Like A Fool

like a Foool

Author: Bebeb

Genre: Friendship, romantic.

Length: One Shot

Cast: -Jung Soo Jung a.k.a Krystal [f(x)]

          -Kang Min Hyuk [CNBLUE]

Summary: Hal yang ditakuti antara teman apalagi laki-laki dan perempuan adalah jika salah satu mereka jatuh cinta kepada yang lainnya.

                 Hari ini cuaca sangat cerah, tetapi aku tidak tahu mengapa aku masih tidak ingin beranjak dari tempat duduk perpustakaan ini. Seperti ada lem yang melekat sangat kuat dipantatku. Jung Soo Jung? Itu namaku. Entah kenapa juga aku sering mengunjungi perpustakaan ini padahal, aku adalah orang yang tak suka membaca buku. Aku pergi ke perpustakaan ini tanpa meminjam satupun buku yang tersusun rapi dirak-rak kayu yang terpanjang. Aku hanya duduk termangu menghadap jendela. Dan meletakkan kepalaku pada meja dan mendengar seperti ada suara air mengalir. Sinar matahari yang hangat menerpa wajahku yang membuatku memicingkan mata. Aku hanya suka ketenangan yang tersuguhkan disini. Itulah yang kucari selama ini. Tidak ada satupun tempat yang menyuguhkan ketenangan seperti ini. Semua tempat yang kukunjungi terlalu ramai. Tidak di café, mall, salon semua tempat itu sangat berisik. Seperti pasar tradisonal saja sangat berisik. Entah kenapa tanganku sedari tadi ingin menuliskan satu atau dua kalimat. Aku lalu mengambil buku kosong yang ada didalam tas punggung kecilku.

¤Tulisan tangan Krystal

                 Rasa sakit itu masih membekas. Walaupun, sudah bertahun-tahun lamanya. Apakah rasa sakit itu disebabkan karena aku masih mengharapakannya? Masih berdiri dilangit dan tanah yang sama. Tak ada berita apapun darinya 5 thn terakhir. Sangat merindukannya? Pasti.

               Apakah aku yang bodoh atau memang aku yang tidak mengerti tentang cinta? Awalnya kupikir cinta adalah sebuah omong kosong yang dibesar-besarkan orang yang pernah merasakannnya. Itulah yang kupikirkan selama ini. Sampai saatnya aku SMA, aku menyukai seseorang. Orang itu adalah sahabatku sendiri. Sifatku yang angkuhlah yang awalnya menolakku untuk mengakui bahwa aku jatuh cinta padanya saat itu. Orang berkacamata itu, namanya Kang Min Hyuk. Aku hanya dapat memperhatikannya dari belakang. Ia seseorang yang sangat pendiam. Berbeda denganku yang sangat berisik dan cerewet hanya pada dirinya.

                Tanpa kusadari aku mengaguminya diam-diam. Aku selalu memperhatikannya diam-diam. Aku sering berada di perpustakaan, hanya karena dia. Aku sampai berpikir ‘apakah aku sudah gila?’ dan ‘mungkinkah aku benar menyukainya?’. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berterbangan di otakku. Akhir-akhir itu ada seseuatu yang membuat hubungan kami merenggang. Apakah sifatku yang berubah? Apakah kecanggungan yang kurasakan yang membuat hubungan kami seperti ini? Tetapi, aku berusaha selalu dekat dengannya.

                Aku takut mengungkapkan perasaan yang kurasakan hanya akan membuatnya terbebani. Aku takut rasa sepihakku akan merusak persahabatan kita yang terjalin hampir separuh dari umurku. Aku lebih memilih bersahabat dengannya berpuluh-puluh tahun daripada harus mengungkapkan perasaanku dan membuat hubungan yang terjalin selama ini dengannya terputus begitu saja.

