BIRD

Autor: Kin A

Rating: PG-17

Genre: romance

Length: one shoot

Cast:
– Lee Jonghyun (CNBLUE)

– Im Yoona                                      

Kin A

Present

 

Lee Jonghyun >< Im YoonA

Di bawah temeram yang minim dari lampu meja belajar di depannya, Yoona menatap beberapa burung lipatan origami yang telah ia bariskan sebelumnya. Warna – warni dari burung – burung itu bukanlah ia yang membuatnya, melainkan seseorang di luar sana entah siapa dia yang telah memberikan semua burung itu kepada Yoona dengan diam – diam.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Yoona masih menatap penasaran pada burung – burung itu. Siapa yang membuatnya? Siapa yang telah memberinya ini semua? Pikiran itu masih terus menghantui Yoona sampai saat ini.

-:-

Bel pulang sekolah telah berbunyi saat jam pelajaran terakhir selesai. Siswa – siswi sekolah itu mulai keluar dari kelasnya masing – masing untuk pulang ke rumah. Tak terkecuali Yoona, yang baru saja keluar dari kelasnya, 12 IPA 1, dengan ditemani Seohyun, teman baiknya. Keduanya saling berbincang layaknya gadis remaja. Entah itu tentang pelajaran, pria, ataupuan cinta antar remaja.

Dua dari mereka memanglah gadis lugu yang baru merasakan indahnya waktu SMA yang akan mereka lewati tak lama lagi. Memang terlambat. Tapi mereka masih beruntung karena masih sempat merasakan indahnya waktu SMA. Asmara? Yoona memang belum pernah merasakannya namun beberapa hari yang lalu seseorang telah menjadi pengagum rahasianya. Selama beberapa hari itu, sebuah lipatan origami berbentuk burung selalu bersarang di lokernya saat jam istirahat. Walau pun tanpa mengetahui siapa pelakunya Yoona tetap merasa senang karenanya. Sedangkan Seohyun, ia telah berada satu langkah lebih depan dari Yoona. Seohyun telah memiliki seorang pacar seminggu yang lalu. Oleh karena itu senyumannya tak pernah pudar sampai – sampai keduanya tak terasa telah sampai pada tempat parkir di mana mereka memakirkan sepeda mereka.

“ Apa – apaan ini?” Tanya Yoona yang terkejut dengan kondisi sepedanya saat ini. Bunga – bunga dan pita tertata rapi di sepedanya. Memang indah namun sangat mengganggu menurut Yoona.

“ Eonni, siapa yang melakukan semua ini?” Tanya Seohyun yang umurnya satu tahun lebih muda dari Yoona.

“ Kalau aku tahu aku tidak akan seterkejut ini.” Jawab Yoona seraya membersihkan semua bunga dan pita yang tertempel di sepedanya. Seohyun yang juga ada di sana ikut membersihkan itu semua dari sepeda Yoona.

Seorang pria kemudian menghampiri mereka berdua. Ah, lebih tepatnya menghampiri sepedanya yang terparkir tepat di samping sepeda Yoona.

“ Jongie apa kau tahu siapa yang melakukan ini semua pada sepedaku?” Tanya Yoona dengan setumpuk bunga di tangannya pada pria di sampingnya itu. Pria di sampingnya itu lalu menolehkan wajahnya pada Yoona dengan tatapan khasnya. Dingin.

“ Tidak, aku tidak tahu.” Jawab Jongie atau Jonghyun dengan sekenanya. Pria ini memang terkenal dengan hematnya ia berbicara. Mungkin jika seseorang belum mengenalnya, orang itu akan berpikir bahwa pria ini tidak menyenangkan. Tapi bagi Yoona yang telah mengenalnya mulai dari saat sekolah dasar, Jonghyun adalah orang yang menyenangkan untuk diajak berteman.

“ Kalau kau tidak menyukainya, kau buang saja.” Ujar Jonghyun sebelum mengayuh sepedanya pergi dari Yoona dan Seohyun.

“ Ish… dia dingin sekali.” Gumam Seohyun pelan namun masih dapat didengar oleh Yoona yang ada di sampingnya.

-:-

Siang ini, seperti biasa Yoona membantu kedua orang tuanya untuk menjaga toko. Setiap pulang sekolah, Yoona memang selalu langsung menuju tokonya tanpa terlebih dahulu pulang ke rumah. Baginya membantu orangtuanya lebih cepat, akan mengurangi beban orangtuanya lebih cepat pula.

Tampak Jonghyun, yang terlihat oleh Yoona dari pintu kaca tokonya, berjalan mendekat ke arah tokonya. Dan benar saja, tak berselang waktu lama Jonghyun telah berada di dalam tokonya.

