Man in Love (Chapter 2)

minchap2

Author : Red Pumpkins

Rating : ??

Genre : Romance, sangat little bit kesomplakan(?)

Cast : Kang Minhyuk CNBLUE, Jung Krystal F(X), other.

Durasi : Rencananya 2shot tapi nggak jadi (?) biar author ada kerjaan :v

Disclaim : Ini murni ff dari otak saya yang kangen berat sama projek Minhyuk-Krystal. Yah, biar judulnya mirip sama lagu Infinite, nggak tau isinya sama apa enggak #lahpiyeiki. Wes, sak kareplah(?). Pokoknya ini ff muncul dari otak saya yang minjem nama bang Minhyuk dan mbak Krystal. Biarpun cerita pasaran dan bisa ditebak, tapi tetep happy reading, komen dan share kritik/opini kalian di kolom komentar J

-Normal Pov-

Krystal meneguk coklat panasnya yang sudah mencapai gelas ke 3. Malam ini dingin, dia sudah memakai jaket dan selimut tebal untuk menemani berdiri di balkon kamar, tapi masih saja kulitnya membeku. Sudah 1 jam dia berdiri demi menjawab rasa penasarannya kepada ucapan Minhyuk kemarin. Namun tidak ada apa-apa disana.

Satu hal yang dia harus hindari adalah sakit, oh mungkin bukan hanya gadis itu saja yang punya pikiran itu. Dia tidak mau terserang flu lalu demam. Dia masih lemah mengingat kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat alerginya kambuh. Masuk mencari kehangatan adalah pilihannya.

“Soojung-ah!”

Krystal menoleh ke belakang. Siapa? Siapa yang memanggilnya? Soojung? Tidak ada yang tau kalau Soojung itu namanya, mengingat dia sudah pindah ke Amerika sejak berumur 6 tahun dan tumbuh dengan nama Krystal disana. Krystal menoleh ke sekitar. Sepi.

“Disini!”

Krystal menoleh ke arah pohon mapple yang bersemu. Pohon yang berteriak padanya? Tidak. Krystal merasa ada yang aneh dengan salah satu daun pohon itu. Menyerupai telapak tangan. Krystal menggeser posisinya dan berjinjit. Sebuah lengan manusia mulai terlihat.

“Ya! Kau tidak bisa melihatku ya? Kau masih saja pendek, Soojung-ah! Hahaha!”

“Mwo?!”

Gadis itu mendengus, dia sangat benci dengan kata ‘pendek’. Dia meletakkan gelasnya di meja lalu menyeret sofa kecil untuk dinaiki.

Dan..

Dia bisa melihat seseorang berdiri di balkon seberang yang ternyata menghadap ke balkon kamarnya. Minhyuk dengan cengiran manis tengah melambaikan tangan ke arahnya. Krystal terbengong.

“Oraenmanieyo, putri pendek!”

“Hei, putri pendek!”

 

Soojung menghentikan ayunan yang dia mainkan dengan pelan, ditolehnya anak ompong menghampirinya membawa sebatang bunga tulip kuning. Gadis kecil itu kembali tak peduli. Dia sedang tak ingin bertengkar dengan Minhyuk, gembala ompong dan jelek itu.

 

“Mianhae,” Minhyuk mengulurkan bunga yang dia bawa, “Soal gaunmu waktu itu.”

 

Soojung meliriknya sinis, melihat Minhyuk dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti mencari kutu yang terselip di badan bocah itu. Soojung melipat tangannya di dada.

 

“Tidak apa.” jawabnya singkat.

 

Minhyuk memiringkan kepalanya heran, Soojung tak pernah semudah itu memaafkannya. Baru kalau ibu mereka saling bertengkar lalu jambak-menjambak, mereka baru akan baikan. Minhyuk lantas duduk di ayunan sebelah Soojung.

 

“Tidak apa tapi kau masih pasang wajah menakutkan seperti itu.”

 

“Ya! Kau bilang apa?! Aku ini cantik, bukan menakutkan! Dasar ompong!” Soojung mengerucutkan bibirnya lalu membuang pandangan.

