Bittersweet Marriage [Chapter 1]

Bittersweet Marriage

Author:  Stephcecil

Main Cast : Krystal Jung, Kang Minhyuk

Support Cast: Oh Sehun, Im Yoona

Lenght : Chaptered

Genre : Marriage life, Romantic, Friendship

Rating : G
Disclaimer : The cast isn’t mine, but the plot is pure based of my imagination.
A/N: FF ini pernah dipost sebelumnya di http://www.koreaafanfiction.blogspot.com
Summary : ” Berkisah tentang Krystal Jung, sang gadis es yang jatuh cinta pada seorang lelaki dengan masa lalu kelam. Mereka terikat dalam sumpah suci bernama pernikahan.”

________________________________________

Krystal POV

Memasuki 2 minggu pertama pernikahan kami, tidak ada perubahan signifikan terjadi. Aku masih bersikap dingin terhadapnya. Aku masih tidak menganggap keberadaan Minhyuk meski kami tinggal di bawah satu atap. Bukankah kondisi kami ini cukup wajar? Mengingat ikatan pernikahan yang terjalin tak lebih dari perjanjian hitam di atas putih. Bagi orang tua kami, mengadakan pernikahan itu semudah merebut lolipop dari anak kecil. Ya, semudah itu pula mereka merenggut kebahagiaanku.

Minhyuk sangat baik terhadapku. Dan harus kuakui, dia adalah pria idaman setiap wanita. Dia memiliki sifat seorang gentleman. Di samping itu, fitur wajahnya cute. Dia memiliki kesan seorang flower boy yang cenderung kekanakan. Dia selalu ramah dan hangat pada semua orang, termasuk padaku, meski pada akhirnya, hanya sikap dingin yang ia terima sebagai balasan.

Namun seluruh hal di atas tidaklah cukup. Sama sekali tidak cukup untuk mengobati amarahku terhadap abeoji, dan pada Minhyuk sendiri. Jika saja abeoji sedikit memperhatikan perasaan anaknya, jika saja Minhyuk menolak perjodohan kami. Tentu semua tidak akan berakhir seperti ini.

Kupandang lekat jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangan kananku. 18.30. Sudah waktunya kuliah dibubarkan. Kenapa dosen satu ini selalu terlambat mengakhiri kelas? Ouh ayolah, aku tidak menggemari hal-hal berbau bisinis. Jika bukan karena ancaman abeoji – melarang bermain piano lagi – tentu aku tidak akan mengambil jurusan bisnis, tapi musik. Dan rasa cintaku terhadap musik mungkin sama besarnya dengan cinta pada eomma, yang meninggal ketika diriku baru menginjak usia 5 tahun. Eomma adalah orang yang mengajariku untuk menggerakan jemari di atas tuts piano. Dialah sosok di balik rasa cintaku terhadap musik. Namun sejak kepergian eomma, tidak ada lagi yang mendukungku untuk mendalami hal tersebut. Sebaliknya, abeoji semakin gemar menjejali otakku dengan bisnis. Dia selalu berkilah jika itu adalah kewajibanku, sebagai satu-satunya penerus perusahaan keluarga.

Aku memutar bola mata dan menatap sang dosen lelaki berambut kribo, mengucap doa dalam hati agar ia segera mengakhiri sesinya. Dan harapan itupun terkabul, karena selang 5 menit kemudian, kelas berakhir. Sontak kuhela napas lega, sebab akhirnya aku dapat kembali ke rumah dan mengistirahatkan tubuh. Segera kukenakan tas ransel di punggung dan melajukan langkah bersemangat. Namun aktivitas tersebut terhenti seketika, begitu mendapati sosok familiar yang berdiri di ambang pintu kelas.

Oh Sehun.

***

“Bagaimana hubunganmu dengannya?“ Sehun bertanya dengan nada santai. Mungkin kalimat tanya tersebut terdengar sedikit abstrak bagi orang lain, namun tidak bagi Krystal. Tanpa dijelaskan lebih lanjutpun, ia telah mengetahui ‘dia’ yang dimaksud oleh Sehun.

Krystal mendesah pelan seraya terus melajukan langkah, menyusuri hallway kampus yang tergolong luas dan mewah. Tentu saja, Jung Sang University hanya diisi dengan para mahasiswa kaya, kelompok elite. Tak terkecuali Sehun, sahabat lama Krystal. Dia merupakan anak dari pemilik Shinwoo Hospital, rumah sakit internasional yang memiliki cabang hingga ke luar negeri. Namun untung bagi Sehun, dia tidak harus menjadi penerus bisnis keluarga layaknya Krystal. Dia memiliki seorang kakak laki-laki yang akan menggantikan ayah mereka kelak.

“Sepupumu masih bersikap baik padaku.“ Krystal mengedikkan bahu, memberi jeda sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “Aku tidak tahu sampai kapan dia akan membuatku terus merasa seperti ini.“

Sebelah alis Sehun tertarik ke atas, penasaran. Kemudian ia menoleh pada Krystal, “Merasa seperti apa?“ yang dijawab gadis itu, “Merasa tidak enak. Dia baik padaku, sedangkan aku selalu dingin padanya.“ ia kembali menghela napas dalam.

Sang lawan bicara terkekeh pelan. Krystal sontak melempar tatapan tajam menusuk pada Sehun. “Kenapa kau tertawa?“ Sehun menggeleng seraya menahan tawa, “Tidak. Hanya saja kau sangat lucu”

Mendengus kesal, sang gadis pun menghentikan langkah. Begitupun Sehun. Kemudian Krystal menoleh dan menyipitkan mata. Ekspresi suntuk gadis itu jelas menunjukkan bahwa ia tengah kesal pada seorang Oh Sehun. Jika saja pria ini bukan sahabatnya, pasti Krystal telah mencecarnya habis dengan kalimat sarkastik. “Pfft.. katakan padaku, Oh sehun. Sisi mana dari kisah menyedihkan ini yang kau anggap lucu?“ Sedikit melebih-lebihkan memang, namun bagi Krystal tak ada kata lain yang lebih tepat untuk melukiskan kondisinya kini.