“ Ahjumma, apakah ada origami?” Tanya Jonghyun pada ibu Yoona yang berdiri tak jauh dari Yoona. Kebiasaan Jonghyun satu ini memang sudah Yoona hapal, yaitu jika ingin membeli suatu barang maka ia akan langsung menanyakannya pada Ibu Yoona tanpa mencarinya terlebih dahulu layaknya para pembeli lainnya di toko Yoona.

“ Ah, tunggu dulu ya. Akan kuambilkan.” Ujar Ibu Yoona yang setelahnya langsung beranjak pergi untuk mengambilkan sesusatu yang dingiinkan oleh Jonghyun.

“ Untuk apa?” Tanya Yoona memecah keheningan antara ia dan Jonghyun yang tercipta setelah ibunya pergi.

“ Apa aku harus memberitahukannya untukmu?” Tanya balik Jonghyun. Yoona yang mendengar hal itu kemudian mendecak kesal.

Setelah keheningan kembali datang di antara mereka berdua, seseorang pria berjalan menghampiri Yoona yang menjaga kasir. Setelah sampai di hadapan Yoona, pria itu kemudian menaruh barang – barang yang akan ia bayar. Sebungkus origami dan segulung pita pink.

“ Berapa semuanya?” Tanya pria itu, Donghae, sunbaenya yang tahun lalu lulus dari sekolahnya. Walau pun telah lulus dan kuliah, Donghae masih sering ke sekolah Yoona, entah itu untuk menjemput adiknya yang kelas 10, melatih siswa di klub judo atau pun hanya bermain dan berkumpul dengan alumni yang lain.

“ 10.000 won.” Jawab Yoona sambil membungkus barang – barang yang Donghae beli. Donghae yang mendengar hal itu lalu mengambil uang dari dalam dompetnya.

“ Ini.” Ucap Donghae seraya memberikan uangnya pada Yoona.

“ Mmm….. Yoona apa kau merasa terganggu dengan semua bunga dan pita yang terhias di sepedamu tadi saat pulang sekolah?” Tanya Donghae tiba – tiba dengan nada gugup.

“ Ne?” alis Yoona terangkat satu. Bingung. Karena sepengetahuannya, hanya ia, Seohyun, dan Jonghyun yang hanya mengetahui hal tersebut. “ Ah iya sebenarnya itu semua sedikit menganggu. E….. tapi, bagaimana sunbae bisa tahu?”

“ Mmm….. Karena….. Ah, jika kau ingin mengetahui jawaban dariku maka datanglah ke tepi sungai Han jam 5 sore ini.” Jawab Donghae dengan cepat. Setelah itu Donghae lalu membungkukkan badannya sebelum akhirnya pergi keluar dari toko milik Yoona.

Yoona memandang binggung pada punggung Donghae yang semakin lama semakin menjauh. Sedangkan Jonghyun yang juga berada di dekat Yoona hanya menatap tajam ke arah Yoona.

“ Ah Jonghyun – ie, maaf membuatmu menunggu lama. Ini origami yang kau inginkan.” Ujar Ibu Yoona sambil memberikan sebungkus origami pada Jonghyun. Jonghyun dan Yoona yang masih dengan fokus masing – masing menoleh kaget pada ibu Yoona yang tiba – tiba telah berada di samping Yoona.

“ Terimakasih ahjumma. Berapa harganya?” Tanya Jonghyun sambil bersiap merogoh saku celananya untuk mengambil dompet.

“ Ah tidak perlu. Lagipula lusa kau kan ulangtahun. Jadi anggap ini sebagai bagian dari hadiah dariku.” Tolak Ibu Yoona secara halus. Senyum ikhlas terpancar di wajah cantiknya.

“ Ah terima kasih kalau begitu. Sekali lagi terima kasih.” Ujar Jonghyun sambil membungkukkan badannya dan setelah itu pergi dari hadapan Yoona dan ibunya.

“ Hei Yoona. Berikanlah kejutan untuknya nanti. Dia kan selalu memberikan hadiah untukmu setiap kau ulangtahun.” Ujar Ibu Yoona sambil menyikut pelan tangan kanan Yoona.

“ Eh? Ne….. aku akan melakukannya.” Ucap Yoona yang sebelumnya terkejut dengan sikutan tangan ibunya yang tiba – tiba.

-:-

Jonghyun telah tiba di kamarnya beberapa menit yang lalu. Kini dirinya tengah duduk di depan meja belajarnya. Tatapannya menatap kosong barang di depannya. Sebuah map coklat.

