Lost Star (Part 2)

628x471

Lost Star (Part 2)

Kang Minhyuk,Jung Soojung;Chaptered;Angst.

part one.

Satu… dua… tiga…

Kepalaku terasa berputar-putar dan menghirup napas terasa begitu mustahil. Tapi aku tetap bergeming di samping suami Sooyeon, di dalam lift yang membawa kami naik menuju tempat Ibu Minhyuk dirawat.

“Kau baik-baik saja?” Kakak Iparku memegang bahuku, dan kusadari tubuhku tidak dapat berdiri tegak.

“Aku…” aku kebingungan bagaimana harus mengungkapkan perasaanku, “hanya saja… kau tahu kan Oppa? Ini semua terasa begitu familiar.” Aku tidak terlalu berharap orang-orang bisa mengerti apa yang kurasakan, tapi tentu saja suami Sooyeon mengerti.

Dia ada di sana bertahun-tahun yang lalu. Bersamaku, bersama Sooyeon, bersama Ibu. Di rumah sakit yang jauh lebih besar dan yang katanya lebih canggih, namun aku tahu itu hanya bualan belaka. Karena mereka tidak mampu menyelamatkan nyawa seseorang yang begitu kami cintai.

“Aku tahu,” dia meremas bahuku, “kau tidak harus ikut ke ruangannya. Tunggu saja aku di ruang tunggu. Aku akan segera kembali.”

Aku duduk di ruang tunggu dan menonton punggungnya menjauh. Orang-orang berlalu lalang di hadapanku, yang sakit maupun yang sehat. Bau obat menyengat hidungku dan aku kembali merasa berputar-putar. Putaran itu membawaku kembali ke masa lalu. Di situasi yang hampir sama, ketika aku masih menjadi seorang anak perempuan dari seorang pria yang tengah berjuang hidup.

“Ayah…” aku meringis pelan, merasakan rindu dan rasa pedih itu mulai menusuk jantungku.

“Soojung?” aku mendongak dan kembali menemukan wajah suami Sooyeon. “Jangan takut. Semua akan baik-baik saja.” Dia meraih tanganku dan meremasnya, membantuku berdiri. Ini mengingatkan aku pada Ron, entah apa yang sedang dia lakukan di sana.

“Kita mau ke mana?” aku bertanya, mengikutinya berjalan.

“Ke kafeteria. Sohee dan Minhyuk ada di sana.”

Minhyuk… Minhyuk…

Nama itu menambah sensasi tidak enak terhadap tubuhku. Tapi aku tidak mengatakan apa pun dan tetap berjalan.

Minhyuk duduk di kafetaria bersama Sohee, baru saja kembali dari konter. Mereka berbincang-bincang ketika kami mendekat. Aku tidak melihat kesedihan apa pun di wajahnya, mungkin saja dia menyembunyikannya.

“Ayah!” Sohee melonjak kegirangan, ayahnya meraihnya dan mendudukkan gadis kecil itu dipaha besarnya.

“Kau membeli es krim di cuaca sedingin ini?” aku mengernyit melihat cup berisi es krim di atas meja.

“Minhyuk bilang aku boleh memilih es krim.” Sohee meraih es krimnya dan menyodorkan satu sendok kecil padaku. Aku menggeleng, “Ya sudah, ini untuk Ayah saja!” katanya agak merajuk dan mulai menyuapi ayahnya.

“Marahi saja aku, Soojung.” Minhyuk terdengar seperti mengomel dan aku memasang tampang bingung. “Kau terlihat begitu ingin memarahi seseorang, seolah ada sesuatu yang tertahan dan harus dikeluarkan dari dalam tubuhmu itu.”

Aku menurunkan bahu, tidak menjawab apa-apa. Suasana jadi hening d meja kami. Suami Sooyeon menggeliat tidak enak. “Kita harus pulang, kau harus tidur,” di berkata pada putrinya.

“Kenapa harus pulang?” Sohee meletakkan cup es krimnya di atas meja.

“Kau terlalu lama di sini, tidak baik untuk kesehatan. Harus tidur cukup, oke?”

“Tapi siapa yang akan menemani Minhyuk jika aku pulang?” Sohee bertanya dengan polos, kini giliran Minhyuk yang menggeliat tak keruan.

“Aku sudah besar. Tidak perlu ditemani!” Minhyuk menyahut dengan jengkel. Sohee tertawa karena wajah Minhyuk saat ini sangat lucu.

