Love is no big truth [chapter 5]

LINBT cover

Author: kim sung rin / 

Rating: PG16 ,

Genre: romace, AU

Length: chaptered

Main Cast:

– Lee Jonghyun

– Lee Jungshin

– Cho Soo Yeon [OCs]

– Ga In [OCs]

Other Cast:

– Jung Yonghwa

– Kang Minhyuk

– Cho Kyuhyun [Super Junior]

– Choi Jonghun [FT Island]

-Park Chanyeol [EXO]

-Lee Yuri [OCs]

Disclaimer: Terinspirasi dari salah satu lirik lagu yang berjudul Love is no big truth , selebihnya ceritanya milik saya.

[Teaser] [1] [2] [3] [4]

Special thanks buat readers FF ini :

arniejayanti9087alvianantiapionamasyer, Chokyulatte_ika @Guyguy90, Moniedhikaparamitha, christie, chankqy, fitri, diana, ima, Miss Burningsoul ♬, nana, maya, Suharti Kautsar,Resti Burningsoul ♬, diana, vwahyu86Mita miftahul

LOVE YOU GUYS! :*

***

Soo Yeon tidak bisa menyingkirkan kejadian dua malam yang lalu dari pikirannya. Saat Jonghyun memeluknya, saat Jungshin memukul Jonghyun dan saat Jungshin menyatakan perasaannya pada Soo Yeon. Gadis itu kembali mengacak-acak rambutnya. Seharusnya dia tidak memikirkan kedua pemuda tersebut. Masih ada yang harus dipikirkannya, tentu saja Sang Tugas Akhir yang membuatnya gila akhir-akhir ini.

Saat semua kefrustasian itu mengganggu dan merasa tak mendapatkan jalan keluar, samar-samar dia mencium semerbak wangi pie apel yang mengajaknya untuk turun dan mengisi perutnya yang semenjak setengah jam lalu meronta ingin diisi. Oke, ini sudah kesekian kalinya dia mencoba mengabaikan raungan perutnya karena target hari ini harus selesai minimal lima lembar sebelum jam makan siang, dan Soo Yeon tak ada pilihan lain selain mengabaikan –lagi- skripsinya itu.

“Hallo chef,” Soo Yeon terkekeh geli begitu melihat Kyuhyun sedang berdiri menatap oven didepannya, lengkap dengan celemek yang terpasang di tubuhnya yang seksi itu, “Membuat pie apel ya?”

Kyuhyun hanya mengangguk, dia terlalu konsentrasi untuk diajak bicara saat ini. Ini bukan kali pertama dia membuat pie apel, tapi dia selalu terlalu serius saat memasak. Mungkin ingin menampik gelar tak-dapat-memasak yang sering kali disebut-sebut orang sekitarnya termasuk Soo Yeon, adiknya sendiri.

Gadis itu baru ingat terakhir kali mereka bicara yaitu saat Kyuhyun membawa seorang laki-laki bernama Park Chanyeol. Setelah kekacauan itu Kyuhyun dinas ke Jepang dan menginap beberapa hari disana, sedangkan Soo Yeon sibuk latihan untuk pentas seni dikampusnya. Tapi Soo Yeon tidak peduli, dia tetap mengoceh mengisi  kekosongan didapur. Dia perlu menceritakan banyak hal kepada kakak laki-lakinya itu.

“Setelah kupikir-pikir, aku keterlaluan dengan lelaki bernama Park Chanyeol itu.” gumam Soo Yeon sambil memainkan sendok dan garpu di pantry. Kyuhyun kali ini berhasil mengalihkan perhatiannya dari oven, bersamaan dengan bunyi ‘ting’ nyaring yang menandakan pie apelnya benar-benar matang.

“Kau menyesal terlihat seperti nenek sihir dihadapannya?” Kyuhyun mengambil sapu tangannya lalu mengeluarkan pie apelnya perlahan.