“Err.. kurasa semuanya? Coba bayangkan saja, ada manusia es yang berpasangan dengan pemuda seramah sepupuku.“ jawab Sehun dengan nada mengejek. Ia bahkan menjulurkan lidah pada sang gadis yang tengah mendelik kesal. Namun tak lama kemudian sebuah jitakan keras mendarat mulus di dahi Sehun, membuat ia meringis kesakitan. Dan ketika ia mendongak, giliran sang pelaku yang terkekeh geli.

“Yah! Jung Soojung, kemari kau!“

Teriakan Sehun tak digubris oleh Krystal. Gadis itu sibuk melarikan langkah menuju halaman parkir kampus. Sedangkan di belakangnya, Sehun terus mengikuti seraya menggerutu kesal. Namun seulas senyum sempat tersungging menghiasi wajah Sehun. Senyum sekilas dengan sejuta makna.

***

Seusai kuliah, Krystal tidak langsung pulang ke rumah. Sebaliknya, ia menerima ajakan Sehun yang menawarkan untuk makan malam bersama. Di samping Sehun dapat mengantar ia pulang selesai makan –kebetulan ia tidak membawa mobil sendiri hari itu- Krystal juga malas menemui Minhyuk di rumah. Bukan apa-apa, hanya saja suasana canggung selalu mendominasi jika ia bersama Minhyuk. Dan ia tidak menggemari hal tersebut.

Krystal tengah bergelung dengan steak di piringnya. Entah kenapa, makanan tersebut susah sekali dipotong. Tidak biasanya begini. Apa mungkin steaknya dimasak kurang matang? Bisa jadi. Kerutan muncul menghiasi kening Krystal, seiring dengan ekspresi seriusnya. Tanpa ia sadari, Sehun mengulum senyum ketika menyaksikan tingkah gadis tersebut. Jujur saja, ia ingin tertawa lepas karena Krystal seolah mengerahkan seluruh tenaganya demi memotong seonggok daging.

“Aigoo.. kau bahkan tidak bisa memotong steak?“ Sehun menyeret piring Krystal ke hadapannya dan memotong steak dengan sekali sayatan. Ia menggeleng tak percaya sebelum akhirnya mengembalikan piring Krystal pada posisi semula. “Lihat. Ini sangat mudah.“ cibir Sehun.

Krystal hanya memutar bola mata. Jengah dengan tingkah merendahkan Sehun. Lagipula dia tidak dapat sepenuhnya menyalahkan Krystal. Toh, daging itu memang sulit dipotong tadinya. Ia tidak ambil pusing dengan ejekan Sehun dan terus melanjutkan acara makannya. Untung bagi Krystal, daging-daging berikutnya tidak susah dipotong, sehingga ia tak perlu mendapatkan bantuan Sehun lagi.

“By the way, apa kau menyukai dia?“

Pertanyaan mendadak Sehun direspon Krystal dengan anggukan pelan, “Kenapa tidak? Dia orang yang baik dan ramah…“ ia memberi jeda sebelum menambahkan, “Tidak sepertimu.“

Namun kalimat pedas Krystal tak diacuhkan oleh Sehun. Ia lebih terfokus pada hal lain, yang sontak membuat ia mendelik terkejut. “Ja-jadi.. kau benar-benar menyukainya? Sebagai lelaki? Secepat itukah? Tapi kalian belum lama saling mengenal!“

Krystal meletakkan sendok-garpunya, menyesap wine, dan menjawab pertanyaan bertubi-tubi sahabatnya dengan tenang. Memasang tampang datar. Terlampau tenang malah, jika dibandingkan dengan reaksi Sehun yang begitu heboh. “Berhenti disana, Oh Sehun. Kau manusia baboo. Bukan ‘suka’ seperti itu yang kumaksudkan.“

“Lalu rasa ‘suka’ seperti apa?“

Krystal memandang lekat Sehun seraya menelengkan kepalanya. “Sejenis rasa ‘suka’ terhadap kenalan atau teman biasa. Rasa suka seperti…“ ia berhenti sejenak dan memandang langit-langit restoran, seolah berusaha mencari kalimat yang tepat. “Well, seperti ‘aku tidak membencimu’ tapi aku juga tidak ‘menyayangimu’ jadi itu berada di tengah.“

Sehun mengangguk-angguk mendengar penjelasan Krystal. Hingga kemudian sebuah ide terlintas di benaknya, “Kalau begitu, bagaimana denganku? Kau juga menyukaiku?“ binar penuh harap mendominasi kedua manik hitam Sehun, sembari menunggu jawaban positif sang gadis.

Bukan tanpa alasan julukan ‘manusia es’ melekat pada diri Krystal. Contohnya saja kali ini, ketika ia dengan ringannya meruntuhkan harapan Sehun dengan kalimat, “Kau? Oh, tentu saja kau berbeda Oh Sehun. Aku membencimu.“

Sehun mendengus kesal dan mendekap kedua tangan di depan dada. Ia nyaris menyuarakan protes terhadap ucapan pedas Krystal, saat indra penglihatannya menangkap sosok familiar. Seorang pria baru saja memasuki restoran italia tempat mereka berada sekarang. “Itu Hyung! Minhyuk Hyung!“ seru Sehun seraya melambaikan tangan pada orang itu.

Terkejut, Krystal pun turut menoleh pada sosok yang dituju Sehun. Benar. Itu adalah Kang Minhyuk. Kini dia tengah membalas lambaian tangan Sehun dan berjalan menuju tempat mereka. Tak lupa dengan seulas senyum hangat yang melekat di wajahnya. Di sisi lain, entah mengapa Krystal menjadi gugup. Dan kadar kegugupan ia kian meningkat, ketika Minhyuk menarik kursi kosong tepat di sebelahnya dan mendaratkan pantatnya di sana.

