Love is no big truth [chapter 7]

LINBT cover

Author: kimsungrin or 

Rating: PG17

Genre: romace, AU

Length: chaptered

Main Cast:

– Lee Jonghyun

– Lee Jungshin

– Cho Soo Yeon [OCs]

– Ga In [OCs]

Other Cast:

– Jung Yonghwa

– Kang Minhyuk

– Cho Kyuhyun [Super Junior]

– Choi Jonghun [FT Island]

-Park Chanyeol [EXO]

-Lee Yuri [OCs]

Disclaimer: Terinspirasi dari salah satu lirik lagu yang berjudul Love is no big truth , selebihnya ceritanya milik saya.

[Teaser] [1] [2] [3] [4] [5] [6]

Special thanks buat readers FF ini :

arniejayanti9087alvianantiapionamasyer, Chokyulatte_ika @Guyguy90, Moniedhikaparamitha, christie, chankqy, fitri,, ima, Miss Burningsoul ♬, nana, maya, Suharti Kautsar,Resti Burningsoul ♬, diana, vwahyu86Mita miftahul, Fuzie Boice Mayanti, Hyui, Han_, ayuni, yeowangdayu, nandya

LOVE YOU GUYS! :*

***

Sudah sepuluh menit Jonghyun menatap pantulan dirinya di kaca besar Apartmen Yonghwa. Dia terus-terusan mengotak-atik dasi hitamnya seakan telah terjadi sesuatu hal yang salah di dasi itu sehingga kelihatannya penampilan lelaki itu saat ini belum sempurna.

Hari ini adalah graduation day sebagian teman-temannya yang sudah menuntaskan tugas akhir yang membuat mereka pusing setengah mati itu. Teman-teman band nya wisuda hari itu, juga Soo Yeon. Jadi sudah pasti dia datang ke acara tersebut untuk mengucapkan selamat dan berpesta bersama mereka setelahnya.

Sedangkan Jonghyun sendiri belum menyelesaikan tugas akhir. Dia hidup terlalu santai karena dia sudah mulai bekerja disalah satu tempat les musik, membuatnya dua kali lebih sibuk dan –sudah pasti- membuat tugas akhirnya tertinggal begitu saja. Tapi bukan berarti dia tidak bertanggung jawab, dia hanya mengulur waktu lebih lama untuk mencapai keberhasilan yang dirasakan oleh teman-temannya saat ini.

Jonghyun akhirnya menghela napas, dia menyerah dengan dasi itu dan membiarkan bentuknya nyaris abstrak. Selama ini selalu ada ibu atau kedua kakaknya yang memasangkan dasi jika dia membutuhkan. Namun, karena sekarang dia tinggal di Seoul dia dituntut harus bisa melakukan semua hal sendiri –walapun pada akhirnya ada Yonghwa yang akan membantunya.

Yonghwa bersender di dinding yang berhadapan dengan kaca besar di apartmennya itu, membuat pantulan dirinya berada tepat dibelakang Jonghyun yang cemberut entah karena apa. Sedetik kemudian Yonghwa tersenyum geli begitu melihat dasi Jonghyun tidak terpasang dengan sempurna, kini dia tau apa alasan Jonghyun mengerucutkan bibir ranumnya itu.

Yonghwa kali ini tidak berinisiatif untuk membantu Jonghyun, kendati lelaki yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu tampak memohon dengan wajah memelas. Akan aneh sekali jika benar Yonghwa memasangkan dasi Jonghyun. Tinggi mereka hampir sama, sehingga tak menutup kumungkinan keduanya mungkin akan saling berkontak mata dan saling berpandangan.

“Minta pakaikan dengan kekasihmu,” kata Yonghwa yang saat ini sedang merapihkan rambut hitamnya, “Aku tidak berniat untuk memakaikan dasimu itu.”

Dwasseo,” sahut Jonghyun, “Siapa bilang aku membutuhkan dasi ini? Aku tidak akan memakainya. Aku kan hanya mendatangi acara wisuda, dan aku bukan peserta wisuda yang harus memakai dasi sialan ini!” Jonghyun melepaskan dasi dari kerah bajunya dan menatap kesal Yonghwa. Kekasih katanya? Tch! Memang begitu ya kelakuan lelaki yang akan menikah? Selalu mengejek orang-orang yang belum mempunyai pacar? Batin Jonghyun sebal.

