Oppa [Chapter 2]

Oppa.chap2

Title : Oppa

Chapter : 2/?

Genre : Family, Romance

Rating : PG13

Main Cast :
– CNBlue Minhyuk as Kang Minhyuk
– F(x) Krystal as Kang Soojung

Other Cast :
– SHINee Minho as Choi Minho
– CNBlue Jungshin as Lee Jungshin

Cameo(?) :
– Infinite L as Kim Myungsoo
– SNSD Yoona as Im Yoona
~ Red Pumpkins as Author(?)

Disclaimer : Ide milik saya, tapi poster hasil google yang diedit sesuka hati. Selamat membaca dan tinggalkan komentar kalian๐Ÿ™‚

—-

Kang Minhyuk.

Aku tidak percaya masih mau bergelar marga itu hingga saat ini. Marga orang yang telah menghianati perempuan yang paling kusayang.
Aku tidak percaya, aku mau mengurus hal tak berguna yang dia tinggalkan, yang ayahku tinggalkan.
Aku tidak percaya, aku mau bersusah payah dari kecil demi menghidupi hal itu. Adik tiriku. Oh, koreksi. Aku masih tak sanggup menyebutnya dengan gelar adik, dia bukan siapa-siapaku. Bahkan, ayahku dan ibunya tidak pernah resmi. Entahlah, aku tak tahu harus menganggapnya apa. Bagiku dia tidak terlalu berharga.

Baiklah. Aku tidak tahu darimana aku harus memulai, yang jelas dan sangat kuingat adalah seminggu setelah kepergian perempuan yang melahirkanku, ayahku yang tak tahu diri itu memboyong seorang perempuan lain bersama seorang dalam gendongan ke rumah kami.

“Mereka adalah calon ibu dan adik barumu, Minhyuk-ah. Sayangi dan jaga mereka.”

Aku ingat betul apa yang ayahku katakan saat pertama kali pertemuan kami. Walau saat itu usiaku masih 6 tahun, entah kenapa aku sudah bisa merasakan ada luka yang muncul. Hati dan jantungku serasa dijerat tali besar dan tak mampu meloloskan diri.

Menjaga? Menyayangi? Siapa yang bisa melakukan hal itu kepada orang asing? Mungkin hanya orang semacam ayahku yang bisa melakukannya. Orang semacam ayahku yang bisa menjaga dan menyayangi orang asing melebihi rasa sayangnya kepada ibu.
Ayahku sendiri, satu-satunya keluarga yang aku punya, memercikkan garam ke lukaku. Tentu saja perih.

Bahkan setelah ayah pergi, dia masih menyisakan luka dan beban di pundak anak kecil sepertiku.
Aku pernah berpikir, kalau dulu aku menyusul ibu saat kecelakaan itu akan lebih baik daripada harus membawa beban sepanjang hidupku. Atau, kalau aku selamat seperti sekarang harusnya beban itu yang lenyap bersama ayah dan wanita itu.


Author Pov
“Apa oppa menunggu lama? Apa oppa kehujanan? Apa oppa sudah makan? Aku akan..”

Tak butuh waktu lebih dari 2 detik untuk Minhyuk meyerahkan kotak makanan yang dia pegang ke tangan gadis di belakangnya. Seperti biasa, tanpa menoleh dan berkata apapun.
Gadis itu tertegun, matanya tak kuasa berkedip walau tetesan gerimis mulai masuk kesana. Terlalu panas dan perih. Tarikan napas panjang yang biasanya bisa meredam perih kini gagal, bersamaan dengan kulitnya yang tiba-tiba tak bisa membedakan mana hangatnya air hujan dan dinginnya air mata.

“Oppa..” panggilnya, sangat pelan.

Tentu saja Minhyuk tidak mendengarnya. Entah karena volume yang tak menjangkau, atau telinganya yang menolak suara gadis itu -adiknya- untuk mendengar.

Minhyuk mulai merebahkan tubuhnya di kasur, dia mengantuk tapi matanya susah menutup. Sekelebat bayangan kejadian beberapa menit lalu muncul. Wajah adiknya, wajah yang khawatir yang tercampur ceria. Wajah yang mencemaskannya. Mengingat wajah itu hatinya terasa sakit, dia juga tidak tahu kenapa.

Minhyuk mengambil kalender duduk di meja, memperhatikan tanggal yang dia lingkari dengan tinta merah. Besok.
Wajahnya hampa, kerongkongannya kering, matanya panas.

