Still

Author: Kin A

Rating: PG16

Genre: Romance

Length: Oneshoot

Main Cast:

Kang Minhyuk

Jung Soojung

 

Kin A

Present

Kang Minhyuk >< Jung Soojung

 

Alarm jam weker berdering nyaring memenuhi setiap sudut kamar bernuansa biru ini. Rapi. Setiap barang yang berada di ruang ini tertata rapi tak seperti kamar pria pada umumnya.

Kang Minhyuk, pemilik kamar ini, masih tetap berselimutkan selimut tebalnya. Nyaringnya alarm yang di setelnya malam tadi belum mampu membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Seperti biasa.

Cklek.

Pintu kamar itu bergerak sepelan mungkin agar suara decitannya tak menganggu tidur Minhyuk. Seorang gadis kemudian masuk ke dalamnya dengan hati – hati.

Gadis itu menyunggingkan senyum manisnya saat melihat Minhyuk masih berada di ranjangnya dengan seluruh tubuh yang terselimuti selimut tebal. Ia pasti lelah, pikir gadis itu. Mengingat setiap 6 hari dalam seminggu, Minhyuk harus menunggu warung internet saat tengah malam sampai pukul 4 sebagai penghasilan tambahannya.

“ Oppa.” Panggil gadis itu sambil menggoyangkan sedikit badan Minhyuk berharap agar pria tersebut segera bangun dan tidak meninggalkan waktu sarapannya.

“ Oppa.” Panggil gadis itu lagi kali ini tepat di dekat cuping telinga Minhyuk.

Sedikit demi sedikit dapat terlihat gerak – gerak kecil yang dilakukan oleh Minhyuk, tanda bahwa ia mulai terganggu dan akan segera bangun dari tidurnya.

“ Ah, Soojung – ie…. Jam berapa sekarang?” Tanya Minhyuk setelah berhasil bangun dan duduk di ranjangnya sambil sesekali mengucek pelan matanya.

“ Jam 8. Kau hampir saja melewatkan sarapanmu oppa.” Jawab Soojung, gadis itu, seraya merapikan selimut dan tempat tidur Minhyuk.

“ Mianhae Soojung – ie, aku lelah sekali.” Ujar Minhyuk sambil terus mengamati gerak gerik gadis cantik di depannya yang tengah merapikan tempat tidurnya.

“ Mengapa Kitty tidak bisa membangunkanku?” Gumam Minhyuk pada jam alarm berbentuk hello kitty yang berada di makas yang ada di samping tempat tidurnya.

“ Kurasa suaranya tidak keras, benarkan? Ah, perlukah aku membeli jam weker yang baru lagi, Soojung – ie?” Tanya Minhyuk pada Soojung setelah sebelumnya ia telah mematikan Kitty-nya yang semenjak tadi tetap berdering.

Soojung yang mendengar hal itu, terkekeh pelan. “ Itu bukan karena Kitty-mu suaranya pelan tapi mungkin telingamu itu memang tercipta untuk selalu mematuhi apa yang terucap dari mulutku.” Jawab Soojung yang telah selesai merapikan tempat tidur Minhyuk dan kini telah duduk di samping Minhyuk.

“ Ah, benarkah?” Tanya Minhyuk sambil menatap Soojung dengan tatapan menggoda.

“ Kalau begitu aku jadi ingin mendengar suaramu itu.” Goda Minhyuk sambil memeluk tubuh ramping Soojung dari belakang.

“ Cepat bicara.” Ujar Minhyuk sambil mendekatkan cuping telinganya pada bibir Soojung.

“ Oppa. Sudahlah hentikan.” Ujar Soojung sambil menjauhkan kepala Minhyuk dari wajahnya.

“ Cepat bicara. Aku ingin mendengar suaramu yang memerintahku.” Pinta Minhyuk sambil menunjukkan aegyo – nya pada Soojung.

“ Aish, kau ini. Cepat basuh wajahmu. Ini kotorannya masih menempel.” Ujar Soojung sambil menyentukan ujung telunjuknya pada salah satu sudut mata Minhyuk.

Minhyuk lalu melepaskan pelukannya dan mencoba untuk membersihkannya dengan kedua telunjuknya sendiri. “ Benarkah?”

“ Ne. Cepat basuh mukamu! Aku akan menunggu di meja makan.” Ujar Soojung yang kini telah beranjak pergi dari kamar Minhyuk.