¤ Flashback 5 thn yang lalu

               Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah dengan terburu-buru. Aku berhenti tepat disebuah pintu perpustakaan. Aku memastikan orang yang kucari sedang berada disitu. Aku lalu mendekatinya diam-diam. “Anyeong!” kataku setengah berbisik. “Wae?” tanyanya sambil sedikit menyingkirkan buku yang ia baca. Entah buku macam apa itu aku tidak mengerti sama sekali. “Bolehkah aku duduk. Tidak enak kalau makan sendirian.” kataku. “Mana makananmu?” tanya Minhyuk. “Aku tidak nafsu makan setelah melihat wajahmu. Lebih baik aku menemanimu disini, begitukah?” tanyaku. “Terserah kau saja.” kata Minhyuk. Sifat Minhyuk memang sangat dingin. Tetapi, ia sangat baik padaku. “Apakah aku boleh bercerita sesuatu?” tanyaku pada Minhyuk. “Ne.” kata Minhyuk lalu menutup buku yang ia baca. Ia lalu menopangkan dagunya diatas tangan kanannya. Ia hanya akan menyingkirkan bukunya jika yang berbicra dengannya adalah orang yang lebih tua atau aku. Aku merasakan aku berada di tempat yang sangat spesial dihidupnya. “Apakah kau pernah menyukai seseorang?” tanyaku hati-hati. “Wae?” tanyanya. “Aku ini bertanya kepadamu! Kenapa kau malah bertanya kembali padaku?” bentakku. “Ya! Ini perpustakaan! Baiklah! Tidak pernah memang kenapa? Kau menyukai siapa?” tanya Minhyuk. “Jika aku menyukai seseorang. Tetapi, ia tidak menyukaiku bagaimana? Aku hanya bertanya. Aku tidak menyukai siapa-siapa ” kataku 100 % berbohong. “Diamlah saja. Itu akan membuatmu tidak terluka.” kata Minhyuk. “Oh.. Begitu baiklah.” kataku. Aku lalu meletakkan kepalaku diatas meja. Minhyuk lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Dugg..ddug… Seketika itu juga jantungku berdebar lebih cepat. Aku lalu memegang tangannya. “Aku tidak suka itu.” kataku. “Arraseo. Maka dari itu aku melakukannya.” kata Minhyuk sambil tersenyum. “Minhyuk, kenapa saat aku menempelkan telingaku ke meja seperti ada suara air yang mengalir?” tanyaku. “Hhmm…Ini membuatku lebih baik kau tahu?” tambahku. “Begitukah? Mana kutahu asal suara itu.” kata Minhyuk sambil membaca buku

¤ Tulisan tangan Krystal

                 Kupikir, memendam rasa kepada seseorang lebih baik daripada harus mengungkapkannya dan pada akhirnya ditolak. Ternyata, lebih menyakitkan tidak bisa mengungkapkannya daripada memendam rasa begitu lama. Tiba-tiba merasa canggung, itu membuat hari-hariku begitu suram. Setiap hari aku merutuki diriku, karena menyukai Minhyuk. Diam-diam memikirkannya, itu membuatku seperti orang bodoh. Hal yang paling menakutkan untukku adalah ini. Hal yang paling meankutkan adalah menyukai sahabat sendiri. Menurutku menjadi sahabatnya saja sudah sangat berarti untukku. Apakah aku harus mengharapkan lebih darinya?

              Banyak yeoja yang mendekatimu. Setiap hari, silir berganti yeoja banyak yang memberimu coklat atau bunga. Tak satupun yang kau gubris. Melirik saja tak pernah. Saat yeoja mendekatimu, aku hanya bisa menangis tanpa suara. Setelah yeoja itu pergi, aku mendekati Minhyuk. Aku selalu berkata ‘apakah tidak ada yang menarik bagimu?’ dan dia hanya menggeleng. Dalam hatiku aku selalu berkata ‘jangan kau lirik’ atau ‘jangan tinggalkan aku’. Itu membuatku buruk dihadapannya. Tapi, apa hakku untuk melarangmu? Aku hanya bisa diam terpaku ditempatku.