Setelah meletakkan origaminya ke dalam laci, tangan Jonghyun beralih mengambil map coklat itu dan kemudian membukanya. Oxford University. Begitu tulisan yang terdapat pada kop kertas yang telah Jonghyun ambil dari dalam map coklat itu.

Jonghyun memang merupakan anak yang pintar. Mulai dari sekolah dasar sampai saat ini, ia selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Tak hanya tingkat sekolah, tingkat dunia pun Jonghyun mampu mendapatkan penghargaan baik bidang eksak atau pun judo. Dapat terlihat dari deretan piala – piala yang tersusun rapi di dalam lemari kaca yang berada di dalam kamarnya ini. Maka tak heran, universitas sekelas Oxford mau memberikan beasiswanya kepada Jonghyun, Lee Jonghyun.

Jonghyun menatap kertas bertulis itu dengan bimbang. Di sisi lain darinya ia ingin meneruskan sekolahnya ke sana dan di sisi lain, ia masih ingin tetap tinggal di Korea, negaranya. Untuk satu alasan yang Jonghyun sendiri tak tahu apakah alasannya ini masuk akal atau tidak.

Cinta. Satu kata itu yang membuat Jonghyun bimbang. Satu kata yang Jonghyun sendiri tidak mampu mengucapkannya pada gadis itu. Gadis yang telah lama Jonghyun suka.

“ Aish….” Ujar Jonghyun bimbang. Ia mengacak rambutnya pelan karena terlalu lama ia menatap kertas itu maka akan membuatnya semakin frustasi dan galau. Kalau sudah seperti ini, sudah saatnya bagi Jonghyun meluangkan waktunya untuk mencari ketenangan dengan berjalan – jalan di sekitar rumahnya.

-:-

Perlahan – demi perlahan sang surya bergerak ke arah barat bersiap untuk menghilang. Bias – bias sinar jingganya mulai menembus sela – sela pohon tinggi yang berjajar beratur. Menciptakan siluet indah yang tampak pada jalan di sampingnya.

Jonghyun menghabiskan waktu sorenya untuk berjalan – jalan di tepi sungai untuk sekedar menghilangkan stresnya. Sinar jingganya matahari, dirasa telah ampuh untuk menenangkan dirinya selama ini.

Langkah demi langkah Jonghyun lakukan sampai tiba – tiba ia berhenti. Ia menangkap objek yang sangat ia kenal sedang berjalan mendekat pada seseorang yang telah menunggunya di tepian yang lebih dekat dari sungai. Objek itu seperti…… Im YoonA?

-:-

Yoona terus melangkahkan kakinya. Di depannya kini sudah tampak seseorang yang telah menunggunya. Donghae.

Setelah perbincangan singkatnya saat tadi siang di toko, membuat Yona menjadi bimbang apakah ia harus pergi ke tepi sungai apa tidak. Namun rasa penasaran memenuhinya sehingga di sini sekarang ia berada. Tinggal beberapa langkah lagi dari tubuh Donghae yang membelakanginya.

“ Sunbae.” Panggil Yoona tak terlalu keras atau pun pelan namun berhasil membuat pria di depannya berbalik dan menghadapnya.

“ Ah, kau sudah datang?”

“ Sunbae…. Mmm… lalu mengapa sunbae tahu tentang bunga dan pita itu? Apa sunbae yang melakukan itu semua?” Tanya Yoona to the point. Karena memang hanya untuk menanyakan hal itu yang menjadi tujuan ia menemui Donghae saat ini.

“ Ah ternyata kau orangnya tidak sabaran ya? Tentang masalah itu…….. benar aku yang melakukannya.” Ujar Donghae sambil memalingkan wajahnya. Gugup.

“ Lalu apa alasan sunbae melakukan semua itu?” Tanya Yoona lagi kini kepalanya menunduk tak sanggup menatap Donghae.

“ Yoona.” Panggil Donghae membuat Yoona menegakkan kepalanya lagi. Di depannya, Donghae tak lagi memalingkan wajahnya melainkan kini Donghae tengah menatap intens pada wajah Yoona. “ Aku…… Kurasa aku telah jatuh cinta padamu.”

Pengakuan Donghae itu sontak membuat Yoona membelalakkan matanya terkejut. Sungguh Yoona tidak menyangka jawaban dari Donghae akan seperti itu. Namun tanpa disadari keduanya, seseorang di balik pohon besar, tak jauh dari tempat Donghae dan Yoona berada, juga tampak terkejut. Ia menatap tak percaya pada keduanya di tempat persembunyiannya ini.

“ Lalu, apakah kau mau menerima cintaku?” Tanya Donghae yang membutuhkan balasan dari Yoona.

