My Heart (still) Belongs to You – Pria Berkoper Kuning

[Freelancer] My Heart Still belongs to You-Pria Berkoper Kuning

Author                  : dianque

Rating                   : Universal

Genre                   : Romance

Length                  : Oneshot

Cast                       : Kang Minhyuk (CNBLUE)

                                Jung Soojung (F(x))

Decslaimer          : Cerita mainstream ini sedikit terinsipirasi dari film Thailand ‘Hello, Stranger’ dan Drama Korea ‘Secret Love’ nya KARA bagiannya Go Hara. Selebihnya, murni dari imajinasiku. Cast sepenuhnya bukan milik author, hanya pinjam nama saja. Dan satu lagi, mianhaeyo posternya terlalu cacat L bener-bener nggak bisa ngedit foto K. Oke, selamat menikmati. Dan jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentar ya J Author sangat menghargai dan mengharapkannya. Kamsahamnida.

Summary             :

                “Aha! Pria berkoper kuning. Hahaha. Lelaki apa yang kopernya berwarna kuning? Hahaha.”

                ***

“Aku menyukai matahari terbenam, karena ia meninggalkan kita untuk menyambut belahan dunia lain, membawa keceriaan untuk orang lain, membawa kehangatan untuk keluarga lain. Bukankah begitu, Agassi?”

Note                      : Paragraf yang diitalic menandakan flashback

———————————————————————————————————————–

Akhir musim gugur 2014

Kang Minhyuk’s POV

                Satu per satu kutapakkan kaki, lambat tapi pasti, meninggalkan jejak nyata di hamparan pasir putih pantai ini. Baru dua jam yang lalu aku mendarat di Jeju International Airport, bergegas ke penginapan, dan akhirnya sekarang aku sudah di sini, di pantai yang membawa suatu kenangan lain untukku.

                Sore ini matahari tak bersinar terik, cahayanya terhalangi mendung yang senantiasa menemani akhir musim gugur ini. Pantai pun lengang, tak banyak orang yang kurang kerjaan bermain – ataupun sekadar jalan-jalan – di pantai dengan angin dingin yang bertiup dengan kencangnya. Namun tetap saja, bagiku justru suasana inilah yang membuat pantai ini akan selalu ada dalam ingatan. Selalu.

                Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru pantai ini. Manikku menangkap sesosok gadis yang berdiri tak jauh dari bibir pantai, sendiri. Sepertinya ia sedang menanti matahari terbenam. Sontak memoriku kembali memutar moment indah itu, akhir musim gugur 2013.

Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan kuliahku, dan aku harus menyusul seluruh anggota keluargaku ke Seattle, Amerika Serikat. Kedua orangtuaku tak mengizinkanku untuk tinggal di Korea lebih lama lagi, meskipun aku sudah merengek layaknya anak TK. Akhirnya aku memutuskan untuk mampir sehari di tanah kelahiranku, Pulau Jeju, sebelum berangkat ke Amerika, berharap dapat mencegah kerinduanku kelak. Namun, siapa sangka jika trip sehari itu akan menjadi pengikatku pada Korea, dan membuatku semakin rindu padanya. Ya, ‘padanya’.

                ***

                Waktuku tidak banyak, sekarang sudah pukul 08.45, dan aku harus segera menyelesaikan trip sehariku ini agar aku tidak ketinggalan pesawat ke Amerika. Ugh… Pesawat ke Seattle akan take off pada pukul 20.30, itu berarti aku harus sampai di bandara sekitar pukul 19.30, dan itu artinya aku hanya memiliki waktu 10 jam 45 menit. Wow.

               

Aku bergegas ke tempat pengambilan koper, begitu aku melihat koper kuning datang, tanpa pikir panjang aku langsung menyabetnya, membawanya berjalan dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. Namun sepertinya ada yang aneh. Ada yang memanggil aku kah?

               

“Hei! Ya! Hei! Jogiyo! Koper kuning! Hei!”

               

Kubalikkan badan, sekadar untuk memuaskan rasa penasaranku. Kulihat seorang gadis sedang membungkuk dan memegang kedua lututnya, terlihat sekali ia sedang mengatur deru napas tak beraturnya.

               

Jogiyo,” dia mendongakkan kepalanya dan menunjuk sesuatu. Tunggu, dia menunjukku?

               

Na? Waeyo agassi?. Aku sedang terburu-buru.”Kataku ketika ia sudah berhasil menghampiriku.

 

“Koper itu…” dia masih terengah-engah.

 

“Ada apa dengan koperku?” Lalu kulihat koper kuning yang yang ada dibelakang gadis itu. Stiker CNBLUE, band favoritku, yang tertempel di koper itu mencuri perhatianku.

