Boundary

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Genre : AU, angst, romance

Length : Oneshot

Main casts : CNBLUE Lee Jong Hyun and Jung Ji Hyun [OC]

Other casts : CNBLUE Jung Yong Hwa, Lee In Jung [OC]

Disclaimer :: Except the storyline and OCs, I don’t own anything.

Note : FF ini ditulis karena inspirasi dari banyak bacaan dan lagu, jadi jika ada kesamaan atau sejenisnya, mungkin kebetulan. Sudut pandang (POV) bergantian antara Ji Hyun dan author (tidak ditandai, tapi bedanya kelihatan, kok). And… it’s my first time trying to write in angst. Ending antiklimaks dan terlalu banyak drama, haha *jangan mual!* Mungkin ada typo(s) juga entah di mana. Kritik dan saran akan selalu ditunggu. Happy reading and thanks!

N.B : published too in my own blog.

~Boundary~

 

You heartless person

This night tries to take all of me, you childish person

Tonight, tomorrow night, and the night after that too

I’ll wait forever

=IU – My Old Story=

Hampir tengah hari. Aku duduk di hadapan cermin rias berlampu banyak. Dua wanita kurus mengelilingiku dengan alat-alat rias di tangan sejak setengah jam lalu, sibuk bergantian memulaskan ini-itu di seluruh wajahku, mengutak-atik rambutku. Mereka bicara, tapi bagi otakku, kata-kata mereka tumpang tindih satu sama lain, terlalu memusingkan untuk dipahami, jadi kuputuskan berfokus pada detak jam.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Mereka melakukan apa yang mereka inginkan tanpa repot-repot bertanya apa yang kuinginkan, atau bagaimana pendapatku, dan kalaupun mereka bertanya, jawabanku tidak akan diperhitungkan. Karena menurut mereka, pikiranku ‘tidak seimbang’.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Mereka tidak mengerti. Pikiranku mungkin kacau, tapi aku sadar sepenuhnya. Aku bisa saja berjalan-jalan keluar, bertemu orang-orang, dan bekerja kalau aku mau. Hanya saja, aku tidak punya alasan untuk melakukannya.

***

Hujan memukul-mukul permukaan payung plastik bening yang menaungi Jung Ji Hyun. Gemerisiknya membuat gadis itu berhenti sejenak di dekat gerbang besar universitas, lalu mendongak menatap butir-butir air yang tersebar dengan pola acak di payungnya. Sudut-sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Sial, hari ini hujan lagi. Boleh menumpang?”

Suara itu menyentakkan Ji Hyun dari lamunannya. Ia menoleh ke sebelah kanannya. Mendadak saja laki-laki tinggi itu sudah berada di sisinya, berdiri merapat padanya dengan sedikit membungkuk di bawah payung yang sama demi berlindung dari tampias air hujan.

Laki-laki itu tersenyum simpul. “Boleh, kan? Hanya sampai halte bus.”

Sejenak Ji Hyun hanya terpana seperti orang bodoh, sebelum akhirnya mengangguk kecil dan balas tersenyum. “Tentu saja. Aku juga mau ke sana.”

“Omong-omong, namaku Lee Jong Hyun, dari fakultas seni,” laki-laki itu memperkenalkan diri. “Kau?”

“Jung Ji Hyun. Fakultas ilmu bahasa.”

“Ah, pantas saja aku sering melihatmu. Gedung perkuliahan kita berdekatan.”

Mereka tiba di halte semenit kemudian. Saat Ji Hyun menutup payungnya, Jong Hyun mendadak berkata riang, “Hei, boleh aku minta nomor ponselmu? Supaya kalau besok hujan, aku bisa mencarimu.”

Ji Hyun mengerjap-ngerjap.

“Untuk menumpang payung lagi, kalau kau tidak keberatan.”

Lima detik lengang.

Jong Hyun menyulam sepasang lesung pipi dengan cengirannya. “Kenapa? Tidak boleh, ya?”

Ji Hyun buru-buru menarik wajahnya. Berdeham. Bibirnya tidak bisa tidak tersenyum melihat mata laki-laki itu yang berbinar seolah berkata kau-tidak-mungkin-bilang-tidak-padaku.

***

Tepukan ringan di bahuku menginterupsi kegiatanku menyimak detak jam. Aku bertanya-tanya dalam hati sudah berapa menit berlalu. Mungkin cukup lama.

Salah satu dari dua wanita itu muncul dari balik pintu—aku tidak menyadari kapan dia meninggalkan ruangan—dan membawa sebuah gaun yang tergantung pada hanger dan terbungkus plastik. Gaun selutut berwarna merah muda pucat dengan bahu terbuka. Pita besar dengan taburan manik-manik kristal mengelilingi bagian pinggangnya. “Ini gaunmu. Ayo, dipakai.”

Aku membiarkan mereka membantuku memakai gaun itu walaupun aku merasa bisa melakukannya sendiri. Gaun itu pas sekali. Aku tidak suka warnanya, tapi tidak berkata apa-apa.

“Cantik sekali,” desah wanita nomor dua. “Apa kau suka?”

Demi sopan santun, aku mengangguk.

***

“Tunggu sebentar di sini, kuambilkan kausnya.” Ji Hyun menyuruh Jong Hyun masuk ke ruang tamu rumahnya, lalu berlari kecil ke dalam. Di tengah jalan tadi mendadak turun hujan. Hari itu Jong Hyun mengantarnya pulang dari universitas dengan motor, tentu saja titel gadis payung tidak bekerja dalam situasi itu. Jadi ia menawarkan pakaian ganti sebelum Jong Hyun pulang.

Jong Hyun berdiri di ruang tamu mungil itu, memerhatikan seluruh ruangan. Matanya tertumbuk pada sebingkai besar foto empat anggota keluarga memakai pakaian formal yang dipajang di atas sofa hitam.

