Irreojima Jebal (Please Don’t) [Part 1]

Irreojima Jebal by claratahorii-cover

AUTHOR            : claratahorii

RATING              : TEEN/GENERAL (T/G)

LENGTH             : CHAPTERED

GENRE                : ROMANCE, SLICE OF LIFE, HURT/COMFORT, MARRIAGE LIFE

MAIN CAST         : – JUNG YONG HWA (C.N. BLUE),

  • PARK SHIN HYE
  • LEE JI EUN a.k.a IU
  • LEE MIN HO

SUPPORT CAST                 : – KANG MIN HYUK (C.N. BLUE)

  • BAE SOO JI a.k.a SUZY (MISS A)
  • KRYSTAL JUNG (FX)
  • LEE JONG SUK
  • CN. BLUE MEMBERS (JUNG SHIN & JONG HYUN)
  • DLL

DISCLAIMER       : Semua pemain adalah milik Tuhan YME. It’s my first FF *bow* Maka maaf apabila ada keslahan penulisan atau sedikit weird. Untuk judul, aku terinspirasi sama lagu K.Will dengan judul yang sama, temanya kan sama-sama pernikahan gitu, walaupun 180 derajat berbeda. Selamat membaca J

NOTE                     : Dear chingu-deul, FF ini ada di beberapa web, soalnya aku mencantumkan FF itu gak cuma di sini aja, ehehe. Jadi, kalau kalian melihat FF yang sama dengan nama pena: claratahorii, mohon dimaklumi, ya. It’s real me. Not plagiat! Kritik dan saran mohon di sampaikan agar aku bisa memperbaiki lagi kedepannya *bow*

 

AUTHOR POV

Pernikahan adalah sebuah penyatuan dua insan yang saling mencintai satu sama lain, saling melengkapi dan membuat pasangannya sempurna. Penyatuan itu dilakukan dengan pengucapan ikrar-sumpah-setia yang diucapkan bergantian antara mempelai pria dan wanita, kemudian dilanjutkan dengan pemakaian cincin serta pemberian ciuman-kasih di depan altar, di depan pendeta, dan di depan tamu undangan yang menjadi saksi acara suci itu. Namun semua itu tidaklah berlaku untuk pasangan yang satu ini, seorang laki-laki bernama Jung Yong Hwa, salah satu pewaris sekaligus General Manager dari perusahaan terkenal di korea, JUNG CORP, dengan seorang perempuan bernama Park Shin Hye, pewaris tunggal keluarga Park. Mereka berdua menikah karena perjodohan antara kedua orang tua mereka yang berlandaskan dunia bisnis, bisa dibilang bahwasanya pernikahan ini adalah pernikahan elite atas.

Jung Yong Hwa dua tahun lebih tua dibandingkan Park Shin Hye, mereka pernah bersekolah di sekolah menengah atas yang sama. Bagi Yong Hwa, Shin Hye merupakan cinta pertamanya, Ia menyukai Shin Hye sejak melihatnya dipanggung festival sekolah untuk menerima penghargaan atas keberhasilannya dalam membuat cerita pendek. Shin Hye merupakan anak periang dan mudah sekali bergaul, namun sayangnya sikap egois tak luput dari kepribadiannya yang biasa dimanja oleh kedua orang tuanya.

Shillang, ipcha!” seru seorang laki-laki memakai jas abu-abu rapih dengan hiasan bunga di saku luar bagian atas jasnya dari balik mimbar yang terdapat beberapa mic,

Dengan langkah tegap, Jung Yong Hwa berjalan menuju altar melewati para tamu undangan yang hadir. Sosoknya yang begitu tampan nan gagah dibalik tuxedonya yang berwarna putih dan dengan rambut dibelah pinggir rapih. Riuhan tepuk tangan menemani perjalannya menuju altar dimana sang pendeta telah berdiri tegap. Terlihat ibu Yong Hwa yang mengenakan hanbok tengah sibuk menyeka air matanya, sedangkan sang Ayah tersenyum bangga melihat anaknya yang terlihat begitu gagah mewujudkan impiannya.

Setelah Yong hwa memutar balik badannya, laki-laki yang berada di balik mimbar itu kembali berseru, “Shinbun, ipcha!” dan pintu pun terbuka, terlihat sosok Park Shin Hye yang begitu anggun dibalik gaun putihnya serta sebuah buket bunga mungil yang digengam oleh kedua tangannya. Yong Hwa segera menarik napas cepat seakan begitu terpukau dengan kecantikan calon istrinya yang benar-benar Ia cintai itu. Shin Hye pun memasuki ruangan dengan tangan kanannya yang berada di dekapan tangan sang ayah, tepuk tangan kembali mengiringi masuknya Shin Hye menuju altar. Yong Hwa menerima tangan Shin Hye ketika jarak mereka terpaut dekat dan mereka pun segera berjalan menuju altar bersama-sama.

“I’m Jung Yong Hwa, at this moment… Take you, the most precious and beautiful woman as my wife. In order to gain your trust and love for the rest of our lives. I will do my best.” Ucap Yong Hwa seraya menatap dalam-dalam wajah Shin Hye,

“I’m Park Shin Hye, at this moment… Take you, the most precious and handsome man as my husband. In order to gain your trust and love for the rest of our lives. I will do my best.” Sanggah Shin Hye mengucapkan hal yang sama seperti Yong Hwa.

Mereka pun saling mengenakan cincin secara bergantian dilanjutkan dengan ciuman kasih antara mereka berdua. Para tamu undangan segera memberikan tepuk tangan yang meriah kembali. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan taburan kelopak mawar merah yang dihamburkan di udara. Sesekali, baik Yong Hwa maupun Shin Hye saling melambaikan tangan dan tersenyum kepada para tamu undangan yang dilewati. Pernikahan berjalan begitu lancar dan hikmat, rasanya begitu manis dan tak akan berakhir begitu saja. Ya, setidaknya kata-kata itu sangat cocok untuk diucapkan kepada para pengantin baru, namun tidak untuk pasangan yang satu ini, sekali lagi, ini pengecualian untuk mereka berdua.

“Ayo kita cerai.”

Tukas Shin Hye bernada tenang saat sedang makan malam di hari kelima pernikahannya bersama Yong Hwa. Yong Hwa segera tersedak dan terbatuk-batuk mendengar perkataan istrinya itu.

“Uhuk, uhuk! Kau… Uhuk! Bilang apa? Ce, cerai???”

Ia mengangguk angkuh, “Ya, cerai.” Lanjutnya sambil lalu meminum air putih,

Yong Hwa mengelap mulutnya dengan serbet, “Sekarang, apa lagi alasannya?” tanyanya sambil melemparkan serbet itu ke atas meja,

“Kau payah.”