Yonghwa tertawa lepas, kadang dia tidak mengerti dengan Jonghyun. Dia selalu menganggap dirinya gentleman  tapi terkadang dia juga bersikap kekanakan dan mudah merajuk seperti sekarang ini. Jonghyun tak memikirkan dasi lagi setelah dia menatap semangkuk Sundubu jigae yang sudah terhidang dengan semangkuk nasi hangat dan kimchi yang sudah disiapkan Yonghwa sebelumnya.

Yonghwa menyusul Jonghyun, kali ini tampilannya sudah sempurna dengan kemeja biru tua dan celana putih. Simple, tapi terlihat begitu mewah ketika menempel di tubuh Yonghwa.

“Ngomong-ngomong acaranya mulai jam berapa sih hyung?” Jonghyun menyendokkan sesendok nasi terakhir kedalam mulutnya. Dia tidak ingin makan banyak pagi ini, bisa-bisa dia mulas dan harus buang air besar ditoilet umum.

Yonghwa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “Seharusnya sih lima belas menit lagi mulai. Tapi tenang saja, ketika kita sampai di sana kita punya cukup waktu untuk menunggu.” Yonghwa tersenyum kemudian lanjut menikmati sarapannya.

Suara bel apartmen Yonghwa berbunyi nyaring. Yonghwa dan Jonghyun saling bertatapan dengan pandangan penuh tanya. Siapasih yang bertamu pagi-pagi seperti ini? Gerutu Jonghyun yang pada akhirnya bergegas membukakan pintu.

Annyeonghaseyo, lama tidak bertemu, Lee Jonghyun.”

“Ga…Ga In?”

Ga In tersenyum dengan lembut. Tubuh mungilnya dibalut dress coklat selutut dipadu dengan pump shoes berwarna senada. Warna rambutnya tidak merah mentereng seperti dulu, kini dia membiarkan rambut coklat tua panjangnya tergerai begitu saja.

“Siapa sih, kenapa kau tidak menyuruh tamu masuk eoh?” Yonghwa -yang menyusul Jonghyun karena terpaku terlalu lama di depan pintu- juga tergagap. Dia Ga In, Yonghwa cukup tau tentang gadis itu.

“Apa kabar Yonghwa ssi? Lama tidak berjumpa denganmu.”

Yonghwa hanya tersenyum canggung. Tak biasa baginya melihat Ga In begitu ramah dan anggun seperti ini. Ga In yang terekam dimemorinya adalah seorang gadis yang angkuh dan suka mencari keributan.

“Kalian tidak berniat menyuruhku masuk?”