 

“CNBLUE? Apakah agassi juga seorang BOICE? Eh,tunggu. Atau jangan-jangan…” kualihkan pandanganku ke koper yang sedang kubawa. Dan ternyata tidak ada stiker apapun di sana. Jadi… koper yang kubawa ini…

 

“Itu koperku.” Katanya, sambil menunjuk koper yang masih kuamati.

 

“Ah… mianhaeyo. Aku sangat terburu-buru, jadi ketika melihat koper kuning aku langsung mengambilnya.”

                ***

                Thanks to koper kuning yang tertukar itu, aku menemukan orang yang dapat menemaniku jalan-jalan seharian di Jeju tahun lalu. Kini aku terus berjalan mendekati bibir pantai, dan tiba-tiba saja aku sudah berada sekitar seratus meter di belakang gadis yang sedari tadi mencuri perhatianku. Kuikuti arah pandangannya – matahari yang sebentar lagi mulai bersembunyi. Tak terasa, senyumku kembali terkembang tatkala mengingat kebodohanku yang menyarankan suatu kesepakatan tak masuk akal, tahun lalu.

                ***

                “Jadi, kita mau kemana?” tanyaku.

 

“Entahlah, aku tak begitu mengerti Pulau Jeju.”

 

“Tempat yang ingin kau kunjungi?”

 

“Tak ada.”

 

“Lantas kenapa kamu ke sini?”

 

“Melepas penat. Hhh… masalahku di Seoul sangatlah rumit. Oh! Aku tau kita harus kemana.”

 

“Kemana?”

 

“Pantai. Aku ingin pergi ke pantai sebelum matahari terbenam. Aku tau sebuah pantai di Jeju yang lumayan sepi, jadi kita bisa menikmati indahnya matahari terbenam. Ah… aku sangat merindukan sunset. Jinjjayo. Di Seoul aku tak pernah bisa melihatnya.”

 

“Wah… ternyata dia banyak bicara juga,” sahutku lirih.

 

Waeyo?”

 

“Tidak ada apa-apa.” Sial. Dia masih dapat mendengarkannya, batinku.

 

“Yakin? Tapi kan sekarang sudah mau musim dingin. Kamu tak akan kedinginan?”

 

“Ei… lalu apa gunanya ke Jeju kalau tidak ke pantai? Tenang, aku bawa selusin baju hangat. Kkk.”

 

“Benar juga. Oke, nanti sore kita ke pantai. Lalu sekarang?”

 

“Sekarang? Ehm, jalan saja. Pasti banyak tempat yang bagus, kan. O ya, by the way, kita belum kenalan kan. Ireumi mwoeyo?”

 

“Nama? Kenalan? Apa pentingnya itu? Haha. Kau bisa memaggilku dengan panggilan apa saja. Lagi pula kita hanya akan bertemu hari ini saja. Iya kan?”

 

“Ei… apa kau itu buronan negara?” Kini ia terkekeh pelan. Ia pun melanjutkan,

 

“Oke, hmm.. .panggilan apa yang cocok untukmu?” ia memutar bola matanya.

 

“Aha! Pria berkoper kuning. Hahaha. Lelaki apa yang kopernya berwarna kuning? Hahaha.” Ia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Menjengkelkan, tapi lucu juga.

 

“Aish. Seolma. Kau ini gadis macam apa? Baru saja mengataiku buronan negara, sekarang mengejek koper kuningku. Huh.”

 

“Haha… mianhaeyo. Habisnya… ini terlalu lucu. Kamu terlalu unik.”

 

“Okeoke. Aku terima panggilan itu. Lalu, aku harus memanggilmu bagaimana?”

 

“Hm… bagaimana kalau pengagum sunset?hihihi. ”

 

“Pengagum sunset? Ah… tidak tidak tidak. Terlalu bagus untuk orang yang memanggilku pria berkoper kuning dan mengataiku buronan negara.” Aku cemberut, sengaja menggodanya.

 

“Ternyata kau pendendam juga ya. Terserah kamu lah mau memanggilku apa.”Kini dia mengerucutkan bibirnya. Aigoo…neomu kyeopta…

 

“Iya deh iya, pengagum sunset.” Kudekatkan wajahku dengan wajahnya sembari tersenyum. Ia juga tersenyum padaku.

 

“Oke. Kajja.”

***

Aku tersadar dari lamunanku ketika seorang ayah memanggil nama anaknya agar tidak mendekati bibir pantai. Ah… aku jadi ingat masa kecilku dulu. Kupandangi sejenak seorang anak laki laki berumur sekitar lima tahun yang sedang berlari ke arah kedua orangtuanya. Lucu sekali. Lalu sayup-sayup kudengar anak itu merengek ke ibunya.