-:-

“ Ah, hari ini terasa sangat dingin.” Ujar Minhyuk sambil terus menggenggam erat tangan kanan Soojung yang kini bertautan dengan tangan kirinya di dalam saku jaket Minhyuk.

Musim dingin memang mulai mengganti musim gugur beberapa hari lalu. Membuat suhu udara semakin turun dan mengharuskan setiap orang yang akan beraktifitas untuk memekai jaket tebal mereka, seperti Minhyuk dan Soojung yang kini sedang berjalan – jalan untuk sekedar menikmati saat – saat musim dingin kota Seoul.

Selama perjalanan mereka, warna merah, hijau, serta pernak pernik natal lainnya mulai tertata rapi pada setiap etalase toko yang mereka lewati. Natal memang sebentar lagi akan datang membawa keberkahan bagi mereka yang mempercayainya. Ya natal akan datang esok lusa, 25 Desember.

“ Soojung – ie, apa kau mau melihat – lihat pakaian di butik yang itu?” Tanya Minhyuk sambil menunjuk ke arah toko perhiasan mewah yang berjarak beberapa langkah di depan mereka.

“ Untuk apa kita ke sana?” Tanya Soojung sambil menatap Minhyuk dengan bingung.

“ Ya sekedar melihat – lihat saja, siapa tahu ada yang kau suka.” Ujar Minhyuk sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“ Ah tidak perlu. Perhiasan di sana pasti sangat mahal.” Ujar Soojung sambil menggelengkan pelan kepalanya.

“ Ayolah, kita masuk saja. Lagipula udara di sini semakin dingin jadi hitung – hitung kita bisa ikut menghangatkan badan di dalam sana.” Minhyuk lalu memimpin perjalanan sambil terus menggandeng tangan Soojung erat.

“ Jangan bilang kau akan merampok di sana.” Ancam Soojung.

“ Yak! Kau kira aku pencuri?” Tanya Minhyuk sambil terus berjalan menuju toko tersebut.

Kring…

Bunyi bel pada pintu berbunyi begitu Minhyuk dan Soojung masuk ke dalam toko. Dapat terlihat oleh keduanya, suasana mewah yang langsung sesaat masuk ke dalamnya. Baik itu perhiasan yang di jual atau pun dandanan para calon pembelinya yang berbalut pakaian mewah, berbeda dengan mereka berdua yang begitu sederhana.

“ Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?” Sapa salah seorang pelayan pada Minhyuk dan Soojung.

“ Ah, kami ingin melihat lihat perhiasan. Bisakah anda tunjukkan cincin pasangan untuk kami berdua?” Tanya Minhyuk pada pelayan tersebut.

“ Ah, aku mengerti. Mohon tunggu sebentar.” Ujar pelayan itu. Setelah beberapa saat, pelayan itu kembali dengan membawa beberapa koleksi perhiasan yang mereka jual.

“ Ini anda bisa melihat lihat dulu.”

“ Kau suka yang mana?” Tanya Minhyuk pada Soojung yang kini menatap kagum pada beberapa perhiasan yang kini ada di hadapan mereka. Tangan Soojung tampak bergerak untuk sekedar menyentuh salah satu cincin emas yang berbentuk sederhana namun terlihat manis karena sebutih berlian yang melekat di tengahnya.

“ Selera anda sangat bagus nona. Cincin itu memang merupakan produk terbaru kami. Cincin itu akhir – akhir ini sangat laris. Apa anda ingin mencobanya?” Tanya pelayan itu sambil menyerahkan cincin itu pada Soojung untuk sekedar mencobanya.

Tangan Soojung mencoba untuk menerima cincin itu dan kemudian memakaikannya pada jari manisnya.

“ Kau terlihat lebih cantik dengan cincin itu.” Ujar Minhyuk sambil menatap pada jari Soojung dan wajahnya. Soojung yang mendengar hal itu mengalihkan wajahnya untuk menatap wajah Minhyuk.

“ Kurasa aku akan membelinya kapan – kapan. Terima kasih telah berbaik hati membiarkanku untuk mencoba cincin ini.” Ujar Soojung tiba – tiba. Soojung kini telah melepas cincinnya dan menaruhnya pada tempatnya semula.

“ Oppa, ayo kita pulang.” Ajak Soojung sambil berjalan mendahului Minhyuk keluar dari toko.