“Pa, payah? Ya! Kau selalu saja menghinaku. Kau pikir kau sempurna, huh?”

“Omo, sekarang kau mempunyai mulut jahat.”

“Terserah! Kita baru saja 5 hari menikah, kau baru mengganti margamu menjadi Jung, dan, dan kau memintaku untuk bercerai?”

“Apalah arti marga? Aku tidak peduli. Lagipula pernikahan ini hanya sebuah taktik antara orang tua kita.”

Yong Hwa menghela napas panjang, dia sudah lelah dengan sikap angkuh istrinya itu. Memang benar, pernikahan mereka hanya sebuah perjodohan kerjasama antara orang tua mereka, tapi Yong Hwa benar-benar menyukai Shin Hye sejak mereka sekolah dulu. Dia sangat senang akan perjodohan itu, namun tidak untuk Shin Hye, dia tidak pernah tertarik dengan Jung Yong hwa sekali pun, Ia masih terus mencintai seorang laki-laki tampan berbadan proporsional bernama Lee Min Ho, cinta pertamanya sejak masih kecil. Shin Hye sangat kesal dengan pernikahan ini, bahkan mereka belum melakukan apa pun di malam pertama mereka.

“Shin Hye-ah, kau benar-benar mengolok-olokku sekarang. Bagaimana pun juga aku laki-laki.”

Shin Hye memutar matanya, “Di mataku hanya Min Ho-Oppa laki-laki sesungguhnya.” Tukasnya dengan beberapa tekanan pada kata terakhir. Sesungguhnya.

“Shin Hye!”

“Ah, molla! Aku malas berdebat denganmu” serunya seraya menutup kedua telinganya dengan tangannya sambil lalu bangkit berdiri dari bangkunya, “Jangan bicara denganku!” lanjutnya lalu meninggalkan Yong Hwa,

Yong Hwa mengacak-acak rambutnya dengan frustasi di meja makan, pikirannya begitu kacau dengan semua perilaku Shin Hye yang begitu angkuh padanya. Tidakkah dia mencintaiku-sedikit-saja?— Batinnya kesal. Tiba-tiba pikirannya segera melayang pada gelas-gelas alcohol. Minum beberapa teguk alcohol mungkin bisa membantunya menenangkan pikiran. Dengan segera Yong Hwa bangkit berdiri dan mengambil jaket serta kunci mobilnya.

*** ***

Yong Hwa masih terus meneguk minumannya, ini sudah kelas kelima untuknya. Tiba-tiba ada seorang wanita berparas cantik dan berpakaian modis terduduk di sebelahnya dan memesan sebuah minum,

“Seperti biasa.” Tukasnya pada bartender seraya tersenyum,

Yong Hwa menghiraukan kehadiran wanita itu dan kembali menuangkan minumannya ke dalam gelas kecil dengan sedikit sempoyongan. Wanita cantik yang terduduk di sebelahnya itu memperhatikan Yong Hwa sejenak, tanpa malu-malu Ia membuka obrolan,

“Kau… terlihat kacau sekali.” Katanya bersuara lembut, Yong Hwa memandangnya dengan mata yang sedikit sayup akibat pengaruh alcohol, wajahnya terlihat memaparkan pertanyaan ‘Kau siapa’ pada wanita itu, namun tanpa harus mengatakannya, wanita itu segera memperkenalkan dirinya, “Maaf kalau aku lancang. Namaku Lee Ji Eun, kau bisa memanggilku IU.” Lanjutnya seraya menyodorkan tangan kanannya yang terdapat jam tangan berwarna oranye,

“Jung Yong Hwa. Kau bisa memanggilku apa saja.” Jawabnya sambil menjabat tangannya,

Gadis bernama IU itu tersenyum, “senang berkenalan denganmu. Walaupun sepertinya kau sedang tidak… mood?” tukasnya pada Yong Hwa yang sedang meneguk minumannya lagi,

Yong Hwa menaruh gelas kecilnya, bartender memberikan minuman yang dipesan oleh wanita itu, sebuah Dry Martini lengkap dengan buah cherry yang menghiasi bibir gelasnya. Tanpa berlama-lama, IU segera meneguk minumannya hingga habis, “Caaaakkkk, alcohol memang yang paalingg terbaik untuk membuat pikiran tenang.” Katanya sambil melebarkan senyuman puas,

“Kau benar.” Sanggah Yong Hwa, “Alkohol adalah obat paling manjur untuk melupakan sejenak berbagai masalah.” Lanjutnya seraya mengangkat gelas kecilnya yang sudah terisi,

“Masalahmu sepertinya berat sekali. Biar kutebak, apa karena… wanita?” tebaknya membuat Yong Hwa menatapnya dengan wajah bingung bercampur kagum dengan nalurinya yang kuat itu, “Tebakkanku benar? Oh… Sudah kuduga. Aku ini paling ahli akan hal itu.” Katanya sedikit berbisik dengan kalimat terakhirnya itu,

Yong Hwa hanya tertawa kecil melihat tingkah detektifnya itu sambil lalu meneguk kembali minumannya, begitu pun dengan IU. Lantunan lagu remake berjudul ‘Nobody’ milik Wonder Girls yang dinyanyikan solo oleh seorang perempuan terdengar lembut sayup-sayup menemani malam mereka. IU memandangi Yong Hwa yang sibuk dengan minumannya, dengan tersenyum Ia kembali angkat bicara,

“Kalau kau mau, kau bisa menceritakan masalahmu denganku.” Yong Hwa kembali menatapnya dengan wajah bingung, dengan sigap IU menekankan padanya lagi, “Itu pun kalau kau mau kubilang.”

Yong Hwa memalingkan wajahnya menuju gelas, “Kau pasti akan menyesal mendengarnya.” Sanggahnya seraya tersenyum bengkok,

IU menatap ke atas dengan pose seperti sedang berpikir, “Hm… Karena terlalu panjang? Ayolah, aku bisa atasi itu.” Katanya percaya diri,

Yong Hwa kembali tersenyum melihat tingkahnya, setelah menghela napas panjang, Ia mulai berbicara, “Aku…” Yong mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan sebuah cincin platina yang melingkar di jari manisnya, “…sudah menikah.” Lanjutnya pelan,

IU sedikit menarik napas cepat setelah mendengar pernyataan Yong Hwa, namun dengan cepat pula Ia mengendalikan dirinya, “Oh, oke… kau benar. Aku sedikit menyesal setelah mendengarnya. Sedikit.” katanya seraya menyelipkan rambut panjangnya di salah satu telinganya, “Selamat kalau begitu.”