“Kalau Ayah ikut membawa Soojung pulang, apa kau tidak keberatan?” dia membalas dengan cekikikan.

“Aku akan tetap di sini, Sohee.” Kataku pelan tanpa menatap Minhyuk.

“Oke. Jadi saatnya pulang,” Ayahnya mendekap tubuh mungilnya ke dalam gendongan dan meninggalkan meja kami lalu menghilang dengan pelan menjauhi kafetaria.

Sepeninggal mereka berdua, aku bisa mendengar desauan angin dari luar. Jemariku bergerak gelisah di atas pangkuan.

“Kenapa kau ke sini?”

Aku mendongak dan menatap wajah Minhyuk untuk pertama kalinya sejak tadi. “Karena semua orang ke sini,” jawabku pelan, dia tertawa seolah mengejek. Aku menambahkan, “Aku turut prihatin mengenai ibumu.”

Setelah mengucapkannya baru kusadari itu bukanlah kata-kata yang tepat. Aku tahu persis itu. Dan kulihat dia menyeringai menatapku, bukan seringaian yang bagus.

Kami diam selama beberapa saat. Aku memberanikan diri untuk membuka percakapan dan siap menerima berbagai resiko. “Mau membicarakannya?”

“Apa maksudmu?”

“Ibumu.”

“Tidak.” Jawabnya cepat dan begitu ketus.

Aku tidak tahu apa yang dialami Ibu Minhyuk. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku hanya membisu dan menggigiti kuku jariku. Mungkin aku harus bertanya pada keluargaku apa yang telah terjadi, mungkin juga tidak jika Minhyuk tidak suka aku mengetahui tentang ibunya.

“Kalau begitu kita bicarakan hal lain saja. Apa saja.” Aku masih berusaha menjadi temannya. Aku berusaha mengendurkan otot-otot tegang yang bertahan di wajahnya.

“Kenapa kau tidak tutup mulut saja!”

Aku ingin balas mendampratnya juga. Mendadak dia menjelma jadi anak enam belas tahun menjengkelkan yang kuingat di hari pertama kami bertemu. Tapi aku menahan diri.

“Oke.” Dan aku menahan keinginan untuk mengatakan padanya bahwa di Negara bagian Amerika sana, ada seorang lelaki yang berani memberikan apa saja padaku hanya agar aku mau bicara padanya. Namun lagi-lagi aku menahan diri.

“Pulanglah. Tidak ada yang bisa dilakukan di sini,” suaranya mulai melunak, disandarkannya punggunggunya ke kursi.

“Aku akan berusaha menjadi seseorang yang berguna di sini.”

“Jangan cerewet Soojung.”

“Aku akan tetap tinggal di sini.”

“Oh.” Dia berkacak pinggang, “Kalau begitu biar aku saja yang pergi dari tempat sialan ini!” tanpa aba-aba dia meninggalkan kursinya dan melewati aku.

Aku menoleh ke belakang untuk melihatnya pergi. tapi mataku tertuju ke orang lain. Di sana, tidak jauh dari kami, berdiri sesosok pria tua yang rambut hitamnya tampak jelas hasil diwarnai.

Ayah Minhyuk.

Tapi dia melewati pria tua itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku bisa melihat tenggorokan Ayahnya menelan kesedihan.

“Terima kasih,” Ayah Minhyuk menerima cangkir teh yang kusodorkan padanya. Aku duduk dengan canggung di hadapannya. Masih di meja yang sama dengan yang aku tempati bersama Minhyuk tadi. Dan dia duduk di kursi yang sama dengan yang baru saja putranya tinggalkan. Mungkin hangat tubuh anaknya masih bertahan di potongan kayu itu.

“Kau sudah sangat besar ya. Terakhir kali aku melihatmu itu kapan ya…” dia mulai berpir, “Ah! Saat pemakaman-” kemudian dia berhenti.

Aku mengusap cangkir tehku yang masih panas. “Maaf. Aku tidak bermaksud mengungkitnya. Kau pasti sangat sedih jika mengingat itu, bukan?”

“Ya. Kadang saya masih sangat merindukannya,” tanpa kusadari aku tersenyum. Aku membayangkan Ayah di sini, memohon agar tehnya diganti dengan kopi dan dia berharap dibolehkan merokok barang sebatang saja.