“Kebetulan sekali kita bertemu disini, Sehun-ie!“ ujar Minhyuk bersemangat. “Yeah Hyung! Ngomong-ngomong, apa kau kemari seorang diri?“ tanya Sehun.

Minhyuk terkekeh pelan sebelum menjawab, “Seharusnya aku kemari dengan rekan kerjaku, tapi tiba-tiba saja dia membatalkannya.“ kemudian tepat setelah itu, Seorang pelayan menghampiri Minhyuk dan menanyakan apa yang ingin ia pesan. “Satu porsi Spaghetti Bologneise dan cola.” Sang pelayan mengangguk mengerti lalu segera berlalu pergi.

Sementara itu, Krystal tengah bertingkah seolah ia buta dan tuli. Bukan apa-apa, hanya saja ia merasa agak risih dan tidak nyaman dengan kehadiran Minhyuk. Ia menyibukkan diri dengan steak yang tinggal separuh. Dalam hati kecilnya, ia juga berharap semoga Minhyuk tidak mencoba untuk membuka percakapan dengan dirinya. Sebab jika iya, maka dapat dipastikan hanya kecanggungan yang terasa.

Well, setidaknya ia aman untuk saat ini, sebab Minhyuk terlanjur larut dalam percakapan dengan sepupunya sendiri, Oh Sehun.

“Bagaimana dengan perusahaan paman, Hyung?“

Minhyuk mengedikkan bahu, “Semua berjalan lancar. Tidak ada hal spesial.“

“Kau merasa bosan bekerja, Hyung?“ pertanyaan tepat sasaran Sehun membuat kedua alis Minhyuk terangkat seketika. Heran. Bagaimana pula Sehun dapat menebak apa yang ia pikirkan? Kemudian ia menghela napas dalam dengan sedikit berlebihan, sebelum menjawab, “Kau benar sekali. Mengurus perusahaan membuatku lelah sekaligus bosan.“ Minhyuk memutar bola mata dengan gaya berlebihan, yang membuat Sehun semakin larut dalam gelak tawa.

“Kau sangat beruntung Sehun-ie. Ada Minho Hyung yang akan menggantikan posisi appa kalian.“ ucapnya lagi. Sehun hanya mengangguk setuju.

Beberapa menit pun berlalu dengan keadaan yang sama: Krystal berpura-pura tidak mendengar atau melihat Minhyuk, sedangkan Minhyuk-Sehun asyik dengan obrolan mereka sendiri. Setelahnya, makanan yang dipesan sepupu Sehun datang, dan ia pun sibuk mencerna spaghetti tersebut. Frekuensi obrolan diantara mereka otomatis berkurang. Tentu saja, kau dapat tersedak jika makan sembari berbicara.

Dan rupanya dewi fortuna sedang tak berpihak pada Krystal saat itu. Sebab tepat ketika makanan di piring Sehun telah ludes tak bersisa, ponselnya menerima sebuah panggilan –entah dari siapa- yang membuat ia berkata harus jika ia harus pergi sekarang juga. Sontak Krystal melempar tatapan tajam menusuk pada Sehun. Tapi sang pemuda hanya memamerkan deretan gigi putihnya.

“Maafkan aku guys. Tapi aku benar-benar harus pergi.“ Sehun beranjak dari kursinya dan menggenakan tas ransel di punggung. “Oh ya, Soojung-ah, berhubung ada Minhyuk hyung, Kau bisa pulang bersamanya, kan? Aku tidak bisa mengantarmu pulang sekarang. Mianhae! “ kembali Sehun memasang cengiran lebar, membalas reaksi Krystal yang menatapnya dengan pandangan tak percaya. Kemudian Sehun pun bergegas pergi dari restoran.

Setelah sosok Sehun menghilang sempurna, Krystal sibuk mencecar Sehun dengan berbagai sumpah serapah –tentunya dalam hati. Ia menyalahkan ketidakpekaan Sehun yang membuat ia terjebak dalam situasi tak nyaman seperti ini. Ia menghela napas dalam dan menyibukkan diri dengan steak di piring. Tatapan Krystal tertunduk ke bawah, seolah enggan memandang sosok manusia lain di hadapannya.

Kurang lebih 10 menit sudah keheningan menggelayuti atmosfir di antara mereka. Sesungguhnya, 10 menit tadi terasa bagaikan 1 jam bagi Krystal. Kemudian Krystal pun menghabiskan makanan di piringnya, dan berlagak ingin segera pergi dari sana.

“Kau mau kemana? Toilet?” pertanyaan Minhyuk ditanggapi dengan gelengan kepala Krystal. Dan sebelum pria itu bertanya lebih lanjut, ia bergegas menjelaskan, “Aku akan pulang ke rumah.“ ujarnya seraya bangkit dari kursi. Ia hampir berlalu dan mengenyahkan diri, ketika Minhyuk ikut bangkit dari duduknya. “Aku akan mengantarmu pulang, lagipula kau tidak membawa mobil, kan?“ Minhyuk tersenyum ramah.

Dahi Krystal berkerut heran. Sedetik kemudian ia menunjuk makanan di piring Minhyuk. Masih tersisa banyak spaghetti di sana. “Makananmu belum habis.“

Kini giliran Minhyuk dilanda keheranan,”Lalu kenapa?“ ia bertanya seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Ya, setidaknya begitulah pikirnya. Namun jelas berbeda bagi Krystal, karena gadis itu mendecakkan lidah menyaksikan tingkah Minhyuk.

“Kau tidak boleh menyisakan makanan. Apa kau tahu, seberapa banyak orang kelaparan di luar sana? Mereka menderita karena tidak bisa mendapatkan makanan. Nah, sedangkan yang kau lakukan sekarang ini sungguh tidak etis.“ komentarnya panjang lebar. Sementara Minhyuk sibuk tercengang di tempat. Well, ada dua alasan yang membuat ia seperti ini. Pertama, selama hampir 2 minggu ia tinggal dengan Krystal, belum pernah kalimat sepanjang tadi terlontar dari bibirnya. Dan kedua, ia tidak percaya bahwa Krystal Jung, sang manusia es, sesungguhnya memiliki hati yang lembut.