Yoona belum mampu menjawabnya, ia lalu memalingkan wajahnya masih tak percaya.

“ Yoona?” Panggil Donghae pelan.

Seseorang di balik pohon itu kini beranjak pergi dari tempatnya masih tanpa diketahui oleh Yoona dan Donghae. Ia tampak sangat terkejut dan terlalu sakit mendengar pengakuan cinta dari seorang pria lain pada gadis yang ia cinta.

“ Oppa, jawab satu pertanyaanku dulu. Apakah kau juga yang menaruh burung – burung origami di lokerku selama lima hari belakangan ini?” Tanya Yoona tiba – tiba setelah ia memposisikan wajahnya kembali menatap Donghae.

“ Ah yang itu… ya, aku yang membuat itu semua.” Jawab Donghae. Yoona yang mendengar itu semakin menatap Donghae tak menyangka.

“ Benarkah?” Tanya Yoona lagi tak percaya.

“ Yoona jawab pertanyaanku dulu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya Donghae menghiraukan pertanyaan Yoona yang barusan.

“ Oppa….. aku….. belum bisa menjawabnya sekarang.” Jawab Yoona lirih sebelum akhirnya meninggalkan Donghae yang masih berdiri mematung.

-:-

Jonghyun sampai di rumahnya. Ia memasuki setiap ruangan rumahnya dengan jalan yang sangat cepat hingga membuat ibunya yang sedang menonton TV melihatnya dengan heran.

“ Hei, ada apa denganmu Jong?” Tanya ibu Jonghyun heran.

Bukannya menjawab pertanyaan dari sang ibu, Jonghyun malah semakin cepat berjalan ke kamarnya dan kemudian menutup pintunya dengan keras.

BRAK.

Di dalam kamarnya Jonghyun terlihat sangat kesal dan marah. Ia mengacak rambutnya frustasi sebelum akhirnya ia berjalan ke salah satu sudut kamar di mana terdapat sekotak kardus kecil.

Diangkatnya kardus itu lalu dibalik sesaat kardu berada di atas tempat sampah. Hal itu tentu saja membuat semua isi yang berada di dalam kardus jauh dan terbuang di dalam tempat sampah. Burung origami.

-:-

Cklek.

Jonghyun akhirnya membuka pintu kamarnya dan mendapati ibunya telah berdiri di depannya dengan khawatir. Keadaan Jonghyun saat ini sangat kacau dengan rambut yang berantakan dan map beasiswa di tangannya.

“ Apa kau tidak apa – apa, sayang?” Tanya Ibu Jonghyun dengan khawatir.

“ Eomma, aku putuskan untuk mengambil beasiswa ini.” Jawab Jonghyun sambil sedikit mengangkat tangan yang memegang map.

“ Ah, baiklah. Bagus kalau begitu. Lalu apa yang membuatmu sangat kacau seperti ini?” Tanya ibu Jonghyun lagi.

“ Dan juga aku ingin pindah dari sekolahku saat ini sekarang juga. Bila perlu langsung di luar negeri.” Jawab Jonghyun melanjutkan kalimat yang ia ucapkan sebelumnya.

“ Apa? Mengapa begitu mendadak?” Ibu Jonghyun melebarkan matanya terkejut.

“ Jangan tanya kenapa. Tolong bantu aku mengurus segalanya. Secepatnya!” Ujar Jonghyun tegas dan kemudian kembali masuk ke dalam kamar dan menguncinya.

“ Jonghyun…… Jonghyun……” Panggil ibu Jonghyun sambil mengetuk pintu kamar Jonghyun beberapa kali.

-:-

Hari ini hari ulang tahun Jonghyun. Di rumahnya kini tampak Yoona dan ibu Jonghyun sedang menyiapkan makanan untuk acara kejutan nanti malam.

Di dapur, mereka berdua tampak ulet dan akrab dalam menyiapkan setiap makanan yang dibutuhkan. Tampak mereka berdua seperti orangtua dan anak kandung yang sebenarnya. Hal itu tak heran mengingat sudah berapa lamanya Yoona akrab dengan keluarga Jonghyun yaitu semenjak mereka berdua berada di sekolah dasar. Mulai saat itu, Yoona sering sekali bermain ke rumah Jonghyun dan telah menganggap keluarga Jonghyun sebagai keluarga kedua untuknya.

“ Yoongie, apakah Jonghyun sedang jatuh cinta kepada seorang gadis?” Tanya Ibu Jonghyun yang tengah mengaduk adonan kue.

