Love is no big truth [chapter 6]

LINBT cover

Author: kim sung rin / 

Rating: PG16 ,

Genre: romace, AU

Length: chaptered

Main Cast:

– Lee Jonghyun

– Lee Jungshin

– Cho Soo Yeon [OCs]

– Ga In [OCs]

Other Cast:

– Jung Yonghwa

– Kang Minhyuk

– Cho Kyuhyun [Super Junior]

– Choi Jonghun [FT Island]

-Park Chanyeol [EXO]

-Lee Yuri [OCs]

Disclaimer: Terinspirasi dari salah satu lirik lagu yang berjudul Love is no big truth , selebihnya ceritanya milik saya.

[Teaser] [1] [2] [3] [4] [5]

Special thanks buat readers FF ini :

arniejayanti9087alvianantiapionamasyer, Chokyulatte_ika @Guyguy90, Moniedhikaparamitha, christie, chankqy, fitri,, ima, Miss Burningsoul ♬, nana, maya, Suharti Kautsar,Resti Burningsoul ♬, diana, vwahyu86Mita miftahul, Fuzie Boice Mayanti, Hyui, Han_, ayuni, yeowangdayu

LOVE YOU GUYS! :*

***

Aku bisa merasakan jemari-jemari halus itu mulai menggenggam jemariku dengan erat. Kecupannya membuat gejolak halus yang berputar di perutku. Aku berusaha membuka mataku walaupun rasanya gelap sekali. Dan dia sedang memandangiku dengan wajah cemasnya, yang terakhir kulihat saat kami berdua bertengkar masalah Ga In.

Soo Yeon terkesiap menatapku yang berusaha bersandar di kepala tempat tidur milik Yonghwa hyung. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, dan sedetik kemudian dia mencoba melepaskan genggamannya.

“J…jonghyun.” Soo Yeon Nampak terkejut ketika jemarinya kembali kuraih mengisi ruang-ruang diantara jemariku dan meletakkannya diatas dada kiriku, membiarkannya mengetahui degupan jantungku yang berpacu.

“Kenapa susah sekali bicara baik-baik denganmu, Soo Yeon ah.” Kataku pelan, “Aku menunggu waktu lama sekali untuk bisa berdekatan denganmu seperti sekarang ini.”

“Kau sendiri yang membuatku membencimu. Kau tidak percaya terhadap sahabatmu sendiri  dan perlu kau tahu itu menyakitkan.” Bulir air mata Soo Yeon mulai mengumpul di pelupuk matanya, kemudian satu persatu mengalir membasahi pipinya.

Aku menatapnya dengan sendu. Memang semua ini salahku sendiri, kalau aku yang berada diposisi Soo Yeon tentu aku tidak akan semudah itu memaafkan. Apalagi dia bilang dia mencintaiku?

Aku menghela air matanya, aku benar-benar bodoh membiarkan wanita cantik seperti ini menangis karena pria brengsek sepertiku.

Uljima,” aku menatapnya memaksakan tersenyum walaupun rasanya kepalaku berat sekali, “kedua mata berbinarmu itu tak pantas menangis.” Tak ada jawaban kecuali suara isak tangis Soo Yeon yang –sudak kupastikan- ditahannya agar tidak terdengar Jungshin ataupun Yonghwa hyung diluar sana.

“Maafkan aku Soo Yeon ah,” kataku lagi, “Aku pria yang brengsek kan?”

Soo Yeon terkekeh pelan dan menggenggam tanganku erat. Kedua mata kami  bertemu dan saling terkunci disana, hingga akhirnya kecupan di bibir tidak terelakkan lagi.

Ehmmm,” deheman dari Jungshin di ambang pintu membuat kami berdua buru-buru melepaskan tautan bibir kami. Soo Yeon tampak kaget sekali dan Jungshin? Jangan ditanya, terlihat sekali wajahnya kesal dan rasanya dia ingin memukulku sekali lagi.

“Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu dengan Soo Yeon kau bisa makan bubur ini dan minum obatmu.” Kata Jungshin sambil bersender di lemari pakaian Yonghwa hyung, “Dan kau Soo Yeon, kalau kau sudah selesai dengan urusanmu dengan Jonghyun kau bisa pulang. Aku tidak mau diamuk oleh Kyuhyun karena kau mempunyai jam malam.”

Soo Yeon hanya menunduk, bahkan menatap wajah Jungshin yang berkata dengan dingin saja dia tidak mau. Ini sedikit aneh, apa mungkin Soo Yeon…menyukai Jungshin?

“Kau tidak apa-apa kan?” aku mencoba bertanya padanya setelah Jungshin keluar dari ruangan ini. Soo Yeon hanya tersenyum kecil, “Aku baik-baik saja.” Katanya masih melirik pintu kamar Yonghwa hyung yang sudah tertutup.

“Maafkan perbuatanku tadi, tak seharusnya aku mengecup…”

“Sudahlah,” Potong Soo Yeon tak mau banyak bicara, “Aku akan memastikan buburmu habis sebelum aku pulang, jadi kau harus makan ini okay?
~~~

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Soo Yeon, Jungshin tidak bicara apa-apa kecuali menyuruh Soo Yeon memakai seat belt saat mereka baru masuk kedalam maybach landaulet milik jungshin. Kejadian Jonghyun mencium Soo Yeon tadi memenuhi kepalanya. Rasanya dia ingin membenturkan kepalanya agar ingatan itu terhapus. Tapi itu perbuatan bodoh, kepalanya akan sakit dan kejadian itu belum tentu bisa hilang dari kepalanya.

Sedangkan Soo Yeon, gadis itu berusaha mengatupkan mulutnya agar tidak bersuara dan menanyakan sikap Jungshin saat ini. Kedua matanya asik mencuri pandang kearah Jungshin, tapi entah mengapa dia merasa bersalah sekali begitu melihat rahang jungshin yang mengeras seperti menahan marah.

“Kita sudah sampai.” Suara Jungshin memecah lamunan Soo Yeon yang kemudian mulai membuka seat belt nya.

“Terima kasih sudah mau mengantarkanku,”

Saat Soo Yeon ingin keluar dari mobil Jungshin, tangan Jungshin menahan tangan gadis itu sehingga membuatnya kembali terduduk dan disandingkan dengan wajah nya yang tak tergambarkan bagaimana ekspresinya.

“A..apa?” Tanya Soo Yeon.

Jungshin menatap Soo Yeon lama, menelisik manik mata Gadis itu sampai-sampai ia tidak sadar bahwa itu membuatnya sedikit tidak nyaman.

W…wae? Kau ingin berbicara sesuatu?” Soo Yeon berjengit, berusaha untuk tetap membuat jarak diantara mereka berdua.

Jungshin menyadari itu, bahwa mungkin perilakunya terlihat mengerikan bagi Soo Yeon. Dia kemudian melepas genggaman di pergelangan tangan gadisnya itu kemudian hanya tersenyum lebar kendati sangat terlihat bahwa itu tidak natural.

“Aku hanya ingin bilang kerjakan skripsimu, Bodoh! Tiga bulan lagi kita sudah sidang! Kalau kau ingin cepat lulus seharusnya kau tidak main-main lagi, kau mengerti?”

Soo Yeon tersenyum. Ini merupakan semangat pertama yang didapatnya dari lelaki selain ayah dan kakaknya Kyuhyun. Dia kemudian meninju pelan lengan Jungshin sebagai tanda terima kasih darinya.