                 Banyak teman yang tak suka padaku. Selain sifatku yang dingin sedingin es sama sepertinya, dan karena aku selalu menempel pada Minhyuk yang membuat yeoja banyak yang tak suka denganku. Aku dianggap sebagai ‘benalunya Minhyuk’. Walaupun, banyak yang mencercaku dengan kata-kata seperti itu aku hanya diam ditempatku. Jika sudah begitu sifatku berubah menjadi lebih dingin dari Minhyuk. Tak ada satupun namja yang dekat denganku. Hanya Minhyuk satu-satunya orang yang berteman denganku sejak kecil. Karena keangkuhanku semua ini terjadi

¤ Flashback 5 thn yang lalu

               Aku kembali setelah membeli 2 kaleng cola untuk Minhyuk dan tentunya aku. Aku menuju kelas untuk menemui Minhyuk. Aku melihat seorang yeoja yang mendekatinya sambil menyerahkan sebuah kotak bekal. “Minhyuk! Ini untukmu. Aku membuatnya tadi pagi. Semoga kau menyukainya.” kata yeoja itu. Aku mengintip pembicaraan mereka di dekat pintu. “Ne. Taruhlah di meja.” katanya singkat tanpa memindahkan buku yang menghalangi wajahnya. Wajah yeoja itu terlihat kesal pada Minhyuk. Aku hanya bisa melihatnya dengan terkikik. Yeoja itu keluar kelas dengan wajah yang tak bersahabat. “Apa kau senyum-senyum?” tanyanya tak bersahabat sama sekali. Aku hanya memelototinya. Aku lalu masuk tanpa menjawab.

               Aku lalu memutar tempat duduk menghadap Minhyuk. “Ini” kataku sambil menyerahkan kaleng cola padanya. “Tidak ada yang menarik perhatianmu?” tanyaku pada Minhyuk. “Anio.” jawabnya singkat. “Benarkah?” tanyaku. “Makanlah itu. Aku sudah makan.” kata Minhyuk. “Benarkah? Kau temanku yang paling baik!” kataku. Aku lalu membuka kotak bekal yang berwarna turquoise itu. Ternyata, isinya bento dengan bentuk wajah Minhyuk. “Kau tidak makan?” kataku. “Ini lucu sekali. Aigoo… Bagaimana aku harus memakannya jika pipimu akan hilang?” kataku. Minhyuk tidak menggubris sedikitpun pertanyaanku. Aku sangat gemas dengan bento ini. Aku lalu makan bento itu dengan lahap. “Aku sepertinya pernah merasakan bento ini. Dimana ya? Ahh.. Seperti yang dijual di toko seberang. Katanya dia membuat sendiri.” gumamku. “Bagaimana aku bisa membaca jika, kau terus menggumamkan sesuatu?” tanya Minhyuk padaku. “Mianhae.” kataku masih dengan nasi yang memenuhui mulutku. Minhyuk lalu membuka penutup kaleng soda. “Hmm… Minumlah. Apakah kau tidak risih dengan julukan-julukan itu?” kata Minhyuk. “Gomawo. Anio. Kau yang membuatku nyaman dengan julukan itu.” kataku. “Aish… Jinjja.” katanya sambil memutar mata. Inilah yang membuatku tidak bisa melupakan rasaku untuknya. Perhatiannya padaku yang tak pernah tergantikan.

                 Tak berselang lama, seorang gadis lagi-lagi datang untuk menemui Minhyuk. Ia tentunya pasti membawa sesuatu untuk diberikan ke Minhyuk. “Anyeong! Soojung! Minhyuk!” kata gadis itu. Aku hanya tersenyum padanya. Tidak begitu buruk batinku. “Ini untukmu Soojung dan ini untukmu Minhyuk.” kata gadis itu sambil memberikan bubble tea kepada kami. “Gomapta.” jawabku. Tetapi, Minhyuk tak berkata apapun. “Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu. Semoga kau menyukainya.” kata gadis itu. “Ne.” jawabku. Gadis itu lalu pergi dari hadapan kami berdua. “Aku senang berteman denganmu. Jika setiap hari seperti ini, akan menghemat uang jajan.” kataku sambil tertawa. Minhyuk lalu mengusap kepalaku dengan lembut. “Aish… Kau ini aku tidak suka.” kataku sambil menyingkirkan tangannya dari kepalaku. Aku lalu mencicipi bubble tea yang ia berikan padaku. “Rasanya aneh…” kataku. Aku tetap saja meminumnya.

                 Satu menit kemudian. Perutku terasa sakit sekali. “Minhyuk aku kebelakang dulu. Perutku sakit” kataku pada Minhyuk. “Nde.” katanya. Aku langsung berlari ke toilet. Tak biasanya perutku sakit seperti ini.