“ Nona, bisa aku memesan satu untuk cincin yang tadi. Jadi jangan kau berikan pada siapa pun itu yang akan membelinya, ok.” Ujar Minhyuk pada pelayan tadi.

“ Lalu kapan kau akan membelinya?” Tanya pelayan itu.

“ Mmm…… bagaimana jam 8 saat malam natal nanti?”

“ Baiklah kalau begitu. Setelah jam 8 kau tidak kunjung datang, aku berhak menjual kepada siapa pun yang ingin membelinya.”

-:-

“ Oppa mengapa malam ini kau masih harus berjaga? Bukankah biasanya bosmu akan memberikan libur di malam sebelum malam natal?” Tanya Soojung yang heran. Sesekali Soojung mencuri pandang pada Minhyuk yang tengah membenahi letak syalnya.

Setelah Soojung selesai mencuci seluruh peralatan makan yang tadi mereka pakai, Soojung kemudian menghampiri Minhyuk untuk sekedar membantu Minhyuk membenarkan letak syalnya agar leher kekasihnya itu tidak merasakan dinginnya angin malam musim dingin yang berhembus di luar sana.

“ Aku memang sengaja meminta bosku untuk menambah waktu jagaku agar aku bisa dapat uang tambahan lagi.” Jawab Minhyuk sambil mengacak pelan puncak kepala Soojung.

“ Kau hati – hati ya di rumah. Jangan lupa kunci pintunya dan kalau ada apa – apa, cepat telpon aku.” Ujar Minhyuk yang kemudian menggenggam erat kedua telapak tangan Soojung yang telah selesai mengurusi syalnya.

“ Ah jari – jarimu begitu kosong. Maafkan aku, ne? Aku belum bisa memberikanmu sebuah cincin selama kita bersama.” Ucap Minhyuk sambil menatap sedih pada jari – jari Soojung yang tak berhiaskan perhiasan.

“ Ah tidak apa – apa, asalkan dapat bersamamu saja aku sudah senang.” Ujar Soojung seraya menyunggingkan senyuman termanisnya pada Minhyuk.

“ Terima kasih, Soojung – ie. Aku berjanji akan segera mendapatkan restu orang tuamu dan kemudian aku akan menikahimu.”

Ya. Walau mereka berdua kini tinggal dalam satu atap bukan berarti mereka telah sah menjadi suami istri. Orangtua Soojung yang notabennya adalah seorang politikus handal belum menyetujui hubungan mereka berdua bahkan orangtua Soojung sempat berusaha untuk menikahkannya dengan seorang pengusaha muda yang tentu saja ditolak mentah oleh Soojung, hingga akhirnya ia kabur dari rumahnya yang mewah dan memilih tinggal di apartemen sederhana milik kekasihnya. Walaupun begitu, Soojung dan Minhyuk tidur di kamar yang berbeda sebab Minhyuk sadar bahwa ia tidak boleh melakukan hubungan layaknya suami istri sebelum Soojung telah sah menikah dengannya.

“ Aku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik – baik, ne?” Ujar Minhyuk sambil mencium lembut kening indah Soojung.

-:-

Pagi kini telah hadir kembali. Soojung juga telah melakukan aktivitas rutinya, membangunkan Minhyuk dam memasak sarapan untuk mereka berdua.

Kini Soojung dan Minhyuk tengah menyantap sarapan mereka di meja makan. Keduanya menyantap dengan hikmat makanan yang tersaji tanpa seorang pun mengeluarkan suaranya untuk bicara.

DING.

“ Kurasa ada pesan masuk di handphonemu.” Ujar Minhyuk dengan mulut yang terus menguyah makanan.

“ Benarkah?” Tanya Soojung yang kemudian mengecek handphonenya yang tergeletak di meja makan tak jauh darinya. Dilihatnya siapa pengirim pesan tersebut hingga akhirnya membuatnya terdiam beberapa saat.

“ Dari siapa?” Tanya Minhyuk.

“ Eommaku.”

“ Apa yang dikatakannya?” Tanya Minhyuk lagi.

“ Dia menyuruhku untuk berkunjung ke rumah saat natal.” Jawab Soojung yang tak hilang rasa terkejutnya.

“ Kalau begitu pergilah nanti.” Ujar Minhyuk tenang atau bisa dibilang berusaha terlihat tenang di depan Soojung.

“ Aku tidak akan pergi ke sana.” Ucap Soojung sambil menggelengkan kepalanya dan menjauhkan handphonenya.