“Aku tidak akan melupakan nasihatmu, Mr. Jungshin!” balas Soo Yeon, “Dan sebaiknya aku masuk sebelum Oppa mengamuk kepadaku. Kalau kau mau tahu, sebenarnya kau sudah melewati satu jam dari jam malamku.” Soo Yeon terkikik geli setelah Akhirnya mengucapkan selamat jalan kepada Jungshin.

Jungshin hanya menatap punggung Soo Yeon yang menjauh dan hilang dibalik pintu pagarnya yang berwarna coklat itu.  Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada Soo Yeon, menjelaskan bahwa dia cemburu dan dia tidak suka lelaki bernama Jonghyun itu masuk kembali kedalam kehidupannya. Bagaimana hatinya terbakar saat melihat Jonghyun mengecup bibir Soo Yeon. Namun Jungshin hanyalah Jungshin yang statusnya tidak melebihi ‘teman’ bagi Soo Yeon.  Jadi dia tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa terdiam seperti sekarang ini.

Bunyi ponsel Jungshin memecah lamunannya, sedikit terperangan dengan seseorang yang menelponnya tiba-tiba seperti ini.

“Halo Ga In, apa kau baik-baik saja?”

***

Kyuhyun kali ini tidak menceramahi Soo Yeon yang pulang melewati jam malamnya, hatinya terlalu bahagia untuk dirusak dengan hal semacam mengomel malam itu.  Terbukti saat Soo Yeon masuk, Kyuhyun hanya menyuruhnya istirahat dan minum secangkir coklat panas yang sudah tersedia di pantry.

Soo Yeon tak bisa tidur. Pikirannya asik menjelajah ke kejadian saat dirumah Yonghwa tadi. Saat Jonghyun menciumnya, tentu saja. Jantungnya pun berdegup saat dia membayangkan bibir Jonghyun mengecupnya, tapi entah kenapa hatinya bertolak belakang sekali. Dia tidak merasa senang ataupun berbunga-bunga. Dia merasa datar saja, seperti itu hanya sebuah permintaan maaf yang tulus dari seorang sahabat walaupun –memang- tidak seharusnya mengecup bibir sih.

Ada satu hal yang mengusik So Yeon saat ini, yaitu Jungshin. Entah kenapa dia khawatir dan peduli terhadap perasaan Jungshin, tapi jika dilihat dari perilakunya tadi kelihatannya dia tidak baik-baik saja.

Ponsel Soo Yeon bergetar, dari nomor yang tidak dikenal. Sebenarnya Soo Yeon malas sekali membuka pesan. Tapi dia pada akhirnya men-touch layar ponselnya untuk membaca pesan tersebut.

Terima kasih kau sudah datang. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua tadi, tapi Jonghyun terlihat semakin membaik.

Jung Yonghwa

Soo Yeon menghela napas lega, setidaknya kali ini dia tidak perlu memikirkan Jonghyun lagi. Kini hanya satu yang harus benar-benar dia pikirkan dan kerjakan saat ini –Tugas Akhirnya.

***

Jungshin berjalan perlahan mendampingi Ga In menuju Kafetaria Rumah sakit yang sudah sepi. Seharusnya Ga In berada dikamarnya saja, karena ini jam istirahat  untuk pasien. Tapi dia bersikeras untuk keluar, dan memanfaatkan Jungshin sebagai tamengnya jika berpapasan dengan suster jaga di rumah sakit itu.