Melihat Minhyuk yang hanya diam, Krystal membuat hipotesa sendiri di kepalanya. Ya, ia berpikir jika Minhyuk akan tetap berada di restoran dan menghabiskan makanannya, sekaligus membiarkan Krystal pulang seorang diri. Ia pun membalikkan badan, namun baru satu langkah ia berjalan ke arah pintu keluar, ia merasakan seseorang mencengkeram lengannya. Otomatis Krystal menoleh dan mendapati suaminya sebagai sang pelaku. “Apa?“ sentaknya dingin.

“Aku tidak dapat membiarkanmu pulang sendirian.“ Minhyuk melirik jam tangannya. “Ini sudah malam.“ ia kembali menatap Krystal, sedangkan yang ditatap sibuk memasang ekspresi jengah. Setelah melepaskan tautan tangan mereka secara kasar, ia mendekap tangan di depan dada.

“Lalu?“

“Bisakah kau menungguku sebentar? Aku akan makan secepat kilat dan pulang bersamamu.“ ada binar penuh harap di kedua manik hitam Minhyuk. Oh ayolah, mana sanggup Krystal menghindar dari puppy eyes itu? Dalam kasus lain, dengan serta merta Krystal pasti menolak tawaran tersebut. Tapi pria yang berdiri di hadapannya ini merupakan suaminya sendiri, Kang Minhyuk. Ia sendiri tidak tahu mengapa tatapan tersebut mampu melelehkan sikap dinginnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang merasuki dirinya, hingga pada akhirnya Krystal menanggapi permintaan Minhyuk dengan anggukan singkat.

***

Ia bergelung dengan selimut tebal dan merubah posisi tidurnya untuk kesekian kali malam itu. Setelah beberapa menit kembali berlalu dengan sia-sia, ia memutuskan untuk menyerah dan mengaktifkan indra penglihatannya. Ia menghela napas dalam. Krystal bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk bersila di atas ranjang. Ia menghela napas lagi, ketika melirik jam yang bertengger di meja samping tempat tidur, menyadari jika jarum jam telah menunjukkan angka 1.30 PM. Sudah lewat tengah malam, dan ia belum dapat terlelap.

Krystal memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Beberapa menit kemudian, ia telah menyibukkan diri di tempat itu, berusaha membuat segelas susu untuk ia sendiri. Ya, mungkin segelas susu hangat dapat merangsang kantuknya

Ia mendaratkan pantatnya di salah satu kursi ruang makan. Setelah sebelumnya meletakkan segelas susu di atas meja. Pandangannya menyapu seantero ruang makan. Hening. Kosong. Tentu saja, Minhyuk pasti telah terbang ke alam mimpi di kamarnya. Krystal dan Minhyuk memang memutuskan untuk tidur dalam kamar berbeda, demi mengantisipasi terjadinya ‘kejadian yang tidak diharapkan’.

Krystal menyesap minumannya. Dan cairan tersebut melaju lembut melewati kerongkongan, memberi sensasi nyaman nan hangat baginya. Namun aktivitas Krystal terhenti seketika, begitu pintu kamar Minhyuk terbuka lebar dan menampakkan sosok pria ‘berantakan’. Bagaimana tidak? Rambut Minhyuk acak-acakan, kacamata bacanya melorot turun ke hidung, dan kedua manik penglihatan yang memerah terserang kantuk.

Apa pria itu terbangun tengah malam?

Seraya memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, Krystal mengamati gerak-gerik sang suami yang melajukan langkah menuju dapur . Ia tidak tahu apa yang Minhyuk lakukan di sana. Hingga tak lama kemudian, aroma kopi semerbak merasuki indra penciuman Krystal. Pria itu keluar dari dapur dengan secangkir kopi dalam genggaman tangan kanan. Kemudian ia menarik kursi tepat di hadapan Krystal dan duduk di sana.

Kang Minhyuk meneguk kopinya dalam diam. Seolah ia tak mengacuhkan keberadaan manusia lain di hadapannya, Krystal. Di sisi lain, Krystal kembali menyibukkan diri dengan susu hangatnya. Namun ketika ia mendongakkan kepala, wajah Minhyuk adalah hal pertama yang ia lihat. Ia sempat terkejut, mendapati kelelahan yang tertuang jelas dalam wajah pria tersebut. Dan jika dipikirkan lebih dalam, memang tak mengherankan jika ia lelah. Setelah pernikahan mereka 2 minggu lalu, ayah Minhyuk menyerahkan segala urusan perusahaan di tangannya. Kelelahan pasti telah menjadi hal familiar bagi Minhyuk.

Sang pria meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Ia berdeham kecil, membuat Krystal –yang tadi melalang buana- kembali pada kenyataan. “Kenapa kau memandangiku seperti itu?“ Minhyuk mengulum senyum geli. Sementara Krystal menjadi salah tingkah. Gadis itu buru-buru menggeleng, “Tidak. Siapa bilang aku ‘memandangimu’? Aku hanya melamun. Itu saja.“ kilahnya.

Minnhyuk tidak percaya dengan ucapan Krystal, namun ia memilih untuk membiarkan sang gadis. Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan mendekap tangan di depan dada. Pandangan ia terarah ke langit-langit, memikirkan topik lain untuk dibahas.

Well, ini canggung.

Beberapa menit selanjutnya diisi oleh kesunyian. Kedua bibir terkatup rapat. Namun tidak lagi, setelah salah satu di antara mereka berbicara dan membelah keheningan tersebut. Dan sesungguhnya, ini mengejutkan. Berdasarkan fakta bahwa Krystal Jung lah yang membuka percakapan.