“Ini.” Ji Hyun kembali dengan handuk putih kecil dan kaus hitam yang dilipat rapi di tangan. Gadis itu juga sudah berganti pakaian.

Jong Hyun menerimanya, lalu menunjuk foto itu. “Keluargamu?”

“Bukan, tetangga,” celetuk Ji Hyun, menyengir. “Tentu saja. Kaupikir siapa lagi?” Lalu tanpa diminta, ia menunjuk satu persatu orang di dalam foto. “Itu ayah dan ibuku. Itu kakak laki-lakiku. Kalau yang itu jelas aku. Cantik, kan?”

Jong Hyun mengangguk bodoh, mengiyakan. Ji Hyun tertawa pelan melihatnya, dan sekejap ia ikut tertawa. “Tapi, kenapa sepi sekali di sini?” tanyanya kemudian.

“Memang biasanya begini. Ibuku pergi, biasanya pulang agak malam. Ayahku juga pergi, seringnya pulang setelah ibuku. Kalau kakakku itu semacam Cinderella, tidak pulang sebelum jam 12 malam. Seru, kan? Aku bisa mengadakan konserku sendiri dan tidak ada yang tahu.”

Jong Hyun menatapnya, bingung.

“Intinya kami mengurus diri masing-masing. Begitulah.” Ji Hyun memutuskan mengganti topik pembicaraan, “Bagaimana denganmu? Kau punya kakak?”

“Ada satu, kakak perempuan. Sekarang dia tinggal di Manhattan.”

“Kau beruntung sekali. Aku selalu ingin punya kakak perempuan.”

Jong Hyun memutar bola matanya. “Kalian para perempuan kecanduan ikatan persaudaraan atau apa? Kakakku dulu sering bilang dia ingin punya adik perempuan.”

Ji Hyun bercanda memukul lengannya. “Karena kalian para laki-laki sering bertingkah menyebalkan sebagai saudara.”

“Aku tidak.”

Ji Hyun mencibir. “Bagaimana dengan orangtuamu?”

“Sudah bercerai.”

Sontak wajah gadis itu berubah, merasa bersalah. “Oh. Maaf.”

“Tidak apa-apa.” Jong Hyun mengangkat bahu. “Sudah lama terjadi. Setelah itu ayahku pindah ke Busan, dan ibuku di Seoul. Sebenarnya karena itulah kakakku bekerja di luar negeri, agar tidak perlu memilih.”

“Kau… eh, kalau begitu, bagaimana denganmu?”

Jong Hyun menatap gadis itu dengan cengir lesung pipi khasnya. “Tergantung. Kalau sekarang, aku di sini. Denganmu.”

Ji Hyun tidak salah saat mendengar keseriusan dalam candaan laki-laki itu.

***

Ibu masuk ke ruangan kami beberapa saat setelah mereka selesai mengepas gaun itu.

“Oh, kau cantik sekali.” Ibu langsung menghampiriku dengan seulas senyum lebar yang jarang sekali di wajahnya dan memutar tubuhku menghadap cermin rias. Aku mencari sosok yang Ibu bilang ‘cantik’. Tidak ada. Itu hanya aku dengan riasan wajah, rambut bergelombang, dan gaun merah muda pucat. Tapi sama sekali tidak cantik.

“Tersenyumlah,” Ibuku berbisik di dekat telingaku.

Aku tidak mau. Tapi demi melihat wajah cerah Ibu, aku mengalah. Baiklah, hanya senyum. Sudut-sudut bibirku terasa berkedut-kedut saat aku menggerakkannya.

Ibu meremas bahuku, puas. “Nah, begitu, Sayang. Yong Hwa ada di depan. Ayo, kita keluar.”

***

Ya, pegang kursinya dengan benar. Kalau aku jatuh menimpamu, kau pasti mati sesak napas.”

Jong Hyun mendengus sebal. “Aku sudah memegangnya dengan benar, Bibi.”

“Kursinya bergoyang-goyang.”

“Itu karena kau tidak bisa diam.”

“Mana ada orang yang mencari buku sambil diam-diaman?” Ji Hyun nyaris akan meninggikan suaranya kalau tidak ingat; pengawas perpustakaan ini galak.

Jong Hyun mendengus. Setengah menit berikutnya, ia bertanya untuk yang ke sekian kali, “Sudah ketemu, belum?”

Assa…” Ji Hyun menarik sebuah buku tebal hardcover sambil tersenyum puas. Jong Hyun hanya melirik sekilas judulnya yang tercetak dalam bahasa Inggris. Sesuatu tentang pengajaran bahasa kedua apalah.

“Seharusnya kaubiarkan aku yang mencarinya, pasti lebih cepat,” gerutu Jong Hyun. “Aku curiga kau sengaja berlama-lama untuk membuat punggungku pegal.”

Ji Hyun hati-hati menekuk lutut dan membungkuk, menurunkan satu-satu kakinya dari kursi tinggi, lalu duduk di tempat pijakannya tadi itu. Ia menatap Jong Hyun dengan wajah terimut. Kedua kakinya diayun maju-mundur sementara ia duduk. “Bukankah kau suka berdua denganku lama-lama?”

“Cih,” Jong Hyun berdecak, tapi gadis itu sudah mengacuhkannya dengan halaman buku. Mendadak di benaknya muncul ide iseng. Tanpa aba-aba, ia mendaratkan bibirnya, cup ringan di pipi Ji Hyun.

“Maaf, tidak sengaja,” Jong Hyun berkelit sebelum Ji Hyun membuka mulut untuk protes.

Ji Hyun mendelik galak untuk memeringatinya, tapi saat ia mengalihkan wajah kembali pada bukunya, Jong Hyun mengecupnya lagi, persis di tempat yang sama.

Jong Hyun menyengir melihat wajah bersemu Ji Hyun—entah gadis itu malu atau kesal. “Kalau yang itu sengaja,” katanya.

“Kau—”

Well, coba dengar ini, Gadis Payung,” Jong Hyun menyela santai. “Kalau aku mengajakmu makan pizza jam 8 besok malam, kira-kira kau mau tidak?”