“Kami baru saja menikah 5 hari yang lalu.”

“Wow… newlyweds? Lalu apa masalahmu? Bukankah 5 hari terlalu cepat untuk sebuah masalah?” tanyanya seraya menyipitkan matanya,

“Ya… kami menikah karena perjodohan. Orang tua menyatukan kami untuk masalah bisnis mereka.” Yong Hwa terdiam sejenak, “Aku sangat senang dengan pernikahan ini, karena dia memang cinta pertamaku. Tapi—“

“Tapi istrimu tidak mencintaimu?” potong IU membuat Yong Hwa hanya mengangguk pelan, “Oh, itu gawat sekali… Aku tahu kau pasti susah. Sangat.” Lanjutnya dengan raut iba,

“Dia terus membujukku untuk bercerai. Dia selalu mengataiku laki-laki payah, tidak berguna, menyebalkan—Hik!” hentinya dengan cegukan kecil sambil lalu merebahkan kepalanya di meja bar, pipinya sedikit memerah karena alcohol,

Melihatnya seperti itu, IU mendekatkan badannya dan menepuk pundak Yong Hwa, “Sepertinya kau sudah… mabuk? Gwaenchanha?” tanyanya berwajah khawatir

“Tentu saja—hik—aku tidak baik-hik-baik saja~” seru Yong Hwa bernada tak karuan, Ia benar-benar sudah mabuk. Setelah mengatakan hal-hal aneh, Yong Hwa tertidur pulas membuat IU kebingungan,

“Yong Hwa? Yong Hwa? Ireonha, huh?” panggilnya seraya menggoyangkan tubuh Yong Hwa, namun tetap saja Ia tidak terbangun, “Aku akan mengantarmu, oke? Tolonglah bangun sebentar saja huh? Huh? Ya! Yong Hwa-ssi!”

*** ***

Jung Yong Hwa terbangun ketika matanya terasa silau dengan sinar matahari yang masuk melewati celah-celah jendela, Ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pening. Ketika matanya benar-benar terbuka dan sadar, Ia segera terbelalak kaget tak karuan melihat sebuah pemandangan ganjil di depan matanya. Ini jelas bukan rumahku—pikirnya begitu. Ia menarik tubuhnya lebih tinggi lagi, kini Ia tersadar telah menghabiskan malam di sebuah sofa di rumah asing yang tak pernah Ia lihat sebelumnya. Terdapat selimut kotak-kotak hitam berwarna dasar putih yang menyelimuti kakinya. Matanya berkelana kebingungan, mengamati seisi rumah asing itu, tiba-tiba suara wanita memecahkan lamunannya,

“Oh, kau sudah bangun?” tanya wanita cantik dengan rambut yang diikat satu asal, Yong Hwa segera memicingkan mata mengingat-ingat sosok wanita itu dan…

“I…U?” katanya bernada lirih dan ragu,

Ia tersenyum cerah sambil lalu berjalan menuju dapurnya dan menuangkan kopi ke dalam gelas berwarna biru langit, “Syukurlah kau masih ingat padaku.” Tukasnya bernada lembut seraya berjalan mendekati Yong Hwa yang masih terduduk bingung di sofa, “Minumlah. Ini akan membuatmu lebih baik.”

Yong Hwa menerima gelas berisi kopi itu dan segera meminumnya perlahan, “Terimakasih.” Ucapnya lirih.

“Semalam kau tertidur di bar. Aku tidak tega membiarkanmu begitu saja. Karena aku tidak mengetahui alamat rumahmu, maka… tada~ sekarang kau berada di rumahku.” Jelasnya tersenyum, “Maaf kalau aku lancang. Apa kau keberatan?”

Ani, tentu saja tidak. Justru aku berterimakasih banyak padamu.” Sanggahnya sambil lalu segera teringat sesuatu, “Tapi… kau bilang kau mengantarku. Hokssi… apa kau membopongku sampai ke sofa ini?”

Eung. Kau berat sekali.” Jawabnya seraya tertawa kecil, “Semalam aku latihan gym gratis. Ototku terbentuk karenanya, Lihat.” ejeknya seraya memperlihatkan lengan kanannya yang ditekuk membuat Yong Hwa tertawa sambil menggaruk tengkuknya kikuk,

Mianhae…”

Gwaenchanha yo… Ah, iya, mobilmu kutitipkan kepada bartender, dia langgananku. Jadi tenang saja, mobilmu pasti aman. Dan… Ini kuncinya.”

*** ***

Jung Yong Hwa dan IU berpisah saat sampai di bar yang mereka datangi semalam, IU menurunkan Yong Hwa yang ingin mengambil mobilnya. Mereka telah memberikan nomer masing-masing agar dapat berhubungan suatu saat nanti. IU kembali melajukan mobilnya menuju kantor, Ia merupakan seorang editor majalah. Sepanjang perjalanan, IU teringat dengan kejadian semalam, ketika Ia tengah bersusah payah membopong Yong Hwa masuk ke dalam mobil,

Flashback On

“Yong…Hwa…? Bertahanlah sebentar, kyaa!” teriaknya karena tiba-tiba Yong Hwa mendorongnya tersandar pada pintu mobilnya yang belum terbuka, “Yong Hw—“

“Hik-Shin Hye-ah… kenapa kau memintaku bercerai, huh?” katanya melantur dengan posisi yang akan membuat orang salah paham, Ia membungkukkan badannya menutupi IU yang tengah tersandar,

“Yong Hwa, ini aku—“

“Kenapa selalu LEE MIN HO !!??” teriaknya membuat IU terbelalak kaget, “Lee Min Ho, Lee Min Ho sialan… tataplah aku seka-hik-li saja, huh! Naneun…” Ia berhenti sejenak seraya menepuk-tepuk dadanya, “sarangatago! Saranghae yo! Lihatlah a-hik-ku sekali saja, hu-hiks-huhuhu…”

Flashback End

IU menyentuh alisnya dengan jari telunjuk tangan kirinya, tangan kanannya focus memegangi setir. Dia begitu tersiksa—batinnya dalam hati. Itu pertama kalinya untuk IU melihat seorang laki-laki menangis seperti anak kecil tepat di depan matanya, menurutnya, laki-laki yang menangis itu jauh lebih tersakiti. Seketika bayangan wajah Yong Hwa yang tertidur saat sedang menaruhnya di sofa tiba-tiba menyergap pikirannya, pipinya segera memerah.