“ Wae?”

“ Aku takut aku tidak bisa kembali ke sini.” Jawab Soojung pelan.

Mendengar jawaban Soojung membuat menaikkan sebelah alisnya. Wajar memang Soojung menjawabnya dengan kalimat itu, mengingat orangtuanya memiliki beberapa bodyguard yang bisa saja menahan Soojung di sana hingga akhirnya Soojung tidak bisa kembali ke sisinya.

“ Pikirkanlah hal positif untuk kita berdua. Siapa tahu orangtuamu telah merubah pikirannya tentang kita?” Ucap Minhyuk berusaha menasehati Soojung walau ada sedikit rasa takut di dalam hatinya apakah yang dikatakannya ini akan berakibat buruk atau tidak.

“ Oppa haruskah?”

“ Ya. Kunjungilah kedua orangtuamu.”

Hening. Untuk beberapa saat kemudian suasana meja makan pagi ini kembali hening. Masing – masing dari mereka menunduk fokus dengan pikiran mereka masing – masing.

“ Soojung – ie. Kalau pun kau tidak bisa kembali ke sisiku, ingatlah satu hal bahwa aku akan selalu berada di sisimu. Baik kau berada di dekatku atau jauh dariku. Diriku, hidupku, dan cintaku telah ku berikan kepadamu. Hanya padamu.” Ujar Minhyuk memecah keheningan di antara mereka berdua dan berhasil membuat Soojung menatap sedih pada Minhyuk.

“ Akan ku pastikan aku akan kembali untukmu oppa. Aku janji.” Ujar Soojung dengan mata berkaca – kaca.

“ Aku pegang janjimu. Jadilah anak yang baik, jangan durhaka kepada orangtuamu. Kau beruntung masih memiliki mereka.” Ujar Minhyuk sambil mengelus pelan puncak kepala Soojung dengan senyuman manis terpampang di wajahnya.

-:-

Cklek.

Pintu kamar Soojung terbuka. Kemudian masuklah Minhyuk ke dalamnya lalu menghampiri Soojung yang tiduran membelakanginya. Sejak percakapan saat sarapan tadi, Soojung menjadi pendiam terhadapnya dan lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar.

“ Soojung – ie. Aku akan pergi sebentar untuk mengambil upahku. Jaga dirimu baik – baik, ne?” Pamit Minhyuk pada Soojung yang membelakanginya. Ia elus pelan puncak kepala Soojung. Ia tahu Soojung belum tidur.

Setelah Minhyuk keluar dan menutup pintu kamar Soojung, pandangan Minhyuk kini beralih pada jam dinding yang tergantung di ruang tengah apartemennya. 19. 45.

“ Ah aku tidak punya banyak waktu lagi.” Batin Minhyuk yang kaget melihat waktu yang terbentuk di jam dindingnya.

-:-

Kring.

Lonceng pintu toko perhiasan itu berdenting, menandakan seseorang telah memasukinya. Minhyuk memasuki toko perhiasan itu dengan terengah – engah. Pukul 20.15, begitu yang Minhyuk lihat pada sebuah jam yang tertempel pada dinding toko itu. “Semoga belum terlambat.” Batinnya.

“ Nona, apa kau masih ingat denganku?” Tanya Minhyuk pada pelayan yang ia temui lusa lalu. Napasnya masih sedikit terengah – engah mengingat bagaimana ia terus berlari untuk menuju ke toko ini.

“ Oh, anda pria yang waktu itu memesan sepasang cincin waktu itu ya?” Tanya pelayan itu sambil mengingat.

“ Ne, syukurlah kau masih mengingatnya. Lalu bagaimana dengan pesananku? Dapatkah aku membelinya sekarang?”

“ Maafkan saya tuan. Cincin yang anda pesan telah terjual. Kami minta maaf sekali lagi.” Jawab pelayan itu dengan penuh penyesalan.

“ Mwo? Bagaimana bisa kau melepaskannya pada orang lain?” Tanya Minhyuk kesal.

“ Tapi perjanjian kita hanya sampai jam 8 malam dan lewat dari itu kami dapat menjualnya kepada siapa saja.”

“ Tapi kan aku hanya terlambat beberapa menit. Bagaiman kau Aisssh……” Minhyuk tampak begitu frustasi sampai – sampai mengacak asal rambutnya.

“ Lalu apakah ada cincin yang lain?” Tanya Minhyuk berusaha tenang.