“Kau tidak suka makanan barat,” balas Ji Hyun.

“Memang, tapi aku suka berdua denganmu lama-lama.”

Jong Hyun tersenyum penuh percaya diri, seakan yakin tidak akan ditolak. Dan Ji Hyun tertawa kecil tanpa bisa ditahan. “Oke. Kau yang bayar, kan?”

***

Aku tidak terlalu akrab dengan kakakku sejak kecil. Kupikir dia bahkan tidak menyukaiku, sama seperti aku juga tidak merasa menyayanginya. Maka saat dia melihatku dan melangkah mendekat, aku refleks mundur ketakutan.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Ibu menahan punggungku dengan satu tangannya. “Itu Yong Hwa-ya, oppa-mu.”

Aku meneguk ludah. Tentu saja aku tahu, tapi itu tidak membuat rasa takutku berkurang. Yong Hwa menatapku sejenak, lalu ragu-ragu mengulurkan sepasang tangannya. Aku menahan napas. Jantungku berdebar-debar. Telapak Ibu di punggungku membuatku memaksa diri diam di tempat. Akhirnya dia berhasil memelukku kaku.

“Bagaimana keadaanmu hari ini?” Yong Hwa bertanya setelah melepas pelukan singkat kami.

Beberapa saat aku hanya diam dan menunduk memerhatikan ke sepuluh jariku yang saling bertaut.

Yong Hwa sepertinya memahami keenggananku dan tidak menunggu jawaban lagi. Lalu ia beralih pada Ibu dan berkata, “Apakah dia sudah makan?”

“Dia hanya menyentuh roti yang Eomma siapkan tadi pagi, tapi meletakkannya kembali tanpa memakannya. Eomma tidak berani memaksanya, takut tiba-tiba dia marah.” Aku melihat lirikan sekejap Ibu yang ditujukan padaku.

Yong Hwa menarik napas dalam dan menghelanya pelan. “Tapi dia baik-baik saja, kan?”

Ibu mengangguk. “Sikapnya tenang sejak tadi, walaupun tetap tidak banyak bicara.”

“Kalau begitu, kurasa tidak apa-apa. Berharap saja dia akan tetap tenang selama sisa hari ini.” Yong Hwa kembali menatapku, lalu tersenyum seolah ia melihatku sebagai anak kecil yang menarik-narik lengan bajunya saat melihat mainan. “Kita pergi sekarang, ya?” tanyanya. “In Jung menunggu kita di mobil.”

***

“Oh, Ji Hyun-i sudah pulang.” Ibunya tersenyum lebar saat Ji Hyun, dengan tampang bingung, masuk ke ruang tamu sore itu. “Kesini, Sayang. Kenalkan, ini Lee In Jung, temannya Yong Hwa.”

Ji Hyun lebih terkejut dengan fakta ayah, ibu, dan Jung Yong Hwa ada di rumah saat masih tengah hari daripada kehadiran gadis cantik itu.

Malas berbasa-basi, ia hanya tersenyum kecil dan memberi salam. In Jung membalasnya ramah. Lalu ia berkata, “Silakan mengobrol, aku ke dalam dulu,” dan langsung mengundurkan diri ke kamarnya sebelum salah satu dari mereka mengajaknya bergabung.

Sekitar satu jam kemudian, pintu kamarnya diketuk tiga kali, disusul suara Yong Hwa dari depan sana, “Ya, Jung Ji Hyun, kau tidur?”

Tadinya Ji Hyun memang berencana pura-pura tidur, tapi suara itu mengejutkannya. Tidak biasanya kakaknya itu mencarinya. Ia melompat dari tempat tidurnya, memasang wajah mengantuk, dan membuka pintunya sedikit, “Apa?”

Yong Hwa santai mendorong pintu dan melenggang masuk. Setelan rapi yang seingat Ji Hyun dipakainya tadi sudah diganti kaus dan celana panjang. “Sekarang masih sore, kenapa tidur?”

Ji Hyun mengabaikannya. “Kenapa? Kau mau pamer pacar baru?”

“Hmm… ya. Tapi sebenarnya dia tidak baru. Kami sudah jalan dua tahun. Aku mengenalnya saat pertemuan bisnis di Amerika dulu.”

“Oh.” Ji Hyun merespon datar, tidak tertarik. “Kalau tidak ada yang kau perlukan, keluarlah, aku lelah.”

“Aku berencana menikah dengannya.”

Ji Hyun tersandung kaki tempat tidurnya saat berbalik dan menjerit, membuat Yong Hwa berjengit kaget. “Ya Tuhan, kau sudah umur berapa? Jalan saja bermasalah,” gerutunya.

Ji Hyun duduk di tepi tempat tidur dan mengusap-usap tulang keringnya yang berdenyut sambil meringis. Bukannya tanya keadaan kakinya, malah menyindir. Kakak macam apa ini. “Menikah? Kau?”

Yong Hwa mengangguk mantap seolah tidak menyadari kesan skeptis dalam suara Ji Hyun. “In Jung gadis yang baik. Abeoji dan eomma menyukainya.”

“Tentu saja. Siapa pun yang bisa membuatmu dan orangtua kita duduk bersama pasti luar biasa.”

Yong Hwa tersenyum menatap Ji Hyun, sengaja mengabaikan kesinisan dalam suara adiknya. “Kau juga akan menyukainya. Dia selalu ingin punya adik perempuan.”

“Bagaimana, ya? Sejauh ini aku tidak pernah bilang tidak menyukai gadis yang kaukenalkan. Tapi akhirnya hubunganmu berakhir juga.”

“Kali ini berbeda,” Yong Hwa berkata, setengah merenung. “In Jung berbeda.”

Ji Hyun mengangkat bahu acuh. “Nah, kau sudah selesai? Sekarang keluarlah.”