“Ah maaf, silahkan Masuk Ga In ssi.”  Yonghwa membuka lebar pintu apartmenya.

~~~

Kecanggungan menyelimuti ruang tengah apartmen Yonghwa. Jonghyun dan Yonghwa begitu terkejut dengan kedatangan Ga In yang tiba-tiba itu. Beberapa bulan ini dia tidak ada kabar, dan sempat terdengar kabar bahwa dia koma, dan sekarang dia sedang duduk manis di sofa ruang tengah apartmen Yonghwa dengan aura yang berbeda. Seperti bertemu dengan orang lain yang sedang memakai tubuh Ga In, kira-kira begitu.

“Aku kesini ingin minta maaf,” Ga In akhirnya mulai bicara memecahkan keheningan diantara mereka. Jonghyun awalnya nampak acuh tak acuh, tapi kemudian berpaling dan bersiap mendengarkan penjelasan Ga In. Sebenarnya inilah yang ditunggunya, serentetan penjelasan yang sebelumnya diketahui dari Soo Yeon.

“Aku salah menilai rasa cintaku selama ini. Aku terlalu bodoh dan tak berhasil mengidentifikasi apa yang aku rasakan. Dan aku juga harus minta maaf kepada Yonghwa ssi karena aku sudah memanfaatkan Jonghyun untuk mendapatkan Yonghwa ssi. Kuakui itu memang buruk, dan begitu aku ada kesempatan untuk minta maaf aku akan melakukannya. Sekali lagi aku minta maaf kepada Jonghyun dan Yonghwa ssi.” Lanjut Ga In yang tak sanggup menengadah menatap kedua wajah lelaki yang berada dihadapannya. Setiap kali Ga In memikirkan masa lalunya, disaat itu jugalah dia ingin enyah dan kembali hidup dengan nama dan pribadi yang baru.

Jonghyun menghela napasnya, biar bagaimanapun dia hanyalah manusia biasa, begitu juga Ga In, yang sudah pasti melakukan kesalahan. Hubungannya dengan Soo Yeon baik-baik saja saat ini, dan dia tidak berencana untuk membangun hubungan buruk dengan siapapun itu.

“Sebenarnya kita hanya salah paham, kita mungkin terlalu banyak menonton telenovela, benar begitu hyung?” Jonghyun dan Yonghwa terkekeh setelahnya, membuat Ga In tak sungkan untuk mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi kedua lelaki tersebut. Gadis itu kemudian menatap Jonghyun dan Yonghwa bergantian. Mereka tidak sedang mempermainkanku kan? Batin Ga In

“Lupakankah, anggap saja itu adalah pembelajaran untuk kalian untuk menjadi lebih dewasa dan tak main-main dengan cinta.” Kata Yonghwa setelahnya. Mata Ga In pun berkaca, baginya dia sangat beruntung karena dengan mudahnya dia minta maaf dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang telah disakitinya.

“Terima kasih,” menahan tangis, Ga In berusaha berbicara walaupun rasanya tenggorokannya sakit sekali, “Aku tidak akan mengulangi perbuatan itu dan aku akan mengingat perkataanmu Yonghwa ssi, untuk tak main-main dengan cinta.”

Acara minta maaf itu diakhiri dengan berjabat tangan satu sama lain. Ga In kelihatan sedikit lebih ceria dibanding pertama kali dia hadir dan berdiri didepan pintu Yonghwa beberapa menit yang lalu.

“Ngomong-ngomong Ga In ssi, apakah kau bisa memasangkan dasi?” Tanya Yonghwa tiba-tiba karena teringat akan sesuatu.

“Ya, memangnya ada apa?” jawab Ga In bingung.

Yonghwa hanya bisa senyum menyeringai dan melirik kearah Jonghyun yang geram terhadap kelakuannya.

Yonghwa hyung, awas kau! Batin Jonghyun kesal.

~~~

Soo Yeon bisa bernapas lega sekarang ini, diiringi senyum lebar yang rasanya tak mau tanggal dari wajahnya yang cantik. Menurutnya, graduation day sekarang ini adalah bukti keseriusannya dalam berstudi dan juga tanggung jawabnya kepada orang tua agar lulus tepat waktu. Soo Yeon rasanya masih belum percaya, karena dia benar-benar menyelesaikan skripsinya didetik-detik akhir alias mendesak.

“Kau sudah siap, sayang?” ibu Soo Yeon yang datang dari Busan sebelumnya menginterupsi lamunan Soo Yeon didepan kaca. Dia membenarkan tata rambut putri bungsunya itu dengan hati-hati dan rasa sayang. Mata wanita parah baya itu berbinar-binar karena bahagia, tentu saja. Siapa yang sangka anaknya yang suka merengek minta lollipop ketika sakit gigi dan sering ngompol itu sudah beranjak dewasa.

Soo Yeon mengangguk pasti, “Tentu saja eomma.” Soo Yeon memeluk singkat kedua orang tuanya dan bergegas menuju hall utama kampus untuk acara pemberkatan wisuda.

Setelahnya, para peserta wisuda melemparkan toganya bersamaan. Tak ada filosofi khusus kenapa para peserta wisuda melemparkan toganya. Mungkin itu adalah wujud dari rasa bahagia karena telah lulus dari studi. Suara teriakan gembira dan canda tawa semakin sering terdengar di hall itu. Para peserta wisuda berkumpul dengan teman-temannya untuk berfoto bersama. Dan disaat itulah Soo Yeon berpapasan dengan Jungshin, yang hari itu juga menjadi peserta wisuda. Dia terlihat sempurna dari segi manapun juga, mungkin karena perpaduan wajah tampan dan tubuh tingginya yang pas memakai baju apa saja.