Soo Yeon cemberut, nenek sihir adalah seseorang yang sangat dibencinya selama hidupnya karena dia jahat dan licik, dan Kyuhyun memanggilnya seperti itu. Dia baru saja ingin marah-marah, tapi emosinya menciut saat potongan besar pie apel mendarat di piring yang terletak dihadapannya.

Well, tentu saja tidak. Untuk apa aku menyesal?” Soo Yeon megunyah pie apelnya lamat-lamat, menikmati tiap inci pie yang menyentuh lidahnya, “Hanya saja aku kasihan dengannya. Aku menyuruhnya pulang begitu dia memperkenalkan diri.” Soo Yeon terkekeh pelan dan itu membuat Kyuhyun jengkel.

“Kau memang keterlaluan! Dia lelaki baik-baik yang dibuat malu oleh wanita sepertimu.” Cibir Kyuhyun, “dan aku tidak mau mengenalkan lelaki lagi kepadamu. Aku tidak mau malu untuk yang kedua kalinya.”

“Yah, baguslah kalau kau sadar. Seharusnya kau lebih mementingkan dirimu daripada aku. Kau sudah tua tapi tak punya pacar tch!

Ya! Cho Soo Yeon!” wajah Kyuhyun bersemu merah, “Aku tampan dan disukai banyak wanita, hanya saja…”

Soo Yeon mulai menyeringai, “Hanya saja kau lebih memilih berpacaran bersama pria, begitu?” potong Soo Yeon yang langsung kabur meninggalkan dapur, menyisakan Kyuhyun yang mengumpat kesal.

“Lihat saja aku akan mendapatkan perempuan yang baik dan akan menjadikan dia sebagai istriku.” Gumamnya kesal sambil mengunyah pie apelnya.

***

“Hah? Menemanimu berkencan?” teriakan Jungshin yang saat itu sedang bersantai dikamarnya dapat membuat siapa saja kaget. Kakak perempuannya yang bernama Lee Yuri menatapnya dengan memohon.

“Sekali ini saja, please.” Tangannya menelungkup didepan wajahnya yang memelas, “Aku tidak tahu harus berbicara apa dengan lelaki itu nanti. Dan ini pertama kalinya aku bertemu dengannya, ayolah. Lagipula aku berkencan di restoran mahal dan tentunya kau bisa makan enak.”

Jungshin menghela napasnya dengan kesal, dia tahu bahwa kakak perempuannya itu minim sekali pengalaman berkencan. Malahan kemungkinan ini pertama kalinya kencannya menjadi nyata, bukan sekedar imajinasinya yang ditumpahkan kedalam fanfiction atau cerita ilusi lainnya. Dia tidak bisa untuk bilang tidak dengan mata memohon seperti itu. Tapi sejujurnya ini sangatlah membosankan. Menemani orang berkencan, ya ampun! Umpat Jungshin dalam hati.

“Baiklah…baiklah.. berhenti memelas seperti itu.” kata Jungshin, “Seharusnya kan ini private sekali. Apa kau yakin ingin mengajakku?”

Yuri mengangguk dengan sangat cepat, “Dia Manager disebuah perusahaan besar. Aku tidak tahu harus mulai bicara darimana. Setidaknya dengan melihat orang yang kukenal aku jadi lebih rileks. Bagaimana? Kau mau kan?”

Jungshin menghela napasnya. Ini terdengar bodoh menemani kakak perempuanmu berkencan. Tapi dia ingin sekali melihat kakak perempuannya itu bahagia dan apapun akan dilakukannya untuk hal itu.

“Baiklah…baiklah.. kapan kita berangkat?”

“Sekarang juga, okey? Aku akan berdandan sebentar.”

***

Soo Yeon melangkah pasti disamping Kyuhyun yang kali ini terlihat tampan dengan rambutnya yang disisir rapi, dan juga jas hitam yang dipadu padankan dengan kemeja berwarna biru dongker. Matannya menelisik setiap sudut, memastikan sendiri bahwa tempat ini lah yang dimaksud oleh seseorang yang akan bertemu dengannya.