Andwae. Kau tidak boleh, IU. Jung Yong Hwa sudah menikah.’ Tukasnya di dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

*** ***

“Dari mana saja kau?” tanya Shin Hye selepas menemukan Yong Hwa yang tengah meneguk air mineral di dapur, “Semalaman menghilang tanpa kabar.”

Ia mengelap mulutnya dengan lengan kemejanya, “Semalam aku minum-minum dengan teman.” Jawab Yong Hwa bernada pelan, “Maaf membuatmu khawatir.”

“Huh? Kau bilang apa? Aku? Khawatir?” tanyanya dengan wajah geli, “Tidak mungkin.” Lanjutnya seraya tertawa terkekeh merendahkan,

“Ah, benar juga. Salahku yang mengira begitu.” Katanya seraya berjalan melewati Shin Hye menuju kamarnya,

“Ouch! Kau bau sekali!” seru Shin Hye seraya menutup hidungnya cepat, “Kau minum berapa banyak?”

Yong Hwa menghentikan langkahnya, Ia menghela napas panjang dan memutar kedua matanya, “Kenapa kau terus menginterogasiku? Katanya kau TIDAK tertarik padaku.” Tukasnya dengan beberapa penekanan pada kata ‘tidak’, Shin Hye segera membuka mulutnya dan ingin bicara, namun Yong Hwa kembali berbicara, “Berhentilah menginterogasiku, nona angkuh.” Lanjutnya sambil lalu berjalan kembali menuju kamarnya.

“Apa-apaan sikapnya itu?” gumamnya bertolak pinggang, tiba-tiba telepon rumah berbunyi, dengan cepat Ia mengangkatnya, “Halo? Ah, eomonim…” sapanya setelah mendengar suara ibu mertuanya,

Bagaimana keadaanmu, Shin Hye? Dan apa kabar juga Yong Hwa?”

“Aku—“

“Berikan padaku.” Rebut Yong Hwa mengambil teleponnya dari kuping Shin Hye, “Yoboseyo, eomma! Ne, tentu saja aku sehat. Makanku teratur, tenang saja… aku memiliki istri paaaling SEMPURNA.” Jelasnya seraya melirik Shin Hye dengan pandangan yang mengisyaratkan, ‘menyingkir kau dari sini’

Park Shin Hye segera menghela napas dan meninggalkan Yong Hwa yang masih berbicara dengan eommanya di telepon. Ia berjalan menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Shin Hye harus cepat-cepat bergegas menuju mall tempat dimana pujaan hatinya, Lee Min Ho akan mengadakan sesi tanda tangan buku terbarunya. Lee Min Ho merupakan seorang penulis yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Ia berdandan sangat cantik untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Sebuah padanan one piece berwarna peach serta jaket berbahan jeans lengan pendek yang menutupi tubuh bagian atasnya sepinggang ke atas dikit. Ia mengoleskan bedak tipis pada wajahnya dan lipstick berwarna senada dengan one piecenya, setelah menata rambutnya sejenak, Shin Hye pun keluar dari kamarnya. Yong Hwa yang baru saja menutup telepon segera terpana dengan sosok istrinya yang begitu cantik menurutnya.

Wae? Kau terpesona denganku?” godanya bernada sinis pada Yong Hwa yang segera tersadar dari lamunannya,

“Kau mau kemana?”

Shin Hye memutar matanya, “Berhentilah menginterogasiku, tuan pemarah.” Tukasnya mengikuti gaya bicara Jung Yong Hwa yang tadi sambil lalu berjalan tegap melewatinya menuju rak sepatu dan segera menghilang di telan pintu.

*** ***

Park Shin Hye terduduk dengan sedikit gelisah di café yang berada di dekat panggung tempat dimana sesi tanda tangan novel Lee Min Ho akan digelar. Beberapa kali Ia menggoyangkan kakinya serta melihat jam tangan berwarna cokelat di tangan kanannya. Ia terlihat begitu nervous, detik-detik bertemu dengan sang pujaan hati yang belum lama ini mengadakan roadshow ke berbagai Negara tetangga perihal novelnya yang laris-manis. Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari dekat panggung, Shin Hye segera berdiri berjinjit dan mendongakkan kepalanya. Sosok Lee Min Ho yang berbadan tinggi dengan paras tampannya terlihat di mata Shin Hye, setelah mengambil tasnya, Shin Hye bergegas keluar dari café dan menuju panggung.

Sesi tanda tangan dilaksanakan dengan lancar, Shin Hye terus memperhatikan Lee Min Ho yang tengah melakukan talkshow di panggung bersama presenter laki-laki. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat pujaan hatinya itu lagi setelah sekian lama. Oppa-ku semakin tampan—bantinnya tersenyum. Setelah semuanya usai, dengan memberanikan diri, Shin Hye memanggilnya dengan keras,

“OPPA!” serunya seraya melambai-lambaikan tangan,

Lee Min Ho segera menoleh ke sumber suara itu dan menemukan sosok Shin Hye yang tengah melambai-lambai padanya. Ia tersenyum seraya memberikan isyarat pada Shin Hye untuk bertemu nanti. Shin Hye segera mengangguk dengan wajah yang memarah padam.

“Kau sudah lama di sini?” tanya Min Ho ketika mereka sedang menikmati coffe di sebuah café yang tadi Shin Hye datangi.

Ia tersenyum malu-malu, “Ne.” jawabnya seraya menyeruput minumannya dengan kikuk, “Bagaimana dengan roadshowmu? Apakah menyenangkan?”

“Tentu saja. Banyak wanita cantik yang ketemui di sana.” Jawabnya segera membuat Shin Hye memanyunkan bibirnya, “Oh, ayolah… Kau masih tidak tahu sifat isengku? Berarti cintamu tidak sekuat yang… kupikirkan?”

Shin Hye mendengus kesal, “Oppa… berhentilah menggodaku, kau pasti tahu seberapa besar cintaku dan seberapa tergila-gilanya diriku padamu sejak 17 tahun yang lalu.”

Min Ho tersenyum bengkok sambil lalu menarik hidung Shin Hye pelan, “Aigoo… Kau memang yang paaaling tahan denganku, hm?” katanya seraya melepaskan tangannya, “Sebagai hadiahnya, aku akan mengajakmu makan malam… besok lusa. Kau mau?”

Mullone yo! Aku tidak akan pernah menolak ajakanmu!”