“Selamat ya, akhirnya tugas akhirmu selesai juga!” Jungshin setengah berteriak karena suara gaduh yang berada disekitar memendam suaranya.

“Sama-sama! Terima kasih sudah menyemangatiku ya?” Soo Yeon juga berteriak, suara disekitarnya juga sangat gaduh. Dan tak beberapa saat Yonghwa dan Jonghyun melambai dikejauhan. Soo Yeon sedikit malas –sebenarnya-  karena ada Jonghyun. Tapi dia harus merubah mindsetnya tersebut karena dia sudah mempunyai hubungan yang baik-baik saja dengan lelaki itu.

“Selamat ya, kau telah berhasil melewati tugas akhir sialan itu.” Kata Jonghyun setelah mereka sedikit menjauh dari kegaduhan. Jonghyun memberikan sebuket bunga yang didalamnya berisikan perpaduan bunga mawar merah dan putih.

“Terima kasih, kau juga harus menyelesaikan tugas akhirmu, bodoh!” Soo Yeon meninju pelan lengan Jonghyun, dan lelaki itu terkekeh setelahnya.

I will, tenang saja.” Kata Jonghyun mengedipkan matanya, membuat Soo Yeon terbahak karena ini pertama kalinya dia melihat Jonghyun wink dan itu tidak menarik sama sekali.

Jungshin yang sedang berbincang dengan Yonghwa dan Minhyuk teralih perhatiannya menuju Soo Yeon. Dari sisi manapun, sebenarnya dia tidak suka Soo Yeon berdekat-dekatan dengan lelaki bernama Lee Jonghyun. Dadanya membara sekali, tapi –seperti biasa- dia hanya bisa terdiam dan berusaha tidak menggubris pemandangan itu.

“Jungshin ah, ini.” Ga In menyerahkan sebuket bunga lily kepada Lee Jungshin. Dia sempat lupa keberadaan gadis itu ditengah keramaian dan kecemburuannya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa rambut merah mentereng Ga In kini sudah berwarna coklat.

Gomawo,” Kata Jungshin sambil menunjuk buket bunga lily yang sendang dipegangnya, “Harum sekali loh.” Ga In terkekeh pelan dan menikmati perbincangan antara dirinya, Jungshin dan Minhyuk yang berencana untuk membuka usaha bersama, yaitu membuka kedai tteokbokki di kawasan Myeongdong. Yonghwa baru saja pulang lima menit yang lalu setelah dia bertemu dengan Soo Yeon sebelumnya. Tiba-tiba saja dia ada panggilan mendadak dari kantor barunya.

Soo Yeon menangkap pemandangan itu, dimana Jungshin tertawa lepas dengan Ga In. Dadanya diselimuti rasa yang aneh, seperti tak suka tapi dia tidak menemukan alasan yang jelas mengapa dia seperti itu.

“Kau kenapa?” Jonghyun membuyarkan lamunan Soo Yeon yang tegak lurus menatap Jungshin. “Ah tidak apa-apa,” Soo Yeon jadi salah tingkah sendiri apalagi sebelumnya Jungshin menatapnya dan beranjak untuk mendekatinya.

Ah! Sialan, aku harus pergi. Aku tidak ingin berada di antara Jonghyun dan Jungshin, Batin Soo Yeon.

“Soo Yeon ssi, Chukkhahaeyo kau sudah lulus kuliah.” Tiba-tiba saja seorang laki-laki dengan tubuh jangkung menyodorkan buket bunga kepada Soo Yeon. Dia tersenyum lebar dan membuka kacamata berbingkai hitam itu dari wajahnya agar mudah dikenali.