Pandangannya beralih ke bingkai foto yang ikut duduk manis menemani kalender itu. Diraih lalu diusap foto itu, senyumnya muncul bersamaan dengan setetes air mata.

“Umma, aku merindukan umma.” bisiknya. Minhyuk mencium foto wanita yang tersenyum menggendong anak kecil -Minhyuk- sebelum mencoba untuk kesekian kalinya memejamkan mata.


Soojung termenung, kotak makanan yang dia terima dia biarkan terbuka menyebarkan bau sedap. Dia tak ingin memakan makanan itu seperti sebelumnya. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Buang? Tapi kakaknya sudah susah payah membeli.

“Susah payah? Cih, aku tak mau menghargai kesusah payahan oppa untuk malam ini.” Soojung mengerucutkan bibirnya, ditutupnya kotak makanan itu lalu beranjak ke dapur. Membuangnya.

“Tapi..” tangannya tertahan, “Kalau oppa tahu dia pasti marah.”

Soojung menggigit bibirnya. Dia tahu di hati kecilnya tidak ingin membuang makanan itu. Bukan karena dia lapar atau takut kakaknya akan marah, dia tak ingin membuang kesusah payahan kakaknya malam ini hanya karena hal kecil. Hal kecil.

“Tapi oppa tak pernah memarahiku selama ini.”

Dan makanan itupun masuk ke bak sampah.
Soojung lekas mencuci tangan lantas kembali ke kamarnya, berencana mengerjakan beberapa soal dari pelajaran yang dia suka.

“Umma..”

Soojung menghentikan langkahnya. Matanya terarah ke kamar kakaknya. Untuk kesekian kalinya Soojung mengintip ke dalam.

“Aku merindukan umma.”

Dilihatnya kakaknya mencium sebuah foto. Gadis itu langsung melangkah mundur begitu kakaknya berbalik. Soojung menekan dadanya.

“Apa-apaan itu? Dia bicara pada foto tapi tak mau bicara padaku?” lagi-lagi Soojung mengerucutkan bibirnya. Merajuk.

Ya, merajuk.

Rasanya dia ingin masuk ke kamar kakaknya, menunjukkan wajah dengan kerucutan bibir di depan kakaknya lalu dengan lembut akan mendapat usapan dan candaan hangat dari lelaki yang kini dia perhatikan. Bukan seperti ini, berdiri di balik pintu, pura-pura merajuk dan bergumam sendirian seakan kakaknya mau mendengar dan menghampirinya. Ya, setidaknya imajinasi itu sedikit menghiburnya.

Pelan, kerucutan itu luntur. Lagi-lagi sesak.

“Oppa,” Soojung memberanikan diri berbicara. Tak ada sahutan hingga detik selanjutnya.

Dia hendak membuka mulut lagi, tapi tak kuasa. Gadis itu hanya membatinkan ucapan selamat malam sebelum dia sendiri tidur.

“Soojung-ah!”

Soojung menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang dimana seorang laki-laku tersenyum mengikuti langkahnya.

“Ne?” Soojung agak mendongak menyeimbangkan beda tinggi mereka.

“Kau tidak latihan?” tanya laki-laki itu, agak kaku.

“Hari ini sonsaeng menyuruhku istirahat, oppa.” jawab Soojung. Gadis itu melanjutkan langkahnya. Lelaki di sampingnya mengangguk.

Suasana diam, padahal di sekitar mereka ramai siswa lain yang juga berjalan meninggakan sekolah. Bola mata Soojung bergerak, sadar kalau suasananya tak cukup bersahabat.

“Oppa mau pulang?” tanyanya. Pertanyaan yang tak perlu untuk ditanyakan.

“Oh? Tentu saja, Soojung-ah.”

Gadis itu tersenyum bodoh, “Maksudku, oppa mau pulang denganku? Seperti kemarin?”

“Ne?” Lelaki itu melebarkan mata tak percaya, ternyata pertanyaan belum selesai sampai di titik, “Kau.. Kau mengajakku pulang..”

“Soojungie!”

Soojung dan lelaki itu menoleh.

“Myungsoo-ya. Wae?”

“Mengajari tugas apa? Dasar cari alasan!” lelaki itu, Minho, menendangi angin yang dia lewati.