“Aku juga. Dia teman yang baik,” katanya pelan. Aku mengangguk, tidak peduli dia hanya berbasa-basi atau malah melontarkan bualan.

“Kau tidak sering berkunjung ke Seoul ya?”

“Ya. Saya jarang dapat libur.”

Kami bicara berputar-putar. Aku mendengarnya membicarakan pembangunan yang pesat di kota dan beberapa temannya. Aku menanggapi dengan sesopan mungkin. Dan mungkin ini caranya agar kami tidak membicarakan keluarganya.

“Ibumu masih di sana,” dia menunjuk ke dinding kafetaria, aku tahu maksudnya adalah ruang inap istrinya. “Kakakmu baru saja pulang bersama anak dan suaminya tadi.”

Dia mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Terlihat sekali dia begitu gelisah.

“Kau sering berhubungan dengan Minhyuk?” akhirnya dia berhenti mengetuk-ngetukkan jemarinya dan menatap wajahku penuh harap.

“Tidak juga.” Aku tidak ingin mengatakan bahwa selama ini kami tidak berhubungan sama sekali. Hanya agar dia tahu bahwa masih ada harapan. Aku mungkin punya jawaban atas pertanyaan yang akan dia ajukan selanjutnya.

“Dia begitu tertutup terhadap kami. Ah, tapi dia cukup dekat juga dengan ibunya.”

“Dia tidak pernah membicarakan itu pada saya, Paman.”

“Dia terlihat sedikit kesepian,” lanjutnya, mengabaikan responsku tadi, “mungkin itulah kenapa dia senang mengunjungi ibumu.”

“Ibu memang bilang dia sering berkunjung.”

“Dia butuh teman. Meski dia punya teman-teman band-nya, tapi dia masih tetap sulit membuka diri.”

“Oh.”

“Kurasa kau tidak keberatan tinggal lebih lama di sini, hanya agar dia punya teman.”

Aku mengernyitkan dahi, “Apa maksudnya?”

“Sekitar sebulan yang lalu dia pulang ke rumah setelah lama tidak pulang. Senyumnya kelihatan tulus dan begitu gembira, saat ibunya bertanya ada apa dia bilang ‘adik Sooyeon itu, ingat tidak? Dia datang berkunjung kemari’ suaranya terdengar begitu ceria.” Dia mendesah, matanya menerawang, seolah mengingat-ingat senyum langka anaknya. “Mungkin karena waktu kecil kalian sering menghabiskan waktu bersama—aku ingat kalian dulu sangat tidak terpisahkan—jadi itu terasa begitu mudah baginya.”

Untuk sesaat aku tidak paham bahwa ayahnya menunggu respons dariku, aku berusaha mendapatkan kesadaranku dan menjawab seadanya, “Mungkin.”

Keesokan harinya aku kembali ke rumah sakit bersama ibu. Ada Ayah Minhyuk di sana. Ibu Minhyuk masih begitu lemah dan dia tidur terus menerus. Kami tidak banyak bicara di sana, hanya memandangi wanita tua yang diharapkan akan segera pulih kembali.

Tugasku di sana kadang membawa makanan, memijit ibuku atau pun Ibu Minhyuk. Melapor ke perawat jika ada sesuatu yang dibutuhkan.

Menjelang malam Sooyeon menjemputku untuk pulang.

“Minhyuk datang?” Sooyeon bertanya saat mobil meluncur di jalanan.

“Tidak.” Aku melihat kerlap-kerlip lampu kota. Ron bilang itu indah, tapi dia lebih menyukai cahaya dari langit. Aku belum mengabarinya sama-sekali. Pesan singkatnya menumpuk di ponselku.

Mobil berhenti, lampu lalu lintas berubah merah. “Ibunya terlalu banyak mengonsumsi pil tidur. Paginya dia tidak bangun.”

Aku menghembuskan napas ke kaca jendela mobil.

“Kami tidak pernah tahu dia mengonsumsi pil-pil itu. Meski dia sering melantur akhir-akhir itu. Tapi tidak ada yang menduganya kan.”

“Sudah sejak kapan?” aku bertanya.

“Entahlah. Pokoknya sudah sejak dulu, semenjak perang dingin Ayah-Anak itu dimulai.” Lampu hijau menyala dan Sooyeon kembali menjalankan mobil. “Minhyuk tidak bilang apa-apa padamu?”

“Tidak ada. Kurasa dia tidak mau membicarakannya.”

