar hanya ada kita – aku dan Hyenoon – berdua saja.
“Noonie-ya,” aku memecah keheningan, namun masih mencari kata yang tepat untuk melanjutkannya.
“Kamu serius ingin tahu alasanku menangis tadi?” Aku belum memalingkan wajahku ke arahnya. Aku masih menatap sepatu biru kesayanganku dan rumput yang basah karena gerimis beberapa waktu yang lalu.
Tidak ada jawaban dari Hyenoon. Namun bisa kurasakan Hyenoon sedang menatapku, dan kuanggap itu sebagai sebuat ‘ya’.
“Sebenarnya… aku sangat terkejut. Sangat. Bayangkan saja, seorang Han Hyenoon yang tiba-tiba memutus hubungan denganku, pergi ke Jepang, dan menghilang begitu saja selama 10 tahun, tiba-tiba saja mengirimiku email, mengajak bertemu, lalu tanpa ada angin apa-apa menyerahkan sebuah undangan dan mengumumkan pernikahannya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, Noonie-ya.”
“Tapi Oppa, seterkejut apapun, Oppa tak akan menangis. Oppa bukan orang yang seperti itu.”
“Kenapa kamu begitu yakin, Noonie-ya? Ada banyak yang bisa berubah dalam waktu sepuluh tahun, apa kau tak tahu hal ini?” Aku mulai meninggikan nada suaraku. Bukan bermaksud menggertaknya atau apa, aku hanya menguatkan diri.
“Oppa…” Hyenoon merajuk. Oke, aku kalah kali ini.
“Kau mau aku jujur? Jinjja? Tapi kau harus berjanji satu hal padaku, jangan jauhi aku setelah ini. Jaebal, aku benar-benar memohon.” Aku menatap Hyenoon dengan serius, ia pun juga begitu. Kulihat Hyenoon mengangguk pelan. Oke, ini tanda bahwa genderang perang mulai berdentum. Aku harus berperang melawan perasaanku sendiri, melawan emosiku.
“Kau masih ingat janji kita sewaktu SMA? Janji untuk tidak membahas masalah perasaan cinta kita, hingga kita lulus? Janji untuk membiarkan perasaan kita tumbuh maupun hilang dengan sendirinya ditelan waktu dan membiarkan takdir yang menjawab hubungan kita? Kau masih ingat kan? Saat dimana kita resmi mengikatkan hubungan kita sebagai ‘sahabat’. Dan ini lah hasilnya sekarang. Aku… Aku… Aku masih mencintaimu, sama seperti dulu.”
Byur! Rasanya seperti terjun dari roller coaster, menikung tajam, lalu menukik dan langsung tercebur ke kolam renang dari ketinggian 10 meter di musim panas. Intinya, aku benar-benar tegang, bahkan mungkin Hyenoon bisa mendengar degup jantungku, namun disana terselip perasaan lega.
Namun lagi lagi, setetes air mata menetes dari mata cantik Hyenoon, entah mengapa. Mungkin perasaan bersalah, atau mungkin perwujudan rasa iba.
“Mianhae Hyenoon ah, mianhae. Maafkan aku karena harus mengatakan ini, maafkan aku telah membuatmu menangis lagi. Mianhae. Jeongmal mianhae.”
“Tidak Oppa. Oppa tidak salah, kenapa Oppa harus minta maaf?” Hyenoon mengelap air matanya dengan punggung tangan kanannya dan ia pun melanjutkan,
“Oppa, sebenarnya aku menangis karena…” Hyenoon tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Justru tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku bingung, dan entah mendapatkan petunjuk darimana aku malah berjongkok di depan Hyenoon, mengusap air matanya dengan telapak tangan kananku, dan memegang erat kedua tangannya dengan tangan kiriku.
“Jangan menangis Noonie-ya, Aku mengatakannya bukan untuk membuatmu menangis seperti ini, eoh?”
Isakan Hyenoon berhenti. Kini ia menatapku lagi, sangat kentara bahwa is sedang mengatur napasnya. Ia menarik napas panjang. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga akhirnya,
“Aku menangis seperti ini karena aku…aku…masih mencintaimu juga, Oppa.”