                 Aku lalu kembali dari toilet masih sambil memegangi perut dengan tangan kananku. “Ada apa denganmu?” tanya Minhyuk. “Molla. Mungkin setelah meminum soda terlalu banyak. Tetapi, aku hanya meminumnya sedikit.” kataku lalu duduk dihadapan Minhyuk. Minhyuk lalu mencicipi bubble teaku yang tersisa. “Ia menaruh obat pencahar di minumanmu. Makanya rasanya aneh.” kata Minhyuk. Ia lalu berdiri dari tempat duduknya lalu menggandengku keluar. Ia lalu menggandengku menuju bangku taman. Terlihat gerembolan gadis. Diantaranya juga terlihat gadis yang memberiku bubble tea. “Kita tunggu saja. Ia akan mengalami sakit perut.” kata gadis itu kepada teman-temannya sambil tertawa. “Apa kau bilang? Kau benar memberi obat pencahar di minumannya?” kata Minhyuk. Gadis itu hanya terdiam sambil menunduk. “Mian. Aku hanya bercanda.” kata gadis itu. “Bercanda apanya? Bercanda yang seperti itu sangat keterlaluan kau tahu?” kata Minhyuk. “Namamu Jinri kan? Akan kau laporkan kau pada guru. Jika kau tidak perempuan sudah kuhabisi kau!” bentaknya. “Sudahlah… Ayo kita ke ruang kesehatan saja.” kataku sambil menarik lengannya. “Baiklah.” kata Minhyuk.

                 Belum setengah perjalanan menuju ruang kesehatan aku sudah kelelahan. Keringat dingin sudah menetes banyak di dahi bahkan sekujur tubuhku dipenuhi keringat. Isi perutku sudah kukeluarkan semua di toilet tadi. “Hyuk.. Aku tidak kuat.” kataku pada Minhyuk. “Amigo… Wajahmu sudah pucat.” kata Minhyuk. “Baiklah naik kepunggungku.” kata Minhyuk. Minhyuk lalu jongkok membelakangiku. Aku lalu naik kepunggungnya.

                 Minhyuk yang menungguku di ruang kesehatan. Ia terus berada sisampingku. Aku tertidur karena sudah banyak tenagaku yang terkuras. Itu membuatnya melewatkan pelajaran. Padahal, ia harus mengikuti olimpiade minggu depan. Aku merasa bersalah. Tetapi, ia terus berkata tak apa.

¤ Tulisan tangan Krystal

             Jika aku ditanya apa yang ku inginkan. Aku akan berkata aku menginginkan kau kembali disisiku. Itu satu-satunya harapan yang tersisa dihidupku. Aku merindukanmu seperti orang gila. Walaupun, aku sering merutuki diriku, karena menyukaimu. Aku merasakan cinta karenamu. Terkadang aku berpikir, kau sangat dekat sehingga aku dapat menggapaimu. Tetapi, jika aku sudah mendekat kau seakan menjauh dariku. Mungkin ini cinta yang keindahannya hanya kurasakan sendiri. Kata ‘aku mencintaimu’ hanya bisa tertuang melalui air mataku. Aku ingin, kau tetap mengingatku walaupun kau meninggalkanku.

                 Saat itu, sikapmu begitu aneh. Aku terus mencecarmu dengan berbagai pertanyaan. Ada yang berbeda denganmu saat itu. Aku marah padamu yang tak menjawab pertanyaan yang kuberikan padamu. Ada yang kau sembunyikan dariku. Aku terus mengekorimu sampai pulang kerumah sambil terus mencecarmu dengan beberapa pertanyaan yang sama.

¤ Flashback 5 thn lalu

                 “Minhyuk apa yang kau sembunyikan dariku?” kataku sambil mengekorinya. Tak ada jawaban apapun darinya. “Minhyuk, ayolah… Apa yang kau sembunyikan hmm? Apa ada yang salah?” tanyaku. Ia lalu berhenti didepan pagar rumahnya. Ia membuka gembok pagar itu. Aku mengikutinya. “Minhyuk… Apa yang kau sembunyikan. Apakah hal buruk?” tanyaku. Ia lalu memasuki pintu rumahnya. “Aku akan pergi ke tempat nenekku. Aku akan jarang mengunjungi Seoul! Bahkan tidak pernah!” kata Minhyuk. “Puas kau! Puas!” kata Minhyuk sambil menatapku nanar. Brakkkk… Minhyuk menutup pintu rumahnya dengan kasar. Air mataku mulai keluar. “Minhyuk! Minhyuk! Tolong jelaskan padaku apa artinya ini!” kataku sambil menggedor pintu rumahnya. “Minhyuk aku akan terus menunggu disini!” kataku masih sambil menggedor pintu.