“Hmm…? Kalau aku mengajakmu tidur bersama, kau mau?” godanya santai,

Wajah Shin Hye segera memerah padam, “O, Oppa!” serunya terbata,

Min Ho tertawa terkekeh, “Bercanda. Hah, Baiklah…” Min Ho bangkit berdiri dari tempat duduknya, “Sampai bertemu lusa depan, Shin Hye.” Lanjutnya tersenyum,

“Kau sudah akan pergi?” tanyanya bernada sedih,

“Heh… tentu saja, aku ini jaganim yang sedang naik daun, kau ingat?” sanggahnya sambil mengacak-acak pucuk rambut Shin Hye, “Sampai jumpa.” Lanjutnya sambil lalu berjalan meninggalkan Shin Hye.

*** ***

Jung Yong Hwa tengah sibuk dengan rapat perusahaanya, JUNG CORP, sebuah perusahaan kelas atas yang bergerak di berbagai bidang properties, seperti Real Estate, Apartement, Homestay, dan Home Decoration. Selesai rapat, Yong Hwa segera bergegas menuju hotel tempat rapat dengan clientnya yang berasal dari Amerika. Sesampainya di sana, Ia menjabat tangan clientnya itu dan mengobrol dengannya menggunakan bahasa Inggris. Yong Hwa sangat cakap berbahasa Inggris, karena Ia menetap di Inggris cukup lama untuk menyelesaikan studinya di sebuah universitas ternama di sana. Bagi orang awam, Yong Hwa adalah sosok jenius yang super perfeksionis, Ia selalu sukses dalam berbagai hal, namun tidak untuk masalah cintanya. Ia harus terus menghela napas dan berlapang dada dengan sikap angkuh istrinya itu, Park Shin Hye.

“Kenapa kau diam saja, Hyeong?” tanya Kang Min Hyuk yang merupakan junior sekaligus sahabat dan rekan kerjanya Yong Hwa. Mereka sedang beristirahat di salah satu restoran dessert di daerah sibuk Seoul,

“Memangnya aku harus apa? Menceraikannya? Kau mau membuatku membunuh ayahnya Shin Hye dengan penyakit jantungnya?” serunya dengan sorot mata tajam,

“Tapi ini… ah sudahlah, ada hal yang lebih penting yang harus kuberitahu padamu.” Sanggahnya pada Yong Hwa yang kini tengah meneguk kopi dengan sorotnya yang menyuruhnya untuk bicara, “Aku mendapat kabar dari pacarku.” Lanjutnya berbisik,

“Pacarmu? Yang mana?”

Min Hyuk memutar matanya, “Siapa lagi kalau bukan, Krystal?” Tukasnya bernada tegas,

“Krystal? Kau kembali mengencani sahabat istriku?” tanyanya bernada mengancam pada Min Hyuk yang memang suka sekali berganti pasangan,

“Oh ayolah, aku hanya sedang tidak berpikir jernih waktu itu. Krystal membuatku sadar kembali bahwa dia memang yang terbaik untukku.” Ia segera tersenyum, namun Ia juga segera tersadar, “Hei, kenapa menjadi membahas itu!?”

Yong Hwa menghela napas, “Katakan saja.”

“Hari ini Istrimu kembali pergi menemui Lee Min Ho!”

Ia sedikit terbelalak namun kemudian Ia segera menguasai dirinya, “Aku sudah menduga hal itu dari awal.” Ucapnya lirih, “Berdandan cantik seperti itu untuk apa lagi kalau bukan karena ingin menemui laki-laki itu.”

“Kau harus segera bertindak, Hyeong, kalau tidak…” Min Hyuk mendekatkan wajahnya pada Yong Hwa, “Pernikahanmu akan berakhir.” Ucapnya berbisik terdengar begitu dramatis.

Yong Hwa segera terdiam mendengar ucapan Min Hyuk perihal pernikahan yang akan berakhir itu. Tak ada yang salah dengan perkataan Min Hyuk, tapi di sisi lain, Ia juga bingung perihal apa yang harus Ia lakukan untuk membuat Shin Hye berpaling dari laki-laki bernama Lee Min Ho itu. Pheromone miliknya terasa jauh lebih kuat mengikat Shin Hye dibandingkan dengan dirinya. Terlalu menyebalkan—batinnya kesal memikirkan hal itu.

Di sisi lain, seorang wanita cantik dengan pakaian mini dress broken white berbahan brokat berjalan memasuki sebuah restoran tempat dimana Yong Hwa tengah bersantai. Ia mengebelakangkan salah satu sisi rambutnya yang panjang dan terlihat sangat lembut itu seraya mencari-cari tempat kosong untuk duduk, namun matanya segera terhenti oleh sosok Yong Hwa. Ia memicingkan matanya dan setelahnya Ia segera tersenyum seraya berjalan menujunya,

“Yong Hwa-ssi?” sapa gadis itu saat sampai di depan Yong Hwa, “Tak kusangka kita akan bertemu lagi di sini.” Lanjutnya tersenyum,

Yong Hwa segera bangkit berdiri, “IU? Sedang apa kau di sini? Ingin makan siang?” tanyanya bernada berat,

IU menganggukkan kepala, “Ya, sekalian bertemu dengan klienku di sini.” Omongannya segera berenti ketika Ia melihat sosok laki-laki yang tengah terduduk bersama Yong Hwa, “Oh, maaf, apa aku menganggu kalian?” lanjutnya bernada menyesal,

“Oh tidak, kami hanya sedang bersantai. Kenalkan, dia Kang Min Hyuk, sahabatku.” Sanggahnya memperkenalkan Min Hyuk pada IU. Mereka saling berjabat tangan, Min Hyuk terlihat sedikit terpesona dengan IU, setelahnya Yong Hwa menyuruhnya untuk duduk bersama mereka,

“Sepertinya bajumu berbeda dengan yang kau pakai tadi pagi.” Min Hyuk segera sedikit tersedak oleh minumannya mendengar perkataan Yong Hwa, “Apa aku salah?” lanjutnya menyelidik,

Ani, kau benar. Aku berganti pakaian untuk menemui klienku ini. Dia klien yang berharga.” Jelasnya dengan sedikit berbisik pada kalimat terakhirnya,

“Oh, begitu—“ omongannya segera terputus ketika Ia merasakan handphonenya yang bergetar di saku jasnya, terlihat nama sekertarisnya di display, dengan sopan Yong Hwa kembali berbicara pada IU, “Maaf, sepertinya obrolan kita harus berakhir. Sekretarisku sudah menelpon, itu tandanya aku harus kembali.” Jelasnya pada IU,

“Eum… baiklah, sampai jumpa kalau begitu.” Sanggahnya tersenyum,

Yong Hwa segera bergegas meninggalkan restoran diikuti dengan Min Hyuk menuju mobilnya yang terparkir di depan restoran. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Min Hyuk meliriknya yang sedang focus menyetir beberapa kali, Ia masih memikirkan perkataan Yong Hwa dengan wanita itu.