Author’s POV
“Aku menangis seperti ini karena aku…aku…masih mencintaimu juga, Oppa.”
Kalimat itu, kalimat maut itu, tak ubahnya berita kematian bagi Yonghwa. Tangan kanannya yang semula ada di pipi Hyenoon sekarang sudah menyentuh tanah, menahan tubuhnya yang tiba-tiba jatuh terduduk. Wajahnya ia tundukkan, dan punggungnya terlihat naik turun tak karuan setelah beberapa detik tak bergerak –lupa cara bernapas –. Ini adalah kejutan kesekian kalinya bagi Yonghwa.
Apa yang baru saja Hyenoon katakan? Dia juga masih mencintaiku? Yonghwa! Jangan membuat ilusi yang tidak-tidak! Sadarlah! Yonghwa masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Oppa, ini bukan ilusi.” Pernyataan singkat Hyenoon itu bisa membawa kembali Yonghwa ke alam sadarnya. Bak malaikat, ia seperti bisa mendengar kata hati Yonghwa.Tes. Hangat. Satu lagi air mata Hyenoon jatuh ke tangan Yonghwa, membuatnya mengangkat kepalanya hingga bisa melihat mata sembab Hyenoon.
Hyenoon-ah, apa yang sedang kau pikirkan?pikir Yonghwa.
“Oppa, maafkan aku, ini semua salahku. Kalau saja aku tak pernah memutuskan hubungan denganmu, kalau saja dari dulu aku jujur padamu, mungkin kita sudah bahagia berdua, hiks.”
“Tidak Noonie-ya, kau sekarang harus bahagia dengan calon suamimu, eoh? Aku mengungkapkan semuanya bukan untuk menghancurkan pernikahanmu. Berbahagialah dengannya. Aku akan menghukum diriku sendiri seumur hidupku jika kau tak bahagia dengannya karena aku.”
“Apakah kau tau kalau aku akan bahagia dengannya, Oppa? Apa aku pernah mengatakan kalau aku akan bahagia dengannya? Bahkan kau pun belum tahu namanya, apalagi orang seperti apa calon suamiku itu. Aku tak pernah menginginkan pernikahan ini, tidak sekalipun, tidak jika bukan karena Appa. Bagaimana aku bisa bahagia dengan pernikahan seperti ini? Eotteokhae, Oppa?” Hyenoon menaikkan nada bicaranya, ingin menunjukkan ketidakikhlasannya melepas Yonghwa karena perjodohan itu.
“Ada apa dengan Abeonim, Noonie ya?” Hyenoon memalingkan wajah ke kanan, memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya, dan menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Appa berhutang budi dengan calon mertuaku. Hutang budi yang… tak bisa kuceritakan pada Oppa. Dan anaknya menyukaiku. Appa pun sangat berharap aku bisa menikah dengannya, untuk membalas budi orangtuanya, katanya. Tsk. Kenapa aku yang harus jadi korban? Sungguh, aku tak pernah menginginkan pernikahan ini. Tapi aku sangat menyesali kenyataan bahwa aku tak pernah menunjukkan rasa tak sukaku di hadapan Appa. Aku terlalu takut menyakitinya, setelah Appa membesarkanku sendiri sejak Eomma meninggal. Hiks. Mianhae Oppa, mianhae. Jeongmal mianhae.” Tangis Hyenoon pecah lagi, tambah menjadi-jadi.
Entah setan apa yang merasuki tubuh Yonghwa saat ini. Ia meraih tubuh Hyenoon, mendekapnya erat, erat sekali, hingga kepala Hyenoon semakin merangsek ke dalam dada bidangnya, meredam isak tangis Hyenoon. Tangannya mengusap lembut kepala Hyenoon,ia kecup puncak kepala Hyenoon,menikmati harum samponya yang juga sangat ia rindukan dan mungkin tak akan pernah ia cium lagi. Sambil terpejam, Yonghwa merenungkan apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Ya Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi pada diriku dan Hyenoon? Tak bisakah Kau biarkan kami bahagia? Apa yang kita lakukan di kehidupan yang lalu hingga Kau menghukum kami seperti ini? Atau, kenapa takdir begitu kejam? Kenapa? Kenapa?
Kenapa tak kau katakan dari dulu kalau kau mencintainya Jung Yonghwa! Kenapa? Kenapa?Kenapa kau biarkan dia lari begitu saja? Kenapa?Kenapa?