 

“Memang. Kau pendek, dan menakutkan. Lihat saja kalau marah, rumput di bawah kakimu akan gosong tersembur api. Hahaha!”

 

Lagi-lagi Soojung melihat Minhyuk dengan sinis, “Ejek saja sesukamu selagi kau masih bisa mengejekku, karena sebentar lagi kita tidak akan bertemu untuk selamanya!” lontar Soojung yang langsung menghentikan tawa Minhyuk.

 

“Wae? Memang kau mau kemana?”

 

Soojung berdiri dari ayunannya lalu mencondongkan badannya ke Minhyuk, dia tersenyum, “Aku akan pindah ke Amerika minggu depan. Ayahku akan bekerja disana, jadi aku tidak akan bertemu kau lagi, Minhyuk ompong!”

 

“Mwo?! Pindah?! Sejauh itu?!” Minhyuk langsung berdiri panik dari ayunannya, nyaris saja dia terjungkir.

 

“Wae? Kau takut tidak bisa bertemu putri yang cantik ini?” ledek Soojung.

 

“Ke.. Kenapa aku harus takut, aku justru senang karena populasi orang pendek di Korea akan berkurang. Weee..”

 

“Kang Minhyuk!”

Minhyuk merentangkan tubuhnya di kasur. Menatap langit-langitnya yang cerah, pikiran Minhyuk kembali tertuntun ke masa 12 tahun lalu. Masanya bersama Soojung, gadis pendek yang suka mengaku cantik pada semua orang.

“Kau salah, Soojung-ah. Takdir tak mengijinkan kita untuk tak bertemu selamanya.”

Minhyuk menyangga kepalanya dengan kedua tangan, tersenyum. Mengingat bagaimana wajah Soojung dulu, imut, menggemaskan, pendek, dan ya mengaku atau tidak Soojung memang cantik.

Tapi sekarang, bagaimana mereka tak saling mengenal satu sama lain saat pertama bertemu? Bagaimana bisa dia tidak mengenali Soojung, teman bertengkarnya? Bagaimana dia tidak mengenali orang yang membuatnya menangis karena rambutnya botak sebelah? Dan.. Bagaimana dia tidak bisa mengenali gadis sombong itu, gadis pertama yang dia sukai? Ya, gadis pertama yang dia sukai.

Apa karena dia tak pernah tau kabar Soojung selama gadis itu di Amerika? Karena Soojung mendapat nama baru di Amerika dan memakainya saat kembali kesini? Atau karena mereka sama-sama berubah selama 12 tahun ini?

Berubah? Ya, fisik mereka memang berubah. Tapi Minhyuk tak yakin kalau rasa sukanya pada Soojung berubah.

“Sekalipun kau merubah namamu, kau tetap tidak bisa tumbuh tinggi, Soojung-ah.” ucap Minhyuk.

Krystal melangkah menuju lokernya dengan semangat. Pagi ini Minhyuk kembali mengajaknya berangkat bersama dan tentu saja mereka kembali seperti dulu. Seperti putri pendek dan penggembala ompong. Bercekcok mulut sepanjang jalan, saling meledek. Namun terasa berbeda, tak ada rasa marah dan adegan kekerasan. Mereka justru tertawa sepanjang jalan dengan ejekan yang saling terlontar.

BRAK!!

Krystal menoleh, memastikan kalau bukan meteor atau komet yang baru saja menghantam loker sebelahnya. Dan sekarang dia berharap kalau itu lebih baik komet atau meteor, dari pada seorang Bae Suzy yang tengah memasang wajah geram ke arahnya.

“Wae?” tanya Krystal tenang, menutupi jantungnya yang berdetak cepat. Dia menebak apa yang akan Suzy lakukan padanya sekarang pasca menyiramnya dengan air di toilet.

“Wae? Kau masih bertanya ‘wae’? Bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya bahkan berkali-kali. Jauhi Kang Min–“

“Aku tau.” potong Krystal.