“Ada apa? Kenapa kau terus-terusan melirikku, huh?” tanya Yong Hwa membuat Min Hyuk sedikit canggung,

“Kau kenal dengan wanita tadi? Siapa dia? Sepertinya kalian terlihat… akrab?”

Yong Hwa menghela napas panjang, “Kau menginterogasiku persis seperti wartawan infotaiment. Memangnya kenapa kalau aku terlihat… akrab, huh?” katanya seraya mengikuti gaya bicaranya Min Hyuk,

“Aku sedikit kaget dengan perkataanmu yang—“

“Oh.” Potong Yong Hwa yang paham dengan maksud pembicaraan Min Hyuk, “Tentang baju?”

“Kalian terlihat seperti pasangan yang baru menghabiskan malam bersama dan berpisah di pagi harinya, lalu—“

“Kami memang menghabiskan malam bersama kemarin.” Potong Yong Hwa lagi berwajah santai,

“A, apa!? Kau bercanda?”

“Apa aku terlihat bercanda?”

“A, aaa… Kau luar biasa, Hyeong. Pernikahan kalian memang yang paling luar biasa.”

“Kau salah paham. Semalam aku minum-minum di bar memikirkan Shin Hye, lalu aku bertemu dengannya. Tanpa sadar aku mabuk berat, Ia membawaku ke rumahnya karena Ia tidak tahu alamat rumahku. Ia meniduriku—“

“Dia menidurimu!?”

“Sialan kau Min Hyuk, kau membuatku memotong pembicaraanku dan terlihat menjadi mesum. Dia meniduriku di sofa ruang tamunya, paham?”

“Oh… maafkan aku, aku hanya tidak bisa berpikir sehat kalau mendengar topic seperti ini.” Katanya seraya menggaruk tengguknya kikuk, “Mianhae, Hyeong…” lanjutnya tersenyum asam,

“Kau memang playboy mesum. Aku turut berduka cita pada Krystal yang termakan rayuanmu.” Tukasnya membuat Min Hyuk segera memanyunkan bibirnya.

*** ***

Well, Well, Well, aku sangat bangga pada suamiku ini.” Seru Shin Hye seraya menepuk tangan ketika Yong Hwa baru saja masuk,

Yong Hwa mengerutkan keningnya bingung, “Wae?” tanyanya seraya merenggangkan dasi yang melilit kerah bajunya,

“Semalam kau bermalam dengan seorang wanita? Ohoho…” katanya sambil menutup mulutnya yang tengah tertawa, “Sebuah perselingkuhan untuk pernikahan berumur enam hari kita. Manis sekali” lanjutnya tersenyum puas,

Yong Hwa segera memutar matanya, hebat sekali informasi dari wartawan Kang Min Hyuk itu, pasangan itu benar-benar seperti sebuah boomerang panas yang sewaktu-waktu bisa memukul balik pemiliknya—batinnya gemas. Ia menghela napas dan menenangkan kembali dirinya, “Memangnya kenapa? Bukankah kau juga berselingkuh?” katanya bernada tenang namun tepat membuat istrinya terkena skak match,

“A, apa?”

“Hari ini kau bertemu dengan laki-laki bernama Lee Min Ho itu, ‘kan?” tanyanya sambil melepas jasnya, “Kau kira aku tidak tahu?”

Shin Hye menghela napas cepat seraya mengigit bibir bawahnya dengan gemas, Krystal sialan!—batinnya kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan, “Oke, aku mengakui hal itu. Aku hanya sekedar bertemu dengannya, tidak bermalam sepertimu! Oh, mengerikan sekali.”

“Shin Hye, kau berbicara seperti orang mesum, kau tahu?” tukasnya seraya berjalan melewati Shin Hye,

“Me, mesum?”

Yong Hwa menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Shin Hye menyamping, “Aku tidak akan menceritakannya padamu karena kau memang tidak mau tahu, ‘kan. Tapi, satu pesanku, aku tidak akan pernah membuat kekacauan dalam rumah tangga kita, dan semua itu hanya untuk kebaikan Ayahmu, Shin Hye. Ingat itu.” Tukas Yong Hwa bernada tegas sambil lalu melenggang menuju kamarnya mereka, tidak, kamar Yong Hwa sendiri. Sejak hari pertama mereka menikah, mereka tidak pernah tidur satu ranjang, melainkan pisah ranjang lebih tepatnya pisah kamar.

Yong Hwa melempar jasnya ke atas tempat tidur dengan kasar, Ia memegangi keningnya dengan wajah frustasi. Berapa lama lagi aku bisa bertahan?—batinnya sedih dalam hati. Bahkan pekerjaan tak pernah membuatnya lebih tersiksa daripada masalah pernikahannya. Di sisi lain, Shin Hye tengah tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar setelah mendapat pesan dari pangerannya,

Selamat malam, Shin Hye. Kita akan bertemu lusa malam, oke?—Min Ho-Oppa

Namun senyumannya segera pudar ketika melihat sebuah kotak putih berisi cincin pernikahan yang teronggok diatas meja riasnya, sampai saat ini, Shin Hye masih belum memberitahukan perihal pernikahannya pada Lee Min Ho, apa jadinya nanti kalau dia tahu?—batinnya cemas. Kata-kata Yong Hwa mengenai ‘menjaga keutuhan rumah tangga demi kebaikan ayahnya’ dan kabar perselingkuhannya dari Krystal tiba-tiba menyergap pikirannya. Ia merasa terharu dengan kata-kata Yong Hwa namun Ia juga merasa kesal dengan kabar itu di saat bersamaan. Kesal? Apakah aku… cemburu?—batinnya yang segera menggeleng-gelengkan kepala. Andwae! Itu hal tergila yang pernah aku pikirkan!—batinnya lagi sambil lalu menghempaskan dirinya ke atas Kasur.

*** ***

“Malam ini aku ada acara. Kau makan malamlah di luar.” Tukas Shin Hye bernada angkuh seperti biasa terhadap Yong Hwa yang menyempatkan diri untuk menyantap sarapan buatan Shin Hye sebelum berangkat kerja,

Yong Hwa menghentikan suapannya, “Acara apa?” tanyanya yang segera membuat Shin Hye melototinya, “Oke. Aku tak akan menanyakannya.” Lanjutnya kembali menyantap sarapannya dengan suapan besar,

“Aku akan makan malam bersama Min Ho-Oppa.” Ucapnya tiba-tiba membuat Yong Hwa sedikit terlonjak, namun Ia segera menata dirinya lagi dan terlihat santai,

“Oh.” Ucapnya bernada masa bodoh, “Bersenang-senanglah kalau begitu.” Lanjutnya dengan sorot mata yang mengisyaratkan, ‘Nikmati makan malam terakhirmu bersama laki-laki itu.’