“ Apa? Ah kurasa tidak. Dia seperti biasanya dingin terhadap wanita sampai – sampai aku saja diperlakuakan dingin olehnya sejak kemarin.” Jawab Yoona sambil mengingat – ingat. Jonghyun memang selama ini bersikap dingin pada wanita terkecuali ibunya dan dirinya. Namun sejak kemarin, Jonghyun juga mulai bersikap dingin padanya. Membuat pengecualian itu kini hanya untuk ibu Jonghyun.

“ Oh benarkah? Tapi kurasa ia sedang jatuh cinta karena beberapa hari belakangan ini, ia selalu pulang dengan senyum manis di wajahnya.” Ujar Ibu Jonghyun sambil mengingat – ingat.

“ Oh apa ia sudah diputuskan oleh pacarnya sehingga di lusa lalu pulang dengan wajah kesal?” Tanya Ibu Jonghyun yang mengingat kejadian kemarin lusa. Kejadian di mana Jonghyun pulang dengan marah dan tiba – tiba meminta pindah sekolah ke luar negeri.

“ Benarkah Jonghyun telah punya pacar? Tapi siapa?” Gumam Yoona.

“ Ah apa kau tidak pernah melihat Jonghyun jalan dengan seorang wanita?”

Yoona hanya menggelengkan kepalanya. “ Aku rasa Jonghyun ingin menyembunyikan hubungannya dengan wanita itu secara rahasia.” Jawab Yoona.

“ Oh iya. Jonghyun mengapa jam segini belum pulang?” Tanya Yoona yang tersadar bahwa Jonghyun belum juga pulang mengingat sore sudah tiba.

“ Jonghyun saat ini sedang mengurus proses perpindahan sekolahnya. Mungkin sebentar lagi ia akan pulang.” Jawab Ibu Jonghyun sambil menuangkan adonan kue yang tadi ia aduk ke dalam loyang dan kemudian memasukkannya ke dalam oven.

“ Apa? Pindah?” Tanya Yoona kaget.

“ Kau belum diberitahu olehnya? Kemarin lusa ia pulang dengan marah dan kemudian langsung memintaku untuk secepatnya memindahkan sekolahnya ke luar negeri. Jadi kau belum tahu?” Ibu Jonghyun menatap Yoona tidak percaya karena biasanya Jonghyun lebih terbuka kepada Yoona dibandingkan dirinya, ibu kandung Jonghyun.

“ Ani.” Yoona menggelengkan kepalanya.

“Aish… dia tega sekali tidak memberitahukanku hal penting macam ini.” Ujar Yoona dengan kesal.

Ting Tong.

“ Ah kurasa orangtuaku sudah datang. Aku akan menemui mereka dulu ya.” Ujar Yoona sebelum pergi meninggalkan ibu Jonghyun di dapur.

-:-

Jonghyun telah sampai di halaman rumahnya. Rasa lelah menumpuk pada dirinya karena dari sepulang sekolah tadi, ia terus mengurus proses perpindahannya sampai larut malam seperti ini. Hasilnya? Akhirnya besok ia sudah harus berangkat ke luar negri untuk meneruskan sekolahnya.

Cklek.

Jonghyun membuka pintu rumahnya dan gelap. Semua lampu pada ruang tengah telah padam. Apa ayah dan ibunya telah tidur? Pikirnya.

“ Selamat ulang tahun.” Ujar beberapa orang dengan tiba – tiba setelah Jonghyun berhasil menyalakan lampu di ruangan itu. Di ruang itu tampak orangtua Jonghyun, orangtua Yoona, dan Yoona. Mereka tampak memakai topi ulangtahun untuk merayakan pesta ulangtahun Jonghyun.

“ Apa kau terkejut?” Tanya Yoona yang berjalan mendekat dengan membawa kue ulangtahun dengan lilin menyala di atasnya.

“ Cepat buat permohonan dan tiup lilinnya.” Ujar Yoona lagi, kali ini ia tepat berada di hadapan Jonghyun. Jonghyun masih diam dengan segala keterjutannya sampai – sampai hanya bisa mematung.

“ Jongie, cepat! Aku mulai lelah.” Ujar Yoona lagi tapi dengan volume lebih kecil.

Jonghyun akhirnya tersadar dan segera menutup matanya untuk berdoa agar harapannya terkabul. Setelah ia membuka kembali kedua matanya, ia kemudian segera meniup lilin yang ada di depannya.

-:-

Pesta ulangtahun telah selesai. Sangat sederhana namun sangat terasa hangat karena dihadiri oleh orang – orang terdekat. Ya, semua orang yang tadi ada di pestanya adalah orang – orang yang paling dekat dengan Jonghyun.

Jonghyun kini berada di kamarnya. Ia lalu melempar asal tasnya dan kemudian menyampirkan jas sekolah yang telah dilepasnya ke satu – satunya kursi yang ada di kamar itu yaitu kursi yang biasa digunakan oleh Jonghyun untuk belajar.