Suzy mendekatinya, “Kalau kau tau, kenapa kau masih ada di sekitarnya, huh? Berangkat bersama, pulang bersama, makan bersama, berjalan bersama? Kau belum jera dengan kejadian kemarin? Atau aku perlu melemparimu dengan telur, huh?! Kau perlu tau kalau banyak siswi di sekolah ini yang tidak menyukaimu. Dan kau tau apa alasannya kan? Kau bahkan tak bisa membayangkan seandainya mereka menyerang–“

Krystal mendorong pelan Suzy, memotong omelan panjang gadis itu, “Yang aku tidak tau, kenapa kau melarangku dekat dengan Minhyuk? Kau siapa memang?”

Suzy membuang napas pendek dengan kesal, “Bukankah sudah kujelaskan siapa aku dan siapa kami padamu sejak pertama kau masuk disini? Kau belum paham?”

“Tidak. Aku tidak paham. Minhyuk itu manusia ciptaan Tuhan. Tidak ada manusia yang memilikinya kecuali penciptanya. Termasuk kau dan aku.” balas Krystal.

Dia bermaksud pergi dari Suzy namun Suzy mendorongnya hingga menabrak loker. Sakit memang, tapi dia tak mau berteriak. Itu hanya membuat Suzy makin senang bermain dengannya.

“Kelihatannya aku perlu meningkatkan pembelajaranmu, Krystal Jung.”

“Tidak perlu. Aku sudah mendapat tambahan les privat di rumah, Bae Suzy. Terimakasih sudah menawariku.” Krystal tersenyum menepuk pundak Suzy lalu berjalan meninggalkan Suzy yang melongo menatapnya.

“Dia bilang.. Dia bilang apa?” tanya Suzy tak percaya.

Baru kali ini dia menemui gadis seperti Krystal. Gadis yang sulit di peringatkan dan tak mempan diberi beberapa aksi khusus. Krystal berbeda dengan gadis lain yang bisa dia ancam dan dia tundukkan dengan sekali tatapan mata. Suzy hanya menghentakkan kakinya jengkel.

Krystal menghentikan langkah kakinya begitu melihat Minhyuk tersenyum padanya sambil menepuk frame sepeda. Mengisyaratkan seperti biasa.

“Aku ada urusan, kau pulang duluan saja.” kata Krystal.

“Kemana?”

“Emm.. Ke.. Ke toko buku. Iya, ke toko buku.” ucap Krystal lalu menggigit bibir bawahnya.

Minhyuk menyatukan alisnya, melihat wajah Krystal yang terlihat menyembunyikan sesuatu. “Biar kuantar?”

“Tidak!” jawab Krystal spontan, Minhyuk makin menatapnya heran, “Ma.. Maksudku aku ingin jalan-jalan sendiri.”

Minhyuk melipat tangannya, mencium bau-bau kebohongan, “Kau bilang susah mengingat daerah baru.”

Krystal menggaruk kepalanya, “Aku.. Aku kan pernah tinggal disini. Jangan menganggapku seperti orang baru. Aku pasti ingat. Kau mencemaskan gadis cantik ini, ompong?”

Minhyuk tersenyum tak percaya, “Siapa yang mencemaskanmu? Baiklah, hati-hati di jalan.” ucap Minhyuk akhirnya. Dia mengacak rambut Krystal sebelum mengayuh sepedanya.

Krystal menghela napas setelah Minhyuk benar-benar pulang. Tentu saja dia tak benar ke toko buku. Dia hanya mencoba mengikuti ucapan Suzy, kalau dia menjauhi Minhyuk tidak akan hal khusus kepadanya. Bukan karena takut pada Suzy lalu dia melakukan ini, tapi karena lagi-lagi dia merasa dia seorang putri yang tak pantas diperlakukan buruk oleh temannya.

“Kita lihat apa kau perempuan yang bisa menepati ucapanmu, Bae Suzy.”

Lepas 2 minggu sudah Krystal menjauhi Minhyuk. Mulai berangkat dulu sebelum Minhyuk datang dan pulang belakangan dengan alasan yang tiap hari berbeda. Minhyuk tentu menyadari itu, selain di kelas Krystal sama sekali tidak ada di sekitarnya.

“Apa dia membenciku?” batin Minhyuk, mengingat masa kecil mereka yang bisa dibilang tidak akur. Mungkin Krystal akan berpikir ulang untuk berteman dengannya sekarang.