“Oh, ya, tentu saja.” Jawabnya dengan sorot mata yang mengisyaratkan, ‘Min Ho-Oppa tak sepayah dirimu.’ Setelahnya mereka saling bertatapan dengan ‘death glare’-nya masing-masing.

Jung Yong Hwa menyeka mulutnya dengan serbet, setelahnya Ia membenarkan dasinya yang di selipkan dikantong kemejanya dan berdiri, tangannya segera mengambil jasnya sambil lalu menggenakannya dengan rapih. “Aku berangkat.” Katanya seraya berjalan menuju pintu dan menghilang. Sudah menjadi kebiasaan Shin Hye tidak pernah membantu suaminya menggunakan jas atau bahkan mengucapkan selamat jalan layaknya pengantin baru lainnya yang terlihat begitu kasmaran, Ia masih terus berkutat dengan piring sarapan paginya.NG MIN HYUK, SUZYL MEMBERS OF C.N. BLUE, in Hye, “..hin Hye pelan, “berapa tergila-gilanya diriku padamu sejak 8 tahun yang lal

*** ***

Didapati seorang gadis cantik yang tengah mengenakan baju lengan pendek berbahan dasar ceruti warna pink salem yang dimasukkan ke dalam rok putih seatas lutut tengah merengek cemas dibalik handphonenya,

Eonni… eottokhae…?” rengeknya sedikit tersenguk, “Aku tidak bisa pulang…” lanjut dan kini air matanya benar-benar mulai berjatuhan,

Aigoo… IU, ini sudah keberapa kalinya dalam sebulan kau melakukan hal ini. Kau kira aku bisa menolongmu setiap saat, huh?” seru suara seorang wanita dari speaker handphonenya,

Mianhae, Eonni. Aku janji tidak akan mengulanginya, jadi tolonglah aku… terakhir ini saja.”

Andwae. Aku tidak bisa membantumu sekarang. Sebentar lagi rapat direksi harian akan dimulai, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

IU menyeka air mata yang kini telah membasahi kedua pipinya, “Eonni… jebal…

Mianhae, IU—“ kata-kata wanita itu segera terhenti ketika sebuah suara memaggilnya dengan lantang dari kejauhan, “Ne, chamkkan manyo! IU, pokoknya hari ini aku benar-benar tidak bisa menolongmu. Cari saja taksi dan segera tebus mobilmu itu, arasso? Akan kututup handphonenya.”

Eonni! Ti, tidak bisa begi— Yeoboseyo? Yeobose— Aah… Molla! Hiks, Kau tega sekali Eonni!”

Di sisi lain, Yong Hwa tengah menyetir mobilnya degan wajah yang begitu kesal. Hari ini Ia pulang lebih awal, karena walaupun bekerja, pikirannya terus melayang menuju istrinya yang akan makan malam bersama dengan lelaki lain. Sial!—bantinnya seraya mencengkram erat-erat setirnya. Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba matanya segera tertuju pada seorang wanita cantik yang segera dikenalnya. IU? Kenapa dia berjalan?—batinnya sesaat melihatnya yang tengah berjalan gontai di arah yang berlawanan dengan mobilnya. Tanpa berpikir panjang, Ia segera memutar-balikkan arah ban mobilnya dan melesat cepat menuju gadis itu.

“IU?” seru Yong Hwa yang membuka kaca jendelanya sesaat mobilnya berjalan pelan di samping IU, Ia melihat wajah cantik wanita itu sedikit berlinangan air mata, “Kau kenapa?” tanya yang kini menghentikan mobilnya seperti halnya IU yang juga berhenti berjalan,

“Yo, Yong Hwa…?”

Yong Hwa habis tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengarkan cerita IU seputar alasan kenapa Ia berjalan kaki. Ternyata, mobilnya di derek paksa oleh petugas lalu lintas karena parkir sembarangan, lalu sialnya lagi, dompetnya juga ditinggalkannya di dalam dashbor mobilnya. IU memanyunkan bibirnya melihat Yong Hwa yang segera tertawa setelah mendengarkan kemalangannya,

“Itu tidak lucu, Yong Hwa…!” omelnya kesal,

“Ahaha.. ma, maaf, maaf… hanya saja itu terdengar sangat konyol di telingaku.” Ocehnya masih tertawa, “Ternyata dibalik kecantikanmu, kau ceroboh sekali.”

Mendengar kata-kata Yong Hwa, pipi IU segera memerah padam. Ia menundukkan kepalanya malu-malu. Melihatnya yang seperti itu, Yong Hwa segera tersadar dengan perkataannya barusan yang tanpa sadar memujinya cantik. Tapi memang itulah kenyataannya, laki-laki manapun akan sependapat dengan kata-kata Yong Hwa yang memujinya cantik. IU selalu tampil begitu feminine dan anggun.

“Maaf, aku lancang.” Sanggah Yong Hwa seraya menggaruk-garuk tengkuknya kikuk,

Suasana menjadi sedikit canggung, baik IU maupun Yong Hwa sama-sama tidak mengatakan satu patah kata pun. Yong Hwa mengerutkan keningnya beberapa kali, dasar bodoh—batinnya kesal sekaligus menyesal. Mobil pun berhenti karena lampu merah, saat sedang melihat ke luar kaca jendelanya, seketika mata Yong Hwa segera berbinar. Sebuah gedung game center besar yang berada di seberang jalan terlihat dari kaca mobilnya, rasanya melepas kepenatan sejenak dan bermain di sana adalah pilihan tepat untuk saat ini—batinnya bersemangat. Ketika lampu merahnya berganti hijau, Yong Hwa bergegas menancap gas,

“Maaf IU, sepertinya aku harus menunda kepulanganmu.” Tukasnya seraya membanting setir menuju gedung game center itu, IU menatapnya dengan wajah kebingungan, “Kita akan bersenang-senang dulu!” lanjutnya tersenyum cerah,

Mobil terparkir di tempat parkiran yang berada tepat di depan gedung itu, Yong Hwa melepas jasnya dan turun dari mobil, IU mengikutinya turun dari mobil dengan wajah yang masih kebingungan. Matanya menuju bagian dalam gedung itu yang berisi banyak sekali permainan,

“Ini kan…”

“Ayo cepat..!” serunya sambil lalu berjalan cepat memasuki gedung itu.