“ Ada tapi semua harganya di atas cincin yang anda pesan. Apakah anda ingin melihatnya?”

“ Tidak. Tidak perlu.” Jawab Minhyuk lemas.

“ Tuan…. Kurasa pembeli cincin pesananmu itu belum jauh pergi dari toko ini. Coba anda cari dia dan bernegosiasilah dengannya.” Ujar pelayan itu kasihan melihat Minhyuk yang tampak frustasi.

“ Benarkah? Seperti apa orangnya?”

“ Dia seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan dan bermantel merah.” Jawab pelayan itu sambil mengingat – ingat. “ Oh iya, dia juga berbadan sedikit gemuk.”

“ Terima kasih informasinya.” Ucap Minhyuk sebentar. Lalu kemudian Minhyuk berlari cepat keluar dari toko untuk mencari orang yang membeli cincinnya itu.

Cepat namun hati – hati, Minhyuk terus berlari dan mengamati setiap orang yang di lewatinya. Namun nihil. Orang itu tak juga ia temukan.

Tak jauh dari tempat Minhyuk yang berlari, di balik pohon besar yang menghalangi pandangan Minhyuk. Dua orang wanita paruh baya tampak saling bercengkrama dan bertukar tawa sampai salah satu dari mereka, wanita bermantel merah, tampak berpamitan pada kawannya dan kemudian masuk ke dalam taksi yang telah menunggunya.

Kawan dari wanita bermantel merah itu kemudian melambaikan tangannya seiring dengan taksi yang terus berjalan menjauhinya.

“ Minhyuk?” Gumam kawan dari wanita bermantel merah setelah membalikkan badannya dan kemudian melihat seorang pemuda yang tengah membungkuk terengah – engah karena kelelahan.

“ Minhyuk – ssi.” Panggil wanita paruh baya itu lebih keras setelah yakin matanya melihat seseorang yang ia kenal. Dan benar saja, pemuda itu tampak menolehkan wajahnya kepada sang wanita paruh baya yang memanggilnya.

-:-

Oh Meahri atau Nyonya Jung, wanita paruh baya yang tadi memanggil Minhyuk, kini sedang duduk di sebuah café yang terdapat tak jauh dari tempatnya tadi bertemu dengan Minhyuk.

Minhyuk, pria yang kini duduk di hadapannya tampak meminum dengan cepat secangkir Americano yang beberapa saat lalu mereka pesan.

“ Pakailah ini untuk mengeringkan keringatmu.” Ujar Ny. Jung sambil meletakkan sebuah saputangan biru muda di atas meja.

“ Ah, terimakasih Nyonya.” Ucap Minhyuk sambil mengambil saputangan itu dan kemudian menyekakannya pada dahinya untuk sekedar menghilangkan keringat yang masih mengucur di sana .

“ Panggil saja aku eomoni.” Ujar wanita itu lagi.

“ Ah, ne.”

“ Apa Soojung – ku baik – baik saja?” Tanya Ny. Jung.

“ Ne, dia baik – baik saja.”

“ Syukurlah kau begitu. Jadi apa yang membuatmu berlari di tengah malam musim dingin seperti tadi?” Tanya Ny. Jung sebelumnya mulai menyeruput minuman hangatnya.

“ Ah itu. Itu karena aku ingin mencari seseorang.” Jawab Minhyuk gugup.

“ Seseorang?” Salah satu alis Ny. Jung terangkat, bingung.

“ Ne seorang wanita bermantel merah yang membeli cincin yang sebelumnya telah saya pesan.” Jawab Minhyuk jujur.

“ Ah. Kau telah menemukannya?”

“ Belum.”

“ Apa cincin itu sangat berharga bagimu?” Tanya Ny. Jung yang terus menginterogasi.

“ Mmm… ne, bagiku cincin itu sangat berharga. Walau pun banyak cincin lain yang lebih mahal, tapi bagiku cincin itu sangat berharga karena ini saat pertama bagiku untuk bisa membelikan sesuatu yang Soojung suka. Namun itu semua kini gagal. Aku masih belum bisa memberikan apa pun yang Soojung inginkan.” Jawab Minhyuk yang tampak menyesal.

“ Kalau begitu apalagi alasan buatku untuk membiarkan anakku hidup dengan pria sepertimu? Kau tidak bisa memberikan apa yang Soojung – ku suka.” Ujar Ny. Jung dengan sedikit menatap remeh kepada Minhyuk.