“Omong-omong, kudengar beberapa bulan ini kau pulang kuliah diantar laki-laki,” Yong Hwa mengganti pembicaraan. “Kenapa hari ini tidak?”

“Dia harus pulang ke rumah ibunya.”

Yong Hwa mengerutkan alis, memasang tampang bingung terjelek. “Rumah ibunya?”

“Itu—sudahlah, kau tidak mengerti.” Ji Hyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Yong Hwa mengangguk-angguk. “Besok hari Minggu. Kau pasti tidak keluar, kan? Kuliahmu libur dan pacar antah-berantahmu itu sibuk.”

Ji Hyun menguap lebar-lebar, sengaja agar Yong Hwa cepat pergi. “Dia bukan pacarku.”

Yong Hwa tidak menanggapinya. “Kau mau ikut makan siang denganku dan In Jung besok?”

No.”

“Ayolah, kau juga tidak punya kerjaan. Kami akan makan di restoran Italia.”

Pilihannya adalah tempat tidur dan pasta. Ji Hyun berpikir sebentar. Makan siang itu pasti membosankan, tapi setidaknya Yong Hwa yang membayar. Dan karena ia ingin Ji Hyun menyukai calon kakak iparnya, Yong Hwa harus bersikap baik padanya. Asyik. “Baiklah.”

Langit siang berikutnya cerah. Sudah penghujung musim panas, suhu mulai dingin. Setelah beberapa hari terus turun hujan, hari ini cuaca hangat bersahabat. Sempurna. Yong Hwa sudah membuat reservasi di restoran untuk empat orang.

“Teman untukmu, jadi kau tidak merasa diabaikan,” begitu kata Yong Hwa saat Ji Hyun bertanya untuk siapa tempat yang satu lagi.

Tepat lima belas menit kemudian, Lee In Jung datang dengan gaun sederhana tanpa lengan berwarna pastel yang pas di tubuh sintalnya, masih tersenyum semanis kemarin, tapi ia tidak sendirian.

In Jung datang bersama Jong Hyun. Adik laki-lakinya.

***

“Kau cantik sekali, Ji Hyun-ah.” In Jung tersenyum hangat saat melihatku. Aku hanya menatapnya sekilas sebelum masuk ke dalam mobil.

Yong Hwa duduk di balik kemudi. Entah kenapa In Jung yang tadinya duduk di kursi penumpang depan memutuskan pindah ke belakang untuk duduk di sebelahku dan membiarkan ibu duduk di tempatnya tadi.

“Undangan pernikahanmu sudah jadi,” In Jung membuka pembicaraan setelah sekian ratus meter dan mengulurkan sebuah amplop tipis berwarna gading padaku.

Aku tidak tertarik, kembali melempar pandangan ke luar jendela. Aku menyadari Yong Hwa dan ibu melirikku lewat kaca spion dalam, tapi aku mengabaikannya.

“Oh ya, aku sudah lihat gaun pengantinmu,” In Jung berkata lagi. “Sangat indah. Lebih indah dari yang kupakai di pernikahanku tahun lalu. Apa kau memilihnya sendiri?”

Tidak ada detak jam untuk disimak, jadi aku memusatkan perhatian pada jalan raya yang ramai. Matahari siang giat membakar aspal. Pantulan sinar dari badan-badan mobil membuatku ikut merasa panas meski pendingin udara sudah dipasang pada suhu terendah.

***

“Apa yang harus kita lakukan?”

Di sepanjang koridor lantai empat gedung fakultas bahasa yang jarang dikunjungi, hanya ada dua orang saat itu. Sama-sama menatap langit mendung dari tembok pembatas. Berdiri terpisah sekian meter, tapi masih dalam jangkauan pendengaran meski angin bertiup kencang.

“Apa yang harus kita lakukan?”

Setengah jam telah berlalu sejak mereka bertemu di sini. Jong Hyun sudah bertanya enam kali. Ji Hyun tidak sekali pun menjawab, karena ia juga tidak tahu mau menjawab apa. Semua kata terasa salah.

“Apa yang harus kita lakukan, Ji?”

“Entahlah,” Ji Hyun akhirnya berkata pelan. “Memangnya kita harus melakukan apa?”

“Apakah kau tidak—kita…” Jong Hyun mendengus menghentikan kalimatnya. Emosinya yang seminggu ini terbalik-balik berusaha mengerti sudah tidak tahan lagi. Tidak, ia bukan minta penjelasan. Pertemuan Minggu siang lalu sudah sangat jelas. Jong Hyun hanya tidak paham dengan kebetulan sialan ini—kenapa Ji Hyun? Kenapa di antara tujuh miliar penduduk dunia, In Jung bisa-bisanya mengenal kakak Ji Hyun?

“Hubungan kakakmu dan kakakku tidak akan mengubah apa pun. Kita akan baik-baik saja, seperti biasa.”

Jong Hyun tertawa sinis, tapi suaranya terdengar aneh. “Tidak ada yang akan baik-baik saja, Ji. Tidak ada.”

Ji Hyun menarik napas berat. Ia membetulkan letak tali tas yang menggantung di bahunya. “Aku harus pergi sekarang.”

Jong Hyun bergeming. Tapi saat Ji Hyun melewati punggungnya menuju tangga, ia bergumam—meski pelan, sukses menghentikan langkah gadis itu seketika, “Aku menyukaimu.”

Jika Jong Hyun sedang menatap Ji Hyun, ia bisa melihat sepasang pupil mata gadis itu melebar karena terkejut.

“Apa kau juga menyukaiku?”

Senyap. Suara keramaian di bawah terasa semakin jauh.

“Apa kau menyukaiku?” Jong Hyun tidak tahu apa tujuannya menanyakan hal ini. Ia hanya merasa perlu bertanya, meski apa pun jawaban Ji Hyun tidak akan membuat keadaan ini—keadaannya—jadi lebih sederhana.

Ji Hyun mencengkeram tali tasnya lebih kuat, memantapkan hatinya dengan satu tarikan napas. “Aku tidak punya jawaban yang kauinginkan.”

