You’re Mine

You're Mine cover

Author             : Vee

Rating              : PG-16

Genre              : Romance

Length             : Oneshoot

Main Cast        : – Kang Minhyuk

                            – Jung Soojung

Disclaimer       : This is my imagination

Note                : Happy Reading~

—–

Minhyuk Pov

Sekarang aku berada di cafe Reblue, ini merupakan salah satu tempat favorite ku karena disini aku menemukan banyak inspirasiku dan disini juga aku menemukannya. Aku duduk dengan ditemani coffee latte dan beberapa lembar kertas putih yang menjadi tempatku menuangkan semua inspirasiku. Sambil melihat kearah jendela kaca tepat didepanku yang memperlihatkan dengan jelas orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Sedikit demi sedikit kertas putih kosong ini terisi dengan coretan-coretan kecil yang ku buat sedemikan rupa. Aku memang suka menggambar, teramat suka bahkan. Maka dari itu aku memilih untuk masuk Universitas dengan jurusan design.

Pandanganku tiba-tiba saja teralihkan dengan sosok gadis yang baru saja lewat di depan sana. Ia masuk ke dalam Cafe ini dan duduk disudut ruangan tak jauh dari tempatku duduk sekarang. Gadis cantik dengan rambut hitam kecokelatan itu telah mencuri perhatianku, tak ku sangka aku akan bertemu lagi dengannya.

Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya disini, ia duduk ditempat yang sama persis dengan tempatnya sekarang—disudut ruangan Cafe ini. Dia terlihat sangat serius dengan laptopnya, ingin sekali aku menghampirinya dan bertanya siapa namanya, untuk apa dia disini, apa yang sedang ia kerjakan, apakah ia membutuhkan bantuan? Tapi aku mengurungkan niat itu karena takut akan menganggunya. Pandanganku tak terlepas darinya, hampir sekitar lima jam ia berdiam diri dengan laptopnya itu. Dari situlah aku mulai tertarik dengannya.

“aishh jinjja sejelek itukah tulisanku? Sampai-sampai ia menyuruhku untuk merubah hampir seluruh tulisanku ini. Dia tidak tahu hampir setiap malam aku tidak tidur demi menulis cerita ini. Ah benar-benar menyebalkan sekali!” gerutu gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya yang sangat terdengar jelas olehku, ia mengeluarkan laptop dari tas ranselnya dan langsung menaruhnya diatas meja.

Tanpa ku sadari aku tersenyum melihat tingkahnya itu, dia sangat menggemaskan. Aku memperhatikannya lagi, lagi dan lagi. Tanganku mulai sibuk mencoret-coret kertas putih kosong yang baru, sampai akhirnya aku selesai menggambar wajahnya yang cemberut tadi. Kali ini aku memberanikan diri untuk menghampirinya, aku menaruh kertas yang ku buat tadi diatas mejanya dan tanpa berkata apapun aku langsung duduk di kursi kosong tepat dihadapannya.

Tersenyumlah kau terlihat jelek saat kau cemberut seperti itu. Tulisku disamping gambar wajahnya yang cemberut itu.

Dia melihat kertas itu dan langsung menoleh kearah ku, “nuguseyo?” tanyanya.

“Minhyuk. Kang Minhyuk” jawabku sambil mengulurkan tanganku.

“Jung Soojung imnida” Ia menjabat tanganku. Tangannya sangat lembut, walaupun aku hanya bersalaman sebentar tapi aku sangat merasa nyaman.

“kenapa kau cemberut seperti itu? Apa kau ada masalah?”

“Jadi kau memperhatikanku?” tanyanya balik.

Aku hanya membalasnya dengan menganggukan kepala dan tersenyum. Semakin ku perhatikan, semakin aku menyadari kalau dia benar-benar sangat cantik.

“Aku hanya sebal saja, aku sudah menyelesaikan tulisanku ini dalam waktu dua minggu. Tapi Jungshin sunbae bilang tulisanku ini tidak menarik, ceritanya seperti ngambang begitu saja. Padahal aku membuatnya dengan sangat serius, bahkan aku hampir setiap hari tidur larut malam untuk menyelesaikannya. Sangat menyebalkan, bukan?” jawabnya dengan tampang polosnya itu.

“Oh jadi kau seoarang penulis?”