Minhyuk tidak bisa menjawab apa – apa. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya diam. Ia sadar, ia tak memiliki apa – apa untuk dibanggakan. Ia tak punya alasan untuk membuat orangtua Soojung menyetujuinya. Namun, untuk saat ini dan seterusnya ia ingin Soojung untuk tetap di sisinya.

“ Kau tahu kan kalau aku menyuruhnya untuk mengunjungi rumah kami besok pagi?”

“ Ne. Aku tahu.”

“ Tolong bujuk dia untuk mengunjungi rumahnya. Kami akan memutuskan sesuatu tentang kalian.”

“ Ne.” Minhyuk hanya bisa menganggukan kepalanya menuruti perkataan Ny. Jung.

“ Jadi apapun hasil keputusan kami nanti. Aku meminta kau untuk menuruti segala keputusannya.” Ujar Ny. Jung dengan tenang.

-:-

Pagi kembali datang. Sinar matahari pagi ini terasa sangat indah menyinari tumpukkan salju di pekarangan – pekarangan rumah. 25 November. Hari ini natal tiba, waktu bagi setiap anggota keluarga untuk berkumpul di rumah salah seorang anggota keluarga.

Soojung kini mematut dirinya di depan cermin besar yang berada di kamarnya. Ia menatap bayangan dirinya yang terpantul di cermin. Cantik. Dengan rambut hitam panjangnya, ia tampak cantik walau tanpa banyak make up yang menempel di wajahnya.

Setelah dirasa cukup, ia membalikkan badannya dan meraih tas tangan serta hoodie coklatnya yang tergeletak di kasur. Kemudian dengan langkah pelan, Soojung menghampiri Minhyuk yang masih tidur terduduk di samping tempat tidurnya. Entah sejak kapan Minhyuk tidur dengan posisi seperti itu hingga akhirnya Soojung menemukannya saat terbangun tadi pagi dan mendapati telapak tangan kirinya digenggam erat oleh kedua telapak tangan Minhyuk.

“ Oppa, aku berangkat sekarang. Maaf aku meninggalkanmu sendiri di saat natal seperti ini.” Ujar Soojung pelan seraya mengelus pelan rambut Minhyuk dan kemudian ia mendekatkan wajahnya untuk mencium puncak kepala Minhyuk.

Sebelum Soojung keluar dari kamarnya, Soojung menyempatkan menaruh sepucuk surat di dekat kepala Minhyuk.

-:-

Sebuah rumah besar kini berada di hadapan Soojung. Rumah bergaya classic itu tampak lebih mewah dengan cat putih sebagai pewarnanya.

Ting Tong…

“ Siapa?” Tanya seseorang yang wajahnya terdapat pada sebuah monitor kecil yang berada di sisi tembok gerbang tersebut.

“ Aku Soojung.” Jawab Soojung sambil menunjukkan wajahnya pada monitor itu. Dapat terlihat olehnya, wajah wanita itu tampak terkejut sekaligu senang.

“ Nona akhirnya anda pulang.” Ujar wanita itu riang. Wanita itu Kim ahjumma, salah seorang pembantu yang bekerja di rumahnya.

“ Ne.” Ujar Soojung sambil tersenyum manis.

-:-

Soojung mulai memasuki rumahnya, rumahnya yang telah setahun ini ia tinggalkan. Suasananya masih sama seperti dulu. Mewah.

“ Ah nona…. Akhirnya anda pulang. Nyonya sangat merindukanmu.” Ujar Kim ahjumma yang telah menunggu Soojung sejak tadi di dekat pintu. Kim ahjumma tampak sangat senang dengan kedatangan Soojung kembali, terlihat dari senyumannya yang sejak tadi tak jua luntur.

“ Apa Soojung sudah datang bi?” Tanya seorang wanita dari arah tangga yang tak jauh dari tempat Soojung dan Kim ahjumma kini berada.

“ Ne, eomma.” Jawab Soojung setelah ibunya telah sampai di lantai yang sama dengannya.

“ Aku merindukanmu.” Ujar Ny. Jung sambil memeluk Soojung dengan erat.

“ Aku juga. Dimana appa?” Tanya Soojung setelah pelukan antara dia dan ibunya terlepas.

“ Di ada di halaman belakang. Temuilah dia, aku akan membawakan minuman dan makanan kecil untuk kalian.” Jawab Ny. Jung seraya menuntun Soojung dan kemudian berpisah saat Ny. Jung harus pergi ke dapur.