“Kau yakin sudah baik-baik saja?” Jungshin duduk berhadapan dengan Ga In di meja panjang kafetaria. Ga In tersenyum kecut, “Aku baik-baik saja, kau bisa lihat sendiri. Aku masih harus menggunakan infus ini sampai besok sore.” Sahutnya begitu mengerti arah pandang Jungshin ke besi penyangga infus yang harus diseret bersamaan dengan Ga In.

Jungshin membulatkan mulutnya tanda mengerti. Ini canggung sekali baginya. Biasanya memang dia bercerita banyak hal bahkan membacakan sebuah novel.  Tapi itu terjadi karena Ga In tidak sadarkan diri. Sebelumnya memang dia menjadi tempat sandaran Ga In, tapi itu tak berlangsung lama karena kecelakaan ini. Jungshin tidak pernah berfikir akan secanggung ini jadinya saat dia benar-benar bertemu dengan Ga In lagi.

“Aku tau kau menjagaku selama aku koma beberapa waktu yang lalu,” Ga In menyodorkan dua batang coklat merk favoritnya kehadapan Jungshin, “Setelah kupikir-pikir aku tidak tahu membalas kebaikanmu dengan apa. Karena coklat adalah sesuatu yang manis dan banyak disukai banyak orang, jadi aku memutuskan untuk memberimu ini. Maaf jika kau tidak suka, aku hanya punya coklat saat ini.”

Jungshin tersenyum. Dia bisa melihat ketulusan Ga In dibalik binar manik mata gadis itu. Dia tidak sejahat yang dikiranya selama ini, karena telah melukai Soo Yeon. Well, semua orang pasti punya sisi baik kan?

Jungshin mengambil coklat itu, membukanya dan menyodorkannya kepada Ga In.

“Aku melakukan ini karena aku peduli kepadamu, kau kan sudah mengakui kesalahanmu jadi kau tidak perlu seperti ini. Kau temanku, ingat itu oke?”

Mata Ga In berkaca, dia tidak menyangka lelaki jangkung dihadapannya ini begitu tulus menjadi tempat sandarannya sekaligus teman yang selama ini tak benar-benar dia miliki.

“Aku ingin bertemu dengan Soo Yeon, aku harus minta maaf dengannya.” Kata Ga In menerawang. Dia ingat betul bagaimana Soo Yeon menderita karena tujuan bodohnya untuk mendapatkan Yonghwa. Dia tidak tau bahwa perasaan Soo Yeon begitu tulus kepada Jonghyun dan dia merusak persahabatan serta perasaan tulus itu diantara mereka berdua.

“Kau yakin ingin bertemu dengannya?” Ga In mengangguk tak sabar, “Aku tidak pernah seyakin ini. Lagipula, ini kan memang salahku, bukankah sudah seharusnya orang yang salah meminta maaf?”

Jungshin mengangguk kemudian tersenyum. Dia senang bahwa semuanya mungkin akan berjalan baik-baik saja terutama hubungan Ga In dan Soo Yeon. Dia tak ingin kedua gadis ini berperang dingin hanya karena masalah sepele –karena laki-laki.

Ga In kemudian memberanikan diri untuk menggenggam tangan Jungshin yang dingin. Jungshin jelas terkesiap tapi dia hanya mampu bertanya melalui matanya.

Gomawo,” jelas Ga In, “Kau  berperan penting sekali dalam semua ini dan juga kesembuhanku. terima kasih karena kau telah menemaniku selama ini.”

Jungshin tersenyum kemudian balik menggenggam tangan Ga In.