“Kau… Park Chanyeol?”

~~~

Soo Yeon sudah melepas baju wisudanya, hingga tersisa kemeja putih dan rok sepan hitam selutut. Kedua tangannya masih menenteng buket bunga yang diberikan Jonghyun tadi, dan juga Chanyeol. Dia memutuskan untuk menyeret Chanyeol mengindari Jungshin dan Jonghyun. Soo Yeon masih belum bisa bertemu berdampingan dengan kedua lelaki tersebut, entah kenapa.

“Terima kasih kau sudah datang,” Kata Soo Yeon yang memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman yang berada tepat dibawah naungan pohon maple. Heels bukanlah favorit Soo Yeon, sehingga berjalan terlalu lama menggunakannya membuat kakinya pegal dan tak nyaman.

Chanyeol juga ikut menjatuhkan dirinya duduk disebelah Soo Yeon dan tersenyum. Beberapa wanita tampak melihat Chanyeol dikejauhan dan mulai tebar pesona. Tentu saja, dengan tubuh tinggi dan wajah tampannya, dia bisa dengan mudah menggaet gadis-gadis kampus ini.

“Pasti Kyuhyun oppa yang memberitahu ya kan?”

Chanyeol mengangguk, “Kau benar, Kyuhyun hyung minta bantuanku untuk memilihkan beberapa jas dan kemeja semalam. Kukira dia ingin menikah, tapi ternyata ingin menghadiri acara wisudamu.” Chanyeol terkekeh, memamerkan barisan geliginya yang rapi dan putih itu. Soo Yeon mau tak mau ikut tertawa, ternyata kakak lelakinya itu benar-benar ingin tampil sempurna. Tentu saja karena ada Lee Yuri kekasihnya –yang juga menghadiri acara wisuda.

“Ah iya, aku ingin minta maaf denganmu karena sikapku sebelumnya yang…” Soo Yeon tak sanggup melanjutkannya. Dia teringat akan pertemuan mereka yang sangat memalukan. Berteriak-teriak seperti orang gila dan menyuruhnya pergi begitu saja. Jika dingat-ingat, peristiwa itu juga merupakan salah satu daftar 10 besar memori yang ingin Soo Yeon lupakan.

Chanyeol mengerti kemana arah pembicaraan Soo Yeon, “Tidak apa-apa. Aku merasa tidak enak karena mengganggu tidurmu saat itu.”

“Nomong-ngomong,” Lanjut Chanyeol lagi, “Sepertinya kau ada sesuatu dengan kedua lelaki tadi, seperti ada masalah. Benar begitu?”

Soo Yeon hanya mengedikkan bahunya. Dia juga sebenarnya bingung terhadap apa yang dirasakannya kepada kedua lelaki itu. Ada Jonghyun yang sudah bersahabat lama dengannya, sudah tau sifatnya bahkan sampai yang terburuk, juga merupakan cinta pertamanya sebagai wanita. Sedangkan Jungshin? Lelaki itu bagaikan pangeran berkuda putih, selalu ada disaat dia sedang sedih dan membutuhkan. Nyaris tak ada kekurangan dimata Soo Yeon hingga saat ini, tapi berada didekatnya terkadang membuatnya menjadi pribadi Soo Yeon yang ‘baru’ karena tak banyak menampakkan sisi dirinya yang sebenarnya.

Mollaseo,” menghela napas, Soo Yeon mulai meluruskan kakinya yang sempat nyeri, “Aku tidak tau apakah ini masalah atau bukan. Tapi, aku merasa harus menjauhi kedua lelaki tersebut jika ingin hidupku damai seperti dulu.”

Chanyeol tersenyum, kemudian memandang kolam air mancur mini hasil  percobaan anak design interior semester satu yang berada dihadapan mereka.

“Tidak perlu terburu-buru” Ujar Chanyeol, “Cinta itu kan bukannya pie yang dipanggang kedalam oven. Pie kan jika terlalu lama didalam oven akan membuatnya gosong, tidak enak dan jadi produk gagal. Sedangkan cinta? Dia tidak seperti itu. Kalau terlalu lama bukannya lebih bagus? Karena kau bisa benar-benar memilih agar tidak menyesal dikemudian hari?”

Perlu waktu beberapa detik bagi Soo Yeon untuk mencerna ucapan Chanyeol barusan. Itu sebuah pendapat jadi tidak ada benar dan salah menurutnya.

“Kalau aku sendiri sih tidak terlalu tau bagaimana menyikapi kata-kata yang disebut cinta itu. Terkadang kaubisa menyukai seseorang beberapa kali, tapi kau hanya jatuh cinta kepadanya sekali. Dan mungkin kau akan melupakannya di masa depan. Jadi intinya, menurutku cinta itu misterius.” Soo Yeon tersenyum sendiri begitu mendengar kata-katanya, “ Sudahlah, aku lapar. Aku tidak mau bicara tentang cinta lagi. Ngomong-ngomong kau juga harus datang ke pesta setelah ini ya?”

Chanyeol melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia tersenyum menyesal, “Sayang sekali, aku harus menjemput tunanganku ke Bandara. Ini kali pertamanya dia menjejakkan kakinya di Korea setelah 24 Tahun menetap di London.”

Soo Yeon membulatkan mulutnya kemudian terkekeh tak percaya, “Kau sudah tunangan? Apakah itu terjadi setelah Kyuhyun oppa mengenalkanmu kepadaku?”

“Kurasa sih begitu.” Chanyeol terkikik pelan sambil mengusap malu belakang lehernya, “Baiklah aku harus pergi. Sekali lagi selamat atas kelulusanmu ya!”

Terakhir, Chanyeol mengacak pelan ujung kepala Soo Yeon sebelum dia benar-benar pergi. Menyisakan aroma maskulin yang masih menguar di indra penciuman gadis itu.

Soo Yeon sendiri berjalan menuju hall kampus lagi. Teman-temannya pasti sudah menunggunya.