***

Sekian ratus meter berikutnya, In Jung kembali bicara, kali ini bukan padaku. “Masih ada beberapa jam sampai acara nanti malam. Yong Hwa-ya, boleh aku mengajak Ji Hyun pergi ke suatu tempat dulu?”

Yong Hwa mengalihkan perhatian dari jalan raya pada kaca spion dalam, menatap In Jung. “Ke mana?”

Kali ini aku ikut menoleh menatapnya, juga melontarkan pertanyaan yang sama—dalam hati.

In Jung menatapku, tersenyum sendu. “Kau mau pergi denganku? Sebentar saja. Ada seseorang yang ingin kutemui, dan kurasa, dia ingin bertemu denganmu juga.”

Hampir semenit berlalu hanya diisi dengkur mesin mobil. Lalu kusadari In Jung—dan yang lain—masih menunggu jawabanku. Melawan keinginan hati, aku mengangguk.

***

Ji Hyun berdiri kaku dan sedikit mendongakkan kepala. Ini sore kesekian yang dihiasi rinai hujan. Tiap butirnya lagi-lagi memaksa kenangan berkelebat tak tertahankan.

Ia menarik napas dalam. Tidak apa-apa, suatu saat ia akan terbiasa.

Ia akan baik-baik saja pada akhirnya.

Ji Hyun mengusap wajahnya yang basah. Sisa-sisa air menggelayut di ujung-ujung rambutnya setelah ia berlari-lari ke halte tadi. Bagian bahu jaketnya lembab. Payung plastik yang biasa ia bawa dipinjam temannya. Ji Hyun membiarkannya membawanya—ia bosan pergi ke mana-mana dengan benda itu.

Tidak lama berselang, ia mendengar derung mesin motor mendekat dan berhenti tidak jauh darinya. Ia belum menoleh sampai suara itu berkata, “Ya, Gadis Payung.”

Ji Hyun langsung bertatapan dengan sepasang mata Jong Hyun yang terlihat dari celah helm. Letupan rindu mencekat napasnya. Hampir tiga bulan penuh mereka menghindari satu sama lain—tepatnya Jong Hyun yang enggan bertemu dengannya. Dan Ji Hyun juga tidak punya alasan baik untuk menemuinya.

“Naik.”

Ji Hyun menggeleng. Ini bagian dari melupakan; ia harus menjaga jarak. “Aku sedang menunggu bus.”

Jong Hyun menatapnya lamat-lamat, lalu menghela napas pelan dan memalingkan wajah menatap jalanan di depannya. Ia tahu tidak ada gunanya memaksa jika gadis itu sudah menolak. “Minggu ini mereka akan bertunangan.”

“Aku tahu.”

“Kau akan datang?”

Ji Hyun mengangguk.

“Baiklah. Sampai jumpa.” Jong Hyun kasar menutup kaca helmnya dan memosisikan tangannya pada putaran gas, bersiap pergi dari sana.

Lalu suara Ji Hyun menghentikannya, “Jong Hyun-ah.”

Jong Hyun kembali menoleh.

Ji Hyun menelan ludah. Diam-diam menancapkan kuku jemari pada buku yang dibawanya dalam-dalam. Di antara ratusan kalimat di dalam kepalanya yang ingin ia katakan, satu mencuat keluar dan terucap lemah, “Maafkan aku.”

Jong Hyun membuka lagi kaca helmnya. “Tidak perlu minta maaf,” balasnya kaku. “Kau tahu? Aku sudah memikirkannya baik-baik, dan kau benar. Hubungan mereka seharusnya tidak mengubah apa pun. Perasaan ini masalahku sendiri. Aku yang akan mengurusnya. Kita akan baik-baik saja, seperti katamu.”

Ji Hyun menatap punggung Jong Hyun yang lenyap dengan cepat, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Gerimis berhenti tiba-tiba, seperti ada yang diperintahkan menekan tombol off di balik awan. Bus yang ditunggu baru tiba sepuluh menit kemudian, tapi ia bergeming sampai bus itu meninggalkan halte.

Ji Hyun mendongakkan kepala, menatap langit yang kelabu.

Ia mungkin tidak akan pernah terbiasa.

***

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanyaku. Kami tiba di tempat tujuan dengan menaiki taksi. Yong Hwa harus langsung pergi untuk mengurus persiapan acara nanti malam.

In Jung meraih tanganku, membimbingku terus berjalan. “Aku ingin kau menemui seseorang.”

Aku tidak mengerti. Detik ini juga, kupikir In Jung-lah yang butuh psikolog. Pikiranku mungkin tidak seimbang, tapi aku tahu ini taman pemakaman. Tidak ada orang waras yang membuat janji temu di tempat seperti ini.

“Kau tidak pernah datang ke sini sebelumnya, kan? Kau menolak datang di hari pemakamannya.”

Alarm peringatan berdering dalam kepalaku. Aku tahu apa maksud In Jung. Tapi walaupun suara dalam kepalaku menyuruhku lari, tetap saja kakiku mengikutinya. Sampai dia berhenti di depan salah satu nisan. Batu marmer mengilat tanpa cacat. Kurasakan tanganku yang memegang tangan In Jung kebas. Aku melepas pegangannya.

Annyeong, Jong Hyun-ah.”

Jantungku mencelos saat mendengar nama itu lagi.

“Har ini aku datang dengan orang yang paling ingin kautemui.” In Jung melirikku, tersenyum, lalu kembali menatap nisan di hadapan kami. “Kaulihat, hari ini dia cantik sekali.”

Kenangan itu seketika melintas kembali di hadapanku.

“Bohong!” teriakanku menggema di langit-langit.

Wanita paruh baya yang berdiri di sebelah In Jung terpekur di lantai, lemas seketika. In Jung berlutut di sebelahnya, bersimbah air mata, memeluk erat ibunya. Wajah keduanya pucat pasi. Pria tinggi gempal itu, pengemudi yang terlibat dengan kejadian tadi, menundukkan kepala.