~~~

Yonghwa mentapa Jonghyun seperti ayah yang sedang memperhatikan anaknya. Sudah Sekitar sebulan ini Jonghyun hidup seperti biasanya. Lelaki itu banyak berubah setelah dia dan Soo Yeon berbaikan, nafsu makannya kembali normal dan tatapan sendu itu bukan lagi menjadi santapan Yonghwa sepanjang hari, karena semua itu sudah sirna begitu saja.

“Kau suka padaku hyung?” Jonghyun bertanya acuh tak acuh sambil menjejalkan lobak kimchi kedalam mulutnya. Yonghwa terkesiap dan berdecak pelan.

“Kau gila ya? Aku akan menikah tiga bulan lagi dengan seorang wanita dan kau masih bilang aku menyukai lelaki yang punya mulut sebesar cabinet ini?”

Jonghyun terkekeh pelan kemudian mengambil lobak kimchi lagi, menjejalkannya bersamaan dengan nasi dan kuah sup yang disesap langsung dari mangkuknya.

“Kau menatapku seperti itu sih, jadi kupikir kan kau punya kemungkinan untuk…”

Ya!” Potong Yonghwa kesal, dan itu membuat Jonghyun tertawa semakin kencang.

“Aku bercanda hyung,” jelas Jonghyun, kali ini dia menaruh sumpitnya. Perutnya sudah tidak muat lagi menampung semangkuk nasi dan aneka macam side dish yang terpampang dihadapannya kendati mulutnya masih ingin memproses kesemua makanan itu.

“Habisnya kau menatapku seperti itu sih, ada yang ingin kau bicarakan?”

Yonghwa sementara hanya bisa menggeleng karena sebelum Jonghyun melontarkan pertyanyaannya dia sedang menyuapkan sesendok penuh nasi diiringi sepotong besar bulgogi dan kimchi.

“Aku hanya senang akhirnya kau normal lagi,” jawab Yonghwa setelah beberapa detik, “Aku sudah tidak mau lagi mengurus zombie dirumah ini.”

Jonghyun tertawa kali ini, setelah meneguk segelas air putih untuk melegakan tenggorokannya.

“Setelah kupikir-pikir, aku lemah sekali pada saat itu. Tapi, itu menjadi pelajaran bagiku. Untuk tidak melukai seorang wanita. Aku sudah cukup malu memperlihatkan sisi lemahku selama ini.”

“Baguslah kalau kau sadar,” Yonghwa kali ini mengikuti jejak Jonghyun untuk tidak mengunyah lagi karena perutnya serasa ingin meledak. “Kau harus menyaring omongan orang, apalagi jika kau tidak melihat dengan mata kepalamu sendiri.”

“Jadi, bagaimana?”

“Apa maksudmu hyung?” Jonghyun mulai membersihkan meja makan, membuat Yonghwa sejenak membelalak tek percaya.

“Bagaimana hubunganmu dengan euhmmmm Soo Yeon? Apa kalian baik-baik saja?”

Jonghyun terdiam sejenak kemudian dia memilih menyalakan keran air, mengisi keheningan yang berlangsung beberapa saat. Dia tidak tau ingin menjawab apa, karena memang setelah kejadian pingsan dan minta maaf itu dia tidak pernah bertemu dengan Soo Yeon.

Jonghyun mengedikkan bahunya setelah selesai mencuci piring, “Kami baik-baik saja.”

Yonghwa memicingkan matanya, “Apa kau yakin? Kapan terakhir kalian bertemu?”

Jonghyun menatap Yonghwa, dengan kedua tangan yang berkacak di pinggang dan seringai diwajah tampannya.

“Kurasa itu bukan urusanmu hyung.” Kata Jonghyun.

Ya!” Jonghyun merasa mukanya menjadi sedikit gelap. Ya, Yonghwa baru saja melempar lap meja dan itu mendarat mulus di wajah tampan Jonghyun.

~~~

Soo Yeon keluar dari kelas dengan wajah yang luar biasa sumringah. Skripsinya sudah menyentuh bab terakhir dan dia hanya perlu me-revisi beberapa bagian sebelum dia mendapatkan tanda tangan pengesahan skripsi dari Dosen Pembimbing untuk nantinya diajukan ke sidang Skripsi.

Rasanya dia ingin berteriak dan berputar-putar layaknya penyanyi dalam film India, tapi dia memutuskan untuk menyimpan kebahagiaan itu sampai dia benar-benar sampai ke rumahnya.

“Soo Yeon, Cho Soo Yeon.” Suara berat itu membuat Soo Yeon berpaling dan mencari-cari sosok yang tengah berteriak memanggil namanya. Dan disitulah dia, sangat mudah dikenali lantaran tubuh jangkungnya yang melebihi satu kepala gadis-gadis yang sedang berpindah menuju kelas selanjutnya.

“Lee Jungshin, kau disini?” pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja. Dia tidak ingin bertemu Jungshin ataupun Jonghyun, sebenarnya. Bukan karena benci, tapi Soo Yeon merasa dia harus menjauh sejenak dari kedua pemuda yang belakangan ini menginterupsi hari-harinya.

“Kau lupa aku juga mahasiswa dikampus ini?” Seringai Jungshin. Soo Yeon hanya terkekeh pelan menanggapi pernyataan itu alih-alih mengamati penampilan Jungshin. Wajahnya terlihat sedikit tirus dan dia mengecat rambut coklatnya dengan warna hitam, membuatnya dua kali terlihat berkarisma dan tampan.

“Kau tidak ada acara kan setelah ini?”

“Tidak sih, memangnya ada apa?”

“Kalau begitu kau ikut aku.” Jungshin menarik tangan Soo Yeon yang tak hanya bisa diam dan mengikuti jejak Jungshin.