“Kau belum tidur?“

Minhyuk terkejut. Kedua manik hitam membulat sempurna. Jelas saja, siapa yang menyangka jika sang manusia es, sudi berbicara dengannya? Atau lebih tepatnya, berbicara lebih dulu. Karena Minhyuk sibuk tercengang dengan tindakan sang gadis, ia tidak menyadari jika ia larut dalam diam. Cukup lama, hingga lawan bicara menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Minhyuk.

“Hei, kau tidak apa?“

Kang Minhyuk pun terseret kembali ke alam sadarnya. Ia mengerjapkan mata sekali. Dua kali. Dan setelah yakin jika Krystal yang tadi bertanya, ia bergegas menjawab. “Emm.. yeah. Ada beberapa pekerjaan yang belum selesai.“ Ia menggaruk belakang kepalanya, yang sesungguhnya tak terasa gatal sama sekali.

Berlawanan dengan sikap Minhyuk –canggung. Krystal memilih untuk menyeruput gelas minumannya, dan kembali berbicara dalam intonasi santai. “ Pasti kau sangat sibuk. “ ia meletakkan gelas tersebut di atas meja. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku nantinya. Mengurus perusahaan ayah? Ouh yang benar saja.“ Krystal mendesah pelan.

Minhyuk terkekeh. “Kau benar-benar membenci tipe pekerjaan ini?“

“Sangat. Aku tidak tahan berada di depan layar komputer dalam waktu lama. Atau mengurus surat-surat. Atau bertemu dengan para klien. Apalagi memimpin rapat!“ Krystal menggeleng keras. Bahkan dahinya mengernyit, seolah jijik dan tak sudi melakukan hal-hal yang baru ia sebutkan.

Cara krystal berbicara tampak begitu lucu di mata Minhyuk. Ia sibuk mengulum senyum geli seraya mengamati gerak-gerik gadis tersebut. Dia menarik. Dan sebenarnya, siapapun yang mengenal seorang Krystal Jung pasti menganggap ia menarik. Dia cantik, pandai, kaya, berkharisma. Namun ‘menarik’ disini memiliki arti lain bagi Minhyuk terhadap Krystal.

Ia bertopang dagu dan memposisikan sikunya di atas meja sebagai tumpuan. Kedua manik hitam memandang lekat sang gadis penyandang marga Jung.

“Kau tahu? Aku lebih memilih untuk melakukan pekerjaan rumah –yang sebenarnya sungguh kubenci. Tapi aku bahkan lebih suka melakukan itu daripada berurusan dengan pekerjaan kantoran. Aigoo, Sehun sangat beruntung. Bocah tengil itu memiliki Hyung yang akan menggantikan ayah mereka kelak. Tidak seper-“ perkataan panjang lebar Krystal tersendat di lidah. Begitu menyadari jika sepasang mata lain sibuk mengamati ia.

“Ada yang aneh dariku?“ tanpa dikomando, Krystal bergerak cepat mengecek sekujur tubuhnya. Barangkali ia menggunakan pakaian aneh? Rambutnya berantakan? Ada sesuatu di wajahnya? Probabilitas terakhir membuat ia nyaris beranjak dari sana dan berjalan ke ruang utama – dimana terletak cermin besar. Namun Krystal mengurungkan niat, begitu Minhyuk berucap, “Tidak ada yang aneh denganmu.“ dengan nada geli.

Krystal menjadi lega seketika. Namun tidak lama, karena sesuatu bergegas mengusik pikirannya. “Jika tidak, lalu kenapa kau me-“ perkataannya terpotong oleh Minhyuk. “Ini sudah hampir pagi. Besok kau tidak ada kuliah?“

Pertanyaan itu membuat ia tersadar. Krystal melirik jam yang bertengger di pergelangan tangan kanannya. Pukul 2.00 KST. Bagus sekali. Besok ada kuliah pagi yang diajar oleh Cho sonsaengnim-sang dosen killer. Dan jika ia tidak tidur sekarang juga, bukan hal mustahil ia diceramahi habis-habisan karena telat. Krystal mendesis kesal dan beranjak dari kursi.

“Ah, Yeah, kurasa aku harus pergi tidur sekarang. Selamat malam.“ pamit Krystal kemudian berlalu pergi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah suara membuat ia terhenti seketika. “Selamat malam. Tidurlah dengan nyenyak.“ Krystal menoleh demi melihat sosok Minhyuk yang tersenyum hangat padanya. Ia mengangguk singkat dan kembali berjalan menuju kamar.

Setelah wujud Krystal menghilang sempurna di balik pintu, tinggalah Minhyuk seorang diri di ruang makan. Ia menatap gelas susu Krystal yang masih separuh tersisa. Dan kemudian seulas senyum misterius pun menghiasi wajahnya.

***

Pagi itu sinar matahari menembus melalui jendela kamar Krystal. Ia menggeliat di tempat tidurnya. Mengaktifkan paksa indra penglihatan dan menggerutu kesal, menyadari jika dirinya lupa menutup rapat gorden tadi malam. Ia bergegas bangkit dari kasur dan menutup gorden.

Krystal melakukan peregangan singkat seraya berjalan keluar kamar. Ia melirik jam di dinding ruang utama. 06.45. Ya, ia bangun cukup pagi. Krystal beranjak ke dapur dan menenggak segelas air putih. Setelahnya, ia mendaratkan pantat di sofa ruang utama. Berleha-leha disana. Krystal dapat bersantai sepuas yang ia mau hari itu, sebab ia tidak memiliki jadwal kuliah.

Tiba-tiba saja ia mendengar suara erangan seseorang. Krystal mengerutkan dahi. Berbagai pikiran buruk merayapi benaknya. Apa mungkin itu hantu? Ah, tapi ini masih pagi! Ia segera menepis kemungkinan tersebut dan memilih untuk menajamkan indra pendengarannya. Namun sayang, tidak lagi terdengar suara apapun. Atas dasar rasa penasaran yang menerpa, ia mendekat ke arah sumber suara. Ia cukup yakin jika suara tadi berasal dari kamar Minhyuk.