***
Jung Yonghwa’s POV
Tepat setahun yang lalu, di tempat ini, seharusnya Hyenoon berdiri di atas pelaminan ini, dengan gaun pengantin putih cantik, dengan tatanan rambut bak putri raja, membawa sebuket bunga rupawan, berdampingan dengan suaminya yang menggunakan tuxedo hitam rapi, mengikat janji suci.
Seharusnya aku duduk di salah satu bangku itu, menatap nanar orang yang kucintai mengikat janji suci pernikahan dengan orang lain. Namun, kenyataanya aku tak datang kala itu. Aku lebih memilih pergi ke Busan, tempat kelahiranku, tepat seminggu setelah pertemuanku dengan Hyenoon sore itu. Aku tak mau berlarut-larut dalam bayang-bayang cinta menyakitkan itu. Ya, setidaknya aku telah mengrimkan kado pernikahan untuk mereka. Itu cukup bukan?
Dan hari ini, 29 November 2014, kini aku yang berdiri di mimbar. Tuxedo hitam ala mempelai pria yang kukenakan membuatku semakin gagah dan memesona, membuat iri berpuluh pria yang duduk menyaksikan pernikahanku. Dag dig dug. Debar jantungku bagai pukulan genderang yang bersiap perang. Baru dua kali aku merasakan debar seperti ini, irama yang sama, tempo yang begitu cepat: saat ini, saat aku menanti mempelai wanita yang sekarang sedang berdiri di balik pintu itu, dan setahun lalu, saat hyenoon-cinta pertamaku- dan aku mengungkapkan apa yang tak terungkap selama ini. Ironis memang, namun aku tak ingin mengungkitnya lagi, karena sekarang aku sedang menunggu momen sakral seumur hidup dengan orang yang sekarang memiliki seluruh ruang hatiku.
Hari ini, seharusnya Hyenoon duduk di salah satu bangku tamu undangan, didampingi Kang Minhyuk, suaminya, bahkan mungkin dengan seorang bayi kecil imut bermarga Kang di pangkuannya. Iya, seharusnya. Namun, blits kamera yang sedang memotret perhelatan sakralku ini membawaku tersadar kembali, bahwa Hyenoon tak ada di sana. Dia tidak sedang duduk melihat momen ini.
Dreet… Pintu besar di belakang sana sedikit demi sedikit terbuka. Cahaya matahari sedikit demi sedikit mulai memasuki ruang besar ini, memancarkan cahaya ke jalan yang akan dilalui calon istriku ke arahku. Silau memang, hingga aku tak dapat menangkap dua sosok di sana. Lambat namun pasti, kini pintu itu terbuka lebar, dan calon mempelai wanitaku berjalan kearahku, diiringi oleh ayahnya.
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengirimkan bidadari cantik ini kepadaku.
Kalau ada yang penasaran seberapa cantiknya bidadariku, hmm… aku tak bisa mengungkapkannya. Terlalu sulit untuk dideskripsikan. Yang aku tahu, ia adalah wanita tercantik yang pernah kulihat, apalagi di balik gaun megah itu. Ya, sangat menawan.
Langkah demi langkah, kedua sosok itu semakin mendekat ke arahku. Di balik senyum indahnya, dapat kulihat sedikit gurat kegrogian. Lucu sekali, hingga aku tak bisa menawan senyum lebarku. Hingga akhirnya sang ayah menyerahkan tangan kiri putrinya kepadaku, dan menggenggam kedua tangan kami kuat. Beliau tersenyum, tulus.
“Jaga putriku baik-baik, Jung Yonghwa.”
“ye, Abeonim.” Aku menundukkan badanku ke arah Aboenim, hingga beliau turun dari mimbar dan duduk di kursi wali mempelai.
Kini aku dan calon istriku sudah berhadapan, saling bergandeng tangan, dan menukar senyum terindah kami, siap mengucap janji suci.
“Han Hyenoon, apa kau siap menjadi Jung Hyenoon?”
“Nde, Oppa.”