~~~

Semerbak harum Kopi menyambut kedatangan Jungshin dan Soo Yeon. Gadis itu masih tidak tahu kenapa dia dibawa ketempat seperti ini, terlebih Jungshin mengajaknya ke lantai dua dimana lantai tersebut mempunyai ruangan yang lebih tertutup dan biasanya ditempati oleh orang-orang yang ingin pertemuannya berlangsung lebih privasi.

Jungshin menuju ruangan yang lain yang berada di ujung di lorong sebelah kanan. Walaupun lantai dua ini lebih tertutup karena dibatasi ruang-ruang, namun Soo Yeon masih bisa meraskan semerbak harum kopi yang  sama saat dia memasuki café ini lima menit yang lalu.

Soo Yeon dapat melihat seseorang gadis sedang duduk diruangan itu melalui sebuah kaca sebelum Jungshin membuka pintu dan mempersilahkan Soo Yeon untuk masuk.

“Ga..Ga In?” Gadis yang dipanggil namanya itu menoleh. Dengan tubuh yang lebih kurus dan wajahnya yang masih terlihat pucat dia berdiri menyambut kedatangan Soo Yeon. Tak lupa juga sebuah senyuman hangat yang membuat Soo Yeon berhambur untuk memeluknya.

Ga In Tampak terkejut bukan main, dia melirik Jungshin yang masih di depan pintu dan memilih untuk menunggu mereka diluar ruangan café itu.

“Kau sudah benar-benar pulih?” Soo Yeon mengamati Ga In selagi gadis itu mempersilahkan Soo Yeon untuk duduk diberhadapan dengannya.

“Kelihatanya bagaimana?” Tanya Ga In. Soo Yeon mengedikkan bahunya. Walaupun sebenarnya dia ingin sekali bilah bahwa Ga In terlihat pucat dan seharusnya berbaring saja dan menikmati secangkir coklat panas dirumah.

“Terima kasih ya, Jungshin bilang kau sempat mengunjungiku dirumah sakit saat aku koma.” Ga In akhirnya memecah keheningan diantara mereka. Soo Yeon terkejut dan tak tahu harus bersikap seperti apa, walaupun dia pada akhirnya hanya tersenyum dan menyesap coklat panas yang dipesannya.

“Well, itu bukan apa-apa kok.” Soo Yeon balas tersenyum. Rasanya canggung sekali bersamaan dengan Ga In, entah kenapa.

“Aku ingin minta maaf denganmu, Soo Yeon.” Ga In  meraih tangan Soo Yeon, menatapnya dengan mata berkaca dan memohon. Perbuatannya di masa lalu mungkin menyusahkan Soo Yeon dan persahabatannya dengan Jonghyun. Tapi dia sadar dia tidak perlu sepicik itu untuk mendapatkan cinta dari seseorang. Bukankan cinta itu datang dan meresapi hatimu secara lembut dan diam-diam? Lantas untuk apa membuat namanya tercemar karena ambisi gila mendapatkan seseorang atas nama ‘cinta’ tersebut?

Soo Yeon tak berkata apa-apa melainkan memelu Ga In. Gadis itu sudah menunjukkan penyesalan dan beritikad baik untuk mempunyai hubungan pertemanan yang baik dengan Soo Yeon. Lalu Soo Yeon harus berbuat apa lagi? Dia tidak sejahat itu membiarkan seseorang berlarut-larut dalam penyesalan.