“…. aku suka varian baru snack ini. Sudah lama sekali aku ingin mereka membuat sesuatu yang beda dari keripik udangnya. Dan kali ini aku benar-benar menyukainya. Snack udang rasa madu. Ah~aku bahagia sekali.” Oceh Soo Yeon yang rasanya tak berhenti berbicara sejak mereka berangkat sampai ke tempat seperti ini.

“Oh ayolah, apa kau tidak ada niat untuk berhenti berbicara? Kepalaku mulai pusing.” Kyuhyun memijat sebentar keningnya. Soo Yeon mengedikkan bahunya, “Aku hanya membantumu melawan rasa gugup. Kau kentara sekali ingin cepat-cepat pergi dari sini.”

Kyuhyun menghela napasnya panjang, “Oke maafkan aku, kau tau kan ini pertama kalinya untukku?”

Soo Yeon terkekeh geli, “Tentu saja, aku paham betul kakakku sendiri. Ah kurasa sebelah sana.” Soo Yeon  kali ini berjalan didepan Kyuhyun menuju sebuah meja. Dia yakin orang tersebut adalah gadis yang ingin ditemui oleh Kyuhyun.

“Tunggu sebentar,” Soo Yeon memperlambat langkah kakinya diikuti dengan kerutan di dahinya.

“Kau yakin kan tidak berkencan dengan ‘Istri orang’.” Tanya Soo Yeon yang kemudian dihadiahi oleh cubitan kecil di pipi tirusnya.

“Yang benar saja, kau pikir aku segila itu?” Kyuhyun merengut, tidak suka dianggap sebagai lelaki yang berkencan dengan istri orang. “Hei, kenapa kau memiliki pemikiran kreatif seperti itu? Sudah kubilang kau jangan terlalu sering nonton telenovela lagi, itu tidak bagus untuk…”

Mulut Kyuhyun telah dibekap oleh tangan adiknya sendiri. Kenapa sih bias-bisanya menceramahiku disaat-saat seperti ini? Batin Soo Yeon kesal.

“Kau bilang wanita itu menunggu mu di meja 45 yang menghadap langsung pemandangan sungai Han. Dan setahuku meja itu diduduku seorang wanita dan seorang pria.”

Kyuhyun menajamkan penglihatannya dan benar saja. Dadanya naik turun, nafasnya tersengal tiba-tiba. Dan kemudian dia menghampiri gadis itu yang sama kagetnya dengan Kyuhyun.

“Jadi kau kesini untuk mempermainkanku dengan seseorang yang…”

“Kyuhyuh hyung?” Jungshin mengangkat alisnya terkejut, “Kau Kyuhyun hyung kan? Kakak dari Choo Soo Yeon?”

Soo Yeon kemudian membeku. Tubuh jangkung dan tegap itu milik Jungshin dan tak pernah terpikirkan olehnya untuk bertemu dengan lelaki tersebut ditempat seperti ini.

“Ah sepertinya kau salah paham Kyuhyun ssi,” suara Lee Yuri memecah keheningan, “Ini adikku Lee Jungshin, aku sengaja mengajaknya kesini untuk menemaniku sebelum kau datang. Tidak apa-apa kan?” Yuri tersenyum manis sekali, yang membuat raut wajah  Kyuhyun merona seketika.

“Ah tidak apa-apa. Lagipula aku membawa adikku yang kebetulan teman Jungshin. Mereka bisa bersenang-senang bersama, benar begitu kan Soo Yeon?”

Dan Soo Yeon pun hanya mampu tersenyum dengan sangat terpaksa.

***

“Aku tidak tahu kalau kau punya kakak perempuan.” Soo Yeon menyelipkan sebagian rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinganya.

“Kau tidak pernah bertanya kepadaku.” Balas Jungshin yang akhirnya duduk disalah satu bangku yang disediakan dipinggiran sungai Han itu.

“Dengar, Jungshin aku minta maaf karena telah menamparmu waktu itu.” Jelas Soo Yeon dengan suara yang hampir tidak terdengar. Jungshin terkekeh, masih belum mau menatap wajah Soo Yeon.