Dokter hanya bisa membungkuk dalam-dalam, memohon maaf. Kemudian ranjang besi dengan tubuh kaku tertutup kain putih didorong keluar dari ruang UGD oleh dua orang suster.

Aku merangsek maju untuk menahan mereka, tapi Yong Hwa menghentikanku tepat waktu dengan memegangi kedua tanganku. “Hentikan! Dia belum mati!” aku menjerit sekuat tenaga.

“Cukup, Ji Hyun-ah,” Yong Hwa berkata serak di dekat telingaku.

“Tidak! Tolong, tolong selamatkan dia! Dia masih hidup! Jong Hyun masih hidup!”

Jelas dan berulang-ulang. Aku bahkan mengingat detailnya, lampu neon terang, dinding biru toska pucat, bau disinfektan yang menguar di sepanjang koridor rumah sakit. Semua menempeli ingatanku seperti bayangan.

***

“Jong Hyun-i?”

Jong Hyun mengerutkan alis mendengar kepanikan dalam suara Yong Hwa di ponselnya. Keengganan menjawab teleponnya tadi terlupakan. “Ada apa, Hyung?”

“Apa kau bertemu Ji Hyun hari ini?”

Jong Hyun mendengus diam. Apa lagi sekarang? Apa Ji Hyun mengatakan sesuatu? Kakaknya itu mau menginterogasinya? “Sempat bertemu sebentar,” jawabnya samar.

“Apa kau tahu kapan dia pulang?”

Kecurigaan Jong Hyun terpatahkan. Dahinya terlipat. “Kenapa?”

“Ji Hyun belum sampai di rumah.”

“Tidak mungkin,” Jong Hyun menyangkal otomatis. “Kami bertemu di halte sebelum dia pulang. Itu sudah tiga jam yang lalu. Rumahnya tidak sejauh itu.”

Yong Hwa berdecak frustasi. “Ponselnya juga tidak aktif. Kalau dia menghubungimu, beritahu aku.”

Sambungan diputus. Tanpa pikir panjang, Jong Hyun meraih jaket dan kunci motor dari atas meja. Semakin larut, akan lebih sulit mencari seseorang karena jalanan semakin ramai.

Jong Hyun mengebut kembali ke halte bus, berharap menemukan Ji Hyun di sana. Tidak ada.

Bukankah dia akan pulang tadi?

Ia mencoba pergi ke universitas. Sudah sepi. Hanya sedikit lampu luar yang dinyalakan. Gerbang dikunci.

Kenapa dia tidak pulang?

Adalah setengah jam Jong Hyun bolak-balik tidak jelas di jalan raya, melewati setiap persimpangan, mengamati satu-satu pejalan kaki di trotoar, bertanya pada orang-orang. Kekhawatiran menyergap dadanya lebih kuat setiap detik.

Ke mana si bodoh itu mau pergi kalau tidak pulang?

Ia tiba di perempatan ke sekian yang entah sama atau tidak dengan yang sebelumnya. Kilat menyambar-nyambar di atasnya. Sepertinya akan hujan deras malam ini.

Di mana dia?

Anehnya, setelah bolak-balik begitu lama dalam kebingungan, justru gadis itulah yang Jong Hyun lihat begitu ia menelengkan kepala. Ji Hyun berdiri di seberang jalan dengan segelintir orang yang juga menunggu lampu pejalan kaki berganti hijau untuk menyeberang.

Jong Hyun mendadak lupa kalau ia berhenti di sana juga karena lampu lalu lintas arusnya sedang menyala merah. Ia memutar gas tangannya secara refleks, seakan takut Ji Hyun akan lenyap kalau ia tidak bergegas.

Hal yang terjadi selanjutnya berjalan lambat baginya. Jong Hyun baru menyadari sebuah mobil minibus melaju cepat begitu mendengar raungan klakson memecah langit malam. Ia hanya sempat melihat sorot lampu depan mobil yang kemudian telak menghantamnya. Tubuhnya terlempar dari atas motor. Bagian belakang helmnya mendarat lebih dulu dengan bunyi retak keras sebelum terlepas dari kepala. Seluruh udara terpompa keluar dari paru-parunya saat punggungnya menyusul sepersekian detik berikut. Ia berguling di jalan beberapa kali dan terkapar tanpa daya, tidak bisa bergerak, tidak sanggup bersuara. Semua terjadi dalam hitungan kejap. Ia bahkan tidak sempat menjerit untuk menyalurkan rasa sakitnya.

Jong Hyun melihat pendar kecil di langit yang gelap. Lalu kekacauan di sekitarnya perlahan mengabur.

***

In Jung duduk berlutut di depan nisan itu dan mulai bicara, “Ingat pertama kali kita makan siang berempat? Hari itu aku melihat kau dan Jong Hyun terkejut bertemu satu sama lain. Kau bilang kalian hanya teman satu universitas, tapi aku merasa Jong Hyun bersikap aneh sepanjang hari itu. Aku mendapati dia juga menatapmu beberapa kali.

“Karena dia tidak mau tinggal denganku dan ibu, kami jarang bertemu. Tapi setiap kali ada waktu, dia sering bertanya tentangku dan Yong Hwa. Bagaimana kami bertemu, sejak kapan kami dekat, seperti apa sebenarnya hubungan kami. Dia juga menanyakanmu sesekali. Wajahnya selalu terlihat bingung, seperti ingin membicarakan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana memulainya. Saat itu kupikir dia hanya khawatir. Jong Hyun sangat protektif padaku sejak kecil, kau tahu. Padahal dialah yang adik.”

In Jung tertawa getir. “Dia tidak pernah mengatakan apa-apa bahkan sampai kecelakaan itu terjadi. Tapi begitu aku melihatmu di rumah sakit, aku mendadak tahu apa yang selama itu Jong Hyun sembunyikan. Tentangmu dan perasaan yang kalian miliki.”