“Bukan, ah maksudku belum. Aku mahasiswi semester dua jurusan sastra, di kampus aku masuk kedalam kelompok penulis cerita fiksi. Kebetulan disana sedang ada kompetisi, dimana yang tulisannya bagus dan menarik akan dibuat menjadi buku dan juga diterbitkan. Sebenarnya itu salah satu mimpiku, untuk bisa menerbitkan buku hasil karyaku sendiri”

Soojung, dia berbeda dengan gadis lainnya. Tidak salah aku tertarik dengannya, bukan hanya cantik dan polos, dia bahkan membuatku ingin terus berada didekatnya. Apakah ada magnet dalam dirinya, hingga membuatku semakin tertarik dengannya?

“Ah jadi seperti itu. Jangan terlalu sedih, aku yakin kok kamu bisa. Untuk mendapatkan sesuatu memang tidaklah mudah, apalagi untuk mewujudkan sebuah mimpi, kau harus berusaha dua kali lebih keras dibanding biasanya” ucapku dengan menatap lekat matanya yang hitam itu.

“Kau benar, sepertinya aku kurang berusaha” jawab Soojung sambil mencoba menarik bibirnya hingga membuat senyuman kecil. “Apa kau mau membaca tulisanku?” tanyanya lagi.

“Bolehkah?”

“Tentu saja” Ia langsung mengeluarkan kumpulan kertas yang sudah digabung menjadi satu dari dalam tas ranselnya. “Tapi setelah kau baca, kau harus beritahuku dengan jujur tulisanku ini bagus atau tidak, eoh?”

Geurae

–oo–

Hampir semalaman aku membaca tulisannya ini, padahal aku masih punya waktu dua hari untuk memberitahunya, tapi entahlah aku ingin cepat menyelesaikannya agar lebih cepat untuk bertemu lagi dengannya. Lagipula aku ini tipe orang yang cukup cepat untuk membaca, jadi tidak perlu waktu banyak untuk membacanya. Dalam waktu sehari saja aku dapat menyelesaikannya.

Akupun kini menunggu Soojung di Cafe Reblue, ia langsung menghampiriku begitu ia tiba.

“Kau sudah membacanya?” tanyanya dengan sedikit terkejut, aku hanya membalasnya dengan anggukan kepalaku. “Whoaa cepat sekali. Lalu bagaimana, apa tulisanku itu jelek?” tanyanya lagi.

“Tidak. Aku rasa tulisanmu itu sudah cukup bagus. Hanya saja aku tidak merasakan feelnya” jelasku.

“Maksudmu?”

“Apa kau pernah merasakan jatuh cinta?”

Soojung terdiam cukup lama, kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan. Sudah ku duga, dia belum pernah jatuh cinta. Dia benar-benar gadis cantik yang polos.

“Pasti kau ingin menertawaiku kan karena diusiaku yang sudah sembilan belas tahun ini tapi aku belum pernah merasakan jatuh cinta” ucapnya.

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, sungguh” aku tersenyum begitu melihat ekspresi wajahnya yang berubah. “Pantas saja. Didalam ceritamu ada seorang gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi setelah aku baca aku sama sekali tidak merasakan hal itu. Aku merasa tulisanmu itu hanya sekedar tulisan yang hambar tanpa ada perasaan didalamnya, sehingga membuat orang yang membacanya pun terasa hambar dan tidak berarti. Alangkah lebih baik disaat kau menulis, kau memposisikan dirimu menjadi tokoh dalam ceritamu itu, karena aku yakin setiap orang yang membacanya pasti akan memposisikan diri mereka seolah-olah merekalah yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Kau hanya butuh menambahkan feeling didalamnya, agar setiap orang yang membacanya akan merasakan dan terbawa akan perasaan yang ada dalam ceritamu”

Soojung terdiam cukup lama, sepertinya dia kini sedang mencerna setiap kalimatku. “Aku akan membantumu” lanjutku

–oo–

Soojung Pov

Aku terus memikirkan apa yang diucapkan Minhyuk, aku juga selalu memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk membantuku. Apa jangan-jangan dia pintar menulis juga? Entahlah. Dia kini selalu ada dalam pikiranku, benar-benar membingungkan.

Hari ini Minhyuk menyuruhku untuk bertemu di pameran lukisan jam sebelas siang. Aku pun mengikutinya, karena sejujurnya aku sangat tidak sabar ingin memperbaiki tulisanku ini.

“Untuk apa kita kesini? Bukankah kau bilang akan membantuku?” tanyaku begitu bertemu dengan Minhyuk yang sudah menungguku.