Tidak, Kang Minhyuk. Kau salah. Krystal hanya melindungi dirinya. Dia tetap Soojung yang sombong dan tak mau mengalah. Bahkan kepadamu. Mungkin juga pada dirinya sendiri.

Jungshin sepertinya tak luput juga memperhatikan tingkah Krystal yang akhir-akhir ini lebih pendiam. Awal mereka bertemu, dia mengira Krystal adalah anak yang ceria dan mudah bergaul. Selanjutnya Jungshin dikejutkan dengan sikap ke-pede-an gadis itu. Dan sekarang, beralih menjadi gadis pendiam.

“Dasar multi kepribadian.” batin Jungshin, saat dia melihat Krystal menopang dagu ditemani buku dan cola di meja semen yang terletak 20 meter di bawah lantai tempatnya berdiri.

Dan, yah. Suzy memang bukan gadis yang pantas diragukan ucapannya. Selama 2 minggu ini dia sama sekali tidak memberi materi khusus kepada Krystal, kalau tak memasukkan tatapan sinis yang selalu dia berikan tiap bertemu Krystal.

Dan tatapan sinis bukan hanya milik Suzy seorang.

Siswi disini punya hal itu yang akhir-akhir ini sering mereka tunjukkan ke Krystal. Terutama para pengagum Minhyuk, mereka tak mungkin tak melihat bagaimana dekat Minhyuk dengan siswi baru itu. Yang tentu membuat mereka iri, dan karena tak dapat melakukan apa-apa kepada Minhyuk, Krystal si cantik itu yang mereka beri imbas.

Jungshin hanya mengangkat alisnya sebelum keluar dari ruang olah raga yang kosong. Sekolah memang telah usai dan tujuannya berdiri disana hanya ingin melihat apa yang dilakukan Krystal selesai menolak ajakan Minhyuk untuk pulang bersama.

“Dasar.” ucapnya. Jungshin hendak beranjak dari tempatnya berdiri ketika seorang lelaki menghampiri Krystal. Diamatinya, ternyata Minhyuk.

“Kau juga sama. Dasar.” geleng Jungshin.

Tuk.

Krystal menghentikan tarian jarinya diatas buku sejarah. Ditoleh seseorang yang baru duduk di sebelahnya. Matanya berkedip kaget, Minhyuk tengah memasang cengiran sambil mengulurkan minuman. Lelaki itu menyingkirkan cola Krystal dan menggantinya dengan minuman yang dia bawa.

“Soda tak baik untuk lambung.” Minhyuk mengambil duduk di samping Krystal.

“Kau?”

“Kau bilang ada janji dengan klub barumu, kenapa masih disini?” tanya Minhyuk dengan wajah menyelidik.

“Mereka.. Mereka bilang akan datang terlambat!” Krystal buru-buru mengembalikan pandangannya ke buku, “Kau.. Kau kenapa disini masih?”

Minhyuk tersenyum. Dia tau kalau gadis di depannya ini sedang berbohong, kata-katanya berantakan dan gagap. Ternyata Soojung belum berubah, batinnya. Minhyuk memajukan badannya, pura-pura mengintip apa yang dikerjakan Krystal.

“Aku menunggu seseorang.”

Krystal menggeser duduknya menjauh. Jarak ini terlalu dekat bagi Suzy. Namun sepertinya terlalu jauh bagi Minhyuk. Laki-laki itu malah ikut bergeser mendekati Krystal.

“Kenapa menunggu disini?” tanya Krystal. Dia bergeser lagi.

Minhyuk mengikuti, “Memang tidak boleh?”

“Kan sudah kubilang aku menunggu temanku disini, kalau kau disini bisa memenuhi tempat, bodoh.” Krystal menggeser pantatnya lagi. Kali ini agak irit karena sedikit lagi kursi semen itu mencapai ujungnya.

“Aku juga menunggu seseorang.” Minhyuk masih mengikuti Krystal.

“Tapi jangan disini!”

“Karena aku menunggumu, bodoh! Dan jangan menjauh lagi!” sentak Minhyuk begitu Krystal berdiri hendak pindah ke sisi kosong di belakang Minhyuk.