Tunggu, kamar Minhyuk? Apa terjadi sesuatu dengan orang itu?

Kali ini sebersit kekhawatiran mulai mendominasi. Tanpa membuang waktu lebih banyak, ia membuka pintu kamar pria tersebut. Untung saja tidak terkunci dari dalam. Dan begitu sekat pemisah ruangan itu terbuka lebar, kedua manik hitam Krystal otomatis terkunci pada sosok yang tengah bergelung di balik selimut. Wajah Minhyuk pucat pasi, dan kau dapat melihat jelas bulir-bulir keringat yang mengaliri pelipisnya. Ekspresinya terlihat tak nyaman.

“K-Kau tidak apa?“ Minhyuk tidak merespon pertanyaan sang gadis yang berdiri di ambang pintu itu. Sensasi panas-dingin di sekujur tubuh lebih dari cukup untuk mengalihkan perhatian Minhyuk. Krystal pun tahu jika sesungguhnya kalimat tadi berupa pertanyaan retoris. Ia sudah tahu jawabannya, melihat kondisi Minhyuk kini yang jelas jauh dari definisi ‘tidak apa-apa’.

Krystal berdiri di sisi ranjang Minhyuk dan membungkuk sedikit untuk menyentuh dahi pria itu dengan telapak tangannya. Panas. Ini terlalu panas. Krystal menjadi panik seketika. Ia tidak pernah berurusan dengan orang sakit sebelumnya. Karena ada dokter keluarga yang akan menangani tiap anggota keluarga Jung ketika salah seorang jatuh sakit. Bagaimana ini?

Entah darimana ia mendapatkan inisiatif untuk beranjak menuju dapur, kemudian kembali dengan sebaskom air es dan handuk kecil. Ia berlutut di samping ranjang Minhyuk. Kedua tangan Krystal tak henti-hentinya bergerak untuk mengganti handuk –berfungsi sebagai kompresan- yang ia posisikan di dahi pria itu. Di sisi lain, mata Minhyuk tetap terpejam dan sesekali bergerak gelisah dalam tidurnya.

Detik berganti menit, dan tak terasa pula Krystal menghabiskan waktu 2 jam untuk ‘menjaga’ pria itu. Namun atas dasar kantuk yang menyerang, ia telah pulas sejak 1 jam lalu. Krystal terlelap di samping ranjang Minhyuk, dengan posisi berlutut –menggunakan ujung samping kasur sebagai bantalan kepala. Namun perjalanan Krystal berkelana menuju alam mimpi terusik, ketika suara gumaman tak jelas tertangkap indra pendengarannya.

“Yoon… Yoon..“

Sontak Krystal terbangun seraya mengucek matanya, ia menajamkan telinga untuk memastikan sumber suara. Dan tak perlu waktu lama sesungguhnya, sebab Minhyuk kembali bergumam tak jelas, “Yoon…“

Kerutan terlukis di dahi sang gadis penyandang marga Jung. Ia mendekatkan kepala demi mendengar lebih jelas apa yang Minhyuk katakan. Sementara telapak tangannya kembali ia tempelkan ke dahi Minhyuk, mengecek suhu tubuh pria itu. Masih panas.

Ketika Krystal hendak menyingkirkan tangannya –dan mengganti kompresan Minhyuk- tiba-tiba saja pria itu menggenggam erat tangan Krystal. Ia merasakan sensasi aneh merayapi tubuh, ketika kulitnya bertemu kontak dengan Minhyuk. Tangan pria itu dingin, namun entah mengapa Krystal malah merasa hangat.

“Jang..an.. per..gi.“ kelopak mata Minhyuk terbuka lebar. Dan Krystal menjadi terkejut. Bukan. Bukan karena pria itu telah ‘sadar’. Melainkan karena ‘sesuatu’ yang ia lihat dalam kedua manik hitam milik sang pria. Ada sesuatu yang kosong disana. Kosong bercampur rindu. Seolah ia pernah kehilangan sesuatu terpenting di masa lalu, tidak akan pernah kembali. Ia tidak mengetahui dengan jelas apakah itu. Namun satu hal yang pasti, pria ini tengah mengalami demam tinggi, dan pikirannya tidak ‘sadar’ penuh.

Hipotesa terakhir Kystal jelas terbukti, saat Minhyuk menatap lekat Krystal secara tak wajar. Ia pun merasa aneh, risih, dan prihatin dalam waktu yang sama. Bagaimana tidak? Tatapan tersebut terlampau intim. Kau dapat merasakan cinta, rindu, sekaligus kepedihan disana.

“Yoon.. kumohon.. kembalilah.“

Dan detik itu pula, manik hitam Krystal membulat sempurna. Sensasi menggelitik mendominasi tubuh ia. Membuat sekujur raga lemas seketika. Ia tidak pernah berada dalam situasi ini sebelumnya. Ya, situasi dimana sebuah benda hangat nan lembut bertemu kontak dengan bibirmu.

Minhyuk mencium Krystal.

***

Setelah ‘insiden’ ciuman tersebut. Situasi canggung diantara mereka kian memburuk. Tampaknya Minhyuk memang tak sepenuhnya ‘sadar’ ketika ia melakukan hal tersebut. Namun begitu kondisinya pulih, ingatan akan insiden itu menghantui pikirannya. Ia telah meminta maaf pada sang gadis. Sedangkan Krystal bersikap seolah ia tidak mengambil hati tindakan Minhyuk. Itu hanya kecelakaan. Tentu saja.