Eomma… tunggu sebentar. Mataharinya belum terbenam. Sebentar lagi. Jaebalyo…” Ternyata anak itu juga menyukai matahari terbenam. Ingatanku kembali lagi ke gadis pengagum sunset.

***

                “Sekarang 17.30. Menurut jadwal ini, sunset akan dimulai 17.50. Hhh… masih lama.”

 

Itulah kalimat pertama yang dikatakannya setelah menginjakkan kaki di pantai ini. Benar saja, pantai ini memang tidak begitu ramai. Entah memang karena biasanya seperti ini atau karena hawa dingin sore ini.

 

“Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera kembali ke bandara. Pesawatku berangkat setengah sembilan.”

 

“Sepertinya kau tadi bilang kalau kau dari Busan. Hm… setauku pesawat terakhir ke Busan take off sekitar jam 7 malam.”

 

“Ah… aku tidak akan kembali ke Busan. Aku akan langsung terbang ke Seattle.”

 

“Seattle? USA? Waaa… Daebak.” Dia terlihat seperti menahan beberapa pertanyaan. Tapi kubiarkan saja, apa gunanya dia mengetahui segala urusanku. Toh kita tak akan bertemu lagi setelah ini.

 

“Apakau kau akan menetap disana?”

 

“Mungkin.”

 

“hmm… Hei lihat!” tiba-tiba ia berseru histeris.

 

“Lihat! Sunsetnya dimulai!” ia terlihat melirik jam.

 

“Ei… jadwalnya salah. Sekarang baru 17.45. Ah, bagaimana ini, jika orang-orang yang ingin melihat sunset gagal mendapatkannya karena jadwal yang salah. Ah keterlaluan.”

 

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucunya yang ribut sendiri karena jadwal sunset yang tertulis di pamphlet salah. Kini aku mengikuti apa yang dilakukannya, duduk di pasir dan memandangi matahari terbenam. Sesekali kulirik gadis pengagum sunset itu. Terkadang ia meniup kedua tangannya karena kedinginan.

 

Jogiyo, kalau boleh tau, kenapa kamu menyukai matahari terbenam? Dan lihatlah, sepertinya kau hampir mati kedinginan.” Namun dia tidak repot-repot untuk memandangku dan tetap fokus pada aktivitasnya.

 

“Kenapa ya? Karena bagus. Itu saja. Ah… juga karena ia meninggalkan kita untuk menyambut belahan dunia lain, membawa keceriaan untuk orang lain, membawa kehangatan untuk keluarga lain.” Kini senyumnya semakin terkembang. Aku hanya mengangguk dan kembali ikut menikmati sunset sore ini, yang mungkin akan menjadi sunset terakhirku di Korea.

 

‘Ya… sunset memang indah,’batinku

***

“Waa… sunsetnya sudah mulai! ”

Sebuah teriakan yang sepertinya berasal dari mulut gadis di depanku membuyarkan lamunan tentang gadis pengagum sunset. Kini mataku terfokus pada gadis yang baru saja berteriak. Ada rasa aneh yang menggelayuti lubuk hatiku.

Gadis itu masih saja memandangi matahari terbenam dengan intensnya. Perlahan kukumpulkan segenap keberanianku, hanya untuk mendekati gadis itu. Kini aku telah menyejajarinya, ikut mengagumi betapa indahnya warna emas – yang sebenarnya sulit teramati karena mendung – sang mentari tersebut.

“Apa yang sedang seorang gadis lakukan di pantai ini sendirian, sedangkan angin dingin berhembus dengan kencangnya? Butuh teman? Hehe.” Aku mencoba memulai perbincangan dengan sedikit bergurau, berharap agar ia mau memalingkan wajah. Namun ia hanya diam saja. Tunggu, apakah gurauanku sedikit keterlaluan?

“Aku suka matahari terbenam,” sahutnya. Ia masih tetap tidak mau menolehkan wajahnya, namun dapat kulihat ia sedang mengukir sebuah senyuman.

“Meskipun di hari yang begitu dingin ini, agassi?”

“Ya, justru ini yang paling kusuka. Matahari terbenam di akhir musim gugur, di pantai ini.”

“Waah… seleramu agak aneh rupanya. Ah, mianhaeyo, bukannya bermaksud…”

Arrayo, gwenchanhayo, aku juga menyadarinya.”