~~~

“Hei.” Jungshin kini berada disampingku, dengan botol soju ditangannya. Aku sekilas menatapnya, kemudian asik mengamati Jonghun yang mabuk dan berteriak-teriak tak jelas didalam kerumunan. Namun justru itulah yang membuat para gadis mendekatinya dan terkikik geli kemudian menyodorkannya lagi botol soju –membuat Jonghun semakin mabuk dan menggila.

“Kau tak kesana?” Jungshin berbicara lagi, masih menimang-nimang botol sojunya. Kurasa dia ingin mengajakku minum. Melihatku sendirian sambil memandang teman-teman yang lain menikmati pesta mungkin membuatnya merasa iba denganku.

Aku menggeleng singkat -tanpa bicara- lalu menghirup beer ku sampai habis. Jungshin menaruh botol soju di meja bundar dihadapanku kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Jelas sekali dia ingin minum bersamaku, tapi aku menolaknya. Aku benar-benar tak bersemangat, walaupun seharusnya aku merasa bahagia.

“Aku ingin pulang,” suaraku membuat Jungshin memutar tubuhnya sehingga dia berhadapan denganku. Mata besarnya melotot kearahku seakan bertanya ada apa sebenarnya denganku? Dia kemudian diam beberapa saat seakan sedang men-scan tubuhku untuk mengetahui bagian-bagian yang ‘perlu diperbaiki’.

“Tapi pesta ini baru berlangsung selama 30 menit, masih banyak waktu…but, okay. Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu, karena aku ingin pulang sendiri. Kau harus menikmati pesta ini, jangan ikut denganku. Kau mengerti?”

“Aku tidak mengerti dan tak mau mengerti. Kau pikir aku gila membiarkanmu pulang malam sendirian? Aku bisa mati ditangan Cho Kyuhyun, kakak cerewetmu  itu.” Cibirnya.

Aku hanya bisa menghela napas, aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun. Aku tidak pernah tahu kalau Jungshin keras kepala seperti sekarang ini, dan sebetulnya bukan tanggung jawabnya untuk mengantarku pulang. Lagipula aku sudah cukup dewasa untuk pulang sendiri dengan bus atau taksi.

Dia masih menatapku penuh harap agar aku setuju diantar pulang olehnya. Well, sekalipun aku menolak mentah-mentah, Jungshin pasti memaksaku untuk diantarkan olehnya. Akhirnya aku membuntutinya untuk keluar dari resto yang sengaja dipesan semalaman untuk pesta angkatan kami itu.