Namun sesungguhnya, jauh di dalam sana, ia sangat peduli, yang menjadi alasan Krystal menghindari Minhyuk. Dan malam ini pun tak terkecuali. Karena tepat disaat Minhyuk menginjakkan kaki di dalam apartemen mereka. Sontak Krystal –yang sejak tadi menonton TV di ruang utama- memilih untuk menghentikan aktivitasnya dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Minhyuk seorang diri di sana, dengan sejuta tanda tanya di kepala.

Well, bukannya Krystal membenci Minhyuk atau apa. Lagipula Minhyuk juga tak sepenuhnya sadar ketika melakukan ‘itu’. Namun entah mengapa, ia merasa secercah ketidaknyamanan kerap menerpa, saat ia bersama Mihyuk. Perasaan aneh. Dimana canggung, gugup, dan malu berbaur menyatu.

Krystal menghela napas dalam. Ia memejamkan mata, seraya otaknya terus terfokus pada satu hal. Pertanyaan yang terus mendominasi pikiran ia semenjak insiden tersebut.

Siapakah ‘Yoon’ itu?

***

Few Days Later

Krystal memutar kenop pintu apartemen –setelah jemarinya bergerak menekan password. Seulas senyum terkembang di bibir, membuat wajah cantiknya kian menawan. Bagaimana tidak? Hari ini dosen pengajar berhalangan hadir, jadi setelah absen, para mahasiswa diijinkan langsung pulang. Dan kebetulan pula hari itu Krystal tidak memiliki jadwal kuliah lain.

Ah, waktunya untuk bersantai di rumah!

Kebahagiaan ia tidak bertahan lama. Sebab begitu menginjakkan kaki di dalam apartemen, sosok seorang pria tengah berleha-leha di sofa ruang utama, menjadi hal pertama yang ditangkap indra penglihatannya. Kang Minhyuk.

Sekali lagi, Krystal tidak sedang berusaha ‘menghindari Minhyuk’. Mungkin hanya sedikit. Salahkan saja Kang Minhyuk yang secara’paksa’ merenggut ciuman pertamanya. Maka dari itu –seraya berlagak cuek- Krsytal memilih untuk cepat-cepat melepas dan meletakkan sepatunya di rak, agar ia dapat bergegas masuk ke kamar. Namun dewi fortuna sedang tak berpihak pada Krystal sore itu, sebab Minhyuk telah menyadari keberadaan ia disana.

“Kau sudah pulang?“ Minhyuk mengalihkan pandang dari TV dan menatap Krystal –yang tengah meletakkan sepatunya di rak- sang gadis tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk singkat. Kemudian ia bergegas berjalan ke kamarnya, namun baru sekitar 2 langkah, suara familiar tersebut kembali terdengar.

“Ayo temani aku keluar. Hanya sebentar saja.“ tawaran mendadak Minhyuk sudah jelas akan berujung pada penolakan Krystal. Namun amat disayangkan, sebab hanya gumaman tak jelas meluncur dari bibir ia, “Ehh? Emm..aku..“ . Minhyuk mendecakkan lidah, bangkit dari kursi, dan mematikan TV. Dalam sekejap, tangan kanan Krystal telah berada dalam genggaman erat Minhyuk, seraya sang pria menyeret ia keluar dari apartemen.

***

Gadis itu mendesah pelan seraya mengarahkan pandangan pada jendela kaca kedai. Sesungguhnya tidak ada hal menarik diluar sana. Hanya beberapa pejalan kaki berlalu lalang. Namun Krystal tak ambil pusing, ia memilih untuk ‘melihat’ pemandangan dari balik jendela, dibandingkan berdiam dengan pikiran kosong. Duduk bertopang dagu, tak urung rasa jenuh mulai merayapi diri. Namun beberapa menit kemudian, sebuah suara familiar tertangkap indra pendengaran ia, sontak membuat gadis itu menoleh, hanya demi menyaksikan visual tak asing yang kini berjalan ke arah Krystal.

“Maaf jika aku terlalu lama. Kau lihat sendiri, antrian di sana cukup panjang.“

Krystal memandang melewati bahu Minhyuk. Dia benar, antrian di kedai es krim tersebut cukup panjang. Suatu hal yang tak mengherankan memang, berdasarkan fakta bahwa matahari tengah menunjukkan kebolehannya, menyinari bumi dengan kadar panas di atas rata-rata. Krystal kembali memfokuskan tatapannya pada Minhyuk dan dua es krim yang berada dalam genggaman pria itu. Satu vanilla chocochip untuknya, dan chocolate untuk sang pembeli.

Krystal hanya menggumamkan terimakasih pada Minhyuk, begitu dia menyodorkan salah satu mangkuk es krim pada Krystal. Mereka pun menikmati es krim masing-masing dalam diam. Tidak ada yang berbicara. Hingga keheningan berubah menjadi kecanggungan. Minhyuk tak tahan dalam situasi ini –berhubung pribadi ia sehari-hari cenderung hangat nan ceria- dan memutuskan untuk mencairkan suasana.

“Bagaimana rasanya?“

Krystal sempat dibuat bingung, dengan maksud kalimat tanya yang diajukan Minhyuk. Rasa? Rasa apa? Perlu waktu beberapa detik baginya untuk menyadari jika es krimlah yang menjadi maksud Minhyuk. Ia pun menjawab singkat, “Cukup enak.“

“Aku suka jika kau menikmatinya.“ Krystal mendongak –meninggalkan sejenak vanilla chocochipnya- dan sedikit terperanjat melihat seulas senyuman di wajah Minhyuk. Hangat. Begitu hangat. Membuat sensasi aneh nan menggelitik mendominasi perutnya. Merasa tak nyaman, Krystal bergegas kembali melakukan aktivitas semula –menghabiskan es krimnya.

Entah mengapa, begitu dua anak manusia itu bertemu. Atmosfir di antara mereka kerap kali terasa canggung. Tak terkecuali kini. Dimana Minhyuk kehabisan bahan pembicaraan dalam kepala, sementara Krystal tak ambil pusing dengan kesunyian yang ada.Untungnya tidak berlangsung lama. Sebab, Minhyuk memutuskan untuk mengajukan suatu pertanyaan. Suatu hal yang terlampau sensitif. Ia sebenarnya sedikit heran, darimana pula ia mendapatkan keberanian untuk menanyakannya?