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat.

Hening sejenak.

Sebelum kusadari, kalimat demi kalimat mengalir lancar dari mulutku sementara aku memusatkan mata pada nama yang terukir di tengah nisan, “Kami seharusnya lulus bersama dua tahun lalu. Jong Hyun ingin menjadi musisi. Aku mendengarkan semua musik gubahannya. Dia memberitahuku kalau dia membuatnya saat berkunjung ke Busan. Laut di sana sangat indah. Dia berjanji akan mengajakku ke sana suatu hari asalkan aku setuju menulis lirik untuk musiknya. Tapi seperti orang bodoh, dia malah meninggal. Apa yang harus kulakukan kalau begini?”

Beberapa saat tidak ada yang bicara. Deru napasku satu-satunya yang mengisi keheningan.

In Jung tidak berlama-lama terkejut dengan ledakanku. Ia berdiri, lalu merangkul pinggangku. “Aku tahu keadaan sangat sulit bagimu. Tapi kau bukan satu-satunya yang terluka karena dia pergi. Jong Hyun akan merasa bersalah melihatmu hidup seperti ini.”

“Tidak,” balasku. “Dia meninggal karena aku. Kalau malam itu dia tidak akan mencariku…”

“Itu bukan salahmu.”

Aku berpaling menatap In Jung tajam. “Kau bisa bilang begitu karena kau tidak ada di sana saat itu. Aku melihat seluruh kejadiannya dengan jelas. Aku menemaninya menunggu bantuan.” Aku harus berhenti sebentar karena dadaku sesak. “Dia bilang… dia akan kembali untukku. Aku menunggunya. Aku ingin bilang bahwa aku minta maaf dan aku menyayanginya. Tapi dia tidak memberiku kesempatan.”

“Tidak semua hal di dunia terjadi dalam kendali kita,” In Jung berkata pelan. “Meninggalkanmu bukan berarti perasaan yang dimilikinya berubah.”

Dia melepas pelukannya. Sekilas angin berhembus di antara sengat matahari, menerpa garis-garis air mata yang entah sejak kapan membekas di wajahku.

“Pernahkah kau berpikir, saat dia bilang akan kembali, sebenarnya dia mengatakannya karena dia ingin percaya dia masih bisa kembali? Bahwa dia tetap ingin kembali untukmu walaupun dia tahu itu tidak mungkin?”

Aku mengusap mataku dengan punggung tangan. Air mataku berhenti tiba-tiba.

“Dengar aku. Sudah saatnya bagimu untuk melanjutkan hidup,” ujar In Jung. “Tahun-tahun yang kauhabisan untuk marah dan bersembunyi sudah cukup. Belum terlambat untuk mulai memaafkan….”

***

Jong Hyun berfokus pada pendar kecil itu seperti berpegangan pada kesadarannya. Ia tidak bisa merasakan kedua kaki dan tangannya. Kepalanya serasa mau pecah. Suara ribut klakson maupun decitan ban mobil-mobil yang menghindari tabrakan terdengar seperti berasal dari dimensi lain.

Kemudian ia mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Jong Hyun pikir itu malaikat maut yang akhirnya tiba untuk menjemputnya.

Tapi suara itu mulai terasa nyata. Dan terlalu indah untuk menyambut kematian menyakitkan.

Jong Hyun mengerjap pelan beberapa kali. Pendar itu lenyap, digantikan wajah Ji Hyun yang muncul entah dari mana.

Kali ini Jong Hyun pikir ia mungkin belum mati.

Bibir Ji Hyun bergerak-gerak. Butuh waktu bagi Jong Hyun menyadari gadis itu sedang—berusaha—bicara padanya. Suaranya putus-putus dan gemetar oleh ketakutan.

“Hai, Gadis Payung,” Jong Hyun berhasil berkata serak. “Ke mana saja? Aku mencarimu.”

Ji Hyun harus berdeham keras sebelum bisa membalas dengan jelas, “Dasar bodoh.”

Jong Hyun melihat sepasang mata basah Ji Hyun, dan nyeri yang ia rasakan di hatinya lebih menusuk dari sakit di sekujur tubuhnya. “Aku tidak apa-apa. Hanya… sedikit sakit.” Jong Hyun menarik sudut bibirnya. “Jangan khawatir.”

Ji Hyun mengangguk-angguk, tapi itu hanya membuat air matanya berjatuhan.

Jong Hyun mengangkat tangannya perlahan untuk menyentuh wajah gadis itu. “Kau lihat… aku baru melanggar lampu lalu lintas. Menurutmu, mana yang lebih… buruk, rumah sakit… atau kantor polisi?”

Ji Hyun sama sekali tidak terpesona dengan humornya. “Tutup mulutmu, atau nanti kupukul.”

Jong Hyun tertawa, sangat pelan, tapi gerakannya hanya membuatnya menggertakkan rahang karena bagian belakang kepalanya berdenyut hebat.

“Diam saja, bisa tidak? Jangan membuatku takut.” Ji Hyun mengerjap-ngerjap untuk menyingkirkan air mata. “Ambulans akan datang sebentar lagi. Kita bisa bicara lagi setelah mereka mengurus luka-lukamu.”

“Masih ada… banyak hal yang… ingin kulakukan… denganmu,” Jong Hyun memaksa bicara, tersengal.

Isak yang berusaha ditahan Ji Hyun melompat dari tenggorokannya.

“Selama bersamaku… apa kau… bahagia?”

Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mengangguk.

“Kau harus terus bahagia…”

“Jangan katakan,” putus Ji Hyun. “Diam dan tunggulah. Kau akan baik-baik saja.”

Tapi Jong Hyun harus mengatakannya sekarang, entah gadis itu mau mendengar atau tidak. “Kau harus terus bahagia… dan hidup dengan baik…. Dengan begitu… kau akan selalu… ingat… bahwa aku… mencintaimu.” Suaranya semakin tenggelam dan pandangan Jong Hyun mulai mengabur lagi. Napasnya melemah. Tapi ia masih bisa merasakan Ji Hyun menggenggam tangannya erat.