Jengkel tentu saja, dia berencana akan mengajak Soojung jalan-jalan sore ini tapi ternyata seseorang berkata lain. Sejujurnya, dia ingin mengatakan dia yang lebih dulu akan mengajak gadis itu jalan-jalan, sayangnya Soojung lebih memilih mengajari temannya daripada ikut rencana jalan-jalan Minho yang belum sampai lelaki itu utarakan.

“Dari wajahnya saja aku tahu kalau anak jelek itu bohong! Dasar anak kencur!”

Klang!

Minho dengan penuh perasaan(?) asal menendang kaleng soda ke arah kanan dan berjalan menuruni jalan yang sudah dia rencanakan akan di lewati bersama Soojung. Gambaran wajah ceria Soojung yang sejak berangkat sekolah dia imajinasikan mendadak berganti dengan tawa kemenangan Myungsoo -teman Soojung- yang dia kreasikan mirip penyihir jahat.

“Ya. Anak SMA.”

Minho menaikkan alisnya, sambil terus berjalan dia menoleh ke seragamnya. Seragam SMA. Lelaki itu cuek, “Mungkin bukan aku.” pikir Minho.

“Kau. Anak laki-laki SMA Paran.” ulang suara yang terkesan dingin. Minho menoleh ke belakang. Itu nama sekolahnya.

Seorang lelaki yang -terlihat- lebih tua darinya menatapnya datar sambil menggoyang-nggoyangkan kaleng soda yang tadi dia tendang. Minho mengamati wajah lelaki itu. Jidatnya merah.
“Matilah aku.” pikir Minho.

“Ahjussi memanggilku?” tanya Minho, suaranya masih terdengar kesal karena efek yang Myungsoo berikan masih tertinggal.

“Mwo? Ahjussi?” Lelaki itu terlihat tak senang dengan apa yang Minho ucapkan, “Ya. Kau anak SMA, apa kau sekolah hanya untuk membuang waktu dan tidur saat gurumu bicara?”

“Mwo?” Minho membalikkan badannya, lagi-lagi dia kesal. Kakinya tergerak menghampiri lelaki yang kini mengamatinya dari atas ke bawah.

“Choi Minho. Pantas saja, kau selalu sibuk di lapangan sampai tak sempat mendengarkan gurumu di kelas.” tatapan lelaki itu seakan meledek, meningkatkan amarah Minho.

“Ya! Ahjussi..”

“Bahkan kau tak tahu cara minta maaf setelah melempar jidat orang yang lebih tua darimu dengan kaleng bekas.” lelaki itu menjatuhkan kaleng yang dari tadi dia pegang dan menggelinding ke sepatu Minho.

Minho hanya membulatkan mulutnya, tercengang dan tak percaya, lelaki itu dengan gaya dingin memasuki restoran kue.

“Huh? Apa-apaan itu?” Minho berdecak kesal sebelum akhirnya meninggalkan jalan lenggang itu.

Jungshin melongokkan kepala ke arah pintu saat Minhyuk masuk. Kata heran dan penasaran tertulis jelas di wajahnya, tumben sekali Minhyuk bicara panjang lebar di depan orang asing.

“Ada apa? Jidatmu?” tunjuk Jungshin.

Minhyuk hanya menoleh sekilas lalu merapikan kursi yang baru saja ditinggal pelanggan, “Anak tidak penting.”

“Benarkah?” Jungshin menekuk tangannya di meja, “Sepertinya itu seragam Paran, bukankah adikmu juga sekolah disana? Kau yakin tidak kenal?”

Minhyuk menghembuskan napas, menoleh kesal ke Jungshin, “Hanya karena anak itu berseragam Paran dan adikku bersekolah disana bukan berarti aku mengenalnya, Shin-ah.”

Jungshin mengintip ke jendela, melihat anak SMA yang belum seberapa jauh pergi. Matanya mengerucut(?), jidatnya menyipit(?), bibirnya berkerut. Tandanya dia sedang bekerja keras membongkar memori otaknya.

“Ya! Ya! Ya!” Jungshin secara frontal menepuk Minhyuk, “Kau buta atau apa? Itu kan Choi Minho, lihat tasnya! Itu tas yang diberikan Yoona Girls Generation saat dia menang juara atletik tingkat provi..”

“Iya aku tahu!” Minhyuk memelototi Jungshin dengan glare mematikan sebelum melengos ke dapur.

Jungshin terbahak meledek Minhyuk, “Anggap saja itu tendangan bonus dari orang yang mendapat hadiah dari Im Yoona nuna-mu Minhyuk-ah!”