“Kenapa kau membenciku?“

Sedingin apapun pribadi seorang Krystal Jung. Ia masih memiliki perasaan, dimana ia menjadi responsif pula pada kalimat yang baru meluncur melalui bibir Minhyuk. Sontak, ia menghentikan acara makannya. Dan menelengkan kepala, “Kenapa kau berpikir aku membencimu?“

Minhyuk menggaruk bagian belakang kepalanya –yang tak terasa gatal sama sekali- dan bergumam tak jelas sebelum akhirnya menjawab, “Kau selalu menghindariku.“ dia melihat Krystal hendak menyela ucapannya, namun bergegas ia melanjutkan, “Tidak hanya setelah ‘insiden’ itu. Bahkan ketika kita pertama kali bertemu pun, kau bersikap sangat dingin dan.. engg.. angkuh.“

Dahi Krystal berkerut. Dan Minhyuk tak tahu apa yang tengah dirasakan sang gadis. Namun karena Krystal tak berkata apapun, ia memilih meneruskan penjelasannya. “Awalnya, kupikir itu adalah kepribadianmu. Tapi, melihat bagaimana sikapmu terhadap Sehun, kurasa dugaanku itu salah. Jadi, aku ingin tahu apakah aku melakukan suatu kesalahan? Well, selain karena insiden ‘itu’ tentunya.“

Krystal terdiam mendengar penjelasan panjang lebar Minhyuk. Ia menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Minhyuk menatap Krystal dengan sorot resah berbaur takut. Ya, ia takut jika amarah gadis itu tersulut karena ucapan blak-blakannya. Dan sikap Krystal bukannya menjadi lebih ramah –seperti yang ia harapkan- namun semakin dingin. Dan angkuh. Dan dingin. Dan Lebih dingin.

Minhyuk baru dapat menghembuskan nafas lega, ketika sang gadis berdeham pelan, kemudian berucap, “Aku hanya akan mengatakan ini satu kali. Jadi sebaiknya kau dengarkan baik-baik.“ ia melipat tangan di depan dada. Pandangannya datar, membuat Minhyuk seolah membeku di tempat. Dan Entah bagaimana, aura Krystal terasa begitu mendominasi. “Pertama, aku tidak membencimu. Aku hanya memiliki kesulitan bersosialisasi dengan orang lain. Terutama dengan makhluk asing sepertimu–” ia menunjuk Minhyuk tepat di depan wajahnya. “ – yang tiba-tiba saja masuk dalam kehidupanku. “

“Jadi maksudmu.. ?“

Krystal mendesah pelan seraya mengedikkan bahu. “Beri aku sedikit waktu, oke? Ini sulit bagiku. Dan kau membuat semua ini menjadi lebih sulit karena ‘kecerobohanmu’“ Tidak membutuhkan waktu lama bagi Kang Minhyuk untuk mencerna kata terakhir. Dimana ‘kecerobohan’ yang dimaksud Krystal, tak lain dan tak bukan, merupakan insiden ciuman 2 minggu lalu. Dan demi Tuhan, Minhyuk bersumpah melihat semburat merah muda di kedua pipi Krystal.

Dia malu?

Ada dua hal yang menaungi benak Minhyuk kala itu. Pertama, fakta bahwa Krystal Jung tidak membencinya. Kedua, sebuah realita dimana sang manusia es – sedingin apapun ia- dapat merona malu karena sebuah ciuman. Dan hal-hal tersebut membuat Minhyuk larut dalam gelak tawa. Ia tahu jika tingkahnya kini jauh dari kata sopan. Namun ia tidak dapat menahannya lagi. Di sisi lain, kedua alis krystal saling bertaut, terusik rasa heran akan alasan di balik tawa Minhyuk.

“Kenapa kau tertawa?“ ia memandang Minhyuk dengan sorot mata seolah ia tengah berhadapan dengan alien, atau sejenis makhluk asing tak teridentifikasi. Minhyuk bergegas mengontrol tawanya, berdeham pelan demi memulihkan suara, kemudian menggeleng kecil. “Tidak ada. Hanya saja, kau tampak menggemaskan.“

Sepanjang perjalanan hidup Krystal, belum pernah seorangpun mengatakan jika ia menggemaskan. Ouh, ini hanya… tidak masuk akal. Ia mendengus kesal. “Berhentilah bercanda, Kang Minhyuk.“

Minhyuk tak mengindahkan nada dingin dalam suara Krystal. Dia mendecakkan lidah, kemudian sudut bibir kanannya terangkat ke atas, membentuk senyum separuh yang terkesan jahil. “Oke, saya akan mematuhi perintah anda, tuan putri.“ Minhyuk menundukkan kepala, seolah memberi hormat. Sementara Krystal kembali mendengus dan memalingkan wajah. Memilih untuk mengalihkan pandang ke luar jendela. Sekali lagi tersuguhkan ‘pemandangan’ para pejalan kaki berlalu lalang. Bukan apa-apa, hanya saja ia tidak ingin Minhyuk melihat seulas senyum tipis penghias wajahnya kini.

Ya, Krystal tersenyum karena Minhyuk. Dan detik itu pula, jantungnya berdebar abnormal. Aliran darah Krystal berdesir tak karuan. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan kini. Namun ada satu hipotesa muncul dalam otaknya.

Mungkinkah.. Mungkinkah ia memiliki perasaan pada pria itu?

Mungkinkah Krystal menyukai Minhyuk?

.
.
.
TBC

5 thoughts on “Bittersweet Marriage [Chapter 1]

  1. Kerenn…
    Suka banget sama cerita dan karakter krystal sama minhyuk disini..
    baru kali ini aku nemu ff yg pass banget
    gomawo eonnie

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s