                   Berjam-jam aku menunggu di luar pintu. Tak ada tanda-tanda bahwa Minhyuk akan keluar. Minhyuk tak bisa pergi begitu saja tanpa salam. “Minyuk…! Kau tak bisa seperti ini padaku.” kataku sambil memeluk lututku. Aku tahu sejak lama Minhyuk tinggal sendiri dirumah. Minhyuk dititipkan ayah dan ibunya ke ayah dan ibuku. Ayah Minhyuk bekerja diluar negeri dan ibunya juga harus mengikuti ayahnya. Nenek Minhyuk tinggal jauh didekat perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.

                   Aku masih duduk di depan pintu sambil menangis. Udara cukup dingin untuk malam hari. Aku hanya memakai seragam sekolah. Itu membuatku kedinginan. Tak ada jawaban dari Minhyuk walaupun aku menggedor pintu berulang kali. Aku menunggu sampai aku terlelap.

                 Terdengar suara pintu terbuka. Rasanya sulit sekali untuk bangkit. “Hyuk… Kau harus jelaskan padaku.” kataku lemas pada Minhyuk. “Soo Jung! Kenapa kau nekat menunggu didepan rumah? Kau tipe orang yang tak betah menunggu lama. Kupikir kqu akan pulang setelah menunggu beberapa menit.” kata Minhyuk. “Kau baru saja sakit perut kemarin. Sekarang kau menungguku sampai badanmu panas seperti ini. Tolong jangan lakukan ini lagi padaku ya?” kata Minhyuk. “Bagaimana bisa aku melakukannya padamu? Kau juga akan pergi kan?” kataku sambil menangis. Aku memalingkan wajahku darinya. Ia lalu duduk berjongkok dihadapanku. “Mianhae Soo Jung. Aku harus berangkat besok.” kata Minhyuk. “Nappeun saram!….” kataku sambil memukulnya. Aku melakukannya berkali-kali. “Aku tidur disini ya? Aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Hmm?” tanyaku. “Ne. Nonton film bersama dengan kimchi?” tanya Minhyuk. “Tapi, aku harus mengobatimu juga.” tambah Minhyuk. “Kajja! Naik ke punggungku.” kata Minhyuk.

¤ Tulisan tangan Krystal

                 Waktu yang kita habiskan sangat singkat. Seperti hanya beberapa menit saja. Aku terus menatap wajahmu lekat-lekat. Salam perpisahan itu. Aku berjalan dibelakangmu sambil ‘bergumam jangan pergi’ berulang kali. Aku mohon padamu jika kita berjumpa lagi suatu saat nanti jangan ada kata perpisahan lagi. Biarkan saja aku mencintaimu. Cinta yang kutanggung sendiri, cinta yang tak terbalas. Biarkan saja, karena dengan begitu hatiku tidak terasa dingin dan sepi.