Minhyuk menggeser pintu rumahnya, dia sengaja pulang lebih sore. Hari ini dia sedang bersemangat untuk memasak dengan banyaknya barang yang dia beli, uang yang sebelum pulang dia terima dari bosnya lumayan banyak daripada sebelumnya, dia ingin memberikan sedikit hal berbeda malam ini. Hari special untuknya.

Minhyuk menoleh ke sepatu yang tergeletak sembarangan di depan kamar adiknya, tapi dia berlalu tak mau menggubris. Sebelum hari jadi malam dan dia salah memasukkan bumbu.

Minhyuk mengeluarkan bungkusan terakhir yang dibelinya, mata kecilnya menghilang seiring senyuman yang makin lebar, “Aku akan buatkan sup rumput laut terenak untuk umma.” ucapnya.

Dia tersenyum, matanya menghilang, dan ada sesuatu yang merembes dari indahnya senyuman lelaki itu. Kerinduan yang lama dia pendam, kenangan indah yang lama dia simpan, bercampur rasa sakit yang dia tahan.

“Selamat ulang tahun, umma.”
Prang!

“Oppa..!”
Minhyuk terhenyak. Tomat yang dia cuci terlempar menggelinding ke lantai, kali ini dia tidak peduli. Langkah cepatnya menuju kamar gadis yang dia dengar jeritannya.
Bukan, bukan kamar gadis itu, tapi kamarnya. Kamar Minhyuk.

“Soojung-ah..”

Setengah terengah setengah was-was Minhyuk menggeser pintu. Hati kecilnya berkata, semoga tidak terjadi hal buruk pada adiknya. Pada Soojung.
Dan Minhyuk seperti dicabut roh dari badannya. Ada kobaran api di lantai kamarnya, dan adiknya, Soojung, menggunakan kaki telanjang memadamkan api itu. Menginjak dan meniupi benda yang terbakar.
Lelaki itu membeku.

“Oppa! Bagaima.. Ah! Panas!”

Bukan. Bukan kebingungan di wajah Soojung. Bukan kamarnya yang nyaris terbakar atau rumahnya yang tercemar asap. Dan bukan kaki gadis itu yang Minhyuk pikirkan saat ini. Dia tidak tahu harus berkata apa saat perlahan menghampiri Soojung. Menatap api di lantai yang kini tinggal menyisakan asap, berganti menatap Soojung yang juga menatapnya dengan takut-takut.

“Oppa..”

Minhyuk menatap benda yang sempat terbakar api dan ‘diselamatkan’ injakan kaki Soojung. Bingkai foto yang nyaris tak bersisa. Bingkai foto yang malam ini ingin Minhyuk peluk semalaman. Bingkai foto yang melingkari wajah orang yang dia sayang. Ibunya.

“Mian..”

Dan pandangan dari wajah merah Minhyuk mengarah ke Soojung. Gadis itu perlahan meraih kue tart yang ada di meja, membawa ke depan Minhyuk.

“Selamat ulang ta..”

“Keluar.”

Soojung terkesiap melihat pandangan Minhyuk yang terasa menghantam bola matanya. Gadis itu memang terbiasa menerima tatapan dingin dari kakaknya, tapi saat ini bukan tatapan semacam itu. Bahkan Soojung merasa tatapan dingin lebih baik daripada kilatan yang dia hadapi saat ini.

‘Mata itu membencimu, Soojung. Jangan hadapkan aku dengannya, tutuplah kelopakku.’
Mata gadis itu yang berbicara, setelah selama ini hanya bisa menangis dan menangis.

“Oppa..”

“Keluar.”

Makin mengeras, dan beranjak menusuk hati gadis itu.

‘Jauhkan aku dari tatapan itu, Soojung. Bawa aku keluar, Soojung. Jangan biarkan aku tergores lagi, Soojung.’
Matanya, kakinya, dan hatinya entah untuk yang keberapa kali. Mereka tak kuasa ada disisi Minhyuk. Lari, itu yang mereka mau. Tapi entah apa yang membuat Soojung tak pernah mau mendengar dan melihat sakit yang mereka teriakkan. Entah apa yang membuat gadis itu kuat sementara tubuhnya sendiri ingin membawanya lari.

“Oppa, mianha..”

“Keluar!”