“ Appa, aku pulang.” Ucap Soojung pada ayahnya. Ayahnya mengacuhkannya dan masih terfokus pada koran yang dibacanya.

“ Appa aku pulang.” Ucap Soojung lagi. Dan nihil. Ayahnya tetap mengacuhkannya.

“ Aku rasa aku tidak punya seorang anak gadis.” Sindir Tuan Jung sambil melipat koran yang telah ia baca dan kemudian menaruhnya di atas meja kaca yang ada di samping kursi tempat duduknya saat ini.

“ Hei apa yang kau katakan pada anakmu yang baru saja kembali? Kata – kata macam apa itu?” Sindir Ny. Jung yang datang dari belakang Soojung sambil membawa dua gelas jus dan beberapa makanan kecil yang tertata di atas nampan.

“ Soojung, ayo cepat duduk.” Ajak Ny. Jung yang telah duduk di salah satu kursi.

“ Ah, ne.” Ujar Soojung yang kemudian duduk di samping ibunya.

“ Mengapa kau akhirnya kembali? Apa Minhyukmu itu telah menyakitimu dan membuatmu bosan?” Tanya Tuan Jung setelah meneguk jus yang baru saja diminumnya.

“ Tidak. Aku tidak tersakiti atau pun bosan padanya. Aku sangat mencintainya. Sangat.” Jawab Soojung sambil menekankan kata ‘sangat’ di akhir kalimatnya.

“ Cinta saja tak akan membuatmu merasa sangat senang. Uang merupakan faktor penting dalam pembentukkan rasa senang dalam kehidupan. Jadi apakah dia telah membahagiakanmu? Apa saja barang yang telah diberikan olehnya untukmu?” Tanya Tuan Jung dengan sinis.

“ Tidak….. memang belum ada barang spesial yang ia berikan untukku. Tapi akan ku buktikan padamu kalau aku dapat bahagia dengannya bagaimana pun itu.” Jawab Soojung tegas kemudian ia berdiri dan bersiap untuk pergi sampai pertanyaan ayahnya menghentikannya.

“ Bukankah Minhyukmu itu tidak akan menikahimu sampai aku nanti akan menyetujuinya? Lalu bagaimana kau akan bahagia dengannya tanpa sebuah ikatan yang mengikat? Harusnya kau kemari untuk mendapatkan kata setuju dariku, kan?”

Soojung terdiam. Ayahnya benar, tujuannya ke sini adalah memang untuk mendapatkan persetujuan darinya. Soojung mengepalkan kedua tangannya kesal.

“ Beritahu aku caranya agar aku mendapat persetujuan darimu.” Ujar Soojung berbalik dan menghadap ayahnya.

“ Kalau begitu. Cium kedua kakiku.” Perintah Tuan Jung dengan tegas.

Memang Tuan Jung tahu segalanya tentang Soojung. Ia tahu Soojung dengan sifat keras kepala dan harga diri tinggi yang dimilikinya akan membuat Soojung sulit untuk melakukan perintahnya itu.

Ting. Tong.

“ Ah kurasa, pizza pesananku telah tiba. Aku akan ambil dulu.” Ujar Ny. Jung yang kemudian pergi menuju pintu masuk rumahnya.

“ Tunggu apalagi? Cepat lakukan sebelum aku merubah pikiranku.” Setelah Ny. Jung pergi, Tuan Jung kembali menantang Soojung.

“ Baiklah.” Soojung lalu melangkahkan kakinya menuju tempat Tuan Jung berada dan kemudian berlutut di depannya.

“ Cepat cium kedua kaki ayahmu.” Perintah Tuan Jung lagi.

Soojung masih diam. Terjadi pergolakan batin di dalam dirinya. Antara ego dan pengorbanan.

Pelan. Dengan perlahan Soojung mulai membungkukkan badannya dan menatap kedua kaki ayahnya yang mulai keriput itu dari dekat.

Chu.

Dia akhirnya mencium kedua kaki ayahnya. Harga dirinya kini telah terbuang jauh.

“ Bagaimana sekarang? Aku sudah mendapatkan persutujuanmu bukan?” Tanya Soojung setelah menegakkan kembali badannya dalam keadaan berlutut.

Tuan Jung tampak menahan senyum di wajahnya. Membuat Soojung menatapnya aneh.