Krystal mendadak kaget (atau gugup) dengan nada Minhyuk yang tiba-tiba meninggi. Dia kembali duduk akhirnya.

“Wae?” tanyanya jutek.

“Kau bohongkan?”

“Bohong? Apa bohong?” gadis itu mulai berkeringat dingin. Minhyuk tersenyum, entah kenapa itu lucu baginya. Melihat Krystal yang mati-matian berbohong, hal yang sangat jelas bukan keahliannya.

“Soal janjimu dengan teman klub?”

“Tidak.” balas Krystal cepat, “Mengada saja kau. Kalau.. Kalau tidak percaya aku bisa menelpon mereka sekarang.”

“Tidak perlu.” potong Minhyuk cepat, “Aku tau kau tidak menyimpan nomer mereka.” tambahnya begitu Krystal hendak mengambil ponsel.

Mungkin tebakan Minhyuk benar. Terbukti Krystal tak jadi mengambil ponselnya, malah menghela napas panjang.

Minhyuk memajukan badannya, “Kau menjauhiku?” ucapnya dengan volume rendah.

“Mwo? Si.. Siapa yang–“

“Tidak perlu bohong. Aku sudah mengenalmu lama, anak pendek.” potong Minhyuk.

“Kau bilang apa?! Pendek?!” rasa gugup Krystal mendadak hilang berganti dengan panas yang tak tau darimana mulai membakar telinganya.

Krystal membereskan bukunya dan berdiri dengan kasar.

Krek.

Gadis itu membeku. Dia menoleh ke Minhyuk yang didengarnya baru saja bergumam ‘Ups.’ dan memandang ke rok Krystal. Krystal mengikuti pandangan Minhyuk, dia sudah berpikir kalau Minhyuk melihat yang tidak-tidak. Krystal mendelik melihat tangan Minhyuk memegang ujung roknya yang..

Sobek.

Minhyuk tak sengaja menyobeknya saat ingin menahan tangan Krystal. Naas gerakan tangannya kurang cepat hingga tangan yang seharusnya memegang tangan Krystal malah terarah ke rok gadis itu.

Krystal mendelik, “Kang Minhyuk!” giginya gemeletuk bersamaan dengan geramannya.

Minhyuk tertawa takut, “Mi.. Mian.”

Krystal berbalik pelan menghadapi Minhyuk. Nafasnya memburu.

“Kau merobek rokku?” sengit Krystal dengan geraman yang belum berakhir.

“Mianhada–“

“Kau tau ini baru kubeli saat masuk kesini?”

“Mi.. Mianhada. A.. Aku akan belikan yang baru, Krystal-ah.”

“Belikan yang baru?” Krystal mencengkeram jas Minhyuk, “Kau pikir aku tidak bisa beli sendiri?! Aku kan sudah bilang jangan disini! Lihatkan! Jadi aku yang susah! Lalu besok aku harus bagaimana masuk ke kelas, huh?! Telanjang?! Kau mau celanamu juga kurobek seperti ini?!”

Cup!

Sunyi.

Krystal berhenti bercicit(?). Dia menoleh ke Minhyuk yang seperti biasa memasang cengiran lebar ke arahnya, lalu menutupi pipi kanannya sendiri yang baru saja dibuat merah oleh pemilik cengiran aneh itu.

“Kau.. Apa yang kau lakukan?”

“Mencium tuan putri tentu saja. Bukankah pernah kubilang aku suka putri yang pendek dengan gaun yang sobek?” balas Minhyuk santai.

Bhuagh!!

Dan hantaman setumpuk buku Krystal sukses membuat lengkingan Minhyuk keluar.

“Dasar cabul! Kalau ada yang lihat bagaimana?!”

Minhyuk sempat mengaduh sebentar tapi segera memasang cengiran dan merangkul leher Krystal, “Lalu, apa aku harus membawamu ke tempat sepi tersembunyi supaya tidak ada yang melihat? Tenang saja, disini sepi jadi–“

Bhuagh!

Lagi. Buku itu menghantam kepala Minhyuk, “Menjauh dariku, cabul!”