“Kau mau kemana?”

Tiba-tiba saja Jonghyun sudah berada di hadapanku. Aku dapat mendengar desahan kesal Jungshin disampingku.

“Pulang.”

Dan reaksinya pun sama. Kedua matanya membelalak, seakan ada sesuatu yang aneh terjadi kalau aku pulang saat ini.

“Tapi kan pesta ini…”

“Dia ingin pulang, okay? Tidak akan terjadi masalah kan kalau dia memutuskan untuk pulang?” Potong Jungshin –yang kuyakin- sedang menahan emosinya agar dia terlihat bicara secara baik-baik dengan Jonghyun.

Dia menghela napas kemudian menatap Jungshin tak suka, “Baiklah, silahkan. Dan pastikan dia sampai rumah dengan selamat.”

“Tentu saja.” Jungshin kemudian menarik tanganku dan menjauh dari hadapan Jonghyun yang memandangku dengan tak rela.

~~~

Jungshin tak benar-benar mengantarkanku kerumah. Ini mengesalkan sekali, tapi aku benar-benar tak ingin energiku terbuang sia-sia karena omelan tak jelasku. Lagipula aku yakin Jungshin punya alasan kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini, ke sebuah taman yang sudah jarang dikunjungi.

Aku menatap Jungshin sebelum aku memutuskan untuk keluar dari maybach landaulet putih miliknya. Tempat ini memang terlihat bersih tapi juga terlihat menyeramkan karena tak ada seorangpun yang datang kesini.

“Kau baik-baik saja kan?” ucap Jungshin yang kini bersandar di kap mobilnya. Aku beringsut untuk duduk disampingnya.

“Apakah aku tidak cocok menjadi gadis yang pendiam?”

“Benar, tidak cocok sama sekali. Kau terbentur apasih sehingga otakmu menjadi tidak beres seperti ini?”

Bug. Aku memukul lengan Jungshin dan meringis kesal. Tapi justru dia menampakkan reaksi yang berbeda. Tidak kesakitan tapi… tertawa?

“Kalau begini kan lebih bagus,” katanya disela tawanya, “Kau terlihat seperti Cho soo Yeon yang aku kenal.”

Ya!” aku memuluk lengannya sekali lagi.

Ouch! Aku hanya bercanda.” Jungshin mengelus lengannya yang –kurasa- mulai kesakitan. Dan aku tersenyum puas melihat wajah tampannya meringis.

“Aku akan ke Australia.”

Aku sontak menatap wajah Jungshin yang menatap lurus ke sepetak bunga Aster yang mulai bermekaran. Raut wajahnya juga berubah menjadi serius. Aku juga terhenyak beberapa saat, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa selagi ruang hatiku tiba-tiba merasa kosong dan gelap.

“Australia?” aku meyakinkan dan Jungshin menatapku, mengangguk.

“Ya, Australia. Apa kau tidak mendengarnya?”

Aku cukup mendengar tentang itu Lee Jungshin, asal kau tahu, batinku. Aku kemudian berpaling menatap bunga Aster yang tiba-tiba tak terlihat menarik dimataku.

“Kenapa jauh sekali Jungshin ah?”

Jungshin memutar tubuhnya dan kedua tangannya telah memegang kedua bahuku. Dia menatap kedua mataku dengan dalam seolah memberitahu bahwa sebenarnya dia juga tidak ingin pergi ke Australia.

“Ayahku dirawat disana, meningitis kau tahu?” aku mengangguk, “Sudah berlangsung cukup lama walaupun masih ditahap awal. Minggu depan adalah peresmian cabang baru Perusahaan Ayahku, harus ada yang mewakilkan. Dan aku…harus kesana karena hanya aku anak lelakinya.”

Aku tidak tahu sejak kapan hatiku merasa tak nyaman seperti ini sehingga membuat kedua air mataku mengalir begitu saja. Aku tidak tahu sejak kapan kedua mata Lee Jungshin selalu teduh bila melihatku. Aku tidak tahu sejak kapan usapan jemari Jungshin menjadi candu bagiku. Aku tidak tahu sejak kapan tubuh tinggi itu membuatku ingin memeluknya.

“Kau menangis untukku?” Jemari Jungshin bergerak lihai menghapus air mataku. Kedua matanya juga berkaca entah karena apa.

Aku mengangguk. Masa bodo dengan harga diriku yang jatuh karena aku memberitahu tentang perasaanku yang selama ini tak kuketahui. Tapi, aku benar-benar tidak ingin dia pergi karena aku baru menyadari akan satu hal.

Satu hal yang benar-benar tak aku ketahui sebelumnya.

Bahwa aku mencintai lelaki ini, Lee Jungshin.

Semenit kemudian yang kurasakan adalah aroma maskulinnya yang menguar kuat disekitar indra penciumanku. Rengkuhannya yang hangat membuatku merasa nyaman dan ingin memilikinya

“Bolehkah aku memintamu untuk tidak pergi, Jungshin ah?”

Jungshin melepaskan pelukannya untuk menatap kedua manik mataku. Dia tersenyum kecut kemudian menggeleng pasti.

“Aku akan kembali secepat mungkin. Pegang janjiku, kau mau kan?”

Aku mengangguk, “Berapa lama?”

“Aku tidak bisa memastikan, Soo Yeon ah. Maafkan aku.”

Dia mengusap puncak kepalaku dengan sayang. Aku bisa merasakan  ketulusannya lewat jemarinya yang kini berganti menggenggam kedua tanganku. Dia menatapku dengan tatapan yang membuat seluruh wajahku panas tiba-tiba.

“Tapi kau juga harus berjanji satu hal kepadaku.”

“Apa itu?”

Jungshin kemudian mendekati wajahku kemudian membisikkanku.

“Kau tidak boleh memberikan hatimu untuk orang lain, bagaimana?”

Aku menghela napas. Aku merasa ruang besar didalam hatiku kini sudah mempunyai jendela, tapi jendela itu akan tertutup lagi. Tapi aku mencintai lelaki ini, Lee Jungshin. Aku tidak pernah berkeinginan untuk memiliki sekuat ini. Aku kemudian mengangguk, menciptakan senyuman bahagia diwajahnya.

Masih saling bertatapan, perlahan tangannya manjamah pipiku kemudian menariknya perlahan sehingga bibirnya mengecup bibirku dan melumatnya perlahan.

Saranghae, Soo Yeon ah” gumamnya pelan.