“ Appa?”

“ Mmm…. Baiklah kau mendapat persetujuanku.”

“ Hei pemuda yang di sana. Apa lagi yang kau tunggu? Cepat lamar anakku yang cantik ini sebelum aku merubah keputusanku.” Ujar Tuan Kim sambil menunjuk seseorang di belakang Soojung.

Soojung membalikkan kepalanya dan Minhyuk ada di sana. Kang Minhyuk, kekasihnya, ada di sana. Berdiri di samping ibunya.

Minhyuk tampak berjalan mendekat ke arah Soojung dan kemudian melakukan hal yang sama dengan Soojung yaitu berlutut di depan Tuan Jung.

“ Tuan, terimakasih telah merestui kami berdua.” Ujar Minhyuk tulus.

“ Ne, jaga anakku dengan baik. Oh ya panggil aku abeoji mulai saat ini.” Ucap Tuan Jung sambil menatap wajah calon menantunya.

“ Ne.”

“ Hei mengapa kau tidak segera melamar anakku? Susah payah aku menghubungi Jinyi untuk memintanya menjual kembali cincinnya padamu. Jadi cepat lakukan sekarang.” Celetuk Ny. Jung yang membuat setiap wajah yang ada di sana menoleh kepadanya.

“ Oppa, apa maksudnya semua ini?”

Flashback

“ Kalau begitu aku akan meminta temanku untuk kembali menjualnya kepadamu agar kau bisa memberikan cincin pertamamu pada anakku.” Ujar Ny. Jung seraya berdiri dari tempat dudukya.

“ Ne?” Tanya Minhyuk bingung.

“ Aish, aku akan berusaha meminta temanku untuk menjual cincin pesananmu itu padamu agar kau bisa segera melamar anakku.” Ujar Ny. Jung sambil tersenyum manis.

“ Apa maksudnya ini- ?” Tanya Minhyuk memastikan namun belum tuntas ia melanjutkan kalimatnya, Ny, Jung memotongnya.

“ Iya. Aku dan suamiku telah merestui kalian berdua. Jadi cepat lamar, nikahi dia dan jangan buat kami kecewa.”

“ Terimakasih eomoni. Terimakasih.” Minhyuk berdiri dan melakukan bow berkali – kali pada Ny. Jung.

“ Aigoo….” Ucap Ny. Jung yang terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Minhyuk.

Flashback End

Setelah selesai menceritakan seluruhnya pada Soojung, Minhyuk kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil kotak kecil berisi cincin pertamanya untuk Soojung.

“ Ehm…. Jung Soojung. Maukah kau menikah denganku?” Tanya Minhyuk setelah membuka kotak kecil itu lalu terlihatlah sepasang cincin emas bermata berlian itu.

“ Oppa, bukankah ini cincin yang aku coba saat itu?” Soojung menatap kagum pada sepasang cincin di depannya. Minhyuk menjawabnya dengan anggukan.

“ Bagaimana kau suka?”

“ Ne. Aku sangat menyukainya.” Jawab Soojung dengan anggukan.

“ Nona, cepat jawab pertanyaan Tuan Minhyuk.” Celetuk Kim ahjumma yang berdiri di samping Ny. Jung.

Ny. Jung yang mendengar hal itu kemudian menatap tajam ke arah Kim ahjumma. “ Yak! Biarkan merasakan suasana romantis ini dengan tenang. Soojung ayo cepat jawab pertanyaan Minhyuk tadi.” Ujar Ny. Jung pada Soojung.

“ Oh baiklah. Oppa bisa kau ulangi lagi?” Tanya Soojung gugup.

“ Ehm…. Jung Soojung – ssi. Bersediakah anda untuk menikah denganku?” Tanya Minhyuk sekali lagi dan kali ini ia menatap tepat pada mata Soojung yang ada di hadapannya.

“ N……ne.” Jawab Soojung sambil menganggukan kepalanya.

FIN

Please tinggalkan jejak.

Komentar, saran, dan kritiknya saya tunggu.

 

14 thoughts on “Still

  1. 오모!!! Kisah yang mengharukan..dan berujung bahagia, 정말 좋아!!!
    …. Tulis cerita yang lain ya thor… Ku tunggu… 화이팅!!!!

  2. bagus kok thor.. di awal feelnya dapet.. tp di akhir kurang.. cerutanya jd terkesan kecepetan thor.. semangat nulisnya thor!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s