Dan Minhyuk mengabulkan keinginan tubuh Soojung, mendorongnya kasar dengan sekali hentakan. Gadis itu meringis, tapi dia tidak tahu mana yang dirasakan sakit. Entah kakinya yang terbakar, matanya yang perih, atau hatinya yang lagi-lagi tergores. Lebih dalam.

“Dan jangan pernah kembali lagi.”

Sunyi.
Minhyuk tak mendengar gemingan permintaan maaf Soojung. Dia juga tak ingin mendengarnya. Persis seperti yang diisyaratkan kedua matanya.

Marah, begitu yang dia katakan. Siapa yang tak marah saat kenangan terakhir dari orang yang paling dia sayang, orang yang tak mampu dia temui lagi, luluh terbakar, hanya karena masalah kecil? Masalah kecil, yang dibuat oleh orang yang dia tak inginkan ada di sisinya.
Oh, tunggu. Adakah kesalahan dari pikiran Minhyuk?

“Apa aku benar-benar harus membuatmu pergi dari hidupku, Soojung? Selamanya?”

Dia marah karena Soojung yang menghilangkan kenangan terakhir itu. Karena Soojung.

Soojung membeku memeluk lututnya yang basah teraliri air dari matanya. Dadanya naik turun sesenggukan. Perih. Hatinya perih.
Minhyuk tak pernah berlaku kasar padanya, Minhyuk tak pernah membentaknya, Minhyuk tak pernah semarah ini padanya. Dan juga, Minhyuk tak pernah sekhawatir tadi padanya.

Soojung menghapus airmatanya. Dia menoleh, memastikan pintu yang dia sandari tak terkena lemparan benda keras. Mata Minhyuk yang dia lihat tadi, bukan seperti mata dingin yang setiap hari menghindarinya.

โ€œOppa.. Mianhaeyo..โ€ ucapnya lirih. Perih yang dia rasakan saat ini bukan hanya karena kemarahan Minhyuk, rasa bersalahnya yang mengakibatkan Minhyuk marah adalah hal utama penimbul perih itu.
-TBC-

Gimana? Kejutan ya? Bukan juga.
Hehehe, maaf soal kemarin yang sempat bilang ff ini tidak bisa lanjut *bow*, saya sedang banyak problem jadinya rada setres (emang elu uda setres dari orok, thor) dan kebawa kemana-mana terus asal bikin keputusan. Ini tidak baik, jangan ditiru kalau sedang setres berendem di freezer biar adem kepalanya dan nggak asal nyeplos kayak saya *lah?*.
Maaf ya kalau kependekan dan kurang greget dibanding sebelumnya. Komen dan kritik selalu ditunggu ^_^

19 thoughts on “Oppa [Chapter 2]

  1. hueeeee sudah lama tidak post kamu ya. hihi
    greget banget. lanjutannya jangan lama2 dan semoga aja happy ending ya wkwkwkwk *digampar

  2. finally dilanjutin thor!! aaa~ gw udh nunggu lama.. kayanya 2015 banyak author yg come back nih ya.. ^^
    ooo…. jd soojung ade tiri minhyuk? ya… soojung.. uljima..

  3. Chapter ini sedih ya, tapi aku pengen soojung pergi dalam waktu lama dari kehidupan minhyuk, dan minhyuk mencari/mengkhawatirkan soojung gitu.. Kalau bisa buat soojung lumayan sukses. Mksih, di tunggu lanjutannya

  4. Panjangin dong thor ini tuh udh lama bgt ff nya ga di lanjutin akhirnya di lanjutin jgn part 3 nya jgn lama2 ya thor ^^ fighting

  5. Makin seru iiih next dong.. Ah untung aja nih ff di lanjut, masa iya ff bagus kyk gini gk di lanjut.. Pliss minhyuk jahat tp dia jg rapuh ;( soojung jg kasian harus jd imbas kekesalan minhyuk๐Ÿ˜ฆ

  6. Huwaaaa… author, feelnya dpt bgt. Rasanya pingin nangis๐Ÿ˜ฅ.aku suka banget ffnya. pliss lanjutin ya, thor. Aku tunggu. Oh iya, mian br bs komen di chapter 2 ini.

  7. Next thor duh๐Ÿ˜„
    Bayangin coba wajah si Minhyuk marah kek gimana, sampek bikin soojung nangis, pasti lucu –”๐Ÿ˜„
    Thor, tambahin cast-nya coba :3๐Ÿ˜„
    Keep writing dah!!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s