“Hm… anak itu selalu mengunci mulutnya.”

“Yah…”

Pukul delapan malam sebelum tahun baru Ibu berbicara dengan Ron di telepon. Dapur berbau harum, mungkin dia juga tengah memanggang sesuatu yang manis untuk esok hari.

“Aku pasti mengganggumu ya, Ron?” Ibu bertanya halus. Kemudian dia duduk di kursi dapur, aku datang untuk menuang teh dan Ibu memberi isyarat terima kasih. Aku ikut duduk di hadapannya.

“Oh… aku hampir lupa. Kau selalu bangun pagi dan sarapan. Anak lelaki yang sungguh  disiplin.” Ibu tertawa, terihat akrab sekali dengan seseorang di seberang sana. “Aku baik-baik saja. Apa lagi anak bungsuku ada di sini, kau tahu kan dia sangat sulit sekali dibujuk agar mau ke sini?” Ibu mengedip kepadaku, aku tersenyum.

“Soojung ada di hadapanku. Mau bicara ya? Kelihatannya kau sangat merindukannya. Oke… ya… terima kasih… uhm… telepon aku kalau kau sedang bosan. Ya… dah!” Lalu ibuku menyodorkan telepon kepadaku. “Bicaralah.”

Aku menyelipkan rambut di telinga sebelum menempelkan telepon di sana. “Hai…”

“Hai Jung Soojung yang begitu sibuk akhir-akhir ini,” sapanya dengan nada lucu dan aku tertawa. “Bagaimana kabarmu?”

“Hebat sekali! Bagaimana denganmu?”

“Tidak begitu hebat.”

“Kenapa?” aku agak panik, Ibu terlihat penasaran.

“Tidak ingat ya, aku sedang ditinggal kekasihku selama dua bulan.”

“Oh…” aku tersipu, Ibu tersenyum. “Maaf ya tentang itu.”

“Tidak apa-apa. Jadi, kapan kau akan kembali?”

Aku perlu beberapa detik untuk berpikir, “Entahlah, Ron.”

“Sepertinya kau sangat suka berada di sana.”

“Yah… tidak juga. Tapi entahlah, kurasa aku akan menyusun jadwal secepatnya.”

“Kau tidak rindu padaku?” aku tahu dia bercanda, tapi aku tahu aku tidak bercanda saat aku berpikir aku mungkin saja tidak merindukannya.

“Rindu sekali,” aku menjawab. Mendadak merasa menjadi pembohong besar.

“Kuharap itu benar, sebab kau begitu terasa jauh akhir-akhir ini. Kau tidak mengirim kabar selama beberapa waktu. Aku tahu ini saatnya untuk menghabiskan waktu bersama keluargamu. Tapi entah… rasanya ada yang berbeda. Rasanya aku melewatkan sesuatu darimu, tapi kuharap itu tidak benar.”

Ya. Aku tidak menceritakan padamu bahwa aku bertemu dengan cinta pertamaku dan banyak hal aneh terjadi di sini. “Tidak ada. Kau tidak melewatkan sesuatu apa pun.”

“Aku tidak sabar ingin melihatmu lagi. Pulanglah.”

“Pasti. Aku tidak sabar, Ron.”

Saat tahun baru tiba kami sekeluarga tinggal di rumah. Kami tidak ke rumah sakit, tapi Ibu menelepon Ayah Minhyuk. Ibunya sudah sadar, tapi belum bisa pulang ke rumah mereka. Sedih sekali membayangkan harus mendekam di sana selama tahun baru.

Kami memanggang kue dan bernyanyi bersama. Kami menonton film kesukaan Sooyeon dan bercanda.

“Kapan kau akan menikah?” Sooyeon menyenggol bahuku.

“Apa harus menanyakannya sekarang?” aku berdecak sebal.

“Aku kan tidak mau adikku jadi perawan tua.”

“Ya, tunggu apa lagi. Kau dan Ron sudah begitu cocok, bahkan kalian kadang-kadang menempel seperti kertas dan lem.” Kadang suami Sooyeon yang kusukai ini bisa jadi sangat menyebalkan karena pengaruh kakakku.

“Jika Bibi Soojung dan Ron menikah, apa aku akan dapat adik bayi?” Sohee berceloteh riang, ibunya tertawa.  “Tentu saja, Sohee. Kau akan dapat sepupu bayi yang menggemaskan.”