“Sudahlah, aku sudah melupakannya. Anggap saja itu memori masa lalu yang tak ingin kau ataupun aku ingat.” Soo Yeon menghela air mata Ga In dan menenangkannya.

“Benarkah kau mau memaafkanku?” Soo Yeon menangguk tanpa berpikir keras akan hal itu, dan kemudian Ga In memeluknya lagi dan menangis disana.

“Tak usah cemas, hubunganku dengan Jonghyun sudah membaik. Tak ada yang perlu kau resahkan lagi, Ga In.”

Ga In tersenyum hangat, membuatnya dua kali lebih cantik dari biasanya.

Gomawo,” ucap Ga In, “Kau mau kan menjadi temanku?”

Soo Yeon mengangguk lagi. “Tentu saja, Ga In! Kau tak perlu menanyakan itu.”

~~~

Selama perjalanan pulang menuju rumahnya, Soo Yeon Nampak banyak melamun. Jungshin ingin sekali bertanya kenapa, tapi akan lebih baik kalau dia mulai bicara sendiri.

“Gomawo, kau sudah mempertemukanku dengan Ga In.” Kata Soo Yeon saat Maybach Landaulet milik Jungshin sudah berada tepat didepan kediaman Soo Yeon.

“Bukan apa-apa, sebenarnya. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman kalian yang terlalu di dramatisir. “ Kekeh Jungshin pelan.

Ya! Kenapa menatapku seperti itu uh? Kau kesal kepadaku karena aku menarikmu dan tidak bilang ingin kemana sebelumnya?” Jungshin sebenarnya salah tingkah ditatap Soo Yeon seperti itu. Gadis itu hanya terkekeh dan mulai melepas seat belt nya.

“Aku hanya ingin bilang terima kasih kok,” kata Soo Yeon, “Niatmu bagus sekali, kau membuat orang yang bermusuhan menjadi berteman.”

“Benarkah? begitu lebih baik.” Jungshin mengacungkan kedua tangannya tepat diwajah Soo Yeon.

Ya!” kesal Soo Yeon sambill menampik kedua tangan mengesalkan Jungshin, setelah terkekeh beberapa saat, keduanya diselimuti rasa canggung lagi.

“Sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu ya?” Soo Yeon mengamati wajah Jungshin yang benaknya dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terlontar dan tak terjawab itu. Jungshin bingung harus mulai dari mana dia menumpahkan rasa penasarannya beberapa waktu yang lalu.

“Mungkin lebih tepatnya melakukan sesuatu.”

Tanpa berpikir panjang, Jungshin mengecup bibir kemerahan milik Soo Yeon. Gadis itu membuka matanya lebar-lebar diiringi degup jantungnya yang berdebar tak karuan, yang tak dirasakannya saat Jonghyun mengecupnya.

Ya! Apa yang kau lakukan?” Pekik Soo Yeon setelah dia menarik dirinya dari Jungshin. Dia bingung harus bersikap seperti apa. marahkah? tapi degup jantungnya membuatnya susah bernapas dan memungkinkan dia gugup saat melontarkan kata-kata. Lelaki itu menatap Soo Yeon sejenak kemudian berbisik ditelinga Soo Yeon.

“Aku hanya ingin menghapus jejak bibir Jonghyun, aku tak suka gadisku dikecup oleh orang lain.”

Soo Yeon hanya terdiam, panas menjalar cepat ke area wajah yang membuatnya terlihat seperti kepiting rebus karena merah  luar biasa.

TBC

A.N

Haiiiiiii, Anyeoooooonggggg ^^/ *melambai*

Sebelumnya aku mau ngucapin banyak terima kasih karena sudah komen di FF Gaje ini, aku selalu baca komen kalian saat mau ngepost Chapter selanjutnya dan jujur aja itu moodbooster aku untuk nulis. mohon maaf ya kalau komennya tidak aku balas satu persatu *kecup satu-satu*