“Aku ingin memperlihatkan lukisanku” jawabnya yang langsung jalan mendahuluiku.

Ah jadi dia seorang pelukis? Bodoh sekali aku tidak bertanya-tanya tentangnya, padahal aku sudah memberitahu hampir semua tentang diriku padanya. Ia berhenti didepan lukisan seorang gadis yang sedang berada di ilalang yang cukup panjang, gadis itu menaikan kedua tangannya dan rambut panjangnya yang tergerai itu terlihat acak-acakan tertiup angin.

“Kau seorang pelukis ternyata” ucapku.

“Ini lukisan pertamaku, aku tidak terlalu jago melukis sebenarnya. Coba kau perhatikan baik-baik, apa yang kau rasakan begitu melihat lukisan ini?” Tanya Minhyuk, yang membuatku kembali fokus pada lukisannya yang sangat indah itu.

“Bebas, aku merasa orang itu pasti sedang merasa kebebasan. Ia berada ditengah-tengah ilalang yang panjang dan jauh dari keramaian kota. Pasti sangat menyenangkan”

“Itu karena disaat aku melukis aku merasakan kebebasan yang sama seperti gadis yang ada dilukisanku itu”

“Menurutmu lukisan dan tulisan itu sama?” tanyaku bingung.

“Lukisan itu lebih terlihat nyata, orang bisa merasakannya apabila ia melihat. Sementara kalau tulisan, orang harus membacanya terlebih dahulu agar ia tahu apa yang akan terjadi dan barulah ia merasakannya. Tapi menurutku lukisan dan tulisan itu sama, mereka sama-sama membutuhkan perasaan agar orang yang melihat dan membacanya merasakan juga apa yang kita rasa”

Aku menganggukan kepalaku sambil mencerna semua kalimat-kalimat yang Minhyuk ucapkan. “Tapi kenapa perasaan?” tanyaku penasaran.

“Bukankah perasaan itu adalah hal yang paling mendasar dalam hidup manusia? Misalkan, jika kau ingin sekali makan itu pasti karena kau merasa lapar, jika kau dimarahi ataupun diganggu kau pasti akan merasa kesal, jika kau menangis itu pasti kau sedang merasa sedih, kau tertawa atau tersenyum itu juga pasti karena kau merasa senang, kau sedang bersama orang lain kau bisa saja merasa nyaman atau bahkan takut. Itu semua adalah perasaan, Kan?”

Minhyuk benar, semua pasti bersangkutan dengan perasaan. Kenapa aku harus menanyakan hal bodoh itu, seharusnya aku sudah tahu jawabannya. Sekarang aku sedikit mengerti betapa pentingnya perasaan itu.

Setelah puas melihat semua lukisan yang ada dalam pameran ini aku pun mengajak Minhyuk untuk berjalan-jalan dan makan di Myeongdong, karena kebetulan lokasi pameran tadi sangat dekat dari sini. Minhyuk tiba-tiba saja menarik lenganku, jujur aku merasa kaget tapi aku juga merasa senang. Ia mengajakku mendekati dua orang pria yang sedang bernyanyi dengan gitar acousticnya di tengah-tengah sana.

“Mereka juga pasti bernyanyi dengan perasaan kan?” tanyaku.

“Tentu saja” jawabnya.

Aku tersenyum, “Minhyuk-ssi setelah ini kita akan kemana?”

“Apa kau belum mendapatkan jawaban akan perasaanmu?” tanya Minhyuk yang sama sekali tidak aku mengerti.

ne? Apa maksudnya?” Aku mengerutkan keningku, aku tidak mengerti apa yang dia maksud, sungguh.

Ani, aku tidak bermaksud apa-apa” jawabnya dengan senyum jahilnya.

“Ih cepat katakan apa maksudnya itu? Aku benar-benar tidak mengerti” Rengekku

“Mungkin kau memang belum merasakannya”

Aku benar-benar penasaran sekarang, sepertinya ada maksud lain dibalik pertanyaannya itu. Entahlah.