Sohee bertepuk tangan dengan girang, “Asyik! Apa adik bayinya juga akan punya mata seperti laut, seperti mirip Ron?” satu hal yang kami semua yakin, Sohee begitu menyukai Ron karena mata biru laut itu.

“Ya! Dan hidung bengkoknya juga.” Ibu menimpali dan semua orang tertawa, termasuk aku. Aku membayangkan sesosok bayi berambut biru dan hidung agak bengkok, pasti lucu sekali. Tapi aku gagal membayangkan apa pun.

Kami kembali menonton film setelah makan malam, mendengarkan Sohee berceloteh ria. Saat sudah larut Ibu masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Sooyeon dan keluarga kecilnya. Aku masih di sana menonton TV.

Hampir tengah malam ketika bel pintu berbunyi, aku mengintip lewat kerai jendela dan menemukan sosok jangkung yang terakhir kali kutemui di kafetaria rumah sakit beberapa hari yang lalu.

“Minhyuk,” dia berdiri di sana, wajahnya pucat tapi mata dan hidungnya merah.

“Dingin,” dia menggosok-gosokkan telapak tangannya.

“Ayo masuk.”

Kami berdua duduk di depan TV. Minhyuk memerhatikan ruang keluarga kami yang agak berantakan. Stoples kue bertebaran di meja, ada yang sudah kosong.

“Jadi aku tidak diundang ke pesta ya?” Dia membuka salah satu stoples dan mengambil sekeping kukis.

“Bukan begitu. Sebenarnya ini bukan pesta, hanya kumpul-kumpul keluarga seperti biasa. Kami hanya makan kue dan menemani Sohee menonton TV.”

“Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Jadwal brengsek itu benar-benar menguras tenaga.”

Aku agak terlonjak, rasanya aneh mendengar seseorang mengumpat. Ron tidak pernah mengumpat. “Tapi jadi selebriti menyenangkan, bukan?”

“Omong kosong macam apa itu!” dia mengunyah lambat-lambat. “Aku perlu berjalan-jalan tapi jalanannya macet minta ampun. Aku butuh sedikit relaksasi.”

“Bagaimana kalau…” aku berpikir sejenak, agak ragu. “Kita ke atas saja. Duduk-duduk di teras sana?”

Dia menaikkan salah satu alisnya. “Oke.” Dan kami menaiki tangga, melewati kamarku kemudian duduk di teras atas.

Minhyuk memeluk stoples kue yang tadi dia bawa.

Kami memandang keluar teras. Ke bawah, ke arah tumpukan salju di sana. Ke atas, ke arah langit kelam di sana. Kadang bunga api tampak memancar dari kejauhan, kemudian padam dan suasana jadi begitu sunyi.

“Tidak ada bintang.” Minhyuk mendesah.

“Ada, coba lihat lebih teliti,” aku menunjuk kea rah langit. Ada beberapa bintang kecil, cahayanya tidak begitu kelihatan.

“Ya, memang ada. Tapi sudah tidak seindah dulu lagi. Kau tahu kenapa? Coba tanya pada manusia yang membangun begitu banyak gedung tinggi sialan dan satelit-satelit. Mereka membuat bintang-bintang itu takut, jadi bintang-bintang itu bersembunyi. Kasihan sekali, bukan?”

“Ya.”

“Agak mengherankan, kenapa manusia bisa begitu bodoh dan egois?”

“Entahlah Minhyuk. Aku tidak bisa menjawab itu, aku juga bukan manusia yang cukup pintar dan baik.”

“Kau baik, Soojung.”

Aku terdiam.

“Aku minta maaf. Kemarin-kemarin aku bersikap begitu brengsek. Aku kasar padamu, pada semua orang.”

Aku meraih tangannya, dingin sekali. “Tidak apa-apa.” Dia tersenyum, aku juga.

“Kau ingin membicarakan sesuatu?”

“Entah ya… menurutmu apa yang bisa kita bicarakan?” aku tidak akan membicarakan ayah atau ibunya atau kehidupannya sebagai seorang selebriti.

“Kita bisa membicarakan pacarmu jika kau mau,” dia berkata santai, aku agak salah tingkah. Tapi akhirnya aku menyetujuinya.