Tok….tok….tok….

Cklek.

Pintu kamar Jonghyun terbuka sedikit demi sedikit. Dan dari luar, Yoona memunculkan kepalanya.

“ Jongie, apa kau sudah tidur?” Tanya Yoona. Ya , Yoona memang belum kembali ke rumahnya. Disaat orangtuanya mengajak ia untuk pulang, ia memilih untuk membantu ibu Jonghyun untuk membereskan segala perlengkapan pesta tadi.

“ Bolehkah aku masuk?” Tanya Yoona lagi setelah melihat Jonghyun masih terjaga dan tengah duduk di ranjangnya.

“ Biasanya juga kau langsung masuk ke kamarku.” Jawab Jonghyun ketus. Jonghyun saat ini sedang membuka dasinya dan setelah terlepas, ia lalu melemparkannya ke kursi.

“ Hei.” Sapa Yoona canggung tidak seperti biasanya. Ia kini duduk di kursi belajar Jonghyun setelah tadi ia sempat membenarkan letak jas dan dasi Jonghyun yang ada di kursi itu.

“ Kau aneh sekali. Ada apa?” Ujar Jonghyun pada Yoona.

“ Mmm……. Mengapa kau tidak bilang kalau kau mau pindah ke luar negeri?” Tanya Yoona memulai pembicaraan.

“ Haruskah aku?” Tanya Jonghyun yang mulai mengambil posisi tiduran di kasurnya dengan badan dan wajah yang di posisikan miring agar dapat menatap Yoona.

“ Ya tidak juga sih. Tapi aku kan sahabatmu jadi ya setidaknya kau memberi tahuku terlebih dahulu. Apa kau bermaksud untuk meninggalkanku tanpa mengucapkan selamat tingal untukku?” Ujar Yoona yang tampak kesal. Jonghyun yang melihat itu semua hanya menampakkan wajah datarnya.

“ Kalau kau sahabatku, ayo cepat berbaring di sampingku dan tidur bersamaku. Bukankah kau dulu selalu melakukan hal itu saat kau menganggapku sahabat mainmu.” Ujar Jonghyun sambil menggeser letak tidurnya dan menepuk kasurnya. Wajah Jonghyun tampak menahan tawanya saat melihat Yoona menatapnya tidak percaya.

“ Kau sudah gila, Lee Jonghyun.” Gumam Yoona yang menatapnya kesal.

“ Aku bercanda.”

Kemudian suasana menjadi sepi tapa seorang pun mengeluarkan suaranya. Keduanya hanya saling menatap sambil sesekali menggerakkan anggota badan mereka dengan tak berarti.

“ Jongie.” Panggil Yoona dengan pelan.

“ Hmm?”

“ Apa kau sudah punya kekasih? Tadi sore ibumu bertanya kepadaku.” Tanya Yoona yang sebelumnya memalingkan wajah dan memutar tubuhnya menghadap meja belajar Jonghyun.

“ Tidak. Aku belum punya. Lalu bagaimana denganmu dengan Donghae hyung?” Pertanyaan Jonghyun itu membuat Yoona kembali menghadap dirinya.

“ Bagaimana kau tahu? Aku dan Donghae sunbae?” Tanya Yoona seraya menatap Jonghyun dengan terkejut.

“ Memangnya ada apa antara kalian berdua? Apa kau berpacaran dengan Donghae hyung? Ah padahal aku tadi hanya menebaknya saja karena kalian berdua sepertinya terlihat sangat cocok.” Tanya Jonghyun dengan maksud menyindir.

“ Maafkan aku tidak memberi tahumu bahwa aku tahu tentang kejadian Sungai Han waktu itu.” Ucap Jonghyun dalam hatinya.

“ Ah belum. Mungkin juga tidak akan. Aku tidak ada hubungan apa- apa dengannya.” Jawab Yoona yang kembali memutar badannya menghadap meja belajar.

Ya. Satu hari setelah pernyataan cinta waktu itu, Yoona akhirnya tahu bahwa Donghae bukanlah penggemar rahasianya. Penggemar yang selalu membuatkan burung origami untuknya. Mengapa? Itu semua berkat Seohyun. Karena setelah Yoona menceritakan semua kejadian yang dialaminya, Seohyun yang tidak percaya langsung manghampiri Donghae untuk meminta pembuktian. Dan hasilnya? Benar bahwa bukan Donghae, karena Donghae sama sekali tidak bisa melipat kertas origami yang diberikan oleh Seohyun menjadi bentuk burung. Pada waktu itu juga, Yoona menolak pernyataan cinta Donghae karena Donghae telah menipunya, hanya karena burung origami.