Tanpa ku sadari semakin lama semakin banyak orang yang ikut melihat dua pria yang sedang bernyanyi itu, aku akui dua orang itu memang sangat berbakat dalam hal bernyanyi, suaranya sangat merdu dan sangat cocok dengan lagu bertema cinta yang mereka bawakan, pantas saja banyak orang yang ingin melihatnya. Sekarang ini banyak orang yang menyelak untu masuk barisan, hingga entah disengaja atau tidak mereka menabrakku. Aku hampir saja terpental kebelakang begitu orang yang ada didepanku mundur secara tiba-tiba, untung saja Minhyuk dengan cepat melindungiku, aku kini berada dipelukannya. Aku bisa merasakan dengan jelas detakan jantungnya, aku pun ikut merasakan detakan jantungku yang dua kali lebih cepat dari biasanya.

Gwenchana?” tanya Minhyuk yang terdengar sangat khawatir sambil mengelus puncak kepalaku dengan sangat lembut.

Aku benar-benar merasa takut sekarang, jadi seperti ini berada ditengah-tengah keramaian orang. Pantas saja aku selalu tidak di izinkan untuk pergi menonton konser. Tanpa ku sadari aku menangis, kakiku terasa lemas dan sakit karena terinjak-injak orang yang berada didepanku.

“Tenang saja , aku akan melindungimu” ucap Minhyuk yang entah bagaimana membuat rasa takutku sedikit memudar. Dan rasa nyaman itu mulai muncul.

Minhyuk membawaku keluar dari kerumunan orang-orang yang semakin ramai. Masih dengan lengannya yang memegang erat bahuku. Aku semakin merasa jantungku berdetak lebih kencang lagi. Apa yang aku rasakan ini? ini bukan hanya rasa takut, bukan hanya rasa nyaman, bukan hanya rasa bahagia karena ada orang yang melindungiku, masih ada rasa lainnya yang sampai saat ini belum bisa aku pastikan. Menurutku ini adalah perasaan yang teramat dalam, sehingga sulit untukku ketahui perasaan apa ini sebenarnya. Dan ini adalah untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan aneh ini.

–oo–

Aku dan Minhyuk kini duduk di anak tangga sambil melihat pemandangan Han River dimalam hari. Sebenarnya Minhyuk berniat untuk mengantarku pulang setelah dari Myeongdong tadi, karena kebetulan apartemenku sangat dekat dengan Han river, maka dari itu aku mengajaknya kesini.

“Kau mau kemana?” tanyaku sambil menarik lengan jaketnya. “kau tidak akan meninggalkanku sendiri disini kan?” tanyaku lagi.

Minhyuk tersenyum kearahku, ia melepaskan jaket tebalnya itu dan memberikannya padaku dengan maksud untuk menutupi kakiku yang kebetulan hari ini aku memakai celana pendek. Ah dia benar-benar sosok pria gantleman.

“Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri disini. Aku mau beli minum, kau mau apa?” jawabnya yang membuatku merasa lega, karena dia tidak akan pergi meninggalkanku.

“Hot Chocolate”

“Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana” ucap Minhyuk lagi sambil mengelus puncak kepalaku, lalu ia pergi.

Aku hanya bisa terdiam, aku yakin kini semburat merah ada dipipiku. Untung saja Minhyuk tidak ada disini, kalau dia melihatnya pasti dia akan terus menggodaku. Ya Tuhan, perasaan ini muncul lagi, apa sebenarnya arti dari perasaan ini?

Kakiku terasa sangat sakit, karena penasaran akupun membuka sepatuku dan melihat kakiku yang ternyata merah dan sedikit berdarah. Ini pasti gara-gara keinjak-injak tadi siang, kakiku jadi lecet seperti ini.

“Kakimu sakit ya? Kenapa kau tidak bilang padaku?” tanya Minhyuk yang baru saja datang, dan langsung melihat kakiku yang lecet.

“Tidak apa-apa kok hanya lecet sedikit saja” jawabku yang langsung mengambil sepatuku dengan maksud untuk memakainya kembali. Sebenarnya aku tidak mau sampai Minhyuk melihatnya, ternyata dia datang dengan begitu cepat.

Minhyuk menaruh dua cup Hot Chocolate itu, dia langsung menahan tanganku yang sedang memegang sepatu. Lalu dia mengeluarkan hansaplast dari saku celananya, dan memakaikannya ke kakiku.

Mianhae, karenaku kau jadi seperti ini” ucapnya.

Aniyo, ini bukan salahmu. Aku tidak apa-apa kok, beneran deh” jawabku yang merasa tidak enak melihatnya jadi merasa bersalah seperti itu. Aku tersenyum kearahnya, memastikan kalau aku benar-benar tidak apa-apa.