“Tapi sebenarnya aku juga aneh. Aku juga menyukainya.” Alih-alih gadis ini menatap ataupun menjawabku, ia malah duduk di pasir, tanpa melepaskan pandangannya ke matahari yang sekarang sudah tenggelam hampir setengahnya. Akhirnya aku melanjutkan ceritaku, melancarkan jurus terakhir agar dia mau memalingkan wajahnya padaku.

“Aku menyukai matahari terbenam, karena ia meninggalkan kita untuk menyambut belahan dunia lain, membawa keceriaan untuk orang lain, membawa kehangatan untuk keluarga lain. Bukankah begitu, Agassi?” Jackpot! Seperti dugaanku, kini ia menoleh ke arahku. Sorot matanya melontarkan seribu mantra berbeda. Tiba-tiba ia melonjak berdiri. Aku hanya tersenyum kepadanya, lalu melanjutkan kalimat yang masih menggelantung dalam tenggorokanku.

“Dan aku semakin menyukai matahari terbenam karena seorang gadis yang sangat menyukainya yang kutemui setahun lalu di akhir musim gugur di pantai ini.”

Jung Soo Jung’s POV

“Aku menyukai matahari terbenam, karena ia meninggalkan kita untuk menyambut belahan dunia lain, membawa keceriaan untuk orang lain, membawa kehangatan untuk keluarga lain. Bukankah begitu, Agassi?”

Deg. Kalimat itu… aku mengingatnya. Aku pernah mengatakannya. Ya, aku sangat mengingatnya. Siapa sebenarnya pria yang sedari tadi mengganggu acaraku menikmati sunset? Seolma… Dengan perasaan campur aduk entah seperti rasa nano nano atau apapun itu, kutolehkan wajahku, mencoba mengamati wajah pria – yang ternyata tinggi – itu. Sontak aku refleks berdiri ketika menyadari siapa yang ada di sampingku. Dia hanya tersenyum, lalu berkata,

“Dan Aku semakin menyukai matahari terbenam karena seorang gadis yang sangat menyukainya yang kutemui setahun lalu di akhir musim dingin di pantai ini.”

Seolma…” Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dia lalu mengulurkan tangannya.

“Annyeong haseyo, perkenalkan, aku pria berkoper kuning. Bolehkah aku mengetahui siapa nama gadis cantik pengagum sunset ini?”

—*FIN*—

18 thoughts on “My Heart (still) Belongs to You – Pria Berkoper Kuning

    • Makasih sun flower udah baca dan buat komentarnya🙂 aku terharu banget nih.wkwk. maaf alay. Haha. kedua julukan itu entah darimana datangnya… Tiba tiba pas kuliah muncul julukan itu terus baru dibuat deh ff nya. Ini juga masih berantakan..masih belajar soalnya. Baru ff kedua nih.
      Sekali lagi terima kasih udah menikmati ff ini🙂

  1. Aigo.. ini sweet… demi apapun ini bener bener manis…
    Saya juga suka sama ending nya,, terlihat manis …
    ok ini daebakk …
    hwaiting Author-nim😉

    • manis…soalnya minhyuk sama krystal sama-sama manis *terus hubungannya???*wkwk
      Terima kasih ya udah baca dan menikmati ff ini. Hwaiting juga buat para readers semua😀

    • Semoga semanis yang buat ya /plak/ aku pas buat juga senyam senyum sendiri…hihihi *senyam senyum sendiri semoga bukan pertanda yang lain*. Oke…terima banyak sudah menikmati ff ini :))

  2. Pria berkoper kuning..mengingatkanku pada
    “Laki laki berbaju coklat” nya agatha christie…
    Beda tema tp sama2 bagus..sangat bagus..
    G ada rencana dilanjutkan thor….

    • Aku malah belum baca nih, chingu.. abis ini langsung nyari deh. Wkwk
      Rencana nglanjutin?kok kayaknya enggak ada ya😦 ya semoga saja aku dapat inspirasi buat sequel..tapi sebenernya mau nyelesain project ini dulu *jadi ceritanya aku pengen buat ff yang bertema my heart still belongs to you dengan cast keempat member cnblue. Yang kesampaian baru yonghwa sama minhyuk nih* jadi…entahlah. wkwk.
      Btw terima kasih banyak udah baca😀

    • u,u makasih banyak~
      Seperti yg udah kusebutin di atas,masih belum kepikiran buat sequel. Mianhaeyo -/\-
      Lagian ini kuliah juga mulai sibuk *alesan*
      So…nggak bisa janji ^^
      Anyhow, thanks a lot

    • Kayaknya kita samaan deh.. aku juga suka baca yg romantis romantis gini. Hehehe.
      Fighting juga ^^
      Kalau ada waktu dan inspirasi..pasti deh bikin lagi.
      Terima kasih ya sudah nyempetin baca😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s