¤ Flashback 5 thn lalu

                 “Kau mau pergi sekarang? Apa tak bisa ditunda?” tanyaku. Aku melihat Minhyuk sudah rapi dengan kemeja kotak merah yang dilapisi sweater hijau. “Aku janji aku akan kembali.” kata Minhyuk padaku. “Apa kau baik-baik saja jika kau mengantarku keluar? Badanmu masih demam.” tanya Minhyuk. “Gwencanha. Aku kan memakai jaket. Pamanmu sudah menunggu. Sebaiknya kita keluar.” kataku sambil menggandeng tangannya. “Jika aku pergi. Jangan menangis ya? Hari ini saja kau boleh menangis” kata Minhyuk. “Arraseo.” kataku sambil tersenyum. Aku mulai menitikkan air mata saat Minhyuk menaruh barangnya di jok mobil. Ia lalu kembali menghampiriku. Ia lalu mengusap puncak kepalaku. “Jaga dirimu mengerti? Jangan lupa Ahjumma dan Ahjussi. Uljima.” kata Minhyuk. Aku lalu memegang tangannya yang masih mengusap kepalaku. Aku mengusap punggung tangannya sambil menangis. “Jangan lupakan aku.” kataku. “Tak akan pernah dan tak akan sanggup.” katanya. Ia lalu berjalan memunggungiku. Aku terus memegang tangannya erat sampai terlepas. Aku menggumam, “Kajima… Jebal kajima!” Sebelum ia masuk ke mobil aku berlari menghambur memeluknya dari belakang. “Wae?” tanyanya. “Kajima! Jebal kajima! Tidak ada orang yang melindungiku lagi.” kataku dengan suara yang serak. “Jangan seperti itu. Aku harus pergi.” kata Minhyuk. Ia lalu melepaskan pelukanku. Ia lalu berjalan mundur sambil melambaikan tangannya. Aku hanya berdiri ditempatku sambil menangis. Sejak saat itulah disekolah aku mulai dibully. Aku merasakan hidupku yang sulit. Setiap pulang sekolah badanku selalu dipenuhi tepung, air kotor dan telur. Orang tuaku memaksaku untuk pindah sekolah, tetapi aku menolaknya. Sekolah itu satu-satunya kenanganku bersamanya. _Flashback END_

¤ Kembali ke tahun 2014

                 Aku masih tak bisa melupakanmu sampai sekarang. Setiap hari aku merindukanmu. Setiap malam aku menangis tanpa suara. Karena, kau memintaku jangan menangis kan? Aku berusaha mewujudkannya. Kau berjanji padaku bukan bahwa kau akan kembali? Sampai detik ini pun kau belum juga kembali. Aku sangat mengharapkan bahwa kau kembali.

                 Sudah berjam-jam aku berada di perpustakaan ini. Aku ingin melupakan kesedihanku dengan pergi ke mall. Atau sekedar minum kopi di cafè favorit Minhyuk. Itu kelihatan lebih baik. Aku lalu keluar dari perpustakaan dan mencari taxi untuk menuju café.

_

                 Aku sudah duduk di tempat duduk yang dekat dengan jendela. Aku sudah memesan satu gelas Americano. Aku senang bau yang dikeluarkan olehnya. Pandanganku hanya tertuju pada Americano yang kupesan. Tilulit…. Ponselku berbunyi. Tanpa nama. Aku lalu mengangkatnya. “Yeoboseyo?” tanyaku. “Nuguseyo?” tambahku. “Kang Min Hyuk imnida.” kata orang itu. Deg! “Kau dimana sekarang?” tanyaku. “Didepanmu jangan terus memandangi Americano itu!” kata Minhyuk. Aku lalu mendongak, Minhyuk tersenyum padaku. “Bagaimana sudah punya kekasih?” kata Minhyuk sambil mengambil duduk di depanku. “Belum. Dia belum peka apa yang kurasakan. Dia pergi dan datang semaunya. Kau terlihat bagus dengan setelan jas seperti itu.” kataku padanya. “Teleponlah dia. Nyatakan kalau kau suka padanya. Ayo kenapa menunggu?” kata Minhyuk. “Apa aku harus melakukannya?” tanyaku sambil menggaruk kepala. “Tentu.” kata Minhyuk. “Baiklah kalau memaksa.” kataku.

                 Aku lalu menelpon orang yang kumaksudkan. Tut…tut..tut.. Panggilanku sedang disambungkan. “Bodoh kenapa kau menelponku?” tanya Minhyuk berbicara lewat sambungan telepon. “Apa orang itu-” kata Minhyuk terputus. “Orang yang kumaksud sejak SMA adalah kau! Jangan tinggalkan aku lagi ya? Aku tak mau itu terjadi lagi.” kataku lewat telepon. “Aku lega telah menyatakannya padamu.” kataku. _END_

4 thoughts on “Like A Fool

  1. Ini baper pas minhyuk mau pergi..😥
    Eh pas minhyuk kembali kok malah flat gtu ya ending ny ?? Hhe😀 *mian
    Tanggung-tanggung gimana gtu.. *ah mian lagi thor

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s