Minhyuk akhirnya tersenyum kearahku, ia pun kini duduk disampingku dan memberiku Hot Chocolate yang baru saja ia beli. Kita pun hanya saling diam menikmati minuman, sambil menatap langit yang sudah semakin gelap dan lampu-lampu sorot yang terlihat semakin terang, menerangi sepanjang jalan.

“Sudah malam, udaranya juga semakin dingin. Lebih baik kau pulang dan istirahat” ucap Minhyuk tiba-tiba.

Iya sih sekarang semakin dingin, tapi entah mengapa aku sangat tidak ingin pulang sekarang. Aku masih ingin terus bersama Minhyuk, menurutku berada disisinya adalah hal yang sangat nyaman.

“Aku akan mengantarmu. Apartemenmu disebelah sana kan?” tannyanya sambil menunjuk gedung apartemenku.

Aku mengangguk, dan aku pun mulai bersiap-siap untuk berdiri. “Aww” teriakku. Kakiku terasa kaku dan sangat perih.

Gwenchana?” tanya Minhyuk yang terlihat sangat panik. Dia kini berjongkok membelakangiku, “Naiklah, kakimu sakit. Aku akan mengantarmu” lanjutnya.

Aku memandangi punggung Minhyuk yang tepat didepanku. Aku sangat ingin mencoba bangun dan berjalan sperti biasanya, tapi apa daya kakiku terasa sangat sakit sekarang, jika aku memaksa untuk jalan sendiri yang ada kakiku malah semakin sakit. Aku pun akhirnya naik kepunggungnya dan kini tanganku melingkar erat dilehernnya.

“Maaf aku jadi menyusahkanmu” ucapku lirih.

“Tidak, lagipula kakimu seperti itu juga karenaku. Aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuatmu terluka” jawab Minhyuk yang kini jalan sambil menggendongku.

Aku tersenyum mendengarnya, aku yakin Minhyuk pasti dapat merasakan detakan jantungku yang kini berdegup kencang. “Gomawo, kau sudah membantu dan juga mellindungku hari ini. Aku mendapat banyak inspirasi untuk memperbaiki tulisanku, ini semua berkatmu Minhyuk-ssi” kataku.

“Aku senang bisa membantumu”

Minhyuk mengantarku sampai tepat didepan pintu apartemenku. Ia pun menurunkanku dan kini aku berdiri dihadapannya, aku membuka kunci pintu apartemenku sampai akhirnya terbuka.

“Kau mau masuk dulu?” tanyaku.

“Tidak, lain kali saja. Lagi pula ini sudah malam” jawabnya disertai senyum manisnya itu.

“Baiklah, kalau begitu aku masuk ya”

Aku baru saja melangkahkan sebelah kakiku, tapi tiba-tiba Minhyuk menahanku. Ia menggenggam tanganku erat.

“Soojung-ah” panggilnya, akupun dengan cepat menoleh kearahnya dia menatapku dengan tatapannya yang sangat dalam dan penuh arti. Aku bahkan tidak bisa mengartikan sorotan matanya yang begitu menenangkan hatiku itu. “Aku menyukaimu”

“Minhyuk-ssi” Aku benar-benar terkejut, aku bahkan tidak tahu harus ngomong apa sekarang, aku jadi kaku dan salah tingkah. Pipiku memanas, aku pastikan wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus.

“Masuklah ini sudah malam, kau harus istirahat. Aku akan menunggu cerita barumu, eoh?” ucap Minhyuk lagi sambil mengacak-acak rambutku. “Jalja” lanjutnya sembari mencubit pipiku gemas.

“Ah ne. Kau juga pulanglah dan semoga mimpi indah” jawabku kaku, aku langsung masuk ke dalam dan menutup pintu.

Tadi itu Minhyuk menyatakan perasaannya padaku? Dia bilang dia menyukaiku? Lalu aku harus apa? Apakah perasaanku ini sama dengan apa yang ia rasakan? Setiap dengannya aku selalu merasa nyaman, jantungku selalu berdetak lebih cepat dibanding biasanya, aku bahkan sering kali salah tingkah dengan apa yang Minhyuk lakukan, dan aku sangat ingin terus berada didekatnya, aku sangat tidak ingin berpisah darinya bahkan sedetikpun.

Ya Tuhan, apa ini rasanya jatuh cinta?