Han Hyenoon’s POV
13 hari sebelum pernikahanku dengan Minhyuk, orang yang dijodohkan Appa denganku, sebuah kecelakaan besar menimpa kami. Sore itu, aku dan Minhyuk baru saja selesai fitting baju pengantin untuk yang terakhir kalinya. Namun tiba-tiba saja di persimpangan jalan, sebuah truk menabrak mobil kami, tepat di sisi Minyuk menyetir. Singkat cerita, aku hanya mendapat dua tulang retak dan kepala bocor, serta koma selama 2 hari. Bukan sesuatu yang berat dibandingkan apa yang diterima minyuk –satu tulang patah, pendarahan dalam otak, dan koma berminggu-minggu – . Dua minggu berlalu, dan pernikahan kamipun diundur hingga batas waktu yang belum ditentukan. Namun Tuhan berkehendak lain. Setelah satu bulan melawan semua penderitaan itu, Minhyuk akhirnya menyerah. Ia pergi meninggalkan dunia ini, menghadap Yang Empunya Kehidupan. Dan inilah hasilnya, walau tak bisa kupungkiri, aku sedih-sangat sedih- telah kehilangan Minhyuk, namun aku juga bersyukur karena aku jadi bisa berdiri di mimbar ini, mengucap janji suci dengan insan yang benar-benar kucinitai dan mencintai diriku, yang akan memulai hidup baru denganku, kehidupan berumah tangga.
Bukan tidak mungkin hidup ini berjalan menyakitkan, tapi yakinlah, seberapa pahit keadaan yang Tuhan berikan, seberapa kejam takdir yang kau rasakan, jika sesuatu memang diperuntukkan untukmu, maka datanglah ia. Yakinlah.

Note:
Yak! Akhirnya cerita ini selesai juga. Wkwk. Geje ya? Aneh ya?Jelek ya? Ceritanya umum ya? Bahasanya kurang bagus ya?Maafin author ya, jujur ini baru pertama kalinya author bikin ff😦 . Debut ff nih \m/. Sebenernya ff ini di buat sekitar setahun lalu, tapi cuma di kertas. Dan author baru ada semangat ngetik sekarang.hehe. Oya, pengennya sih, author mau buat empat cerita dengan judul yang sama : My heart (still) Belongs to You, dengan main cast masing-masing anggota CNBLUE. Tapi masih nunggu respon readers sekalian. Dan… kalau jadwal belum padet. Dan, maaf nggak ada poster. Author nggak bisa ngedit gambar nih T.T. Kalau ada(banyak typo murni ketidaktelitian author
Oke, aku terlalu banyak cuap-cuap di sini. Yak, karena aku penulis baru, aku mohon banget kepada pada readers untuk meninggalkan jejak, dan memberi komentar. Komentar apapun sangat author hargai, apalagi komentar yang membangun, supaya author baru ini bisa memperbaiki tulisan-tulisan selanjutnya. Udah gini aja,neomu neomu kamsahamnida yang udah mau read, like, or comment😀

5 thoughts on “My Heart (still) Belongs to You – DESTINY

    • Hehe…mianhae…lagi pengen mbully minhyuk nih. Oops /lantas dihajarlovely gazes/
      Btw makasih banyak ya udah nyempetin baca dan komen ^^

      Dan buat ffcnblueindo makasih banyak udah ngepost ini…waaaa *90° bow*

  1. Huwaaa baca fanfic Yonghwa lagi setelah.. tiga tahun? Huweee akhirnyaaaa😄 Aih si abang udah mau debut juga yee😄 Udah lama banget juga nggak mampir ke sini😄 Annyeong-haseyo ^^