Setelah membeli kartu card permainan, Yong Hwa mengajak IU untuk memulai permainan. Awalnya IU terlihat begitu canggung dan kikuk, namun semakin lama, Ia menikmati waktunya bersama Yong Hwa. Mulai dari lomba mengumpulkan point melempar basket ke ring, memukul tupai yang bergantian keluar dari lubang, pukul palu, dance fighting, mini hockey, sampai permainan kecil lainnya yang menuntut mereka berduel. Baik IU dan Yong hwa, mereka terus-terusan mengeluarkan tawa yang begitu lepas, tak biasanya mereka seperti ini. Hari sudah gelap ketika mereka keluar dari gedung permainan itu, mereka dengan terpaksa harus mengakhiri permainan hari ini karena kartu cardnya sudah habis, lagi pula hari sudah gelap. Mereka masih terus tertawa sepanjang keluar dari gedung itu menuju mobilnya.

“Ternyata kau tangguh juga, IU.” Tukas Yong Hwa masih cekikikan sesaat berada di dalam mobil,

IU tertawa lagi, “Kau terlalu menganggapku remeh.” Sanggahnya penuh percaya diri membuat Yong Hwa segera bersiul kagum,

“Sekarang aku akan mengantarmu—“ omongan Yong Hwa segera terpotong karena suara perut IU yang terdengar samar meraung kelaparan. IU segera memegangi perut dengan wajah memerah akibat malu. Yong Hwa yang awalnya menahan tawa, akhirnya tak kuat lagi untuk menahannya, Ia tertawa sangat keras membuat IU juga ikut tertawa di buatnya,

Yong Hwa menyeka matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa, “Apakah kau mau makan dulu sebelum menebus mobilmu dan pulang?” tanyanya seraya menyalakan mesin mobilnya.

“Hmm… Ide yang bagus.” Jawabnya tersenyum cerah,

“Oh iya, aku punya kenalan resto mie kepiting yang sangat lezat di dekat sini.” Yong Hwa segera menghentikan perkataanya karena mengingat IU yang mungkin tidak mau di ajak ke sana, “Tapi… itu resto kaki lima… dan—”

“Resto kaki lima? Wah! Sudah lama aku tidak makan di sana. Sepertinya itu ide yang bagus! Lagi pula lokasinya tak jauh dari sini, ‘kan?” Potongnya membuat Yong Hwa kembali mengembangkan senyum,

“Baiklah! Ayo kita ke sana!” seru Yong Hwa seraya menancap gas.

Di sisi lain, Shin Hye tengah memanyunkan bibirnya sepanjang perjalan pulang dari dinner-nya yang kurang memuaskan bersama pujaan hatinya. Dinner romantisnya mendadak berubah menjadi sesi tanda tangan, mulai dari pelayan restoran sampai para pelanggannya, mereka semua mengerubungi Lee Min Ho untuk dimintai tanda tangan.

Lee Min Ho membelai rambut Shin Hye dengan lembut, “Sudah dong… maafkan aku, ya? Lain kali akan kuajak ke restoran yang lebih bagus, oke?” sanggahnya dengan pandangan yang masih focus pada jalanan.

Shin Hye masih memalingkan wajahnya dari Lee Min Ho dan terus memandangi luar kaca jendelanya. Ia benar-benar kesal dibuatnya, Lee Min Ho lebih memilih menandatangani para penggemarnya dibandingkan makan malam bersamanya. Shin Hye habis menjadi onggokan kosong tak berguna di sana, jangankan makan, menikmati wine saja tidak. Itulah alasan kenapa sekarang perut Shin Hye… berbunyi,

“Shin Hye…? Kau… lapar?”

“Menurutmu!?” tukasnya bernada tinggi dengan wajah yang begitu kesal menatap Min Ho,

“Kau… mau mampir ke suatu tempat—“

“Tidak! Aku mau pulang sa—“ perutnya kembali berbunyi, Min Ho segera menepikan mobilnya, Di sepanjang jalanan itu banyak sekali kios-kios mini yang menjajakan makanan ringan yang cukup bisa mengganjal perut yang sedang melilit kelaparan.

“Aku kubelikan makanan dulu.” Katanya seraya turun dari mobil, “Tunggu sebentar, oke?” lanjutnya sambil lalu berjalan cepat meninggalnya di dalam mobil sendirian.

“Ingin pesan apa?” tanya pelayan sebuah resto kecil pinggir jalan ketika Min Ho tengah berdiir di depan kasir,

“Beef burger dengan mayonaise—“

“Maaf, bisakah aku mendapatkan Hamburger terlebih dahulu? Artisku akan memarahiku jika terlalu lama.” Tukas seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba menyerobot antrian Min Ho.

Pelayan itu pun segera tersenyum dan meninggalkan mereka berdua untuk mengambil pesanannya, tak lama kemudian, Ia telah kembali dengan dua bungkus kertas cokelat yang berisi burger.

“Silahkan—“

Dengan sigap wanita itu merebut salah satu bungkusan yang ditaruh di atas meja kasir, “Ambil kembaliannya.” Serunya seraya meletakkan uang sebesar 3000 won sambil lalu berlari meninggalkan kasir dengan cepat.

“Berapa harganya?” tanya Min Ho kemudian,

“2.800 won, tuan.”

Di dalam mobil, Shin Hye terus mendengus kesal, menu makan malam idamannya berubah menjadi makanan kaki lima. Saat sedang memandangi kembali luar jendelanya, entah karena sebuah takdir atau apa, tiba-tiba matanya segera tertuju pada sebuah mobil sedan yang berada tepat di seberang jalan sana,

“Itu kan…” gumamnya pelan dan segera terkaget melihat sosok pemilik mobil itu sedang asyik makan di resto kaki lima bersama seorang wanita cantik, “Yong Hwa…!?” serunya terbelalak setelah memincingkan mata sejenak untuk memastikan.

TO BE CONTINUE…

27 thoughts on “Irreojima Jebal (Please Don’t) [Part 1]

  1. Stelah dr tdi obak abik cr ff YongShin akhrx dpet jg,wLaupun cmn in.kreN tHor,smga next chap g’ lma n gomawo.slm kNal dr reader bru🙂

    • Haihai, bangaptaaa~ gomawo sudah membaca ini ff yaaa #nangisterharu aww kalo udh g sabar check wp pribadiku aja di claratahoriifanfictionworld.wordpress.com
      skali lg gomapta readerdeul… :*

  2. Waahh…Bagus…
    Aku suka ceritanya author
    Bagaimana nasib rumah tangga mereka selanjutnya?
    Akankah mereka saling jujur atau malah sebaliknya?
    Heem..semoga aja shinhye memilih yong Hwa…
    Di tunggu kelanjutannya..
    Fighting!!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s