Minhyuk melongo dan bingung memandang Krystal yang berjalan menjauh dengan kerepotan memegangi rok, “Cabul?”

Suzy meremas tangannya. Matanya berkilat marah bak samurai yang siap memecah 5 buah semangka sekaligus menjadi 100 bagian. Kalau saja dia bisa, mungkin hidungnya saat ini sudah mengeluarkan nafas api dan telinganya bisa diumpamakan cerobong asap. Kepalanya cenat-cenut(?) bersamaan dengan matanya yang panas. Gadis itu menyingkirkan dedaunan yang dari tadi dia pakai berkamuflase dengan kasar hingga beberapa bagiannya sobek. Dia segera menyingkir dari tempatnya berdiri.

“Krystal Jung! Kenapa kau begitu menyebalkan?!”

—-

“Dasar bodoh!” Jungshin memukul kepala Krystal membuat gadis itu mengaduh, “Kubilang bukan begini caranya. Kau mengerti tidak, sih?”

Krystal mengusap kepalanya yang sempat menjadi bahan tertawaan beberapa temannya, dia lalu menggeleng pelan, membuat Jungshin memukul kepalanya sendiri.

“Kau terlalu cepat menjelaskan. Apa yang harus dibegini apa yang dibegitu aku tidak mengerti.” gadis itu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

“Kau saja yang terlalu lambat, bodoh.”

“Tidak.” sungut Krystal, “Aku tidak sebodoh itu. Cara Minhyuk menjelaskan lebih cepat daripada kau tapi aku bisa paham dalam sekali jentikan, kau saja yang bodoh.” cibirnya.

“Ya.” Jungshin menatapnya datar, “Kenapa kau tidak minta Minhyuk yang mengajarimu?” tukas Jungshin. Dia bukan tersinggung dengan ucapan Krystal, tapi seakan tertatto jelas di otaknya dan semua siswa disini kalau Minhyuk tak mungkin lemah dalam pelajaran.

Pandangan mata Krystal tiba-tiba tak tau harus melihat ke arah mana. Tepatnya dia sedang berpikir harus membalas omongan Jungshin dengan jawaban apa, “Itu–“

“Krystal Jung!”

Dua kepala itu, ah tidak hanya dua kepala, tapi kepala-kepala lain yang ada di kelas itu langsung menoleh ke pintu yang baru saja mengeluarkan suara seperti di buka dengan paksa. Jungshin menyatukan kedua alisnya melihat siapa yang berjalan cepat dan angkuh menuju bangku yang dia duduki. Bukan, bangku yang Krystal duduki.

“Ya, Bae Suzy. Kau bisa merusak pin–“

“Ikut aku.”

Omongan Jungshin terpotong dengan tangan Suzy yang menyeret tangan Krystal. Jungshin hendak berdiri melihat Krystal nyaris terjungkir, namun Krystal langsung mengisyaratkan Jungshin untuk tidak mengikutinya.

—–

TBC

Hola~

I’m kambek ^_^ Nggak perlu koar panjang-panjang lah, langsung isi kolom komentar dengan isi hati dan pikiran kalian dengan ikhlas(?) ya..

Kamsahamnida J

8 thoughts on “Man in Love (Chapter 2)

  1. Yaaaaaaaaak hyukstal story lagi. Aku kangen ma mereka. Dan ini cerita ringan yg buat senyum2 bacanya.
    Semoga pas bae suzy mau bully krystal ada minhyuk yg datang bak ksatria hihi
    Jungshin bantuin jugalah. Ini cewe2 disana sangar2 kalo udah suka ma sesuatu ya.

    Lanjut author lanjut

  2. Omooo,Minhyuk udah blak-blakan jujur sama krystal . Jingsin kenapa sih? apakah dia suka sama krystal? Hmm. Jangan lama-lama ya thor chapter 3 nya . Semangaaat🙂

  3. huaaa thor… lama sekali.. gw ampe lupa sama cerita awalnya.. -.-
    senangnya author kambek…
    duh suka deh.. feelnya dapet.. itu minhyuk iseng banget nyium2 krystal.. >< ending cium gw aja dah bang.. *eh
    lanjutkan ya thor.. suer ini gw tunggu.. ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s