Kehangatan telapak gadis itu yang menjalarinya memperlihatkan kembali potongan-potongan ingatan dalam kepalanya. Cepat dan acak. Wajah polos Ji Hyun di hari pertama mereka bicara di bawah hujan, senyum malu-malu Ji Hyun, wajah terkagum-kagum Ji Hyun, wajah tertawa lebar Ji Hyun, wajah mengantuk Ji Hyun, wajah merengut Ji Hyun… ia bisa melihat semuanya.

Jong Hyun tidak akan pernah melupakannya.

Jerit sirine membelah keramaian. Empat pasang kaki melompat dari mobil ambulans. Tandu darurat diturunkan. Tangan-tangan tim medis gesit mengangkat tubuh Jong Hyun. Pegangannya dari Ji Hyun terlepas. Ia tidak punya kekuatan untuk mencari tangan gadis itu lagi.

“Kau tidak boleh pergi,” Jong Hyun mendengar Ji Hyun berseru. “Lee Jong Hyun, aku—”

“Nona, silakan ikut mobil partoli di belakang kami.”

“Tolong, Jong Hyun, dia—”

“Aku akan kembali untukmu,” kalimat itu terucap dengan sisa-sisa tenaga Jong Hyun. “Kita akan… bertemu… tunggu…”

Tandu didorong masuk ke dalam ambulans, disusul empat anggota tim medis, dan pintu ditutup.

Jong Hyun melihat pendar kecil itu lagi di langit-langit mobil sementara tangan-tangan itu memasangkan alat-alat pertolongan padanya. Pendar itu perlahan melebar, menelan penglihatannya.

Hal terakhir yang ia rasakan sebelum kesadarannya terambil adalah sesuatu yang hangat di ujung mata kirinya, bergerak turun ke pelipis.

***

Dua tahun telah berlalu sejak kunjungan pertamaku ke pemakaman.

Sore ini langit sangat cerah. Aku membuka kaca mobil agar angin dapat memainkan rambutku sementara aku menyetir di jalan bebas hambatan dengan kecepatan sedikit di atas ketentuan batas. Siapa peduli, aku hanya sendirian.

Lewat earphone, aku mendengarkan sambil lalu ocehan Yong Hwa. Dia marah karena aku meminjam mobilnya tanpa izin. Lagi.

“Dengar,” kataku saat dia menarik napas kesal, “aku akan pulang besok. Aku hanya ingin jalan-jalan, jangan berlebihan begitu.”

“Kau belum punya SIM! Dan aku harus ke kantor pagi-pagi besok!”

“Kau tetap bekerja meski dokter sudah bilang In Jung akan melahirkan dalam minggu-minggu ini?”

Well, aku tidak bisa diam di rumah seharian mendengarkan eomma dan In Jung bicara soal keajaiban bayi. Aku bisa gila sepertimu dulu.”

Yong Hwa beruntung kami bicara lewat telepon. Aku bisa menimpuk mukanya karena itu. Aku tidak gila. Psikolog juga bilang aku hanya depresi karena trauma pasca kecelakaan itu. Meski mereka tidak pernah tahu alasan sesungguhnya. Itu akan jadi rahasiaku. Dan In Jung. Selamanya.

Tapi mengingat mobil Yong Hwa ada padaku, mungkin aku akan berbaik hati sedikit.

“Aku akan cepat pulang. Paling lambat besok jam lima sore. Bye.” Tanpa menunggu respon, aku memutus sambungan.

Bisa kubayangkan bagaimana tampang Yong Hwa sekarang. Dia pasti kesal setengah hati. Aku banyak menyusahkannya dua tahun ini; mengurus pembatalan pernikahan, status aktif kuliah kembali—dia membuat absen panjangku jadi cuti—juga mencarikan pekerjaan yang kuinginkan sebagai editor lepas. Dan sekarang aku menculik mobilnya.

Terserahlah. Dia boleh marah lagi besok. In Jung pasti akan membelaku. Ha-ha.

Perjalanan beberapa jam membuat punggungku pegal. Akhirnya di sinilah aku. Busan. Menyewa kamar di penginapan terdekat dengan laut.

Apa kata In Jung di pemakaman, dua tahun yang lalu? Belum terlambat untuk mulai memaafkan. Ya, dia benar sekali. Menyimpan rasa benci sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik.

Aku tiba di tepi pantai tepat saat langit sempurna dihiasi semburat jingga. Setengah bagian matahari sudah ditelan permukaan laut. Pasir basah menyelip di sela-sela jari kakiku saat aku berjalan-jalan. Ombak kecil sesekali membantuku membersihkannya.

Di telingaku, sebuah musik rekaman dari petikan gitar akustik mengalun lewat earphone. Sebaris lirik muncul di benakku.

“Bagaimana dengan sesuatu seperti, ‘Di mana pun kau, bahagialah, di mana pun kau, tersenyumlah, jangan miliki cinta yang sedih sperti hujan’?”

Kedengarannya cengeng,” kudengar Jong Hyun membalas samar di dekat telingaku.

Aku tertawa pendek. Perlahan, aku dapat melihatnya lebih jelas. Bagiku ia akan selalu tampak sama. Kaus dan jeans yang sama. Rambut menutupi dahi yang sama. Cengir lesung pipi menyebalkan yang sama. Dulu, kini, nanti. Selamanya.

Hei,” katanya.

“Hei,” jawabku.

Aku merindukanmu, Ji.

Apa kau tahu? Aku juga merindukanmu.

=FIN=

2 thoughts on “Boundary

  1. Aku nangis aku nangis 😭😭sedih bgt ceritanya 😭😭😭bwt authornya hebat bgt bisa buat aku nangis cm dgn baca doank 👍

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s