Kami membicarakan Ron sepanjang malam itu. Minhyuk begitu diam, kadang mengangguk, kadang mendesah. Tidak banyak respons darinya, dia menjadi pendengar pasif. Dan entah mengapa membicarakan Ron terasa begitu mudah bagiku. Tidak malu, tidak ada yang harus disembunyikan. Bahkan kepada Minhyuk sekalipun. Rasanya begitu pas.

Aku membayangkan wajah pacarku. Kadang kulitnya putih pucat, jadi dia membawaku ke pantai untuk berjemur dan kulitnya berubah menjadi kecokelatan. Tapi bintik-bintik merah dan cokelat masih bertahan di wajahnya. Aku menyukainya.

Matanya tidak berbeda dengan lautan yang sering kami datangi. Tawanya serenyah ombak. Aku suka menjepit-jepit hidung bengkoknya. Rambutnya kadang terlihat hitam, tapi tampak begitu cokelat di lain waktu.

Dia tidak merokok. Dia tidak minum alkohol. Dia tidak ke kelab malam, tapi bergabung dalam organisasi kemanusiaan. Dia datang ke konser-konser musik dan terlihat begitu bahagia di sana. Dia menyusun bukunya dengan rapi di setiap rak yang ada di apartemennya. Dia suka kopi, seperti ayahku. Bibirnya agak kehitaman meski dia tidak merokok.

Dia alergi anjing tapi meninggalkan sepotong hot dog di pinggir jalan yang sering dilalui anjing gelandangan hanya agar anjing itu lebih mudah mengisi perutnya untuk hari itu. Dia membayar pajak tepat waktu. Jarang menggunakan mobil karena itu menambah polusi di udara. Dia ikut kegiatan tanam pohon bersama. Dia berpartisipasi di perlombaan olah raga untuk amal.

Dia bilang aku cantik dan cerdas. Dia bilang aku kuat dan luar biasa. Dia bilang aku berbeda dari gadis lain yang pernah dekat dengannya. Dia bilang aku sempurna. Dia bilang aku satu-satunya. Dia bilang dia mencintaiku.

“Dia begitu sempurna.” Satu kalimat itu terlontar dari bibir Minhyuk dan menjadi penanda bahwa monolog tentang Ronald Weasley sudah selesai.

“Kau akan tidur?” aku bertanya, siap-siap meninggalkannya.

“Ya. Aku akan tidur di sofa bawah,” dia bangkit, masih memeluk stoples kue yang hanya dia sentuh sekeping selama aku bercerita padanya. “Selamat malam Kim Soojung.”

“Selamat malam Minhyuk.”

Dia berjalan meninggalkan teras. Aku berjalan menuju kamarku.

Untuk sesaat aku hanya diam tak bergerak di balik selimut. Menebak-nebak apa yang kurasakan. Ada rasa pedih tapi melegakan di dasar hatiku. Aku tahu aku melakukan hal yang benar.

Aku ingin kembali. Aku ingin pulang ke California, kepada kekasihku.  Aku merindukannya. Dan di tengah kegelapan malam tanpa cahaya bintang, aku menyadari beberapa hal.

Satu, aku sudah merelakan masa laluku.

Dua, aku telah melepas segala rasa yang kupunya untuk Minhyuk.

Tiga, aku mencintai Ron sebesar aku mencintai Minhyuk dulu.

Semua itu sudah lebih dari cukup. Aku memejamkan mata.

…to be continued

pertama kali, saat memikirkan ide untuk cerita ini saya sudah memutuskan bahwa kelak Soojung akan punya pacar orang Amerika dan namanya Ron. tapi kemudian saya berpikir bahwa imajinasi setiap orang tidak sama. saya tahu bahwa orang lain tidak bisa melihat sosok Ron sebagaimana saya melihatnya. persis sekali seperti yang dituliskan oleh minseokhoon di kolom komentar (terima kasih sudah meninggalkan jejak ya! :)) lalu saya berencana mengganti Ron dengan Doojun atau Gikwang B2ST (Karena saya suka merekaaa!!) tapi kemudian saya tidak merasa terlalu ingin membawa-bawa anggota grup lain di dalam cerita CNBLUE. maka akhirnya saya kembali pada ide awal saya, saya menggunakan Ron sebagai pacar Soojung. oh ya, sekedar informasi, Ron terinspirasi dari Ronald Weasley dari serial Harry Potter, dan btw dia tokoh kesukaan saya. saya harap kalian bisa membayangkan wajahnya sekarang hehe.