“ Benarkah?” Tanya Jonghyun yang tak percaya.

“ Ah sudah malam. Sebaiknya aku harus segera pulang. Oh iya kau akan berangkat kapan?” Tanya Yoona setelah melihat jam di meja belajar Jonghyun.

“ Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ujar Jonghyun yang menatap Yoona dengan tajam.

“ Bukankah aku sudah bilang tidak.” Ujar Yoona yang ikut kesal karena Jonghyun terus mengulang pertanyaan yang sama.

“ Baiklah anggap aku mempercayaimu.” Ucap Jonghyun yang kemudian membalikkan badannya membelakangi Yoona. “ Oh iya, aku akan berangkat besok.”

“ Terserah kau saja, Lee Jonghyun.” Yoona kemudian bangkit dari duduknya dan menatap punggung Jonghyun yang memunggunginya.

“ Selamat tinggal, Lee Jonghyun. Ini ucapan selamat tinggal dariku. Jaga dirimu baik – baik ya karena aku yakin hidup di negara orang jauh lebih sulit daripada hidup di negara sendiri.” Ucap Yoona yang kemudian berbalik bersiap untuk ke luar dari kamar Jonghyun.

“ Yoona.” Entah sejak kapan Jonghyun berdiri tepat di belakang Yoona dan menahan kedua pundak Yoona dengan kedua tangannya.

Jonghyun kemudian membalik badan Yoona sehingga menghadapnya. Jarak mereka kini sangat dekat hingga hembusan napas Jonghyun dapat dirasakan oleh Yoona. Jonghyun terus mengurangi jarak di antara keduanya. Wajah Jonghyun terus mendekat dan semakin mendekat pada wajah Yoona.

CHU.

Bibir Jonghyun berhasil menempel dengan pasti pada bibir Yoona. Keduanya hanya diam tanpa menggerakkan bibir satu sama lain. Yoona tampak membelalakkan kedua matanya terkejut dengan ciuman yang tiba – tiba ini sedangkan Jonghyun menutup kedua matanya menikmati ciuman pertamanya ini. Ciuman ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya Jonghyun sendiri yang melepasakan ciumannya.

“ Lebih baik aku hidup di negeri orang jika hidup di negeri sendiri membuatku sakit.” Ujat Jonghyun pelan setelah ciuman itu. Kedua matanya menatap tajam pada mata Yoona yang tampak masih sangat terkejut.

-:-

Yoona kemudian menaruh kembali semua burung – burung origami itu kembali ke tempat asalnya, laci meja belajar Yoona. Entah mengapa saat tadi ia bertemu dengan Donghae di kantor tadi pagi, membuatnya mengingat kenangan masa SMAnya.

Setelah menutup rapat lacinya. Tangan Yoona beralih untuk menekan tombol off paada lampu meja belajar dan kemudian beranjak menuju tempat tidur untuk memulai tidurnya.

-:-

“ Eomma aku berangkat.” Ujar Yoona sambil berjalan menuju pintu depan rumahnya dan betapa terkejutnya ia saat ia buka, terasnya sudah dipenuhi dengan burung – burung origami yang jumlahnya lebih dari yang ia punya.

“ Eomma, siapa yang membuang semua burung origami ini di teras kita?” Tanya Yoona lebih keras mengingat ibunya berada jauh di dalam rumah. Sampai beberapa saat tidak ada jawaban dari ibunya, Yoona kini berjongkok dan mulai memunguti burung – burung origami itu.

TUK.

Satu lagi burung origami jatuh tepat mengenai kepala Yoona. Yoona yang menyadari itu, lalu kemudian mengamati sekitarnya. Sepi. Lalu dari mana burung – burung ini berasal.

Tak lama setelah Yoona kembali berdiri, satu lagi burung origami jatuh di terasnya. Dan Yoona berhasil menangkap dari mana burung itu berasal. Burung origami itu tampak dilempar dengan sengaja dari rumah di sebelahnya yaitu rumah….. Jonghyun?

“ Tapi bukankah orangtua Jonghyun telah pindah ke Jepang setahun yang lalu?” Batinnya. Kemudian karena penasaran Yoona keluar dari halamannya dan mencoba untuk mengecek keadaan halaman rumah Jonghyun.

“ Jonghyun? Lee Jonghyun?” Seru Yoona setelah terkejut melihat seorang pria tampak sedang berjongkok dan melipat origami menjadi bentuk burung.

Dan pria yang sedang melipat itu kemudian memalingkan wajahnya dari origami dan kini pandangan pria itu dan Yoona bertemu.