    Hai author-nim, reenepott imnida ^^ Aku beres baca ini dan astaga! Aku nangis😄 Plot-nya bagus, dan bikin terharu~😄 Sukaa~ Cuma kesian banget Minhyuk nyaa, harusnya dia sama aku aja😄 #duar Oke, aku suka bagian waktu Yonghwa-Hyenoon saling mengungkapkan perasaan, soalnya Hyenoon tetep berpegang pada komitmen dia, kalau dia harus nikah sama Minhyuk. Awalnya aku pikir Yonghwa bakal ngajak kawin lari, tapi enggak mwehehehe😄 This way is so much better ^^
    Aku juga suka pas bagian Minhyuknya mati (okeeey, sebenernya suka akrena berarti yang nikahin Hyenoon ya Yonghwa dongs XD) karena kayak bilang, dah takdirnya juga nikah sama Yonghwa, jadi mau digimanain pun pasti ujung-ujungnya sama Yonghwa juga deh. Hohoho~

    Okeeey, sedikit komen boleehh?? Untuk segi penulisan, aku sukaaa. Oke deh. Tinggal banyak lagi latihan nulisnya nanti juga bakal ke-improve sendiri kemampuan ngolah katanya. Penggunaan EYD udah oke dan tinggal edit-edit lagi soalnya ada yang keselip kayak huruf kapital atau kata depannya hoho ^^ Terus… ada beberapa kata yang… ng menurut aku kurang pas. Contohnya, ‘kegrogian’ kayaknya lebih pas kalau diganti ‘kegugupan’, nah gitu deh😄 tadi aku nemu beberapa kata tapi udah lupa dimana aja😄
    Terus dari segi struktur, bakalan lebih rapi kalau tiap paragraf-nya di kasih spasi/enter sekitar 10pt. Biar reader bacanya nggak rada puyeng gitu, soalnya rapet-rapet hehe. Terus, hehe. sedikittt lagi yah, kalo menurutku, bakal lebih enak dibaca kalau setiap kata yang menggunakan bahasa asing dicetak miring. Kayak ‘oppa’, ‘chukkae’, ‘bogoshippo’, maupun yang bahasa Inggris kayak ‘blitz’, ‘tuxedo’, dsb. Ngeditnya capek sih, tapi sekalian ngecek typos kan? hehe😀

    Okeee deh, maaf yah kalau jadi sepanjang jalan kenangan gini. Udah lama nggak komen di fanfic hueee T^T maap yah -,- Nggak bermaksud menggurui yah, nggak bermaksud kasar/jahat/macem-macem juga. Semoga komentar ini berkenan dan bisa jadi catetan kecil aja buat author-nim ^^
    Nice fic, keep writing yaaa ^^

    • Hai reenepott😀 nice to meet you
      Thanks banget udah baca ff debutku ini. Alhamdulillah deh kalau kamu suka.
      Sekarang oppa udah debut. Yeay.bagus bagus semua lagunya..haha*salahfokus*
      Dan makasih banyak ya masukannya..
      Masalah diksi, typo, kata depan, dan huruf kapital memang murni kesalahan aku..haha..maafkan. ternyata masih ada yg ketinggalan
      sebenernya aku nulis di mswordnya udah dispasi, udah diitalic,dsb sampai ngulang 3kali takut ada yg kelewat. Tapi g tau kenapa disini ilang semua. Hwaaa:(
      Aku suka reader kaya kamu >< jadi aku bisa improve. Yaps..i'll try to keep writing^^
      Sekali lagi makasih banyak reenepott😀

  2. Haaa akhirnya happy ending! Kirain sad ending dan yonghwa jd pihak yg dtinggal lagi. Hehe
    Tapiiii minhyuk meninggaal. Huhu. Kasian, tp gpp deh, asal yonghwa nasibnya ga menyedihkan lg. Slh satu emg hrs ada yg dkorbanin. Wkwk
    Ga byk typo si mnrtku. Jujur aku ga terlalu tganggu wkt bc ff ini. Tp kl bisa diperbaiki aja. Misal yg kyk ejaan luar di italic smua. Td ada bbrp yg blm italic. Tp overall, bagus kok. Lanjut aja thor bkin sequelnya, yg tokohnya anak cnblue yg lain. Hehe. Keep writing!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s