~~~

TBC

A.N

Annyeong *melambaikan tangan bareng Jungshin*

Mohon maaf atas ketidak jelasan FF aku yang semakin parah, aku akan berterima kasih sekali kepada kalian yang telah membuang-buang waktu baca ff ini. huhuf~

sepertinya chapter selanjutnya adalah chapter terakhir, tapi baru kemungkinan aja loh ya. aku belom ketik juga sih kkkk #plak

karena kalian udah terlanjur buang-buang waktu baca FF aku, sekalian deh ya dikomen biar buang-buang waktunya gak tanggung-tanggung (?)

I LOVE YOU GUYS! :* GOMAWOYOOOOOOOO~

15 thoughts on “Love is no big truth [chapter 7]

  1. Aaaaahhhh..
    Author bikin penasaran akut nih. Lg asik2 ъªca taunya TBC. ˘.˘ΉªĹªΉ—.―ΉªĹªΉ•••
    Lanjutannya gak pke lama ya..
    Ditunggu..!!!

  2. oh my god ff ini makin lama makin daebak (y)
    jadi akirnya Soo Yeon ama Jungshin ya thor?
    klo gitu Jonghyunnya lemparin k aku aja thor😀

  3. Kaaaaak buruan lanjut chapter selanjutnya!!! Aduhhh parah emosi bergejolak bgt baca part ini. Geregetttttt!!! Nice kak! Ditunggu!!!😂😂😂

  4. wuaaahh,,akhirnya min🙂 aku suka bgt cerita ini
    masih ada sambungannya lagi??
    waahh buruan min udah gak sabar ni,,cerita nya bikin gemes😛
    keren keren

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s