“ Lee Jonghyun?” Tanya Yoona lagi.

“ Ah aku keahuan.” Ujar Jonghyun sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.

Senyum manis langsung mengembang di wajah keduanya. Senyuman kerinduan.

“ Jonghyun pabo! Kenapa kau tidak memberitahuku dari dulu? Mengapa kau membuatku sampai menunggu selama ini untuk mengetahui siapa sebenarnya penggemar rahasiaku?” Gumam Yoona kesal. Matanya berkaca- kaca karena bahagia.

Jonghyun yang mendengar gumaman Yoona kemudian berdiri dan berjalan mendekat pada Yoona.

“ Maafkan aku, ne?” Ujar Jonghyun setelah berhasil mendekat dan mendekap Yoona dalam pelukannya. Tangan kanannya kini beralih pada puncak kepala Yoona dan perlahan mengelusnya penuh kasih sayang.

“ Berani – beraninya kau memelukku. Memang kau tahu apakah aku masih sendiri atau tidak?” Tanya Yoona. Kini airmatanya berhasil menetes karena terlalu bahagia.

Jonghyun yang mendengar pertanyaan Yoona itu kemudian melonggarkan pelukannya.

“ Kau masih memikirkan penggemar rahasiamu itu kan sampai sekarang? Makanya kau masih tetap sendiri.” Jawab Jonghyun sambil menunjukkan senyum termanisnya. Tangan Jonghyun bergerak untuk menghapus airmata Yoona dari wajah cantiknya.

“ Kau sok tahu.”

“ Aku benar kan? Aku telah mendengar semua cerita tentangmu dari Seohyun saat tadi pagi di bandara jadi kau tidak bisa berbohong padaku. Oh ya aku tidak menyangka ternyata gadis pendiam seperti Seohyun bisa menjadi artis tenar seperti sekarang sampai – sampai fansnya ramai menunggunya.” Ujar Jonghyun sambil kembali mempererat pelukannya pada Yoona.

“ Segalanya telah banyak yang berubah sejak kau pergi beberapa tahun lalu, Jongie.” Ujar Yoona pelan.

“ Ah kurasa kau benar banyak yang telah berubah. Bahkan lihat dirimu. Yoonaku yang dulu kini bertambah cantik.” Puji Jonghyun dan pernyataanya itu membuat Yoona mencubit lengan berotot milik Jonghyun. “ Ah, sakit tahu.”

“ Siapa suruh kau genit?”

“ Baiklah….. baiklah.” Jawab Jonghyun sambil terus memeluk Yoona erat. Senyuman di wajahnya tidak juga pudar karena terlalu bahagia. Akhirnya ia bisa melakukan ini semua pada gadis yang telah lama ia cinta.

“Yoong, maafkan aku karena perpisahan kita terdahulu aku telah salah paham padamu.” Ujar Jonghyun setelah beberapa saat di antara mereka berdua tidak ada yang berbicara.

Yoona yang berada di dalam pelukannya, hanya mengangguk – anggukan kepalanya. “ Ne, asal kau selalu di sisiku. Aku akan memaafkanmu.”

FIN

Please Tinggalkan jejak.

Komentar, kritik, dan sarannya saya tunggu.

 

 

8 thoughts on “BIRD

  1. aaaa suka sukaaaa.. perpisahan mereka buat aku sedih tapi untung mereka dipertemukan kembali.. sempet dongkol sama donghae yang udah ngaku” buat origami itu >< tapi kereeennn jjong disini terlalu dingin sih ya jadi ngga ada yg tahu gimana perasaan jonghyun..

  2. Akhirnya mreka bahagiaaa .. tp smpet bnngung sihh saat yooona nemu burung origami d depan pntu rumahnya . Ak kita ituk k esokan harinya gaa taauuny bwberapa tahun kmudian . Mngkin sharusnya ad tulisan “beberapa tahun kemudian” biar pmbacanya gaa bngung . Itu sih mnurut ak thor .. ☺

  3. sukaaa… tapi ada beberapa bagian yang bikin sedikit bingung.. kayak kurang gitu keterangannya
    terus endingnya.. kok aku berasa gantung ya?? apa mungkin karena aku mau ada sequelnya?? #modus :p

    akhirnya ada juga yang ngepost ff deerburning. Tapi aku berasa pernah baca ini ff. atau mungkin ini pernah di publish di ff pribadi authornya?? aku juga ngerasa pernah ngomen dulu #sok tau :p

    apapun itu aku seneng bacanya..😄
    keep writing and fighting buat authornya.. aku tunggu karyamu yang lain^^
    gomawo udah bikin ff sebagus ini😄

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s