“Aku tau kau beralasan melakukannya, dan aku bodoh.  Tak seharusnya aku ikut campur urusanmu, aku minta maaaf. “

Soo Yeon menatap punggung Jungshin dengan merasa bersalah, dan tidak tahu kenapa perasaan bersalah itu semakin dalam begitu mendengar Jungshin minta maaf dengannya.

Soo Yeon menghela napasnya, “Lupakan saja masalah itu dan anggap saja kau tidak tau apa-apa antara aku dan Jonghyun.”

Jungshin membalikkan badannya, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Soo Yeon dan menatap manik mata itu dengan penuh perasaan. Napas Soo Yeon tertahan seketika. Sesuatu yang aneh berdesir didalam dadanya sekarang.

“Dengar aku Soo Yeon,” Jungshin masih menatap matanya dan kali ini tangannya meraih jemari-jemari Soo Yeon, “Aku tidak tahu kau sebegitu bencinya dengan Jonghyun tapi kumohon kau menyelesaikannya. Bicara baik-baik dengannya dan selesaikan semua kesalah pahaman antara kalian.”

Soo Yeon menatap Jungshin kesal,  “Untuk apa? Toh semua itu hanya masa lalu. Aku tidak peduli lagi dengannya, kau tahu itu.”

Jungshin mengusap pipi kanan Soo Yeon, “Ayolah, aku tahu kau orang baik. Dan Jonghyun terlalu bodoh terhadap semua perasaan dan penyesalannya sekarang.”

“Itu urusannya kan?” Soo Yeon menghempaskan genggaman tangan Jungshin, “Sudah kubilang kan jangan pernah ikut campur masalah aku dengan Jonghyun. Aku tidak mau orang itu muncul lagi didalam kehidupanku okay?” Soo Yeon memotong Jungshin begitu saja dan menghambur pergi dari hadapan Jungshin. Lelaki itu hanya bisa menghela napas dan membiarkan Soo Yeon meninggalkannya begitu saja.

Dan beberapa saat berlalu, ponsel Jungshin bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk.

Hyung, sepertinya ini akan sulit.” Balas Jungshin yang masih menatap Soo Yeon dikejauhan.

***

Yonghwa menghela napasnya begitu dia selesai berbicara dengan Jungshin via telepon. Dia menatap Jonghyun yang sedang duduk bersandar sambil memantulkan bola tennis ke dinding. Lelaki asal Busan itu masih memikirkan Soo Yeon, dan bodohnya dia sampai lupa merawat dirinya sendiri.

“Sampai kapan kau mau begini terus Jonghyun ah?” Yonghwa menghela napas duduk disamping Jonghyun. Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya, tak peduli terhadap apa yang dilakukannya sekarang ini.

Aish~kau harus menjaga dirimu sendiri kalau kau ingin semua salah pahammu dengan Soo Yeon berakhir, kalau kau mati karena tak mau makan bagaimana? Apa kau akan tetap merenung dan bermain bola kasti walaupun kau sudah menjadi hantu?” Jonghyun akhirnya menatap Yonghwa. Dia bergidik melihat wajah Jonghyun yang tak karuan. Pipi nya mulai tirus karena kurangnya asupan makanan, lingkar matanya pun semakin hitam karena dia tak tidur.

Hyung, maafkan aku menginap dirumahmu dan juga mengganggumu. Aku juga sebenarnya tidak mau seperti ini tapi hatiku rasanya kosong sekali. Aku kesal menjadi lemah dan tak berdaya karena perempuan. Tapi hyung, aku tak bisa lupa tatapan matanya yang begitu  membenciku.” Yonghwa tak percaya bahwa sekarang ini dia melihat wajah Jonghyun yang memelas dan matanya yang berkaca. Jonghyun si pria Busan yang bersikeras untuk tidak menangis tapi hari ini dia terlihat lemah sekali, seperti bukan Jonghyun yang sedang berada dalam tubuh yang mulai kurus itu.