–oo–

Selama tiga hari ini aku merubah hampir seluruh tulisanku, setelah selesai aku langsung memberikannya ke Jungshin sunbae. Dia bilang akan mempertimbangkan tulisanku, sampai dua hari aku menunggu kepastiannya. Dan akhirnya Jungshin sunbae memberitahuku kalau tulisanku yang memenangkan kompetisi. Itu berarti buku pertamaku akan segera terbit, aku pun teriak histeris begitu tahu, aku benar-benar tidak bisa diam sekarang. Aku sangat bahagia.

Kurang lebih satu minggu aku tidak bertemu dengan Minhyuk, aku hanya berkomunikasi melalui telepon saja. Entah mengapa rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dariku. Aku benar-benar sangat merindukannya, rindu dengan wajahnya yang tampan dan imut itu, rindu dengan senyumnya yang selalu membuatku ingin terus tersenyum, rindu dengan tatapan matanya yang dalam dan penuh arti, rindu dengan suaranya, rindu dengan perlakuan baiknya terhadapku, rindu dengan semua tentang Minhyuk. Rasanya satu minggu tidak bertemu bagaikan satu abad lamanya.

Hari ini aku mengajaknya bertemu di Cafe Reblue, tempat yang menjadi awal mula pertemuan ku dengannya. Sepertinya aku harus berterima kasih dengan Cafe itu dan tentunya aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukanku dengannya.

“Minhyuk-ssi” teriakku begitu aku masuk ke dalam cafe dan melihat dia sudah duduk manis menungguku di sudut ruangan—tempat yang sama persis seperti dulu.

“Soojung-ah” balas Minhyuk sambil melambaikan tangannya kearahku.

Dengan langkah cepat aku menghampirinya, aku pun langsung mengeluarkan buku dalam tas ranselku, “Coba lihat, ini adalah cetakan pertama bukuku” ucapku.

Mwo? Jadi tulisanmu..” Minhyuk menatapku, sekarang aku berani menatap balik matanya. Hingga kini kami saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba saja dia berdiri dari tempat duduknya, ia kini berdiri tepat dihadapanku, “Chukkae” ucapnya sambil mengacak rambutku.

Gomawo, ini semua berkatmu. Aku juga sudah menemukan jawaban dari perasaanku”

“Hm?”

“Jatuh cinta”

Minhyuk semakin menatapku bingung, ia kini menaikan sebelah alisnya. Aku mendekatkan wajahku dan chu~. Entah keberanian dari mana aku mengecup bibirnya singkat, dia tampak terkejut. Aku tersenyum begitu melihat ekspresi wajahnya yang berubah, aku benar-benar sangat menyukainya, dia terlihat sangat lucu.

“Aku menyukaimu Minhyuk-ssi” ucapku sambil memeluk erat Minhyuk. “Joahaeyo” ucapku lagi yang semakin memeluk erat tubuhnya.

Nado” jawab Minhyuk sambil membalas memelukku, dia kini mengelus lembut puncak kepalaku. Sungguh aku sangat menyukainya.

“Mulai sekarang kau adalah milikku, jadi kau jangan melihat gadis lain. Eoh?” ucapku, aku tahu ini berlebihan tapi aku benar-benar takut kalau sampai ada gadis lain yang mendekatinya. “Pokoknya awas saja kalau sampai kau melihat gadis lain, aku akan…”

Dengan cepat Minhyuk mendekatiku, dan dia menciumku bibirku. Oh my.. Minhyuk menciumku. Aku pun akhirnya berhenti bicara. Aku terdiam, aku bahkan bisa merasakan ketulusan cintanya.

Arra” jawab Minhyuk yang kini tersenyum jahil kearahku.

“You’re Mine”

Aku kembali memeluk Minhyuk. Aku sangat bahagia sekarang, sungguh. Aku benar-benar tidak ingin lepas darinya. Sepertinya aku adalah gadis yang sangat beruntung. Ya kan?

THE END

—–

Hallo!

Terima kasih untuk kalian yang udah meluangkan waktu buat baca fanfictku ini^^ jangan lupa tinggalkan jejak yah, like dan comment kalian sangat berarti lho hehe kebetulan aku baru nih disini jadi salam kenal ya semuaaaa. Yang mau follow followan di twitter juga boleh @veraverina ingat, tak kenal maka tak sayang lho/?

Gamsahamnida~

7 thoughts on “You’re Mine

  1. duhileh minhyuk modusnya bisa banget.. :3 bagus thor ceritanya, cuma dipertengahan sampe akhir kaya kurang feel.. hehe.. semangat nulusnya thor.. ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s