kenapa aku lama sekali ngepost FF ini?

1. karena aku sempat terkena block writers, dimana aku mau nulis jadi serba salah jadinya aku memutuskan untuk gak nulis beberapa saat gitu. akukan author alala gitu ya, masih banyak belajar jadi ya gitu deh *plak*

2. sibuk dengan tugas akhir, but Alhamdulillah sudah terbebas dengan itu semua yuhuuuuu *pelukin anak CNBLUE*

dan kali ini aku *insya allah* akan terus menulis dan berusaha untuk update secepatnya, untuk itu tunggu ya? dan jangan lupa komen okay? seperti yang aku sebutin diawal, aku pribadi menganggap komen itu sebagai moodbooster karena ada orang yang baca FF ku loh, apalagi orang-orang tsb memberikan kritik dan saran. itu menandakan bahwa mereka peduli dan aku seneng banget akan hal itu.

udah ah, kebanyakan A.N nya nih hihihi. Enjoy ya, dan tunggu chapter selanjutnya. annyeong! *sebar kecup manja dari bias masing-masing*

11 thoughts on “Love is no big truth [chapter 6]

  1. Мαкαѕιн jg udh update walau lamaaaa bgt. Tp tetep ditunggu ko thor, aku suka bgt sm ff ini. Semangat ya author buat nulis lanjutannya & klo bisa Jaήģan lama” ngepos next chapnya. Ntar mati penasaran, ℳâϋ aku datengin buat tanggung jawab..??
    ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム =)) ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム

  2. MAKASIH BGT KAK PART INI ENDINGNYA BIKIN SENYUM SENDIRIIIII😂😂😂😭😭😭 huahuahya jadi kangen Jungshin beneran ini mah. Bte ada typo dikit2 kayanya ya kak? Hehe tp lanjuuut parah ditunggu bgt kelanjutannya! Dan makasih bgt Jungshin dijadiin 2nd male lead, soalnya jarang nemu FF yg Jungshinnya jd male lead😭

  3. Author daebak
    *prokprokprok…

    Bisa buat aku penasaran, tapi sebenarnya so yeon itu suka ama siap sihh?

    Buat authornya cepet posting FF ini ya, soalnya setiap bagian endingnya selalu buat penasaran…

    fighting thor🙂

  4. Aaaaaahh,. aku udah lama bgt nungguin ff ini, akhirnya di post juga,
    soo yeon bakal sama siapa nantinya thor?
    aku suka kalo jonghyun sama soo yeon, tapi aku jadi suka jga jungshin sama soo yeon pas baca bagian akhirnya, jungshin wow bgt.😀
    di tungguin thor chapter selanjutnya,.
    FIGHTING Authotnim

  5. Hai🙂
    Ceritanya keren.
    Mungkin aku mau kasih masukan tentang pemilihan kata yaa, ini udah bagus, tapi masih harus diperbagus lagi. Coba lebih banyak baca baca karya orang lain dan liat pemilihan katanya.
    tapi aku tetep suka kok. aku tunggu chapter selanjutnya yaa🙂 jangan lama lama🙂

  6. Waduhhhh bkin penasaran lg nie..ending Soo yeon sma siapa sihhh?? Oiya di awal2 ada kta2 yg ga pas Dec saat jungshin msuk ke kmr Mau ksih obat Dan bubur cba di koreksi lg ya..over all bgus koq

  7. sayang nih thor kaya kurang feel di awalnya. tp hampir di akhir, feelnya nongol lagi.. beh thor.. jago dah!!
    itu si jungshin.. aaaaakkkk~ gw gemes sama dia.. ><
    oh iya thor, udah selesai tugas akhir? wah selamat ya~ semoga lancar ya nulisnya.. ^^
    btw, aku masih maya yang dulu~ (abaikan)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s