Yonghwa menepuk bahu Jonghyun beberapa kali, “Kau lelaki, Jonghyun ah. Harusnya kau terus berpikir bagaimana caranya agar salah pahammu dengan Soo Yeon selesai, bukan merenungi masalahmu seperti ini.”

“Bertemu denganku saja dia tidak mau hyung,” Jonghyun menyenderkan punggungnya di kaca balkon depan, “Aku tau, aku saat itu sungguh keterlaluan…”

“Sudahlah,” potong Yonghwa, “Aku dan Jungshin akan membantumu.”

“Jungshin?” Yonghwa menganggukkan kepalanya, “Dia sedang bersama Soo Yeon sekarang.

***

Jungshin menarik tangan Soo Yeon sebelum dia pergi, dan itu sempat membuat Kyuhyun dan Yuri berjalan duluan untuk membiarkan mereka bicara berdua saja.

“Apa lagi? Kurasa semua itu sudah jelas.” Soo Yeon berkata angkuh. Kehadiran Jungshin sekarang baginya sedikit mengganggu.

“Aku ingin kau ikut denganku, sekarang juga.” Jungshin sedikit meremas jemarinya yang terletak di kedua bahu Soo Yeon.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Soo Yeon menantang. Dia tidak takut sama sekali, terlebih ada Kyuhyun disini.

Jungshin mendekatkan wajahnya ke telinga Soo Yeon, “Well, aku akan menciummu.” Bisiknya pelan yang sukses membuat bulu kuduk Soo Yeon meremang dan tak berkutik. Jungshin menyeringai dan mengajak Soo Yeon menuju mobilnya.

“Kau mau kemana dengan adikku?” Kyuhyun mengamati ada sesuatu yang terlihat janggal. Soo Yeon tampak diam dan seperti orang yang kerasukan. Pucat.

“Kurasa aku sedang berbaik hati agar kau bias mengtarkan Kakakku,” Ucapan Jungshin langusung saja memberikan efek merona di pipi Kyuhyun, “Lagipula memang itu maumu kan?”

Untuk pertama kalinya Jungshin melihat Kyuhyun yang suka teriak-teriak dan cerewet itu tersipu malu. Menggaruk belakang kepalanya seperti orang bodoh kemudian mengakhirinya dengan menggenggam tangan Lee yuri.

“Baiklah, tapi ingat. Soo Yeon mempunyai jam malam. Okay?”

***

Aku sampai disebuah apartmen, aku tidak yakin tapi sepertinya ini adalah apartmen Yonghwa oppa. Aku pernah kesini saat aku masih menjalin hubungan baik dengan si Pria brengsek bernama Jonghyun itu. Mereka sering bertukar pikiran mengenai lagu-lagu yang berhasil mereka buat.

“Nah, kita sudah sampai,” Jungshin merapatkan coat coklat selutut miliknya kemudian menarik tanganku masuk kedalam apartmen itu.

“Jungshin kau..owh.” Yonghwa oppa tampak terkejut mendapati kedatanganku, namun kemudian dia tergelak tertawa untuk  menutupinya. Aku melirik Jungshin yang terkekeh geli, mungkin dia sebelumnya tidak memberitahu Yonghwa oppa kalau aku ikut bersamanya. Dan Yonghwa oppa berusaha mengatakan sesuatu dari matanya, tapi Jungshin tidak menyadari itu.

“Kau membiarkan tamu mu hanya berdiri didepan pintu seperti ini hyung?” Kata Jungshin. Yonghwa sepertinya tersadar bahwa seharusnya dia mengajak tamunya –aku dan Jungshin- untuk masuk tapi dia terlalu banyak memikirkan sesuatu dan aku tidak tahu itu apa.

Saat aku masuk ke ruang tengahnya, aku dapat melihat sosok Jonghyun yang berdiri lemas menatapku. Aku menatap Jungshin kesal, jadi ini alasan dia mengacuhkan semua pertanyaanku tadi? Karena dia ingin aku bertemu dengan Lee Jonghyun?
“Cho Soo Yeon, aku…” kemudian tubuh kekarnya yang mulai kurus itu tergeletak jatuh di lantai. Yonghwa oppa dan Jungshin bergerak sigap untuk membawanya ke kamar Yonghwa oppa dan membaringkannya disana. Sedangkan aku mengambil kompres untuk meredakan panas di tubuh Jonghyun.