terima kasih karena masih setia membaca tulisa saya. dan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kolom curhatan yang panjang ini🙂

18 thoughts on “Lost Star (Part 2)

  1. Cukup lama, cukup untuk menyadari dan cukup bagi soojung untuk mengakui bahwa SAAT INI dia mencintai ron sbesar dia mencintai minhyuk dulu ..
    Jujur memang lebih baik, tapi kadang menyakitkan bagi yg lain (jujur ny soojung tentang ron emg lebih baik, tapi jauh untuk minhyuk itu begitu menohok hatinya *apalahIni😀
    Belum saatny, tapi nant soojung akan melihat sisi kelemahan minhyuk, bukti bahwa dia selama ini kesepian, dan kenyataan bahwa minhyuk sebenarny mencintainya dan alasan hubungan minhyuk dan keluarganya kurang begitu baik tidak lain karena kepergianny dulu yg blm smpt berpamitan dan menyatakan perasaan yg sebenarny terhadap soojung … ahahaha edisi ngawur thor😀
    Next thor, hwaiting !!!
    Mian coment ny ky gini
    Gomapta udah next😉

  2. Ini FF yang paling bisa bikin aku ikut ngerasain gimana bimbangnya jadi Soojung. Kebawa suasana bgt.
    Di satu sisi setuju sama bagian dimana Soojung memang harus ngelepasin masa lalu dan ngeliat apa yg ada di depan. Tapi disisi lain ga sanggup liat Minhyuk yg perasaannya masih belum terungkap gimana sebenernya, tapi ternyata dia sangat mengharapkan Soojung cuma buat dia.
    Aaaaahhh.. nunggu lanjutannya aja deh. Biar tau jelas takdir mereka. Hehee

  3. Hai kak yeowon! Makasih sudah buat bayangan tentang Ron^^ suka sama idenya, keren. Setiap fanfic yang kak yeo buat pasti ada quote2nya. Dan aku jadi pengen nulis fanfic yang ada quote2nya gitu^^ hehe. Keren, keep writing ya kak. Ditunggu kak part tiganya🙂

  4. Ngerasa jadi soojung binggung bgt gitu yaa,Engga bisa komen apa-apa soalnya aku jg kebawa binggung saking bgs bgs nya ini ff. plis soojung samaa minhyuk aja.

  5. Gaya penulisannya cukup berat ya. Seperti membaca novel terjemahan. Tidak biasa. Menurut aku, ff ini g bisa dibaca sambil lalu, atau sambil dengerin lagu.hahaha,,, overall, aku suka. Jarang soalnya yg bs seperti ini

  6. saya ngebut baca, subuh2 gini…
    gak tau harus gimana kalo jadi soojung, entah kenapa saya merasa kalo soojung nggak begitu mencintai ron….
    dan sekarang ia bertemu cinta pertamanya kembali,, dimana rasa itu pasti akan timbul lagi…
    Dan saya lihat disini minhyuk benar2 kesepian…
    saya berharap ending nya bahagia baik untuk soojung,minhyuk maupun ron…
    tapi, dalam hati saya, saya pengen nya mereka menyelesaikan masalah kisah cinta mereka yang belum terselesaikan…
    ok. akhir kata, hwaiting and keep writing Author-nim🙂

  7. Kebawa suasana… Jadi gak tega jga sama minhyuk yg kyak kesepian gituu, tapi lbih gak tega sama ron yang udh begitu baik dan penggambaran soojung begitu sempurna tentang ron … Ahh ini kedepannya bklan buat soojung dilema kah ???😀

  8. Min update y
    Neh ff bagus bgt
    Dtgu kelanjutannya

    Hhhe
    Klo blh bt posterny min.br bs d bayangin wajah ron gmna pas bca hhha

  9. Wah punya telepati kt thor saya jg bayanginny ron itu ronald weasley…susah thor soojung mi milih yg mn tg satu cinta pertama yg satu hero nya dan dua2nya sayang ma soojung…

  10. Kalo minhyuk lebih berani membuat gerakan mungkin soojung akan berpaling lagi ke dia. Tapi meninggalkan orang sebaik ron juga sangat disayangkan. Sekali lagi, suka banget sama cerita yang kamu ciptakan Yewon ssi. Detailnya pas, percakapannya menarik, dan settingnya bisa dibayangkan dengan baik. By the way Ronald Weasley sangat pas buat jadi sosok pria bak malaikat. Keep writing ya…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s