Oppa, kenapa bisa seperti ini?” aku menatap Yonghwa oppa yang sedang mengukur suhu tubuh Jonghyun. Dia kemudian menatapku, “Ini semua karena kau, Soo Yeon ah.

Hyung,” Jungshin meninju pelan lengan kiri Yonghwa, membuatnya berpaling kemudian keluar dari kamarnya sendiri.

“Tidak usah kau dengarkan,” Jungshin menepuk bahuku beberapa kali, “Aku akan ke apotik membeli beberapa obat.” Jungshin juga keluar dari ruang itu dan meninggalkanku sendiri dengan Jonghyun yang sedang terbaring disana.

Aku tak ada pilihan lain selain duduk di sisi kiri kasur berukuran single itu. Termometernya berbunyi dan menandakan panasnya lumayan tinggi. Kusibakkan rambut hitamnya yang terlihat kasar dan menaruh handuk dingin di keningnya.

Kata-kata Yonghwa oppa terus terngiang di kepalaku. Ini semua gara-gara aku katanya. Mungkin aku terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan penjelasan Jonghyun. Tapi salahkah kalau aku belum bisa bertemu dengannya dulu? Aku pernah sakit hati dengannya dan ini semua tidak mudah bagiku, terutama karena aku mencintainya diam-diam waktu itu.

Helaan napasku terdengar sekali lagi. Kuatap wajah Jonghyun yang memucat. Ah~ lingkar mata itu tidak pernah berubah. Dia memang selalu tidur larut karena menulis lagu. Wajahnya kini terlihat kecil sehingga dagunya meruncing dan membuat wajah maskulinnya sedikit feminine. Tubuh kekarnya pun tak seperti dulu, terlihat rapuh.

Kalau benar ini gara-gara aku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri atas semua ini. Atas keterpurukan seorang Lee Jonghyun. Dia pernah menjadi seseorang yang sangat ingin kumiliki, dan cintaku dulu sangat menggebu-gebu dengannya. Haruskah aku mulai melunak dengannya?

“Soo Yeon ah…” suara Jonghyun bergema tiba-tiba membuatku terkejut dengan lamunanku sendiri. Kupikir dia benar-benar memanggilku, tapi kulihat kedua matanya tertutup rapat. Aku mendekatinya dan meraih jemarinya yang langsung menghantarkan kehangatan di sekujur tubuhku.

“Maaf…” suaranya mendesah lagi. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain semakin kuat menggenggam jemari-jemari panjangnya. Aku kemudian mengecup jemarinya. Jujur, melihat Jonghyun seperti ini bukanlah yang kumau.

***

Jungshin menutup kembali pintu kamar Yonghwa begitu dia melihat Soo Yeon mengecup jemari jonghyun. Mereka butuh waktu berdua, dan Jungshin tidak mau mengganggu saat-saat itu.

“Kau sudah membeli obatnya?” Yonghwa muncul dari dapur dengan celemek berwarna biru dan sendok ditangan kanannya. Dia memang pandai memasak karena sudah bertahun-tahun tinggal jauh dari kedua orang tuanya, jadi membuat bubur untuk orang sakit adalah pekara mudah baginya.

“Tentu saja,” Jungshin menghempaskan plastik putih di meja bundar yang terletak didekat dapur kecil Yonghwa.

“Kau tidak seharusnya bicara seperti itu kepada Soo Yeon, ngomong-ngomong.”

Yonghwa berhenti mengaduk bubur yang mulai matang kemudian menatap Jungshin tak percaya.

“Aku tahu Soo Yeon dan Jonghyun, mereka berdua sama-sama keras kepala. Jadi apa menurutmu membiarkan Jonghyun seperti zombie seperti itu adalah hal yang baik? Kurasa tidak Jungshin, seseorang harus memberitahu Soo Yeon akan hal ini dan orang itu adalah aku.”

Yonghwa berusaha menekan suaranya walaupun entah kenapa dia merasa marah dan geram terhadap melodrama yang berada tepat didepan matanya dan tak ada seorangpun yang berusaha menghentikan itu.

“Kenapa harus kau hyung?” kata Jungshin penasaran. Yonghwa rasanya ingin menumbahkan saja Kimchi yang baru saja dibukanya ke wajah Junghshin. Anak ini pura-pura polos atau bagaimana sih? Batin Yonghwa

“Karena kau menyukai gadis itu,” balas Yonghwa tak sabar, “Dan jangan berusaha mengelaknya Jungshin ah.

Jungshin kini bungkam dan berdiri membisu di dapur Yonghwa. Apakah Jonghyun yang memberitahu Yonghwa bahwa dia menyukai Soo Yeon? Tapi mengapa dia harus mengatakannya? Batin Jungshin bergejolak.

“Saat ini kau pasti berfikir bagaimana aku tahu kalau kau suka Soo Yeon, benar kan?” bubur sudah sepenuhnya matang dan Yonghwa memindahkannya ke mangkuk kemudian ditaruh di nampan, berdampingan dengan segelas air putih dan beberapa obat yang harus diminum oleh Jonghyun.

“Oh benar, kau tahu darimana?”

Yonghwa mulai terkekeh tak jelas sambil melepas celemek birunya, “Siapapun yang melihatnya pasti tau kalau kau menyukainya. Sudahlah, kau antarkan bubur ini dulu, ya? Jonghyun benar-benar harus makan saat ini.”

Jungshin menarik nampan itu dengan ragu-ragu. Sebenarnya kalau boleh memilih dia tidak mau masuk kedalam kamar itu, tapi itu terdengar pengecut sekali. Tiba-tiba dia merasa menysesal harus membawa Soo Yeon ikut bersamanya dalam kunjungannya kerumah Yonghwa kali ini.

Jungshin memutar kenop pintu kamar Yonghwa dengan perlahan, namun pemandangan yang dilihatnya membuat hatinya sakit bukan kepalang sehingga tangannya meremas pinggir nampan yang sedang berada digenggamannya.

Mereka… berciuman? Batin Jungshin meyakinkan kedua matanya.

~~~

TBC

10 thoughts on “Love is no big truth [chapter 5]

  1. Author kmn aja baru posting lajutannya?
    Tp gpp lah Чªήğ penting đĨ posting Ĵuĝa lajutannya, đĨ tunggu part berikutnya krna penasaran bgt sm ceritanya. Tq author..

  2. uuuaaah daebak tor ceritanya,. 👍
    maaf ni baru coment, part selanjutnya jgn lama2 ya tor,. fighting 🙋
    oh iya ngomong2 ga in gak muncul lg ni tor?

  3. Kaaaak please bgt jebaaal jgn lama2 kelanjutannya!!! Sebagai Jungshin biased turut sakit hati ngeliat dia patah hati wkwkwkwk😄 keren keren kerennn. Jgn cepet2 end ya kak ceritanya, bikin agak panjang dan kalo ditambah konflik baru kayanya seru. Adain epilog juga ya kalo bisa😄 good luck and kisseu~

  4. kya… gw sering ngecek ini udah di update atau belum loh thor.. waupun awalnya gw lupa ceritanya, sekarang gw udah inget lagi..🙂
    hahaha.. ada nama gw di atas.. lope lope deh sama author.. :*

    nahloh mereka ciuman? ada yonghwa jg gitu dikamar?.-.
    semangat ya thor nulisnya… ^^

  5. wow. aku telat ya bacanya.
    aku baru buka website ini lagi.
    waktu itu aku tunggu tunggu kelanjutannya cuma lama.
    makin seru nih. ntar soo yeon sama jonghyun jadian? haduh penasaran
    jangan lama lama chapter selanjutnya yaa
    ditunggu

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s